cover
Contact Name
Sudadi
Contact Email
dsudadi@ugm.ac.id
Phone
+62811254834
Journal Mail Official
jka.jogja@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Komplikasi Anestesi
ISSN : 23546514     EISSN : 26155818     DOI : https://doi.org/10.22146/jka.v11i2.12773
Core Subject : Health,
JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI (e-ISSN 2354-6514) is a scientific and original journal which published as a forum for various scientific articles including research, literature reviews, case reports and recent book reviews. The presence of this journal, it is hoped that it can provide input of knowledge and knowledge in the field of Anesthesiology and Intensive Therapy for medical personnel.
Articles 317 Documents
Perbandingan Kegagalan Penyapihan Ventilasi Mekanik antara T-PIECE DAN CPAP Sari, Ayu Rosema; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7301

Abstract

Latar Belakang : Tindakan penyapihan dari ventilasi mekanis merupakan hal yang cukup sering dikerjakan di unit perawatan intensif (ICU). Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk proses penyapihan tersebut, di antaranya T-piece dan CPAP. Tujuan penelitian ini membandingkan kegagalan penyapihan ventilasi mekanik antara T-piece dan CPAP.Metode : Rancangan penelitian ini adalah uji klinis terbuka acak terkontrol desain paralel. Subyek penelitian adalah pasien dewasa yang dirawat di ICU RSUP Dr Sardjito yang direncanakan untuk dilakukan penyapihan dan memenuhi kriteria penyapihan. Semua subyek/keluarga telah menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah pasien menolak untuk berpartisipasi dan pasien dengan trakheostomi. Kriteria drop out jika tidak mengikuti prosedur cara kerja, menarik diri dari keikutsertaan setelah dilakukan randomisasi dan autoekstubasi. Pemilihan sampel dilakukan secara consecutive sampling dan block random. Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok T dengan T-piece O2 4L/menit dan kelompok C dengan CPAP, PEEP≤ 5cmH2 0 dan FiO2 ≤ 0,4. Dilakukan evaluasi selama 2 jam untuk menentukan apakah pasien layak ekstubasi atau tidak. Jika pasien dinilai layak ekstubasi maka ekstubasi dilakukan, sedangkan pasien yang tidak memenuhi kriteria ekstubasi maka dikembalikan ke mode ventilator semula dan dievaluasi ulang. Penyapihan ventilasi mekanik dikatakan sukses bila pasien tidak diintubasi ulang dalam 24 jam pertama pasca ekstubasi. Jika toleransi selama 24 jam tersebut kondisi pasien menunjukkan adanya tanda-tanda gagal nafas maka pasien diintubasi dan dihubungkan ke ventilator.Hasil : Terdapat perbedaan sangat bermakna (p<0,01) untuk kegagalan penyapihan pada pasien dengan T-piece. Kegagalan penyapihan pada pasien dengan T-piece 33,3% sedangkan untuk pasien CPAP 0% (p=0,007).Simpulan : Metode CPAP memberikan jumlah kegagalan penyapihan yang lebih rendah dibandingkan T-piece (0% vs 33,3%; p=0,007; p<0,01).
Perbandingan Kejadian Laringospasme antara Ekstubasi Endotracheal Tube Sadar Tanpa Sentuhan dan Sadar dengan Sentuhan pada Operasi di Jalan Nafas Hartono, Dedy; Sarosa, Pandit; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7302

Abstract

Latar Belakang: Laringospasme adalah salah satu komplikasi ekstubasi sadar yang dapat menimbulkan morbiditas maupun mortalitas. Beberapa cara digunakan untuk mengurangi laringospasme akibat dari ekstubasi yang dilakukan secara sadar. Ekstubasi sadar dengan tehnik no touch dapat digunakan untuk mengurangi laringospasme akibat ekstubasi sadar. Dengan teknik ekstubasi “no touch” pasien diposisikan dalam keadaan posisi pemulihan di akhir prosedur. Darah dan sekret dibersihkan dengan suction dan dilakukan dengan hati-hati pada faring sebelum penghentian anestesi volatil atau dalam pengertian lain pasien masih dalam keadaan teranestesi. Tidak ada stimulasi diperbolehkan lebih lanjut, Selain pemantauan terus-menerus dengan oksimetri, sampai pasien spontan terbangun, kemudian dilakukan ekstubasi.Tujuan : penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kejadian laringospasme pada ekstubasi sadar dengan tehnik tanpa sentuhan (no touch) dengan ekstubasi sadar dengan sentuhan pada operasi di jalan nafas.Metode : Penelitian ini didesain dengan RCT, dilakukan pada 2 kelompok sampel pada pasien dengan operasi di jalan nafas (kelompok operasi dengan kejadian laringospasme paling tinggi), kelompok T : kelompok kontrol, dilakukan ekstubasi sadar dengan sentuhan,kelompok NT : kelompok perlakuan, dilakukan ekstubasi sadar dengan tehnik no touch. Dengan jumlah sampel masing-masing kelompok 34 pasien. Kriteria inklusi penelitian ini : Pasien berumur 8-60 tahun yang menjalani operasi pada jalan nafas elektif yang dilakukan anestesi umum dengan intubasi endotracheal tube lewat oral/nasal, Status fisik ASA I dan II, Body mass index (BMI) 18 – 25, Bersedia menjadi subyek penelitian, Kriteria Eksklusi : Terdapat perkiraan kesulitan intubasi dan ekstubasi, Pasien dengan penyakit jantung, Pasien dengan ISPA, Pasien riwayat asma/PPOK.Hasil : Penelitian ini didapatkan kejadian laringospasme pada kelompok no touch adalah 0% (0 kasus), sedangkan kejadian laringospasme pada kelompok kontrol adalah 16,7% (6 kasus), dan secara statistik berbeda secara bermakna (p < 0,05).Kesimpulan : Ekstubasi sadar dengan tehnik tanpa sentuhan (no touch) akan mengurangi kejadian laringospasme pada operasi di jalan nafas.
Tatalaksana Anestesi untuk Operasi Hemiarch Replacement pada Pasien dengan Diseksi Aorta Ascendens menggunakan Teknik Deep Hypothermic Circulatory Arrest Indrasutanto, T. F.; Cintyandy, R.
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7303

Abstract

Pendahuluan: Aneurisma aorta menduduki peringkat ke-13 dari penyebab kematian tersering di Amerika Serikat. Sekitar 15.000 orang meninggal tiap tahun karena ruptur aneurisma aorta. Angka kematian akibat aneurisma aorta ini masih cukup tinggi yaitu sebesar 90% akibat diseksi atau ruptur aneurisma aorta. Pasien dengan diseksi aorta akut membutuhkan penanganan operasi yang bersifat segera / emergensi. Tindakan pembedahan pada pasien dengan diseksi aorta akut membutuhkan teknik anestesi yang kompleks dalam mempertahankan sistem organ lain dari pasien saat operasi berjalan. Berikut ini adalah laporan kasus tentang tindakan pembiusan untuk operasi Hemiarch Replacement pada pasien yang mengalami diseksi aneurysma aorta ascendens.Laporan Kasus: Laki-laki berusia 50 tahun dengan diagnosa diseksi aneurisma aorta ascendens dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis. Pasien memiliki riwayat nyeri dada dada sejak 2 bulan sebelumpasien masuk ke rumah sakit dan memberat sejak 1 minggu sebelum pasien masuk ke rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah tinggi (160/90 mmHg), hasil rontgen thorax menunjukkan adanya pelebaran aorta ascendens sampai dengan arkus aorta, dengan pemeriksaan CT-scan menunjukkan adanya pelebaran aorta mulai dari root aorta sampai truncus coeliacus dengan entrance tear baru mulai dibawah A. Renalis sampai dengan A. Iliaca Communis Kiri dengan diseksi aktif. CT Angiografi pada pasien menunjukkan adanya aneurisma aorta ascendens dan descendens dengan adanya diseksi dari aorta descendens kiri sampai ke arteri renalis kiri. Pada pasien dilakukan Hemiarch Replacement dengan tindakanpembiusan total (General Anesthesia) menggunakan teknik Deep Hypothermic Circulatory Arrest untuk mengurangi komplikasi tindakan operasi terhadap sistem saraf pusat pasien. Setelah tindakan operasipasien dirawat di ICU, namun kondisi pasien semakin memburuk dan pasien meninggal pada hari ke 12 paska pembedahan akibat gagal hati dan gagal ginjal.
Tatalaksana Deep Hypothermic Circulatory Arrest (DHCA) yang Tidak Terencana pada Bedah Katup Jantung Dewasa Sanjaya, Lisa; Hadi, Sjamsul
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7304

Abstract

Pendahuluan: DHCA digunakan pada prosedur bedah jantung terbuka dimana kemampuan perfusi ke otak melalui pembuluh darah kepala tidak memungkinkan dengan kanulasi aorta proksimal yang standar.Operasi arkus aorta, kelainan kongenital yang melibatkan arkus aorta, pembuluh darah besar kepala dan leher, atau endarterektomi neurosurgikal dan pulmonal dapat memerlukan DHCA. Namun terkadang beberapa kasus memerlukan penggunaan DHCA secara darurat dan tidak terencana seperti misalnya untuk memperbaiki laserasi pada ventrikel kanan saat menggergaji sternum.Kasus: Laki-laki, usia 22 tahun dengan AR severe, MR mild-moderate, TR mild, PR severe akan dilakukan DVR, ligasi PDA dan evakuasi vegetasi.DHCA terpaksa dilakukan secara tidak terencana untuk melakukan repair PDA akibat robekan yang terjadi saat ligasi PDA. DHCA dilakukan hingga suhu mencapai 20,7°C selama 43 menit.Pada perawatan ICU didapatkan sekuel iskemik di lobus parietal kiri.Ringkasan: Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam DHCA yang tidak terencana ini, antara lain: (1) respon, keterampilan, dan kemampuan adaptasi terhadap situasi dari ahli bedah; (2) pembagian waktu yang baik; (3) pemberian es blok di area sekitar kepala pasien; dan (4) pemberian agen-agen farmakologis seperti midazolam, vecuronium, steroid dan manitol untuk menekan laju konsumsi oksigen serebral serta memberikan proteksi serebral pada kondisi ini.
Manajemen Anestesi Prosedur Fontan Ridconi, Akhmad; Nugroho, Budi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7305

Abstract

Pendahuluan Single ventricle merupakan kelainan jantung kongenital kompleks, dan seseorang yang hidup dengan kelainan ini akan disertai dengan sejumlah keterbatasan. Tanpa terapi bedah, univentrikel akan menjadi malapetaka. Prosedur Fontan merupakan teknik pembedahan terpilih yang dapat diterapkan pada pasien dengan single ventricle. Hasil prosedur Fontan dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk prosedur, pengelolaan, dan tekanan vena sisi kanan berangsur-angsur akan meningkat. Seiring dengan berjalannya waktu gagal jantung kanan akan mengalami penurunan fungsi sistem, meliputi peningkatan resistensi pembuluh darah pulmoner (PVR), peningkatan tekanan vena sistemik (SVR), low-cardiac output kronis, disfungsi ventrikel kanan, dan kegagalan prosedur perbaikan single ventricle.Presentasi KasusWanita 19 tahun dengan Double Outlet Right Ventricle, Ventricular Septal Defect, Pulmonal Stenosis, Patent Ductus Arteriosus, Bilateral Superior Vena Cava yang akan menjalani prosedur Fontan.KesimpulanProsedur Fontan akan meningkatkan usia harapan hidup pasien. Keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh banyaknya komplikasi. Dalam kondisi tidak adanya ketaatan pasien untuk sering melakukan check-up dapat mengakibatkan kematian.
Pengelolaan Anestesi pada Pasien dengan Sindrom Brugada Tipe II Abraham, Hendrik; Prakoso, Ronggo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7306

Abstract

Pendahuluan: Sindrom Brugada suatu kelainan genetika autosomal dominan yang jarang, dimana kelainannya terletak pada saluran ion natrium di sistem konduksi jantung yang manifestasinya berupa kelainan pada gambaran EKG di sadapan prekordial jantung, pasien – pasien dengan kelainan ini beresiko tinggi mengalami aritmia ventrikular maligna dan kematian tiba – tiba. Prevalensi tertinggi di negara – negara Asia dan Asia Tenggara. insiden pada laki – laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.Kasus: Seorang laki – laki, 56 tahun, 72 kg, 168 cm. Di diagnosa dengan adenokarsinoma sigmoid, metastase hepar dan sindrom Brugada tipe II. Menjalani pembedahan lower anterior resection. Dilakukan anestesi umum, premedikasi dengan midazolam, induksi anestesi dengan propofol, fentanyl dan atrakurium. Rumatan anestesia menggunakansevofluran, oksigen dan N2O. Reversal dengan neostigmin dan sulfas atropin Analgetika pasca bedah menggunakan morfin melalui epidural dan paracetamol intravena. Selama masa intra operatif tidak terjadi perubahan gambaran ekg yang mengancam nyawa pasien.Ringkasan: Penting untuk menjaga pasien agar tidak terpapar dengan obat – obatan atau faktor – faktor lain yang dapat memicu terjadinya aritmia maligna serta dapat melakukan pengelolaan yang baik dan tepat bila terjadi komplikasi selama masa perioperatif.
Perioperatif Operasi Mata pada Pediatrik Jufan, Akhmad Yun; Sari, Djayanti; Wibowo, Adi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7307

Abstract

Pada mayoritas kasus anak - anak membutuhkan anestesi umum untuk prosedur mata dan operasi. Tehnik anestesi yaitu mencegah dan menjaga terjadinya peningkatan tekanan intra okuler bola mata, yaitu dengan smoth induction dan smoth intubation, alternatif lain adalah dengan menggunakan Laringeal Mask Airway (LMA) untuk prosedur yang sederhana. Oculocardiac refleks dapat terangsang selama operasi mata dan risiko menyebabkan efek berbahaya bradycardi, yang dapat dicegah dengan premedikasi dengan agen antikolinergik. Mual pasca operasi dan muntah sering terjadi setelah operasi mata pada anak-anak dan mungkin pemberian profilaksis antiemetik. Pada kasus operasi tertentu mungkin sangat nyeri seperti evisceration, enucleation dan operasi vitroretinal pertimbangan pemberian analgetik dengan opioid seperti fentanyl dapat dipertimbangkan.
Manajemen Anestesi pada Operasi Revaskularisasi Miokardium yudihart, Subhan; Pratomo, Bhirowo Yudo; Kurniawaty, Juni
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7308

Abstract

Pada tahun 1997 di Amerika, setidaknya > 70.000 prosedur operasi jantung dilakukan tiap tahunnya, dan lebih dari 60.000 diantaranya adalah operasi coronary artery bypass grafting (CABG). Pembiusan pada operasi jantung merupakan suatu hal yang menarik sekaligus menantang bagi seorang ahli anestesi. Salah satu prinsip dasar dalam tindakan anestesi bedah revaskularisasi jantung adalah menjaga keseimbangan dua faktor penting, yakni menjaga pasokan suplai oksigen, dan menurunkan kebutuhan / demand oksigen. Persiapan pembiusan pada operasi jantung harus dilakukan dengan matang, mulai dari persiapan premedikasi, pilihan obat yang harus diberikan atau dihentikan, persiapan monitor baik invasif maupun non invasif. Induksi dilakukan dengan pengawasan monitor dan gejolak hemodinamik yang signifikan sebisa mungkin dihindari dengan pemilihan obat dan penyesuaian terhadap pasien. Setelah teranestesi, pasien yang mengalami prosedur opersi revaskularisasi koroner konvensional harus mengalami proses shunting aliran darah dengan alat cardiopulmonary bypass (CPB) yang bertujuan agar aliran darah dari seluruh tubuh tidak melewati aliran jantung paru. Menjelang operasi selesai, penyapihan CPB perlu dilakukan agar mendapatkan hasil postoperasi yang baik. Beberapa teknik dikembangkan untuk mengurangi lama waktu rawat operasi jantung koroner, yakni teknik fastrack dan offpump coronary artery bypass (OPCAB).
Hipoalbuminemia: Pengaruhnya pada Farmakokinetika Agen-Agen Anestesi Wardhana, Ardyan Prima; Widyastuti, Yunita; Mahmud
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 1 (2017): Volume 5 Number 1 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i1.7314

Abstract

Hypoalbuminemia is a condition in which the serum albumin contentration less than 3.5 mg / dL. Albumin serves as a binding protein and carrier of various substances including drugs. This manuscript discusses the effect of plasma albumin levels on pharmacokinetics changes of anesthetic agents. Inhalation and mostly intravenous anesthetic agents are lipophilic and highly protein binding. The albumin concentration is directly proportional to the blood/gas partition coefficient. For the intravenous agent, the unbound drug concentration gradient between plasma and tissue will be increased under conditions of hypoalbuminemia. The changes in volume distribution and elimination half-life occur, but unbound drug concentration in steady conditions does not depend on the amount of drug binding to proteins. Bolus administration of anesthetic agents generally does not require dose adjustment under hypoalbuminemia. It differs in continuous administration. There are few clinical studies of anesthetic agents in patients with hypoalbuminemia. Generally, clinical studies are conducted in patients with cirrhosis, which can be accompanied by hypoalbuminemia. One study was able to demonstrate a change in clinical effects seen in the administration of infusion propofol as well as repeated injections compared with bolus during induction.
Perbandingan Efektivitas Penambahan Tramadol 0,125 Mg/Kgbb/Jam dengan Tramadol Bolus Intermitten 50mg Per 6 Jam pada Pasien yang Mendapatkan Fentanil 1 Μg/Kgbb/ Jam untuk Penanganan Nyeri Pasca Operasi Noegroho, Wahyu; Uyun, Yusmein; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 1 (2017): Volume 5 Number 1 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i1.7315

Abstract

Background : The effectiveness of tramadol and fentanyl as multimodal pain theraphy after surgery. Objective : The aim of this study is to compare the effectiveness of the addition of a continuous drip of tramadol is 0,125mg/kgbw /hour on a continuous fentanyl 1 ug/kg/h after the addition of bolus tramadol 50mg given every 6 hours in patients with fentanyl 1 ug/kgbw/hour as analgesia post operation. Methods : Thirty two patients who underwent surgery (oncology, gynecology and laminectomy) under general anesthesia were enrolled.. Samples were randomly divided into 2 groups TB and TK, each group contained 16 patients. In TK group got tramadol 0,125mg/kgbw/hour on a continuous fentanyl 1μg/kgbw/hour. TB group got Bolus tramadol 50 mg per 6 hours on a continuous fentanyl 1μg/kgbw/hour. Results : No significant clinical difference between VAS score TK Group and TB Group on minute 0, hour 6th and hour 12th (p > 0.05, p<0.05). Frequencies of additional fentanyl rescue at first 6 hour in TB group was 6 patients (37.5%), (VAS 4, 3 patients),(VAS 5, 2 patients), in TK group was 3 patients (18.8%), (VAS 4, 1 Patient), (VAS 5, 1 patient), (VAS 6, 1 patient). Additional of fentanyl rescue at second 6 hours in TB Group were 2 patients (12.5%), (VAS 4, 2 patients), in TK Group was 3 patients (18,8%), (VAS 4 , 2 patients) , (VAS 5, 1 patient). Conclusion : The addition of tramadol 0.125 mg/kgbw/h give the same effectiveness in clinical analgesia than tramadol intermittent bolus of 50 mg/6 hours in patients who received fentanyl 1 ug/kgbw/h for the treatment of postoperative pain