cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Motivasi kerja dan kepuasan kerja perawat Rumah Sakit Umum Daerah Sumatera Utara Manalu, Ance Ria; Nurhidayah, Rika Endah; Nasution, Siti Zahara
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.484

Abstract

Background: Nurse satisfaction should be the main concern of hospital management so that nurses can work effectively in providing services. Nurses are the front line in services that are present 24 hours to accompany patients. Nurse satisfaction will have an impact on patient satisfaction as recipients of health services. Purpose:  To analyze the relationship between work motivation and nurses' job satisfaction. Method: Quantitative analytical research with a cross sectional approach, conducted at the Sidikalang Regional General Hospital on 89 nurses, samples were taken using a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire and data tabulation using a Likert scale.  Data analysis used univariate and bivariate Spearman Rank tests. Results: Most of the respondents' work motivation fell into the sufficient category, namely 75.3% and the relationship between work motivation and satisfaction obtained p-value=0.002 with r=0.329. Conclusion: There is a significant relationship between nurses' work motivation and nurses' job satisfaction. Suggestion: Further research needs to be carried out regarding the relationship and influence of work motivation on nurses' job satisfaction with more specific factors.   Keywords: Job Satisfaction; Nurses; Work Motivation.   Pendahuluan: Kepuasan perawat seharusnya menjadi hal utama yang menjadi perhatian manajemen rumah sakit agar perawat bisa bekerja dengan efektif dalam pelayanan. Perawat merupakan garda terdepan dalam pelayanan yang hadir 24 jam mendampingi pasien. Kepuasan perawat akan berdampak kepada kepuasan pasien sebagai penerima layanan kesehatan.   Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang kepada 89 perawat, sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan pengukuran skala likert.  Analisa data menggunakan univariat dan bivariat uji Rank Spearman. Hasil: Motivasi kerja responden sebagian besar masuk ke kategori cukup yaitu sebanyak 75.3% dan hubungan motivasi kerja terhadap kepuasan mendapatkan p value=0.002 dengan nilai r=0.329. Simpulan: Motivasi kerja perawat memiliki pengaruh cukup kuat terhadap kepuasan kerja yang berdampak pada pelayanan kesehatan. Saran: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan dan pengaruh motivasi kerja terhadap kepuasan kerja perawat dengan faktor yang lebih spesifik.   Kata Kunci: Kepuasan Kerja; Motivasi Kerja; Perawat.  
Faktor-faktor yang berhubungan dengan hardiness perawat di rumah sakit: A literature review Syafni, Syafni; Bayhakki, Bayhakki; Lestari, Widia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.490

Abstract

Background: Hardiness or mental resilience is an individual's ability to manage, overcome, reduce and survive stress or unpleasant conditions in life. The task of nurses in nursing practice is to provide nursing care to overcome both physical and psychological problems of patients, requiring a strong nurse personality and good work resilience. Purpose: To determine the factors associated with the hardiness of nurses working in hospitals. Method: Literature review research uses the PICO (Population/problem) method in searching for articles. The inclusion criteria for articles were that they were published in 2019-2023, had full text available, in Indonesian or English, and used quantitative or qualitative research methods carried out on nurses working in hospitals. The keywords used for the search were "hardiness, nurse, hospital". Searching articles through the Google Scholar and ProQuest databases, found 10 articles. Results: The results of the analysis showed factors that were associated with hardiness in nurses who worked in hospitals were family social support, nurse reliability, leadership, work experience, hardiness also associated with work stress, emotional labor, and nurse burnout. Conclusion: Hardiness is related to work stress, family social support, and is related to nurse resilience. In addition, it can reduce the impact of emotional labor, affect the occurrence of burnout, and is also influenced by leadership and dealing with work situations such as a pandemic outbreak.   Keyword: Hardiness; Hospital; Nurse.   Pendahuluan: Hardiness atau ketahanan mental adalah kemampuan individu dalam mengelola, mengatasi, mengurangi, dan bertahan dari stres atau kondisi yang tidak menyenangkan dalam hidup. Tugas perawat dalam praktek keperawatan yaitu melakukan asuhan keperawatan untuk mengatasi masalah baik fisik maupun psikologis dari pasien, membutuhkan kepribadian perawat yang kuat serta ketahanan kerja yang baik. Tujuan: Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan hardiness pada perawat yang bekerja di rumah sakit. Metode: Penelitian studi literature review menggunakan metode PICO (Population/problem) dalam mencari artikel. Kriteria inklusi artikel adalah diterbitkan tahun 2019-2023, tersedia full text, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, dan menggunakan metode penelitian kuantitatif atau kualitatif dilakukan terhadap perawat yang bekerja di rumah sakit. Kata kunci yang digunakan untuk pencarian adalah “hardiness, perawat, rumah sakit, nurse, hospital”. Penelusuran artikel melalui database Google Scholar dan ProQuest, ditemukan sebanyak 10 artikel. Hasil: Faktor yang hubungan dengan hardiness pada perawat yang bekerja di rumah sakit adalah dukungan sosial keluarga, resiliensi perawat, kepemimpinan, pengalaman kerja, hardiness juga berhubungan dengan stres kerja, emotional labor, burnout perawat Simpulan: Hardiness berhubungan dengan stress kerja, dukungan sosial keluarga, dan berhubungan dengan resiliensi perawat. Selain itu, dapat mengurangi dampak dari emotional labor, berpengaruh terhadap terjadinya burnout, dan dipengaruhi juga oleh kepemimpinan serta menghadapi situasi kerja seperti adanya wabah pandemi.   Kata Kunci: Ketahanan; Perawat; Rumah Sakit.  
Gambaran perilaku agresif pada siswa SMA di Medan Sumatera Utara Wulantari, Masrina Naomi; Nasution, Siti Saidah; Daulay, Wardiyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.498

Abstract

Background: Adolescence is a period of individual change, marked by physical and emotional or psychological changes. Emotional changes and psychological development during adolescence cause individuals to become curious about their surroundings, and vulnerable in distinguishing between good and bad. This period is often referred to as a critical period and a period of rebellion, due to emotional changes and psychological development, aggressive behavior will emerge in adolescents which can cause problems in establishing interpersonal relationships. Purpose: To identify aggressive behavior in high school students. Method: Quantitative descriptive research, conducted at Methodist High School Medan in April-May 2024. The independent variable in this study is aggressive behavior. The sampling technique used purposive sampling and the Slovin formula, the number of samples used was 26 respondents. Univariate data analysis was in the form of frequency distribution. Results: Most respondents were dominated by women as many as 16 respondents (61.5%). Most respondents were the first child as many as 11 (42.3%) and lived with their parents as many as 15 (57.7%). Most of the respondents' parents had completed secondary education, as many as 16 (61.5%) and 15 (57.7%) respectively. Most of the respondents' fathers and mothers worked as skilled workers, as many as 21 (80.8%) and 13 (50%) respectively. The respondents' aggressive behavior was included in the high category as many as 17 (65.4%). Conclusion: Adolescent girls, living with parents, first-born children, and adolescents whose parents have secondary education and whose parents work as skilled workers have high levels of aggression.   Keywords: Adolescents; Aggressive Behavior; High School Students.   Pendahuluan: Masa remaja adalah masa terjadinya perubahan individu, ditandai dengan adanya perubahan fisik dan emosi atau psikologis. Perubahan emosi dan perkembangan psikis dalam masa remaja menyebabkan individu menjadi ingin tahu tentang lingkungan di sekitarnya, sekaligus menjadi rentan dalam membedakan baik dan buruk suatu hal. Mas ini sering disebut pula sebagai masa kritis dan masa memberontak, akibat perubahan emosi dan perkembangan psikis, akan muncul perilaku agresif pada remaja yang dapat menyebabkan terjadinya masalah dalam menjalin hubungan interpersonal. Tujuan: Untuk mengidentifikasi perilaku agresif pada siswa SMA. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif, dilakukan di SMA Methodist 1 Medan pada bulan April-Mei 2024. Variabel independen dalam penelitian ini adalah perilaku agresif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan rumus slovin, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 26 responden. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebagian besar didominasi oleh perempuan sebanyak 16 responden (61.5%). Mayoritas responden adalah anak pertama sebanyak 11 (42.3%) tinggal bersama orangtua sebanyak 15 (57.7%). Sebagian besar orang tua responden menamatkan pendidikan tingkat menengah, masing-masing sebanyak 16 (61.5%) dan 15 (57.7%). Sebagian besar pekerjaan ayah dan ibu responden sebagai tenaga kerja terlatih, masing-masing sebanyak 21 (80.8%) dan 13 (50%). Perilaku agresif responden termasuk dalam kategori tinggi sebanyak 17 (65.4%). Simpulan: Remaja berjenis kelamin perempuan, tinggal bersama orangtua, anak pertama, dan remaja yang memiliki orangtua dengan pendidikan menengah serta orang tua yang bekerja sebagai tenaga kerja terlatih memiliki tinggi agresif yang tinggi.   Kata Kunci: Emosi; Perilaku Agresif; Remaja; Siswa/i SMA.
Dukungan keluarga terhadap kepatuhan gaya hidup sehat penderita hipertensi Ajul, Keristina; Windahandayani, Veroneka Yosefpa; Surani, Vincencius; Pranata, Lilik
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.520

Abstract

Background: Hypertension is an increase in systolic blood pressure above 140 mmHg and an increase in diastolic blood pressure above 90 mmHg. Lifestyle determines the survival of hypertension sufferers, non-compliance with treatment or a healthy lifestyle can worsen the signs and symptoms of hypertension. The family is one of the supporting factors, determining whether a person with hypertension can live a healthy life. Purpose: To determine the relationship between family support and adherence to a healthy lifestyle in patients with hypertension. Method: Cross sectional correlational descriptive research was conducted on patients with hypertension in the Palembang Social Health Center working area with 57 respondents. The sampling technique uses purposive sampling.  The independent variable is family support, while the dependent variable is compliance to a healthy lifestyle. The instrument used was a questionnaire and data analysis used univariate and bivariate with the Kendall Tau-b test. Results: Respondents who received sufficient family support had 11 (61.1%) compliance to a healthy lifestyle category, while 20 (66.7%) had sufficient family support with healthy lifestyle compliance in the less category, and respondents who were unsupported by their families had a non-compliance with a healthy lifestyle of 6 (66.7%). Obtained p-value 0.001 (<0.05) with a close relationship of 0.430 and a positive direction. Conclusion: There is a significant relationship between family support and compliance to a healthy lifestyle. The better the support provided, the more compliance of patients with hypertension will be to a healthy lifestyle and vice versa. Suggestion: The importance of increasing family support in efforts to maintain compliance to a healthy lifestyle in patients with hypertension. Educational interventions for families and patients with hypertension can be carried out by health workers to increase understanding and skills in living a healthy lifestyle.   Keywords: Family Support; Healthy Lifestyle Compliance; Patient with Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan peningkatan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Gaya hidup menentukan keberlangsungan hidup dari penderita hipertensi, tidak patuh terhadap pengobatan maupun gaya hidup sehat dapat memperparah tanda dan gejala hipertensi. Keluarga merupakan salah satu faktor pendukung, menentukan kepatuhan seseorang penderita hipertensi menjalani hidup sehat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pola hidup sehat pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian deskriptif korelasional cross sectional, dilakukan pada penderita hipertensi di wilayah Kerja Puskesmas Sosial Palembang sebanyak 57 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.  Variabel independen yaitu dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan gaya hidup sehat. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan analisis data menggunakan univariat dan bivariat dengan uji Kendall Tau-b. Hasil: Responden yang mendapat dukungan keluarga yang cukup memiliki kepatuhan gaya hidup sehat kategori patuh sebanyak 11 (61.1%), sedangkan dukungan keluarga yang cukup dengan kepatuhan gaya hidup sehat kategori kurang sebanyak 20 (66.7%), dan untuk dukungan keluarga yang buruk dengan kepatuhan gaya hidup sehat kategori tidak patuh sebanyak 6 (66.7%). Didapatkan p-value 0.001 (<0.05) dengan keeratan hubungan 0.430 dan arah yang positif. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan gaya hidup sehat. Semakin baik dukungan yang diberikan, maka akan semakin patuh seorang penderita hipertensi melakukan gaya hidup sehat dan sebaliknya. Saran: Pentingnya peningkatan dukungan keluarga dalam upaya menjaga kepatuhan gaya hidup sehat pada penderita hipertensi. Intervensi edukasi bagi keluarga dan penderita hipertensi dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menjalankan pola hidup sehat.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Kepatuhan Gaya Hidup Sehat; Penderita Hipertensi.
Efektivitas stimulasi fisik terhadap reflek hisap neonatal hyperbilirubinemia di bawah fototerapi: A literature review Veronika, Ika Bayu Septi; Nani, Desiyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.554

Abstract

Background: Hyperbilirubinemia is the level of bilirubin in the blood and body tissues of infants that exceeds the normal limit. This condition is not dangerous, but prevention, detection and management of hyperbilirubinemia in newborns remains a priority to reduce the neurotoxic effects of bilirubin, both short and long term including the possibility of severe hyperbilirubinemia. To determine the fulfillment of fluid needs in neonates, hyperbilirubinemia is related to the sucking reflex in the neonate itself. Purpose: To determine the effectiveness of physical stimulation on the sucking reflex in neonates with hypobilirubinemia undergoing phototherapy. Method: Literature review research sourced from national and international journals with a search strategy using the Google Scholar, BMC, Sage Journal, and ScienceDirect databases published in the last 10 years. Results: Non-invasive physical therapy stimulation has many benefits and does not require special equipment in its implementation. This stimulation is effective in increasing the sucking reflex in hyperbilirubinous neonates undergoing phototherapy which is characterized by a decrease in bilirubin levels. Conclusion: Physical stimulation can increase the sucking reflex in hyperbilirubinous neonates undergoing phototherapy.   Keywords: Hyperbilirubinemia Neonatal; Physical Stimulation; Sucking Reflex.   Pendahuluan: Hiperbilirubinemia merupakan kadar bilirubin dalam darah dan jaringan tubuh bayi yang melebihi batas normal. Kondisi ini tidak berbahaya, namun upaya pencegahan dan deteksi serta penatalaksanaan hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir tetap menjadi prioritas untuk mengurangi efek neurotoksik bilirubin, baik jangka pendek maupun jangka panjang termasuk kemungkinan hiperbilirubinemia berat. Memastikan terpenuhinya kebutuhan cairan pada neonatus, hiperbilirubinemia berkaitan dengan refleks hisap pada neonatus itu sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas stimulasi fisik terhadap refleks menghisap pada neonatus dengan hipobilirubinemia yang menjalani fototerapi. Metode: Penelitian tinjauan literatur yang bersumber pada jurnal nasional maupun internasional dengan strategi pencarian menggunakan database Google scholar, BMC, Sage Journal, dan ScienceDirect terbitan 10 tahun terakhir. Hasil: Stimulasi fisik terapi non-invasif memiliki banyak manfaat dan tidak memerlukan peralatan khusus dalam pelaksanaannya. Stimulasi tersebut efektif meningkatkan refleks menghisap pada neonatus hiperbilirubinosa yang menjalani fototerapi yang ditandai dengan penurunan kadar bilirubin. Simpulan: Stimulasi fisik dapat meningkatkan refleks menghisap pada neonatus hiperbilirubinosa yang menjalani fototerapi. Kata Kunci: Hiperbilirubinemia Neonatal; Stimulasi Fisik; Refleks Hisap.
Tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan ulkus diabetikum pada pasien diabetes mellitus Putri, Bunga Cahaya; Purwanti, Okti Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.559

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by high blood glucose levels, caused by irregular insulin production, function, or response. However, there are shortcomings in the management of diabetes in underdeveloped countries, especially the complications that arise from this disease. Diabetic ulcers are the most common complication of diabetes. Increasing the understanding of individuals with diabetes can help prevent diabetic foot ulcers. Purpose: To determine the level of diabetes knowledge with efforts to prevent diabetic ulcers in patients with diabetes mellitus. Method: A descriptive quantitative correlational study with a cross-sectional design conducted at the Pajang Surakarta Health Center on 61 respondents diagnosed with diabetes mellitus. The instruments used were the Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) to assess diabetes knowledge consisting of 24 questions and a questionnaire on diabetic ulcer prevention efforts consisting of 17 questions. Data analysis used univariate and bivariate through the Spearman Rank correlation coefficient test. Results: The majority of respondents were female, aged between 56-65 years, had a high school education, worked as housewives, and had been diagnosed with diabetes mellitus for 1-5 years. Statistical analysis using the Spearman Rho test showed a significant relationship (p = 0.012) <0.05 between knowledge of diabetes and ulcer prevention efforts. Conclusion: There is a relationship between the level of diabetes knowledge and the level of efforts made to avoid diabetic ulcers in people with diabetes mellitus. Suggestion: People with diabetes mellitus are advised to manage their blood sugar levels, perform good foot care, and do foot exercises to avoid diabetic ulcers. Health care organizations have the ability to provide education through health education. Keywords: Diabetes Mellitus; Diabetic Ulcers; Knowledge.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah, diakibatkan oleh ketidakteraturan produksi, fungsi, atau respon insulin. Namun demikian, terdapat kekurangan dalam menangani diabetes di negara-negara terbelakang, terutama komplikasi yang timbul dari penyakit ini. Ulkus diabetikum adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada diabetes. Meningkatkan pemahaman tentang individu dengan diabetes dapat membantu mencegah terjadinya ulkus kaki diabetik. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat pengetahuan diabetes dengan upaya pencegahan ulkus diabetik pada pasien diabetes melitus. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dan desain cross sectional, dilakukan di Puskesmas Pajang Surakarta kepada 61 responden didiagnosis dengan diabetes melitus. Instrumen yang digunakan yaitu Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) untuk menilai pengetahuan diabetes terdiri dari 24 pertanyaan dan kuesioner upaya pencegahan ulkus diabetikum terdiri dari 17 pertanyaan. Analisis data yang digunakan univariat dan bivariat  melalui uji koefisien korelasi Rank Spearman. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, berusia antara 56-65 tahun, berpendidikan SMA, bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT), dan telah didiagnosis diabetes melitus selama 1-5 tahun. Analisis statistik menggunakan uji Spearman Rho, menunjukan adanya hubungan yang signifikan (p=0.012) < 0.05 antara pengetahuan tentang diabetes dan upaya pencegahan ulkus. Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan diabetes dan tingkat upaya yang dilakukan untuk menghindari ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus. Saran: Individu dengan diabetes melitus disarankan untuk mengelola kadar gula darah, mempraktikkan perawatan kaki yang baik, dan melakukan senam kaki untuk menghindari ulkus diabetes. Organisasi pelayanan kesehatan memiliki kemampuan untuk memberikan edukasi melalui pendidikan kesehatan.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Pengetahuan; Ulkus Diabetikum.

Page 11 of 11 | Total Record : 106