cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Tingkat pengetahuan dengan gaya hidup pada pasien hipertensi Umah, Iffah Amirotul; Rosyid, Fahrun Nur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.313

Abstract

Background: An unhealthy lifestyle such as consuming foods that are high in sodium, fat and low in fiber in excessive portions and continuously can increase the blood volume in the body. This will cause an increase in the heart's workload in pumping blood. Physical activity also has an influence on blood pressure, individuals who are inactive tend to have a higher heart rate and force the heart muscle to work twice as hard. Purpose: To determine the relationship between the level of knowledge and the lifestyle of hypertensive patients. Method: Quantitative research uses a correlative descriptive approach with a cross-sectional design. The population used was hypertension sufferers who were registered as patients seeking treatment at the Pajang Community Health Center in January-July 2023, totaling 200 respondents using an accidental sampling technique. Univariate and bivariate data analysis Pearson correlation test. Results: The Spearman Rho Rank correlation test shows that the correlation coefficient between the knowledge level and lifestyle variables is rho = 0.050 with a p value = 0.478, so it is found that the p value is> 0.05, meaning there is no relationship between the two variables. Conclusion: There is no significant relationship between the level of knowledge and the lifestyle of hypertensive patients.   Keywords: Hypertension; Knowledge; Lifestyle.   Pendahuluan: Gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi makanan yang memiliki tinggi kandungan natrium, lemak, dan rendah akan serat dalam porsi yang berlebih dan terus menerus dapat meningkatkan volume darah yang ada di dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan peningkatan beban kerja jantung dalam memompa darah. Aktivitas fisik juga memberikan pengaruh pada tekanan darah, individu yang tidak aktif cenderung mempunyai denyut jantung yang lebih tinggi dan memaksa otot jantung untuk bekerja dua kali lipat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan gaya hidup pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan deskriptif korelatif dengan desain cross-sectional. Populasi yang digunakan adalah penderita hipertensi yang terdaftar sebagai pasien berobat di Puskesmas Pajang bulan Januari-Juli 2023 berjumlah 200 responden dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Analisis data univariat dan bivariat uji korelasi Pearson. Hasil: Uji korelasi Rank Spearman Rho diketahui nilai koefisien korelasi antara variabel tingkat pengetahuan dengan gaya hidup sebesar rho = 0.050 dengan nilai p = 0.478, sehingga ditemukan bahwa nilai p>0.05, artinya tidak ada hubungan antara kedua variabel. Simpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan gaya hidup pasien hipertensi.   Kata Kunci: Gaya Hidup; Hipertensi; Pengetahuan.
Pengaruh pemberian salep zaitun terhadap keluhan kulit kering dan gatal pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa Srijaya, Munika Pandu; Maliya, Arina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.319

Abstract

Background: Chronic kidney failure is a serious global health problem with prevalence increasing every year. One type of therapy that can be used by chronic kidney failure patients to maintain body function is hemodialysis. Hemodialysis is a blood cleansing procedure through an artificial kidney or dialyzer and assisted by a machine. A complication that often occurs in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis is uremic pruritus or dry and itchy skin. Purpose: To determine the effect of providing olive ointment therapy on complaints of dry and itchy skin in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. Method: Pre-experimental research design using one group pretest-posttest design. The population in this study were chronic kidney failure patients who underwent hemodialysis in January-October 2023. The sample in this study consisted of 17 participants who were selected using a purposive sampling technique. Data analysis in this study used univariate and bivariate paired sample t tests. Results: Based on the paired sample t test, it is known that the p-value obtained is 0.000 (P<0.05). This shows that there is a difference in the average complaints of dry and itchy skin in chronic kidney failure patients before and after being given olive ointment. Conclusion: There is an effect of giving olive ointment on complaints of dry and itchy skin in kidney failure patients undergoing hemodialysis.   Keywords: Chronic Kidney Failure; Hemodialysis; Olive Ointment.   Pendahuluan: Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan global serius dengan prevalensi yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Salah satu jenis terapi yang dapat digunakan oleh para pasien gagal ginjal kronik untuk mempertahankan fungsi tubuhnya yaitu hemodialisa. Hemodialisa adalah prosedur pembersihan darah melalui ginjal buatan atau dializer dan dibantu pelaksanaannya oleh mesin. Komplikasi umum pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu pruritus uremic atau kulit kering dan gatal. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi salep zaitun terhadap keluhan kulit kering dan gatal pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Metode: Penelitian pre-eksperimen design menggunakan rancangan the one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa pada bulan Januari-Oktober 2023. Sampel pada penelitian ini sebanyak 17 partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data pada penelitian ini menggunakan univariat dan bivariat uji paired sample-t. Hasil: Berdasarkan uji paired sampel t diketahui bahwa p-value yang didapatkan sebesar 0.000 (P<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata keluhan kulit kering dan gatal pada pasien gagal ginjal kronik sebelum dan sesudah diberikan salep zaitun. Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian salep zaitun terhadap keluhan kulit kering dan gatal pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa.   Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik; Hemodialisa; Salep Zaitun.
Predisposing, enabling, and reinforcing factors for the success of antiretroviral (ARV) treatment among people living with HIV Atmajaya, Yudhi; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Susianti, Susianti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.321

Abstract

Background: The Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) epidemic is now growing rapidly and becoming one of the biggest challenges, despite various efforts to control and suppress its transmission. Globally, HIV/AIDS is a health problem that can cause a multidimensional crisis. The HIV/AIDS control program is aimed at reducing morbidity and hospitalization rates, mortality due to AIDS, and improving the quality of life of HIV sufferers. Purpose: To determine the effect of predisposing, enabling, and reinforcing factors on the success of antiretroviral (ARV) treatment in people with HIV/AIDS. Method: A Quantitative research of cross-sectional analytical survey conducted at the Bandar Lampung City Health Center for 2 months in January-February 2024. The number of samples in this study was 122 respondents taken using purposive sampling technique. The instrument used was a questionnaire that had been declared valid in the validity and reliability tests. Data analysis used univariate and bivariate chi-square tests with confidence intervals (CI), significance level p <0.05. Results: Several factors that influence success include clinical stage (p-value=0.014), comorbidities (p-value=0.000), and treatment adherence (p-value=0.000). Conclusion: There is a significant influence between clinical stage, comorbidities, and adherence to the success of ARV treatment. Meanwhile, there is no significant relationship between the duration of ARV treatment and the combination of ARV therapy with the success of treatment. In increasing the success of treatment, people with HIV/AIDS must maintain their health so that opportunistic infections (HIV comorbidities) do not occur and remain in the early clinical stage.   Keywords: Antiretroviral (ARV); Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS); People Living with HIV (PLHIV); Threatment.   Pendahuluan: Epidemi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) kini semakin berkembang cepat  dan menjadi salah satu tantangan terbesar, meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk mengendalikan serta menekan penularannya. Secara global HIV AIDS merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan krisis multidimensi. Program pengendalian HIV/AIDS ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan rawat inap, angka kematian yang berhubungan dengan AIDS, dan meningkatkan kualitas hidup orang terinfeksi HIV. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh faktor predisposing enabling dan reinforcing terhadap keberhasilan pengobatan ARV pada ODHIV. Metode: Penelitian kuantitatif survei analitik cross sectional yang dilakukan di Puskesmas Kota Bandar Lampung selama 2 bulan pada bulan Januari-Februari 2024. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 122 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang telah dinyatakan valid pada uji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan univariat dan bivariat uji chi square dengan confidence interval (CI), tingkat kemaknaan p<0.05. Hasil: Beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan antara lain, stadium klinis (p-value=0.014), penyakit penyerta (p-value=0.000), dan kepatuhan pengobatan (p-value=0.000). Simpulan: Terdapat pengaruh yang bermakna antara stadium klinis, penyakit penyerta, dan kepatuhan terhadap keberhasilan pengobatan ARV. Meskipun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama pengobatan dan paduan terapi ARV dengan keberhasilan pengobatan. Dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan ODHIV harus menjaga kesehatan agar tidak terjadi infeksi oportunistik (penyakit penyerta HIV) dan tetap pada stadium klinis awal.   Kata Kunci: Antiretroviral (ARV); Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS); Pengobatan.
Pengaruh konsumsi mentimun (cucumis sativus) dan semangka (citrullus lanatus) terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi dengan penyakit penyerta Dhamayanti, Meta Saskia Rina; Maliya, Arina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.322

Abstract

Background: Hypertension is one of the major causes of premature death throughout the world. Blood pressure causes several risk factors that attack the heart and blood vessels such as the brain. In order to prevent more severe complications such as heart, kidney and brain disease, early prevention is needed. Management of hypertension uses two methods, namely pharmacological and non-pharmacological methods. Purpose: To identify differences in the usefulness of cucumber juice and watermelon juice regarding blood pressure in individuals with hypertension with comorbidities. Method: Quantitative research uses a pre-experimental approach with a pre-post-test group design. The research was conducted at the Kartasura Community Health Center in January-February 2024 on 30 hypertension sufferers using purposive sampling. The sample was divided into two groups, namely, 15 respondents in the cucumber group and 15 respondents in the watermelon group. The intervention was carried out for 7 days consistently in the morning. Data analysis used univariate and bivariate with the Wilcoxon and Mann-Whitney U statistical tests. Results: There was an effect of consumption of cucumber juice on systolic blood pressure (α 0.001) and diastolic blood pressure (α 0.021) with an average pre-test value of 169.33/89.33 mmHg and post-test 141.33/83.33 mmHg. Meanwhile, in the group given watermelon juice, there was an influence on systolic blood pressure (α 0.001) or diastolic blood pressure (α 0.001) with pre-test values ​​of 152/93.33 mmHg and post-test 125.33/77.33 mmHg. From the Mann-Whitney U test, there was a difference between giving cucumber juice and watermelon juice on systolic blood pressure (α 0.012) or diastolic blood pressure (α 0.026).. Conclusion: There is a difference in the effectiveness of cucumber juice treatment in reducing systolic blood pressure while the watermelon juice team has effectiveness in reducing diastolic blood pressure.   Keywords: Cucumber (cucumis sativus); Comorbid; Hypertension; Watermelon (cucumis sativus).   Pendahuluan: Hipertensi menjadi salah satu penyebab besar kematian dini seluruh dunia. Tekanan darah menyebabkan beberapa faktor risiko yang menyerang jantung dan pembuluh darah seperti otak. Guna mencegah adanya komplikasi yang lebih parah seperti jantung, penyakit ginjal dan otak diperlukan pencegahan dini. Penatalaksanaan hipertensi menggunakan dua metode yaitu dengan farmakologi dan metode non farmakologi. Tujuan: Untuk mengidentifikasi perbedaan kegunaan jus mentimun dan jus semangka mengenai tekanan darah penderita hipertensi dengan penyakit penyerta. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan pra-eksperimental dengan desain kelompok pre-post-test. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kartasura pada bulan Januari-Februari 2024 kepada 30 penderita hipertensi menggunakan pengumpulan purposive sampling. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yakni, 15 responden kelompok mentimun dan 15 responden kelompok semangka. Intervensi dilakukan selama 7 hari secara konsisten pada pagi hari. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik Wilcoxon dan Mann-Whitney U. Hasil: Terdapat pengaruh pemberian jus mentimun terhadap tekanan darah sistolik (α 0.001) dan tekanan darah diastole (α 0.021) dengan rata-rata nilai pre-test 169.33/89.33 mmHg dan post-test 141.33/83.33 mmHg. Sedangkan pada kelompok pemberian jus semangka terdapat pengaruh tekanan darah sistolik (α 0.001) ataupun tekanan darah diastole (α 0.001) dengan nilai pre-test 152/93.33 mmHg dan post-test 125.33/77.33 mmHg. Dari uji Mann-Whitney U terdapat perbedaan pemberian jus mentimun dengan jus semangka terhadap tekanan darah sistolik (α 0.012) ataupun tekanan darah diastole (α 0.026). Simpulan: Ada perbedaan kegunaan perlakuan jus mentimun terhadap penyusutan tekanan darah sistolik, sedangkan kelompok  jus semangka terdapat efektivitas terhadap penyusutan tekanan darah diastolik.   Kata Kunci: Hipertensi; Jus Semangka; Jus Mentimun; Komorbid; Tekanan Darah.
Health literacy dengan perilaku menstrual hygiene pada remaja putri di SMA Majalengka Fauziyyah, Farras Gapa; Solehati, Tetti; Mulya, Adelse Prima
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.324

Abstract

Background: Health literacy among the Indonesian adolescent population is still quite low. Adolescent girls who do not receive sufficient health information show poor menstrual hygiene habits. This increases the risk of reproductive tract infections in adolescent girls. Purpose: To determine the relationship between health literacy and menstrual hygiene behavior. Method: Correlational descriptive research conducted on young women from one of the high schools in Majalengka was carried out on 24-28 February 2023. The total sample was 289 adolescent girls selected using the proportional stratified random sampling technique. The instruments used in this research were the HLS-EU-16Q and the menstrual hygiene questionnaire. The data analysis used was univariate data analysis and the Spearman Rank test. Results: Based on the Spearman Rank hypothesis analysis test data, a significance value or Sig was obtained. (2-tailed) of 0.001 (<0.05) Ha is accepted, so there is a significant relationship between health literacy and menstrual hygiene behavior in adolescent girls. The strong relationship between health literacy and menstrual hygiene behavior in young women is 0.900, meaning there is a very strong relationship between the two variables, while the direction of the relationship between the two variables is positive. Conclusion: There is a significant relationship between health literacy and menstrual hygiene. The higher the health literacy, the better the menstrual hygiene behavior. Suggestion: It is hoped that future researchers can consider other variables that may have an impact on menstrual hygiene behavior. Additionally, this can be expanded by identifying programs that can improve these two variables   Keywords: Adolescent Girls; Health Literacy; Menstrual Hygiene.   Pendahuluan: Health literacy pada populasi remaja Indonesia masih cukup rendah. Remaja putri yang kurang mendapatkan informasi kesehatan menunjukkan kebiasaan menstrual hygiene yang buruk. Hal ini meningkatkan risiko kejadian infeksi saluran reproduksi pada remaja putri. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan health literacy dengan perilaku menstrual hygiene. Metode: Penelitian deskriptif korelasional yang dilakukan pada remaja putri di salah satu SMA di Majalengka dilaksanakan pada 24-28 Februari 2023. Jumlah sampel sebanyak 289 remaja putri, dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu HLS-EU-16Q dan kuesioner menstrual hygiene. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data univariat dan uji Rank Spearman. Hasil: Berdasarkan data uji analisis hipotesis Spearman Rank, nilai signifikansi atau Sig. (2-tailed) sebesar 0.001 (<0.05) Ha diterima, sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara health literacy dengan perilaku menstrual hygiene pada remaja putri. Tingkat kekuatan hubungan antara health literacy dengan perilaku menstrual hygiene pada remaja putri adalah sebesar 0.900, berarti terdapat korelasi yang sangat kuat antara kedua variabel, sedangkan arah hubungan yang terdapat diantara kedua variabel yaitu memiliki arah hubungan yang positif. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara health literacy dengan menstrual hygiene. Semakin tinggi health literacy maka semakin baik pula perilaku menstrual hygiene. Saran: Diharapkan peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan variabel-variabel lain yang mungkin berdampak pada perilaku menstrual hygiene. Selain itu, dapat diperluas dengan mengidentifikasi program yang dapat meningkatkan kedua variabel.   Kata Kunci: Health Literacy; Menstrual Hygiene; Remaja Putri.
Deteksi dini gangguan pertumbuhan pada bayi risiko tinggi melalui monitoring berat badan: A systematic review Kurniasih, Dwi Uji; Ramawati, Dian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.326

Abstract

Background: Detection of growth disorders in high-risk infants is done by monitoring weight, length, and head circumference. It is important to monitor newborn weight as a first step in detecting growth disorders in both healthy and sick infants, as well as high-risk infants. Purpose: To detect early detection of disorders in high-risk infants through weight monitoring. Method:  Systematic literature review research uses the PICO approach, namely P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), and O (outcome). Writing literature with keywords “early detection AND growth disorders”, “monitoring AND high risk infants AND weight”, “monitoring weight AND high risk infants”. Identifying 11 articles and then filtering according to the topic of discussion, there were 5 articles related to early detection of disorders in high-risk infants through weight monitoring. Results: Based on the 5 articles reviewed, it shows that monitoring can be applied with several methods, including using WHO growth charts for full-term neonates and Fenton charts for less-term neonates. Conclusion: With early detection by electronic weight method, it becomes easier to manage the failure of weight gain. Suggestion: Neonatal Intensive Care Unit (NICU) nurses can apply the use of daily weight monitoring charts to neonates, especially high risk neonates.   Keywords: Baby's Weight; Early Detection; High Risk Infants; Low Weight Babies (LBW); Monitoring; Growth.   Pendahuluan: Deteksi gangguan pertumbuhan pada bayi yang berisiko tinggi dilakukan dengan memantau berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. Pentingnya memantau berat badan bayi baru lahir sebagai langkah awal dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan, baik pada bayi yang sehat maupun yang sakit, serta bayi berisiko tinggi. Tujuan: Untuk melakukan deteksi dini gangguan pada bayi berisiko tinggi melalui monitoring berat badan. Metode: Penelitian sistematik literature review menggunakan pendekatan PICO yaitu P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), dan O (outcome). Penulisan literature dengan kata kunci “deteksi dini AND gangguan pertumbuhan”, “monitoring AND high risk infants AND weight”,”monitoring weight AND high risk infants”. Mengidentifikasi 11 artikel selanjutnya dilakukan penyaringan sesuai dengan topik bahasan mendapatkan 5 artikel yang terkait mengenai deteksi dini gangguan pada bayi berisiko tinggi melalui monitoring berat badan. Hasil: Berdasarkan 5 artikel yang dikaji menunjukan bahwa, monitoring tersebut dapat diaplikasikan dengan beberapa metode antara lain, menggunakan grafik pertumbuhan WHO untuk neonatus cukup bulan dan grafik Fenton untuk neonatus kurang bulan. Simpulan: Adanya deteksi dini dengan metode berat badan elektronik, kegagalan peningkatan berat badan akan lebih mudah untuk dilakukan tatalaksana. Saran: Perawat ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) agar dapat menerapkan penggunaan grafik monitoring berat badan harian pada neonatus, khususnya neonatus risiko tinggi.   Kata Kunci: Berat Badan Bayi; Bayi Risiko Tinggi; Bayi dengan Berat Badan Rendah (BBLR); Deteksi Dini; Monitoring; Pertumbuhan.
Pengaruh terapi doa terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Hadiyanto, Hendri; Hamidah, Ernawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.329

Abstract

Background: The elderly are an age group that is dependent on the working age group because their ability is decreasing functionally, especially to fulfill daily living needs. Most of them have indirect social and economic impacts on individuals, families and the social environment. For older adults, prayer as a coping strategy and the total number of spiritual care modalities used were significantly and positively correlated with the use of more positive coping styles. Spiritual needs are not the only aspect that influences the quality of life of the elderly, but there are other aspects such as physical health, psychological factors and social relationships. Purpose: To determine the effect of prayer therapy on the quality of life of the elderly. Method: Quantitative research with a quasi-experimental approach using a one group pre-test post-test design. The data collection technique used purposive sampling with 30 participants. The study was conducted at the Tresna Werdha social home, Nangeleng Village, Sukabumi City in December 2023–June 2024. The instrument used was a questionnaire that had been tested for validity and reliability. The dependent variable in this study is the quality of life of the elderly, while the independent variable is prayer therapy. The analysis used was univariate and bivariate analysis with the chi square test. Results: The p value of 0.000 (p <0.05) means that there is an effect of prayer therapy on the quality of life of the elderly. Based on the results of the study, before being given prayer therapy there was a decrease and after being given prayer therapy there was a very significant increase. Conclusion: The quality of life of the elderly plays an important role in maintaining their health, so that even though they have entered old age they can still be productive. Prayer therapy has an influence on the quality of life of the elderly. Suggestion: It is hoped that both the family and the environment that cares for the elderly can provide support and direction in the form of a spiritual approach such as prayer therapy and that future researchers can find other factors that are related to improving the quality of life of the elderly because it is possible that there are other factors that can improve the quality of life of the elderly.   Keywords: Elderly; Prayer Therapy; Quality of Life.   Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok umur yang bergantung pada kelompok usia kerja karena kemampuannya semakin menurun secara fungsional terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian besar diantaranya mempunyai dampak sosial dan ekonomi tidak langsung terhadap individu, keluarga dan lingkungan sosial. Bagi lansia,doa sebagai strategi koping dan jumlah total modalitas perawatan spiritual yang digunakan secara signifikan dan positif berkorelasi dengan penggunaan gaya koping yang lebih positif. Kebutuhan spiritual bukanlah merupakan satu-satunya aspek yang memengaruhi kualitas hidup lansia tetapi ada aspek-aspek lain seperti faktor kesehatan fisik, psikologis dan hubungan sosial. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi doa terhadap kualitas hidup lansia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimenmenggunakan desain one group pre-test post-test. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling sejumlah 30 partisipan. Penelitian dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Rukun Ibu Kelurahan Nangeleng Kota Sukabumi pada Desember 2023–Juni 2024. Instrumen yang digunakan berupa lembar kuesioner yang sudah diuji validitas dan reabilitas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas hidup lansia, sedangkan variabel independen yaitu terapi doa. Analisis yang digunakan berupa analisis univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil: Didapatkan p-value 0.000 (p<0.05), diketahui terdapat pengaruh terapi doa terhadap kualitas hidup lansia. Berdasarkan hasil penelitian, sebelum diberikan terapi doa terjadi penurunan dan setelah dilakukan terapi doa mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Simpulan: Kualitas hidup lansia memegang peranan penting untuk menjaga kesehatannya, sehingga meskipun memasuki usia senja tetap bisa produktif. Terapi doa memberikan pengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Saran: Diharapkan baik keluarga maupun lingkungan yang mengurus lansia dapat memberikan support dan juga arahan berupa pendekatan spiritual seperti terapi doa dan peneliti selanjutnya dapat menemukan faktor lain yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup lansia karena kemungkinan ada faktor lain yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.   Kata Kunci: Kualitas Hidup; Lansia; Terapi Doa.
Hubungan pengetahuan dengan kepatuhan pada pasien acquired immune deficiency syndrome dalam mengonsumsi obat Antiretroviral Lestari, Tiyan Febriyani; Pratami, Yustika Rahmawati; Utami, Arum Surya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.331

Abstract

Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a class of viruses that infect white blood cells and cause decreased immunity, while Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) is a set of symptoms that arise due to the human immune system that drops due to infection by HIV. HIV patients really need Antiretroviral (ARV) treatment to reduce the number of HIV viruses so as not to enter the AIDS stage, while AIDS patients need ARV treatment to prevent opportunistic infections with various complications. The most important factor in the success of ARV therapy is compliance in taking ARV drugs. Purpose: To determine the relationship between knowledge of Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) patients and compliance with taking Antiretroviral drugs. Method: Descriptive research with a cross-sectional approach. The study was conducted on HIV-infected patients at the Sentani Health Center, Jayapura Regency, which was carried out from December 2, 2022 to July 30, 2023. The independent variable in this study was the knowledge of HIV patients, while the dependent variable was adherence to taking ARVs. The sampling technique was accidental sampling, the calculation used the Slovin formula and the number of samples was 69 respondents. Univariate and bivariate data analysis used the chi-square statistical test. Results: Respondents with good knowledge did not make them compliant in taking drugs, as shown by the value of high compliance 16 (61.6%) respondents, moderate 12 (50.0%) respondents, and low compliance 7 (37.0%) respondents. This score does not have a significant difference, so the results of the chi square test show that there is no relationship between knowledge and compliance of HIV/AIDS patients in taking ARV drugs with a p-value of 0.137 (>0.05). Conclusion: There is no relationship between knowledge and compliance of HIV/AIDS patients in taking ARV drugs, this occurs because compliance with ARV therapy can not only be influenced by the level of knowledge, but is influenced by many factors such as individual awareness and motivation, inability to tolerate side effects of drugs, as well as family support and laziness to take drugs when they run out. Suggestion: Nurses can continue to provide counseling and health education to HIV/AIDS patients to continue to improve compliance in taking drugs. For further research, it is recommended to add other variables that are indicated as factors of drug compliance.   Keywords: Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS); Antiretroviral (ARV); Compliance; Knowledge.   Pendahuluan: Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah golongan virus yang menginfeksi sel darah putih dan menyebabkan kekebalan tubuh menurun, sedangkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul akibat daya tahan tubuh manusia yang turun akibat terinfeksi oleh HIV. Penderita HIV sangat memerlukan pengobatan antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV supaya tidak masuk dalam stadium AIDS, sedangkan pada penderita AIDS membutuhkan pengobatan ARV untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik dengan berbagai komplikasi. Faktor terpenting dalam keberhasilan terapi ARV adalah kepatuhan dalam minum obat ARV. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dengan kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Metode: Penelitian deskriptif menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan kepada pasien yang terinfeksi HIV di Puskesmas Sentani Kabupaten Jayapura, dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2022 sampai 30 Juli 2023. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan pasien HIV, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan minum ARV. Teknik pengambilan sampel secara accidental sampling, perhitungan menggunakan rumus Slovin dan didapat jumlah sampel 69 responden. Analisis data univariat dan bivariat uji statistik menggunakan chi-square. Hasil: Responden dengan pengetahuan baik tidak membuatnya patuh dalam mengonsumsi obat, ditunjukkan dengan nilai kepatuhan tinggi 16 (61.6%) responden, sedang 12 (50.0%) responden, dan kepatuhan rendah 7 (37.0%) responden. Angka tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan, sehingga hasil uji chi square menunjukan tidak ada hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam minum obat ARV dengan p-value 0.137 (>0.05). Simpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan kepatuhan pasien HIV/AIDS dengan minum obat ARV, hal ini terjadi karena kepatuhan terapi ARV tidak hanya dapat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan saja, tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor seperti, faktor kesadaran individu dan motivasi diri, ketidakmampuan dalam mentoleransi efek samping obat, dukungan keluarga, dan rasa malas untuk mengambil obat ketika sudah habis. Saran: Para perawat dapat mempertahankan pemberian konseling dan pendidikan kesehatan kepada pasien HIV/AIDS untuk terus meningkatkan kepatuhan minum obat. Bagi penelitian selanjutnya agar dapat menambahkan variabel lain yang terindikasi sebagai faktor kepatuhan minum obat.   Kata Kunci: Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS); Antiretroviral (ARV); Kepatuhan; Pengetahuan.
Health belief model dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus Bibi, Raihana Elnas; Purwanti, Okti Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.338

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease characterized by blood sugar levels that exceed normal limits and if not treated quickly and appropriately can cause complications in the eyes, kidneys, nerves, and blood vessels. The prevalence and number of DM sufferers have increased rapidly over the past few years, making this disease one of the four priority non-communicable diseases (NCDs). One of the behavioral theories widely used in cases of DM sufferers is the Health Belief Model (HBM), this theory is able to analyze a person's perception of their illness and the reasons why someone wants or does not want to make changes to their behavior. Purpose: To determine the relationship between the health belief model and medication adherence in DM patients. Method: Descriptive correlational quantitative research with a cross-sectional approach. This research was conducted at the Baki Health Center in August 2023-February 2024. Sampling using simple random sampling of 87 respondents. The independent variable in this study is the health belief model (HBM), while the dependent variable is medication adherence. The instruments used were the Health Belief Model (HBM) questionnaire and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS) questionnaire. Data analysis used univariate and bivariate analysis of the Spearman rank test. Results: Poor health belief model causes poor medication adherence 38 (73%). While a good health belief model can increase good medication adherence 20 (58.8%). The results of statistical tests show that this correlation is significant with a p value of 0.01, while the correlation coefficient between the two variables is 0.864. This indicates a strong relationship between the two variables. Conclusion: There is a relationship between the health belief model and medication adherence in DM patients. The higher the Health Belief Model, the higher the DM patient's compliance in taking medication.   Keywords: Adherences; Diabetes Mellitus (DM); Health Belief Model.   Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah melebihi batas normal dan apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan komplikasi pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah. Prevalensi dan jumlah penderita DM meningkat pesat selama beberapa tahun terakhir, hal ini menjadikan penyakit tersebut sebagai salah satu dari empat penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi prioritas. Salah satu teori perilaku yang banyak digunakan dalam kasus penderita DM adalah health belief model (HBM), teori ini mampu menganalisis persepsi seseorang terhadap penyakit dan alasan seseorang mau atau tidak melakukan perubahan terhadap perilakunya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan health belief model dengan kepatuhan minum obat pada pasien DM. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Baki pada bulan Agustus 2023-Februari 2024. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling sebanyak 87 responden. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah health belief model (HBM), sedangkan variabel terikat adalah kepatuhan minum obat. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Health Belief Model (HBM) dan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat uji rank spearman. Hasil: health belief model yang buruk menyebabkan kepatuhan minum obat yang buruk pula 38 (73%), sedangkan health belief model yang baik dapat meningkatkan kepatuhan minum obat yang baik pula 20 (58.8%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa korelasi yang signifikan (p-value 0.01) dan koefisien korelasi antara kedua variabel sebesar 0.864. Hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua variabel. Simpulan: Terdapat hubungan antara health belief model dengan kepatuhan minum obat pada pasien DM. Semakin tinggi Health Belief Model, maka akan semakin tinggi kepatuhan penderita DM dalam mengonsumsi obat.   Kata Kunci: Diabetes Melitus (DM); Health Belief Model; Kepatuhan Minum Obat.
Hubungan indeks massa tubuh dan kualitas tidur Viani, Ilvia Rema; Sudaryanto, Wahyu Tri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.341

Abstract

Background: Sleep is a physiological need like eating, drinking, and breathing. This activity is a basic need that is very important for human function, health, and well-being. Sleep can affect memory, learning, mood, behavior, immunological responses, metabolism, hormone levels, digestive processes, and many other physiological functions. Lack of sleep can cause physical and mental health problems, injuries, decreased productivity, and even increased risk of death. One factor in poor sleep quality is being overweight (obesity). Purpose: To determine the relationship between body mass index (BMI) and sleep quality. Method: Observational quantitative descriptive research with a cross-sectional approach, was conducted in Bandar Jaya Village in February-March 2024 on 225 adult participants and sample data collection using the simple random sampling method. The independent variable in this study is body mass index (BMI), while the dependent variable is sleep quality. The research instrument used a questionnaire and BMI measuring instrument. Data analysis used univariate and bivariate Pearson correlation tests with a confidence level of 95%. Results: The normality test obtained a p value > 0.05, namely the Kolmogorov-Smirnov BMI score of 0.077 and sleep quality of 0.134 so that the data is normally distributed. The BMI and sleep quality variables obtained a significant r count value of 0.215, which means that they are not correlated or related to each other because they have positive or unidirectional properties. Conclusion: There is no correlation between body mass index (BMI) and sleep quality, but the relationship is negative because the higher the BMI, the lower the sleep quality. Suggestion: To improve public health and safety, broad support is needed to improve sleep education, screen for sleep disorders, and optimize sleep health through public health interventions, workplace interventions, and expanded sleep health research. In addition, further research should include variables such as stress, medical history, and environment.   Keywords: Adults; Body Mass Index (BMI); Sleep Quality.   Pendahuluan: Tidur merupakan kebutuhan fisiologis seperti halnya makan, minum, dan bernapas. Aktivitas ini menjadi kebutuhan dasar yang penting untuk fungsi manusia, kesehatan dan kesejahteraan hidup. Tidur dapat berdampak pada memori, pembelajaran, suasana hati, perilaku, respon imunologi, metabolisme, kadar hormon, proses pencernaan, dan masih banyak lagi fungsi fisiologis lainnya. Kurang tidur dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik dan mental, cedera, penurunan produktivitas, bahkan peningkatan risiko kematian. Salah satu faktor buruknya kualitas tidur karena berat badan yang berlebih (obesitas). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan kualitas tidur. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif observasional menggunakan pendekatan cross-sectional, dilakukan di Kelurahan Bandar Jaya pada Februari-Maret 2024 kepada orang dewasa sebanyak 225 partisipan dan pengumpulan data sampel menggunakan metode simple random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah indeks massa tubuh (IMT), sedangkan variabel terikat yaitu kualitas tidur. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan alat ukur IMT. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat uji korelasi Pearson taraf keyakinan 95%. Hasil: Uji normalitas didapatkan p-value > 0.05 yaitu skor IMT Kolmogorov-Smirnov sebesar 0.077 dan kualitas tidur 0.134, sehingga didapatkan data yang berdistribusi normal.  Variabel IMT dan kualitas tidur mendapatkan nilai r hitung signifikan 0.215, artinya tidak berkorelasi atau tidak berhubungan satu sama lain karena memiliki sifat positif atau searah. Simpulan: Tidak ada hubungan antara variabel indeks massa tubuh (IMT) dengan kualitas tidur, namun bersifat negatif karena semakin tinggi IMT, maka kualitas tidur pun semakin menurun.  Saran: Dalam meningkatkan kesehatan dan keselamatan publik, dukungan luas diperlukan untuk meningkatkan pendidikan tidur, skrining gangguan tidur, dan mengoptimalkan kesehatan tidur melalui intervensi kesehatan masyarakat, tempat kerja, dan memperluas penelitian kesehatan tidur. Selain itu, penelitian selanjutnya agar menambah variabel seperti, stres, riwayat penyakit, dan lingkungan.   Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh (IMT); Kualitas Tidur; Orang Dewasa.

Page 8 of 11 | Total Record : 106