cover
Contact Name
Sudadi
Contact Email
dsudadi@ugm.ac.id
Phone
+62811254834
Journal Mail Official
jka.jogja@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Komplikasi Anestesi
ISSN : 23546514     EISSN : 26155818     DOI : https://doi.org/10.22146/jka.v11i2.12773
Core Subject : Health,
JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI (e-ISSN 2354-6514) is a scientific and original journal which published as a forum for various scientific articles including research, literature reviews, case reports and recent book reviews. The presence of this journal, it is hoped that it can provide input of knowledge and knowledge in the field of Anesthesiology and Intensive Therapy for medical personnel.
Articles 317 Documents
Nilai Diagnostik Eosinopenia pada Sepsis Di ICU RSUP Dr. Sardjito Sadiyanto, Dewang; Sudadi; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7291

Abstract

Latar belakang : Infeksi akut dapat menyebabkan eosinopenia melalui beberapa mekanisme yaitu pengumpulan eosinofil di tempat inflamasi, penekanan produksi dan pelepasan eosinofil matang di sumsumtulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah eosinopenia mempunyai nilai diagnostik yang dapat digunakan sebagai penanda kejadian sepsis di ICU RSUP dr. Sardjito.Metode : Penelitian dilakukan dengan metode case-control retrospektif. Pengambilan data dilakukan di Instalasi Catatan Medik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama 7 minggu (September – Oktober 2016). Subyek : 70 pasien sepsis dan non-sepsis yang menjalani rawat inap di ICU RSUP dr. Sardjito antara bulan Januari 2015 hingga Juni 2016.Hasil : Hubungan eosinopenia dengan sepsis diuji dengan fisher’s exact test dan didapatkan hasil p=0,493 (p>0,05). Digunakan uji fisher’s karena secara statistik didapatkan ada >20% dari kolom yang nilainya terisi <5 (dalam hal ini nilai nol pada pasien non-sepsis dengan non-eosinopenia).Kesimpulan : Eosinopenia tidak mempunyai nilai diagnostik dalam mendiagnosis sepsis karena kondisi eosinopenia tidak berhubungan dengan kondisi sepsis di ICU RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.
Efektifitas Analgesi Blok Transversus Abdominis Plane (TAP) Bupivacaine 0,25% dan Epinefrine 1 : 200.000 dengan Kombinasi Obat Anti Inflamasi Non Steroid (Studi Pasca Laparoskopi Ginekologi) Akhsaniati, Novi Dwi; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7292

Abstract

Latar belakang : Berbagai cara digunakan untuk mengatasi nyeri pasca laparoskopi, di antaranya dengan opioid intraavena, obat antiinflamasi nonsteroid, pemberian lokal anestesi dengan instilasi ataupun blok TAP.Tujuan : Mengetahui efektifitas analgetik blok transversus abdominis plane bupivakaine 0,25% 20 cc di tiap sisi dan epinefrine 1 : 200.000 dikombinasi dengan ketorolac 30 mg intravena sebagai analgetik pasca laparoskopi ginekologi.Metode : Rancangan penelitian adalah Single Blind Randomized Control Trial. Sebanyak 42 pasien status fisik ASA I-II yang akan menjalani operasi laparoskopi ginekologi dengan anestesi umum yang memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Kelompok perlakuan diberikan blok transversus abdominis plane 20 cc bupivakaine 0,25 % dan adjuvan epinefrin 1 : 200.0000 dan pasca operasi ketorolac 30 mg intravena. Kelompok kontrol mendapatkan analgetik ketorolac 30 mg intravena. Nyeri pasca operasi diukur dengan Numeric Rating Scale dan total rescue analgetik fentanyl selama 24 jam pasca operasi.Hasil : Numeric rating scale pada kelompok kontrol pada jam ke 0,6,12 lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0.05). Total rescue fentanyl lebih rendah pada kelompok perlakuan sampai denganjam ke 6 pasca operasi (p<0.05).Kesimpulan : Blok Transversus Abdominis Plane dengan ketorolac 30 mg intravena mempunyai efek analgetik yang lebih baik untuk pasca laparoskopi ginekologi.
Penatalaksanaan Guillain-Barre Syndrome di ICU Hidayat, Adi; Sudadi; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7293

Abstract

Telah dilakukan perawatan terhadap pasien perempuan usia 43 tahun dengan Guillain-Barre Syndrome (GBS). Selama di ICU pasien mengalami distress respirasi sehingga dilakukan intubasi pada hari kedua. Pasien juga mengalami komplikasi pneumonia. Perawatan yang dilakukan berupa monitoring pernafasan, monitoring hemodinamik dan plasmapharesis. Terapi plasmapharesis dilakukan dua kali di ICU. Setelah hari ke enam, pasien dilakukan ekstubasi Selama perawatan di ICU kondisi pasien cenderung membaik dan kembali ke bangsal setelah perawatan hari ke sepuluh.
Perioperative Anestesi pada Operasi Drainage Abses Serebri Pasien Pediatri dengan Tetralogy of Fallot Wiratnolo, Ressi Bhakti; Pratomo, Bhirowo Yudo; Artika, I Gusti Ngurah Rai
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7294

Abstract

Dilaporkan penatalaksanaan anestesi pada operasi drainage abses serebri pada seorang anak laki-laki usia 2 tahun 9 bulan, berat badan 10 kg, status fisik ASA III, karena memiliki riwayat tetralogy of fallot dengan general anestesia. Penderita di premedikasi dengan midazolam 0,5 mg dan ketamin 5 mg, induksi dengan sevoflurane dan fasilitas intubasi dengan atracurium 5 mg. Pemeliharaan anestesi dengan Sevolurane, O2, Fentanyl intermitten 1mcg/kgBB dan selama operasi pernafasan di kontrol secara manual. Operasi berlangsung sekitar 2 jam, dengan perdarahan minimal. Selama operasi tidak didapatkan penyulit anestesi maupun pembedahan. Pasca operasi pasien di rawat di bangsal.
Manajemen Cairan Perioperatif pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Ikhwandi, Arif; Widodo, Untung; Artika, I Gusti Ngurah Rai
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7295

Abstract

Ginjal memiliki fungsi vital dalam regulasi cairan, detoksifikasi, serta produksi hormon. Kegagalan ginjal menjalankan fungsinya bisa berakibat fatal. Terkait dengan ini, operasi dan anestesi pada pasien gagal ginjal besar pengaruhnya terhadap fungsi ginjal, dengan mayoritas morbiditas dan mortalitas pasien pasca operasi pada pasien gagal ginjal kronis. Mencapai normohidrasi masih menjadi isu utama pada pasien yang menjalani hemodialisis. Target klinisnya yaitu membuat status cairan pasien yang menjalani hemodialisis berada antara overload dan dehidrasi. Walaupun sulit untuk mencapai target ini dalam prakteknya. Parameter objektif dan klinis yang dapat dipakaiuntuk menentukan status hidrasi normal pada basis individu diperlukan untuk menentukan target berat badan yang sesuai. Pemberian cairan pada pasien gagal ginjal kronis sering menjadi perdebatan terutama pada pasien yang anuria yang menjalani dialisis. Untuk itu referat ini dibuat untuk memahami fungsi kerja ginjal dan kaitannya dengan manajemen cairan perioperatif pasien dengan penyakit ginjal kronik.
Terapi Oksigen Hiperbarik Synthana, Meta Restu; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Pratomo, Bhirowo Yudo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7296

Abstract

Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi dengan memberikan 100% oksigen pada dua sampai tiga kali dari tekanan pada level air laut. Terapi oksigen hiperbarik efektif dalam mengatasi berbagai penyakit antara lain luka karena trauma akut, ulserasi yang tidak membaik dengan terapi, crush injury, luka bakar, gas gangren, dan sindrom kompartemen dapat pula digunakan pada kasus-kasus keracunan gas misal keracunan gas karbonmonoksida. Terapi oksigen hiperbarik memiliki komplikasi dan efek toksik karena hiperoksia. Terapi ini sering digunakan pada pasien-pasien kritis misal karena keracunan karbonmonoksida, luka bakar, gas gangren, abses intrakranial, emboli, sehingga klinisi khususnya anestesiologist perlu mengetahui mekanisme, efek serta komplikasi terapi oksigen hiperbarik.
Neuroleptik Analgesia pada Operasi Direct Laringoscopy Purnomo, Dedi Pujo; Mahmud; Uyun, Yusmein
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7297

Abstract

Teknik anestesi neuroleptik merupakan modifikasi dari anestesi umum konvensional untuk mengeliminasi persepsi stimuli nosiseptif pada korteks serebral tanpa mempengaruhi fungsi kognitif. Karakteristik spesifik dari teknik ini termasuk modulasi respon endokrin, metabolik, dan otonom terhadap stimulasi nosiseptif. Beberapa prosedur yang minimal invasif juga membutuhkan neuroleptanalgesia, sehingga teknik ini ideal digunakan pada pasien beresiko tinggi apabila dilakukan anestesi umum. Pasien yang sadar dan mampu memberi respon merupakan monitor terbaik selama prosedur diagnostik berlangsung. Meskipun teknik ini tetap memiliki kekurangan yaitu bila terjadi unconsciousness sampai pada tingkat unrousable, gannguanventilasi akibat rigiditas otot dan eksitasi ekstrapiramidal paska operasi.
Resusitasi Neonatus dan Pediatrik Givano, Muhamad Randy; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7298

Abstract

Diperkirakan 10% bayi baru lahir membutuhkan bantuan untuk bernafas pada saat lahir dan 1 % saja yang membutuhkan resusitasi yang ekstensif. Penilaian awal saat lahir harus dilakukan pada semua bayi baru lahir. Dengan adanya faktor resiko yang dikenali sejak awal dapat membantu melakukan idenifikasi bayi baru lahir yang membutuhkan resusitasi, walaupun harus selalu dipersiapkan untuk resusitasi pada bayi tanpa faktor resiko. Depresi neonatus paling sering disebabkan oleh asfiksia intrauterin selama proses persalinan,yang dapat disebabkan hipotensi maupun hipoksia maternal, kompresi plasenta, insufisiensi uteroplasenta yang berujung pada hipoksia janin yang progresif dan asidosis laktat. Kebutuhan akan resusitasi jantung paru pada kelompok umur pediatrik dikatakan jarang setelah periodeneonates. Kejadian henti jantung pada pediatrik biasanya dikarenakan oleh kondisi hipoksemia yang berhubungan dengan gagal nafas atau obstruksi jalan nafas. Tidak seperti Dewasa, penyebab henti jantungpada infan dan anak biasanya bukan dari hasil suatu penyakit jantung primer. Penilaian jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi pada resusitasi merupakan hal yang sederhana. Pastikan jalan nafas terbuka dan bersih. Pastikan pernafasan, dalam keadaan spontan atau dibantu dan sirkulasi darah yang teroksigenasi adekuat.
Strategi Proteksi Serebral untuk Operasi Rekonstruksi Arkus Aorta Irwanto, Fredi Heru; Yuliansyah, Rudy; Koto, Chairil Gani
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7299

Abstract

Intervensi pembedahan pada pada rekonstruksi arkus aorta menyebabkan perubahan pada aliran darah ke otak yang bersifat temporer. Pasien yang menjalani ini memiliki resiko yang tinggi terhadap kelainan neurologis. Proteksi serebral harus menjadi implikasi utama pada pasien-pasien yang menjalani prosedurini. Hipotermia mengurangi aliran darah ke otak dan menurunkan laju metabolisme oksigen di otak. Perfusi cerebral retrograde biasanya diaplikasikan bersama dengan teknik hipotermia. Perfusi cerebral antegrade secara teoritis lebih fisiologis dibanding metode hipotermia dan perfusi retrograde. Perfusi antegrade memberikan waktu proteksi yang lebih panjang dan bermafaat untuk prosedur yang komplek.
Perbandingan Perubahan Nilai Rate Pressure Product pada Laringointubasi Endotrakea antara Premedikasi Pregabalin 225 mg dengan Clonidin 0,15 mg Per Oral Mulyono; Suryono, Bambang; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7300

Abstract

Latar belakang: respon hemodinamik terhadap laringointubasi merupakan stimuli noksius kuat yang dapat ditumpulkan dengan premedikasi yang tepat. Beberapa obat telah digunakan sebagai premedikasi. Penggunaan premedikasi pregabalin dan clonidin telah dilaporkan dapat menumpulkan respon hemodinamik saat laringointubasi endotrakea.Tujuan penelitian: untuk membandingkan perubahan nilai rate pressure product pada tindakan laringointubasi endotrakea antara premedikasi pregabalin 225 mg dengan clonidin 0,15 mg per oral.Metode penelitian: menggunakan percobaan acak terkontrol dengan pembutaan ganda (double blind randomized controlled trial), dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 78 pasien, status fisik ASA I danII yang direncanakan dengan pembedahan elektif dengan anestesi umum di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta. Subyek dibagi menjadi dua kelompok masing–masing 39 pasien. Kelompok P (kelompok yang mendapatkan pregabalin 225 mg) dan kelompok C (kelompok yang mendapatkan clonidin 0,15 mg per oral). Semua pasien diberi preoksigenasi dengan oksigen 100% selama 3 menit, fentanil 1 μg/kg iv, kemudian diinduksi dengan propofol 1,5 mg/kgbb iv dan diberi rocuronium 0,6 mg/kgbb iv. Pengukuran dilakukan terhadap tekanan darah, laju denyut jantung, dan rate pressure product sebelum premedikasi, setelah premedikasi, induksi, dan larigointubasi pada menit ke-1, 3, 5 dan 10. Nilai rate pressure product (RPP) diukur dengan mengalikan tekanan darah sistolik dan laju jantung. Data numerik dianalisis menggunakan paired sample t-test (data berpasangan), dan uji independent t-test (data tidak berpasangan). Sedangkan variabel nominal, digunakan uji chi square. Nilai p < 0,05 secara statistik dinyatakan bermakna dengan tingkat kepercayaan95%.Hasil penelitian: terdapat berbedaan signifikan secara statistik perubahan nilai rate pressure product (RPP) saat menit 90 setelah premedikasi, setelah induksi, dan menit ke-1, 3, 5, 10 setelah intubasi (p<0,05) antara kedua kelompok, dimana pregabalin menunjukkan perubahan nilai RPP yang lebih rendah dibanding clonidin. Secara klinis tidak ada perbedaan perubahan nilai rate pressure product (RPP) saat menit 90 setelah premedikasi, setelah induksi, menit ke-1, 3, dan 10 setelah intubasi, kecuali menit ke-5 setelah intubasi dimana kelompok pregabalin menunjukkan penurunan 13,3% dibanding 17,0% pada clonidin.Kesimpulan: pada penelitian ini perubahan nilai rate pressure product pada tindakan laringointubasi endotrakea dengan premedikasi pregabalin 225 mg per oral lebih rendah dibanding dengan premedikasi clonidin 0,15 mg per oral.

Page 11 of 32 | Total Record : 317