cover
Contact Name
Dominikus Sukristiono
Contact Email
seminarfilsafat.teo@usd.ac.id
Phone
+62274-880957
Journal Mail Official
seminarfilsafat.teo@usd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma Jl. Kaliurang Km. 7, Yogyakarta, Indonesia Kotak Pos : 1194, Yogyakarta 55011 Telp : 0274-880957
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
ISSN : 30471451     EISSN : 30470714     DOI : https://doi.org/10.24071/snf
Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is an academic journal organized and operated by Faculty of Theology, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. The Theological Faculty has been acknowledged as the Pontifical Faculty of Theology “Wedhabakti” by the Holy See. These proceedings aim to disseminate reflections on Philosophy and Theology, especially those conducted in or related to the Indonesian context. The proceedings conduct interdisciplinary and monodisciplinary reflections and are scientific publications with a peer review process. The themes in these proceedings include (but are not limited to): Methods of Philosophy and Theology, Philosophy of Religion, Metaphysics, Epistemology, Philosophy of Education, Empirical Research in Philosophy and Theology, Public Philosophy and Theology, Eastern Thought, Socio-Political Philosophy, Interreligious Dialogue, Ecological Theology, Ethno-religiosity, and Socio-Biblical Studies. The Proceedings conduct a rigorous process of paper submission. We welcome only selected (and invited) papers, both in Bahasa Indonesia and in English, that has been accepted and presented at the Annual Seminar on Indonesian Philosophy and Theology (Seminar Nasional Filsafat dan Teologi Indonesia), and those that are suggested by the Chief Editor of the Annual Seminar. The suggested papers will be peer reviewed by our editors and independent reviewers.
Articles 78 Documents
Antara Iman dan Budaya: Perjumpaan dengan Yang Transenden Lewat Ritual Keti Dara Ta’a, dalam Terang Konsep Hierophani Mircea Eliade Eldi, Sebastianus Rikardo; Prakosa, JB Heru
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 1 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i1.10230

Abstract

Every culture has many ceremonies in the form of rituals that are shown to a transcendent person. One example occurs in the Keti Dara Ta'a ritual in Manggarai culture. The Keti Dara Ta'a ritual is a tradition performed when a family member dies unnaturally, such as accidents, suicide, death due to natural disasters, and murder victims. In this study, researchers looked at the Keti Dara Ta'a ritual through Mircea Eliade's concept of Hierophany. There are two objectives of this study, firstly, to look at the transcendental subject in the Keti Dara Ta'a ritual in relation to the Christian faith. Secondly, to contextualize Mircea Eliade's hierophany paradigm. The method used is a literature study with books as the main source and several related articles. It can be concluded that the Keti Dara Ta'a ritual refers to a sacred phenomenon that is preserved in the frame of Manggarai culture. The sacredness patterned in the Keti Dara Ta'a ritual, no matter how complicated, still has relevance to the transcendence of Christian faith.AbstrakSetiap budaya memiliki banyak perayaan berupa ritual yang ditujukan kepada pribadi yang transenden. Salah satu contoh terjadi dalam ritual keti dara ta’a yang dipraktekan oleh masyarakat Manggarai. Ritual keti dara ta’a merupakan sebuah tradisi yang dilakukan ketika memiliki anggota keluarga yang meninggal secara tidak wajar, seperti kecelakaan, bunuh diri, meninggal karena bencana alam, dan korban pembunuhan. Dalam kajian ini, peneliti melihat ritual keti dara ta’a melalui konsep hierophani Mircea Eliade. Terdapat dua tujuan penelitian ini, pertama, untuk mengenal sosok transenden dalam ritual keti dara ta’a dalam relasinya dengan Allah dalam pemahaman iman Kristiani. Kedua, untuk mengkontekstualisasikan konsep hierophani yang pernah digagas Mircea Eliade dengan fenomena budaya di Manggarai. Adapun metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan buku sebagai sumber utama serta beberapa artikel terkait. Dapat disimpulkan bahwa ritual Keti Dara Ta’a merujuk pada fenomena sakral yang terpelihara dalam bingkai kebudayaan Manggarai. Sakralitas yang terpola dalam ritual keti dara ta’a sebagaimana pun peliknya, tetap memiliki relevansi dengan transendensi iman Kristiani.
Keluarga Sebagai Rumah Pendidikan Cinta Kasih Menurut Paus Fransiskus dalam Dokumen Amoris Laetitia Kurniawan, Alexander Roy
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10248

Abstract

This article presents love as having fundamental significance in the holistic formation of individual character, encompassing cognitive, affective and behavioral dimensions. Love facilitates the development of essential socio-emotional competencies, such as emotion regulation, empathy, and interpersonal skills. According to the apostolic call Amoris Laetitia, through the perspective of the Catholic faith, the family plays a central and irreplaceable role as the primary socialization agent in internalizing the values of love. Developing a structured and comprehensive educational program to improve families' understanding of Christian values, including love, as well as providing practical provisions to implement these values in daily life. Based on these findings, the author develops an effective strategic framework for the implementation of love education in the family environment according to the Amoris Laetitia document. The method used in this article is the literature study research method.AbstrakArtikel ini menyajikan tentang cinta kasih yang memiliki signifikansi fundamental dalam pembentukan karakter individu yang holistik, mencakup dimensi kognitif, afektif, dan perilaku. Cinta kasih memfasilitasi perkembangan kompetensi sosio-emosional yang esensial, seperti regulasi emosi, empati, dan keterampilan interpersonal. Menurut seruan apostolik Amoris Laetitia, melalui perspektif iman Katolik, keluarga memegang peran sentral dan tak tergantikan sebagai agen sosialisasi primer dalam internalisasi nilai-nilai cinta kasih. Mengembangkan program pendidikan yang terstruktur dan komprehensif untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang nilai-nilai Kristiani, termasuk cinta kasih, serta memberikan bekal praktis untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan temuan tersebut maka penulis mengembangkan kerangka kerja strategis yang efektif untuk implementasi pendidikan cinta kasih dalam lingkungan keluarga menurut dokumen Amoris Laetitia. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah metode penelitian studi pustaka.
Paham Ketuhanan “Mori Kraeng” dalam Upacara Torok Wuat Wa’i bagi Anak-Anak Manggarai yang akan Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi Elan, Anjelita; Huba, Fransiskus; Nefrindo, Oktavianus; Widodo, Agus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10200

Abstract

Torok Wuat Wa'i is a traditional ritual of the Manggarai community conducted when someone is about to migrate. Using qualitative methods through literature studies and interviews, this research aims to delve into the understanding of divinity in the Torok Wuat Wa’i ceremony, particularly for those who are going to study. The results show that the Manggarai people have a belief in a God who governs the universe and human life, whom they refer to as Mori Kraeng. Through the Torok Wuat Wa’i ritual, they pray for a good life and protection from Mori Kraeng, from the moment a person departs from their hometown, during the journey, throughout their studies in the migration area, and until their return to their hometown. Additionally, in the Torok Wuat Wa’i ceremony, they also pay homage to their ancestors, who are believed to play a crucial role in maintaining the balance of nature and human life. Therefore, the Torok Wuat Wa’i ceremony serves not only as a means to establish relationships and seek blessings from God but also as a manifestation of togetherness and unity among humans, the universe, and the spiritual world.AbstrakTorok Wuat Wa'i merupakan ritual adat masyarakat Manggarai yang dilakukan ketika seorang hendak merantau. Dengan metode kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara, penelitian ini bermaksud untuk mendalami paham ketuhanan dalam upacara Torok Wuat Wa’i, khususnya bagi mereka yang hendak studi. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai mempunyai keyakinan akan Tuhan yang menguasai alam semesta dan kehidupan manusia, yang mereka sebut Mori Kraeng. Melalui ritual Torok Wuat Wa’i, mereka memohon kehidupan yang baik dan perlindungan dari Mori Kraeng, sejak seseorang berangkat dari kampung halaman, selama dalam perjalanan, selama studi di perantauan, hingga kepulangannya kembali ke kampung halaman. Selain itu, dalam upacara Torok Wuat Wa’i, mereka juga memberi penghormatan terhadap leluhur, yang diyakini berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, upacara Torok Wuat Wa’i tidak hanya menjadi sarana menjalin relasi dan memohon berkat Tuhan, tetapi juga merupakan wujud kebersamaan dan kesatuan antara manusia, alam semesta, dan dunia spiritual.
Pengaruh Diskresi Mahasiswa dalam Penggunaan Media Sosial Terhadap Terbentuknya Ruang-Ruang Perjumpaan di Komunitas Pendikkat Sanata Dharma dalam Terang Dokumen Christus Vivit Pambudi, Valentino Aji; Josiano, Mariano Jaimes; Salim, Muwahiddin Qolbu; Widiati, Lusia Erva; Sianipar, Cecilia Paulina
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10204

Abstract

This article examines how discretion of Catholic Religion Ed-ucation students of Sanata Dharma University Yogyakarta in the use of social media affects the formation of encounter rooms offline. Research for this article was conducted using the quantitative research method. The purpose of this quanti-tative study is to investigate how students at Sanata Dharma University use social media to build social connections, share information, and build an offline community room. Research demonstrates that social interaction in the community is sig-nificantly affected by students' discretion in using social me-dia platforms, content, and interactions. The deep and inti-mate discretion allows the Catholic Religion Education stu-dents of Sanata Dharma University to build and create en-counter rooms that are inclusive, diverse, and supportive of the learning process and build social relations among the stu-dents' community. This intimate discretion also brings the expectation of good communication in classroom dynamics and the learning process.AbstrakArtikel ini dibuat dengan tujuan untuk mengungkap sejauh mana dampak diskresi mahasiswa Pendikkat, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dalam memanfaatkan media sosial pada pembentukan ruang perjumpaan di dalam komunitas offline.  Metode yang digunakan dalam penelitian artikel ini adalah metode penelitian kuantitatif. Pendekatan kuantitatif membantu peneliti dalam menganalisis bagaimana mahasiswa pendidikan memanfaatkan fitur-fitur media sosial untuk menciptakan koneksi sosial, berbagi informasi, dan membangun ruang perjumpaan komunitas offline di Kampus Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskresi mahasiswa dalam menggunakan platform, konten, dan interaksi di media sosial secara signifikan mempengaruhi dinamika interaksi sosial dalam komunitas. Diskresi yang intim dan mendalam memungkinkan mahasiswa Pendikkat Sanata Dharma membangun dan menciptakan ruang-ruang perjumpaan yang inklusif, beragam, dan mendukung pembelajaran serta membangun hubungan sosial di antara komunitas mahasiswa. Selain itu, diskresi yang intim ini juga membawa harapan untuk terbentuknya komunikasi yang baik dalam dinamika belajar dan perkuliahan di kelas. 
Pentingnya Pendidikan Iman Berdasarkan Ensiklik Lumen Fidei Danny Prasetyo, Stepanus Christian; Puspita, Maria Vianny; Mulyatno, Carolus Borromeus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10194

Abstract

Faith education, as outlined in this encyclical, emphasizes the instillation of integral spiritual, moral, and ethical values, which are not only cognitive but also affective and conative. Faith education, in this document, is seen as a shared responsibility, both within the family, school, and church community. This study uses a literature study method. There are several points that will be discussed in this study; Challenges of faith faced by young people today? What is the role of the Family, Church and Community in developing the faith of young people? and this study identifies the main principles of Lumen Fidei that can be applied in faith education, including the importance of dialogue between faith and reason in faith formation. The results of this study will discuss the relevance of faith education based on Lumen Fidei in the context of moral and character formation, the importance of integration between faith and reason, and the responsibility of the community in educating a generation of believers to develop the faith of young people to be a blessing to others.AbstrakPendidikan iman, sebagaimana diuraikan dalam ensiklik ini, menekankan pada penanaman nilai-nilai spiritual, moral, dan etika yang integral, yang bukan hanya bersifat kognitif tetapi juga afektif dan konatif. Pendidikan iman, dalam dokumen ini, dilihat sebagai tanggung jawab bersama, baik dalam lingkup keluarga, sekolah, maupun komunitas gereja. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Terdapat beberapa poin yang akan dibahas dalam penelitian ini, antara lain; Tantangan iman yang dihadapi saat ini oleh orang muda? Apa peran Keluarga, Gereja dan Komunitas dalam pengembangan iman orang muda? dan penelitian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip utama dari Lumen Fidei yang dapat diterapkan dalam pendidikan iman, termasuk pentingnya dialog antara iman dan akal dalam pembinaan iman. Hasil dari penelitian ini akan membahas relevansi pendidikan iman berdasarkan Lumen Fidei dalam konteks pembentukan moral dan karakter, pentingnya integrasi antara iman dan akal, serta tanggung jawab komunitas dalam mendidik generasi beriman una mengembangkan iman orang muda menjadi berkat bagi sesama.
PENGARUH PHUBBING TERHADAP KUALITAS RELASI ANTAR PRIBADI MAHASISWA PENDIKKAT Parama, Rafael Nathan; Sugiono, Daniel Dananjaya; Deshinta, Marsyanda Sekar; Miguel, Cornelius Joan; Manalu, Dian Marcelinus; Sianipar, Cecilia Paulina
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10212

Abstract

Di era digital yang semakin maju, handphone menjadi bagian integral dari sebuah tren, terutama di kalangan generasi muda. Penggunaan gawai ini tidak hanya terbatas pada komunikasi, tetapi juga merambah ke berbagai sektor, termasuk pendidikan. Fenomena baru yang muncul sebagai dampak dari penggunaan smartphone yang berlebihan adalah phubbing, atau yang dikenal sebagai mabuk gawai. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh phubbing terhadap relasi antar pribadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) Universitas Sanata Dharma. Metode yang dipakai yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan analisis statistik dan pengumpulan data melalui kuesioner. Fokus penelitian ini adalah untuk menilai dampak phubbing terhadap kualitas relasi antar pribadi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa phubbing berpotensi merusak keintiman dan kepuasan dalam hubungan interpersonal. Para mahasiswa mengungkapkan dampak fenomena phubbing yang dapat mempengaruhi kualitas relasi antar individu. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya kesadaran mahasiswa akan dampak negatif phubbing dan perlunya pembatasan penggunaan smartphone saat berinteraksi sosial. 
Peran Media Sosial dalam Pembentukan Identitas Sosial Siswa SMP Di Era Digital Noviance, Kristina Marta; Mulyatno, CarCarolus Borromeus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10234

Abstract

This research aims to analyze the role of social media in shaping the social identity of junior high school students in the digital era. Social media has become an integral part of adolescents' lives, where they use platforms such as Instagram, TikTok, and WhatsApp to interact and construct self-images. The interaction processes on social media influence how students perceive themselves and how they are perceived by others. This study employs a qualitative approach, using interviews and observations to identify factors influencing the formation of students' social identity. The findings reveal that social media plays a significant role in both reinforcing and altering students' social identity through various forms of social interaction, including the creation and acceptance of group norms. The positive and negative impacts of social media usage on students' social and emotional development are also discussed in this research.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial dalam pembentukan identitas sosial siswa SMP di era digital. Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan remaja, di mana mereka menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp untuk berinteraksi dan membangun citra diri. Proses interaksi di media sosial mempengaruhi bagaimana siswa memandang diri mereka sendiri serta bagaimana mereka dipandang oleh orang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan observasi untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas sosial siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan signifikan dalam memperkuat maupun mengubah identitas sosial siswa melalui berbagai bentuk interaksi sosial, termasuk penciptaan dan penerimaan norma-norma kelompok. Dampak positif dan negatif dari penggunaan media sosial terhadap perkembangan sosial dan emosional siswa juga dibahas dalam penelitian ini.
Peran Ibu dalam Pendidikan Anak di Keluarga Berdasarkan Dokumen Amoris Laetitia Saputri, Maria Dwi; Rodiah, Angela Yayah; Mulyatno, Carolus Borromeus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10221

Abstract

Mothers play a crucial role in educating children within the family, a perspective also emphasized by Pope Francis. This study aims to explain the Pope's views on the role of mothers in child education. Data were collected through a literature review. Three main focuses were explored: the specific roles of mothers in children's education, the contributions mothers should make to children's personal development, and how mothers can carry out their roles. The research findings indicate that mothers educate children through nurturing, providing role models, and developing character. These three aspects help children grow in a safe and comfortable environment, act fairly in social relationships, empathize in communication, and care about social and environmental issues. AbstrakIbu memiliki peran penting dalam mendidik anak di dalam keluarga, sebuah pandangan yang juga ditekankan oleh Paus Fransiskus. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Paus mengenai peran ibu dalam pendidikan anak. Data dikumpulkan melalui studi pustaka. Tiga fokus utama yang dieksplorasi adalah apa saja peran khas ibu dalam pendidikan anak, kontribusi yang seharusnya diberikan ibu dalam perkembangan pribadi anak, dan bagaimana cara ibu melaksanakan perannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu mendidik anak melalui pengasuhan, memberikan teladan, dan mengembangkan karakter. Ketiga aspek ini membantu anak tumbuh dalam suasana yang aman dan nyaman, bersikap adil dalam hubungan sosial, berempati dalam komunikasi, serta peduli terhadap masalah sosial dan lingkungan.
Peran Perempuan dalam Menumbuhkan Nilai-Nilai Kemanusiaan menurut Paus Fransiskus Indar Wulandari, Margareta; Mulyatno, Carolus Borromeus; Tristiyanti, Theresia Ayu
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10242

Abstract

Pope Francis realizes that there are still many women in various parts of the world who face suffering, injustice and inequality. The challenges faced by these women include violence, discrimination and marginalization in various aspects of life. However, women have a very important role in cultivating and maintaining human values. This research aims to increase awareness of all parties, especially women, to be more actively involved in fostering and developing human values.  One of the main approaches to supporting this role is through education, both formal and informal, which is seen as the key to advancing holistic human development. The method used in this research is literature study. In the previous article, the role of women and politics was written which was used as a slogan in political parties. This research explores three main focuses: Pope Francis' views on women, the contribution of women in cultivating human values, and the application of these human values in life. The results of this research confirm that the role of women is very significant in strengthening human values, both through formal and informal education. These two educational pathways can help society better appreciate human dignity as God's noble creation. So there is a need for collaboration from several parties to realize the role of women in fostering human values.AbstrakPaus Fransiskus menyadari bahwa masih banyak perempuan di berbagai belahan dunia yang menghadapi penderitaan, ketidakadilan, dan ketidaksetaraan. Tantangan yang dihadapi perempuan ini meliputi kekerasan, diskriminasi, serta marginalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Namun demikian, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran semua pihak, terutama perempuan, agar lebih aktif terlibat dalam pembinaan dan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan.  Salah satu pendekatan utama untuk mendukung peran tersebut adalah melalui pendidikan, baik formal maupun informal, yang dipandang sebagai kunci dalam memajukan pembangunan manusia secara holistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Dalam tulisan sebelumnya dituliskan peran perempuan dan politik yang dijadikan slogan dalam partai politik. Penelitian ini mengeksplorasi tiga fokus utama: pandangan Paus Fransiskus tentang perempuan, kontribusi perempuan dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, serta penerapan nilai-nilai kemanusiaan tersebut dalam kehidupan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa peran perempuan sangat signifikan dalam memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Kedua jalur pendidikan ini dapat membantu masyarakat lebih menghargai martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia. Maka perlu adanya kolaborasi dari beberapa pihak untuk mewujudkan peran perempuan dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan.
Pikiran Manusia atau Kecerdasan Buatan: Siapa yang Lebih Layak Mengatur Masa Depan? Tena, George Glinca Jung
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10229

Abstract

In the midst of AI's rapid development, many experts have begun to discuss the role of the human mind and artificial intelligence in creating and shaping the future of humanity. At the forefront of this is the question of who is more capable of ruling the future, given that artificial intelligence is now almost equal to the human mind. This article will review: the advantages of artificial intelligence, the limitations of artificial intelligence, the role of humans in the AI era, the Ethics of AI and the possible scenarios that occur in the future, both positive and negative scenarios. The ultimate goal of this article is not to provide a definitive answer to the debate, but rather to build harmony through collaboration between advances in AI and human wisdom in shaping the future. By collaborating between the human mind and artificial intelligence, a more positive future will be created.AbstrakDi tengah perkembangan AI yang kian pesat, banyak ahli mulai berdiskusi tentang peran dari pikiran manusia dan kecerdasan buatan dalam menciptakan dan membentuk masa depan umat manusia. Hal yang menjadi sorotan di sini adalah pertanyaan tentang siapakah yang lebih layak dalam mengatur masa depan, mengingat bahwa kecerdasan buatan saat ini hampir menyamai pikiran manusia. Artikel ini akan mengulas tentang: keunggulan kecerdasan buatan, keterbatasan kecerdasan buatan, peran manusia dalam era AI, Etika AI dan kemungkinan skenario yang terjadi di masa depan baik itu skenario yang bersifat positif maupun skenario negatif. Tujuan akhir dari artikel ini bukan untuk memberikan jawaban pasti atas kejadian yang terjadi, melainkan untuk membangun harmoni melalui kolaborasi antara kemajuan kecerdasan buatan dan ahli manusia dalam membentuk masa depan. Dengan adanya kolaborasi antara pikiran manusia dan kecerdasan buatan maka akan terciptalah masa depan yang lebih positif.