cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Identification and management of chronic kidney disease: A case study Wijonarko Wijonarko; Ferry Ferry
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.108

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is one of the most common chronic diseases affecting people in the world. CKD is a disorder of kidney function, namely the body's failure to maintain metabolism and fluid balance, so that it cannot recover due to the body being unable to maintain metabolism. Purpose: To identify appropriate bleeding in chronic kidney disease patients. Method: The design of this research is a case study in caring for clients with chronic kidney disease (CKD). The research object was two patients with a diagnosis at the Dr. H. Abdul Moeloek Regional General Hospital, Lampung Province. Maintenance care data collection is carried out by interviews, physical examination, and direct observation. Data analysis was carried out by evaluating treatment actions against the level of treatment achievement in patients. Results: Based on diagnosis, observation and physical examination, ineffective breathing patterns, hypervolemia, activity intolerance, disturbed sleep patterns and risk of nutritional deficit were found. Bleeding care for 3 x 24 hours shows that breathing patterns are becoming more normal, fluid intake is balanced, and physical activity is restored. Conclusion: Implementation of maintenance measures in CKD patients has an impact on improving breathing, balancing fluid intake, and physical activity conditions. Suggestion: There is a need to understand and the importance of nursing care, namely in carrying out priority actions for CKD patients.   Keywords: Chronic Kidney Disease (CKD); Identification; Management; Nursing Care.   Pendahuluan: Chronic kidney disease (CKD) menjadi salah satu penyakit kronis yang paling banyak menyerang masyarakat dunia. CKD merupakan gangguan fungsi ginjal yaitu tubuh gagal dalam mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan, sehingga tidak dapat pulih kembali disebabkan oleh tubuh yang tidak mampu memelihara metabolisme. Tujuan: Untuk mengidentifikasi manajemen keperawatan yang sesuai pada pasien penyakit ginjal kronis. Metode: Desain penelitian ini adalah studi kasus dalam asuhan keperawatan pada klien chronic kidney disease (CKD). Objek penelitian sebanyak dua pasien dengan diagnosa di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Pengumpulan data asuhan keperawatan dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi langsung. Analisa data dilakukan dengan melakukan evaluasi tindakan asuhan keperawatan terhadap tingkat pencapaian perawatan pada pasien. Hasil: Berdasarkan diagnosa, observasi, dan pemeriksaan fisik, didapatkan pola napas tidak efektif, hypervolemia, intoleransi aktivitas, gangguan pola tidur, dan resiko defisit nutrisi. Asuhan keperawatan selama 3x24 jam menunjukkan pola napas semakin normal, asupan cairan jadi seimbang, dan pulihnya aktivitas fisik. Simpulan: Pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada pasien CKD memberikan pengaruh terhadap perbaikan pernapasan, keseimbangan asupan cairan, dan kondisi aktivitas fisik. Saran: Perlunya pemahaman dan pentingnya asuhan keperawatan yaitu dalam melakukan tindakan prioritas bagi pasien CKD.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Identifikasi; Penatalaksanaan; Penyakit Ginjal Kronis (PGK).
Safety sign comprehension by adult workers to measure worker safety: A literature review Qurratul A'yun Az-Zahra; Hanifa Maher Denny; Yuliani Setyaningsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.119

Abstract

Background: Work-related accidents are a problem throughout the world. In the United States, work-related accidents reached 2.3 million workers who underwent treatment in emergency units in 2019. The K3 promotion program in the workplace was designed as an effort to increase workers' self-efficacy for risks that occur in the workplace. One type of occupational safety and health promotion in the workplace is safety signs. Purpose: To provide information to workers regarding danger warnings in the work environment Method: This research uses literature review techniques and obtains search data from Elsevier and Google Scholar using the keywords employee and safety sign, work accident. The inclusion criteria for the literature review are articles published within the last 5 years, namely 2019-2023, journals published on the theme of safety signs in the workplace, open access journals, and full text. Results: Implementation of safety signs that comply with standards in the workplace to notify workers of danger signs is very important. This is to get personal protection and to save yourself if a disaster or work accident occurs. Conclusion: Changes to danger area signs in port terminals are needed to improve work safety and reduce accidents. Proper installation of safety signs in the workplace can influence the behavior of workers, and refugees, and improve overall workplace safety. Apart from that, workers' compliance and knowledge of work safety rules also plays an important role in improving workplace safety.   Keywords: Safety; Safety Sign; Worker.   Pendahuluan: Kecelakaan akibat kerja merupakan masalah di seluruh dunia. Di Amerika Serikat kecelakaan akibat pekerjaan mencapai 2.3 juta pekerja yang menjalani perawatan di unit gawat darurat pada tahun 2019. Program promosi K3 di tempat kerja, disusun sebagai upaya meningkatkan kemampuan diri pekerja terhadap risiko-risiko yang terjadi di tempat kerja. Salah satu jenis promosi keselamatan dan kesehatan kerja yang ada di tempat kerja yaitu safety sign. Tujuan: Untuk memberikan informasi kepada pekerja terkait peringatan bahaya yang ada di lingkungan kerja Metode:  Penelitian ini menggunakan teknik literature review dan mendapatkan data search dari Elsevier dan Google scholar dengan menggunakan kata kunci employee and safety sign, work accident. Kriteria inklusi pada literature review yaitu artikel yang diterbitkan dalam waktu 5 tahun terakhir yaitu 2019-2023, jurnal hasil publikasi yang memiliki tema safety sign di tempat kerja, open access journal, dan full text. Hasil: Penerapan safety sign yang sesuai dengan standar di tempat kerja untuk memberitahu pekerja tentang tanda-tanda bahaya sangat penting. Hal ini agar mendapatkan perlindungan pribadi dan untuk menyelamatkan diri apabila sewaktu waktu terjadinya bencana atau kecelakaan kerja. Simpulan: Perubahan pada tanda area bahaya di terminal pelabuhan diperlukan untuk meningkatkan keselamatan kerja dan mengurangi kecelakaan. Pemasangan rambu keselamatan yang tepat di tempat kerja dapat mempengaruhi perilaku pekerja, dan pengungsi, serta meningkatkan keselamatan kerja secara keseluruhan. Selain itu, kepatuhan dan pengetahuan pekerja tentang aturan keselamatan kerja juga berperan penting dalam meningkatkan keselamatan di tempat kerja.   Kata Kunci: Keselamatan; Pekerja; Tanda Keselamatan.
Kelemahan dan kemampuan perawatan diri pada pasien gagal jantung: Tinjauan sistematik Kapriana Tanty Natalia; Agung Waluyo; Muhamad Adam; Riri Maria; Ichsan Rizany
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.127

Abstract

Background: Heart failure patients are prone to various problems. Frailty is one of the problems faced. Self-care is a key factor to support the success of heart failure treatment. Although few studies have evaluated the relationship between frailty and self-care ability, there has been no systematic review examining these two variables. Purpose: To assess the relationship between frailty and ability to perform self-care in heart failure patients. Method: The design of this research is a systematic review using the PRISMA flow diagram and searched for English language articles published from 2013 to October 2023. The databases used were ProQuest, PubMed, Scopus, Science Direct, and Taylor & Francis. The Covidence tool is used for the data selection process through extraction and uses the JBI instrument to evaluate articles. Results: Seven articles were identified and analyzed. All articles used a cross-sectional design. The sample sizes of the reported studies ranged from 87 to 281 people conducted in various geographic regions, including Iran, China, Indonesia, Poland, and South Korea. The association between frailty and self-care was reported by all seven studies. Six studies reported a relationship between these two variables, but one study found no relationship between them. Conclusion: Frailty can affect self-care in heart failure patients. Suggestion: Future research is needed to better assess the relationship between frailty and self-care in heart failure patients.   Keywords: Frailty; Heart Failure; Self-Care.   Pendahuluan: Gagal jantung masih menjadi ancaman dan tren penyakit yang tinggi secara global. Gagal jantung memiliki gejala dan atau tanda yang disebabkan oleh kelainan struktural dan/atau fungsional jantung dan didukung oleh peningkatan kadar peptida natriuretik dan atau bukti obyektif, kongesti paru atau sistemik. Pasien gagal jantung rentan mengalami berbagai permasalahan. Kelemahan (frailty) merupakan salah satu masalah yang dihadapi. Perawatan diri menjadi faktor kunci untuk menunjang keberhasilan pengobatan gagal jantung. Tujuan: Untuk menilai hubungan antara kelemahan dan kemampuan melakukan perawatan diri pada pasien gagal jantung. Metode: Desain penelitian ini menggunakan tinjauan sistematis dengan acuan PRISMA dan mencari artikel bahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 2013-2023. Database yang digunakan adalah ProQuest, PubMed, Scopus, Science Direct, dan Taylor & Francis. Tool covidence digunakan untuk proses seleksi data sampai dengan ekstraksi serta menggunakan instrumen JBI untuk mengevaluasi artikel. Hasil: Tujuh artikel telah diidentifikasi dan dianalisis semua menggunakan desain cross sectional. Ukuran sampel dari studi yang dilaporkan berkisar dari 87 hingga 281 orang yang dilakukan di berbagai wilayah geografis, termasuk Iran, China, Indonesia, Polandia, dan Korea Selatan. Hubungan antara kelemahan dengan perawatan diri dilaporkan oleh ketujuh penelitian. Enam penelitian melaporkan hubungan antara kedua variabel ini, namun satu penelitian tidak menemukan hubungan diantara keduanya. Simpulan: Kelemahan dapat memengaruhi perawatan diri pada pasien gagal jantung. Saran: Penelitian lanjutan diperlukan untuk menilai lebih baik lagi hubungan antara kelemahan dengan perawatan diri pada pasien gagal jantung.   Kata Kunci: Gagal Jantung; Kelemahan; Perawatan Diri.
Gambaran personal hygiene dengan kejadian infeksi saluran kemih (ISK) pada wanita: A systematic literature review Fitri Susilowati; Krisna Yetty; Riri Maria; Ichsan Rizany
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.128

Abstract

Background: Lack of personal hygiene in women can result in urinary tract infections (UTI). UTI is a disease caused by the proliferation of microorganisms in the urinary tract. Purpose: To analyze personal hygiene features that can influence the incidence of UTI in women. Method: Systematic review research design using the PRISMA flow diagram. Researchers used PIO and searched for English language articles published in 2018-2023. The databases used include ProQuest, PubMed, ScienceDirect, and Scopus. The MeSH used in the literature are woman, working woman, personal hygiene, feminine hygiene products, menstrual hygiene products, and urinary tract infections. Results: The sample size of the reported studies ranged from 82-1,045 conducted in various countries including India, the United States, Turkey, Saudi Arabia and Africa. Based on literature searches, it was found that UTIs can be caused by poor genital and perineal hygiene practices, poor hygiene during menstruation, the use of reused cloth sanitary napkins, the use of non-cotton underwear, and the habit of holding in urination. Conclusion: The incidence of UTIs in women is caused by personal hygiene such as poor genital and perineal hygiene practices, poor hygiene during menstruation, the use of reusable cloth sanitary napkins, the use of non-cotton underwear, and the habit of holding in urination.   Keywords: Personal Hygiene; Urinary Tract Infection (UTI); Woman.   Pendahuluan: Kurangnya menjaga kebersihan diri pada wanita dapat mengakibatkan terjadinya infeksi saluran kemih (ISK). ISK merupakan penyakit yang disebabkan oleh berkembang biaknya mikroorganisme pada saluran kemih. Tujuan: Untuk menganalisis gambaran personal hygiene yang dapat memengaruhi kejadian ISK pada wanita. Metode: Desain penelitian tinjauan sistematik dengan menggunakan diagram alur PRISMA. Peneliti menggunakan PIO dan mencari artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 2018-2023. Database yang digunakan antara lain, ProQuest, PubMed, ScienceDirect, dan Scopus. MeSH yang digunakan dalam literature adalah woman, working women, personal hygiene, feminine hygiene products, menstrual hygiene products, dan urinary tract infections. Hasil: Ukuran sampel dari penelitian yang dilaporkan berkisar antara 82-1.045 yang dilakukan diberbagai Negara termasuk India, Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi dan Afrika. Berdasarkan penelusuran literatur ditemukan bahwa ISK dapat disebabkan oleh praktik perilaku kebersihan alat kelamin dan perineum yang buruk, kebersihan saat menstruasi yang kurang baik, penggunaan pembalut berbahan kain yang digunakan kembali, penggunaan celana dalam yang bukan berbahan katun, dan kebiasaan menahan buang air kecil. Simpulan: Kejadian ISK pada wanita disebabkan oleh personal hygiene seperti praktik perilaku kebersihan alat kelamin dan perineum yang buruk, kebersihan saat menstruasi yang kurang  baik, penggunaan pembalut berbahan kain yang digunakan kembali, penggunaan celana dalam yang bukan berbahan katun, dan kebiasaan menahan buang air kecil (BAK).   Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih (ISK); Kebersihan Pribadi; Wanita.
Konsumsi mentimun (cucumis sativus linn) dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi Mahrunnisa Syahratudar Maharani; Arina Maliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.131

Abstract

Background: Hypertension is a degenerative disease that increases mortality and morbidity throughout the world. Among the problems that often affect the treatment of hypertensive patients are the side effects of pharmacological drugs. Among the side effects caused by taking pharmacological drugs are increased blood sugar levels, cholesterol and decreased energy. Purpose: To prove the effect of giving cucumber juice on blood pressure values in hypertension sufferers. Method: Quantitative research using a quasi-experimental method, non-randomized pre-test-post-test design with control group. Data were collected using a digital sphygmomanometer instrument, observation sheet, blood pressure values, and 50ml cucumber. The data analysis used was the Wilcoxon and Mann Whitney non-parametric statistical test Results: This study describes that after seven days of intervention there was a significant reduction in the average systolic and diastolic blood pressure (20.68 ± 8.3) and (9.00 ± 5) with a p-value of 0.001 in systolic and diastolic blood pressure. The control group experienced a non-significant decrease in systolic pressure (0.66 ± 5.5) with a p-value of 0.317 and diastolic pressure (0.00 ± 0.0) with a p-value of 1.000. Conclusion: Giving cucumber juice can reduce blood pressure values for hypertensive patients.   Keywords: Blood Pressure Values; Cucumber; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi menjadi kasus degeneratif yang meningkatkan mortalitas dan morbiditas di semua dunia. Diantara persoalan yang kerap memberikan pengaruh pengobatan pasien hipertensi ialah efek samping obat farmakologis Diantara efek samping yang ada disebabkan mengonsumsi obat farmakologi ialah naiknya kadar gula darah, kolesterol, dan penurunan energi. Tujuan: Untuk membuktikan pengaruh pemberian jus mentimun terhadap nilai tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode quasi eksperimental desain non- randomized pre-test-post-test with control group. Pengumpulan data menggunakan instrumen sphygmomanometer digital lembar observasi, nilai tekanan darah, dan mentimun 50ml. Analisis data yang digunakan ialah uji statistik non parametrik Wilcoxon dan Mann Whitney Hasil: Penelitian ini mendeskripsikan sesudah tujuh hari pemberian intervensi terdapat penyusutan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik yang signifikan (20.68±8.3) dan (9.00±5) dengan p-value 0.001 pada tekanan darah sistolik dan diastolik. Kelompok kontrol mengalami penurunan tekanan sistolik yang tidak signifikan (0.66±5.5) dengan p-value 0.317 dan tekanan diastolik (0.00±0.0) dengan nilai p-value 1.000. Simpulan: Pemberian jus mentimun dapat memengaruhi penurunan nilai tekanan darah untuk pasien hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi; Mentimun; Nilai Tekanan Darah.
Efektivitas stimulasi oral terhadap peningkatan reflek hisap lemah pada bayi prematur di RSU Royal Prima Medan Jesica Claudia BR Sihombing; Isnin Mariana; Jevi Wahyuni; Johana Saida Tiurma Tinambunan; Debi Novita Siregar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.133

Abstract

Background: Premature babies are babies born at preterm gestational age, namely less than 37 weeks. Breastfeeding problems are often found due to inefficient and effective sucking abilities in premature babies. One of the interventions carried out by nurses to develop sucking and swallowing reflexes is oral stimulation with massage touches on the muscle tissue around the mouth. The hope is that this stimulation can improve the sucking reflex in premature babies, so that the length of stay is shorter, the baby's recovery is faster, the baby can catch up quickly and of course it can reduce medical costs. Purpose: To determine the effectiveness of giving oral stimulation to improve weak sucking reflexes in premature babies. Method: Quasi experimental with one group pre-post test design. The population used in this study was 30 premature babies who had weak sucking reflexes at RSU Royal Prima. The sampling technique uses total sampling. Results: Before oral stimulation, all participants (30 babies) had weak sucking reflexes and after being given oral stimulation, 4 babies had adequate sucking reflexes and 24 participants had good sucking reflexes. Conclusion: There is effectiveness of giving oral stimulation to improve weak sucking reflexes in premature babies..    Keywords: Oral Stimulation; Premature Baby; Weak Suction Reflex.    Pendahuluan: Bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan saat usia kehamilan kurang bulan yaitu kurang dari 37 minggu. Masalah menyusui sering ditemukan karena kemampuan menghisap yang belum efisien dan efektif pada bayi prematur. Salah satu intervensi yang dilakukan perawat untuk perkembangan refleks menghisap dan menelan adalah stimulasi oral dengan sentuhan pijatan pada jaringan otot di sekitar mulut. Harapannya dengan dilakukan stimulasi ini dapat meningkatkan reflek hisap pada bayi prematur, sehingga lama rawatan menjadi lebih singkat, pemulihan bayi lebih cepat, dapat mengejar ketertinggalan bayi dengan cepat dan tentunya dapat menekan biaya pengobatan. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian stimulasi oral terhadap peningkatan reflek hisap lemah pada bayi prematur. Metode: Quasi eksperiment dengan one group pre-post test design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah bayi lahir prematur sebanyak 30 bayi yang memiliki reflek hisap lemah di RSU Royal Prima. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Hasil: Sebelum dilakukan stimulasi oral seluruh partisipan (30 bayi) memiliki reflek hisap lemah dan setelah diberikan stimulasi oral terdapat sebanyak 4 bayi memiliki reflek hisap cukup dan sebanyak 24 partisipan memiliki reflek hisap Baik. Simpulan: Adanya efektivitas pemberian stimulasi oral terhadap peningkatan reflek hisap lemah pada bayi prematur.   Kata Kunci: Bayi Prematur; Reflek Hisap Lemah; Stimulasi Oral.
Perbedaan pengetahuan dan sikap pada siswa siswi melalui edukasi berbasis video dan leaflet tentang HIV/AIDS Hasnia Hasnia; Endah Purwanti Handayani; Eftyaningrum Dwi Wahyu Astutik; Tiyan Febriyani Lestari; Nasrianti Nasrianti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.134

Abstract

Background: Reproductive health problems during adolescence such as pregnancy outside of marriage, promiscuity and other problems with all their consequences are one of the reasons why teenagers are at risk of exposure to Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Purpose: To analyze differences in knowledge and attitudes among female students through providing video based education and leaflets about HIV/AIDS. Method: Quantitative using quasi-experimental pretest-posttest control group design techniques. The population in this study was 40 students obtained through total sampling techniques. The research was conducted at Santo Yosef Nazaret Vocational School, Jayapura Regency in 2023. The research instrument used a knowledge, attitude and education questionnaire using videos for the intervention group and leaflets for the control group. The data analysis used is univariate analysis presented in the form of a frequency distribution and bivariate analysis using the paired t test and Wilcoxon test. Results: There were differences in the knowledge of female students before and after being given education about HIV/AIDS with a mean pretest score of 13.35 and a posttest of 21.85 in the intervention group and in the control group the mean pretest score was 12.60 and the posttest mean score was 12.60. 20.10 p-value 0.000 (> α=0.05). There were differences in the attitudes of female students before and after being given education about HIV/AIDS with a mean pretest score of 22.85 and a posttest score of 43.95 in the intervention group and in the control group, the mean pretest score was 25.25 and the mean posttest score was 42.65 p-value 0.000 (> α=0.05). Then the results were obtained that there was no significant difference between the provision of video and leaflet based education on knowledge (p=0.2.40) and attitudes (p=606) of female students regarding HIV/AIDS with the value. Conclusion: there was an increase in knowledge and attitudes before and after being given video and leaflet based education so that video/leaflet based education is equally influential in increasing knowledge and attitudes. Suggestion: It is hoped that female students will be more active independently to increase their knowledge about the importance of health problems in adolescents, especially in preventing the transmission of HIV/AIDS, considering the high number of HIV/AIDS cases.   Keywords: Attitudes; HIV/AIDS; Knowledge; Video and Leaflet Based Education.   Pendahuluan: Permasalahan kesehatan reproduksi pada masa remaja seperti kehamilan di luar nikah, pergaulan bebas, dan permasalahan lainnya dengan segala konsekuensi yang menjadi salah satu penyebab remaja berisiko terpapar Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan pengetahuan dan sikap pada siswa siswi melalui pemberian edukasi berbasis video dan leaflet tentang HIV/AIDS. Metode: Kuantitatif dengan teknik quasi experimental pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa didapatkan melalui teknik total sampling. Penelitian dilakukan di SMKS Santo Yosef Nazaret Kabupaten Jayapura pada Tahun 2023. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan edukasi menggunakan video untuk kelompok intervensi dan leaflet untuk kelompok kontrol. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan analisa bivariat menggunakan uji t berpasangan dan uji Wilcoxon. Hasil: Ada perbedaan pengetahuan siswa siswi sebelum dan sesudah diberikan edukasi tentang HIV/AIDS dengan nilai pre-test mean 13.35 dan post-test 21.85 pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan nilai pre-test mean sebesar 12.60 dan nilai post-test mean sebesar 20;10  p-value 0.000 (> α=0.05). Ada perbedaan sikap siswa siswi sebelum dan sesudah diberikan edukasi tentang HIV/AIDS dengan nilai pre-test mean 22.85 dan post-test 43.95 pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan nilai pre-test mean sebesar 25.25 dan nilai post-test mean sebesar 42.65 p-value 0.000 (> α=0.05). Kemudian diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemberian edukasi berbasis video dan leaflet terhadap pengetahuan (p=0.2.40) dan sikap (p=606) siswa siswi tentang HIV/AIDS dengan nilai. Simpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah diberikan edukasi berbasis video dan leaflet, sehingga edukasi berbasis video dan leaflet sama-sama berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap. Saran: Diharapkan kepada siswa siswi agar lebih aktif secara mandiri untuk menambah pengetahuan tentang pentingnya masalah kesehatan pada remaja khususnya dalam mencegah penularan HIV/AIDS, mengingat tingginya angka kasus HIV/AIDS.   Kata Kunci: Edukasi Berbasis Video dan Leaflet; HIV/AIDS; Pengetahuan; Sikap.
Aromatherapy sebagai penurun ansietas dan depresi dalam menunjang kualitas hidup pasien penyakit ginjal tahap akhir yang menjalani hemodialisis: A systematic review Adelia Pradita; Agung Waluyo; Lestari Sukmarini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.137

Abstract

Background: Anxiety and depression are common problems in patients with end stage renal disease that impact quality of life with significant morbidity and mortality. This can be prevented by administering aromatherapy. Aromatherapy as a part of alternative and complementary therapy to treat anxiety and depression. Purpose: To review and discuss the studies related to aromatherapy in addressing anxiety and depression in end stage renal disease patients undergoing hemodialysis. Method: In this systematic review, we did content analysis by doing a search method using electronic databases. These electronic databases consist of Pubmed, Scopus, Embase, Science Direct, and ProQuest published from 2013 to 2023 and study designed RCT and quasi-eksperiment. The keywords in the search were Hemodialysis AND Aromatherapy AND depression AND anxiety. Quality assessment of selected articles used by Joanna Briggs Institute (JBI). Results: There were ten articles showing the effectiveness of using aromatherapy on anxiety and depression. Conclusion: Aromatherapy has a positive impact in addressing anxiety and depression in hemodialysis patients thus aromatherapy can possibly be applied in Indonesia as a safe, simple, and inexpensive method in nursing care to improve quality of life in end stage renal disease patients undergoing hemodialysis. Suggestion: Hemodialysis nurses as health care professionals who always interact with patients can incorporate evidence-based practices such as aromatherapy in the treatment management of anxiety and depression in hemodialysis patients.   Keywords: Anxiety; Aromatherapy; Depression; End Stage Renal Disease; Hemodialysis.   Pendahuluan: Ansietas dan depresi merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir yang berdampak pada kualitas hidup dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Hal tersebut dapat dicegah dengan intervensi pemberian aromatherapy. Aromatherapy sebagai salah satu cabang pengobatan komplementer dan alternatif untuk mengatasi ansietas dan depresi. Tujuan: Untuk meninjau dan mendiskusikan penelitian-penelitian terkait aromatherapy dalam mengatasi ansietas dan depresi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir menjalani hemodialisis. Metode: Tinjauan sistematis dengan pencarian literatur menggunakan 5 database yaitu Pubmed, Scopus, Embase, Science Direct, dan ProQuest yang diterbitkan dari tahun 2013 hingga 2023 dengan desain RCT dan quasi-eksperimen. Kata kunci dalam pencarian adalah Hemodialysis AND Aromatherapy AND depression AND anxiety. Penilaian kualitas artikel yang dipilih menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Terdapat sepuluh artikel yang menunjukkan efektivitas penggunaan aromatherapy terhadap ansietas dan depresi. Simpulan: Penggunaan aromatherapy berdampak positif dalam mengatasi ansietas dan depresi pada pasien hemodialisis sehingga aromatherapy dapat memungkinkan untuk digunakan di Indonesia sebagai metode yang sederhana, aman, dan murah dalam pemberian asuhan keperawatan sebagai upaya peningkatan kualitas hidup pasien penyakit ginjal tahap akhir menjalani hemodialisis. Saran: Perawat hemodialisis sebagai profesional perawatan kesehatan yang selalu berinteraksi dengan pasien dapat menggabungkan praktik berbasis bukti seperti aromatherapy dalam manajemen perawatan ansietas dan depresi pasien hemodialisis.   Kata Kunci: Ansietas; Aromatherapy; Depresi; Hemodialisis; Penyakit Ginjal Tahap Akhir.
Factors associated with patient satisfaction and behavioral intention by using the partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM) Bobby Agustinus Parengkuan; Innocentius Bernarto; Dewi Sri Surya Wuisan; Yohana Cahya Palupi; Jane Maria Fransiska Tahulending
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.139

Abstract

Background: Patient satisfaction is used as an important marker of the quality of medical services. This has an impact on patient loyalty and increases patient retention. Generally, perceptions of the quality of hospital services are based on patients' assessments of the services provided by the hospital, for example the relationship between patients and nurses, doctors and staff. Purpose: To determine factors related to general patient satisfaction. Method: Quantitative research with hypothesis testing without special treatment of subjects during the research period. Data was obtained through a survey of all patients who visited the emergency room at Budi Mulia Bitung Hospital in January 2024, totaling 170 respondents. The sample in this study was taken using a non-probability sampling method with the criteria, being more than 19 years old, cooperative, having a cell phone, and being able to be guided to fill out an online questionnaire. Results: All indicators in each dimension have an outer loading value of >0.7 and an AVE value for satisfaction with doctor services (0.703), emergency staff (0.860), emergency environment (0.656), general patient satisfaction (0.674). Cronbach's alpha and Composite Reliability values for all variables are above 0.7. The R-Square value for the general satisfaction variable is 0.948 and behavioral intention (0.944), so it can be said to be overfit. Based on the t-statistic value, p-value, and path coefficient, all variables in the research model tested are all significant. Conclusion: Satisfaction with physician services, emergency department staff, and emergency department environment are factors that are associated with general patient satisfaction and behavioral intentions.   Keywords: Behavioral Intention; Patient Satisfaction; Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM)   Pendahuluan: Kepuasan pasien digunakan sebagai penanda penting untuk kualitas layanan medis. Hal ini berdampak pada loyalitas pasien dan meningkatkan retensi pasien. Umumnya persepsi kualitas pelayanan rumah sakit didasarkan pada penilaian pasien terhadap pelayanan yang diberikan rumah sakit, misalnya hubungan antara pasien dan perawat, dokter dan staf. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan general satisfaction patient. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pengujian hipotesis tanpa perlakuan khusus terhadap subjek selama periode penelitian. Data yang diperoleh melalui survei kepada seluruh pasien yang berkunjung ke IGD RS. Budi Mulia Bitung pada bulan Januari 2024 sebanyak 170 responden. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode non-probability sampling dengan kriteria, sudah berusia lebih dari 19 tahun, kooperatif, memiliki handphone, dan dapat dipandu untuk mengisi kuesioner online. Hasil: Semua indikator pada setiap dimensi memiliki nilai outer loading >0.7 dan nilai AVE physician care satisfaction (0.703), emergency department staff (0.860), emergency department environment (0.656), general satisfaction patient (0.674). Nilai cronbach’s alpha dan composite reliability pada semua variabel telah berada di atas 0.7. Nilai R-Square pada variabel kepuasan umum sebesar 0.948 dan niat berperilaku (0.944), sehingga dapat dikatakan overfit. Berdasarkan nilai t-statistik, nilai-p, dan koefisien jalur seluruh variabel dalam model penelitian yang diuji semuanya signifikan. Simpulan: Physician care satisfaction, emergency department staff, dan emergency department environment merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan general satisfaction patient dan behaviour intention.   Kata Kunci: Behavioral Intention; Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM); Patient Satisfaction.
Determinant factors influencing measles and rubella vaccine hesitancy among parents: A literature review Handayani, Dewi; Najmah, Najmah; Sitorus, Rico Januar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.141

Abstract

Background: Measles and rubella (German measles) are diseases that can be prevented by vaccination (PD3I). Both of these diseases are acute diseases caused by viruses whose complications can cause death, especially in groups of children under five who do not receive vaccinations. Vaccination coverage for children, both basic and advanced vaccinations, has decreased in the post-Covid-19 era. Vaccination at the global level shows a decline in basic vaccination coverage from 86% (2019) to 83% (2020). Purpose: To review determinant factors influencing measles, and rubella vaccine hesitancy among parents. Method: Literature review using PRISMA guidelines with database sources coming from Sciencedirect, Pubmed, and Google Scholar published in 2019-2023. The keywords used are “vaccine hesitancy” and “determinants”. Results: The factors causing hesitancy in measles-rubella vaccination in various regions are quite complex and varied. Time barriers, distance in accessing health services, the influence of religious, cultural factors, local government support, and the influence of anti-vaccination issues through various communication media are contextual factors that need to be questioned. Individual or group/community factors that influence vaccine hesitancy include knowledge, perception of the risks and benefits of vaccines, beliefs and attitudes towards vaccination. Other factors that also influence acceptance and refusal of vaccination are support from health workers, cost barriers, and vaccine availability. Conclusion: The determining factors for doubts about measles-rubella vaccination are caused by 3 factors, namely contextual, individual, group/community influences, and the influence of specific issues regarding vaccination.   Keywords: Determinant Factors; Measles-Rubella; Vaccine Hesitancy.   Pendahuluan: Penyakit campak (measles) dan rubella (german measles) merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi (PD3I). Kedua penyakit ini merupakan penyakit akut disebabkan oleh virus yang komplikasinya dapat menyebabkan kematian, terutama pada kelompok balita yang tidak mendapat vaksinasi. Cakupan vaksinasi pada anak, baik vaksinasi dasar maupun lanjutan era post Covid-19 mengalami penurunan. Pemberian vaksin di tingkat global menunjukkan adanya penurunan cakupan vaksinasi dasar dari 86% (2019) menjadi 83% (2020). Tujuan: Untuk meninjau faktor-faktor penentu yang memengaruhi keraguan orang tua terhadap pemberian vaksin campak dan rubella pada anaknya. Metode: Literature review menggunakan panduan PRISMA dengan sumber database berasal dari Sciencedirect, Pubmed, dan Google scholar terbitan pada 2019-2023. Kata kunci yang digunakan yakni “vaccine hesitancy” dan “determinants”. Hasil: Faktor penyebab keraguan vaksinasi campak-rubella di berbagai daerah cukup kompleks dan bervariasi. Hambatan waktu, jarak dalam mengakses pelayanan kesehatan, pengaruh faktor agama, budaya, dukungan pemerintah setempat, dan pengaruh isu anti vaksin melalui berbagai media komunikasi merupakan faktor kontekstual keraguan. Faktor individu atau kelompok/masyarakat yang memengaruhi keraguan vaksin meliputi, pengetahuan, persepsi resiko-keuntungan vaksin, keyakinan, dan sikap terhadap vaksinasi. Faktor lainnya yang juga memengaruhi penerimaan dan penolakan vaksinasi adalah adanya dukungan petugas kesehatan, hambatan biaya, dan ketersediaan vaksin. Simpulan: Faktor determinan keraguan vaksinasi campak-rubella disebabkan oleh 3 faktor, yaitu kontekstual, pengaruh individu, kelompok/masyarakat, dan pengaruh isu spesifik dari vaksinasi.   Kata Kunci: Faktor Determinan; Campak-Rubella; Keraguan Vaksinasi.

Page 1 of 11 | Total Record : 106