cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 36 No. 2 (2018)" : 12 Documents clear
Cover Amerta Volume 36, Nomor 2, Tahun 2018 Redaksi Amerta
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SITUS LAMBANAPU: DIASPORA AUSTRONESIA DI SUMBA TIMUR Retno Handini; Truman Simanjuntak; Harry Octavianus Sofian; Bagyo Prasetyo; Myrtati Dyah Artaria; Unggul Prasetyo Wibowo; I Made Geria
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Lambanapu Site: Diaspora Austronesia In East Sumba. The research at Lambanapu Site aims to determine the position of Lambanapu in the distribution and development of Austronesian ancestors and their culture in Sumba. The method used is survey, excavation, analysis, and interpretation. The results of the research are skeletal findings and urn burial also artifacts which are pottery, beads, metal jewelry, and stone tools. From the dating result it is known that Lambanapu Site was inhabited at least 2.000 years ago and from paleantropology analysis, it is estimated that the individuals found from primary and secondary burial in Lambanapu are a mixture of Mongoloid and Australomelanesoid. Genetic mixing is very possible, given the history of the archipelago's occupation which was filled by several waves of great migration in the past. The Lambanapu site has provided an overview of Sumba's ancestral life in the context of the archipelago. The Lamabanapu research results show us, how Lambanapu and Sumba in general rich with historical and cultural values of the past that are very useful for today's life. The wealth of historical and cultural values is not only for local interests, but also to fill the rich history and culture of the archipelago, and even contribute to global history. Keywords: Lambanapu, prehistoric, Austronesian Abstrak. Penelitian di Situs Lambanapu bertujuan untuk mengetahui posisi Lambanapu dalam persebaran dan perkembangan leluhur Austronesia dan budayanya di Sumba. Metode yang dilakukan adalah survei, ekskavasi, analisis, dan interpretasi. Hasil penelitian berupa temuan rangka dan kubur tempayan serta artefak berupa gerabah, manik-manik, perhiasan logam, dan alat batu. Dari hasil pertanggalan diketahui bahwa setidaknya Situs Lambanapu telah dihuni 2.000 tahun yang lalu. Hasil analisis paleoantropologi diperkirakan individu yang ditemukan di Lambanapu, baik kubur primer maupun sekunder, merupakan percampuran antara Mongoloid dan Australomelanesoid. Percampuran genetika memang sangat memungkinkan terjadi mengingat sejarah hunian Nusantara yang terisi oleh beberapa gelombang migrasi besar pada masa lampau. Situs Lambanapu telah memberikan gambaran kehidupan leluhur Sumba dalam konteks Nusantara. Hasil penelitian memperlihatkan betapa Lambanapu dan Sumba pada umumnya memiliki kekayaan nilai sejarah dan budaya masa lampau yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masa kini. Kekayaan nilai sejarah dan budayanya tidak hanya untuk kepentingan lokal, tetapi juga untuk mengisi kekayaan sejarah dan budaya Nusantara, bahkan kontribusi bagi sejarah global. Kata Kunci: Lambanapu, prasejarah, Austronesia
SEBARAN DAN KARAKTERISTIK SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN TENGAH Nia Marniati Etie Fajari
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Distribution and Characteristic of Archaeology Sites in Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah landscape consists of the Schwaner-Muller Mountain, the coastal area, and plain on the river bank. This environment supplies the abundant resources as a cultural area inhabited by humans since the prehistoric times. The researches in Kalimantan Tengah have found archaeological sites which spread in each landscape. This article discusses how the characteristic of archaeological sites in Kalimantan Tengah based on the geographical location. This research begins with data collecting from archaeology research report from central Kalimantan region at Balai Arkeologi Kalimantan Selatan during 1993 2018. This research aims to find out the site characteristics on the different geographical location. The method classify the sites based on geographic location. The next step is identifiying the sites based on geographic parameters and environment condition, characteristics of artifacts, cultural characteristics, and its chronology. This research result is indicating that the site distribution in Kalimantan Tengah region tend to be at watersheds, starting from the upstream to the coastal area, and the characteristic of the site is affected by its geographical locational. Keywords: archaeological sites, watershed, settlement, Dayak, Kalimantan Tengah Abstrak. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki bentangalam berupa pegunungan, wilayah pesisir, dan dataran di tepi sungai. Lingkungan tersebut menyediakan sumber daya alam yang melimpah sehingga menjadi kawasan budaya yang dihuni oleh manusia sejak masa prasejarah sampai dengan saat ini. Penelitian arkeologi di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah menemukan situs arkeologi yang tersebar pada tiap-tiap satuan lahan. Artikel ini mengangkat permasalahan mengenai bagaimana karakteristik situs arkeologi yang berada di Kalimantan Tengah berdasarkan kondisi geografisnya. Tulisan ini diawali dengan pengumpulan data berdasarkan Laporan Penelitian Arkeologi di Balai Arkeologi Kalimantan Selatan dari tahun 1993-2017 yang dilakukan di wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik situs pada setiap lokasi geografis yang berbeda. Tulisan ini menggunakan metode dengan membuat klasifikasi situs berdasarkan lokasi geografis. Langkah selanjutnya adalah identifikasi situs berdasarkan parameter letak geografis dan kondisi lingkungan, karakteristik temuan, karakteristik budaya, dan kronologi waktu baik absolut ataupun relatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebaran situs arkeologi di wilayah Kalimantan Tengah cenderung berada di daerah aliran sungai, mulai dari hulu sampai ke pesisir. Keletakan geografi juga memberi pengaruh pada karakteristik situs yang ditemukan. Kata kunci: situs arkeologi, daerah aliran sungai, permukiman, Dayak, Kalimantan Tengah
GEOLOGICAL APPROACH IN ORDER TO DISTINGUISH THE PREFERENCE SOURCE OF THE RAW MATERIAL FROM THE MEGALITHIC TOMBS IN EAST SUMBA, INDONESIA Unggul Prasetyo Wibowo; Retno Handini; Truman Simanjuntak; Harry Octavianus Sofian; Sandy Maulana
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Pulau Sumba sudah lama dikenal dengan tradisi makam megalitiknya yang dijumpai tersebar hampir di semua area di Sumba. Makam megalitik ini dibangun dari potongan-potongan batuan berukuran besar. Berdasarkan aspek geologi, penelitian ini mencoba untuk mencari tahu  asal batuan bahan pembuat makam megalitik dan apa yang menjadi alasan untuk memilih suatu batuan untuk bahan makam megalitik. Metode yang digunakan meliputi beberapa tahap. Tahap pertama merupakan pendeskripsian sampel di lapangan. Tahap kedua, analisis geologi digunakan untuk memetakan titik-titik observasi dan singkapan batuan di lapangan. Tahap ketiga, variabel hasil pengamatan kemudian dianalisa menggunakan metode Principle Components Analysis (PCA). Empat variabel digunakan dalam penelitian ini, yaitu: variabel jarak dari sumber, variabel litologi, variabel tekstur, dan variabel tingkat kekerasan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa tekstur batuan merupakan pertimbangan utama dalam memilih jenis batuan untuk bahan makam megalitik. Jarak dan tingat kekerasan batuannya juga menjadi alasan penting lainnya dalam mengambil bahan material untuk makam megalitik terlepas apapun jenis batunya. Secara geologi bahan batuan berasal dari batugamping Formasi Kaliangga dan batupasir Formasi Kananggar.  Kata kunci: Makam megalitik, Sumba Timur, Bahan baku, Geologi   Abstract. Sumba is well known for its megalithic tradition, surviving evidence for which can be observed throughout the island in the form of tombs built from enormous stone slabs. The current study is aimed at identifying the sources of the raw material used to manufacture megalithic tombs and factors underlying the choice of raw material based on geological properties. We report the results of our field observations and geological analyses, including mapping of megalithic tomb sites and geological outcrops. Concerning the latter, field-datasets were analysed using a Principle Components Analysis (PCA). Based on a sample of 11 megalithic tombs from several different locations, four variables were employed to distinguish the preferred source of the raw material used in tomb construction: 1) distance from the source; 2) lithology; 3) rock texture; and 4) rock hardness. Analytical results indicate that raw material texture was the key factor in the construction of megalithic tombs, followed by distance from source and hardness of the stone selected for making this structures. Finally, we establish that raw materials used for constructing sampled megalithic tomb sites on Sumba included Kaliangga Formation limestone and Kananggar Formation sandstone. Keywords: Megalithic tombs, East Sumba, Raw material, Geology 
ASOSIASI GUNDUKAN TANAH, SUNGAI, DAN MENHIR DI PUSAT WILAYAH ADAT TANAH SEKUDUNG, BARATLAUT LEMBAH KERINCI, DATARAN TINGGI JAMBI (KAJIAN FENOMENOLOGI) Hafiful Hadi Sunliensyar
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Association of Mounds, River and Menhirs in The Central of Tanah Sekudung Indigenous Territory, Northwestern of Kerinci Valley, Jambi Highland (Phenomenology Study). This article discusses about the associations of menhirs with landscape features(river and mounds) in Northwestern of Kerinci Valley. Customarily, this region is called as Tanah Sekudung with its centre in three villages (dusuns) that is Dusun Siulak Gedang, Siulak Panjang dan Siulak Mukai. This research uses phenomenology approach by Tilley. Phenomenological approach stresses the experience and bodily sensory of observer/researcher. The experience is obtained through observation participant method. In this method, the experience and interaction between observer and menhir be a part which is described.As results in this research, it is known that menhirs erection on the mounds or higherlands and its distribution which similarly with direction of the main river flow related with the legend of ancestors, cognitive space, cosmology and metaphora in Tanah Sekudung community. For example, river is refered to determinate of direction traditionally and also was became reference the migration of ancestors in the past.Therefore, menhirs as markers of migration paths, shape distribution similarly with directionof river flow. Keywords: Phenomenology, landscape, Menhir, Kerinci Abstrak. Artikel ini membahas asosiasi menhir dengan fitur lanskap (sungai dan gundukan tanah) di bagian barat laut Lembah Kerinci. Secara adat, wilayah ini disebut pula sebagai Tanah Sekudung, dengan pusatnya berada di tiga dusun, yaitu Dusun Siulak Gedang, Siulak Panjang, dan Siulak Mukai. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang dikemukakan oleh Tilley. Pendekatan fenomenologi menekankan pengalaman dan indra tubuh (bodily sensory) dari pengamat atau peneliti di lapangan. Pengalaman tersebut diperoleh dari pengumpulan data melalui metode observasi partisipan. Dalam hal ini, pengalaman dan interaksi antara peneliti dan menhir menjadi bagian yang akan dideskripsikan. Sebagai hasil penelitian, diketahui bahwa pendirian menhir di atas gundukan tanah dan distribusinya yang searah dengan arah aliran sungai utama terkait dengan legenda para leluhur, ruang kognitif, kosmologi, dan metafora yang dimiliki penduduk. Sebagai contoh, sungai yang dijadikan acuan dalam penentuan arah secara tradisional sekaligus dijadikan sebagai acuan perpindahan leluhur pada masa lalu. Oleh karena itu, menhir yang menjadi penanda lintasan migrasi leluhur membentuk arah distribusi yang sama dengan arah aliran sungai. Kata Kunci: Fenomenologi, lanskap, menhir, Kerinci
MODEL SPATIAL ANALYSIS UNTUK PENILAIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KOTA GRESIK Andi Putranto
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Gresik is one of the old cities in Java that has experienced a period of appearing and developing for a long time. In Gresik, there are many archaeological remains in the form of old buildings, especially from the colonial period, which are scattered in several regions in the city of Gresik. The assessment of cultural heritage, especially of the types of buildings so far has been carried out, especially in the framework of preservation and cultural resource management,but not much is known about the mechanism. Therefore, in this study a valuation model is proposed using a tiered quantitative analysis method derived from spatial analysis methods with a weighting factor. In this study proposed building ratings are building class D = Poor, building class C = Moderate, building class B = Good, and building class A = Excellent. Keywords: spatial analysis, historic building, GIS, quantitative,valuation Abstrak. Gresik merupakan salah satu kota lama di Pulau Jawa yang telah mengalami masa muncul dan berkembang dalam kurun waktu yang cukup lama. Di Gresik banyak dijumpai tinggalan arkeologis berupa bangunan tua, khususnya dari periode kolonial yang tersebar di beberapa kawasan di Kota Gresik. Penilaian cagar budaya, khususnya jenis bangunan, selama ini telah dilakukan terutama dalam rangka penyusunan rekomendasi untuk penetapan dan kepentingan terkait dengan pelestarian, tetapi belum banyak diketahui bagaimana mekanismenya. Oleh karena itu, di dalam penelitian ini diajukan model penilaian dengan menggunakan metode analisis kuantitatif berjenjang dengan faktor pembobot. Metode ini merupakan implementasi dari metode spatial analisis dalam kajian GIS (Geographic Information System). Dalam penelitian ini diajukan peringkat bangunan, yaitu kelas bangunan D = Kurang, kelas bangunan C = Cukup, kelas bangunan B = Baik, dan kelas bangunan A = Istimewa. Kata kunci: Gresik, bangunan tua, spatial analysis, GIS, kuantitatif
Cover Amerta Volume 36, Nomor 2, Tahun 2018 Redaksi Amerta
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SITUS LAMBANAPU: DIASPORA AUSTRONESIA DI SUMBA TIMUR Handini, Retno; Simanjuntak, Truman; Sofian, Harry Octavianus; Prasetyo, Bagyo; Artaria, Myrtati Dyah; Wibowo, Unggul Prasetyo; Geria, I Made
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Lambanapu Site: Diaspora Austronesia In East Sumba. The research at Lambanapu Site aims to determine the position of Lambanapu in the distribution and development of Austronesian ancestors and their culture in Sumba. The method used is survey, excavation, analysis, and interpretation. The results of the research are skeletal findings and urn burial also artifacts which are pottery, beads, metal jewelry, and stone tools. From the dating result it is known that Lambanapu Site was inhabited at least 2.000 years ago and from paleantropology analysis, it is estimated that the individuals found from primary and secondary burial in Lambanapu are a mixture of Mongoloid and Australomelanesoid. Genetic mixing is very possible, given the history of the archipelago's occupation which was filled by several waves of great migration in the past. The Lambanapu site has provided an overview of Sumba's ancestral life in the context of the archipelago. The Lamabanapu research results show us, how Lambanapu and Sumba in general rich with historical and cultural values of the past that are very useful for today's life. The wealth of historical and cultural values is not only for local interests, but also to fill the rich history and culture of the archipelago, and even contribute to global history. Keywords: Lambanapu, prehistoric, Austronesian Abstrak. Penelitian di Situs Lambanapu bertujuan untuk mengetahui posisi Lambanapu dalam persebaran dan perkembangan leluhur Austronesia dan budayanya di Sumba. Metode yang dilakukan adalah survei, ekskavasi, analisis, dan interpretasi. Hasil penelitian berupa temuan rangka dan kubur tempayan serta artefak berupa gerabah, manik-manik, perhiasan logam, dan alat batu. Dari hasil pertanggalan diketahui bahwa setidaknya Situs Lambanapu telah dihuni 2.000 tahun yang lalu. Hasil analisis paleoantropologi diperkirakan individu yang ditemukan di Lambanapu, baik kubur primer maupun sekunder, merupakan percampuran antara Mongoloid dan Australomelanesoid. Percampuran genetika memang sangat memungkinkan terjadi mengingat sejarah hunian Nusantara yang terisi oleh beberapa gelombang migrasi besar pada masa lampau. Situs Lambanapu telah memberikan gambaran kehidupan leluhur Sumba dalam konteks Nusantara. Hasil penelitian memperlihatkan betapa Lambanapu dan Sumba pada umumnya memiliki kekayaan nilai sejarah dan budaya masa lampau yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masa kini. Kekayaan nilai sejarah dan budayanya tidak hanya untuk kepentingan lokal, tetapi juga untuk mengisi kekayaan sejarah dan budaya Nusantara, bahkan kontribusi bagi sejarah global. Kata Kunci: Lambanapu, prasejarah, Austronesia
SEBARAN DAN KARAKTERISTIK SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN TENGAH Fajari, Nia Marniati Etie
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Distribution and Characteristic of Archaeology Sites in Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah landscape consists of the Schwaner-Muller Mountain, the coastal area, and plain on the river bank. This environment supplies the abundant resources as a cultural area inhabited by humans since the prehistoric times. The researches in Kalimantan Tengah have found archaeological sites which spread in each landscape. This article discusses how the characteristic of archaeological sites in Kalimantan Tengah based on the geographical location. This research begins with data collecting from archaeology research report from central Kalimantan region at Balai Arkeologi Kalimantan Selatan during 1993 2018. This research aims to find out the site characteristics on the different geographical location. The method classify the sites based on geographic location. The next step is identifiying the sites based on geographic parameters and environment condition, characteristics of artifacts, cultural characteristics, and its chronology. This research result is indicating that the site distribution in Kalimantan Tengah region tend to be at watersheds, starting from the upstream to the coastal area, and the characteristic of the site is affected by its geographical locational. Keywords: archaeological sites, watershed, settlement, Dayak, Kalimantan Tengah Abstrak. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki bentangalam berupa pegunungan, wilayah pesisir, dan dataran di tepi sungai. Lingkungan tersebut menyediakan sumber daya alam yang melimpah sehingga menjadi kawasan budaya yang dihuni oleh manusia sejak masa prasejarah sampai dengan saat ini. Penelitian arkeologi di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah menemukan situs arkeologi yang tersebar pada tiap-tiap satuan lahan. Artikel ini mengangkat permasalahan mengenai bagaimana karakteristik situs arkeologi yang berada di Kalimantan Tengah berdasarkan kondisi geografisnya. Tulisan ini diawali dengan pengumpulan data berdasarkan Laporan Penelitian Arkeologi di Balai Arkeologi Kalimantan Selatan dari tahun 1993-2017 yang dilakukan di wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik situs pada setiap lokasi geografis yang berbeda. Tulisan ini menggunakan metode dengan membuat klasifikasi situs berdasarkan lokasi geografis. Langkah selanjutnya adalah identifikasi situs berdasarkan parameter letak geografis dan kondisi lingkungan, karakteristik temuan, karakteristik budaya, dan kronologi waktu baik absolut ataupun relatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebaran situs arkeologi di wilayah Kalimantan Tengah cenderung berada di daerah aliran sungai, mulai dari hulu sampai ke pesisir. Keletakan geografi juga memberi pengaruh pada karakteristik situs yang ditemukan. Kata kunci: situs arkeologi, daerah aliran sungai, permukiman, Dayak, Kalimantan Tengah
GEOLOGICAL APPROACH IN ORDER TO DISTINGUISH THE PREFERENCE SOURCE OF THE RAW MATERIAL FROM THE MEGALITHIC TOMBS IN EAST SUMBA, INDONESIA Wibowo, Unggul Prasetyo; Handini, Retno; Simanjuntak, Truman; Sofian, Harry Octavianus; Maulana, Sandy
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Pulau Sumba sudah lama dikenal dengan tradisi makam megalitiknya yang dijumpai tersebar hampir di semua area di Sumba. Makam megalitik ini dibangun dari potongan-potongan batuan berukuran besar. Berdasarkan aspek geologi, penelitian ini mencoba untuk mencari tahu  asal batuan bahan pembuat makam megalitik dan apa yang menjadi alasan untuk memilih suatu batuan untuk bahan makam megalitik. Metode yang digunakan meliputi beberapa tahap. Tahap pertama merupakan pendeskripsian sampel di lapangan. Tahap kedua, analisis geologi digunakan untuk memetakan titik-titik observasi dan singkapan batuan di lapangan. Tahap ketiga, variabel hasil pengamatan kemudian dianalisa menggunakan metode Principle Components Analysis (PCA). Empat variabel digunakan dalam penelitian ini, yaitu: variabel jarak dari sumber, variabel litologi, variabel tekstur, dan variabel tingkat kekerasan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa tekstur batuan merupakan pertimbangan utama dalam memilih jenis batuan untuk bahan makam megalitik. Jarak dan tingat kekerasan batuannya juga menjadi alasan penting lainnya dalam mengambil bahan material untuk makam megalitik terlepas apapun jenis batunya. Secara geologi bahan batuan berasal dari batugamping Formasi Kaliangga dan batupasir Formasi Kananggar.  Kata kunci: Makam megalitik, Sumba Timur, Bahan baku, Geologi   Abstract. Sumba is well known for its megalithic tradition, surviving evidence for which can be observed throughout the island in the form of tombs built from enormous stone slabs. The current study is aimed at identifying the sources of the raw material used to manufacture megalithic tombs and factors underlying the choice of raw material based on geological properties. We report the results of our field observations and geological analyses, including mapping of megalithic tomb sites and geological outcrops. Concerning the latter, field-datasets were analysed using a Principle Components Analysis (PCA). Based on a sample of 11 megalithic tombs from several different locations, four variables were employed to distinguish the preferred source of the raw material used in tomb construction: 1) distance from the source; 2) lithology; 3) rock texture; and 4) rock hardness. Analytical results indicate that raw material texture was the key factor in the construction of megalithic tombs, followed by distance from source and hardness of the stone selected for making this structures. Finally, we establish that raw materials used for constructing sampled megalithic tomb sites on Sumba included Kaliangga Formation limestone and Kananggar Formation sandstone. Keywords: Megalithic tombs, East Sumba, Raw material, Geology 

Page 1 of 2 | Total Record : 12