cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Batujaya Karawang Susilawati, Susi; Mayasari, Dyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.162

Abstract

Background: Increasing breast milk production needs to be done to increase the success of breastfeeding babies in an effort to improve the health of babies and mothers. Based on the 2021 Indonesian National Health Profile, the coverage of babies receiving exclusive breastfeeding in 2021 was 56.9%, a decrease compared to the previous year, namely 66.1%. Several causes related to breast milk production include knowledge, employment, early initiation of breastfeeding, husband's support, and early marriage. Purpose: To determine the factors that influence exclusive breastfeeding. Method: Quantitative analytical research with cross sectional design. The research sample consisted of 108 mothers who had babies aged 7-12 months using the Accidental Sampling technique. The research instrument used a questionnaire, primary data was analyzed using the chi square test. Results: Most breastfeeding mothers had poor knowledge as much as 63.0%, worked 50.9%, did not practice early initiation of breastfeeding 58.3%, husbands did not support 57.4%, did not have early marriages 68.5%, and gave exclusive breastfeeding 57.4%. The results of bivariate analysis show that there is a relationship between knowledge (p-value=0.028), employment (p-value=0.000), implementation of early breastfeeding initiation (p-value=0.004), husband's support (p-value= 0.007), and early marriage (p-value=0.012) with exclusive breastfeeding. Conclusions: Knowledge, occupation, implementation of early breastfeeding initiation, husband support, and early marriage are associated with exclusive breastfeeding. Suggestions: Hoped that midwives can help breastfeeding mothers about the impact of early marriage, the importance of breastfeeding and information about the importance of husband support for mothers so that husbands understand and know about it through counseling and counseling and using advertisements or posters.   Keywords: Early Breastfeeding Initiation; Early Marriage; Employment; Exclusive Breastfeeding; Husband Support; Knowledge.   Pendahuluan: Peningkatan produksi ASI perlu dilakukan untuk mendukung keberhasilan menyusui bayi dalam upaya meningkatkan kesehatan bagi bayi dan ibu. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2021 secara nasional, cakupan bayi mendapat ASI eksklusif sebesar 56.9%, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu mencapai 66.1%. Beberapa penyebab yang berhubungan dengan produksi ASI antara lain, pengetahuan, pekerjaan, pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD), dukungan suami, dan pernikahan dini. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian yaitu ibu mempunyai bayi berumur 7-12 bulan sebanyak 108 responden dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan data dianalisis menggunakan univariat dan bivariat uji  chi square. Hasil: Sebagian besar ibu menyusui dengan pengetahuan kurang baik 63.0%, bekerja 50.9%, tidak melakukan IMD 58.3%, suami tidak mendukung 57.4%, tidak melakukan pernikahan dini 68.5%, dan pemberian ASI eksklusif 57.4%. Terdapat hubungan antara pengetahuan (p-value=0.028), pekerjaan (p-value=0.000), pelaksanaan inisiasi menyusui dini (IMD) (p-value=0.004), dukungan suami (p-value=0.007), dan pernikahan dini (p-value=0.012) dengan pemberian ASI eksklusif. Simpulan: Pengetahuan, pekerjaan,  pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD), dukungan suami, dan pernikahan dini berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Saran: Diharapkan bidan dapat membantu ibu menyusui tentang dampak jika menikah usia dini, pentingnya pemberian ASI dan informasi tentang pentingnya dukungan suami pada ibu, sehingga suami mengerti dan mengetahuinya melalui penyuluhan dan konseling serta menggunakan iklan atau poster.   Kata Kunci: Dukungan Suami; Pekerjaan; Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD);  Pemberian ASI Eksklusif;  Pengetahuan; Pernikahan Dini.
Vulvovaginal hematoma pasca melahirkan pervaginam di layanan primer: Sebuah tinjauan literatur sistematis Purnama, Utari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.168

Abstract

Background: Vulvovaginal hematoma is a bleeding complication that can occur after vaginal delivery. In this incident, it was found that the delivery assistant was alert in primary care, even though if this complication was not immediately recognized and treated, it could prolong treatment time and even cause death. Purpose: To provide information about cases of vulvovaginal hematoma complications that occur after vaginal delivery to increase the vigilance of birth attendants in primary care. Method: Systematic literature review research on case reports that have been published in international journals in the last 5 years, originating from various countries, using the Google Scholar application and Mendeley.com with the keywords vulvovaginal hematoma. The search results found 7 manuscripts that met the inclusion criteria. Results: Vulvovaginal hematoma after vaginal delivery occurs due to trauma to the internal pudendal blood vessels due to the birth process and/or actions to assist with delivery. This hematoma can occur spontaneously or several hours after delivery and is characterized by the emergence of pain and swelling in the perineal area. This complication can appear with mild to severe clinical manifestations such as shock, so an immediate diagnosis is needed to decide what treatment will be carried out. Conclusion: This literature review provides evidence that there is still no clear consensus regarding the management of vulvovaginal hematoma after vaginal delivery. Immediate resuscitation needs to be carried out to prevent the patient from losing more blood, minimize tissue damage, relieve the patient from pain and avoid the danger of infection.   Keywords: Conservative Management; Vaginal Delivery; Vulvovaginal Hematoma.   Pendahuluan: Vulvovaginal hematoma merupakan salah satu komplikasi perdarahan yang dapat terjadi pasca melahirkan pervaginam. Pada insiden ini ditemukan kurangnya kewaspadaan penolong melahirkan di layanan primer, padahal jika komplikasi ini tidak segera dikenali dan tangani dapat memperpanjang waktu rawatan bahkan menyebabkan kematian. Tujuan: Untuk memberikan informasi tentang kasus komplikasi hematoma vulvovaginal yang terjadi pasca melahirkan pervaginam sehingga mampu meningkatkan kewaspadaan penolong melahirkan di layanan primer. Metode: Penelitian tinjauan literatur sistematis terhadap laporan kasus yang telah terpublikasi di jurnal internasional 5 tahun terakhir, berasal dari berbagai negara, menggunakan aplikasi Google Scholar dan Mendeley.com dengan kata kunci vulvovaginal hematoma. Hasil penelusuran didapati 7 naskah yang masuk dalam kriteria inklusi. Hasil: Hematoma vulvovaginal pasca melahirkan pervaginam terjadi akibat trauma pembuluh darah pudenda internal akibat proses melahirkan dan atau tindakan dalam menolong melahirkan, hematoma ini dapat terjadi secara spontan maupun beberapa jam setelah melahirkan yang ditandai dengan timbulnya nyeri dan pembengkakan di daerah perineum. Komplikasi ini dapat muncul dengan manifestasi klinis ringan hingga berat seperti terjadinya syok sehingga diperlukan penegakan diagnosis yang segera untuk memutuskan tatalaksana yang akan dilakukan. Simpulan: Tinjauan literatur ini memberikan bukti bahwa, tatalaksana hematoma vulvovaginal pasca melahirkan pervaginam masih belum ada konsensus jelas yang mengaturnya. Resusitasi segera perlu dilakukan untuk mencegah pasien kehilangan darah lebih banyak, meminimalisir kerusakan jaringan, membebaskan pasien dari rasa nyeri serta menghindari bahaya infeksi.   Kata Kunci: Manajemen Konservatif; Melahirkan Pervaginam; Vulvovaginal Hematoma.
Gaya hidup dan nutrisi dengan terjadinya blighted ovum pada ibu hamil trimester 1 di rumah sakit X Rengasdengklok Karawang Lisa, Lisa; Mochartini, Tri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.188

Abstract

Background: Blighted ovum is a pregnancy without a fetus (anembryonic pregnancy), so there is only a gestational sac and amniotic fluid. According to the World Health Organization (WHO) in 2016, it is estimated that 10-15% of clinical conceptions will experience abortion and 3% of them will experience blighted ovum. It is estimated that throughout the world, blighted ovum is the cause of 60% of miscarriages, even in ASEAN it reaches 51%, while in Indonesia it is found in 37% of every 100 pregnancies. Purpose: To determine the relationship between lifestyle and nutrition with the incidence of blighted ovum in pregnant women in the 1st trimester. Method: Quantitative research using a cross sectional approach. The population in this study were all mothers who experienced blighted ovum at Hastien Rengasdengklok Karawang Hospital on 12 June-28 August 2023, totaling 51 people with a sampling technique using total sampling. Results: There is no relationship between the respondent's lifestyle and nutrition or eating patterns and the incidence of blighted ovum because the p-value statistical test results for both variables are more than a significant value (a = 0.05), namely -0.75 (<0.05). Conclusion: There is no relationship between lifestyle choices and nutrition and the incidence of blighted ovum in pregnant women.   Keywords: Blighted Ovum; Lifestyle; Nutrition.   Pendahuluan: Blighted ovum merupakan kehamilan tanpa janin (anembryonic pregnancy), jadi hanya ada kantong gestasi (kantong kehamilan) dan air ketuban saja. menurut World Health Organization (WHO) tahun 2016, diperkirakan 10-15% hasil konsepsi klinis akan mengalami abortus dan 3% diantaranya adalah blighted ovum. Diperkirakan di seluruh dunia bahwa blighted ovum menjadi 60% dari penyebab kasus keguguran, bahkan di ASEAN mencapai 51%, sedangkan di Indonesia ditemukan 37% dari setiap 100 kehamilan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan nutrisi dengan terjadinya blighted ovum pada ibu hamil trimester 1 Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mengalami blighted ovum di Rumah Sakit Hastien Rengasdengklok Karawang pada tanggal 12 Juni-28 Agustus 2023 yang berjumlah 51 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil: Tidak terdapat hubungan antara gaya hidup dan nutrisi atau pola makan responden dengan kejadian blighted ovum karena hasil uji statistik p-value kedua variabel lebih dari nilai signifikan (a =0.05) yaitu -0.75 (<0.05). Simpulan: Tidak ada hubungan antara pilihan gaya hidup dan gizi dengan kejadian blighted ovum pada ibu hamil.   Kata Kunci : Blighted Ovum; Gaya Hidup; Nutrisi.
Kadar hemoglobin pada remaja putri yang sedang menstruasi di desa Donoyudan Kalijambe Sragen Cahyani, Leni; Sulastri, Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.195

Abstract

Background: Hemoglobin levels in menstruating adolescent girls are not only an important indicator for assessing their reproductive health status, but also play an important role in understanding other aspects of well-being. Sufficient hemoglobin levels indicate optimal body function, especially in terms of transporting oxygen to all organs and tissues. This research was conducted because of the lack of information regarding hemoglobin levels in adolescent girls. Purpose: To provide an overview of hemoglobin levels in adolescent girls who are menstruating. Method: Quantitative research uses a descriptive approach to hemoglobin levels in adolescent girls who are menstruating. The research was carried out in Donoyudan Village, Kalijambe, Sragen in October-November 2023. The simple random sampling method was carried out by randomizing 30 neighborhood units and selecting 1 adolescent girls from each neighborhood, so that a sample of 30 people was obtained. Data analysis uses the Wilcoxon test to determine the relationship between two variables. Results: The average decrease in hemoglobin levels before and after menstruation is 16 mg/dL. These results indicate a decrease in hemoglobin levels in adolescent girls after menstruation due to loss of iron in the body. This data also shows that there are no young women whose hemoglobin levels remain stable after menstruation. Based on the Wilcoxon hypothesis test, Asymp. Sig (2-tailed) <0.001 (<0.05). Conclusion: There are changes in hemoglobin levels before and after young women experience menstruation and most have low hemoglobin levels after menstruation.   Keywords: Adolescent Girls; Hemoglobin; Menstruation.   Pendahuluan: Kadar hemoglobin pada remaja putri yang sedang menstruasi tidak hanya menjadi indikator penting untuk menilai status kesehatan reproduksi mereka, tetapi juga memainkan peran krusial dalam memahami aspek-aspek lain dari kesejahteraan mereka. Tingkat hemoglobin yang adekuat menandakan fungsi tubuh yang optimal, khususnya dalam hal transportasi oksigen ke seluruh organ dan jaringan. Penelitian ini dilakukan karena minimnya informasi mengenai kadar hemoglobin pada remaja putri. Tujuan: Untuk memberikan gambaran mengenai kadar hemoglobin pada remaja putri yang sedang menstruasi. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan deskriptif terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri yang sedang mengalami menstruasi. Penelitian dilakukan di Desa Donoyudan, Kalijambe, Sragen pada bulan Oktober-November 2023. Metode simple random sampling dengan mengacak 30 RT dan dipilih masing-masing 1 remaja putri, sehingga didapatkan sampel sebanyak 30 orang. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Hasil: Penurunan kadar Hb sebelum dan sesudah menstruasi yaitu rata-rata penurunan sebanyak 16 mg/dL. Hasil ini menunjukkan adanya pengurangan kadar Hb pada remaja putri pasca menstruasi karena kehilangan zat besi dalam tubuhnya. Data juga memperlihatkan tidak ada remaja putri yang kadar Hb nya tetap setelah mengalami menstruasi. Berdasarkan uji hipotesis Wilcoxon didapatkan Asymp. Sig (2-tailed) <0.001 (<0.05). Simpulan: Terjadi perubahan kadar Hb sebelum dan sesudah remaja putri mengalami menstruasi dan mayoritas memiliki kadar Hb yang rendah setelah menstruasi.   Kata Kunci: Hemoglobin; Menstruasi; Remaja Putri.
Hubungan antara mindfulness dengan kepatuhan terapi anti-retroviral orang dengan human immunodeficiency virus Oktaviani, Rurun Nisa; Kristinawati, Beti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.235

Abstract

Background: Compliance with taking anti-retrovirals is very necessary for people with human immunodeficiency virus or acquired immunodeficiency syndrome. because it can reduce the risk of transmission, improve the quality of life of people with human immunodeficiency virus (HIV), reduce the amount of virus in the blood (viral load) until it is undetectable , and inhibit opportunistic infections. To achieve successful adherence to antiretroviral therapy, people with human immunodeficiency virus or acquired immunodeficiency syndrome need to be aware of their current situation and understand what should be done at this time. Mindfulness refers to being aware of current circumstances, and paying attention without judgment. Purpose: To determine the relationship between mindfulness and compliance with antiretroviral therapy in people with Human Immunodeficiency Virus or Acquired Immunodeficiency Syndrome. Method: Quantitative research type with a descriptive correlation design (non-experimental) and research design using a cross sectional design. This research was conducted in October-December 2023 at the Voluntary Counseling and Testing (VCT) Polyclinic, Manahan Health Center, Surakarta. The sampling technique in this research used purposive sampling and a sample size of 70 people was obtained. The independent variables are mindfulness, while the dependent variable is compliance with antiretroviral therapy for people with human immunodeficiency virus. Results: Based on the Spearman test output above, it is known that the significance or sig (2-tailed) value between the mindfulness variable and antiretroviral therapy adherence is (p= 0.000) < 0.05, meaning that there is a significant relationship between mindfulness and antiretroviral therapy adherence. The correlation coefficient value is 0.866, so it can be concluded that the relationship between the mindfulness variable and compliance with antiretroviral therapy is very strong. It is known that the value (correlation coefficient) is positive, namely +0.866, it is concluded that the direction of the relationship is positive between mindfulness and adherence to antiretroviral therapy. A positive or unidirectional relationship means that if mindfulness increases, adherence to antiretroviral therapy will increase. Conclusion: There is a significant relationship between mindfulness and adherence to anti-retroviral therapy in people with human immunodeficiency virus or acquired immunodeficiency syndrome. Suggestion: Further research needs to be carried out on the relationship between mindfulness and antiretroviral therapy compliance by adding other dependent variables such as socioeconomic status, health care system and team, and patient therapy regimen or patient clinical condition that influence antiretroviral therapy adherence.   Keywords: Adherence; Antiretroviral Therapy; Human Immunodeficiency Virus (HIV); Mindfulness.   Pendahuluan: Kepatuhan dalam mengonsumsi antiretroviral sangat diperlukan oleh orang dengan human immunodeficiency virus atau acquired immunodeficiency syndrome (ODHA) karena dapat menurunkan risiko penularan, meningkatkan kualitas hidup penderita human immunodeficiency virus (HIV), menurunkan jumlah virus dalam darah (viral load) hingga tidak terdeteksi, dan menghambat infeksi oportunistik. Untuk mencapai keberhasilan dari kepatuhan terapi antiretroviral ODHA perlu menyadari keadaanya saat ini serta memahami apa yang seharusnya dilakukan pada saat ini. Mindfulness mengacu pada menyadari keadaan yang sedang terjadi, dan memberi perhatian tanpa penilaian. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara mindfulness dengan kepatuhan terapi antiretroviral orang dengan Human Immunodeficiency Virus atau Acquired Immunodeficiency Syndrome (ODHA). Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi (non-eksperimental) dan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2023 di Poliklinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) Puskesmas Manahan Surakarta. Teknik sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 70 orang. Variabel independen adalah mindfulness, sedangkan variabel dependen yaitu kepatuhan terapi antiretroviral orang dengan human immunodeficiency virus. Hasil: Berdasarkan output uji Spearman, diketahui nilai signifikansi atau sig (2-tailed) antara variabel mindfulness dengan kepatuhan terapi antiretroviral sebesar (p= 0.000) <0.05, artinya bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara mindfulness dengan kepatuhan terapi antiretroviral. Nilai koefisien korelasi (Correlation coefficient) sebesar 0.866, hubungan antara variabel mindfulness dengan kepatuhan terapi antiretroviral adalah sangat kuat. Diketahui nilai (correlation coefficient) bernilai positif yakni sebesar +0.866, disimpulkan bahwa arah hubungan yang positif antara mindfulness dengan kepatuhan terapi antiretroviral. Hubungan positif atau searah artinya jika mindfulness meningkat maka kepatuhan terapi antiretroviral akan semakin meningkat. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara mindfulness dengan kepatuhan terapi anti-retroviral pada orang dengan human immunodeficiency virus atau acquired immunodeficiency syndrome (ODHA). Saran: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara mindfulness dengan kepatuhan terapi antiretroviral dengan menambah variabel dependen lain seperti status sosial ekonomi, sistem dan tim pelayanan kesehatan, dan regimen terapi pasien atau kondisi klinis pasien yang mempengaruhi kepatuhan terapi antiretroviral.   Kata Kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV); Kepatuhan; Mindfulness; Terapi Antiretroviral.
Self control penggunaan smartphone pada siswa-siswi kelas X Utami, Syafiah Ihsan; Juniarti, Neti; Hara, Ryan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.238

Abstract

Background: Adolescents are one of the groups with a high level of smartphone use. Excessive use can cause various impacts, both physical and mental. One of the factors that can influence smartphone use is self-control because it can make teenagers have control over themselves to maintain good behavior in everyday life, including when using smartphones. Purpose: To determine self-control of smartphone use in students grade X Method: Descriptive research design with a quantitative approach to self-control of smartphone use in grade X students of state senior high school 2 Majalaya totaling 210 students. The instrument used in this study was a questionnaire sheet containing 20 items and has been tested for validity and reliability. The data analysis used was univariate analysis presented in the form of a frequency distribution. Results: A total of 155 respondents (73.2%) had high self-control over smartphone use and 55 respondents (26.8%) had low self-control. This shows that the majority of respondents have good awareness of smartphone use and are able to manage it wisely. Conclusion: Respondents' self-control over smartphone use tends to be good because most respondents have awareness and are able to manage it wisely. Suggestion: It is hoped that teenagers can set time limits for daily smartphone use by determining certain times for online activities and avoiding excessive use beyond the specified time limit.   Keywords: Adolescents; Self Control; Smartphone; Students.   Pendahuluan: Remaja menjadi salah satu kelompok dengan tingkat penggunaan smartphone yang tinggi. Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai dampak, baik fisik maupun mental. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi penggunaan smartphone adalah self control karena dapat membuat remaja tersebut memiliki kontrol terhadap diri sendiri untuk tetap berperilaku baik pada kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan smartphone. Tujuan: Untuk mengidentifikasi self control penggunaan smartphone pada siswa-siswi kelas X. Metode: Rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif self control penggunaan smartphone pada siswa-siswi kelas X SMA Negeri 2 Majalaya yang berjumlah 210 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner yang berisi 20 item dan sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 155 responden (73.2%) memiliki self control yang tinggi terhadap penggunaan smartphone dan sebanyak 55 responden (26.8%) memiliki self control yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kesadaran yang baik akan penggunaan smartphone dan mampu mengelolanya secara bijaksana. Simpulan: Sebagian besar responden menunjukan kemampuan self control dalam kategori tinggi terhadap penggunaan smartphone. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cenderung menggunakan smartphone secara sehat serta dapat mengendalikan diri untuk mencegah penggunaan yang berlebihan. Saran: Bagi remaja diharapkan dapat membuat batasan waktu harian untuk penggunaan smartphone. Bagi pihak sekolah dapat mengawasi aktivitas siswa terkait penggunaan smartphone di sekolah dan memastikan aturan penggunaan smartphone ditegakkan secara konsisten.   Kata Kunci: Remaja; Self Control; Smartphone; Pelajar.
Manfaat aktivitas fisik berbasis komunitas terhadap penderita diabetes mellitus: A scoping review Ariyanti, Rahmania Ulfi; Rahman, Farid
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.279

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia. Type 2 DM occurs due to impaired insulin secretion that causes insulin resistance, occurs in 90-95% of diabetes cases and is often found in obese patients. Providing long-term, supervised community-based interventions can improve physical fitness and physical activity in people with DM. Purpose: To review and evaluate the benefits of providing a community-based exercise program to reduce HbA1c levels in people with DM. Method: Scoping review using PRISMA diagram. Research data collection through Google Scholar, PubMed, and Sciencedirect databases published in 2013-2023. Results: There was a decrease in HbA1c levels and an increase in fitness in DM patients who underwent a community-based exercise program of aerobic exercise type with endurance in the heart rate range associated with VO2 max 65% - 85% and a moderate to strong intensity range. Conclusion: Community-based exercise programs are indicated to reduce HbA1c levels in DM patients. Suggestion: This literature review is expected to be a reference in providing types of community-based exercise in the form of aerobic exercise programs or a combination of community-based aerobic and strengthening exercise programs carried out for a duration of 150 minutes in one week, with moderate to high intensity adjusted to the conditions of DM participants.   Keywords: Community; Diabetes Mellitus; Exercise; Physical Fitness.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan kondisi gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia. DM tipe 2 terjadi karena kerusakan sekresi insulin yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin, terjadi pada 90-95% kasus diabetes serta banyak ditemukan pada penderita dengan obesitas. Pemberian intervensi berbasis komunitas jangka panjang yang diawasi dapat meningkatkan kebugaran fisik dan meningkatkan aktivitas fisik pada penderita DM. Tujuan: Untuk meninjau dan mengevaluasi manfaat pemberian program latihan berbasis komunitas untuk menurunkan kadar HbA1c pada penderita DM. Metode: Scoping review menggunakan panduan diagram PRISMA. Pengumpulan studi melalui database Google Scholar, PubMed, dan Sciencedirect yang diterbitkan pada tahun 2013- 2023. Hasil: Adanya penurunan kadar HbA1c dan peningkatan kebugaran pada penderita DM yang melakukan program latihan berbasis komunitas jenis latihan aerobik disertai resistensi dalam rentang detak jantung yang terkait dengan 65% - 85% VO2 max dan rentang intensitas sedang hingga kuat. Simpulan: Program latihan berbasis komunitas terindikasi dapat menurunkan kadar HbA1c pada penderita DM. Saran: Literature review ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pemberian jenis latihan berbasis komunitas berupa program latihan aerobik atau program kombinasi latihan aerobik dan penguatan berbasis komunitas yang dilakukan dengan durasi 150 menit dalam satu minggu, intensitas sedang sampai berat disesuaikan dengan kondisi peserta penderita DM.
High intensity interval training for patients with hypertension: A scoping review Miftahurrizqia, Erika; Rahman, Farid
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 6 (2024): Volume 18 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i6.280

Abstract

Background: Hypertension is a major risk factor worldwide for cardiovascular disease (CVD), stroke, disability, and death. Lack of physical activity is one of the main factors causing the increasing prevalence of hypertension. High-intensity interval training (HIIT) has been shown to be effective in reducing blood pressure levels in people with hypertension. Purpose: To evaluate high intensity interval training for patients with hypertension. Method: Scoping review using PRISMA guidelines in identifying 7,654 articles. Article collection was conducted by systematic search on Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Taylor & Francis Online, Nature, and Wiley Online Library databases published from 2013-2024. Results: Thirty articles used in the inclusion selection showed the effect of high intensity interval training on hypertension sufferers, and was proven to cause a decrease in blood pressure levels in hypertension sufferers. Conclusion: Shows that HIIT is effective in reducing blood pressure in various types of hypertension, from types I and II to arterial at the age of 16-70 years.   Keywords: Blood Pressure; High Intensity Interval Training; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan faktor risiko utama di dunia untuk cardiovascular disease (CVD), stroke, kecacatan, dan kematian. Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor utama penyebab meningkatnya prevalensi hipertensi. High intensity interval training (HIIT) terbukti efektif dalam mengurangi kadar tekanan darah pada penderita hipertensi. Tujuan: Untuk mengevaluasi latihan interval intensitas tinggi untuk pasien hipertensi. Metode: Scoping review menggunakan panduan PRISMA  dalam mengidentifikasi 7.654 artikel. Pengumpulan artikel dilakukan dengan pencarian sistematis pada database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Taylor & Francis Online, Nature, dan Wiley Online Library yang diterbitkan dari tahun 2013-2024. Hasil: Tiga puluh artikel yang digunakan dalam seleksi inklusi menunjukkan pengaruh high intensity interval training pada penderita hipertensi dan terbukti dapat menyebabkan turunnya kadar tekanan darah pada penderita hipertensi. Simpulan: Menunjukkan bahwa HIIT efektif menurunkan tekanan darah pada berbagai jenis hipertensi, dari tipe I dan II hingga arteri pada usia 16-70 tahun.   Kata Kunci: High Intensity Interval Training; Hipertensi; Tekanan Darah.  
Karakteristik perawat terhadap kesiapan dalam penanganan pasien perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa Aulia, Putri; Widodo, Arif
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.283

Abstract

Background: Recorded violent behavior causes mental health cases to be frequently encountered in mental hospitals. The role of nurses in providing comprehensive services is very necessary to help patients control themselves. Every nurse must have the will to handle patients who behave violently. Purpose: To determine the relationship between nurse characteristics and readiness to handle patients with violent behavior. Method: Quantitative with a correlational approach to the characteristics of nurses in dealing with patients with violent behavior. The population is all nurses at the Regional Mental Hospital, Dr. Arif Zainuddin Surakarta with a sample size of 50 respondents using total sampling technique. The measuring instrument used was a questionnaire and analyzed using the Chi-square statistical test. Results: Each nurse characteristic such as age, gender, education and length of service has a p-value <0.05, which means it has a significant relationship with readiness to handle patients with violent behavior in mental hospitals. Conclusion: The higher age group, male gender, nurse education level, and work experience of more than 5 years are the groups most prepared to handle patients with violent behavior compared to other groups for each variable. Suggestion: Further research on other nursing factors that may be related to readiness in dealing with violent behavior in patients with mental disorders is needed to obtain broader data as material for evaluating the nursing profession.   Keywords: Mental Hospital; Nurse Characteristics; Patients; Violent Behavior.   Pendahuluan: Perilaku kekerasan di catatan keperawatan jiwa menjadi kasus yang sering dijumpai di rumah sakit jiwa. Peran perawat dalam memberikan asuhan yang komprehensif diperlukan untuk membantu pasien mengendalikan dirinya. Kesiapan perawat dalam penanganan pasien perilaku kekerasan harus dimiliki oleh setiap perawat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik perawat dengan kesiapan dalam penanganan pasien perilaku kekerasan. Metode: Kuantitatif dengan pendekatan korelasi terhadap karakteristik perawat dalam penanganan pasien perilaku kekerasan. Populasi adalah seluruh perawat di Sakit Jiwa Daerah dr. Arif  Zainuddin Surakarta dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden menggunakan teknik total sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil: Masing-masing karakteristik perawat seperti, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan masa kerja memiliki p-value < 0.05 yang berarti memiliki hubungan signifikan terhadap kesiapan dalam penanganan pasien perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa. Simpulan: Kelompok usia yang lebih tinggi, jenis kelamin laki laki, jenjang pendidikan ners, dan masa kerja lebih dari 5 tahun adalah kelompok yang paling siap dalam penanganan pasien perilaku kekerasan dibandingkan dengan kelompok lainnya pada setiap variabel. Saran: Penelitian lebih lanjut mengenai faktor lain dari perawat yang mungkin berhubungan dengan kesiapan dalam penanganan pasien perilaku kekerasan pasien jiwa diperlukan untuk mendapatkan data yang lebih luas sebagai bahan evaluasi profesi perawat.   Kata Kunci: Karakteristik Perawat; Pasien; Perilaku Kekerasan; Rumah Sakit Jiwa.    
Hubungan masa kerja, jenis kelamin dan iklim kerja dengan kelelahan kerja di PT Batik X Aminah, Ronaa Asri Siti; Porusia, Mitoriana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 5 (2024): Volume 18 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i5.284

Abstract

Background: Excessive and continuous workload can cause physical and mental fatigue. Fatigue is a physical and mental condition that results in a decrease in a person's performance and endurance at work. Fatigue can cause reduced motivation to work because it has an impact on a person's psychological condition, and can even make a person stop working because they are unable to continue their duties. Factors such as lack of rest, poor health, and high workload can lead to burnout at work. Purpose: To determine the factors related to work fatigue in production workers. Method: Descriptive quantitative research with a cross sectional approach to identify factors related to work fatigue. The population in this study were all production workers at the Batik X Company. The independent variables in this research are length of service, gender, and work climate, while the dependent variable is work fatigue. The instruments used were questionnaire sheets and air measuring instruments, while data analysis used univariate and bivariate chi-square tests. Results: There were 15 (83.3%) workers who had worked <5 years with mild levels of fatigue, while 75 (86.4%) respondents who had worked ≥ 5 years experienced moderate levels of fatigue. A total of 35 (53.1%) male workers experienced moderate level of fatigue, while 31 (46.9%) female workers experienced mild fatigue. Workers with a work climate that did not comply with NAB experienced moderate fatigue as many as 34 (52.5%) respondents, while workers with an appropriate work climate experienced moderate fatigue as many as 32 (48.5%) respondents. Conclusion: There is a significant relationship between length of service, gender, and work climate with work fatigue as shown by the results of the statistical test p-value = 0.000 (< 0.05). Suggestion: Workers must understand the limits of their abilities or body condition in carrying out daily work activities and get into the habit of stretching their muscles between working hours so that blood circulation remains stable, while companies should conduct regular work climate surveys to identify problems that occur.   Keywords: Gender; Job Fatigue; Length of Service; Work Climate.   Pendahuluan: Beban kerja yang berlebihan dan terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Lelah atau fatigue adalah keadaan fisik dan mental yang mengakibatkan penurunan dalam kinerja dan ketahanan tubuh seseorang terhadap pekerjaan. Kelelahan dapat menyebabkan kurangnya motivasi untuk bekerja karena dampaknya pada kondisi psikologis seseorang, bahkan bisa membuat seseorang berhenti bekerja karena tidak mampu melanjutkan tugasnya. Faktor-faktor seperti kurangnya istirahat, kesehatan yang buruk, dan pembebanan kerja yang tinggi dapat menyebabkan kelelahan di tempat kerja. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi. Metode: Penelitian kuantitatif deskripsi dengan pendekatan cross-sectional untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pekerja bagian produksi PT Batik X, sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah 130 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah masa kerja, jenis kelamin, dan iklim kerja, sedangkan variabel dependen adalah kelelahan kerja. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner dan alat ukur udara, sedangkan analisis data menggunakan univariat dan bivariate uji chi-square. Hasil: Pekerja yang memiliki masa kerja <5 tahun dengan tingkat kelelahan ringan sebanyak 15 (83.3%), sedangkan pekerja dengan masa kerja ≥ 5 tahun mengalami tingkat kelelahan sedang sebanyak 75 (86.4%) responden. Pekerja laki-laki mengalami tingkat kelelahan sedang sebanyak 35 (53.1%) responden, sedangkan pekerja perempuan mengalami kelelahan ringan sebanyak 31 (46.9%) responden. Pekerja dengan iklim kerja tidak sesuai NAB mengalami kelelahan sedang sebanyak 34 (52.5%) responden, sedangkan iklim kerja sesuai mengalami kelelahan sedang sebanyak 32 (48.5%). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja, jenis kelamin, dan iklim kerja dengan kelelahan kerja, ditunjukkan dengan hasil uji secara statistik p-value = 0.000 (< 0.05). Saran: Bagi pekerja harus memahami batas kemampuan diri atau kondisi tubuh ketika melakukan aktivitas kerja sehari-hari dan membiasakan melakukan peregangan otot di sela-sela pekerjaan agar peredaran darah tetap stabil, sedangkan bagi perusahaan agar melakukan survei terhadap iklim kerja secara rutin untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi.   Kata Kunci: Iklim Kerja; Jenis Kelamin; Kelelahan Kerja; Masa Kerja.

Page 7 of 11 | Total Record : 106