cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur mahasiswa semester akhir di Surakarta Khairunissa, Hatifa; Rahayu, Umi Budi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.347

Abstract

Background: Sleep disorders can happen to anyone at any time. As experienced by students, especially those who are expected to have high knowledge, skills and professionalism. High physical activity and psychological pressure can cause stress which leads to decreased sleep quality. Poor sleep quality causes a decrease in quality of life for students. Purpose: To determine the correlation between physical activity and sleep quality in final year students. Method: Observational quantitative research with correlational methods. The sample taken consisted of final students who were completing their thesis. The sample size was determined using the Slovin Formula, with a minimum sample size of 163. Samples were selected based on inclusion and exclusion criteria. Physical activity was measured using IPAQ, while sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) which was filled in via Google form. Data analysis was carried out using the Product Moment Correlation Test using SPSS 25.00 with a confidence level of 95%. Results: Based on analysis using Pearson Correlation, it was found that there was a significant relationship between Physical Activity and Sleep Quality (p = 0.016, p < 0.05). However, the correlation coefficient value of 0.189 indicates that the relationship between the two is weak. Conclusion: There is a significant correlation between physical activity levels and sleep quality in final year students.   Keywords: Final Year Students; Physical Activity; Sleep Quality.   Pendahuluan: Gangguan tidur bisa menimpa siapa pun dan kapan pun. Seperti yang dialami oleh mahasiswa, terutama mereka yang diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan dan profesionalisme yang tinggi. Aktivitas fisik tinggi dan tekanan psikologis dapat menyebabkan stres yang berujung pada penurunan kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk menyebabkan penurunan kualitas hidup pada mahasiswa. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada mahasiswa tingkat akhir. Metode: Penelitian kuantitatif observasional dengan metode korelasional. Sampel yang diambil terdiri dari mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsi. Besar sampel ditentukan menggunakan Rumus Slovin, dengan hasil minimum sampel sebanyak 163. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran aktivitas fisik menggunakan IPAQ, sedangkan kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang diisi melalui google formulir. Analisis data dilakukan dengan Uji Korelasi Product Moment menggunakan SPSS 25.00 dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Berdasarkan analisis menggunakan Pearson Correlation, ditemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara Aktivitas Fisik dan Kualitas Tidur (p = 0.016, p < 0.05). Namun, nilai koefisien korelasi sebesar 0.189 menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya bersifat lemah. Simpulan: Terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan kualitas tidur pada mahasiswa tingkat akhir.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Kualitas Tidur; Mahasiswa Tingkat Akhir.  
Tingkat dukungan keluarga terhadap efikasi diri pada penderita gagal jantung Pramesti, Diah Endah; Kristinawati, Beti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.352

Abstract

Background: Heart failure is a chronic disease that requires long-term treatment. Chronic health problems cause sufferers to feel isolated due to limited mobility, thereby reducing or eliminating the ability to interact or contribute meaningfully to society. Care for heart failure sufferers requires family support so that the patient's self-efficacy is high to maintain survival. Self-efficacy in coronary patients has been studied to determine its relevance to the behaviors involved in heart failure rehabilitation. Family support includes being a caregiver for the patient in self-care, influencing the patient's self-efficacy where the family acts as a motivator for emotional support, empathy, and information about the patient's health in improving the quality of life. Purpose: To determine the relationship between family support and self-efficacy in heart failure sufferers. Method: This research design used a correlational descriptive design with a cross-sectional approach to analyze the relationship between family support and self-efficacy in heart failure sufferers. In this study the population were heart failure patients who underwent control at the Heart Polyclinic, Sebelas Maret University Hospital in the January-August 2023 period, totaling 644 patients. The sampling technique in this study used nonprobability sampling with the accidental sampling method, the sample size was calculated using the Slovin formula with a total of 270 patients. Results: There is a relationship between family support and self-efficacy in heart failure sufferers which shows a strong correlation (r=0.685) and a significant value (p-value) of 0.000. Conclusion: Family support is needed by heart failure sufferers to increase their self-efficacy. Suggestion: It is recommended for health workers to involve families in efforts to increase self-efficacy in heart failure sufferers because respondents who receive high family support tend to have high self-efficacy. Self-efficacy can increase if emotional and physiological conditions are good. If self-efficacy increases, a good level of independence will be obtained, so that with good self-efficacy, heart failure sufferers are able to make optimal decisions in maintaining their health.   Keywords: Family Supports; Heart Failure; Self-Efficacy.   Pendahuluan: Gagal jantung termasuk penyakit kronis yang memerlukan perawatan jangka panjang. Masalah kesehatan kronis mengakibatkan penderita merasa terisolasi karena mobilitas terbatas, sehingga mengurangi atau menghilangkan kemampuan untuk berinteraksi atau berkontribusi secara bermakna kepada masyarakat. Perawatan penderita gagal jantung memerlukan dukungan keluarga agar efikasi diri pasien tinggi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Efikasi diri pada pasien koroner telah dipelajari untuk menentukan relevansinya dengan perilaku yang terlibat dalam rehabilitasi gagal jantung. Dukungan keluarga diantaranya sebagai pengasuh pasien dalam perawatan diri, mempengaruhi efikasi diri pasien dimana keluarga berperan sebagai motivator pendukung emosional, empati, dan informasi akan kesehatan pasien dalam peningkatan kualitas hidup. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan efikasi diri pada penderita gagal jantung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan efikasi diri pada penderita gagal jantung. Populasi pada penelitian ini adalah data rata-rata pasien gagal jantung yang melakukan kontrol di Poliklinik Jantung Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) pada periode Januari-Agustus 2023 berjumlah 644 pasien. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan nonprobability sampling dengan metode accidental sampling, besar sampel diperhitungkan menggunakan rumus Slovin dengan total berjumlah 270 pasien. Hasil: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri pada penderita gagal jantung yang menunjukkan korelasi yang kuat (r=0.685) dan nilai signifikan (p-value) sebesar 0.000. Simpulan: Dukungan keluarga dibutuhkan oleh penderita gagal jantung untuk meningkatkan efikasi dirinya. Saran: Bagi tenaga kesehatan agar mengikutsertakan keluarga dalam upaya peningkatan efikasi diri pada penderita gagal jantung karena responden yang memperoleh dukungan keluarga tinggi cenderung mempunyai efikasi diri yang tinggi. Efikasi diri dapat meningkat apabila kondisi emosional dan fisiologisnya baik. Jika efikasi diri meningkat akan didapatkan tingkat kemandirian yang baik, sehingga dengan efikasi diri yang baik penderita gagal jantung mampu mengambil keputusan secara maksimal dalam menjaga kesehatannya.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Efikasi Diri; Gagal Jantung.
Faktor yang berhubungan dengan perilaku diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS Purwanto, Edi; Afriyanti, Siti Nur Laily
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.367

Abstract

Background: One of the obstacles in preventing and dealing with HIV/AIDS is the emergence of discriminatory behavior from the community towards sufferers. This discriminatory behavior causes unreasonable and unfair actions towards HIV/AIDS sufferers. Purpose: To determine the factors associated with discriminatory behavior towards HIV/AIDS sufferers. Method: Cross-sectional research design using data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey with Chi Square bivariate data analysis and multivariate analysis using logistic regression. The sample used in this study was 10.006 respondents. The independent variables in this study were age, gender, education level, place of residence, wealth index, employment status, exposure to information media, and level of knowledge. Results: Approximately 78.3% of respondents have discriminatory behavior towards HIV/AIDS sufferers. Factors related to discriminatory behavior towards HIV/AIDS sufferers are education level, place of residence, wealth index, employment status, exposure to information media, and level of knowledge. Logistic regression test showed that respondents with good knowledge about HIV (OR= 1.651.378; 95% CI= 939.611-2.902.318), exposure to information media (OR= 723.320; 95% CI= 397.847-1.315.057), and low education level (OR= 3.534; 95% CI= 1.316-9.486) are more at risk of discriminatory behavior than others. Conclusion: Discriminatory behavior towards HIV/AIDS sufferers is still high. This condition is influenced by several factors including place of residence, wealth index, and employment status. The most dominant variables influencing discriminatory behavior towards HIV/AIDS sufferers are education level, exposure to information media, and knowledge level. Meanwhile, there is no significant relationship between age and gender. Suggestion: Health workers should always actively approach the community by increasing counseling and socialization activities regarding HIV/AIDS so that the community gets correct and clear information about HIV/AIDS, so that it can reduce the stigma and discrimination that occurs towards HIV/AIDS sufferers.   Keywords: Discriminatory Behavior; HIV/AIDS; People with HIV/AIDS.   Pendahuluan: Salah satu hambatan dari usaha pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS adalah munculnya perilaku diskriminasi dari masyarakat terhadap penderita. Perilaku diskriminasi tersebut menyebabkan tindakan yang tidak wajar dan tidak adil terhadap orang dengan HIV/AIDS. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS. Metode: Desain penelitian cross sectional menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 dengan analisis data bivariat Chi Square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10.006 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tempat tinggal, indeks kekayaan, status pekerjaan, keterpaparan media informasi, dan tingkat pengetahuan. Hasil: Sekitar 78.3% responden memiliki perilaku diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS. Didapatkan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS adalah tingkat pendidikan, tempat tinggal, indeks kekayaan, status pekerjaan, keterpaparan media informasi, dan tingkat pengetahuan. Uji regresi logistik menunjukkan responden dengan tingkat pengetahuan baik tentang HIV (OR= 1.651.378; 95% CI= 939.611-2.902.318), keterpaparan media informasi (OR= 723.320; 95% CI= 397.847-1.315.057), dan tingkat pendidikan rendah (OR= 3.534; 95 % CI= 1.316-9.486) lebih berisiko terhadap perilaku diskriminasi dibandingkan lainnya. Simpulan:  Perilaku diskriminasi terhadap ODHA masih tinggi, kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain tempat tinggal, indeks kekayaan, dan status pekerjaan. Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap perilaku diskriminasi terhadap ODHA adalah variabel tingkat pendidikan, keterpaparan media informasi, dan tingkat pengetahuan. Sementara variabel usia dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan. Saran: Bagi petugas kesehatan agar selalu aktif melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan meningkatkan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi mengenai penyakit HIV/AIDS, agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan jelas terkait penyakit HIV/AIDS, sehingga dapat mengurangi stigma dan diskriminasi yang terjadi terhadap ODHA.   Kata Kunci: HIV/AIDS; Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA); Perilaku Diskriminasi.
Hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap perkembangan bayi: A systematic literature review Afrida, Risdania Rifqa; Sulistyorini, Yuly
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.369

Abstract

Background: The highest rate of exclusive breastfeeding occurs in newborn babies, reaching 67%. However, this figure decreases to 55% in babies aged two to three months, and falls again to 38% in babies aged four to five months. Exclusive breast milk is the practice of giving breast milk to babies alone, without additional food or other drinks, during the first six months of life. Apart from rapid physical growth, articulation and psychomotor development also occurs quickly. Breast milk is the main food/nutrient at this time. The first 4 months of a baby's life are the optimal way to provide nutrition to the baby. Purpose: To examine the relationship between exclusive breastfeeding and infant development. Method: Literature review using the PRISMA method. Data was obtained from ScienceDirect with the inclusion criteria of articles from the last 5 years, research article type, and English language. Results: Exclusive breastfeeding (EBF) has a positive relationship with baby development. These findings show that babies who receive EBF have normal body weight, height according to growth standards, and achieve better motor skills. Conclusion: This literature review provides evidence that babies who receive EBF have normal body weight, height according to growth standards, and achieve better motor achievements.   Keywords: Baby Development; Exclusive Breastfeeding.   Pendahuluan: Tingkat pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif paling tinggi terjadi pada bayi yang baru lahir, mencapai 67%. Namun, angka ini menurun menjadi 55% pada bayi usia dua hingga tiga bulan, dan kembali turun menjadi 38% pada bayi usia empat hingga lima bulan. ASI eksklusif adalah praktik pemberian ASI kepada bayi secara tunggal, tanpa tambahan makanan atau minuman lainnya selama enam bulan pertama kehidupan. Selain pertumbuhan fisik yang berlangsung pesat, kemajuan psikomotor juga terjadi dengan cepat. ASI merupakan makanan utama/zat gizi pada masa ini. 4 bulan pertama dalam kehidupan bayi adalah cara optimal dalam pemberian nutrisi kepada bayi. Tujuan: Untuk mengkaji hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap perkembangan bayi. Metode: Kajian literatur dengan menggunakan metode PRISMA. Data diperoleh dari ScienceDirect dengan kriteria inklusi artikel 5 tahun terakhir, berjenis artikel penelitian, dan berbahasa Inggris. Hasil: Pemberian ASI eksklusif (EBF) memiliki hubungan positif dengan perkembangan bayi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan EBF memiliki berat badan yang normal, tinggi badan sesuai standar pertumbuhan, dan mencapai pencapaian motorik yang lebih baik. Simpulan: Bayi yang mendapatkan EBF memiliki berat badan yang normal, tinggi badan sesuai standar pertumbuhan, dan mencapai pencapaian motorik yang lebih baik. Kata Kunci: ASI Eksklusif; Perkembangan Bayi.
Hubungan neuropati diabetik dengan kualitas tidur pada penderita diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Bendosari Sukoharjo Trifa, Heningdyah Sekar; Purwanti, Okti Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.371

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder caused by the inability of the pancreas to use insulin effectively. Diabetes mellitus is known as a silent killer which sufferers often do not realize. Patients realize when complications have been discovered. Diabetic neuropathy is a complication or advanced disease that occurs most often and is faced by diabetes mellitus sufferers. Symptoms of neuropathy include burning sensations, vibrations and pain in oneself which is more at night and disrupts the sufferer's sleep patterns. Purpose: To determine the relationship between diabetic neuropathy and sleep quality in people with diabetes mellitus. Method: Quantitative research with correlational design on neuropathy in 63 DM patients at Bendosari Sukoharjo Health Center. The research instruments used were the Toronto Clinical Scoring System (TCSS) questionnaire consisting of 15 questions to measure the level of diabetic neuropathy and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire consisting of 19 questions to measure sleep quality. Data analysis used univariate and bivariate Spearman Rho statistical tests to determine the relationship between the two variables. Results: The majority of respondents were male, aged 51-60 years, worked as farmers, suffered for 1-5 years, had blood sugar levels ≥200 mg/dL, underwent treatment with antidiabetic drugs, did not experience neuropathy, and had good sleep quality. The Spearman Rho test showed a p-value of 0.00 (<α 0.05). This indicates a relationship between diabetic neuropathy and sleep quality in DM patients. Conclusion: There is a significant relationship between diabetic neuropathy and sleep quality in DM patients as indicated by the results of the correlation test p-value 0.000 (<0.05). Suggestion: DM patients with diabetic neuropathy should check their blood sugar levels regularly and control them periodically, undergo regular diabetic neuropathy therapy to control symptoms of diabetic neuropathy pain and optimize quality of life.   Keywords: Diabetes Mellitus; Diabetic Neuropathy; Sleep Quality.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolisme jangka panjang yang disebabkan oleh ketidakmampuan pankreas untuk memanfaatkan insulin dengan efektif. Penyakit ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya dan dikenal sebagai pembunuh diam-diam. Penderita baru menyadari kondisi mereka saat komplikasi sudah muncul. Salah satu komplikasi yang umum dan sering dialami oleh penderita DM adalah neuropati diabetik. Gejalanya meliputi sensasi terbakar, getaran, dan nyeri pada tubuh, terutama lebih terasa pada malam hari yang dapat mengganggu pola tidur penderita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara neuropati diabetik dengan kualitas tidur pada penderita DM. Metode: Penelitian kuantitatif desain korelasional neuropati terhadap 63 penderita diabetes melitus di Puskesmas Bendosari Sukoharjo. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Toronto Clinical Scoring System (TCSS) yang terdiri dari 15 pertanyaan untuk mengukur tingkat neuropati diabetik dan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang terdiri dari 19 pertanyaan untuk mengukur kualitas tidur. Analisis data menggunakan univariat dan bivariate uji statistik Spearman Rho untuk menguji hubungan antara dua variabel. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berusia 51-60 tahun, bekerja sebagai petani, menderita DM selama 1-5 tahun, memiliki gula darah ≥200mg/dL, pengobatan dengan obat antidiabetes, dan tidak ada neuropati serta memiliki kualitas tidur baik. Uji Spearman Rho menunjukkan bahwa nilai p adalah 0.00 (<α 0.05). Hal ini mengindikasikan adanya hubungan antara neuropati diabetik dan kualitas tidur pada penderita DM. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara neuropati diabetik dengan kualitas tidur pada penderita DM, ditunjukkan dengan hasil uji korelasi p-value 0.000 (< 0.05). Saran: Penderita DM dengan neuropati diabetik agar melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur dan mengontrolnya secara berkala, menjalani terapi neuropati diabetik secara rutin guna mengendalikan gejala nyeri neuropati diabetik dan mengoptimalkan kualitas hidup.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kualitas Tidur; Neuropati Diabetik.
Efektivitas penerapan bimbingan konseling islami mengatasi mental korban bullying pada siswa sekolah menengah pertama Elvin, Said Devi; Sufri, Sofyan; Isneini, Isneini; Mawarpury, Marty; Fithria, Fithria
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.372

Abstract

Background: Bullying in the school environment causes students to feel depressed and not want to go to school, which leads to depression, anxiety, stress and suicidal behavior. Purpose: To analyze the effectiveness of the application of Islamic counseling guidance in overcoming the mental condition of bullying victims in junior high school students. Method: Quasi-experiment with a control group was used in three junior high schools in Banda Aceh City. Bullying conditions among students at the research location were selected through screening and determining the sample size based on power analysis with a medium effect size, power (0.08), 95% confidence level and alpha 0.05. The total sample was 192 students divided into three groups, namely the Islam-based intervention group (n=64), the health-based intervention group (n=64) and the control group (n=64). The three groups were evaluated at baseline (pre-test), one week after the intervention (post test 1) and 1 week after post-test 1 (post-test 2) using The Olweus Bully Victim Questionnaire and Depression Anxiety and Stress Scales - Youth version (DASS-Y). The intervention was carried out using face-to-face guidelines. Results: Shows that the Islam-based group experienced a decrease in bullying behavior (p=0.000), stress (p=0.014), anxiety (p =0.014) and depression (p =0.014) after the intervention. Between the Islam-based group, health-based group and control group there were significant differences after one week of intervention (post-test 1) in the conditions of bullying (p =0.000), stress (p =0.002), anxiety (p = 0.030) and depression (p = 0.006). The same thing also happened after one week post-test 1 (post-test 2), where there were significant differences in the conditions of bullying (p =0.000), stress (P=0.000), anxiety (p =0.006) and depression (p = 0.001). Conclusion: The bullying prevention program has a significant influence on the incidence of bullying or psychological disorders. Islamic-based bullying prevention has been proven to be effective in reducing bullying incidents and improving psychological status.   Keywords: Guidance and Counseling; Bullying; Islam; Students; Victim Mentality.   Pendahuluan: Bullying di lingkungan sekolah menimbulkan perasaan depresi pada siswa dan tidak ingin bersekolah sehingga berujung pada depresi, kecemasan, stres dan perilaku bunuh diri. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas penerapan bimbingan konseling islami mengatasi mental korban bullying pada siswa sekolah menengah pertama. Metode: Quasi eksperimen dengan kelompok kontrol digunakan di tiga SMP di Kota Banda Aceh. Kondisi bullying di kalangan pelajar di lokasi penelitian dipilih melalui screening dan penentuan jumlah sampel berdasarkan analisis kekuatan dengan effect size sedang, power (0.08), tingkat kepercayaan 95% dan alpha 0.05. Jumlah sampel sebanyak 192 siswa yang terbagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok intervensi berbasis Islam (n=64), kelompok intervensi berbasis kesehatan (n=64) dan kelompok kontrol (n=64). Ketiga kelompok tersebut dievaluasi pada awal (pre-test), satu minggu setelah intervensi (post test 1) dan 1 minggu setelah post-test 1 (post-test 2) menggunakan The Olweus Bully Victim Questionnaire dan Depression Anxiety and Stress Scales - Youth version (DASS- Y). Intervensi dilakukan dengan menggunakan pedoman yang dilakukan secara tatap muka. Hasil: Menunjukkan bahwa kelompok berbasis Islam mengalami penurunan perilaku bullying (p=0.000), stres (p=0.014), kecemasan (p=0.014), dan depresi (p=0.014) setelah dilakukan intervensi. Antara kelompok berbasis Islam, kelompok berbasis kesehatan, dan kelompok kontrol terdapat perbedaan yang signifikan setelah satu minggu intervensi (post-test 1) pada kondisi bullying (p=0.000), stres (p=0.002), kecemasan (p= 0.030) dan depresi (p= 0.006). Hal serupa juga terjadi setelah satu minggu post-test 1 (post-test 2), terdapat perbedaan yang signifikan pada kondisi bullying (p=0.000), stress (p=0.000), kecemasan (p=0.006), dan depresi (p= 0.001). Simpulan: Program konseling bullying memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian bullying ataupun gangguan psikologis. Konseling bullying berbasis Islami terbukti efektif mengurangi kejadian bullying dan meningkatkan status psikologis.   Kata Kunci: Bimbingan Konseling; Bullying; Islami; Mental Korban; Siswa.
Peran dukungan orang tua, guru, dan teman sejawat terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi dan sikap terhadap penyakit menular seksual pada pelajar putri Yurizali, Bun; Adhyka, Nurmaines; Aisyiah, Intan Kamala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.374

Abstract

Background: Adolescence is a transitional period marked by sexual maturity. At this time, direction and knowledge are needed to form good attitudes to prevent sexual deviations that lead to various kinds of sexual health problems. Purpose: To determine the relationship between the role of parental, teacher and peer support in improving reproductive health knowledge and attitudes towards sexually transmitted diseases in female students. Method: Quantitative research with an analytic and cross-sectional approach, implemented in an Integrated Modern Islamic Boarding School in X City in April-May 2023. The independent variables in this study are the role of teachers, parents, and peers, while the dependent variable is knowledge and attitude towards reproductive health. The sample technique used random sampling and the slovin formula, the number of samples used was 50 respondents. Univariate data analysis and bivariate statistical test using chi square test. Results:  The study showed that support from parents, teachers, and peers significantly improved adolescents' knowledge and attitudes about reproductive health. Some influential factors include the role of parents (p-value=0.001), the role of teachers (p-value=0.017) and peers (p-value=0.004). Conclusion: There is a relationship between knowledge and attitudes towards parental, teacher, and peer support for students' reproductive health in modern Islamic boarding schools. Good knowledge and attitudes of respondents will have an impact on better mental health.   Keyword: Adolescents; Peers; Reproductive Health; Role of Parents; Role of Teachers.   Pendahuluan: Masa remaja adalah masa peralihan yang ditandai dengan kematangan seksual. Masa ini dibutuhkan arahan dan pengetahuan agar membentuk sikap yang baik untuk mencegah penyimpangan seksual yang menjerumus keberbagai macam permasalahan kesehatan seksual. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peran dukungan orang tua, guru dan teman sejawat dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan sikap terhadap penyakit menular seksual pada pelajar putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik dan cross-sectional, dilakukan di Pesantren Modern Terpadu di kota X pada bulan April-Mei 2023. Variabel independen dalam penelitian ini adalah peran guru, orang tua, dan rekan sejawat, sedangkan variabel dependen adalah pengetahuan kesehatan reproduksi dan sikap terhadap penyakit menular seksual pada pelajar putri. Teknik sampel menggunakan random sampling dan rumus slovin, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 50 responden. Analisis data univariat dan bivariat uji statistik menggunakan uji chi square. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa dukungan orang tua, guru, dan teman sebaya signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi. Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain, peran orang tua (p-value=0.001), peran guru (p-value=0.017) dan teman sebaya (p-value=0.004). Simpulan: Adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap dukungan orang tua, guru dan teman sejawat dalam kesehatan reproduksi siswi di pesantren modern. Pengetahuan dan sikap responden yang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan mental yang lebih baik.   Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi; Peran Orang Tua; Peran Guru; Remaja; Teman Sejawat.
Pengetahuan ibu terkait stunting pada balita: A literature review Fikriya, Aeni; Mirwanti, Ristina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.375

Abstract

Background: Stunting is a problem in children due to malnutrition which can impact all aspects of a child's life, so mothers have an important role in preventing and overcoming stunting. Purpose: To describe the results of research findings regarding maternal knowledge regarding stunting. Method: Systematic literature review research on articles on mothers' knowledge about stunting that have been published in the 2019-2024 period, and articles in English or Indonesian with respondents from mothers who have children under 5 years of age. The article collection process was carried out through searching several bases and search engines including Scopus, PubMed, Google Scholar and Crossref, then arranged using the PRISMA diagram to record each stage of the literature search. The search results found 19 articles that met the inclusion criteria. Result: Maternal knowledge is one of the factors related to the incidence of stunting in toddlers. However, the research results found that mothers' knowledge of toddler stunting was still inadequate. This is influenced by a number of aspects including: age, level of education, profession, and access to information. Conclusion: Maternal knowledge regarding stunting is still said to be low, so there is a need for policies and interventions to increase maternal knowledge regarding stunting.   Keywords: Mother’s Knowledge; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting merupakan permasalahan pada anak akibat kekurangan gizi yang dapat berdampak pada seluruh aspek kehidupan anak, sehingga ibu mempunyai peran penting dalam mencegah dan mengatasi stunting. Tujuan: Untuk mendeskripsikan hasil temuan penelitian mengenai pengetahuan ibu mengenai stunting. Metode: Penelitian tinjauan literatur sistematis terhadap artikel pengetahuan ibu tentang stunting yang telah terpublikasi pada rentang tahun 2019-2024 dan artikel dalam bahasa Inggris atau Indonesia dengan responden ibu yang mempunyai anak usia dibawah 5 tahun. Proses pengumpulan artikel dilakukan melalui penelusuran beberapa basis dan mesin pencari antara lain; Scopus, PubMed, Google Scholar, dan Crossref, disusun menggunakan diagram PRISMA  dalam mencatat setiap tahapan pencarian literatur. Hasil penelusuran didapati 19 artikel yang masuk dalam kriteria inklusi. Hasil: Pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan insiden stunting pada balita. Namun, hasil penelitian menemukan bahwa pengetahuan ibu terhadap stunting balita masih kurang memadai. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah aspek meliputi: usia, tingkat pendidikan, profesi, serta akses menuju informasi. Simpulan: Pengetahuan ibu terkait stunting masih dikatakan rendah, sehingga perlu adanya kebijakan dan intervensi dalam meningkatkan pengetahuan ibu terkait stunting.   Kata Kunci: Balita; Pengetahuan Ibu; Stunting.
Hubungan tekanan darah dengan tingkat kecemasan pada pasien hipertensi Sunarti, Sunarti; Hulu, Indah Kristiani; Sitorus, Desi Natalia; Harefa, Arnudin; Syuhada, Muhammad Taufiq
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.403

Abstract

Background: Hypertension is defined as a condition of persistent blood pressure with systolic pressure ≥140/90 mmHg. One of the factors that can cause hypertension is the level of anxiety experienced by patients. Therapy is necessary for hypertensive patients to manage their anxiety, one of which is through back and foot massage therapy, as many patients feel fear when experiencing hypertension for the first time. Purpose: To determine the relationship between blood pressure and anxiety levels in hypertensive patients. Method: This research is a quantitative study with a cross-sectional design, using both primary and secondary data. Data collection was carried out using observation sheets and questionnaires. The total population of this study consisted of 113 patients, with 30 respondents selected as the research sample. The sampling technique used was accidental sampling. The tool used to measure the patients' anxiety levels was a questionnaire with an ordinal scale. Data analysis was conducted univariately and bivariately, with the presentation of data from two variables analyzed using the chi-square test. Results: The findings revealed that 15 respondents (78.9%) who experienced mild anxiety had normal blood pressure, while 4 respondents (21.1%) had high blood pressure. None of the respondents with normal blood pressure experienced severe anxiety, while 11 respondents (100%) with high blood pressure also experienced severe anxiety. Statistical testing using the chi-square method showed a p-value of 0.001 (<0.05). Conclusion: There is a significant relationship between blood pressure and anxiety levels in hypertensive patients.   Keywords: Anxiety Level; Blood Pressure; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi diartikan sebagai kondisi tekanan darah yang menetap dengan tekanan sistolik ≥140/90 mmHg. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan hipertensi adalah tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien. Diperlukan terapi bagi pasien hipertensi untuk mengelola kecemasan mereka, salah satunya melalui terapi pijat punggung dan kaki, karena banyak pasien merasa takut saat pertama kali mengalami hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah dan tingkat kecemasan pada pasien yang mengalami hipertensi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang menggunakan data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi dan kuesioner. Populasi penelitian ini berjumlah 113 pasien, dengan 30 responden yang dijadikan sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan accidental sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan pasien adalah kuesioner dengan skala ordinal. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, dengan penyajian data dari dua variabel dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebanyak 15 responden (78.9%) yang mengalami kecemasan ringan memiliki tekanan darah normal, sementara 4 responden (21.1%) memiliki tekanan darah tinggi. Tidak ada responden dengan tekanan darah normal yang mengalami kecemasan berat, sementara 11 responden (100%) yang memiliki tekanan darah tinggi juga mengalami kecemasan berat. Uji statistik dengan metode chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0.001 (<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan darah dan tingkat kecemasan pada pasien hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Tekanan Darah; Tingkat Kecemasan.
Hubungan kadar hemoglobin, lingkar lengan atas dan usia ibu hamil dengan berat badan lahir bayi Nugraha, Dharma Yudha; Sulastri, Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.406

Abstract

Background: Pregnancy is a process of metamorphosis or development in life. The fetus grows much faster in the third trimester of pregnancy. Hunger during this period can inhibit growth until the baby is born smaller than it should be. Low hemoglobin (Hb) levels in pregnant women are one of the health disorders that can occur during pregnancy. Anemia in pregnancy is indicated if the hemoglobin level is less than 10 g/dl. The nutritional status of the mother before and during pregnancy can affect the development of the fetus at the time of conception. If the mother's nutritional status is normal before and during pregnancy, she will most likely give birth to a healthy full-term baby with normal weight. Purpose: To determine the relationship between hemoglobin levels, upper arm circumference and maternal age with the baby's birth weight. Method: Quantitative research using percentage calculations, mean square, and statistical calculations, was conducted at Baki Health Center in December 2023-February 2024. Sampling using purposive sampling, obtained a sample size of 41 respondents. Data analysis used univariate and bivariate analysis with the Spearman Rank correlation statistical test. Results: Mothers aged 20-35 years had babies with normal birth weight as many as 36 (94.7%) and p value 0.043. Normal maternal Hb levels also obtained normal birth weight as many as 37 (97.3%) with p value 0.000 and normal MUAC obtained normal birth weight as many as 21 (52.3%) with p value 0.025. The results of the statistical correlation test of all variables <0.05, so there is a significant relationship to birth weight. Conclusion: There is a relationship between hemoglobin levels, upper arm circumference, and maternal age with birth weight.   Keywords: Birth Weight; Hemoglobin Level (Hb); Maternal Age; Mid-Upper Arm Circumference (MUAC).   Pendahuluan: Kehamilan merupakan metamorphosis atau proses perkembangan pada kehidupan. Janin tumbuh jauh lebih cepat pada saat kehamilan trimester ketiga. Kelaparan selama periode ini dapat menghambat pertumbuhan sampai bayi lahir lebih kecil dari yang seharusnya. Kadar hemoglobin (Hb) yang rendah pada ibu hamil merupakan salah satu gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada masa kehamilan. Anemia selama kehamilan diindikasikan jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10 g/dl. Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat memengaruhi perkembangan janin pada saat pembuahan. Jika status gizi ibu normal sebelum dan selama kehamilan, kemungkinan besar ia akan melahirkan bayi cukup bulan yang sehat dengan berat badan normal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar hemoglobin, lingkar lengan atas, dan usia ibu hamil dengan berat badan lahir bayi. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan perhitungan persentase, rata-rata kuadrat, dan perhitungan statistik, dilakukan di Puskesmas Baki pada bulan Desember 2023-Februari 2024. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, didapatkan total sampel sebanyak 41 responden. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik korelasi Rank Spearman. Hasil: Usia ibu 20-35 memiliki bayi dengan berat badan lahir yang normal sebanyak 36 (94.7%) dan p-value 0.043. Kadar Hb ibu yang normal juga menunjukkan berat badan bayi lahir normal sebanyak 37 (97.3%) dengan p-value 0.000 dan LILA yang normal menghasilkan berat badan bayi yang normal juga sebanyak 21 (52.3%) dengan p-value 0.025. Hasil uji statistik korelasi seluruh variabel <0.05, sehingga terdapat hubungan yang signifikan terhadap berat badan bayi lahir. Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar Hb, LILA, dan usia ibu hamil dengan berat badan bayi lahir.   Kata Kunci: Berat Bayi Lahir; Kadar Hemoglobin (Hb); Lingkar Lengan Atas (LILA); Usia Ibu.

Page 9 of 11 | Total Record : 106