cover
Contact Name
Abd. Wahid
Contact Email
jurnal.elsunan@ar-raniry.ac.id
Phone
+628126950111
Journal Mail Official
jurnal.elsunan@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Ushuluddin Faculty Building, 1st Floor, Department of Hadith Studies, Ushuluddin and Philosophy Faculty, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh,
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies
ISSN : -     EISSN : 30312930     DOI : 10.22373/el-sunan
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies is a binnual and peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Hadith and Religious Studies from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Hadith Studies with various perspectives of law, philosophy, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others, Hadith sciences, Living Hadith, Hadith Stuides accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Hadith studies, syarah hadith (interpretation of hadith)
Articles 68 Documents
Speaking Truth to Tyrannical Power: A Hadith Study on The Concept of The Best Jihad Muhammad Zaini
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to examine the hadith that explains afdhal al-jihād kalimatu 'adlln 'inda shulthāni jāir (the best jihad is to convey justice in front of unjust leaders). In this study, the researcher focuses on the hadith narrated by Imam al-Turmuzi. The research was carried out on two things, namely in terms of the quality of the hadith and in terms of the lecture (explanation) of the intention contained in the mata. This type of research is a literature review (library research), by conducting a review of books and books related to the topic of discussion. The conclusion of this study; First, the hadith narrated by Imam al-Turmuzi regarding the issue studied is basically dha'if, because it is found that there are two narrators whose status is questionable, but because of the existence of supporting narrators who are tsiqah from other paths, this hadith is raised in quality from dha'if to hasan ligairihi, while the mata is saheeh. Second, the content of the hadith explains that justice must be delivered to the tyrannical leader, even though it is necessary to consider the risks experienced by people who commit jihad like this. Therefore, conveying the truth in front of the ruler is often dilemmatic if the one facing is the ruler who is feared. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadits yang menjelaskan tentang afdhal al-jihād kalimatu ‘adlln ‘inda shulthāni jāir (jihad yang paling baik adalah menyampaikan keadilan di depan pemimpin yang zalim). Dalam kajian ini peneliti memfokuskan penelitian pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmuzi. Penelitian dilakukan pada dua hal, yaitu dari segi kualitas haditsnya dan dari segi syarahan (penjelasan) maksud yang dikandung matannya. Jenis penelitian ini adalah kajian pustaka (library risearch), dengan cara melakukan telaah terhadap kitab-kitab maupun buku yang berkaitan dengan tema pembahasan. Kesimpulan dari penelitian ini; Pertama, hadits yang diriwayatkan Imam al-Turmuzi terkait persoalan yang dikaji pada dasarnya adalah dha’if, karena ditemukan ada dua orang periwayat yang statusnya dipertanyakan, namun karena adanyanya periwayat pendukung yang tsiqah dari jalur lain maka hadits ini terangkat kualitasnya dari dha’if menjadi hasan ligairihi, sedangkan matannya shahih. Kedua, kandungan hadits tersebut menjelaskan bahwa keadilan itu mesti disampaikan kepada pemimpin yang zalim, meskipun demikian perlu untuk dipertimbangkan resiko yang dialami orang yang melakukan jihad seperti ini. Oleh karena itu, menyampaikan kebenaran di depan penguasa seringkali bersifat dilematis apabila yang dihadapi adalah penguasa yang ditakuti.
Negotiating Hadith Understanding in the Digital Age: Social Media and Religious Interpretation among Generation Z Antoni; Muslim Djuned
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine hadith understanding among Generation Z and analyze the influence of social media on their access and interpretation patterns. As a digital-native generation, Generation Z tends to rely on social media as a primary source of religious information. This research employs a qualitative library research approach based on books and academic journal articles. Data collection is conducted through documentation, while analysis uses a descriptive-analytical method. The findings indicate that social media plays an important role in facilitating the dissemination of hadith and increasing youth engagement with Islamic studies. However, it also leads to oversimplification of meanings, lack of source verification, and potential misinterpretation that does not align with established hadith methodologies. Therefore, strengthening critical and contextual hadith literacy is essential to ensure valid and accountable understanding. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman hadis di kalangan Generasi Z serta menganalisis pengaruh media sosial terhadap pola akses dan interpretasinya. Generasi Z sebagai generasi digital cenderung menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam memperoleh informasi keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan yang bersumber dari buku dan artikel jurnal ilmiah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam mempermudah penyebaran hadis dan meningkatkan minat generasi muda terhadap kajian keislaman. Namun demikian, terdapat kecenderungan penyederhanaan makna, kurangnya verifikasi sumber, serta potensi kesalahan interpretasi yang tidak sesuai dengan kaidah keilmuan hadis. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi hadis yang kritis dan kontekstual agar pemahaman tetap valid dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Reconstructing Persian Civilization through Hadith: A Historical Analysis of the Sasanian Empire And Iran’s Transformation in Islamic History Zuherni Abubakar; Nurlaila; Zulihafnani
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/el-sunan.v4i1.10687

Abstract

The historical relationship between Islam and Iran represents one of the most consequential encounters between a prophetic religious tradition and an established imperial civilization in Late Antiquity. Although the Qur'an and Hadith do not provide a continuous history of Persia, several Prophetic traditions explicitly refer to the Persian people (Fāris), the Persian monarchy (Kisrā), the treasures of the Persian Empire, and the religious and intellectual contribution of Persians to the Muslim community. This article examines these traditions through a hadith-historical approach in order to investigate how Persia was represented in the Prophetic discourse and how these representations correspond to the subsequent transformation of Iranian civilization. The study employs qualitative library research, analysing  of hadith matn, contextual reading, and comparative historical analysis. Particular attention is given to the traditions concerning Salman al-Farisi, and the opening of the treasures of Kisra ibn Hurmuz. The findings demonstrate three principal dimensions. First, Prophetic references to Persia were not merely geographically, they anticipated the incorporation of Persian populations into the expanding Muslim community. Second, the traditions concerning Kisra and Persian treasures function historically as eschatological and political predictions whose fulfillment became associated by early Muslims with the collapse of Sasanian imperial power and the conquest of its territories. Third, the hadith corpus does not portray Persian identity as inherently opposed to Islam. On the contrary, the Salman tradition explicitly recognizes the capacity of Persians to become major bearers of faith and knowledge. Consequently, the historical trajectory from Sasanian Persia to Islamic Iran should not be interpreted simply as a transition from Persian civilization to Arab civilization, but as a complex process of political conquest, religious conversion, institutional adaptation, intellectual exchange, and the subsequent emergence of a Persian-Islamic civilization. The article argues that hadith provides an important theological memory of Persia, but its historical interpretation must remain integrated with classical Islamic historiography and modern Iranian historiography.   ABSTRAK Hubungan historis antara Islam dan Iran merupakan salah satu bentuk perjumpaan paling penting antara tradisi keagamaan profetik dan peradaban imperium yang telah mapan pada periode Late Antiquity. Meskipun Al-Qur’an dan hadith tidak menyajikan sejarah Persia secara berkesinambungan, sejumlah hadith Nabi secara eksplisit merujuk kepada bangsa Persia (Fāris), monarki Persia (Kisrā), kekayaan dan harta kekaisaran Persia, serta kontribusi keagamaan dan intelektual masyarakat Persia terhadap komunitas Muslim. Artikel ini mengkaji hadith-hadith tersebut melalui pendekatan historis-hadith (hadith-historical approach) untuk menganalisis bagaimana Persia direpresentasikan dalam wacana kenabian dan sejauh mana representasi tersebut memiliki keterkaitan dengan transformasi peradaban Iran pada periode-periode berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif dengan memadukan, analisis matn hadith, pembacaan kontekstual, dan analisis sejarah komparatif. Perhatian khusus diarahkan pada hadith-hadith yang berkaitan dengan Salmān al-Fārisī, prediksi mengenai berakhirnya tatanan kekuasaan Persia, serta pembukaan perbendaharaan Kisra ibn Hurmuz. Hasil penelitian menunjukkan tiga dimensi utama. Pertama, rujukan Nabi terhadap Persia tidak semata-mata bersifat geografis, tetapi juga mengisyaratkan masuk dan terintegrasinya masyarakat Persia ke dalam komunitas Muslim yang terus berkembang. Kedua, hadith-hadith mengenai Kisra dan perbendaharaan Persia secara historis dapat dipahami sebagai prediksi yang memiliki dimensi eskatologis dan politis, yang kemudian oleh generasi Muslim awal dikaitkan dengan runtuhnya kekuasaan imperium Sasania dan penaklukan wilayah-wilayah kekuasaannya. Ketiga, korpus hadith tidak merepresentasikan identitas Persia sebagai sesuatu yang secara inheren bertentangan dengan Islam. Sebaliknya, hadith tentang Salmān secara eksplisit mengakui kapasitas masyarakat Persia untuk menjadi salah satu kelompok penting dalam pembawa dan pengembangan iman serta pengetahuan. Dengan demikian, perjalanan historis dari Persia Sasania menuju Iran Islam tidak tepat dipahami semata-mata sebagai transisi dari peradaban Persia menuju peradaban Arab, melainkan sebagai proses kompleks yang melibatkan penaklukan politik, konversi keagamaan, adaptasi kelembagaan, pertukaran intelektual, dan pada akhirnya pembentukan peradaban Persia-Islam. Artikel ini menegaskan bahwa hadith menyediakan memori teologis yang penting mengenai Persia, tetapi interpretasi historis terhadapnya harus tetap ditempatkan dalam dialog yang integratif dengan historiografi Islam klasik dan historiografi Iran modern.
The Criteria For Zahir And Batin Dimensions in Al-Mahaimi’s Tafsir Ishari Syukran
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the principles governing the relationship between exoteric (ẓāhir) and esoteric (bāṭin) meanings in the Qur’anic interpretation of Alauddin Ali ibn Ahmad al-Maha’imi (d. 835 AH) through his exegetical work Tabsīr al-Raḥmān wa Taysīr al-Mannān bi Ba‘ḍ Mā Yushīr ilā I‘jāz al-Qur’ān. The research is motivated by the longstanding debate concerning the legitimacy of Ishārī (mystical) exegesis within the Islamic interpretive tradition, particularly regarding the interaction between the literal and spiritual dimensions of the Qur’an. This study employs a library research method using exegetical, Sufi, and historical approaches, supported by content analysis. Primary data are drawn from al-Maha’imi’s tafsīr, while secondary sources include works on Ishārī exegesis, Qur’anic studies, and relevant academic literature. The findings reveal that al-Maha’imi adopts an integrative interpretive model that harmonizes exoteric and esoteric meanings. He consistently treats the literal meaning as the foundation of interpretation before developing its spiritual implications. His Ishārī interpretations generally conform to the criteria established by Sunni scholars: they do not negate the apparent meaning of the text, do not contradict Islamic law, possess linguistic justification, maintain relevance to the context of the verse, and do not claim exclusive authority for the esoteric meaning. The distinctive features of al-Maha’imi’s tafsīr include a strong emphasis on thematic and contextual coherence (munāsabah), extensive use of tafsīr bi al-ma’thūr, and the integration of Sufi values within the framework of Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Therefore, al-Maha’imi’s work may be classified as a moderate form of Ishārī exegesis that successfully reconciles the outward and inward dimensions of Qur’anic interpretation   ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kaidah hubungan antara makna zahir dan batin dalam penafsiran Alauddin Ali bin Ahmad al-Maha’imi (w. 835 H) melalui karya tafsirnya Tabsīr al-Raḥmān wa Taysīr al-Mannān bi Ba‘ḍ Mā Yushīr ilā I‘jāz al-Qur’ān. Kajian ini dilatarbelakangi oleh perdebatan yang panjang mengenai legitimasi tafsir isyari dalam tradisi tafsir Islam, khususnya terkait hubungan antara makna literal dan makna spiritual Al-Qur’an. Artikel ini menggunakan metode Penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir, tasawuf, dan historis, serta didukung oleh analisis isi (content analysis). Sumber data primer berasal dari tafsir al-Maha’imi, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur tafsir isyari, ulum al-Qur’an, dan berbagai kajian akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Maha’imi menerapkan model penafsiran integratif yang memadukan makna zahir dan batin secara harmonis. Ia menjadikan makna zahir sebagai fondasi utama penafsiran sebelum mengembangkan dimensi spiritual yang terkandung dalam ayat. Penafsiran isyari yang dikemukakannya secara umum memenuhi kaidah yang diterima para ulama, yaitu tidak menafikan makna zahir, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, memiliki landasan kebahasaan yang kuat, relevan dengan konteks ayat, serta tidak mengklaim makna batin sebagai satu-satunya makna yang dimaksud oleh teks. Kekhasan tafsir al-Maha’imi terletak pada perhatiannya yang besar terhadap munasabah ayat, penggunaan tafsir bi al-ma’tsur, serta integrasi nilai-nilai tasawuf dalam kerangka Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Dengan demikian, tafsir al-Maha’imi dapat dikategorikan sebagai tafsir isyari moderat yang berhasil mengharmoniskan dimensi zahir dan batin dalam penafsiran Al-Qur’an. Kata kunci: al-Maha’imi, tafsir isyari, makna batin, tasawuf, penafsiran Al-Qur’an.
Naskh and Reconciliation between Postulates: Analysis of MuḤammad ʿAbduh's Interpretation in Tafsīr Al-Manār Muhammad Alfarabi; Furqan
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/el-sunan.v4i1.10717

Abstract

The concept of naskh (abrogation) has been one of the most debated issues in Qur’anic studies, particularly regarding its scope and legitimacy within the Qur’an. This study addresses the problem of divergent interpretations of naskh by examining how Muhammad ʿAbduh, a modern reformist exegete, redefines this concept in contrast to classical scholarship. The main research question investigates how ʿAbduh understands naskh and what implications this understanding has for Qur’anic interpretation. This research employs a qualitative library-based approach, using a descriptive-analytical method to examine primary and secondary sources related to ʿAbduh’s exegetical thought. The findings reveal that ʿAbduh offers a distinctive interpretation of Q. al-Baqarah (2):106, arguing that the term āyah refers not to Qur’anic verses but to āyāt kawniyyah (cosmic signs or prophetic miracles). Based on this interpretation, he rejects the notion of abrogated verses (āyāt mansūkhah) within the Qur’an. This study concludes that Abduh’s perspective emphasizes internal coherence, rational consistency, and non-contradiction in the Qur’an, thereby reshaping the classical discourse on naskh and offering an alternative framework for modern Qur’anic interpretation. ABSTRAK Konsep naskh (abrogasi) merupakan salah satu persoalan yang paling banyak diperdebatkan dalam studi Al-Qur’an, khususnya terkait ruang lingkup dan legitimasi penerapannya dalam Al-Qur’an. Penelitian ini mengkaji perbedaan interpretasi mengenai naskh dengan menelaah bagaimana Muhammad ʿAbduh, seorang mufasir reformis modern, mendefinisikan kembali konsep tersebut sebagai respons terhadap pandangan ulama klasik. Pertanyaan utama penelitian ini adalah bagaimana ʿAbduh memahami naskh dan apa implikasi pemahaman tersebut terhadap penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode deskriptif-analitis untuk mengkaji sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan pemikiran tafsir ʿAbduh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ʿAbduh memberikan interpretasi berbeda terhadap Q.S. al-Baqarah (2):106 dengan berpendapat bahwa istilah āyah tidak merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an, melainkan āyāt kawniyyah, yaitu tanda-tanda kosmis atau mukjizat kenabian. Berdasarkan interpretasi tersebut, ia menolak keberadaan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengalami abrogasi (āyāt mansūkhah). Penelitian ini menyimpulkan bahwa perspektif ʿAbduh menekankan koherensi internal, konsistensi rasional, dan ketiadaan kontradiksi dalam Al-Qur’an, sehingga menawarkan kerangka alternatif bagi penafsiran Al-Qur’an modern.
Prophetic Authority and Hadith Comprehension in The Post Prophetic Era Ikhsan Nur
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The transition from the personal presence of the Prophet Muhammad to a textual tradition in the form of Hadith triggered a fundamental epistemological dynamic and a significant legal paradigm shift during the era of the early Sahabah. Following the demise of the Prophet, the mechanism of legal derivation shifted from direct clarification by the Prophet to the comprehension of Hadith texts. In this process, the Sahabah did not merely transmit narrations; they were also required to evaluate their authenticity, comprehend their context, and exercise ijtihad (independent legal reasoning) to address novel issues that had not arisen during the Prophet’s lifetime. This study aims to comprehensively analyze the recontextualization of prophetic authority and the hermeneutical responses of the Sahabah in managing the transmission, verification, and interpretation of Hadith. Utilizing a critical historiographical approach along with an in-depth text-context analysis of primary sources in Usul al-Fiqh (Islamic jurisprudence) and early Islamic history, the findings indicate that the Sahabah were not passive recipients of the texts. Instead, they actively employed rigorous verification methods, restricted the narration of Hadith to safeguard authenticity, and adaptively distinguished between the Prophet’s tashri‘iyyah (legislative/juridical) and non-tashri‘iyyah actions. This gradual transition successfully transformed the dynamic living Sunnah into the foundational framework for the codification of Islamic law without compromising the core principles of Maqāṣid al-Sharīʿah (Objectives of Islamic Law). The critical interpretation practiced by the Sahabah demonstrates that the continuity of prophetic authority was robustly maintained through a flexible intellectual dialectic between sacred texts and social realities. Consequently, this study offers a highly relevant conceptual hermeneutical framework for the advancement of contemporary Hadith studies. Kata kunci: Prophetic Authority, Hadith Historiography, sahabah, Living Sunnah, Islamic Legal Hermeneutics   ABSTRAK Transisi dari kehadiran personal Nabi Muhammad SAW menjadi tradisi tekstual berupa hadis memicu dinamika epistemologis mendasar serta pergeseran paradigma hukum yang signifikan pada masa awal generasi sahabat. Pasca-wafatnya Rasulullah, pola penetapan hukum berubah dari klarifikasi langsung kepada Nabi menjadi pemahaman terhadap teks hadis. Dalam proses ini, para sahabat tidak hanya menyampaikan riwayat, tetapi juga perlu menguji keabsahan riwayat, memahami konteks hadis, serta berijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang belum pernah terjadi pada masa Nabi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif rekonseptualisasi otoritas kenabian dan respons hermeneutis para sahabat dalam mengelola proses transmisi, verifikasi, serta pemaknaan hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan historiografi kritis dan analisis teks-konteks secara mendalam terhadap pelbagai literatur serta sumber primer usul fikih dan sejarah Islam awal. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak bersikap pasif terhadap teks. Mereka secara aktif menerapkan metode verifikasi yang ketat, membatasi pemaparan riwayat guna menjaga otentisitas, serta membedakan secara adaptif-kontekstual antara tindakan Nabi yang bersifat tashri'iyyah dan non tashri'iyyah. Transisi bertahap ini berhasil mengubah living sunnah yang dinamis menjadi fondasi kodifikasi hukum Islam tanpa mengabaikan prinsip utama Maqāṣid al-Sharīʿah (objectives of islamic law). Pemaknaan kritis para sahabat membuktikan bahwa keberlanjutan otoritas kenabian dipelihara secara kokoh melalui dialektika intelektual yang fleksibel antara teks agama dan dinamika realitas sosial. Hal ini sekaligus menawarkan kerangka hermeneutika konseptual yang sangat relevan bagi pengembangan studi hadis pada era kontemporer. Keywords: Otoritas Kenabian, Hermeneutika Hadis, Generasi Sahabat, Historiografi Kritis, Living Sunnah
Philanthropy in the Perspective of the Qur'an Emi Suhemi Suhemi
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to re-examine the concept of philanthropy in the Quran to shift the paradigm from charity-based giving toward rights-based social welfare redistribution. This qualitative study employs a thematic exegesis (tafsīr maūḍū‘ī) approach integrated with semantic analysis. The dataset comprises 34 verses from 19 surahs systematically inventoried, with a hermeneutic focus on 8 primary verses representing both Makki and Madani contexts. The findings demonstrate that the Quran meticulously delineates the criteria for aid recipients: first, Al-Faqīr, depicting severe physical or material deprivation that impairs the ability to meet basic needs; second, Al-Miskīn, reflecting economic limitations where an individual earns an income that remains insufficient for a decent standard of living; and third, Al-Sā’il, referring to individuals soliciting assistance due to pressing needs. A synthesis of semantic analysis, context of revelation (asbāb al-nuzūl), classical and contemporary scholarly interpretations, and relevant Hadiths confirms that Quranic concern for marginalized groups is not merely a voluntary act, but a fundamental social structure and collective right. Exegeses of verses such as QS. At-Tawbah [9]: 60, QS. Adh-Dhariyat [51]: 19, and QS. Al-Ma'un [107]: 1–3 directly correlate ritual piety with social responsibility. This research concludes that Islamic philanthropic instruments position beneficiaries not as objects of charity, but as legal subjects entitled to welfare and the preservation of human dignity. Keywords: Keywords: Islamic Philanthropy, Thematic Exegesis (Tafsīr Maūḍū‘ī), Al-Faqīr, Al-Miskīn, Al-Sā’il   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang konsep filantropi dalam Al-Qur'an guna menggeser paradigma dari kedermawanan karitatif (charity-based) menuju redistribusi kesejahteraan berbasis hak sosial (rights-based philanthropy). Studi kualitatif ini menggunakan pendekatan tafsīr maūḍū‘ī (tematik) yang dipadukan dengan analisis semantik. Korpus data mencakup 34 ayat dari 19 surah yang diinventarisasi secara sistematis, dengan fokus analisis hermeneutik pada 8 ayat utama yang mewakili konteks Makkiyah dan Madaniyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an secara cermat membedakan kriteria penerima bantuan, pertama, Al-Faqīr yang Menggambarkan kondisi kekurangan fisik/materi yang berat hingga kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan pokok. Kedua, Al-Miskīn yang Menggambarkan keterbatasan ekonomi di mana seseorang memiliki penghasilan namun belum mencukupi kehidupan secara layak. Ketiga, Al-Sā’il yang Mengacu pada pihak yang meminta bantuan karena desakan kebutuhan tertentu. Sintesis atas analisis semantik, asbāb al-nuzūl, penafsiran mufasir (klasik hingga kontemporer), serta hadis-hadis terkait menegaskan bahwa perhatian Al-Qur'an terhadap kelompok marginal bukan sekadar aksi sukarela, melainkan fondasi struktur sosial dan hak kolektif. Penafsiran atas ayat-ayat seperti QS. At-Taubah [9]: 60, QS. Adz-Dzariyat [51]: 19, dan QS. Al-Ma'un [107]: 1–3 mengorelasikan kesalehan ritual secara langsung dengan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa instrumen filantropi Islam mendudukkan penerima manfaat bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan subjek hukum yang memiliki hak atas kesejahteraan dan penghormatan martabat kemanusiaan (human dignity). Kata kunci: Filantropi Islam, Tafsir Maudhu'i, Fakir, Miskin, Al-Sā'il
Digital Gossip in The Perspective of The Prophetic Hadith Zainuddin Zainuddin; M Ghulaman Syazwa Zainuddin
El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Social media has transformed patterns of communication and created new spaces for the practice of ghibah. This study examines the concept of ghibah in Prophetic hadith and its relevance to communication on social media. The study employs a qualitative method based on library research, using a thematic hadith approach (al-ḥadīth al-mawḍūʿī). Primary data consist of hadiths concerning ghibah, buhtān, and the protection of human dignity, which are analyzed textually and contextually. The findings indicate that ghibah is not limited to spoken words but also includes the disclosure of information about others that they would dislike, even when the information is true. In social media, the broad reach and rapid dissemination of information increase the potential harm to personal dignity and social relationships. Therefore, Prophetic hadith emphasizes the importance of considering the truth, purpose, necessity, and potential consequences before sharing information about others. Keywords: Ghibah; Prophetic Hadith; Social Media; Communication Ethics.   ABSTRAK Media sosial telah mengubah pola komunikasi dan menciptakan ruang baru bagi praktik gibah. Penelitian ini menguji konsep gibah dalam hadis Nabi serta relevansinya dengan komunikasi di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan hadis tematik (al-ḥadīth al-mawḍūʿī). Data primer terdiri dari hadis-hadis mengenai gibah, buhtan, dan perlindungan martabat manusia, yang dianalisis secara tekstual dan kontekstual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa gibah tidak terbatas pada kata-kata yang diucapkan, tetapi juga mencakup pengungkapan informasi tentang orang lain yang tidak mereka sukai, meskipun informasi tersebut benar. Di media sosial, jangkauan yang luas dan penyebaran informasi yang cepat meningkatkan potensi kerugian terhadap martabat pribadi dan hubungan sosial. Oleh karena itu, hadis Nabi menekankan pentingnya mempertimbangkan kebenaran, tujuan, kebutuhan, dan potensi dampak sebelum membagikan informasi mengenai orang lain Kata Kunci: Ghibah, Sosial Media, Hadis, Gosip, Etika Sosial Media