cover
Contact Name
Velma Nindita
Contact Email
velmanindita@upgris.ac.id
Phone
+6281802424968
Journal Mail Official
umpakarsitekturupgris@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik dan Informatika Universitas PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur No. 24 - Dr. Cipto, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Umpak : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan
ISSN : 26226464     EISSN : 26226472     DOI : -
UMPAK - Jurnal Arsitektur dan Lingkugan Binaan It is a journal containing material related to the field of architecture and the environment in which the architectural building is located (the built environment), both on a micro (interior), meso (building) to macro (area/city) scale.
Articles 86 Documents
PEMANFAATAN MATERIAL LOKAL SEBAGAI EKSPRESI SENI DALAM ARSITEKTUR VERNAKULAR muqoddam, al ibnu
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 7, No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v7i2.21143

Abstract

Material Lokal  merupakan material bangunan yang dikatakan material yang berasal dari daerah setempat, material lokal memiliki banyka kegunaan selain harganya yang murah. Pada umumnya material lokal lebih banyak di sukai dikarnakan lebih praktis dalam pemaplikasian desain pada bangunan, seni dalam arsitektur menjadi satu kesatuan yang menarik yang dituangkan pada desain bangunan, penggunaan material lokal dengan disatukan pada arsitektur vernakular memiliki banyak keuntungan terutama desain yang berkelanjutan, selain itu arsitektur vernakular merupakan pendekatan yang menekankan material lokal serta memperhatikan tradisi dari lingkungan setempat. Local Material Are building material which are said to be materials that come from the local area, local materials have many uses besidesbeing cheap, in general, local materials are preferred because they are more practical in applying design to buildings, Art in architecture becomes an attractive whole that is expressed in building design, the use of local materials combined with vernacular architecture has many advantages,especially sustainable design, apart from that, architecture vernacular us an approach that emphasizes local materials and pays attetios to the traditions of the local environmen
Analisis Dampak Penggunaan Cat Reflektif Surya Terhadap Bangunan Balai Rw IV Kelurahan Bugangan Kecamatan Semarang Timur Dalam Menghadapi Pemanasan Global Mahardika, Septian Tria; Oktaviani, Isna Catur; Solikhudin, Nukman
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 2, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v2i1.20226

Abstract

Global warming menjadi permasalahan utama yang menyebabkan meningkatnya suhu di permukaan bumi, dan berdampak terhadap bangunan seperti memanasnya permukaan bangunan dan mengakibatkan panas hingga kedalam ruang bangunan, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu temperatur suface/atap, celling/plafon, dan kelembaban pada bangunan Balai RW IV Kelurahan Bugangan sebelum (Before) dan sesudah (After) pengecatan atap/surface.Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penggunaan cat reflektif surya pada sebuah bangunaan, yaitu Balai RW IV Kelurahan Bugangan. Untuk mengetahui hasil dari penggunaan cat reflektif surya, peneliti melakukan pengukuran pada dua bagian bangunan, yaitu suhu ruang utama dan temperatur permukaan atap.
Analisis Kenyamanan Termal pada Ruang Baca Perpustakaan Universitas PGRI Semarang Wulandari, Siti Diahayu; Widiastuti, Kurnia
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 5, No 1 (2022): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v5i1.19650

Abstract

Kenyamanan termal pada Ruang Baca Perpustakaan Universitas PGRI Semarang adalah salah satu faktor terpenting dalam suatu perancangan. Kenyamanan termal pada Ruang Baca Perpustakaan dapat menunjang pengguna perpustakan dan dapat meningkatkan niat baca dikalangan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kenyamanan termal pada Ruang Baca Perpustakaan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan evaluatif. Metode deskriptif digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun dan memaparkan data tentang kondisi eksisting. Metode evaluatif digunakan untuk mengevaluasi data penelitian yang diperoleh dari pengukuran dilapangan. Data yang dihasilkan berupa angk-angka hasil pengamatan secara langsung dilapangan. Setelah data terkumpul kemudian data hasil pengukuran yang selanjutnya dibandingkan dengan standar dan kriteria yang ada dan hasil data yang didapat dianalisis untuk mengetahui sejauh mana tingkat kenyamanan termal pada Rung Baca Perpustakaan.Hasil identifikasi temperatur dan kelembaban pada Ruang Baca Perpustakaan, pengukuran pertama dilakukan pada tanggal 18 desember 2019 dengan 2 alat, alat pertama medapatkan suhu rata-rata 29,5ᵒC, alat kedua mendapatkan suhu rata-rata 29,7ᵒC, kelembaban alat pertama 55,7 dan alat kedua 55,5. Untuk pengukuran pada tanggal 19 desember 2019 mendapatkan suhu rata-rata 28,5ᵒC pada alat pertama dan 27,9ᵒC pada alat kedua, kelemaban pada alat pertama 55,5 dan 55,9 untuk alat kedua. Data tersebut menunjukkan Ruangan berada dizona tidak nyaman karena kurangnya pendingin ruangan/AC di dalam Ruang Baca Perpustakaan. Thermal comfort in the reading room of the PGRI University Library is one of the most important factors in a design. Supporting thermal in the library reading room can support library users and can increase reading intentions among students. The purpose of this study is thermal research in the library reading room.This research uses quantitative with descriptive and evaluative methods.  Descriptive method was used in the initial research to collect and present data on existing conditions. Evaluative methods are used to evaluative research data obtained from field measurements. The data generated consists of numbers directly observed in the field. After the data is collect then the measurement results are there compared with the existing standarts are criteria and the results of the data obtained are analyzed to obtain information about the level of thermal ease in the library reading room.The results of measurement of temperature and humandity in the library reading room, the fist measurement was carried out on december 8,2019 with 2 tools, the first tool obtained an average temperature of 29.5ᵒC, the first tool received an average temperature of 29.7ᵒC, the humandity of the first tool 55.7 and the second tool 55.5. for measurement on december 19, 2019 get an average temperature of 28.5ᵒC in the first tool and 27.9ᵒC in the first tool, humandity in the first tool 55.5 and 55.9 for the second tool. The data shows the closed room in the room is uncomfort table because it avoids the room inside/AC in the library reading room.
Analisis Aksebilitas Taman Kalituntang Amal, Ahmad Ikhklasul; Wibawa, Baju Arie
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 4, No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v4i2.19639

Abstract

Kabupaten Demak saat ini mulai berbenah dalam penataan kota, salah satunya dengan penyediaan ruang terbukau hijau dalam rangka pemenuhan luasan ruang terbuka hijau didalam kota, yang dimana Kabupaten demak masih berada di angka 5% dalam penyediaan ruang terbuka hijau. Salah satunya dengan merevitalisasi dan menambah taman dibeberpa titik di sudut kota, yang paling besar yaitu merevitalisasi Kalituntang menjadi Taman terbuka publik menjadi taman kota yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Pemenuhan fasilitas publik serta pemenuhan aksebilitas bagi pengunjung menjadi fokus utama dalam penelitian, dimana fungsi dari ruang publik adalah sebagai tempat berkumpul, berwisata dan rekreasi. Maka dari itu pemenuhan aksebilitas baik berupa, keamanan, keselamatan, kemudahan, kegunaan dan kemandirian dapat terpenuhi.Kata kunci: taman kota, aksesibilitas, penyandang disabilitas Demak Regency is currently starting to improve in urban planning, one of which is by providing green open space in the context of fulfilling the area of green open space in the city, where Demak Regency is still at 5% in the provision of green open space. One of them is by revitalizing and adding parks at several points in the corner of the city, the biggest of which is revitalizing Kalituntang into a public open park into a city park that can be enjoyed by all people, without exception. The fulfillment of public facilities and the fulfillment of accessibility for visitors are the main focus of research, where the function of public space is as a place for gathering, traveling and recreation. Therefore, the fulfillment of accessibility in the form of security, safety, convenience, usability and independence can be fulfilled.
ANALISIS PEMENUHAN FASILITAS PENUNJANG PADA BANGUNAN MASJID DI KAMPUS 4 UPGRIS Alambana, Abigail; Sarawati, Ratri Septina
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 8, No 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v8i1.21959

Abstract

Makalah ini berjudul "Analisis Pemenuhan Fasilitas Penunjang pada Bangunan Masjid di Kampus 4 UPGRIS" yang bertujuan untuk mengevaluasi kondisi fasilitas penunjang di Masjid Nurul Ilmi, serta merumuskan strategi peningkatan pemenuhan fasilitas tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus dan metode kualitatif, yang melibatkan observasi lapangan, pengumpulan data primer melalui kuesioner, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas penunjang, seperti tempat wudhu dan toilet, telah memenuhi sebagian besar standar yang ditetapkan, dengan tingkat kenyamanan masing-masing mencapai 90% dan 88%. Namun, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal kebersihan dan ukuran toilet wanita yang belum sepenuhnya memenuhi standar. Fasilitas penunjang berperan penting dalam meningkatkan kenyamanan jamaah selama beribadah dan mendukung interaksi sosial di masjid. Rekomendasi yang diusulkan meliputi peningkatan kebersihan, pemasangan tanda petunjuk yang jelas, dan penyediaan peneduh di area luar masjid. Dengan menerapkan rekomendasi tersebut, diharapkan Masjid Nurul Ilmi dapat terus meningkatkan kualitas fasilitas penunjang, sehingga memberikan kenyamanan dan mendukung kegiatan ibadah serta sosial bagi seluruh jamaah.Kata kunci: fasilitas penunjang, masjid, kenyamanan.
Analisis Aksesbilitas dan Fasilitas Difabel di Masjid At-Taqwa Bandung Wahyudi, Lulut Tri; Wibawa, Baju Arie
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 5, No 1 (2022): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v5i1.19655

Abstract

Sarana dan fasilitas difabel berperan penting dalam desain teknis, bahkan menjadi syarat Permen PU dan Perumahan Rakyat nomor 14/PRT/M/2017 tentang kemudahan bangunan  gedung. Penelitian ini akan menganalisis aksesbilitas dan fasilitas difabel pada masjid At-taqwa Bandung. Penelitian ini dilakukan secara berkala yaitu pada waktu sholat  dhuhur,  asar,  dan sholat jum’at, dengan metode wawancara dan observasi lapangan dan dilakukan mulai dari pengamatan langsung di lapangan, dengan menganalisis aksesbilitas difabel, terutama akses  masuk ke dalam masjid, sangat diperlukan ramp untuk difabel agar difabel mudah dalam mengakses masjid. Dari semua penelitian pada sarana dan fasilitas difabel masih ada yang belum memenuhi syarat Permen PU dan Perumahan Rakyat nomor 14/PRT/M/2017 tentang kemudahan bangunan gedung, yaitu tidak ada area parkir khusus difabel, tidak ada ramp untuk akses difabel, tidak ada tempat wudhu khusus difabel, tidak ada toilet khusus difabel serta ukuran tangga yang tidak sesuai persyaratan. Sehingga penyandang disabilitas tidak dapat mengakses masjid At- taqwa.Kata Kunci : Aksesbilitas dan Falitas Difabel Disability facilities and facilities play an important role in technical design, and even become a requirement for Permen PU and Public Housing  number 14/PRT/M/2017 regarding  the ease of building. This study will analyze the accessibility and disabled facilities at the At- taqwa mosque in Bandung. This research is conducted periodically, namely during the midday prayer, asar, and Friday prayers, with interviews and field observations and starting from direct observation in the field, by analyzing the accessibility of the disabled, especially access to enter the mosque, it is very necessary to ramp diffable so that the diffable can  easily  access the mosque. Of all the studies on disability facilities and facilities, there are still those who do not meet the requirements of the Minister of Public Works and Public Housing number 14/PRT/M/2017 on the ease of building, that is, there is no special parking area for disabled people, there is no ramp for disabled access, there is no place special ablution for the disabled, there is no special toilet with disabilities and the size of the stairs that does not fit the requirements. So people with disabilities cannot access the At-taqwa mosque.
Efektifitas Penggunaan Cat Be Cool Pada Atap Pada Bangunan Rumah Makan Geprek Dhe Gun Kota Semarang Terhadap Perubahan Suhu Ruangan Karisma, Nova; Jaya, Panji Surya; Saraswati, Ratri Septina
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 3, No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v3i2.20136

Abstract

Pemanasan global atau Global Warming sendiri merupakan suatu fenomena alam yang disebabkan oleh manusia dan berdampak besar bagi bumi serta isi di dalamnya. Pemanasan global sendiri di sebabkan oleh beberapa hal sederhana yang setiap harinya dilakukan oleh manusia, seperti halnya penggunaan kendaraan yang berlebihan, efek rumah kaca dan lain sebagainya. Pemanasan global sendiri berdampak besar apalagi terhadap perubahan suhu sendiri, baik suhu didalam maupun diluar ruangan. Semakin hari semakin meningkatnya populasi penduduk beserta aktivitasnya yang tentunya menyebabkan semakin meningkatnya global warming. Akibatnya perubahan suhu pada suatu ruangan sangat meningkat drastis dan mengurangi kenyamanan pada pengguna ruangan tersebut. jika suhu didalam ruangan terus meningkat maka akan mengakibatkan ketidaknyamanan pengunjung. Perubahan suhu pada ruangan tersebut dapat dikurangi dengan menggunakan suatu green product atau eco produk yang dapat meredam dan mengurangi pemanasan global yang terjadi di jaman sekarang.  
Dimensi Ruang Duduk Penonton Pada Tribun Stadion Citarum Semarang Muntholib, Moh Abdul; Wahyudi, M Agung
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 2, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v2i1.15851

Abstract

Semarang merupakan salah satu kota terbesar yang mempunyai potensi dalam bidang olahraga sepak bola. Kota semarang sendiri mempunyai dua stadion yaitu stadion jatidiri dan stadion citarum dengan beberapa klub sepak bola. Namun mencermati dari kedua stadion, penulis memutuskan untuk melakukan penelitian terhadap stadion Citarum Semarang, karena pengelolaan dimensi ruang pada tribun  yang kurang baik. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan melakukan survey di tribun Citarum Semarang.Pengolahan data sesuai literatur standar tribun dan tahap terakhir membandingkan data dengan standar sesuai Neufert dan Buku Tata Cara Perencanaan Bangunan Stadion. Dari hasil penelitian, beberapa bagian tribun di Stadion Citarum Semarangmasih kurang dari standard. Akibatnya penonton merasa tidak nyaman dan membuat penonton tidak memanfaatkan tribun sebagimana mestinya yang membuat tribun semakin rusak. Perbaikan pada tribun sangat diperlukan agar kenyamanan penonton meningkat dan tribun dapat dimanfaatkan dengan baik
Analisis Kenyamanan Termal pada Koridor Kelas di Kampus Universitas PGRI Semarang Hantoro, Kukuh Dwi; Nindita, Velma
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 6, No 1 (2023): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v6i1.18680

Abstract

AbstrakKenyamanan Termal pada koridor kampus perkuliahan adalah faktor cukup penting dalam berbagai kegiatan civitas akademika. Jika kenyamanan termal ruang koridor tidak memenuhi dalam standar, maka akan berdampak ketidaknyamanan pengguna di dalam koridor tersebut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menghitung berapa hasil pengukuran koridor-koridor di Universitas PGRI Semarang dan apakah masuk standar dalam ETchart.png dari standar pengukuran kenyamanan suhu, kelembaban dan standar pertukaran udara dalam ruangan (ACH). Hasil tersebut akan dibandingkan dari tiap koridor bangunan diantaranya gedung Pusat Lantai 5, Gedung Baru Lantai 4 dan Gedung Pasca Sarjana lantai 4. Berdasarkan pengukuran tahap pertama hingga keempat tidak ada yang masuk ke dalam standar kenyamanan termal Indonesia SNI – T- 14 – 1993-03. Pengukuran temperatur dan kelembapan yang di analisis melalui ETchart.png juga tidak masuk kedalam zona nyaman, serta di koridor gedung pascasarjana lantai 4 adalah koridor yang memiliki nilai ACH paling sedikit di dalam ruanganya dan koridor gedung baru lantai 4 adalah koridor yang memiliki kualitas atau nilai ACH tertinggi namun masih belum masuk didalam standar standar kebutuhan airchanges ACH koridor.Kata kunci: kenyamanan termal, koridor, analisisAbstractThe thermal comfort in the campus corridor is an important factor in various academic activities. If the thermal comfort of the corridor space doesn’tt appropriate the standards, it will impact the inconvenience of users in there. Therefore this study aims to determine how about the corridors measurement at the Universitas PGRI Semarang and whether it is standard in ETchart.png from the measurement standards of comfort temperature, humidity and indoor air exchange standards (ACH). These results will be compared from each building corridor including the central building 5th Floor, new building 4th Floor and post-graduate 4th floor. Based on the measurements from the first to fourth nothing is included the criteria Indonesian thermal comfort standard SNI - T-14-1993 -03. Temperature and humidity measurements analyzed through ETchart.png also do not enter the comfort zone, and in the corridor of the 4th floor postgraduate building is the corridors that has the least ACH value in the room and the corridor of new building on 4th floor is a corridor that has quality or the highest ACH value but not yet included in the standard ACH corridor airchanges requirementsKeywords: thermal comfort, corridor, analysis
Karakteristik Visual Bangunan-Bangunan Kolonial Belanda di Kota Ungaran Prawesti, Della Agista; Widiastuti, Kurnia
UMPAK : Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 5, No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/umpak.v5i2.19658

Abstract

Saat pendudukan Kolonial Belanda di Indonesia banyak bangunan arsitektur Belanda yang didirikan di seluruh nusantara. Di pulau jawa sendiri khususnya di Kabupaten Semarang terdapat bangunan arsitektur Belanda berupa Benteng, sekolahan, kantor, tempat hiburan atau soos (societeiet) hingga rumah-rumah pribadi memiliki karakter dengan ciri khasnya masing-masing. Khususya bangunan kolonial di koridor Jalan Diponegoro memiiki karakter visual yang khas pada tiap elemen-elemen bangunannya, baik eksterior maupun interiornya bangunannya, sehingga perlu dijaga kelestariannya untuk mempertahankan karater visual bangunan kolonial Belanda. Studi ini bertujuan menganalisis karakteristik visual bangunan kolonial Belanda di Jalan Diponegoro Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan indikator terpengaruhnya adalah karakter visual, sedangkan komponen yang membentuk bangunan menjadi faktor yang mempengaruhi. Indikator disusun berdasarkan variabel tersebut kemudian dijadikan tolak ukur dalam mencari data dan menganalisa. Terdapat beberapa perubahan pada fasad bangunan kolonial di koridor Jalan Diponegoro, perubahan tersebut cukup signifikan namun tidak mengubah karakter asli bangunan.Kata Kunci : bangunan kolonial, karakter visual.    During the Dutch Colonial occupation in Indonesia many Dutch architectural buildings were erected throughout the archipelago. On the island of Java itself, especially in Semarang Regency there are Dutch architectural buildings in the form of fortresses, schools, offices, entertainment venues or soos (societeiet) to private homes that have their own characteristics. Especially the colonial building in the corridor of Diponegoro street has a unique visual character in each of the building elements, both the exterior and interior of the building, so it needs to be preserved to preserve the visual character of the Dutch colonial building. This study aims to analyze the visual characteristics of Dutch colonial buildings on Diponegoro street, Semarang Regency. This study uses a qualitative method with the influence indicators are visual characters, while the components that make up the building are influencing factors. Indicators arranged based on these variables are then used as benchmarks in finding data and analyzing. There are some changes in the colonial building's facade in Diponegoro Street corridor, these changes are quite significant but do not change the original character of the building.Keywords : colonial buildings, visual characters