cover
Contact Name
Andra Dwitama Hidayat
Contact Email
andra.dwitama@iik.ac.id
Phone
+6885258067697
Journal Mail Official
jenggala@iik.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Jl. K.H. Wachid Hasyim 65 Kota Kediri
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
JENGGALA: Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 28307976     DOI : 10.56399
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah yang berfokus pada pengembangan kesehatan masyarakat berdasar pilar kesehatan masyarakat dan upaya manajerial unit penunjang difasilitas pelayanan kesehatan guna mencapai penyelenggaraan layanan kesehatan yang paripurna dan bermutu. Jurnal ini mempublikasikan hasil penelitian dibidang Kesehatan Masyarakat, Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, serta Administrasi Rumah Sakit yang didalamnya mencakup (scope): 1. Epidemiologi 2. Promosi Kesehatan dan Perilaku 3. Kesehatan Lingkungan 4. Gizi Masyarakat 5. Kesehatan dan Keselamatan Kerja 6. Kesehatan Reproduksi 7. Manajemen Data dan Statistik Kesehatan 8. Manajemen Penyelenggaraan dan Mutu Pelayanan Kesehatan 9. Manajemen Informasi Kesehatan 10. Manajemen Unit Pelayanan Kesehatan 11. Manajemen Sistem Informasi Kesehatan
Articles 84 Documents
Scoping Review Penelitian Stunting di Indonesia: Tren, Tantangan, dan Arah Penelitian Masa Depan: Scoping Review of Stunting Research in Indonesia: Trends, Challenges, and Future Research Directions Ardiansyah Pandayu; Siti Nurfadilah H; Nisa'i Daramita Supriyono
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 4 No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia, mengingat dampaknya terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian mengenai stunting di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam satu dekade terakhir, namun kajian yang memetakan tren, tantangan, dan arah penelitian masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan scoping review terhadap publikasi ilmiah tentang stunting di Indonesia, dengan menyoroti tema-tema penelitian yang dominan, kendala dalam implementasi intervensi, serta potensi arah penelitian di masa depan. Metode: Metode penelitian menggunakan pendekatan scoping review berdasarkan kerangka kerja PRISMA-ScR. Artikel yang relevan diidentifikasi melalui pencarian sistematis pada database nasional dan internasional dengan kriteria inklusi berupa penelitian empiris yang berfokus pada faktor determinan, intervensi gizi, serta peran sistem kesehatan dalam pencegahan stunting di Indonesia. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa tren penelitian stunting mengalami peningkatan signifikan, khususnya setelah tahun 2015, dengan fokus penelitian yang bervariasi. Faktor-faktor yang paling sering diteliti meliputi kondisi sosio-ekonomi keluarga, pola makan dan asupan gizi anak, sanitasi lingkungan, serta peran layanan kesehatan. Selain itu, intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi, serta program sensitif seperti perbaikan sanitasi dan pemberdayaan masyarakat terbukti memberikan kontribusi terhadap penurunan prevalensi stunting. Kesimpulan: Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa stunting di Indonesia merupakan masalah multidimensi yang memerlukan pendekatan interdisipliner dan kolaborasi lintas sektor. Arah penelitian ke depan sebaiknya menekankan pada evaluasi efektivitas intervensi berbasis komunitas, integrasi teknologi digital dalam pemantauan gizi, serta penguatan kebijakan kesehatan yang lebih kontekstual sesuai dengan keragaman sosial budaya masyarakat Indonesia.
Keterlibatan Kepuasan Kerja Pada Work Engagement Perawat Di Rumah Sakit ALITA DEWI PERCUNDA; Medica Selvia Maharani
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 4 No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Profesi perawat memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pelayanan rumah sakit, namun sering kali mengalami tekanan kerja tinggi yang berdampak pada keterikatan kerja. Keterikatan kerja yang rendah dapat menurunkan kinerja dan meningkatkan turnover perawat.Salah satu faktor yang dapat meningkatkan keterikatan kerja adalah kepuasan kerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepuasan kerja terhadap keterikatan kerja pada perawat di RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan analisis regresi linear sederhana. Hasil: Dari 143 responden yang didapatkan, sebagian besar berada pada rentang usia 26-35 tahun (59,4%), dengan jenis kelamin mayoritas perempuan (71%), serta memiliki pendidikan terakhir pada jenjang Sarjana (49%), sedangkan untuk status kepegawaian mayoritas perawat berstatus kontrak (52%), dengan lama kerja terbanyak pada rentang 6-10 tahun (38%). Analisis deskriptif indikator kepuasan kerja tertinggi adalah hubungan kerja (3,97%) sedangkan indikator keterikatan kerja tertinggi adalah vigor (3,95%). Uji statistik menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap keterikatan kerja (sig 0,000). Simpulan dan saran: Kepuasan kerja berpengaruh terhadap keterikatan kerja perawat. Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja guna memperkuat keterikatan kerja perawat. Kata Kunci: Perawat, Kepuasan Kerja, Keterikatan Kerja
Peran Faktor Ibu dalam Dinamika Kejadian Stunting: Sebuah Studi Kualitatif : The Role of Maternal Factors in the Dynamics of Stunting Incidence: A Qualitative Study Astri Yunita; Liya Ni'matul Maula
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 4 No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas di masa depan. Faktor ibu, seperti pengetahuan gizi, praktik pemberian makanan, serta kondisi sosial ekonomi, berperan penting dalam mencegah maupun memperburuk kejadian stunting. Namun, kajian kualitatif yang menggali secara mendalam pengalaman ibu dalam konteks ini masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan faktor ibu dengan kejadian stunting pada anak balita berdasarkan pengalaman dan persepsi ibu serta tenaga kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Informan terdiri dari lima ibu yang memiliki anak balita stunting dan dua tenaga kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik induktif. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan member checking kepada informan. Hasil: Diperoleh tiga tema utama: (1) keterbatasan pengetahuan ibu tentang gizi dan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK); (2) hambatan dalam praktik pemberian makanan dan pemantauan tumbuh kembang akibat beban kerja dan rendahnya dukungan keluarga; serta (3) pengaruh kondisi sosial ekonomi dan keterbatasan akses layanan kesehatan terhadap risiko stunting. Kesimpulan: Faktor ibu berperan besar terhadap kejadian stunting melalui interaksi antara pengetahuan, praktik pengasuhan, dan kondisi sosial ekonomi. Upaya pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan kapasitas ibu, dukungan keluarga, dan akses layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan ibu balita.
Studi Ergonomi Terhadap Tingkat Pencahayaan, Suhu, dan Kelembapan Lingkungan Kerja di PR. Alaina Ekawati Wasis Wijayati; Azalia Nurfitria
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 4 No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan kerja fisik, terutama di pabrik, memegang peran penting dalam menentukan tingkat kenyamanan, keselamatan, dan pada akhirnya, produktivitas pekerja. Salah satu aspek penting dalam ergonomi adalah menciptakan kondisi lingkungan fisik yang optimal. Pencahayaan ruang kerja tidak cukup memadai, dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi pekerja. Selain itu, suhu dan kelembapan terlalu tinggi dapat menyebabkan kualitas udara di dalam ruangan akan menurun. Meskipun terdapat standar dan regulasi terkait lingkungan kerja, namun implementasi dan evaluasi dari ketiga faktor lingkungan fisik meliputi pencahayaan, suhu, dan kelembapan secara berkala masih perlu dikaji lebih mendalam. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif, di mana peneliti melakukan pengamatan, pengukuran, dan pencatatan terhadap fenomena yang terjadi pada variabel yang diteliti. Data diperoleh dengan melakukan pengukuran terhadap intensitas pencahayaan setempat yang dilakukan pada meja kerja sebanyak 133 titik, sedangkan pengukuran suhu dan kelembapan dilakukan pada 6 titik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan di ruang pelintingan PR. Alaina tidak memenuhi standar karena intensitas pencahayaan hasil pengukuran berada dibawah standar dengan pencahayaan paling rendah sebesar 108 lux dan paling tinggi hanya sebesar 342 lux. Hasil pengukuran tersebut masih jauh dibawah standar SNI 03-6197-2000. Sedangkan hasil pengukuran suhu dan kelembapan ruang pelintingan PR. Alaina termasuk dalam kategori tinggi dan tidak sesuai standar karena melebihi nilai ambang batas (NAB) yang direkomendasikan yaitu 23 – 26 °C. Suhu terendah sebesar 27,1 °C dan suhu paling tinggi sebesar 30,0 °C. Sedangkan kelembapan di ruang pelintingan menunjukkan hasil melebihi NAB yang direkomendasikan yaitu sebesar 40 – 60 %. Hasil pengukuran kelembapan paling rendah 70,8% dan kelembapan paling tinggi 76,5%. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap pencahayaan, suhu dan kelembapan tersebut belum memenuhi kriteria ergonomis untuk aspek fisik lingkungan kerja.
PENGARUH RUTINITAS SPORT MASSAGE DAN HOT BATH TERHADAP PENURUNAN KELELAHAN PADA ATLET SEPAKBOLA SSB TADULAKO WARRIORS Gustaman Candra Pardini
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 4 No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

. Dalam olahraga sepakbola pemain sering mengalami kelelahan pada saat setelah latihan, Kelelahan merupakan menurunnya kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik, secara umum gejala kelelahan yang lebih dekat adalah pada pengertian kelelahan fisik atau physical fatigue dan kelelahan mental atau mental fatigue. Intervensi lain yang dapat diberikan untuk mengurangi kelelahan antara lain adalah dengan pemberian hot bath dan sport massage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sport massage dan hot bath terhadap kelelahan pada pemain sepakbola dan juga untuk mengetahui beda pengaruh antar kedua intervensi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis quasi eksperimen, dengan pendekatan pre and post test design. Sampel berjumlah 30 orang diambil melalui metode Purposive Sampling, pengukuran dalam penelitian menggunakan Visual Analogue Scale for Fatigue (VAS-F) untuk mengukur nilai derajat kelelahan. Dari hasil uji T Dependent pada kelompok sport massage mendapatkan hasil 50,93 (t hitung) > 2,145 (t tabel) yang berarti menunjukkan ada pengaruh pemberian sport massage terhadap kelelahan, pada kelompok hot bath mendapatkan hasil 59,56 (t hitung) > 2,145 (t tabel) yang berarti menunjukkan ada pengaruh pemberian hot bath terhadap kelelahan, Interpretasi hasil uji T Independent beda pengaruh pemberian sport massage dan hot bath terhadap kelelahan pada pemain sepakbola mendapatkan nilai 8,365 (t hitung) > 2,145 yang artinya ada beda pengaruh pemberian sport massage dan hot bath terhadap kelelahan pada pemain sepakbola.
Survei Cepat : Gambaran Umum Gejala dan Faktor Risiko Terduga Common Cold di Wilayah Kerja Puskesmas Pare Kediri: A RAPID SURVEY OF SYMPTOMS AND RISK FACTORS OF SUSPECTED COMMON COLD AT PARE PUBLIC HEALTH CENTER, KEDIRI Elvanda Helzalia Putri; Bintang Aisyah Putri; Nadi Fatullaili Qotrun Nanda; Cindy Prastika Saiful; Akhmadi Abbas; Krisnita Dwi Jayanti
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.296

Abstract

Common cold merupakan infeksi saluran napas atas yang sangat umum terjadi, ditandai oleh gejala ringan seperti batuk, pilek, bersin, dan nyeri tenggorokan. Penyakit ini bersifat self-limiting, namun tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum gejala dan faktor risiko terduga common cold di wilayah kerja Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri. Penelitian dilakukan melalui metode survei cepat dengan pendekatan cross-sectional pada 210 responden usia 15–64 tahun yang dipilih secara acak dari 30 klaster RW. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan (54,8%) dengan kelompok usia dominan 21–30 tahun (34,3%). Responden yang tergolong suspek common cold sebanyak 50 orang (23,8%), sedangkan yang non-suspek sebanyak 160 orang (76,2%). Tingkat pengetahuan responden didominasi kategori rendah sebanyak 107 orang (51%), sedangkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mayoritas berada pada kategori baik (45,7%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu meskipun perilaku PHBS tergolong baik, tingkat pengetahuan responden tentang common cold masih perlu ditingkatkan.
Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien BPJS di Wilayah Kerja Puskesmas Pare Kabupaten Kediri marshanda saqila; Akhmadi Abbas; Krisnita Dwi Jayanti; Rahma Nisa Intan Permata; Rizka Alifa Putri; Tania Aurelia Azzahra
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.299

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian khusus karena bersifat kronik,progresif, dan sering kali tanpa gejala. Salah satu faktor non-fisik yang berperan dalam kejadian hipertensiadalah stres, yang dapat memicu peningkatan tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatis danpelepasan hormon kortisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadianhipertensi pada pasien BPJS di wilayah kerja Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri. Desain penelitian yangdigunakan adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakatpengguna BPJS di Kelurahan Pare dan Desa Tulungrejo, dengan jumlah responden sebanyak 210 orang yangdipilih menggunakan teknik cluster sampling . Data primer dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner,sedangkan data sekunder diperoleh dari Puskesmas Pare. Hasil uji Koefisien Kontingensi menunjukkan terdapathubungan signifikan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi (p . value = 0,000). Responden denganstres sedang memiliki proporsi hipertensi tertinggi (75%), diikuti oleh stres ringan (35,4%), sedangkan yangtidak mengalami stres memiliki proporsi terendah (17,6%). Kesimpulannya, terdapat hubungan yang kuatantara tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada pasien BPJS di wilayah kerja Puskesmas Pare.Kata kunci: Stres, Hipertensi, BPJS, Epidemiologi, Layanan Kesehatan Primer
Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-laki di Wilayah Kerja Puskesmas Gurah: Relationship between Smoking Behavior and Hypertension Incidence in Men in the Gurah Health Center Work Area Ashyfa Ramadhani; Akhmadi Abbas; Krisnita Dwi Jayanti; Afiyah Fitriana Adianti Adianti; Ella Brisadona Permatasari; Liza Ruvania
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.300

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang berisiko tinggi dansering tidak terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius. Salah satu faktor risiko yang dapat diubah danmemiliki dampak besar terhadap hipertensi adalah kebiasaan merokok. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 15–75 tahundi Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Metode : Penelitian menggunakan desain crosssectional dengan total 210 responden laki-laki. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakanuji chi-square. Hasil : Hasil menunjukkan bahwa 73,8% responden mengalami hipertensi. Terdapat hubunganyang signifikan antara usia mulai merokok, jumlah rokok yang dikonsumsi, frekuensi merokok setiap hari,merokok di dalam rumah, dan ketergantungan terhadap rokok dengan kejadian hipertensi (p < 0,05).Kesimpulan : Temuan ini memperkuat bahwa merokok merupakan faktor risiko utama hipertensi, terutamabila dikaitkan dengan perilaku kecanduan dan rendahnya kesadaran kesehatan. Diperlukan upaya promotif danpreventif seperti edukasi, kampanye berhenti merokok, dan pemeriksaan tekanan darah rutin.
Analisis Faktor Penghambat Penerapan e-Puskesmas di Indonesia Literatur Review: Analysis of Barries to e-Puskesmas Implementation in Indonesia: Literature Review Suyaningrum Suyaningrum; Wahyu Wijaya Widiyanto
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.361

Abstract

Penerapan e-Puskesmas merupakan bagian dari transformasi digital layanan kesehatan dasar di Indonesia yang bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan, akurasi pencatatan, serta integrasi data kesehatan. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan berbagai hambatan yang menyebabkan sistem belum berjalan optimal di banyak Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengelompokkan faktor-faktor penghambat penerapan e-Puskesmas di Indonesia melalui metode literature review. Studi ini menggunakan data sekunder berupa artikel ilmiah yang dipublikasikan pada periode 2022–2025 dan diperoleh melalui pencarian Google Scholar dengan kata kunci terkait e-Puskesmas dan faktor penghambat. Proses seleksi dilakukan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi serta digambarkan melalui diagram PRISMA, sehingga diperoleh delapan artikel yang relevan untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa hambatan penerapan e-Puskesmas bersifat multidimensional dan relatif konsisten di berbagai wilayah. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya pelatihan dan literasi digital, keterbatasan sarana prasarana, kualitas jaringan internet yang rendah, keandalan aplikasi yang belum optimal, serta lemahnya dukungan organisasi dan kebijakan internal. Selain itu, permasalahan integrasi sistem, khususnya bridging dengan aplikasi lain seperti P-Care BPJS, turut memperburuk efektivitas implementasi. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan penerapan e-Puskesmas tidak hanya bergantung pada aspek teknologi, tetapi juga memerlukan kesiapan SDM, infrastruktur yang memadai, dukungan manajemen, serta integrasi sistem yang berkelanjutan.
Studi Literatur : Analisis Kepuasan pengguna terhadap Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Siti Solikah; Wahyu Wijaya Widiyanto
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.362

Abstract

Abstract. This literature study aims to analyze user satisfaction with Hospital Management Information Systems (HMIS/SIMRS) and Electronic Medical Records (EMR) using the End User Computing Satisfaction (EUCS) framework, which includes five dimensions: content, accuracy, format, ease of use, and timeliness. The review was conducted on ten selected journal articles that examined the implementation and user experiences of health information systems in healthcare facilities. The synthesis shows that user satisfaction generally ranges from good to very good, particularly in terms of information content, interface presentation, and timeliness. Nevertheless, several studies reported recurring challenges related to system usability and data accuracy, often associated with interface complexity, limited user familiarity, and technical constraints such as slow response time and system errors. These findings indicate that system quality and information quality remain key determinants of user satisfaction. Overall, SIMRS and EMR contribute positively to healthcare service delivery, although continuous improvement is necessary to enhance usability, responsiveness, and alignment with user needs. Keywords: User Satisfaction, SIMRS, EUCS Abstrak. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pengguna terhadap Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan Rekam Medis Elektronik (RME) dengan menggunakan kerangka End User Computing Satisfaction (EUCS) yang mencakup lima dimensi, yaitu content, accuracy, format, ease of use, dan timeliness. Kajian dilakukan terhadap sepuluh artikel jurnal yang membahas implementasi serta pengalaman pengguna dalam pemanfaatan sistem informasi kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengguna umumnya berada pada kategori baik hingga sangat baik, terutama pada aspek konten informasi, tampilan sistem, dan ketepatan waktu. Namun demikian, beberapa penelitian masih menemukan kendala pada kemudahan penggunaan dan akurasi data yang berkaitan dengan kompleksitas antarmuka, keterbatasan pemahaman pengguna, serta permasalahan teknis seperti lambatnya respon sistem dan error aplikasi. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi merupakan faktor utama yang memengaruhi kepuasan pengguna. Secara keseluruhan, SIMRS dan RME dinilai mampu mendukung pelayanan kesehatan, meskipun diperlukan upaya pengembangan berkelanjutan agar sistem semakin mudah digunakan, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kata kunci: Kepuasan Pengguna, SIMRS, EUCS