Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

BIOSTRATIGRAFI NANNOPLANKTON DAERAH RAJAMANDALA Wibowo, Unggul Prasetyo; Kapid, Rubiyanto
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 15, No 4 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.395 KB)

Abstract

Analisis biostratigrafi nannoplankton dilakukan pada 26 sampel spot sampling yang berasal dari daerah Rajamandala, Padalarang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Hasil data lapangan pada lokasi penelitian di daerah Rajamandala dijumpai adanya 6 satuan batuan dimana berdasarkan analisis biostratigrafi nannoplankton di 6 satuan batuan tersebut didapatkan kisaran umur sebagai berikut: satuan batupasir konglomeratan berumur tidak lebih muda dari Eosen Akhir dapat disebandingkan dengan Formasi Bayah yang berumur Eosen Tengah-Akhir; satuan batulempung berumur Eosen Akhir - Oligosen Akhir dapat disebandingkan dengan Formasi Batuasih yang berumur Oligosen Akhir; satuan napal berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal dapat disebandingkan dengan Anggota Napal Formasi Rajamandala yang berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal; Satuan batupasir-batulempung berumur Miosen Awal – Miosen Tengah bagian bawah dapat disebandingkan dengan Formasi Citarum yang berumur Miosen Awal; satuan breksi vulkanik berumur Miosen Tengah dapat disebandingkan dengan Formasi Saguling yang berumur Miosen Tengah; sedangkan satuan batuan vulkanik tufaan yang menutupi Formasi Saguling dapat disebandingkan dengan satuan batuan produk vulkanik tufan Kuarter.Kata kunci: Biostratigrafi, nannoplankton, nannofosil, Rajamandala.
A Stegodon Mandible from Cipanaruban, Subang, West Java; Description and Its Position in the Java Vertebrate Biostratigraphy Wibowo, Unggul Prasetyo; setiyabudi, Erik; Kurniawan, Iwan
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 19, No 1 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.74 KB) | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.19.1.9-14

Abstract

Abstract - This paper describes a fossil of a right mandibular ramus with nearly complete molar M2 of Stegodon from a cliff of a hill of Cipanaruban River, near Pasir Cabe, about 6 km to the East of Subang City, West Java, Indonesia. The specimen is a surface collected, however the attached matrix on mandible indicated that this specimen is mostly derived from the sandstone unit of the Citalang Formation. The age of this fossil is estimated to be around Late Pliocene to Early Pleistocene based on the mammalian biostratigraphy of Java.Keyword : Stegodon, mandible, Late Pliocene - Early Pleistocene, fossil, Subang.
Duboisia santeng (BOVIDAE, ARTIODACTYLA) DARI BUMIAYU Suharyogi, Ifan Yoga Pratama; Wibowo, Unggul Prasetyo; Insani, Halmi; Setiyabudi, Erick
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 1 (2019): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.943 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i1.20639

Abstract

Telah ditemukan sebuah spesimen fosil tanduk bovidae sebelah kiri pada penelitian lapangan tahun 2016 di Kali Santanaya, Cisaat (Bumiayu). Fosil tanduk tersebut disebandingkan dengan fosil Boselaphus tragocamelus, Tetracerus quadricornis, Bibos palaeosondaicus, Bibos javanicus, Bubalus palaeokerabau, Epileptobos groeniveldtii, dan Duboisia santeng berdasarkan morfologi dan ukurannya. Walaupun merupakan temuan permukaan, namun berdasarkan analisa geologinya disimpulkan berasal dari Formasi Gintung dan berdasarkan biostratigrafi fauna vertebrata dimungkinkan termasuk Unit Fauna Kedung Brubus dengan lingkungan hidup berupa lingkungan hutan yang terbuka.
KaGeo: Aplikasi Geologi Berbasis Web Untuk Manajemen Data Koleksi di Museum Geologi Bandung Maulani, Muhammad Ruslan; Rahmatuloh, Marwanto; Mubassiran, Mubassiran; Choldun R, Muhammad Ibnu; Yanuar, Amri; Fayaqun, Reza; Wibowo, Unggul Prasetyo
Jurnal Informatika: Jurnal Pengembangan IT Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/jpit.v10i2.8237

Abstract

Pengelolaan data koleksi geologi di Museum Geologi Bandung menghadapi tantangan yang cukup besar, seperti keterbatasan sistem penyimpanan data yang terpadu, sulitnya aksesibilitas informasi koleksi, dan potensi kehilangan data akibat pengelolaan secara manual. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan KaGeo, yaitu aplikasi berbasis web yang dirancang untuk mengelola data koleksi geologi secara efisien dan terpadu. Metodologi yang digunakan adalah System Development Life Cycle (SDLC), yang meliputi tahapan perencanaan, analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, pengujian, dan implementasi. Pengembangan aplikasi dilakukan dengan menggunakan framework Laravel 11 dan Filament 3 untuk backend serta Livewire untuk front end. Data koleksi dikelola dalam database relasional dengan optimasi struktur untuk mendukung pencarian dan klasifikasi berbasis metadata. Validasi sistem dilakukan melalui pengujian black box dan pengumpulan umpan balik dari staf museum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KaGeo meningkatkan efisiensi pencatatan dan pencarian data koleksi hingga 75% dibandingkan dengan metode sebelumnya. Aplikasi ini juga mendukung pelaporan dan visualisasi data secara otomatis, sehingga memudahkan proses pengelolaan koleksi. Selain itu, umpan balik pengguna menunjukkan peningkatan kepuasan terhadap aksesibilitas dan antarmuka aplikasi. Studi ini menyimpulkan bahwa KaGeo dapat menjadi solusi inovatif untuk mengelola data koleksi geologi di Museum Geologi Bandung, dengan potensi untuk diadopsi oleh lembaga sejenis. Rekomendasi untuk pengembangan lebih lanjut meliputi integrasi teknologi berbasis IoT untuk melacak lokasi fisik koleksi dan penerapan algoritma pencarian berbasis kecerdasan buatan.
SITUS LAMBANAPU: DIASPORA AUSTRONESIA DI SUMBA TIMUR Handini, Retno; Simanjuntak, Truman; Sofian, Harry Octavianus; Prasetyo, Bagyo; Artaria, Myrtati Dyah; Wibowo, Unggul Prasetyo; Geria, I Made
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Lambanapu Site: Diaspora Austronesia In East Sumba. The research at Lambanapu Site aims to determine the position of Lambanapu in the distribution and development of Austronesian ancestors and their culture in Sumba. The method used is survey, excavation, analysis, and interpretation. The results of the research are skeletal findings and urn burial also artifacts which are pottery, beads, metal jewelry, and stone tools. From the dating result it is known that Lambanapu Site was inhabited at least 2.000 years ago and from paleantropology analysis, it is estimated that the individuals found from primary and secondary burial in Lambanapu are a mixture of Mongoloid and Australomelanesoid. Genetic mixing is very possible, given the history of the archipelago's occupation which was filled by several waves of great migration in the past. The Lambanapu site has provided an overview of Sumba's ancestral life in the context of the archipelago. The Lamabanapu research results show us, how Lambanapu and Sumba in general rich with historical and cultural values of the past that are very useful for today's life. The wealth of historical and cultural values is not only for local interests, but also to fill the rich history and culture of the archipelago, and even contribute to global history. Keywords: Lambanapu, prehistoric, Austronesian Abstrak. Penelitian di Situs Lambanapu bertujuan untuk mengetahui posisi Lambanapu dalam persebaran dan perkembangan leluhur Austronesia dan budayanya di Sumba. Metode yang dilakukan adalah survei, ekskavasi, analisis, dan interpretasi. Hasil penelitian berupa temuan rangka dan kubur tempayan serta artefak berupa gerabah, manik-manik, perhiasan logam, dan alat batu. Dari hasil pertanggalan diketahui bahwa setidaknya Situs Lambanapu telah dihuni 2.000 tahun yang lalu. Hasil analisis paleoantropologi diperkirakan individu yang ditemukan di Lambanapu, baik kubur primer maupun sekunder, merupakan percampuran antara Mongoloid dan Australomelanesoid. Percampuran genetika memang sangat memungkinkan terjadi mengingat sejarah hunian Nusantara yang terisi oleh beberapa gelombang migrasi besar pada masa lampau. Situs Lambanapu telah memberikan gambaran kehidupan leluhur Sumba dalam konteks Nusantara. Hasil penelitian memperlihatkan betapa Lambanapu dan Sumba pada umumnya memiliki kekayaan nilai sejarah dan budaya masa lampau yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masa kini. Kekayaan nilai sejarah dan budayanya tidak hanya untuk kepentingan lokal, tetapi juga untuk mengisi kekayaan sejarah dan budaya Nusantara, bahkan kontribusi bagi sejarah global. Kata Kunci: Lambanapu, prasejarah, Austronesia
TEKNOLOGI LITIK DI SITUS TALIMBUE, SULAWESI TENGGARA: TEKNOLOGI BERLANJUT DARI MASA PLEISTOSEN AKHIR HINGGA HOLOSEN Suryatman; O’ Connor, Sue; Bulbeck, David; Marwick, Ben; Oktaviana, Adhi Agus; Wibowo, Unggul Prasetyo
AMERTA Vol. 34 No. 2 (2016)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Lithic Technology at Talimbue Site, Southeast Sulawesi: Continuing Technology from Late Pleistocene up to Holocene Periods. The Talimbue site at Southeast Sulawesi is packed with lithic and these offer a new perspective on the lithic technology of Sulawesi. The absence of information on the prehistoric lithic technology of Southeast Sulawesi is a factor of interest that makes research on knowledge of the Talimbue site necessary. Lithic artefacts were manufactured from the terminal Pleistocene to the Late Holocene. This research will disentangle the details of the lithic technology at the Talimbue Site. The analyzed flaked stone artefacts fall into 3 categories, which are retouched flakes, debitage and cores. For its part, debitage was classified into 3 categories, which are complete flakes, broken flakes and debris. The retouch index was also measured so as to provide a quantitative estimate of the level of retouch intensity of the retouched flakes. The results of the analysis indicate changes in the stone flake technology during the period of occupation of the Talimbue Site. The change of technology occurs because the process of adaptation caused by a change of environment. Keywords: Lithic, Technological change, Period of occupation Abstrak. Temuan litik yang sangat padat di Situs Talimbue di Sulawesi Tenggara menunjukkan sebuah persepektif baru dalam kajian teknologi litik di Sulawesi. Kekosongan informasi teknologi litik masa prasejarah di wilayah Sulawesi Tenggara adalah hal yang menarik dikaji dalam penelitian di Situs Talimbue. Artefak litik digunakan dari masa Pleistosen Akhir hingga masa Holosen Akhir. Penelitian ini akan menguraikan secara detail bagaimana teknologi litik di Situs Talimbue. Artefak batu diserpih yang dianalisis menjadi 3 kategori, yaitu serpih diretus, serpihan dan batu inti. Serpihan kemudian diklasifikasi menjadi 3 kategori, yaitu serpih utuh, serpih rusak dan tatal. Pengukuran indeks retus juga dilakukan bertujuan untuk mengestimasi secara kuantitatif tingkat intensitas retus terhadap serpih yang telah diretus. Hasil penelitian menunjukkan perubahan teknologi artefak batu diserpih terjadi selama masa hunian di Situs Talimbue. Perubahan teknologi terjadi karena adanya proses adaptasi yang disebabkan oleh perubahan lingkungan. Kata Kunci: Litik, Perubahan teknologi, Fase hunian
GEOLOGICAL APPROACH IN ORDER TO DISTINGUISH THE PREFERENCE SOURCE OF THE RAW MATERIAL FROM THE MEGALITHIC TOMBS IN EAST SUMBA, INDONESIA Wibowo, Unggul Prasetyo; Handini, Retno; Simanjuntak, Truman; Sofian, Harry Octavianus; Maulana, Sandy
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Pulau Sumba sudah lama dikenal dengan tradisi makam megalitiknya yang dijumpai tersebar hampir di semua area di Sumba. Makam megalitik ini dibangun dari potongan-potongan batuan berukuran besar. Berdasarkan aspek geologi, penelitian ini mencoba untuk mencari tahu  asal batuan bahan pembuat makam megalitik dan apa yang menjadi alasan untuk memilih suatu batuan untuk bahan makam megalitik. Metode yang digunakan meliputi beberapa tahap. Tahap pertama merupakan pendeskripsian sampel di lapangan. Tahap kedua, analisis geologi digunakan untuk memetakan titik-titik observasi dan singkapan batuan di lapangan. Tahap ketiga, variabel hasil pengamatan kemudian dianalisa menggunakan metode Principle Components Analysis (PCA). Empat variabel digunakan dalam penelitian ini, yaitu: variabel jarak dari sumber, variabel litologi, variabel tekstur, dan variabel tingkat kekerasan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa tekstur batuan merupakan pertimbangan utama dalam memilih jenis batuan untuk bahan makam megalitik. Jarak dan tingat kekerasan batuannya juga menjadi alasan penting lainnya dalam mengambil bahan material untuk makam megalitik terlepas apapun jenis batunya. Secara geologi bahan batuan berasal dari batugamping Formasi Kaliangga dan batupasir Formasi Kananggar.  Kata kunci: Makam megalitik, Sumba Timur, Bahan baku, Geologi   Abstract. Sumba is well known for its megalithic tradition, surviving evidence for which can be observed throughout the island in the form of tombs built from enormous stone slabs. The current study is aimed at identifying the sources of the raw material used to manufacture megalithic tombs and factors underlying the choice of raw material based on geological properties. We report the results of our field observations and geological analyses, including mapping of megalithic tomb sites and geological outcrops. Concerning the latter, field-datasets were analysed using a Principle Components Analysis (PCA). Based on a sample of 11 megalithic tombs from several different locations, four variables were employed to distinguish the preferred source of the raw material used in tomb construction: 1) distance from the source; 2) lithology; 3) rock texture; and 4) rock hardness. Analytical results indicate that raw material texture was the key factor in the construction of megalithic tombs, followed by distance from source and hardness of the stone selected for making this structures. Finally, we establish that raw materials used for constructing sampled megalithic tomb sites on Sumba included Kaliangga Formation limestone and Kananggar Formation sandstone. Keywords: Megalithic tombs, East Sumba, Raw material, Geology 
THE CHARACTERISTICS OF KUTA BATAGUH IN KAPUAS, CENTRAL KALIMANTAN: KARAKTERISTIK KUTA BATAGUH DI KAPUAS, KALIMANTAN TENGAH Sunarningsih; Hartatik; Yogi, Ida Bagus Putu Prajna; Wibowo, Unggul Prasetyo; Susanto, Nugroho Nur; Sulistiyo, Restu Budi
Berkala Arkeologi Vol. 40 No. 2 (2020)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v40i2.590

Abstract

Abstract Kuta Bataguh is administratively located in Bataguh and East Kapuas Districts, Kapuas Regency, Kalimantan Tengah. The research aims to reconstruct the characteristics of Kuta Bataguh. This research is using interpretive-descriptive method with the inductive reasoning. Data collection used surveys, excavations, interviews, and literature study. The analysis included environmental, stratigraphic, artifactual, spatial, and absolute dating analysis. Survey (surface and aerial) and excavation activities were carried out inside and outside the fence, both downstream and upstream of the Karinyau River. The results illustrate that the characteristics of Kuta Bataguh are a large permanent settlement that is split by a river. The fortified settlement of Kuta Bataguh was the leader residence of Ngaju community group (as the center of power). By referring to the pattern, function and extent of this settlement, it can be assumed that the local authorities in Bataguh are on par with early state in their socio-political organization. Abstrak Kuta Bataguh secara administratif berada di Kecamatan Bataguh dan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian adalah untuk merekonstruksi karakteristik Kuta Bataguh. Penelitian ini bersifat deskriptif interpretif dengan penalaran induktif. Pengumpulan data menggunakan survei, ekskavasi, wawancara, dan studi pustaka. Analisis yang digunakan adalah analisis lingkungan, stratigrafi, artefaktual, ruang, dan analisis pertanggalan absolut. Kegiatan survei (permukaan dan udara) dan ekskavasi dilakukan di dalam dan di luar pagar benteng baik di arah muara maupun hulu Sungai Karinyau. Hasil penelitian memberi gambaran bahwa karakteristik Kuta Bataguh adalah tempat tinggal permanen yang luas dan dibelah oleh aliran sungai. Dengan berpatokan pada pola, fungsi, dan luasnya pemukiman ini, dapat diasumsikan bahwa penguasa lokal di Bataguh dalam organisasi sosial politiknya sudah setara dengan early state.