cover
Contact Name
Arifatul Uyun
Contact Email
uyunarifatul@gmail.com
Phone
+6282338483950
Journal Mail Official
jurnalalqadlaya@gmail.com
Editorial Address
https://ejournal.stismu.ac.id/ojs/index.php/alqadlaya/EditorialTeam
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Hukum Keluarga Islam
ISSN : 28096681     EISSN : 28095936     DOI : https://doi.org/10.55120/qadlaya.v3i1.1554
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qadlaya : Jurnal Hukum Keluarga Islam, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) Program Studi Hukum Keluarga Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Miftahul Ulum Lumajang sejak tahun 2021. Artikel disni mencakup studi tekstual dan studi lapangan dengan berbagai perspektif Islam. Hukum Keluarga, Wacana Islam dan Gender, dan Penyusunan Hukum Perdata Islam. Pada awalnya jurnal hanya berfungsi sebagai wadah ilmiah bagi dosen, profesor, dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Miftahul Ulum Lumajang. Namun, karena perkembangan selanjutnya, jurnal tersebut berinisiatif mengundang para sarjana dan peneliti di luar Institut untuk berkontribusi. Hingga saat ini, dengan prosedur double peer-review yang adil, Al-Qadlaya terus mempublikasikan penelitian dan kajian terkait Hukum Keluarga Islam, Wacana Gender, dan Legal Drafting KUHPerdata Islam dengan berbagai dimensi dan pendekatan. Al-Qadlaya, terbit dua kali setahun, selalu menempatkan Hukum Keluarga Islam, Wacana Gender, dan Hukum Perdata Islam dalam fokus utama penyelidikan akademis dan mengajak setiap pengamatan komprehensif Hukum Keluarga Islam sebagai Islam normatif dan sistem masyarakat Muslim sebagai mereka yang menjalankan agama dengan banyak segi.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 64 Documents
Hafalan Al-Qur'an sebagai Mahar: Relevansinya terhadap Ikatan Emosional Pasangan dan Terwujudnya Keluarga Sakinah Huril In Aisy; Husnul Hotimah; Bayu Arif Mahendra
Al-Qadlaya : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 02 (2026): Al-Qadlaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji alasan dan pemaknaan pasangan Muslim dalam memilih hafalan Al-Qur’an sebagai mahar pernikahan, serta relevansinya terhadap ikatan emosional pasangan dan terwujudnya keluarga sakinah dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode wawancara mendalam, penelitian dilaksanakan di Kota Metro, Lampung, melibatkan empat pasangan suami istri yang menggunakan hafalan Al-Qur’an sebagai bagian dari mahar pernikahan mereka dengan variasi durasi pernikahan dari beberapa bulan hingga hampir dua dekade, serta empat praktisi KUA sebagai narasumber pendukung. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keempat pasangan memilih mahar hafalan Al-Qur’an bukan karena keterbatasan finansial, melainkan atas dasar pertimbangan nilai, keyakinan, dan orientasi spiritual yang matang, sehingga secara substantif memenuhi makna nihlah dalam QS. An-Nisa ayat 4 dan sejalan dengan pandangan Mazhab Syafi’i yang menerima manfaat sebagai bentuk mahar yang sah. Dalam praktiknya, mahar hafalan Al-Qur’an selalu hadir berdampingan dengan mahar material sebagai konstruksi mahar ganda yang mengintegrasikan kewajiban fiqih sekaligus dimensi spiritual. Aktivitas Qur’ani bersama pasca akad seperti murojaah, membaca Al-Qur’an bersama, dan saling menyimak hafalan terbukti berlanjut secara konsisten dalam keseharian dan berfungsi sebagai medium tumbuhnya keintiman, kepercayaan, dan komunikasi yang bermakna antarpasangan. Dianalisis melalui Teori Segitiga Cinta Sternberg, mahar hafalan Al-Qur’an memperkuat komponen komitmen dan keintiman, sementara dalam kerangka Islam ketiga unsur tujuan pernikahan yaitu sakinah, mawaddah, dan rahmah terbukti hadir dalam kehidupan rumah tangga keempat narasumber. Namun penelitian ini juga menegaskan bahwa mahar hafalan Al-Qur’an berfungsi sebagai modal awal dan katalis, bukan jaminan hasil, karena dampak nyatanya sangat bergantung pada konsistensi pasangan dalam menghidupkan nilai Al-Qur’an setelah akad, bukan sekadar membacakannya pada momen seremonial.
FENOMENA PAMER KEMESRAAN SUAMI ISTRI DI MEDIA SOSIAL (FLEXING) DALAM PERSPEKTIF SAKINAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA Sridepi; dwi eko syaputra
Al-Qadlaya : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 02 (2026): Al-Qadlaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan media sosial yang pesat telah mengubah cara pasangan suami istri mengekspresikan kasih sayang, sehingga memunculkan fenomena yang dikenal dengan istilah flexing, yaitu tindakan memamerkan kemesraan rumah tangga secara berlebihan di ruang publik digital, baik berupa foto, video, maupun narasi kehidupan pribadi. Artikel ini mengkaji fenomena flexing kemesraan suami istri dari perspektif konsep keluarga sakinah dalam hukum Islam serta menganalisis dampaknya terhadap keharmonisan keluarga, dengan fokus utama pada batasan privasi rumah tangga menurut hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat normatif-yuridis dan maqāṣid al-syarī'ah, dengan sumber data primer Al-Qur'an, hadis, Kompilasi Hukum Islam, serta literatur fikih klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam membolehkan suami istri saling menampakkan kasih sayang, tetapi tetap mewajibkan keduanya menjaga adab dan batasan privasi terhadap hal-hal yang bersifat rahasia rumah tangga (asrar al-bayt), terutama yang berkaitan dengan aurat dan hubungan seksual. Flexing kemesraan yang berlebihan berpotensi mengikis nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah, memicu kecemburuan sosial, menurunkan rasa malu (haya'), serta membawa dampak negatif jangka panjang terhadap keharmonisan keluarga dan psikologi anak
The Legal Implications for Citizenship Status of Mixed Marriages Registered at The Office of Religious Affairs Muhammad Aminuddin Shofi; Imam Bayhaki; Muhammad Masdar Umaruddin
Al-Qadlaya : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 01 (2025): Al-Qadlaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Married couples of different nationalities must have a thorough understanding of the Religious Affairs Office's mixed marriage registration process because it has significant legal ramifications for the future of the family, including joint property ownership and the citizenship status of the children. This study looks at how mixed marriages are handled administratively at the Religious Affairs Office in Gumukmas District, Jember Regency, and considers the legal implications for citizenship status. A case study and legal approach are used in this empirical legal research, and interviews and documentation are used as data collection methods. The data is then subjected to a number of analysis techniques, including data editing, classification, verification, and analysis, before being presented in a succinct, clear, and straightforward but still engaging conclusion narrative. The findings of the study indicate that the Office of Religious Affairs is authorized to offer mixed marriage registration services in accordance with Minister of Religious Affairs Regulation Number 24 of 2024, subject to a number of administrative constraints. A permit from the appropriate Embassy, a Certificate of No Impediment, also known as a single letter, a copy of the passport, and, in the event that the foreign national's country of origin is unrelated, all documentation must be translated into Indonesian are additional requirements for mixed marriages. Because mixed marriages can result in such complicated legal implications, the Office of Religious Affairs' marriage registrars have a specific and urgent duty to educate prospective brides and grooms about the significance of the administrative process. Mixed marriages have legal implications for both husband and wife since they provide them the option to keep their individual citizenships or adopt their partner's citizenship. The citizenship status of children from mixed marriages is also affected; for example, children from mixed marriages retain dual citizenship until they turn 18 until they choose to adopt their mother's or father's citizenship.
RELEVANSI PROKREASI SEBAGAI TUJUAN PERNIKAHAN PRESPEKTIF NATURAL LAW Khoirus Sholeh
Al-Qadlaya : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 01 (2025): Al-Qadlaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinamika sosial yang masif di era modern telah melahirkan berbagai bentuk keluarga dan rumah tangga kontemporer yang kian kompleks, mulai dari model keluarga tradisional, pola keluarga egaliter, pertukaran peran domestik, hingga maraknya fenomena cohabitation (hidup serumah tanpa ikatan pernikahan) serta diskursus mengenai pasangan sejenis. Pergeseran struktur sosial ini memicu perdebatan mendasar mengenai esensi pembentukan sebuah keluarga. Khususnya, kedudukan prokreasi sebagai tujuan esensial pernikahan seringkali dipertanyakan atau ditolak oleh kelompok-kelompok yang berada di luar kerangka dogma keagamaan tertentu, sehingga memunculkan urgensi untuk menemukan landasan argumentasi yang bersifat universal, rasional, dan dapat diterima oleh seluruh kalangan, baik teis maupun ateis. ​Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif kedudukan prokreasi sebagai tujuan pernikahan serta menganalisis tingkat relevansinya apabila ditinjau secara mendalam melalui perspektif natural law (hukum kodrat). Konsep natural law diposisikan sebagai filsafat hukum yang mendasari hak asasi manusia, di mana akal rasional dan moralitas manusia berpartisipasi dalam hukum abadi (eternal law) untuk mengatur segala tatanan kehidupan secara fundamental. Kerangka ini menuntut manusia agar bertindak sesuai dengan akal budi kodratinya, termasuk dalam hal memilih model keluarga dan menentukan tujuan prokreasi di dalamnya. ​Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konseptual (conceptual approach) dengan jenis penelitian pustaka (library research). Sumber data diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yakni data primer dan data sekunder, yang dihimpun melalui teknik dokumentasi berupa penelaahan mendalam terhadap buku, kitab, literatur, jurnal, undang-undang, serta arsip tertulis yang relevan dengan topik kajian. Seluruh data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) yang dilakukan secara sistematis, objektif, dan berbasis pada aturan eksplisit dengan merujuk pada prinsip-prinsip analisis kualitatif. ​Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoretis yang kuat mengenai posisi rasionalitas prokreasi dalam ikatan perkawinan. Melalui tinjauan natural law, tujuan prokreasi tidak hanya dipahami sebagai doktrin keagamaan yang sempit, melainkan sebagai sebuah tuntutan kodrati yang universal dan sejalan dengan akal budi sehat manusia demi menjaga kelangsungan peradaban serta martabat kemanusiaan di tengah gelombang modernitas.