cover
Contact Name
Ichsan Setiawan
Contact Email
ichsansetiawan@usk.ac.id
Phone
+6285220189228
Journal Mail Official
depik@usk.ac.id
Editorial Address
Faculty of Marine and Fisheries Universitas Syiah Kuala Jalan Meureubo No. 1, Kopelma Darussalam Banda Aceh, 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan
ISSN : 20897790     EISSN : 25026194     DOI : 10.13170/depik
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography.
Articles 563 Documents
Pemodelan hidrodinamika arus pasang surut Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Asep Sandra Budiman; Alan F. Koropitan; I Wayan Nurjaya
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1536

Abstract

Abstract. Mayalibit Bay has an unique topography due to it has only one way long canal , narrow, and devious that connecting to open sea. Study on the water mass dynamics concerning to elevation and tidal current in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D numerical hydrodynamics model which was simulated for 30 days to describe the pattern of elevation and water current which was resulted from tidal processes. The 2D hydrodynamic equation was employed by finite difference methods. Validation result showed that the model has a good performance and it was relevance to in-situ measurement. The pattern of elevation and water current from many tide periods had been spatially analyzed. Generally, simulation showed that there was a significant difference between the elevation and water currents pattern inside and outside the bay during high and low tides.. Elevation and water current have higher value during highg tide (maximum 0.35 m and 0.2 m/s) than low tide period (maximum 0.14 m and 0.1 m/s ) with the velocity of water current was faster at ebb-tide or low tide. The water current in entry canal has higher value than in any part of the bay which themaximum velocity was varied from 1.6 m/s (flood-tide) to 3.7 m/s (ebb-tide). The direction of current during high tide flows was dominantly to the West-Northwest or enters the bay by following its geometric and to the East-Southeast or exits from the bay during the ebb-tidesKeywords :  Tidal; quasi-enclosed waters; numerical models; finite difference  Abstrak. Teluk memiliki topografi yang unik karena hanya memiliki satu celah atau jalur panjang, sempit, dan berkelok yang menghubungkannya dengan laut terbuka. Kajian dinamika massa air terkait elevasi dan arus pasang surut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan membangun sebuah model numerik hidrodinamika 2D yang disimulasi selama 30 hari untuk menggambarkan pola elevasi dan arus akibat pasang surut. Persamaan hidrodinamika 2D diselesaikan dengan metode beda hingga. Hasil validasi menunjukkan bahwa model telah memiliki performa yang cukup baik dan relevan bila diverifikasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Pola elevasi dan arus dalam beberapa periode pasang surut dianalisis secara spasial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara elevasi dan pola arus di dalam dan di luar teluk selama periode pasang purnama dan pasang perbani. Elevasi dan arus memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat pasang purnama (maksimum 0,35 m dan 0,2 m/detik) dibandingkan dengan pada saat pasang perbani (maksimum 0,14 m dan 0,1 m/detik) dengan kecepatan arus yang lebih tinggi pada saat surut. Arus di jalur masuk teluk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan bagian manapun di dalam teluk, dimana kecepatan maksimumnya bisa mencapai 1,6 m/detik (pasang) sampai 3,7 m/detik (surut). Arah arus dominan di dalam teluk pada saat pasang adalah Barat - Barat Daya atau masuk ke dalam teluk mengikuti geometrinya dan ke Timur-Tenggara atau ke luar teluk pada saat surut.
Efektifitas Nannochloropsis sp. terhadap sistem imun non-spesifik ikan mas Cyprinus carpio yang diinfeksi Virus Herpes Arafik Lamadi
Depik Vol 6, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.3.8420

Abstract

The aim of this research was to determine the effect of Nannochlorpsisis sp. against the common carp (Cyprinus carpio) leukocyte profile, infected with Koi Hepesvirus (KHV). The  descriptive observational method wa used in this study. This research was conducted for 4 weeks, using common carp length 12±0,3 cm as many as 7 fish. The tested experiment was P1: without infested by Nannochlorpsisis sp. and KH; P2: Infested by  Nannochlorpsisis sp. and without KHV infected; P3: Infected by Nannochloropsis sp. and KHV; P4;  Not infected by Nannochlorpsisis sp. and  infected by KHV. Evey tratment in three replications. The results showed that the highest total leukocyte was obtained in P3 (37.600 cells/ml), followed by  P4 (29.650 cells / ml), P2 (28,500 cells / ml) and P1 (21,150 cells / ml). Leukocyte differentiation test on P1 (neutrophil 6.2%, lymphocyte 68.0%, monocyte 17.0%), P2 (neutrophil 6.6%, lymphocyte 72.3%, monocyte 18.3%), P3 (neutrophil 7.9%, lymphocyte 66.1%, monocytes 24.3%), P4 (neutrophils 11.2%, lymphocytes 57.6%, monocytes 37.6%). The higher survivla rate was recorded in P2 (100%). It is concluded that  Nannochloropsis sp. can enhance the common carp immune sytem.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Nannochlorpsis sp. terhadap profil leukosit ikan mas (Cyprinus carpio) yang terinfeksi Koi Herves Virus (KHV). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan membandingkan hasil pada perlakuan 1) P1: (tanpa pemberian Nannochlorpsis sp. dan tidak diinfeksi KHV), 2) P2 (diberikan Nannochlorpsis sp dan tanpa diinfeksi KHV), 3) P3 (diberikan Nannochlorpsisis sp dan diinfeksi KHV), 4) P4 (tanpa pemberian Nannochlorpsis sp. dan diinfeksi KHV), masing-masing perlakukan 3 kali ulangan. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu dengan menggunakan Ikan mas berukuran 12±0,3  cm sebanyak 120 ekor. Hasil perhitungan total leukosit tertinggi diperoleh pada P3 (37.600 sel/ml), selanjutnya berturut-turut  P4 (29.650  sel/ml), P2 (28.500 sel/ml) dan P1 (21.150 sel/ml). Hasil uji diferesnsiasi leukosit pada P1 (neutrofil 6.2%, limfosit 68.0%, monosit 17.0%), P2 (neutrofil 6.6%, limfosit 72.3%, monosit 18.3%), P3 (neutrofil 7.9%, limfosit 66.1%, monosit 24.3%), P4 (neutrofil 11.2%, limfosit 57.6%, monosit 37.6%). Kelangsungan hiudp tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (100%). Dapat disimpulkan bahwa Nannochloropsis sp. dapat digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh ikan mas.
Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) pada konsentrasi tepung daun jaloh (Salix tetrasperma Roxb) yang berbeda dalam pakan Cut Dara Dewi; Zainal A. Muchlisin; Sugito .
Depik Vol 2, No 2 (2013): August 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.2.2.725

Abstract

Abstract. The objective of the present study was to evaluate the possibility of jaloh leaf powders as alternative raw material for the formulated diet ofAfrican catfish (Clarias gariepinus). Four concentrations of jaloh leaf powders (0%, 5%, 10% and 15%) were examined in this study. The experimental fish were fed three times a day (on 08.00 am, 12.00 am and 17.00 pm) with feeding ration of 5% of body weight and the fish was reared for 35 days. The ANOVA test showed that the different concentration of jaloh leaf powders gave a significantly effect on growth performance of African catfish larvae (P0,05) but did not give significantly effect on the survival rate (P0,05). The Duncans test showed that the higher survival rate and growth performance were found in the control (without jaloh leaf powders). Therefore it is concluded that the jaloh leaf powders is not suitable as alternativerows material for African catfish diet.Key words: Protein; Carbohydrate; Catfish; Alternative feed Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemungkinan pemanfaatan  tepung daun jaloh (S. tetrasperma) sebagai bahan baku alternatif untuk pakan ikan lele(C. gariepinus). Dalam penelitian ini telah diuji beberapa tingkat proporsi tepung daun jaloh yaitu (0%, 5%, 10%, dan 15%) .Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pukul 08.00, 12.00 dan 17.00 WIB,sebanyak5%dari berat bobot tubuhnyaselama 35 hari. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa pemberian tepung daun jaloh memberikan pengaruh nyata (P0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan pertumbuhan harian benih ikan lele dumbo (P0,05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (P0,05). Uji lanjut Duncan’s  menunjukkan bahwa perlakuan kontrol (tanpa daun jaloh) dalam pakan memberikan hasil terbaik dari segi pertumbuhan mutlak, pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup. Oleh karena itu dapat disimpulkan tepung daun jaloh kurang sesuai sebagai bahan baku alternatif dalam pakan ikan lele dumbo.Kata kunci: Protein; Karbohidrat; Ikan lele; Pakan alternatif
Struktur komunitas mangrove dan strategi pengelolaannya di Kabupaten Pidie, Province Aceh (Community structure of mangrove and its management strategy in Pidie District, Aceh Province) Mirza Karnanda; Zainal A. Muchlisin; Muhammad A. Sarong
Depik Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.5.3.5577

Abstract

The objective of the present study was to analyze the community structure of mangrove vegetation in Pidie District, Aceh Province and to plan its management strategies. The study was conducted from August to November 2014 in three subdistricts namely Batee, Kota Sigli, and Simpang Tiga. A total of three sampling stations were determined purposively at every subdistrict where every station has two substations and every substation has three sampling plots of 10 m x 10 m. In addition, a total of 297 respondents as representative of the fish farmer, fishermen, and other stakeholders were interviewed to collect data to plan the management strategies using the SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis. The results showed that there were six species of mangrove found in Pidie District namely Avicennia alba, A. officinalis, A. marina, Rhizophora mucronata, R. apiculata and Sonneratia alba. For seedlings and saplings categories can be classified into very good condition, except in Kecamatan Batee  where S. alba for seedlings was classified into moderate damage and the saplings was in highly damaged condition. The mangrove of trees category was classified into heavily damaged condition. The management strategies of mangrove ecosystem in Kabupaten Pidie can be done by maximizing the function of mangrove ecosystems by replanting the species of mangrove that match with the habitat for their life so that can produce the specific functions; improve the role of government and society in controlling and monitoring the mangrove ecosystems; and establish the local regulations about the management of mangrove ecosystems in Kabupaten Pidie.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas vegetasi mangrove dan menetapkan strategi pengelolaannya di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh. Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus sampai November 2014 pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Batee, Kota Sigli, dan Kecamatan Simpang Tiga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pada setiap lokasi ditetapkan dua sub statiun pengamatan dan setiap pengamatan dengan tiga titik transek dimana transek berupa kuadrat berukuran 10 m x 10 m. Pengambilan data mangrove dilakukan dengan transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m untuk kategori pohon plot 5 m x 5 m unuk kategori pancang dan 2 m x 2 m untuk kategori semai. Sedangkan untuk data strategi pengelolaan mangrove dengan mewawancarai 297 responden yang merupakan perwakilan beberapa petani tambak dan nelayan di Kecamatan Batee, Kota Sigli, Kecamatan Simpang Tiga dan perwakilan stakeholder terkait. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pidie dianalisis menggunakan formula SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 6 spesies mangrove di Kabupaten Pidie, yaitu Avicennia alba, A. officinalis, A. marina, Rhizopora mucronata, R. apiculata dan Sonneratia alba. Mangrove di lokasi penelitian untuk tingkat semai dan pancang dapat dikategorikan dalam kondisi sangat baik, kecuali di Kecamatan Batee S. alba pada tingkat semai dikategorikan rusak ringan dan pada tingkat pancang dalam kondisi rusak berat. Mangrove tingkat pohon pada lokasi penelitian dikategorikan rusak berat. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pidie dapat dilakukan dengan memaksimalkan fungsi ekosistem mangrove berupa penanaman kembali jenis-jenis mangrove tertentu yang sesuai dengan habitat hidupnya sehingga menghasilkan fungsi tertentu; meningkatkan peran pemerintah dan masyarakat; melakukan pengawasan dan monitoring secara berkala di ekosistem mangrove; serta merumuskan peraturan daerah tentang pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pidie.
Identifikasi lokasi untuk pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA) berdasarkan faktor lingkungan dan kualitas air di perairan pantai timur Bangka Tengah Junaidi M. Affan
Depik Vol 1, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.1.1.30

Abstract

Abstract. Waters of the east coast of Bangka Regency has higher potency for development of mariculture livelihood. The Geographic Information Systems (GIS) can be used to determine the suitable location for these activities. Spatial analysis on every measured parameters were conducted and then its overlay to determine the feasibility of locations. The suitability location was categorized into four levels i.e very suitable, moderately suitable, suitable with conditions, and not suitable. The results showed that there are at least 127,746 ha of areas have potency for mariculture location, of these 122,950 ha (96.25%) are very suitable and suitable, while 4796 ha (3.75%) are moderately suitable for fish farming. However, based on field verification, about 8.627 ha of areas are recommended for fish mariculture developement, this is situated at Pulau Ketawai Island, Pulau Panjang dan Pulau Bujur.Key Words : Geographic Information Systems, overlay, fish, mariculture, and cage
Identifikasi komponen harmonik di Selat Lombok berdasarkan data arus time series Rizal Fadlan Abida; Widodo Setiyo Pranowo; Yogo Pratomo; Engki Andri Kisnarti
Depik Vol 4, No 1 (2015): APRIL 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.1.1.2361

Abstract

Abstract. Lombok Strait is one part of Indonesia Through Flow (ITF), important for national and international maritime economic. The strait is passed by ITF, i.e., a displacement water from the Pacific Ocean into the Indian Ocean caused by a difference in the sea water level. ITF flows across the Makassar Strait to south direction and passes through the smaller straits along Bali to Flores. ITF pattern is influenced by its local area condition which creates unique characteristics in each place. ITF passes through the Lombok Strait in part directly related to the Indian Ocean, as well as a very diverse state bathymetry of shallow ocean to ocean trenches. Various oceanographic phenomena affect ITF in the Lombok Strait: tides and waves are formed due to the interaction between the ocean currents from the Indian Ocean to the Lombok Strait, met with ITF flowing from the Lombok Strait into the Indian Ocean. As tides, currents are influenced by the tides that have harmonic components, but there are differences in the frequency and phase are formed. Harmonic component is one of indicators in determining the characteristics of a body of water. The purpose of this study is to obtain the derived harmonic components by analysing currents data in the Lombok Strait acquired from The International Nusantara Stratification and Transport (INSTANT) Expedition Mooring Deployment 1 conducted in 2004 to 2005. Based on the analysis it is known that the characteristic harmonic currents in the Lombok Strait is influenced by significant harmonic components such as Solar Semi Annual (SSA) and Solar Annual (SA)constituents be used, as the result of harmonic analyses of tidal data at ports all over the world reveal that they are dominated by the seasonal variations of sun.Keywords : ITF; Sea Current; Harmonic Component; INSTANT ExpeditionAbstrak. Selat Lombok merupakan salah satu alur lintas kepulauan Indonesia (ALKI) yang penting bagi perekonomian maritim nasional dan internasional, sekaligus sebagai alur dari arus lintas Indonesia (Arlindo). Arlindo merupakan peristiwa perpindahan masa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia, yang disebabkan oleh perbedaan ketinggian air laut. Jalur Arlindo melintasi Selat Makasar menuju selatan, kemudian terbagi melewati selat-selat yang lebih kecil diperairan Bali hingga Nusa Tenggara Timur. Pola Arlindo dipengaruhi keadaan perairan setempat yang dilewatinya, sehingga Arlindo memiliki karakteristik yang unik pada masing-masing tempat. Pada Selat Lombok yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia,  fenomena oseanografi mempengaruhi ARLINDO di Selat Lombok diantaranya adalah pasang surut dan internal wave yang terbentuk karena interaksi antara arus laut dalam yang berasal dari Samudera Hindia menuju Selat Lombok. Arus pasut memiliki komponen harmonik seperti gaya pembangkitnya, namun terdapat perbedaan pada frekuensi dan fasa yang terbentuk. Komponen harmonik pasut dan arus pasut merupakan salah satu indikator dalam penentuan karakteristik suatu perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh besaran komponen harmonik yang diturunkan dari arus di Selat Lombok dari Ekspedisi INSTANT Mooring Deployment 1 yang dilaksanakan pada tahun 2004 hingga 2005. Berdasarkan analisis harmonik diketahui bahwa karakteristik arus di Selat Lombok dipengaruhi oleh komponen harmonik signifikan seperti Solar Semi Annual dan Solar Annual yang merupakan komponen yang dipengaruhi oleh pergerakan matahari secara paruh tahun maupun tahunan.Kata kunci : Arlindo; Arus Laut; Komponen Harmonik; Ekspedisi INSTANT
Keragaman genetik ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) dari dua populasi di Laut Maluku, Indonesia Nebuchadnezzar Akbar; Neviaty P Zamani; Hawis H Madduppa
Depik Vol 3, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.1.1304

Abstract

Abstract. Yellowfin tuna (Thunnus albacores) is a large, pelagic, and migratory species of tuna that inhabits Moluccas Sea in Indonesia, and most sea environment worldwide. However, high fishing activities tend to happen in the Indonesia region and catch product appear to be decreasing. A better understanding of yellowfin tuna genetic diversity is required to plan better conservation strategy of tuna. The study was conducted to infer the genetic diversity of yellowfin tuna (T. albacores) in the Moluccas Sea. A total of 41 tissue samples of yellowfin tuna were collected from two regions in the Moluccas Sea (North Moluccas and Ambon) during an expedition in February 2013. The results showed that genetic diversity and nucleotide diversity of yellowfin tuna from North Moluccas population was 0.984 and 0.021, respectively; while in Ambon population, the genetic and nucleotide diversities were 1.00 and 0.018, respectively. The high genetic diversity (0.990) and nucleotide diversity (0.020) between two populations were observed. Based on phylogenetic analysis, no genetic differentiation between the two populations in Moluccas Sea was revealed .Keywords :  Population genetics; Haplotype diversity; Coral Triangle; Phylogenetics; Polymerase Chain Reactions (PCRs) Abstrak. Tuna sirip kuning (Thunnus albacores) adalah ikan komersial penting dan ditemukan di Laut Maluku, Indonesia. Tetapi, aktivitas penangkapan ikan tuna sirip kuning dapat menurunkan kualitas dan kuantitas stok ikan, sehingga perlu adanya pengkajian keragaman genetik ikan tuna sirip kuning. Pemahaman yang baik tentang keragaman genetika dibutuhkan untuk merencanakan strategi konservasi tuna yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik  ikan tuna sirip kuning dari dua populasi di Laut Maluku. Sebanyak 41 sampel jaringan dari tuna sirip kuning dikumpulkan dari dua populasi di Laut Maluku (Maluku Utara dan Ambon) selama ekspedisi pada bulan Februari 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik populasi tuna sirip kuning pada perairan Maluku Utara dan Ambon masing-masing sebesar 0,984 dan 1,00 sedangkan nilai keragaman nukleotida masing-masing bernilai 0,021 dan 0,018. Nilai keragaman genetik dan keragaman nukloetida yang tinggi didaptkan antar kedua populasi masing-masing sebesar 0,990 dan 0,020. Berdasarkan analisis filogenetik, dua populasi di Laut Maluku ini memiliki kedekatan secara genetik.Kata kunci : Genetika populasi; Keragaman haplotipe; Segitiga Terumbu Karang; Filogenetika; Polymerase Chain Reaction (PCR)
Hubungan antara kelimpahan plankton dengan hasil tangkapan ikan tuna madidihang (Thunnus albacares) di Perairan Kepulauan Banda, Ambon Umi Chodriyah; Bram Setyadji
Depik Vol 6, No 2 (2017): August 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.2.7619

Abstract

Study related to plankton community in the Banda Sea and its adjacent sea has been conducted by several authors; However, t information on the relationships between of plankton abundance and catches volume of yellowfin tuna Thunnus albacares has been never been examined. Therefore, the objective of this study was to analyze the relationships between plankton abundance and catch volume of yellowfin tuna in Banda Sea Waters, Ambon. The result showed that the highest abundance of phytoplankton (59.259 cell/m3) was found at station 10, around Ambon, Seram and Haruku Island which located in the waters between many river runoffs. While, the highest abundance of zooplankton was 5,483 ind/m3, located around Ambelau Island. Both diversity (H') and evenness (E) index of phytoplankton were at the medium level, and there were no dominant species in this observation. Based on visual observation of remote sensing data, there was an indication of a relationship between the area with high concentration of chlorophyll-a (high phytoplankton biomass) with CPUE value of yellowfin tuna.Studi mengenai komunitas plankton di Laut Banda dan sekitarnya telah banyak dilakukan, akan tetapi telaah hubungan antara kelimpahan dan distribusi plankton dengan aspek perikanan belum banyak dibahas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan dan distribusi dari komunitas plankton dengan perikanan tuna di Perairan Kepulauan Banda. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun 10 yang terletak di daerah antara pulau Ambon, Seram dan Haruku (59.259 sel/m3) yang mempunyai akses ke muara-muara sungai di sekitarnya. Sedangkan kelimpahan zooplankton tertinggi terletak di sekitar Pulau Ambelau (stasiun 3), yakni 5.483 ind/m3. Tingkat indeks keanekaragaman (H’) fitoplankton sedang, indek keseragaman (E) rendah hingga sedang, dan tidak ditemukan jenis tertentu yang dominan. Berdasarkan pengamatan visual data penginderaan jauh memberikan indikasi adanya keterkaitan antara daerah dengan konsentrasi klorofil-a yang tinggi (biomassa fitoplankton tinggi) dengan hasil tangkapan per unit upaya penangkapan tuna madidihang.
Uji kadar formalin, kadar garam dan total bakteri ikan asin tenggiri asal Kabupaten Sarmi Provinsi Papua Yenni Y. Salosa
Depik Vol 2, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.2.1.543

Abstract

Abstract.  Food safety is depending on the accurence of a dangerous fisical, chemical and microbiology components. Quality of food with healty and a complete safe nutrient is the most important things in the food material. Because of food that consume influencing people brain and health. The aim of this research was  to determine the content of formaldehyde, salt and Total Plate Count of bacteria in the  tenggiri salty fish from Sarmi Papua. Formsaldehyde was indentificated by using cromatofat acid method as qualitative and spectrophotometer as quantitative method. Choman method was used to analize salt content. Total Plate Count (TPC) was used for bacterial content analysis. The result showed that Tenggiri salty fish from Sarmi is not contain formaldehyde. About 9.76 % to 16.31 % of salt contant and approximately 24.5 x 10- 5- 49.5 x 10 5 colony/gram of bacterial in total.  This conclude that Tenggiri salty fish have already contaminated by bacterial because it’s higher than Standard National Indonesia obligation for fisheries product about 1 x 105 colony/gram. Keywords: Food safety, chemical and microbiology    Abstrak. Keamanan pangan ditentukan oleh ada tidaknya komponen yang berbahaya secara fisik, kimia maupun mikrobiologi. Makanan yang sehat dengan kandungan gizi yang lengkap dan aman merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh bahan pangan karena pembangunan manusia yang sehat dan cerdas tidak terlepas dari bahan makanan yang dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar formalin, garam serta total bakteri yang terdapat pada produk ikan asin Tenggiri asal Kabupaten Sarmi Provinsi Papua. Identifikasi keberadaan formalin pada ikan asin dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Pengujian secara kuantitatif memakai spektrofotometer sedangkan uji kualitatif menggunakan metode Asam Kromatofat. Analisis kadar garam ini menggunakan metode Khoman. Sedangkan pada penentuan keberadaan bakteri dilakukan dengan metode Total Plate Count. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sampel ikan Tengiri asal Kabupaten Sarmi bebas formalin. Kadar garam dihasilkan  rendah berkisar antara 9,76 % - 16,31 % dan Total bakteri yang dihasilkan pada pengenceran 10-5 total bakteri yang ditemukan berkisar antara 24,5 x 10-5- 49,5 x 105 koloni/gram.  Hal ini menunjukan bahwa ikan asin tenggiri asal Kabupaten Sarmi telah terkontaminasi bakteri dalam kadar Standart Nasional Indonesia untuk produk perikanan dengan garam yang mensyaratkan Total Plate Count 1 x 105 koloni/gram.Kata kunci: Keamanan pangan,  kimia dan mikrobiologi
Analisis kesesuaian dan daya dukung ekowisata bahari Pulau Sebesi, Provinsi Lampung Yar Johan
Depik Vol 5, No 2 (2016): August 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.5.2.4165

Abstract

Abstract. The Sebesi Island has coral reefs, mangrove and seagrass ecosystems, and therefore this island has the potenticy to be developed as a tourism destination object. The objectives of the present study were to analysis the suitability and carrying of Sebesi Island for for marine ecotourism activities of diving and snorkeling. The primary data were collected through field sampling, direct observation of field conditions, questionnaires and interviews. The secondary data were collected from previous studies, journals, technical reports and related agencies. The results showed that the Sebesi Island was suitable for diving and snorkeling activities  (S2 category) with the carrying capacity for diving and snorkeling activities were 2,394 person/day and 2,489 person/day, respectively.Keywords: coral reef, marine ecotourism, suitability, carrying capacity, Sebesi Island Abstrak. Pulau Sebesi berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW). Ekosistem Pulau Sebesi sebagian besar merupakan ekosistem terumbu karang, mangrove dan lamun. Penelitian tentang analisis kesesuaian dan daya dukung ekowisata bahari Pulau Sebesi Provinsi Lampung bertujuan mengkaji kesesuaian kawasan Pulau Sebesi untuk kegiatan ekowisata bahari yaitu diving dan snorkeling dan menganalisis daya dukung (carryng capacity) kawasan Pulau Sebesi. Pengumpulan data primer dilakukan melalui sampling, observasi langsung di lapangan, kuisioner, wawancara terbuka/langsung dan wawancara mendalam  di lokasi penelitian. Data sekunder dikumpulkan dengan penelusuran berbagai pustaka, dan instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kegiatan ekowisata bahari diving dan snorkling termasuk dalam kategori sesuai (S2), dengan daya dukung kawasan 2.394/hari orang untuk diving dan 2.489 orang/hari untuk snorkling.Kata kunci: terumbu karang, ekowisata bahari, kesesuaian, daya dukung, Pulau Sebesi

Filter by Year

2012 2025