cover
Contact Name
Asep Dadan Suganda
Contact Email
asep.dadan@uinbanten.ac.id
Phone
+6281511475475
Journal Mail Official
jurnal.tazkiya@uinbanten.ac.id
Editorial Address
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Jln. Jend. Sudirman, No. 30 Ciceri, Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Tazkiyya: Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan dan Kebudayaan
ISSN : 14117886     EISSN : 30472695     DOI : https://doi.org/10.32678/tjk3.v24i2
Tazkiyya is a periodical scientific publication intended for researchers who want to publish their articles in the form of literature studies, research, and scientific development in the field of Islamic Studies, Communities, and Cultures.
Articles 104 Documents
Tradisi Munjungan Dalam Pernikahan di Desa Koranji Kecamatan Pulosari Kabupaten Pandeglang - Banten N. Erna Marlia Susfenti; Rini Febriantini
Tazkiya Vol 23 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v23i2.7830

Abstract

Tradisi Munjungan merupakan salah satu tradisi yang ada dalam pernikahan dimana kedua mempelai pengantin berkunjung kepada kedua orang tua dan kerabat-kerabat pihak laki-laki dengan membawa makanan beserta lauk pauknya. Tradisi ini merupakan salah satu tanda penghormatan yang diberikan kepada keluarga dan kerabat dan orang-orang yang dituakan, tanda penghormatan tersebut berupa kunjungan dan pemberian makanan-makanan yang dibawa dan diantarkan ke rumah orang-orang yang telah ditentukan dengan bertujuan untuk meminta doa restu dalam berkeluarga, menunjukkan rasa hormat, kasih sayang, dan mempererat tali silaturahmi. Tradisi munjungan merupakan tradisi yang ada dalam pernikahan dimana tradisi ini selalu dilaksanakan oleh masyarakat Desa Koranji Kecamatan Pulosari secara turun temurun. Prosesi tradisi munjungan ini diawali dengan beberapa tahapan dimulai dari persiapan waktu, menentukan orang-orang yang dikunjungi dalam tradisi munjungan, membawa makanan, munjungan, dan memberikan hadiah. Makna dan fungsi yang terkandung dalam tradisi munjungan ini yaitu dengan adanya tradisi munjungan para warga masyarakat dapat bersatu sebagai keluarga besar, dan menanamkan jiwa sosial gotong royong, sebagai tanda penghormatan dan ungkapan terimakasih, sikap hormat dan menjaga kerukunan antar keluarga, kerabat dan masyarakat.
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Membangun Kepercayaan Diri Anak Paiman Nahrodi; Hasbullah Hasbullah; Hanafi Hanafi
Tazkiya Vol 23 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v23i2.7831

Abstract

This writing was used qualitative library research. The writer tries to describe the activities, program, curriculum and the children of development steps. The goals of writing, was to understand the deep about the patterns to take care of building the children's confidences, Family as the first institution in their live will be educating them. The family as the place for learning and teaching process themselves as the social animal. Generally, in the family, the children will make the close relation each other. The family will give the reformed of attitude, behavior. morality and education. The pattern to take care of children as the all methods of parents who decided for their children, as the parts of the important and base to prepare their polite and a good children character. The reform of self-confidence, discipline attitude, fairness value and achievement motivation and spirituality aspect to our children as the base of children's character to achieve. The psychological and spirituality aspect for our children done in order to the parents will be produced by the pattern to take care of authoritative who support a significant children's achievement.
Relasi Al-Qur’an Suroh Al-’Alaq Dengan Pendidikan Hafid Rustiawan
Tazkiya Vol 23 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suroh al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sejatinya, suroh tersebut syarat dengan pendidikan, mengingat waktu itu Nabi Muhammad SAW. sangan membutuhkan bimbingan, terlebih jika dikaitkan dengan tanggungjawabnya, karena Beliau dipersiapkan untuk menjadi seorang Rosul, terutama dalam-hal-hal yang yang berhubungan dengan kompetensinya sebagai seorang Rosul, Tulisan ini bertujuan untuk memahami kandungan suroh al-‘Alaq khususnya ayat 1-5, untuk memahami pendidikan yang terkandung didalamnya. Pemahaman tersebut menjadi penting guna dijadikan referensi dalam kajian ilmu teoritis, dansebagai Langkah prakttik dalam rangka implementasi pendidikan sesuai al-Qur’an. Dalam memahami al-Qur’an suroh al-‘Alaq ayat 1-5, penulis menggunakan studi dokumentasi, dengan menggunakan metode deduktif dan induktif, yang berusaha memahami Pendidikan yang terkandung dalam al-Quran suroh al-‘Alaq ayat 1-5, melalui literatur yang ada, seperti kitab-kitab tafsir hasil karya para ulama terdahulu, dan buku-buku pendidikan yang merupakan buah karya para ahli pendidikan. Dalam penulisan ini, penulis juga mengumpulkan berbagai pendapat dari para ahli dan kemudian dianalisis serta keterkaitannya dengan Pendidikan, selanjutnya dibuat kesimpulan. Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. dengan diawali asbab nuzulnya, telah menggambarkan bagaimana proses Pendidikan dan pembelajaran berlangsung, Proses pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa, pada dasarnya proses pembelajaran harus menekankan kepada proses pembelajaran active atau aktiv learning, meski pada akhirnya berakhir pada guru, namun paling tidak telah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan secara mandiri. Dari sudut kandungannya, suroh al-Alaq ayat 1-5 berisikan tentang jenis dan media pendidikan. Adapun jenis pendidikan yang terkandung di dalamnya mencakup pendidikan intelektual atau pendidikan akal pendidikan akidah, dan pendidikan tauhid, yakni tauhid rububiyah, serta pendidikan keterampilan membaca dan menulis, sedangkan sumber belajarnya adalah mencakup segala yang ada di alam semesta, baik yang tersurat, maupun yang tersirat, termasuk manusia.
PENGEMBANGAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI BADAN USAHA MILIK DESA Ma'mun Nawawi; Dian Febriyani; Farhan Firdaus
Tazkiya Vol 24 No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i1.8877

Abstract

Pengembangan ekonomi masyarakat merupakan upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memandirikan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan. Guna mensejahterakan masyarakat desa, maka pemerintah desa dan masyarakat Desa Pagedangan Jaya membentuk BUMDes Pagedangan Jaya Sejahtera yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat melalui berbagai program pengembangan ekonomi masyarakat yang dibentuk. Pengelolaan BUMDes Pagedangan Jaya Sejahtera dapat memberikan dampak positif kepada perekonomian masyarakat melalui program yang dibentuk antara lain; pengelolaan sampah, Raisa online, PPM, P2K2, pembinaan budidaya dan UMKM. Sehingga mampu meningkatkan PAD dan pendapatan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, mengurangi angka pengangguran serta kemiskinan.
URANG KANEKES DAN ADAT ISTIADAT PERNIKAHANNYA N. Erna Marlia Susfenti; Andra Muntaha
Tazkiya Vol 24 No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i1.10161

Abstract

Suku Baduy merupakan sebuah suku di Kawasan provinsi Banten yang kental dengan adat istiadatnya. Baduy sendiri adalah sebutan yang melekat pada orang-orang yang tinggal di sekitar kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Istilah kata Baduy diduga berasal dari kata “Badawi” yaitu suatu julukan bagi orang-orang yang tempat tinggal tidak tetap yang hidup di sekitar Jazirah Arab. Masyarakat suku Baduy merupakan masyarakat yang unik. Keunikan itu tampak dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam hal adat istiadat dan tradisi, masyarakat Baduy masih terikat dengan aturan leluhur. Salah satunya adalah tradisi perkawinan. Perkawinan merupakan hukum alam yang harus terjadi dan dilakukan oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Prosesi adat perkawinan dalam masyarakat Baduy diawali dengan pra-perkawinan seperti lalamar kemudian dilanjutkan dengan proses perkawinan sesuai dengan aturan yang sudah digariskan oleh leluhur suku Baduy
PERSPEKTIF AL-QUR'AN SURAT 66 AYAT 6 MENGENAI KEWAJIBAN INDIVIDU DALAM PENDIDIKAN Hafid Rustiawan
Tazkiya Vol 24 No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i1.10162

Abstract

Surat at-Tahrim adalah salah satu surat yang ada dalam al-Qur’’an, yakni surat ke 66, terdiri dari 12 ayat, termasuk salah satu surat Madaniyah, demikian pula ayat ke 6, ia termasuk ayat Madaniyah, yang ditandai dengan khitobnya, yaitu ditujukan kepada orang-orang beriman. Khitob tersebut berisi tentaang perintah agar orang-orang berimaan menjaga/memelihara diri dan keluarganya dari neraka. Kata kerja menjaga dan memelihara termasuk kepada perbuatan mendidik, sehingga diasumsikan bahwa ayat al-Qur’an surat at-Tahrim ayat 6 berisi tentang Pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam tafsir surat at-Tahrim secara khusus pada ayat 6, guna mendapatkan pemahaman pendidikan yang terkandung didalamnya. Pemahaman tersebut sangat penting mengingat al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, khususnya bagi orang-orang beriman, dengan memahami isi yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an kita akan mendapatkan petunjuk di dalamnya guna diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk bidang Pendidikan. Dalam memahami al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, penulis menggunakan studi pustaka untuk mengkaji berbagai penafsiran para ulama, sehingga sumber primernya adalah kitab tafsir seperti Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain, dan sebagainya. Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku ilmu pendidikan. Untuk memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, merujuk kepada penjelasan ulama tafsir sebagaimana yang dijadikan sumber primer, sedangkan untuk memahami pendidikannya penulis menganalisisnya, melalui isyarat-isyarat yang terkandung di dalamnya, baik secara deduktif, maupun secara induktif. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa surat At-Tahrim ayat 6 berisi tentang perintah Allah SWT untuk menjaga diri/memelihara diri dan keluarga dari neraka. Karena menjaga termasuk pada aktivitas pendidikan, maka kandungan pendidikan yang terdapat dalam surat at-Tahrim ayat 6 berisi tentang perintah Allah SWT agar setiap orang mendidik dirinya dan juga mendidik keluarganya dengan tujuan agar terhindar dari neraka. Mendidik diri sendiri dilakukan dengan cara tha’at kepada Allah SWT dan mendidik keluarga dilakukan dengan cara mengajar dan mendidik mereka, mengingatkan dan wasiat, bahkan dengan cara memaksa mereka agar tha’at kepada Allah SWT
ETIKA INTERAKSI PEMBELAJARAN ANTARA PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK MENURUT AL-QUR‘AN Qoyimun Qoyimun; Umi Kulsum; Hasbullah Hasbullah
Tazkiya Vol 24 No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i1.10163

Abstract

Tujuan dari penelitian ini pemahaman interaksi pendidik dan peserta didik sudah sesuai dengan etika interaksi menurut quran surat Al Kahfi ayat 66 dan interaksi yang kurang baik dapat dipengaruhi oleh segi pengontrolan sikap Pendidik terhadap Peserta Didik hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor diantaranya yaitu memotong pembicaraan pendidik, berbicara dengan tidak sopan, dan kurang menghormati pendidik. Metode yang di gunakan Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Yaitu studi di Pondok Pesantren Ar-Rahman Cidadap Kota Serang, dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Interaksi antara pendidik dan peserta didik di MTs Ar-Rahman cidadap sudah berjalan dengan baik sesuai dengan konsep interaksi yang tertera didalam Al-Quran suart Al – Kahfi ayat 66-70 dan melalui hasil dari pada penelitian di pondok pesantren Ar-Rahman dianggap sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat didilihat dengan kebiasaan mereka seperti mengucapkan salam dan mencium tangan seorang pendidik ketika berada di luar sekolah
KRITIK SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI TERHADAP HUKUM SUNAH POLIGAMI DALAM KITAB TAFSIR MUNIR MAROH LABID Humaeroh Humaeroh; Asep Dadan Suganda
Tazkiya Vol 24 No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i1.10164

Abstract

Artikel ini membahas mengenai kritik Syekh Nawawi al-Bantani terhadap hukum sunah poligami yang dijelaskan dalam kitab Tafsir Munir Maroh Labid. Syekh Nawawi al-Bantani, sebagai ulama terkemuka pada zamannya, secara kritis meninjau argumen-argumen yang disajikan dalam kitab tafsir tersebut terkait permasalahan poligami dalam konteks Islam. Penulis mencoba untuk mengeksplorasi pemikiran dan argumen Syekh Nawawi al-Bantani, mengidentifikasi poin-poin kritisnya, dan menjelaskan bagaimana pandangannya terhadap praktek poligami berdasarkan pemahaman tafsirnya. Dengan merinci kritik Syekh Nawawi al-Bantani, tulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan lebih mendalam tentang perspektif ulama terkemuka terhadap isu kontroversial seperti poligami dalam tradisi pemikiran Islam. Melalui analisis ini, diharapkan dapat terungkap perbedaan pandangan dan sudut pandang di antara ulama-ulama Islam terkemuka terkait dengan interpretasi hukum sunah poligami. Benang merah dari pembahasan ini adalah bahwa Syeikh Nawawi al-Bantani mengemukakan pada zamannya hukum poligami dianggap diperbolehkan. Namun, keputusan untuk melakukan poligami harus mempertimbangkan situasi dan kondisi individu yang bersangkutan. Jika poligami dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar dan membawa dampak negatif, maka hukumnya dapat berubah menjadi dilarang. Selain itu, Syeikh Nawawi menekankan bahwa isu poligami bukanlah semata-mata terkait dengan teks, berkah, atau kesunnahan, melainkan lebih berkaitan dengan aspek budaya, terutama di Indonesia
SIFAT DAN BENTUK FISIK RASULULLAH SAW Asep Dadan Suganda
Tazkiya Vol 24 No 2 (2023): Juli - Desember 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i2.10165

Abstract

Allah SWT telah mengutus Rasulullah SAW ke muka bumi ini tiada lain untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan fokus utama untuk menyempurnakan makarim akhlak manusia. Telah banyak diceritakan dalam kitab-kitab mengenai akhlak, sifat Rasulullah SAW dari orang-orang yang pernah bersama beliau, termasuk berbagai riwayat menceritakan juga bagaimana bentuk dan keadaan fisik Nabi Muhammad SAW sang Nabi dan Rasul Allah SWT. Terdapat banyak riwayat yang menerangkan sifat-sifat Nabi SAW dan keadaan fisik (jasmani, tubuh). Tetapi yang harus diingat, walaupun sudah diterangkan oleh berbagai riwayat mengenai bagaimana sifat dan bentuk fisik Rasulullah SAW, sebagai umat Islam tidak diperbolehkan untuk melukiskan ataupun menggambarkan sosok Rasulullah SAW.
TRADISI NGAYUN SEBAGAI SEBUAH RITUAL KELAHIRAN DI DESA SINDANGLAUT KECAMATAN CARITA N. Erna Marlia Susfenti
Tazkiya Vol 24 No 2 (2023): Juli - Desember 2023
Publisher : Pusat Kajian Islam dan Kemasyarakatan (PKIK), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tjk3.v24i2.10166

Abstract

Masyarakat dan tradisi merupakan dua hal yang saling terikat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tradisi meliputi kebiasaan, norma, nilai, hukum serta aturan aturan warisan masa lalu yang harus dijaga dan dilestarikan. Tradisi Ngayun merupakan sebuah tradisi yang masih dilakukan dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Sindanglaut Kecamatan Carita Kabupaten Pandeglang. Ngayun merujuk kepada tradisi pemberian nama dalam suku Sunda yang dilakukan tujuh hari setelah kelahiran bayi. Ritual ngayun diawalin dengan memandikan dan diakhiri dengan membaringkan bayi di dalam ayunan yang terbuat dari kain panjang yang diikatkan pada sebuah bambu. Pada bambu tersebut juga digantung benda – benda ritual yang masing – masing memiliki makna kebaikan bagi kehidupan bayi yang diayun

Page 10 of 11 | Total Record : 104