cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Efektivitas teleMedika dalam mencegah multidrug-resistant pada pasien tuberkulosis paru Sari, Mia Yuliana Permata; Kristinawati , Beti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.410

Abstract

Background: Multi drug resistance can occur when patients with pulmonary tuberculosis (TB), which is a chronic infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Transmission occurs if someone inhales droplets containing tuberculosis through the mouth or nose, upper respiratory tract, bronchi and reaches the alveoli. Tuberculosis treatment does not only involve MDR (Multidrug-Resistant) TB, but also has side effects from this disease, one of which is improving the quality of life. So, the effects of treatment for Multi Drug Resistance (MDR) include physical and mental conditions. Purpose: To determine the effectiveness of telehealth in preventing multidrug-resistant tuberculosis patients. Method: Quantitative research design with quasi experimental design with pretest posttest nonequivalent control group design. The study was conducted at the Grogol Health Center in February-March 2024, with a treatment population of 33 respondents. The sample used consisted of 15 respondents in the intervention group and 15 respondents in the control group. Results: The effectiveness of telehealth in preventing multidrug resistant tuberculosis patients is all in the good category and telehealth has been proven to be effective in preventing multidrug-resistant pulmonary tuberculosis. It is known that the control group still obtained a quite lower category of multidrug resistant prevention compared to the experimental group, while the experimental group used telehealth. Things that need to be considered in homecare services using telehealth are that patients must be cooperative and committed to carrying out interventions independently at home Conclusion: That telehealth has proven effective in preventing multidrug resistance in pulmonary tuberculosis patients.   Keywords: Multidrug-resistant; Telehealth; Tuberculosis.   Pendahuluan: Multidrug-resistant (MDR) dapat terjadi ketika pasien tuberculosis paru (TBC) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi jika seseorang menghirup droplet yang mengandung tuberkulosis melalui mulut atau hidung, saluran pernafasan bagian atas, bronkus dan mencapai alveoli. Pengobatan tuberkulosis tidak hanya melibatkan TBC MDR, namun mempunyai efek samping salah satunya meningkatkan kualitas hidup, sehingga efek pengobatan MDR terdapat kondisi fisik dan mental. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas teleMedika dalam mencegah multidrug-resistant pada pasien tuberkulosis paru. Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan rancangan quasi eksperimental design dengan pretest posttest nonequivalent control group. Penelitian dilakukan di Puskesmas Grogol pada bulan Februari-Maret 2024 kepada 30 sampel terdiri dari 2 kelompok yakni, 15 partisipan kelompok intervensi dan 15 partisipan kelompok kontrol. Hasil: Efektivitas teleMedika dalam pencegahan MDR pasien tuberkulosis semua termasuk kategori baik dan terbukti efektif dalam pencegahan MDR. Kelompok kontrol diketahui masih diperolehnya pencegahan MDR kategori cukup lebih rendah, sedangkan kelompok eksperimen dengan penggunaan teleMedika. Hal yang perlu diperhatikan dalam layanan homecare dengan teleMedika, pasien harus kooperatif dan berkomitmen untuk melakukan intervensi secara mandiri di rumah Simpulan: TeleMedika terbukti efektif dalam pencegahan MDR pada pasien tuberkulosis paru.   Kata Kunci: Multidrug-resistant (MDR); TeleMedika; Tuberkulosis.
Gambaran efikasi diri dan perawatan diri pada pasien gagal jantung Manurung, Romatua Juliana; Tarigan, Mula; Sitohang, Nur Asnah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.414

Abstract

Background: Heart failure is one of the cardiovascular diseases which is a major health problem in western countries which is increasing in line with population growth and increasing life expectancy. Self-efficacy is an individual's belief in his ability to react to certain situations. Self-care is a decision taken by the patient himself or with his family, so that he is able to overcome his illness and maintain his functional abilities and achieve well-being. Purpose: To determine the description of self-efficacy and self-care behavior in heart failure patients. Method: Quantitative descriptive study, conducted at the Heart Polyclinic of the Regional General Hospital. Dr. Pirngadi Medan. The sampling technique used purposive sampling and the Slovin formula, the number of samples used was 84 respondents. The independent variables are self-efficacy and self-care, while the dependent variable is heart failure patients.  Data collection techniques using questionnaires. Self-efficacy using the Cardiac Self-Efficacy Scale questionnaire or (CSE scale). Self-care was obtained through the self care of heart failure index (SCHF) questionnaire which has been modified into Indonesian. The New York Heart Association (NYHA) functional classification was categorized as class I to IV. Univariate data analysis was used in the form of frequency distribution. Results: This study shows that the majority of respondents have less self-efficacy 54 (64.4%). Most respondents had poor self-care 48 (57.2%). New York Heart Association (NYHA) classification is mostly in the NYHA level II category 55 (65.4%). Conclusion: High self-efficacy in heart failure patients can increase motivation to do physical activity, resulting in reduced barriers to physical activity and encouraging patients to do more physical activity. Self-care needs to be practiced to cope with the disease, maintain functional ability, and achieve well-being. Suggestion: Hoped that heart failure patients' self-awareness will increase self-efficacy to improve self-care, and family support is expected to help patients carry out self-care. Increasing the self-efficacy of heart failure patients, it will help patients carry out self-care.    Keywords: Heart Failure; Self Care; Self Efficacy.    Pendahuluan: Gagal jantung merupakan salah satu dari penyakit kardiovaskuler yang menjadi masalah kesehatan utama di negara-negara barat yang meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan meningkatnya usia harapan hidup. Efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam bereaksi terhadap situasi tertentu. Perawatan diri merupakan suatu keputusan yang diambil oleh pasien sendiri atau bersama keluarganya, sehingga mampu mengatasi penyakitnya dan mempertahankan kemampuan fungsionalnya serta mencapai kesejahteraan. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran efikasi diri dan perilaku perawatan diri pada pasien gagal jantung. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif, dilakukan di Poliklinik Jantung Rumah Sakit Umum Daerah. Dr. Pirngadi Medan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan rumus slovin, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 84 responden. Variabel independen adalah efikasi diri dan perawatan diri, sedangkan variabel dependen pasien gagal jantung. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Efikasi diri menggunakan kuesioner Cardiac Self-Efficacy Scale atau (CSE scale). Perawatan diri didapatkan melalui kuesioner self care of heart failure index (SCHF) yang telah dimodifikasi kedalam Bahasa Indonesia. Klasifikasi fungsional New York Heart Association (NYHA) dikategorikan kelas I sampai IV. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki efikasi diri yang kurang 54 (64.4%). Sebagian besar responden memiliki perawatan diri yang kurang 48 (57.2%). Klasifikasi New York Heart Association (NYHA) sebagian besar masuk dalam kategori NYHA tingkat II 55 (65.4%). Simpulan: Efikasi diri yang tinggi pada pasien gagal jantung dapat meningkatkan motivasi melakukan aktivitas fisik, sehingga mengurangi hambatan aktivitas fisik dan mendorong pasien untuk melakukan aktivitas fisik yang lebih banyak. Perawatan diri perlu dilakukan untuk mengatasi penyakit, mempertahankan kemampuan fungsional, dan mencapai kesejahteraan. Saran: Diharapkan kesadaran diri pasien gagal jantung untuk meningkatkan efikasi diri guna meningkatkan perawatan diri, dan diharapkan dukungan keluarga untuk membantu pasien dalam melaksanakan perawatan diri. Dengan meningkatkan efikasi diri pasien gagal jantung, akan membantu pasien dalam melaksanakan perawatan diri.   Kata Kunci: Efikasi Diri; Gagal Jantung; Perawatan Diri.
Intervensi kukis tempe gembus terhadap kadar trigliserida dan tekanan darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 Karimah, Asma; Afifah, Diana Nur; Pramono, Adriyan; Seno, Khristophorus Heri Nugroho Hario; Legowo, Anang Mohamad
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.421

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) type 2 is a non-communicable disease that is a global health problem. The cause can be low daily fiber intake, so high-fiber diet intervention is recommended in its treatment. Tempe gembus which contains high fiber, is expected to provide sufficient fiber supply for people with DM type 2. Purpose: To analyze the effect of consuming tempe gembus cookies on triglyceride (TG) levels and blood pressure (systolic and diastolic) in patients with DM type 2. Methods: An experimental study with a pre-post randomized control group design was conducted in December 2023-March 2024 in Banyumas Regency involving 36 patients with DM type 2. Participants were randomly divided into two groups (control and intervention). The intervention group consumed 30 g/day of tempe gembus cookies as a substitute for snacks supported by standard DM type 2 care for 28 days. Data analysis used an independent t-test or with 80% power and 95% confidence interval, p value <0.05 indicates a statistically significant difference. Results: There was no statistically significant difference between the two groups in the mean changes in TG levels and blood pressure after the intervention (p = 0.093) for TG levels, p = 0.852 (systolic blood pressure) and p = 0.864 (diastolic blood pressure). However, clinically the intervention was able to reduce TG levels by 71 mg/dL (p = 0.039) and diastolic blood pressure by 4.62 mmHg, this decrease was better when compared to the control group. Conclusion: High-fiber dietary interventions accompanied by consistent lifestyle changes can help manage TG levels and blood pressure, especially in patients with DM type 2.   Keywords: Blood Pressure; Diabetes Mellitus Type 2; Tempe Gembus Cookies; Triglycerides.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular yang menjadi permasalahan kesehatan secara global. Penyebabnya dapat berupa asupan serat harian yang rendah, sehingga intervensi diet tinggi serat disarankan dalam penanganannya. Tempe gembus yang mengandung serat tinggi, diharapkan dapat menyediakan pasokan serat yang mencukupi untuk pasien DM tipe 2. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh konsumsi kukis tempe gembus terhadap kadar trigliserida (TG) dan tekanan darah (sistolik dan diastolik) pada pasien DM tipe 2. Metode: Studi eksperimental dilakukan menggunakan desain pre-post randomized control group, dilakukan pada bulan Desember 2023-Maret 2024 di Kabupaten Banyumas yang melibatkan 36 pasien DM tipe 2.partisipan dibagi menjadi dua kelompok secara acak (kontrol dan intervensi). Kelompok intervensi mengonsumsi kukis tempe gembus sebanyak 30 g/hari sebagai pengganti makanan selingan didukung dengan perawatan standar untuk DM tipe 2 selama 28 hari. Analisis data menggunakan independen t-test atau dengan daya 80% dan derajat kepercayaan 95%. Nilai p <0.05 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik. Hasil: Tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik dari kedua kelompok dalam perubahan rerata kadar TG dan tekanan darah setelah intervensi (p=0.093) untuk kadar TG,  p =0.852 (tekanan darah sistolik) dan p =0.864 (tekanan darah diastolik). Namun, secara klinis intervensi mampu mengurangi kadar TG sebesar 71 mg/dL (p =0.039) dan tekanan darah diastolik sebesar 4.62 mmHg, penurunan ini lebih baik jika dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan: Intervensi diet tinggi serat disertai dengan perubahan gaya hidup secara konsisten dapat membantu pengelolaan kadar TG dan tekanan darah, terutama pada pasien dengan DM tipe 2.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2; Kukis Tempe Gembus; Tekanan Darah; Trigliserida.
Pengaruh progressive muscle relaxation (PMR) terhadap kualitas tidur lansia Selvianti, Utari Aditia; Keswara, Umi Romayati; Hermawan , Dessy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.427

Abstract

Background: Elderly people have poor sleep quality which disrupts their activities during the day. Progressive muscle relaxation (PMR) is a simple relaxation method that goes through two processes, namely tensing and relaxing the muscles of the body and is one of the techniques that can reduce sleep quality in the elderly. Purpose: To determine the effect of progressive muscle relaxation (PMR) on sleep quality in the elderly. Method: Quantitative research type with pre-experimental one group pretest-posttest design. The population of all elderly people at the Labuhan Ratu Health Center was 342 elderly people with a sample size of 20 respondents. Sampling used purposive sampling technique and data analysis used the Wilcoxon test. Results: The average sleep quality of the elderly before the intervention was 10.30 with a standard deviation of 2,080, a range of values ​​7-15, while the average sleep quality of the elderly after the intervention decreased to 5.35 with a standard deviation of 1,599, a range of values ​​4-9. The difference in the average value before and after PMR was 4.95 with a standard deviation difference of 0.481. Conclusion: There was a difference in the average sleep quality of the elderly before and after the intervention PMR with a statistical test result of p-value 0.000 (<0.05), so there was an effect of PMR on the sleep quality of the elderly. Suggestion: PMR can be done independently at home and as an additional therapy that can be used to improve sleep quality.   Keywords: Elderly; Progressive Muscle Relaxation (PMR); Sleep Quality.   Pendahuluan: Lansia memiliki kualitas tidur yang buruk yang menyebabkan terganggunya aktivitas di siang hari. Progressive muscle relaxation (PMR) merupakan salah satu metode relaksasi sederhana yang melalui dua proses yaitu menegangkan dan merelaksasikan otot tubuh dan menjadi salah satu teknik yang dapat menurunkan kualitas tidur lansia. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh progressive muscle relaxation (PMR) terhadap kualitas tidur lansia. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan pre eksperimental one group pretest-posttest design. Populasi seluruh lanjut usia yang ada di Puskesmas Labuhan Ratu sebanyak 342 lansia dengan jumlah sampel 20 responden. Pengumpulan sampel menggunakan teknik sampling purposive sampling dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Rata-rata kualitas tidur lansia sebelum intervensi adalah 10.30 dengan standar deviasi 2.080 rentang nilai 7-15, sedangkan rata-rata kualitas tidur lansia sesudah diberi intervensi mengalami penurunan menjadi 5.35 dengan standar deviasi 1.599, rentang nilai 4-9. Selisih nilai mean sebelum dan setelah PMR 4.95 dengan selisih standar deviasi 0.481. Simpulan: Terdapat perbedaan rata-rata kualitas tidur lansia sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (PMR) dengan hasil uji statistik p-value 0.000 (< 0.05), sehingga adanya pengaruh PMR terhadap kualitas tidur lansia. Saran: PMR dapat dilakukan secara mandiri di rumah dan sebagai terapi tambahan yang bisa digunakan dalam meningkatkan kualitas tidur.   Kata Kunci: Kualitas Tidur; Lansia; Progressive Muscle Relaxation (PMR).
Hubungan resiliensi dan kemampuan merawat anggota keluarga dengan skizofrenia Silalahi, Evayanti Ratna Dewi; Purba, Jenny Marlindawani; Daulay, Wardiyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.433

Abstract

Background: Schizophrenia is a chronic mental disorder characterized by distortions in thinking, perception, emotion, language, and behavior. Families of people with schizophrenia often feel a heavy burden when the family's care needs cannot be met properly. Resilience is a key factor in dealing with stress, anxiety, and worry about the patient's condition. This ability is very important to have in order to accept, adapt, recover, and also overcome a problem that occurs in his life, so that individuals can maintain and continue life optimally. Purpose: To determine the relationship between resilience and ability to care for family members with schizophrenia undergoing outpatient treatment. Method: Quantitative research with a descriptive approach, the sample used was 30 family members of schizophrenia patients who came for treatment at the outpatient polyclinic of the Regional Technical Implementation Unit of Prof. Dr. Muhammad Ildrem Mental Hospital Medan. Sampling used non-probability sampling technique, purposive sampling method. Data collection used the family resilience assessment scale (FRAS) and a questionnaire on the ability to care for family members with schizophrenia. Data analysis used univariate with table presentation in the form of frequency distribution and percentage. Results: The average value of family resilience was 61.80 (sufficient category) for 28 participants (93.3%) and the average value of the ability to care for family members with schizophrenia was 31.17 (unable category) for 20 participants (66.7%). Conclusion: Family empowerment programs have been proven to increase family resilience and ability to care for ODS, so that indirectly it can prevent relapse and reduce signs of symptoms in schizophrenia. Suggestion: Further researchers should use research assistants and before involving assistants, Training of Trainers (TOT) should be conducted first to align perceptions between researchers and assistants, so that the research results obtained are more accurate.    Keywords: Caring Ability; Resilience; Schizophrenia.   Pendahuluan: Skizofrenia merupakan gangguan mental yang bersifat kronis ditandai dengan distorsi dalam berpikir, persepsi, emosi, bahasa, dan perilaku. Keluarga orang dengan skizofrenia (ODS) sering kali merasakan beban yang berat ketika kebutuhan perawatan yang diperlukan keluarga tidak dapat terpenuhi dengan baik. Resiliensi menjadi faktor kunci untuk mengatasi stres, gelisah, dan kekhawatiran terhadap kondisi pasien. Kemampuan ini sangat penting sekali dimiliki agar bisa menerima, beradaptasi, bangkit dan juga mengatasi sebuah permasalahan yang terjadi di hidupnya, sehingga individu bisa menjaga dan melangsungkan hidup secara maksimal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan resiliensi dan kemampuan merawat anggota keluarga dengan skizofrenia (ODS) yang menjalani rawat jalan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, sampel yang digunakan adalah 30 anggota keluarga dengan skizofrenia yang datang berkunjung ke poli rawat jalan UPTD khusus Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem, Medan. Pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling metode purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan family resilience assessment scale (FRAS) dan kuesioner kemampuan merawat anggota keluarga ODS. Analisis data menggunakan univariat dengan penyajian tabel berbentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Nilai rerata resiliensi keluarga 61.80 (kategori cukup) sebanyak 28 partisipan (93.3%) dan nilai rerata kemampuan merawat anggota keluarga dengan skizofrenia 31.17 (kategori tidak mampu) sebanyak 20 partisipan (66.7%). Simpulan: Program pemberdayaan keluarga terbukti meningkatkan resiliensi dan kemampuan keluarga merawat ODS, sehingga secara tidak langsung dapat mencegah kekambuhan dan penurunan tanda gejala pada skizofrenia. Saran: Penelitian selanjutnya agar menggunakan asisten peneliti dan sebelum melibatkan asisten, perlu dilakukan Training of Trainers (TOT) terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi antara peneliti dan asisten, sehingga hasil penelitian akan lebih akurat.   Kata Kunci: Kemampuan Merawat; Resiliensi; Skizofrenia.
Determinan biopsikososial kebugaran kardiorespirasi pada penderita diabetes melitus (jemaah haji) Ekawati, Puspaningdyah; Setiani, Onny; Sutiningsih, Dwi; Suroto, Suroto; Fauzi, Muh
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.442

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is closely related to decreased cardiorespiratory fitness and impaired exercise. DM is the second highest disease after hypertension in Hajj pilgrims in Blora Regency. The cardiorespiratory fitness status of Hajj pilgrims in Blora Regency in 2023 was mostly in the sufficient category (49.6%) and the poor category (30.4%). Given the importance of cardiorespiratory fitness in Hajj pilgrims with DM, an approach is needed that is able to examine various factors related to cardiorespiratory fitness through a biopsychosocial approach. Purpose: To analyze the biopsychosocial determinants of cardiorespiratory fitness in Hajj pilgrims with DM. Method: A cross-sectional design study was used to examine biopsychosocial factors on cardiorespiratory fitness. This study was conducted in Blora Regency in February-April 2024. The sampling technique used purposive sampling, the sample size was calculated using the Slovin formula and based on the researcher's justification, a sample of 119 respondents was taken. The inclusion criteria were being able to communicate well, being diagnosed with DM by a doctor, and laboratory results (GDS, GDP and HBA1c). Data analysis used univariate, bivariate (chi-square and logistic regression), and multivariate. Results: Most respondents (47.1%) had poor cardiorespiratory fitness (not fit). The results of the bivariate test showed that the variables of age (p=0.035, PR= 1.57), gender (p=0.044, PR= 1.56), BMI (p=0.016, PR= 1.65), physical activity (p=0.000, PR= 4.68), stress (p=0.000, PR= 2.30), and activity at the Integrated Development Post for non-communicable diseases (p=0.005, PR= 1.80) were related to cardiorespiratory fitness. The most dominant variables on cardiorespiratory fitness in DM hajj pilgrims were physical activity and stress variables controlled by age and gender. Conclusion: There is a relationship between age, gender, BMI, physical activity, stress and activity at the Integrated Development Post for Non-Communicable Diseases with cardiorespiratory fitness in DM hajj pilgrims. However, the most dominant is physical activity and stress which are controlled by age and gender.   Keywords: Biopsychosocial; Cardiorespiratory; Diabetes Mellitus; Fitness; Hajj Pilgrim.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) berkaitan erat dengan penurunan kebugaran kardiorespirasi dan gangguan olahraga. DM merupakan penyakit tertinggi kedua setelah hipertensi pada jemaah haji di Kabupaten Blora. Status kebugaran kardiorespirasi pada jamaah haji di Kabupaten Blora tahun 2023 sebagian besar dengan kategori cukup (49.6%) dan kategori kurang (30.4%).Mengingat pentingnya kebugaran kardiorespirasi pada jemaah haji dengan DM, perlu dilakukan pendekatan yang mampu mengkaji berbagai faktor yang berhubungan dengan kebugaran kardiorespirasi melalui pendekatan biopsikososial. Tujuan: Untuk menganalisis determinan biopsikososial terhadap kebugaran kardiorespirasi pada jemaah haji dengan DM. Metode: Penelitian desain cross sectional, digunakan untuk mengkaji faktor biopsikososial terhadap kebugaran kardiorespirasi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Blora pada bulan Februari-April 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, besar sampel dihitung dengan rumus Slovin dan berdasarkan justifikasi peneliti diambil total sampling sebanyak 119 responden. Kriteria inklusi yaitu mampu berkomunikasi dengan baik, terdiagnosis DM oleh dokter, dan hasil laboratorium (GDS, GDP dan HBA1c). Analisis data menggunakan univariat, bivariat (chi-square dan regresi logistik), dan multivariat. Hasil: Sebagian besar responden (47.1%) mempunyai kebugaran kardiorespirasi kurang (tidak bugar). Hasil uji bivariat menunjukkan variabel umur (p=0.035, PR= 1.57), jenis kelamin (p=0.044, PR= 1.56), IMT (p=0.016, PR= 1.65), aktivitas fisik (p=0.000, PR= 4.68), stres (p=0.000, PR= 2.30), dan keaktifan dalam posbindu PTM (p=0.005, PR= 1.80) berhubungan dengan kebugaran kardiorespirasi. Variabel yang paling dominan terhadap kebugaran kardiorespirasi pada jemaah haji dengan DM adalah variabel aktivitas fisik dan stres yang dikontrol dengan umur dan jenis kelamin. Simpulan: Terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, IMT, aktivitas fisik, stres dan aktivitas di Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular dengan kebugaran kardiorespirasi pada jemaah haji DM. Namun yang paling dominan adalah aktivitas fisik dan stres yang dikontrol oleh usia dan jenis kelamin.   Kata Kunci: Biopsikososial; Diabetes Mellitus; Jemaah Haji; Kardiorespirasi; Kebugaran.
Keterampilan keluarga yang memiliki anak dengan gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas (GPPH) Ansela, Rasninta Devi; Purba, Jenny Marlindawani; Daulay, Wardiyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 8 (2024): Volume 18 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i8.447

Abstract

Background: Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is a mental disorder that causes children to have difficulty concentrating and taking action without thinking about the consequences of what they do and becoming hyperactive. Having and caring for a child with ADHD is a challenge for families, especially parents, so family skills are needed in caring for children with ADHD. Purpose: To describe the skills of families who have children with ADHD. Method: Descriptive research on the skills of families who have children with ADHD, was conducted at Special Schools (SLB) in Medan City in March-April 2024. Sampling used random sampling according to the inclusion criteria, so that the number of respondents was 36 people. The sample inclusion criteria used were parents or those who live with children with ADHD and were willing to be respondents, while the exclusion criteria were respondents with unilateral reasons for stopping participating in the study. The study was conducted by distributing questionnaires to respondents with a Likert scale assessment and univariate data analysis. Results: Most respondents have a high school education of 21 respondents (58.3%), work as self-employed as many as 18 respondents (50.0%) with income below the regional minimum wage as many as 21 respondents (58.3%). Based on the relationship with children, most respondents are parents of children as many as 35 respondents (97.2%) and most respondents are in the medium skill category as many as 35 respondents (97.2%). Conclusion: Respondents had medium skills, so the importance of support and encouragement from health workers in improving family skills in caring for children with ADHD.   Keywords: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD); Children; Family; Skills.   Pendahuluan: Gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas (GPPH) merupakan salah satu gangguan mental yang menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk konsentrasi dan melakukan tindakan tanpa memikirkan akibat dari yang dilakukan serta hiperaktif. Memiliki dan merawat anak dengan GPPH merupakan sebuah tantangan bagi keluarga khususnya orang tua, sehingga perlu memiliki keterampilan keluarga dalam merawat anak dengan GPPH. Tujuan: Untuk mendeskripsikan keterampilan keluarga yang memiliki anak dengan gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas (GPPH). Metode: Penelitian deskriptif tentang keterampilan keluarga yang memiliki anak dengan gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas (GPPH), dilakukan di sekolah luar biasa (SLB) di Kota Medan pada bulan Maret-April 2024. Pengumpulan sampel menggunakan random sampling sesuai kriteria inklusi, sehingga didapatkan jumlah sebanyak 36 responden. Kriteria inklusi sampel yang digunakan yaitu, orang tua atau yang tinggal bersama dengan anak GPPH dan bersedia untuk menjadi responden, sedangkan kriteria eksklusi adalah responden dengan alasan sepihak menghentikan keikutsertaan dalam penelitian. Penelitian dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada responden dengan penilaian skala likert dan analisis data univariat. Hasil: Mayoritas responden menamatkan pendidikannya hingga SMA sebanyak 21 responden (58.3 %), bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 18 (50.0 %) dengan penghasilan yang didapat <UMR sebanyak 21 responden (58.3). Berdasarkan hubungan dengan anak, mayoritas responden adalah orang tua anak sebanyak 35 (97.2 %) dan sebagian besar responden dalam kategori keterampilan sedang sebanyak 35 (97.2%). Simpulan: Responden memiliki keterampilan sedang, sehingga pentingnya dukungan dan dorongan tenaga kesehatan dalam meningkatkan keterampilan keluarga untuk merawat anak dengan GPPH.   Kata Kunci: Anak; Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas (GPPH); Keluarga; Keterampilan.
Peran probiotik terhadap pembentukan toleransi imun pada bayi dengan alergi susu sapi: A literature review Aini, Putri Qurrata; Octaria, Yessi Crosita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.451

Abstract

Background: One of the types of food allergy that often occurs in infants even those given exclusive breast milk is cow's milk allergy. In recent years, treatments for cow’s milk protein allergy have shifted from a cow’s milk protein-free diet to a more active intervention in regulating the immune system. At the infancy stage, the growth of immune response and food allergies is affected by probiotic modulated intestinal microbiota, through the potential of modulating immune tolerance in infants with cow’s milk protein allergy. Purpose: To provide an overview of recent research results on the role of probiotics in the formation of immune tolerance in infants with cow's milk allergy. Method: Descriptive research with Systematic Literature Review method conducted in June 2024 with PRISMA guidelines for RCT. Literature search is obtained through: PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, Cochrane Library, ProQuest, Wiley Online Library, MDPI, and Taylor & Francis Online with the range of 2019-2024. Of the 620 search results, 6 articles met the criteria and then analyzed. Results: This systematic review shows that probiotics significantly have a role in developing immune tolerance including decreased symptoms, risk of infection, and sensitization in infants with cow’s milk protein allergy. Conclusion: Probiotics provided in Extensively Hydrolyzed Casein-based Formula (EHCF) or Amino Acid-based Formula (AAF) have a role in developing immune tolerance in infants with cow’s milk protein allergy through modulation in the gut microbiota by affecting epigenetic mechanisms related to immune tolerance. Suggestion: There is a need for synthesis of stronger current RCT results with more inclusion studies to evaluate the most effective dosage and duration of probiotic administration in the treatment of infants with cow’s milk allergy, especially its effect on developing immune tolerance.   Keywords: Cow’s Milk Allergy; Immune Tolerance; Infants; Probiotics.   Pendahuluan: Alergi susu sapi termasuk alergi makanan yang sering ditemui pada bayi, bahkan yang diberikan ASI eksklusif. Dalam beberapa tahun terakhir, tatalaksana alergi susu sapi beralih dari diet bebas protein susu sapi menjadi intervensi yang lebih aktif dalam memodulasi sistem imun. Pada masa bayi, perkembangan respon imun dan alergi makanan dipengaruhi oleh mikrobiota usus yang dimodulasi probiotik, dengan potensi modulasi toleransi imun pada bayi dengan alergi susu sapi. Tujuan: Untuk memberikan gambaran dari hasil penelitian terkini tentang peran probiotik dalam pembentukan toleransi imun pada bayi dengan alergi susu sapi. Metode: Penelitian deskriptif dengan metode Systematic Literature Review yang dilakukan pada bulan Juni 2024 dengan pedoman PRISMA untuk RCT. Pencarian literatur didapatkan melalui: PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, Cochrane Library, ProQuest, Wiley Online Library, MDPI, dan Taylor & Francis Online dengan rentang tahun 2019-2024. Dari 620 hasil pencarian, 6 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis. Hasil: Tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa probiotik secara signifikan berperan dalam meningkatkan toleransi imun termasuk penurunan gejala, risiko infeksi, dan sensitisasi pada bayi yang menderita alergi susu sapi. Simpulan: Probiotik yang disediakan pada formula Extensively Hydrolyzed Casein Formula (EHCF) ataupun Amino Acid-based Formula (AAF) berperan dalam meningkatkan toleransi imun pada bayi dengan alergi susu sapi melalui modulasi mikrobiota usus dengan memengaruhi mekanisme epigenetik terkait toleransi imun. Saran: Diperlukan adanya sintesis terhadap hasil RCT terkini yang lebih kuat dengan jumlah studi inklusi yang lebih banyak untuk mengevaluasi dosis dan durasi pemberian probiotik yang paling efektif dalam tatalaksana pada bayi dengan alergi susu sapi, terutama efeknya dalam peningkatan toleransi imun.   Kata Kunci: Alergi Susu Sapi; Bayi; Probiotik; Toleransi Imun.
Dukungan keluarga (etnis Batak Toba) terhadap kepatuhan lansia penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan Sirait, Trisno; Nasution, Siti Zahara; Siregar, Farida Linda Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 7 (2024): Volume 18 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i7.453

Abstract

Background: Hypertension is a disorder of the blood vessels that causes the supply of oxygen and nutrients carried by the blood to be blocked to the body tissues that need it. Family support is the attitude, actions, and acceptance of the family towards their family members in the form of emotional support, instrumental support, informational support, and appreciation support. Purpose: To analyze family support (Batak Toba ethnic group) towards the compliance of elderly hypertension patients in undergoing treatment. Method: Quantitative research with a cross-sectional approach was conducted in the Batak Toba community in the working area of ​​the Uluan Health Center technical implementation unit as many as 64 patients and Janji Matogu as many as 76 patients in February-March 2024 as many as 140 samples. Data collection used a non-probability sampling technique, namely purposive sampling and the Slovin formula for a 5% error rate. The sample inclusion criteria used were elderly people who had been diagnosed with hypertension ≥ 1 year and lived with their families, while the exclusion criteria were elderly people who moved, refused to be respondents, and lived alone. The instruments used were family support questionnaire sheets and compliance variables using MMAS-8. The questionnaire has been tested for validity and reliability, the data analysis used was univariate and bivariate. Results: Data analysis showed emotional support (p-value = 0.012), instrumental (p-value = 0.037), informational (p-value = 0.026), and appreciation (p-value = 0.028). All family support variables obtained p-values ​​<0.05, so there is a significant influence between family support on elderly compliance in undergoing hypertension treatment. Conclusion: There is a significant relationship between emotional, instrumental, informational, and appreciation support variables from the family on elderly compliance in undergoing hypertension treatment. Suggestion: Community health centers should provide counseling regarding emotional, instrumental, informational, and appreciation support to families, so that the elderly feel comfortable, close to their families, and receive affection, empathy, and trust from their families.   Keywords: Compliance; Elderly; Family Support; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai kejaringan tubuh yang membutuhkannya. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan, penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganya yang berupa dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasional dan dukungan penghargaan. Tujuan: Untuk menganalisis dukungan keluarga (etnis Batak Toba) terhadap kepatuhan lansia penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilakukan kepada masyarakat Batak Toba di wilayah kerja UPT Puskesmas Uluan sebanyak 64 pasien dan Janji Matogu sebanyak 76 pasien pada bulan Februari-Maret 2024 kepada 140 sampel. Pengumpulan data menggunakan teknik non probability sampling yaitu purposive sampling dan rumus Slovin untuk tingkat kesalahan 5%. Kriteria inklusi sampel yang digunakan adalah lansia yang telah didiagnosa hipertensi ≥ 1 tahun dan tinggal dengan keluarga, sedangkan kriteria eksklusi yaitu lansia yang berpindah-pindah tempat tinggal, menolak menjadi responden, dan tinggal sendiri. Instrumen yang digunakan yaitu lembar kuesioner dukungan keluarga dan variabel kepatuhan menggunakan MMAS-8. Kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitas, analisis data yang digunakan yaitu univariat dan bivariat. Hasil: Analisis data menunjukkan dukungan emosional (p-value = 0.012), instrumental (p-value = 0.037), informasional (p-value = 0.026), dan penghargaan (p-value = 0.028). Seluruh variabel dukungan keluarga mendapatkan p-value <0.05, sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan keluarga terhadap kepatuhan lansia menjalankan pengobatan hipertensi. Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara variabel dukungan emosional, instrumental, informasional, dan penghargaan dari keluarga terhadap kepatuhan lansia yang menjalani pengobatan hipertensi. Saran: Pihak puskesmas memberikan penyuluhan mengenai dukungan emosional, instrumental, informasional, dan penghargaan kepada keluarga, sehingga lansia merasa nyaman, dekat dengan keluarga, serta mendapatkan kasih sayang, empati, dan kepercayaan dari keluarga.                                                              Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Hipertensi; Kepatuhan; Lansia.
Pengaruh mengonsumsi teh daun kelor (moringa oleifera lam) terhadap penurunan kadar glukosa darah dan kadar kolesterol pada individu obesitas Irwandi, Irwandi; Suhita, Byba Melda; Kusumawati, Prima Dewi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.459

Abstract

Background: Obesity is often associated with metabolic diseases such as type 2 diabetes mellitus (DM), hypercholesterolemia, and increases the risk of cardiovascular disease. The use of pharmacotherapy drugs is often used, but can cause side effects. Alternative therapies are needed using traditional medicinal plants. Moringa leaves have great potential as a source of nutrition, natural medicine, cosmetic industry, and environmental improvement. Moringa leaf extract (Moringa oleifera) has antihyperglycemic activity by inhibiting the glucosidase enzyme found in the small intestine which causes a decrease in the rate of carbohydrate digestion into monosaccharides that can be absorbed by the small intestine, thereby reducing postprandial hyperglycemia. Purpose: To know effectiveness of consuming Moringa leaf tea reduces blood glucose and cholesterol levels in obese individuals. Method: Quantitative research using a non-equivalent control group experimental design. The study was conducted on participants with diabetes mellitus and obesity at the Lunyuk District Health Center, Sumbawa Regency, West Nusa Tenggara, which was carried out on December 13-26, 2023. The independent variable in this study was the provision of moringa leaf tea, while the dependent variables were blood glucose levels and cholesterol levels in obese individuals. The sampling technique used purposive sampling and the Slovin formula, obtained 100 participants who were divided into two groups, namely 50 participants in the intervention group and 50 participants in the control group. The intervention group was consuming moringa leaf tea and the control group that was not consuming moringa leaf tea was carried out for ten days. Statistical tests for univariate and bivariate data analysis used paired t-tests. Results: Consuming moringa leaf tea can reduce blood glucose levels. In the intervention group, blood glucose levels decreased from an average of 385.86 mg/dL at pre-test to 362.4 mg/dL at post-test. In the control group, there was an increase from 374.4 mg/dL at pre-test to 376.04 mg/dL at post-test. Consuming moringa leaf tea can reduce cholesterol levels. In the intervention group, average cholesterol levels decreased from 275.6 mg/dL to 261.58 mg/dL after consuming moringa leaf tea for ten days. In the control group, there was an increase from 268.22 mg/dL to 277.14 mg/dL. Conclusion: Consuming Moringa leaf tea has the potential as an additional therapy in the management of obesity, diabetes mellitus, and hypercholesterolemia. Suggestion: There is a need to increase education and socialization to the public regarding the benefits of Moringa leaf tea consumption, especially for people with diabetes mellitus and obesity through health campaigns using various media to increase awareness and understanding.   Keywords: Blood Glucose Levels; Cholesterol Levels; Moringa Leaf Tea; Obesity.   Pendahuluan: Obesitas sering terkait dengan penyakit metabolik seperti diabetes mellitus (DM) tipe 2, hiperkolesterolemia, dan meningkatkan risiko terhadap penyakit kardiovaskular. Penggunaan obat farmakoterapi sering digunakan, namun dapat menimbulkan efek samping. Diperlukan alternatif terapi dengan menggunakan tanaman obat tradisional. Daun kelor berpotensi besar sebagai sumber nutrisi, pengobatan alami, industri kosmetik, dan perbaikan lingkungan. Ekstrak daun moringa oleifera memiliki aktivitas anti-hiperglikemik dengan menghambat enzim glukosidase yang terdapat pada usus halus yang menyebabkan penurunan laju pencernaan karbohidrat menjadi monosakarida yang dapat diserap usus halus, sehingga menurunkan hiperglikemia postprandrial. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh mengonsumsi teh daun kelor terhadap penurunan kadar glukosa darah dan kolesterol pada individu obesitas. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain eksperimen non-equivalent control group. Penelitian dilakukan pada partisipan yang mempunyai diabetes mellitus dan obesitas di Puskesmas Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dilaksanakan pada 13-26 Desember 2023. Variabel independen dalam penelitian ini adalah mengonsumsi teh daun kelor, sedangkan variabel dependen yaitu kadar glukosa darah dan kadar kolesterol pada individu obesitas. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dan rumus slovin, didapatkan sebanyak 100 partisipan, dibagi menjadi dua kelompok yakni 50 partisipan kelompok intervensi dan 50 partisipan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mengonsumsi teh daun kelor, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan selama sepuluh hari. Analisa data univariat dan bivariate uji statistik menggunakan uji paired t-test. Hasil: Mengonsumsi teh daun kelor pada individu obesitas menurunkan kadar glukosa darah kelompok intervensi, kadar glukosa darah menurun dari rata-rata 385.86 mg/dL pada pre-test menjadi 362.4 mg/dL saat post-test. Kelompok kontrol mengalami peningkatan dari 374.4 mg/dL pada pre-test menjadi 376.04 mg/dL saat post-test. Mengonsumsi teh daun kelor pada individu obesitas dapat menurunkan kadar kolesterol. Kelompok intervensi, rata-rata kadar kolesterol menurun dari 275.6 mg/dL menjadi 261.58 mg/dL setelah konsumsi teh daun kelor selama sepuluh hari. Kelompok kontrol menunjukkan peningkatan dari 268.22 mg/dL menjadi 277.14 mg/dL. Simpulan: Teh daun kelor memiliki potensi sebagai terapi tambahan dalam manajemen obesitas, diabetes melitus, dan hiperkolesterolemia. Saran: Perlu adanya peningkatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat teh daun kelor, terutama bagi penderita diabetes melitus dan obesitas melalui kampanye kesehatan menggunakan berbagai media untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman.   Kata Kunci: Kadar Glukosa Darah; Kadar Kolesterol; Obesitas; Teh Daun Kelor.

Page 10 of 11 | Total Record : 106