cover
Contact Name
Armanto Makmun
Contact Email
armanto.makmun@umi.ac.id
Phone
+6281312119884
Journal Mail Official
fmj@umi.ac.id
Editorial Address
Jln. Urip Sumoharjo KM.05, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Fakumi Medical Journal
ISSN : -     EISSN : 28089146     DOI : https://doi.org/10.33096/fmj.v4i1
Core Subject : Health, Science,
FAKUMI MEDICAL JOURNAL is a peer-reviewed, open-access journal that publishes original research articles, review articles, and interesting case reports. FAKUMI MEDICAL JOURNAL work in the field of health in a broad sense such as public health, nursing, midwifery, medicine, pharmacy, health psychology, nutrition, health technology, health analysis, health information systems, medical records and so on.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 7 (2023): Juli" : 10 Documents clear
Efektivitas Penggunaan Paracetamol 1000 mg Sebagai Preemptive Analgesia pada Nyeri Pasca Bedah Ortopedi fitrianti fitrianti haruddin
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.202

Abstract

Nyeri pasca bedah merupakan respon kompleks terhadap trauma jaringan selama pembedahan yang merangsang hipersensitivitas sistem saraf pusat (SSP) dan sering terjadi. Teknik preemptive merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya sensitisasi nosiseptor perifer akibat pelepasan neurotransmiter dan mediator inflamasi. Parasetamol memiliki kekuatan analgesia untuk penanganan nyeri pasca pembedahan tingkat ringan, sedang maupun berat. Tujuan penelitian untuk mengukur efektivitas paracetamol sebagai preemptive analgesia pada pasien nyeri pasca bedah ortopedi. Metode penelitian yang dilakukan penelitian clinical trial/penelitian eksperimen dengan metode cross sectional. Terdapat 12 sampel yang diberi Tindakan pembedahan ORIF di antaranya Fraktur Humerus ada 4 sampel, Fraktur femur 4, Fraktur Genu 2, Fraktur Clavicula 1, dan Fraktur tibia fibula 1. Pada penelitian ini kelompok yang menggunakan parasetamol secara signifikan menurunkan rasa nyeri pasca bedah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa durasi efektivitas parasetamol dapat menekan kebutuhan analgesik pada kasus pembedahan dan kelompok yang diberikan paracetamol terdapat penurunan skor analog visual yang signifikan dibandingkan dengan kelompok control yang tidak diberikan parasetamol. Penggunaan paracetamol 1000 mg sebagai preemptive analgesia untuk menurunkan nyeri pada pasien ortopedi berpengaruh dan memberikan penanganan nyeri pasca pembedahan.
Gambaran KarakteristikPasien Otitis Eksterna di RSUD Haji Makassar PeriodeJanuari-Desember 2021 Miftahul Jannah Hamzah
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.244

Abstract

Pendahuluan: Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis. Indonesia sendiri merupakan bagian dari iklim tropis lembab atau zona lembab dan panas, dimana ditetapkan kriteria faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna. Otitis eksterna merupakan penyakit radang telinga yang terbagi menjadi akut dan kronis yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus. Tujuan penelitian: Mengetahui gambaran tipikal otitis media rawat jalan di Rumah Sakit Haji Massari antara Januari dan Desember 2021. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan retrospektif, dan bahan penelitian berupa rekam medis rawat jalan otitis media. Hasil penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita otitis eksterna terbanyak pada kelompok jenis kelamin, dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (56%) dan terbanyak pada kelompok usia 17-25 dan 36-45 tahun (19,5%); paling sakit atau sakit telinga (57,1%); dan otitis eksterna yang paling banyak ditemukan adalah otitis eksterna akut difus (88,7%). Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa otitis eksterna dapat terjadi pada usia berapapun, tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin atau hormon, dan biasanya muncul sebagai gejala utama berupa nyeri telinga. Kata kunci: Karakteristik; otitis eksterna; RSUD Haji Makassar
Hubungan Antara Obesitas Dengan Kadar Interleukin 6 (IL-6) Pada Populasi Anak Laki-Laki Di Kota Makassar. Nurika Sarah Medellu; Armanto Makmun; Nirwana Laddo; Irna Diyana Kartika Kamaluddin; Ida Royani; Zulfahmidah
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.249

Abstract

Obesitas terus meningkat di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kondisi ini ditandai oleh peningkatan lemak tubuh yang berlebihan berdampak negatif pada kesehatan. Pengukuran obesitas menggunakan perhitungan IMT yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. Dikatakan obesitas jika IMT > 25kg/m2. Jaringan lemak pada orang dengan obesitas memiliki respons inflamasi rendah. Sel lemak yang meradang melepaskan sitokin pemicu rasa lapar seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha. Kadar IL-6 yang meningkat secara terus menerus dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Hubungan antara IL-6 dan obesitas adalah kompleks atau saling terkait dengan faktor lain. Obesitas merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh genetik, gaya hidup, pola makan, dan lingkungan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan kadar Interleukin-6 dan mengetahui apa penyebab peningkatan kadar Interleukin-6 pada populasi anak laki-laki di Kota Makassar. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan studi observasional yang memakai desain kohort untuk melihat hubungan dari kadar IL-6 terhadap kondisi obesitas. Pengukuran kadar IL-6 pada plasma menggunakan metode Roche- cobas 6000. Hasil analisis didapatkan bahwa kadar Interleukin 6 pada kondisi obesitas merupakan kriteria rendah dengan nllai kolerasi p= 0.372; p < 0.05. Sementara hubungan usia dengan kadar interleukin 6 diperoleh nilai kolerasi 0.096; p >0.05 artinya tidak terdapat hubungan diantara kedua variabel atau termasuk kriteria sangat rendah. Hubungan kadar interleukin-6 pada populasi anak laki-laki dengan kondisi besitas terbilang cukup rendah dimana tidak terjadi peningkatan signifikan diantara keduanya. Tetapi, semakin tinggi Indeks massa tubuh seseorang kadar interleukin 6 terus meningkat walaupun tidak secara drastis.
Hubungan Status Gravida Ibu dengan Kejadian Preeklampsia dan Eklampsia Andi Anita Nur Fadhilah Rahman; M. Hamsah; Romy Hefta Mulya; Nasrudin Andi Mappaware; Andi adil
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.261

Abstract

Preeklampsia adalah penyakit dengan gejala klinis berupa hipertensi dan proteinuria yang timbul karena kehamilan akibat vasospasme dan aktivasi endotel saat usia kehamilan di atas 20 minggu. Preeklampsia dan eklampsia merupakan kesatuan penyakit, yakni yang langsung disebabkan oleh kehamilan, walaupun belum jelas bagaimana hal ini terjadi, banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia (multiple causation). Mengetahui hubungan status gravida ibu dengan kejadian preeklampsia dan eklampsia di RSIA Sitti Khadijah I Muhammadiyah Cabang Makassar dan RS Bhayangkara Makassar Tahun 2019-2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang dilakukan di RSIA Sitti Khadijah I Muhammadiyah Cabang Makassar dan RS Bhayangkara Makassar tahun 2019-2021 dengan melihat tabel rekapitulasi hasil pengamatan rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas subjek penelitian ini berusia 20-35 tahun (71,0%), ibu dengan primigravida 162 orang (55,3%). Pasien yang di diagnosis preeklampsia berat sebanyak 213 orang (72,7%), preeklampsia sebanyak 75 orang (25,6%), dan eklampsia sebanyak 5 orang (1,7%) sepanjang tahun 2019-2021. Mayoritas pasien mengalami obesitas dengan jumlah 191 orang (65,2%), dan riwayat penyakit lain terbanyak menderita hipertensi kronik sebanyak 96 orang (32,8%), sedangkan pasien yang memiliki riwayat penyakit preeklampsia sebelumnya sebanyak 18 orang (6,1%), yang memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus sebanyak 5 orang (1,7%), dan tidak ada yang memiliki riwayat penyakit ginjal sepanjang periode 2019-2021. Ibu hamil dengan risiko preeklampsia dan eklampsia terbanyak berada pada kelompok usia produktif dan kelompok obesitas dan tidak terdapat hubungan antara status gravida ibu dengan kejadian preeklampsia dan eklampsia
Efek konsumsi kurma ajwa (phoenix dactylifera L) terhadap kadar glukosa darah Riski febrianti
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.268

Abstract

ABSTRACTBackground: Ajwa dates (Phoenix Dactylifer L.) have many therapeutic potentials, including cell strengthening, anti-mutagenic, antidiabetic, antibacterial, antifungal, antitumor, neuroprotective, and gastroprotective properties. Ajwa dates as an antidiabetic agent, has phytochemical content such as phenolic acids possessed by Ajwa dates can inhibit α-amylase and α-glucosidase so as to reduce blood sugar levels in the body. flavonoids act as antidiabetic agents through their effects as antioxidants by reducing oxidative stress and maintaining liver and kidney function.Objective : To determine the effect of consumption of Ajwa dates (PhoenixDactylifera L.) on blood sugar levels during pregnancy in pregnant women at risk of preeclampsia. Methods : This study uses search databases used in PubMed, Science Direct, and Google Scholar. The keywords used in the initial search for articles were ajwa dates, Phoenix Dactylifera L, Antidiabetic, Blood glucose obtained as many as 3,820 articles. In the end, only 6 articles were used in accordance with the analysis of objectives, topic suitability, inclusion and exclusion criteria, research methods, samples, research ethics, and limitations.Results: The results showed that from all the literature used, the majority showed a decrease when giving ajwa dates to reduce blood glucose levels. Giving ajwa dates can reduce blood glucose levels because the phytochemical content in ajwa dates is very effective in raising blood glucose levels.Conclusion : There is an effect of giving ajwa dates on lowering blood glucose levels. Ajwa dates contain complex carbohydrates, beneficial phytochemicals, sterols, healthy fatty acids, carotene, and flavonoids which have many medicinal activities, one of which is antihyperglycemic or antidiabetic benefits that can reduce blood glucose levels.Keywords: Ajwa Date, Phoenix Dactylifera L, Blood Glucose.
Analisis Karakteristik dan Pola Pemberian MPASI Anak Usia 6-24 Bulan di Puskesmas Soroako Aulia Putri Apriliani; Djauhariah Arifuddin; Nesyana Nurmadilla; Fadli Ananda; Irmayanti Haidir Bima
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.270

Abstract

Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) adalah makanan padat, semi padat dan makanan lunak (disiapkan secara lokal ataupun diproduksi secara komersial) yang diberikan kepada anak-anak usia 6-23 bulan untuk melengkapi ASI. Untuk mengetahui karakteristik dan pola pemberian MPASI pada anak usia 6-24 bulan. Metode penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan 59 persen anak diberikan MPASI lokal, 3 persen MPASI pabrikan dan 38 persen MPASI gabungan. Pada usia pemberian MPASI sebanyak 86 persen tepat. Pemberian tekstur MPASI usia 6-8 bulan 95 persen tepat, usia 9-11 bulan 60 persen tepat, dan usia 12-23 bulan 90 persen tepat. Pemberian porsi MPASI usia 6-8 bulan semua ibu memberikan MPASI secara tepat, usia 9-11 bulan 97 persen tepat, dan usia 12-23 bulan 46 persen tepat. Pemberian frekuensi MPASI usia 6-8 bulan 99 persen tepat, usia 9-11 bulan 98 persen tepat, dan usia 12-23 bulan 97 persen tepat. Pemberian frekuensi makan selingan usia 6-23 bulan 73 persen tepat. Pemberian MPASI secara aman dan higienis 99 persen diberikan secara aman dan higienis. Pola pemberian MPASI pada wilayah kerja Puskesmas Soroako secara keseluruhan diberikan sesuai anjuran, namun pemberian tekstur MPASI usia 9-11 bulan dan porsi MPASI usia 12-23 bulan banyak yang tidak tepat.
Karakteristik Penderita Reaksi Kusta yang Dirawat Inap Pada RSUP Dr.Tadjuddin Chalid Makassar natasya widiyana putri; Hasta Handayani Idrus; Syarifuddin Rauf; Sri Vitayani; Dahlia
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.274

Abstract

Penyakit kusta menyerang saraf tepi dan kulit disebabkan oleh Myobacterium leprae. Reaksi kusta dibagi menjadi 2 yaitu reaksi kusta tipe 1 (reaksi reversal) dan 2 (eritema nodusum leprosum). Masih terdapat wilayah di Indonesia yang belum mencapai status eliminasi kusta khususnya Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita reaksi Kusta tipe 1 dan tipe 2 yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Tadjuddin Chalid Makassar tahun 2021-2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif cross sectional desain. Sampel dari data rekam medis pasien terdiagnosa kusta dari bagian Rekam Medis RSUP Dr.Tadjuddin Chalid Makassar periode januari 2021 – desember 2022 dengan teknik total sampling digunakan pada penelitian. Hasil penelitian didapatkan 43 data memenuhi kriteria inklusi. Perbandingan pasien laki-laki dan perempuan pada reaksi Kusta tipe 2 didominasi oleh laki-laki yaitu dengan perbandingan 7:3, kelompok usia terbanyak dewasa (20-60 tahun) 85% kasus, dengan gejala peradangan kulit dan kondisi umum (demam) pada 80% kasus serta terapi diberikan adalah Kortikosteroid dan MDT pada 40% kasus. Sedangkan Kusta tipe 1, didominasi oleh pasien perempuan dengan perbandingan 2:1. Kelompok usia terbanyak dewasa (20-60 tahun) 66,7% kasus, gejala peradangan pada kulit dan peradangan pada sendi 100% kasus dengan terapi diberikan kortikosteroid dan MDT pada 100%. Reaksi kusta tipe 1 banyak diderita pada perempuan, gejala terbanyak yaitu peradangan kulit dan kondisi umum demam dan tipe 2 banyak pada laki-laki, gejala peradangan kulit dan peradangan pada sendi. Berdasarkan usia terbanyak pada kedua tipe reaksi yaitu usia 20-60 tahun. Terapi pada kedua tipe reaksi menggunakan Kortikosteroid dan MDT. Kata kunci: Kusta; Myobacterium Leprae; reaksi reversal; eritema nodusum leprosum
Perbandingan Efektivitas Pemberian Preemptive Gabapentin 300 mg dan Pregabalin 75 mg Terhadap Nyeri Akut Pasca Bedah Mastectomy Egi Alfareza Putri Nasrun; Fendy Dwimartyono; Armanto Makmun; Azis Beru Gani; Andi Alamanda Irwan
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.278

Abstract

Modifikasi mastektomi radikal (MRM) adalah pengobatan standar untuk kanker payudara. Semua jaringan payudara terangkat saat Anda melakukan ini. Pasien sering mengalami kesulitan terbesar dengan ketidaknyamanan pasca operasi. Setelah operasi, ketidaknyamanan akut mempengaruhi 80% pasien. Analgesia preemptive, kadang-kadang dikenal sebagai pemberian obat nyeri sebelum terjadi kerusakan jaringan, adalah salah satu strategi untuk mengelola nyeri pasca operasi. Adjuvan termasuk gabapentin dan pregabalin. Nyeri pasca operasi akut dan nyeri kronis keduanya sering diobati dengan kedua obat ini, yang juga biasa digunakan sebagai antikonvulsan. Analgesia preemtif dengan gabapentin dan pregabalin untuk pengobatan nyeri pasca operasi. Studi uji klinis/eksperimental dengan metodologi cross-sectional adalah desain penelitian yang digunakan. Terdapat 12 sampel yang diberi tindakan mastectomy diantaranya 6 sampel yang diberikan gabapentin dan 6 sampel yang diberikan pregabalin. Pada penelitian ini kelompok yang menggunakan gabapentin lebih efektif dalam menurunkan skor numeric rating scale pasca bedah mastectomy secara signifikan dan pada kelompok yang menggunakan pregabalin efektif juga dalam menurunkan skala nyeri pasca bedah mastectomy. Penggunaan gabapentin 300 mg dan pregabalin 75 mg sebagai preemptive untuk menurunkan nyeri pasca bedah mastectomy berpengaruh dan memberikan penanganan nyeri pasca pembedahan. Kesimpulan pada penelitian ini didapatkan gabapentin lebih efektif dalam menurunkan skala nyeri pasca bedah mastectomy dimana ada 5 orang yang nilai NRS-nya tidak nyeri dan pada preemptive pregabalin didapatkan ada 3 orang yang nilai NRS-nya tidak nyeri. Kata Kunci : Gabapentin; pregabalini; nyeri akut; mastectomy
Risk Factors for Cervical Cancer Incidence at Ibnu Sina Hospital Makassar Nadhifah Khairun
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.284

Abstract

Cervical cancer is a malignant tumor that occurs in the cervical region at the end of the cervix. Based on data from the International Agency for Research on Cancer (IARC), it is known that the second highest cause of death is cervical cancer, reaching 460,000 cases and 230,000 women deaths. Cervical cancer is caused by HPV infection and several factors, namely age, parity, age of first sexual intercourse, number of sexual partners history, HPV vaccination history, smoking history, and oral contraceptives history. To determine the risk factors for cervical cancer incidence at Ibnu Sina Hospital Makassar. This was descriptive retrospective study method. With cross sectional research design. The total sample was 68 people with cervical cancer at Ibnu Sina Hospital Makassar. The distribution of age 30-60 years (85.3%), parity >3 (57.4%), and age of first sexual intercourse >17 years (85.3%). There was no history of using oral contraceptives (54.4%), HPV vaccination history (97.1%), and smoking history (98.5%). Having only 1 history of number of sexual partners (89.7%), employment history was not out of town (63.2%), and the most common type of cervical cancer was squamous cell carcinoma (76.5%). The distribution of risk factors for the incidence of Cervical Cancer at Ibnu Sina Hospital was mostly found at the age of 30-60 years, parity> 3, age of first sexual intercourse >17 years, no history of using oral contraceptives, no HPV vaccination history, no smoking history, having 1 history of sexual partners, work history not out of town, and the type of cervical cancer is squamous cell carcinoma.
Karakteristik Penderita Kanker Ovarium di RS Ibnu Sina Makassar Muthmainnah, Putri Rahayu; Syahril, Erlin; Rahmawati; Mona Nulanda; Anna Sari Dewi
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.287

Abstract

Ovarian cancer is condition caused by abnormal tissue that growth in ovary . Ovary is female reproductive organs where eggs are produced. There is three Ovarian cancer is classified as an epithelial tumor that develops on the surface of the ovary, originating germ cell tumors from in producing cells egg can found in women young, and tumors of stromal origin from cells that have hormone womanhood namely estrogen and progesterone. Objective to find out the characteristics of ovarian cancer sufferers at Ibnu Sina Makassar Hospital. Method this research is a descriptive research with design studies cross sectional , the researcher will collect secondary data through record medical patient ovarian cancer at Ibnu Sina Makassar Hospital. The results shows that from 90 samples, characteristics patients based on age the most is 46-55 years totaling 29 people (32.2%), marital status is already married totaling 76 people (84.4%), symptoms clinical is stomach grow totaling 55 people (61.1%), stage of cancer is stage IIIC totaling 32 people (35.6%), type histopathology is an epithelial tumor surface totaling 73 people (81.1%), and most abdominal ultrasound images on smooth tumor walls totaling 48 people (53.3%), no septate totaling 37 people (41.1%), echogenicity mixed echoic totaling 38 people (42.2%). Can concluded that characteristics the most found at the age of 46-55 years, marital status is already married, symptom clinical is stomach enlarged, cancerous stage is stage IIIC, type histopathology is an epithelial tumor surface, and abdominal ultrasound image of the smooth tumor wall, no septate, echogenicity mixed echoic.

Page 1 of 1 | Total Record : 10