UNIVERSUM : Jurnal KeIslaman dan Kebudayaan
UNIVERSUM; Jurnal Keislaman dan Kebudayaan adalah Jurnal yang diterbitkan oleh LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. Jurnal ini bertujuan mengembangkan kajian mengenai hadis dan menjadi wadah artikulasi bagi dosen, peneliti dan pemerhati kajian hadis untuk mendeseminasikan hasil penelitiannya yang terkait dengan studi hadis, yaitu kajian sanad, matan, living hadis dan studi manuskrip hadis.. UNIVERSUM; Jurnal Keislaman dan Kebudayaan memposisikan diri sebagai laboratorium pemikiran, tempat semua gagasan diolah dan didialogkan untuk memperkaya khzanah pemikiran hadis, baik klasik maupun kontemporer. UNIVERSUM; Jurnal Keislaman dan Kebudayaan diterbitkan secara berkala setiap enam bulan sekali pada bulan Januari dan Juli. Pada awalnya, UNIVERSUM; Jurnal Keislaman dan Kebudayaan diterbitkan pertama kali pada tahun 2007 dengan ISSN 1978-6948 yang dikeluarkan oleh LIPI dan masih bernama UNIVERSUM. Pada fase ini, lingkup kajiannya mencakup Islam dan Kebudayaan dan diterbitkan secara cetak. Seiring dengan transformasi jurnal di Indonesia, tahun 2015 jurnal ini berbenah dengan terbitan online versi OJS dan mendapat lisensi dari LIPI dengan E-ISSN 2502-6948. UNIVERSUM mengalami sedikit perubahan nama menjadi UNIVERSUM; Jurnal Keislaman dan Kebudayaan, sebagaimana dipakai saat ini. Perkembangan berikutnya, mulai tahun 2017 seiring dengan kebijakan penataan jurnal di lingkungan IAIN Kediri, Universum menfokuskan kajiannya pada hadis dan ilmu hadis, mencakup wilayah studi sanad, matan, living hadis dan studi manuskrip hadis.
Articles
145 Documents
KAJIAN HADITH TENTANG SALAM DALAM BUKU FIQIH LINTAS AGAMA (FLA)
Syofrianisda
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i01.724
Permasalahan ini dilatarbelakangi olehhadith riwayat Muslim melalui AbuHurairah tentang larangan Nabi memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani“(Janganlah kamu memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, jika kamu berjumpa dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia ke pinggir)”. Hadith ini dipahami oleh tim penulis mengesankan wajah Islam yang keras, kejam lagi menakutkan. Bahkan mereka menolak dan membatalkan validitas hadith ini. Mereka berpendapat bahwa hadith ini tidak sesuai dengan watak dasar Islam yang menekankan kedamaian. Penulis tertarik untuk membahas masalah ini, karena tidak ada kajian mendalam terhadap pemahaman tim penulis ini, terutama dalam hal menyapa non-Muslim. Meski Hartono Ahmad Ja’iz telah mengkritik gagasan mereka melalui buku-buku yang Mencegah Bahaya Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Fiqih Antar Agama (FLA), namun Hartono tampaknya lebih fokus untuk menilai ayat-ayat tentang pluralisme saja. Sementara masalah tradisi pemahamannya sendiri, ia jauh lebih banyak mengomentari hadith yang terkait dengan masalah antaragama. Maka pemikiran seperti ini sangat mungkin berkembang di masa depan. Hal ini terbukti dengan berkembangnya studi pluralisme saat ini
KONSEP SAHABAT MENURUT MAḤFŪẒ AL-TARMASĪ (1842-1920 M)
Muhammad Anshori
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i01.726
Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi konsep sahabat dalam kitab Manhaj Żawīal-Naẓarkarya Maḥfūẓ al-Tarmasī. Kitab ini merupakan Sharḥ Naẓm Alfīyah al-Suyūṭī (w. 911 H) yang terdiri dari 980 bait syair, kemudian ditambah 20 bait oleh al-Tarmasīsehingga jumlahnya genap 1000 bait. Salah satu hal menarik yang dikaji dalam kajian hadith adalah tentang konsep sahabat yang merupakan sumber atau periwayat pertama suatu hadith. Keabsahan seorang sahabat memang menjadi polemik antara Sunni dan Shi’i, lebihlebih tentang konsep keadilan sahabat. Dalam kitab tersebut sama sekali tidak ada konsep yang baru tentang konsep sahabat secara umum, apalagi tentang keadilan sahabat. Al-Tarmasī hanya mengulangi penjelasanpenjelasan ulama terdahulu dalam menulis kitabnya. Dengan mengikuti jumhur ulama ia mengatakan bahwa semua sahabat ādil, tetapi fakta sejarah mengatakan bahwa tidak semua sahabat ādil. Tulisan ini telah membuktikan hal tersebut, dengan mengutip beberapa sumber yang ada. Sarjana-sarjana Muslim modern juga mempertanyakan tentang konsep al-ṣaḥābah kulluhum udūl. Dalam beberapa literatur telah dicontohkan beberapa kelakuan sahabat-sahabat yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman.Banyak sekali contoh kasus perbuatan sahabat yang tercela sehingga bisa dikatakan bahwa konsep al-ṣaḥābah kulluhum udūl tidak harus dipahami sebagai semua sahabat ādil. Pengertian yang tepat adalah sebagian sahabat adalah ādil karena “kullu” di sini bersifat juz’iyah (sebagian), bukan kulliyah (menyeluruh).
METODE KEṢAHĪHAN HADIS SUNNĪ VS METODE KEṢAHĪHAN HADIS SHĪ’AH
Khairul Muttaqin
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i01.727
Dewasa ini terdapat dua golongan yang selabu bertentangan dalam persoalan ideologi dan metodologi, yaitu golongan Sunnī dan golongan Shī’ah. Dalam terminologi hadis, kedua golongan ini memiliki pandangan yang berbeda. Metode kesahihan hadis Nabi yang didengungkan oleh golongan sunnī sama sekali berbeda dengan metode kesahihan hadis versi Shī’ah. Metode yang digunakan dalam karya ini adalah library research di mana penulis akan melakukan penelusuran terhadap karya-karya yang relevan yang berkaitan dengan perbedaan metodologis antara Sunnī dan Shī’ah dalam menentukan ṣahih tidaknya suatu hadis. Dalam kritik matan hadis dan kritik sanad hadis terdapat perbedaan yang mencolok di antara dua golongan tersebut. Perbedaan tersebut tentu saja pada akhirnya berujung pada perbedaan dalam hadis-hadis yang dianggap absah dan perbedaan dalam madzhab fiqh.
PEMAHAMAN ḤADITH (Definisi, Aliran, dan Afilisasi)
Duwi Hariono
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i01.728
Istilah-istilah atau term dalam ilmu ḥadith seringkali rancu dan sulit dibedakan. Sebagaimana istilah ḥadith, sunah, khabar, dan atsar yang seringkali disamakan. Bagi pemerhati ḥadith hal tersebut menjadi persoalan yang serius dan rumit mengingat masing-masing istilah tersebut memiliki signifikansi yang jelas berbeda sehingga penyamaan maksud istilah-istilah tersebut tidak dapat diterima. Salah satu persoalan yang terus meramaikan diskursus ilmu ḥadith hingga dewasa ini adalah belum tercapainya kesepakatan dalam hal mendefinisikan istilah pemahaman ḥadith. Para tokoh ḥadith menyebutnya dalam tiga terma; fiqh al-ḥadith, fahm al-ḥadith dan naqd al-ḥadith. Masingmasing memiliki persepsi yang berbeda terkait dengan ruang lingkup dan arah kegiatannya. Satu hal yang patut digarisbawahi yakni meskipun semua istilah yang disebutkan diatas berbeda namun tujuannya sama yakni kegiatan memahami ḥadith. Artikel ini akan membahas definisi dari fiqh alḥadith, fahm al-ḥadith dan naqd al ḥadith serta aliran-aliran dan afiliasi pemahaman ḥadith.
TIPOLOGI KODIFIKASI HADITH DALAM KITAB TUḤFAT AL AṢRĀF BI MA’RIFAT AL-AṬRĀF
Aniqoh
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i01.729
Kitab Aṭrāf ini adalah salah satu kitab yang dapat digunakan untuk membantu dalam mempelajari hadith, terutama jika muhaddith ingin melakukan takhrij al-hadith yang bisa digunakan sebagai kamus dalam pencarian sanad hadith, dan juga merupakan salah satu kitab hadith yang diringkas oleh pengarangnya untuk menyebutkan awal hadith dan menunjukkan lafal hadith setelahnya. Alasan yang mendasar dikarangnya kitab ini adalah mengumpulkan hadith-hadith yang terdapat pada kutūb al sittah dan sebagian Mulhaq-nya dengan cara sangat mudah, yang dibaca sesuai dengan urutan sanad-nya, yang bermacam-macam, sehingga mampu untuk diletakkan dalam satu tempat. Pengarang mendahulukan menyebut beberapa hadith yang memiliki tarjamah yang paling banyak terlebih dahulu. Sebagaimana periwayatan enam lebih didahulukan daripada periwayatan lima, periwayatan lima lebih didahulukan daripada periwayatan empat dan seterusnya. Kitab hadith jenis Aṭrāf memiliki keistimewaan di samping beberapa kendala yang akan dihadapi ketika dipergunakan dalam pen-takhrij-an hadith
URGENSI ILMU ‘ILAL AL-HADĪTH
Rahmin Talib Husain
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i01.730
Ilmu ‘ilal al-hadīth merupakan disiplin ilmu yang mengkaji hadith dan bernilai strategis dalam rangkaian ilmu-ilmu hadith yang lain. Tulisan ini adalah kajian diskriptif yang bertujuan menguraikan dan memposisikan Ilmu ‘ilal al-hadīth bagi pengembangan studi hadith kedepan, karena minimnya apresiasi pengkaji hadith pada umumnya terhadap eksistensi dan keberlangsungan ilmu ini.
AL-THULĀTHIYYĀT DALAM KITAB INDUK HADITH
Muhammad Kudhori
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 02 (2017): Juli 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i02.731
Satu diantara keistimewaan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah keberadaan mata rantai pembawa berita kepada umat pemeluk agama itu. Mata rantai dimaksud adalah sanad. Kondisi sanad dalam khazanah Islam memperoleh perhatian serius di kalangan ahli hadith. Dalam bidang sanad hadith, terdapat suatu jenis sanad yang diprioritaskan dengan mengalahkan jenis sanad lainnya. Hal ini terjadi ketika mereka dihadapkan pada suatu kondisi kontradiktif antara dua dalil yang saling berseberangan. Jenis sanad dimaksud adalah al-sanad al-‘Ālī, yaitu sebuah sanad hadith yang terdiri dari para periwayat yang minim jumlahnya. Urgensi jenis sanad demikian untuk kepentingan ketinggian sanad dan faktor penunjang demi kemudahan dalam mengecek para periwayat hadith tersebut. Dari jenis al-sanad al-‘Āli ini terdapat bentuk sanad yang mata rantai informannya hanya berjumlah tiga orang yang dikenal dengan istilah thulāthiyyāt. Hadith-hadith yang mempunyai sanad ‘ālī atau dalam hal ini adalah hadith-hadith thulāthiyyāt tidak selamanya berkualitas sahih, karena penilaian kesahihan hadith hanya bergantung pada lima syarat sahih yang telah ditetapkan oleh para ahli hadith. Hadith-hadith thulāthiyyāt akan mempunyai nilai tinggi manakala didukung dengan kualitas hadithnya yang sahih.
ASAL PENCIPTAAN PEREMPUAN
Abdul Basid
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 02 (2017): Juli 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i02.732
Polemik mengenai asal usul penciptaan perempuan masih mendapatkan tempat, mengingat kajian tentang hadith misoginis dalam permasalahan tersebut menarik untuk dibahas. Artikel ini mencoba mengungkap asal penciptaan perempuan dengan memfokuskan pada analisis teks hadith dengan metode takhrīj al-ḥadīth pada kitab Bukhāri dan Muslim. Teks hadith yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki menurut gerakan feminisme dianggap tidak falid walaupun berasal dari kitab ṣāḥiḥain karena memberikan kesan negatif terhadap posisi perempuan. Akan tetapi, kesan negatif bisa dihilangkan ketika pemaknaan terhadap hadith tersebut dengan menggunakan metafora, tidak dengan pemaknan tekstual.
DOA NABI INGIN KAYA DAN INGIN MISKIN
Muhammad Mahfud
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 02 (2017): Juli 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i02.733
Doa merupakan sarana komunikasi mahluk dengan Tuhan. Salah satu yang populer di kalangan masyarakat adalah berkaitan permintaan Rasulullah dijadikan seorang yang miskin, dan di sisi lain dijadikan orang yang kaya. Artikel ini akan membahas kontradiksi terkait doa Rasulullah dijadikan seorang yang miskin dan di sisi yang lain meminta untuk dijadikan seseorang yang kaya dengan menggunakan metode Takhrīj al-Ḥadīth. Doa Rasulullah tersebut memberi pemahaman bahwa umatnya tidak boleh hidup dengan kekayaan, akan tetapi miskin yang dimaksudkan adalah kesederhanaan. Di sisi yang lain bahwa kedua hadith tersebut bernilai ḍa’īf.
MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO’A (ANALISIS KONTRADIKSI HADITH)
Hery Siswanto
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 02 (2017): Juli 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30762/universum.v11i02.734
Berangkat dari dua hadith dalam kitab sunan Ibn Mājah yang berhubungan dengan tata cara berdo’a, hadith yang pertama menjelaskan bahwa Nabi saw. berdoa dengan tidak mengangkat tangan kecuali saat shalat istisqa’, sedangkan hadith yang kedua menunjukkan perintah Rasulullah saw, kepada para sahabat untuk mengangkat tangan ketika berdoa secara mutlaq. Dari kontradiksi antar hadith tersebut dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana kualitas sanad dan matan hadith ibn Majah tersebut? 2) Bagaimana kehujjahan hadith tersebut? 3) bagaimanakah ta’wil yang tepat terhadap hadith tersebut? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode takhrīj al-ḥadīth, dan metode kontradiksi hadith (Mukhtalif al-ḥadīth). Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan: Pertama, Kualitas sanad hadith ibn Mājah no. 1180 ḥasan li dhātih, sedangkan kualitas sanad hadith ibn Mājah no. 1181 al-ḍa’īf. Kedua, Hadith ibn Mājah no. 1180 & 1181 sama-sama bisa dijadikan hujjah. Namun, perbedaanya hadith pertama bisa dijadikan pijakan dalam pengambilan hukum, karena status hadithnya ḥasan li dhātih. Sedangkan hadith yang kedua bisa dijadikan hujah jika kualitasnya meningkat menjadi hadith ḥasan li ghayrih dengan adanya hadith lain yang semakna. Ketiga, kontradiksi matan hadith Ibn Mājah no. 1180 dan 1181, menunjukkan ragam tata cara berdoa yang masuk dalam kategori tanawwu’ fi al-‘ibādah (keragaman dalam beribadah).