cover
Contact Name
Adnan Faris Naufal
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6289698282401
Journal Mail Official
afn778@ums.ac.id
Editorial Address
Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhamadiyah Surakarta Telpon: +62 271 717417 ext. 0000 Email: fisioterapi@ums.ac.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
FISIO MU: Physiotherapy Evidences
ISSN : 27229629     EISSN : 27229610     DOI : https://doi.org/10.23917/fisiomu.v4i3.5044
Core Subject : Health,
Aim: This journal aims to publish articles with special interest in the development of physiotherapy and health sciences. Not only limited to discussing musculoskeletal, but this journal covers broader health sciences seen from the development of motion and activity. Scope: - Physiotherapy Musculoskeletal - Physiotherapy Neurology - Physiotherapy Cardio Pulmonal - Physiotherapy Pediatric - Physiotherapy Integumen - Physiotherapy Reproduction Health - Physiotherapy Geriatric - Physiotherapy Sport - Physiotherapy Wellness
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol.1, No.2, Juli 2020" : 8 Documents clear
Hubungan Q-Angle Terhadap Keluhan Osteoarthritis Pada Lansi Juriansari, eti; Naufal, Adnan Faris; Widodo, Agus
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4949

Abstract

Latar Belakang; Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degenerative pada kartilago sendi yang paling sering terjadi pada lutut dan banyak ditemukan pada orang dewasa atau usia lanjut. Osteoarthritis lutut biasanya di tandai dengan keluhan seperti, nyeri, bengkak, kekuan, abnormalitas alignment dan penurunan ruang gerak sendi. Abnormalitas alignment terjadi karena perubahan Q-angle dari posisi normal. Peningkatan Q-angle terjadi malalignment yang akan menimbulkan abnormalitas fungsi, dan dapat mengakibatkan subluksasi patella dan memicu timbulnya berbagai macam keluhan pada lutut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan Q-angle terhadap keluhan osteoarthritis pada lansia. Metode penelitian; Jenis penelitian termasuk dalam penelitian cross-sectional dimana variabelnya dependen (factor resiko) dan variable independen (efek) dinilai dan di ukur secara bersamaan saat itu, jadi tidak ada tindak lanjut. Penelitian dilakukan di komunitas Lansia Abadi. Sampel penelitian sebanyak 52 responden dengan rentang usia 60-74 tahun. Pengukuran dalam penelitian ini dengan menggunakan womac index untuk mengukur keluhan osteoarthritis, untuk mengukur besar Q-angle diukur dengan goneometer. Data yang dikumpulkan dianalisa menggunakan pearson product. Hasil; Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan Q-angle terhadap keluhan osteoarthris pada lansia. Q-angle dengan womac index memiliki nilai Sig. 0,000 yang berarti nilai signifikan p kurang dari 0,05, dengan begitu Q-angle berkorelasi dengan womac index dan memiliki r sebesar 0,560 atau berkorelasi kuat dengan arah positif. Kesimpulan; Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan kuat Q-angle terhadap keluhan osteoarthritis pada lansia.
Efektivitas Program Aquatic Exercise Terhadap Penurunan Nyeri Pasien Chronic Low Back Pain Pratama, Cafin Surya Putra; Pristianto, Arif; Herawati, Isnaini; Ervianta, Widya; Ridhuwan, Muh
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4953

Abstract

Chronic low back pain (CLBP) atau nyeri punggung bawah kronis didefinisikan kurangnya koordinasi dan lemahnya daya tahan otot disekitar tulang belakang dan core muscle yang dapat menyebabkan spasme otot berlangsung selama 12 minggu. Nyeri low back pain terjadi akibat adanya penurunan kekuatan dan daya tahan otot abdominals dan gluteus maximus serta ketegangan otot pada iliopsoas dan erector spine. Memanfaatkan fisika air seperti daya apung untuk mengurangi tekanan pada sendi, viskositas untuk latihan tahanan, tekanan hidrostatik mengurangi tekanan darah ke jantung dan penggunaan suhu air kisaran 33-37 derajat celcius dapat menurunkan tonus otot dan mengurangi muscle guarding. Untuk mengetahui efektivitas program aquatic exercise terhadap penurunan nyeri pada pasien chronic low back pain di RST dr. Soedjono Magelang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan pendekatan One Group Pre-Test dan Post-Test. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 11 orang. Hasil Uji Paired Sample t-Test rata-rata pengukuran nyeri sebelum dan sesudah perlakuan sebesar 6,82 dan 4,45. Hasil uji statistik diperoleh p adalah 0,001. Kesimpulan dalam penelitian ini aquatic exercise efektif terhadap penurunan nyeri pasien chronic low back pain pada RST dr. Soedjono Magelang.
Efektivitas Ankle Control Balance Training (ACBT) Terhadap Gait Ability Lansia Rofi’atin, Rofi’atin; Perdana, Suryo Saputra
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4957

Abstract

Latar Belakang; Lanjut usia atau lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun. Seiring bertambah usia maka akan terjadi perubahan kualitas kesehatan lansia. Salah satu permasalahan lansia adalah jatuh. Risiko jatuh erat kaitannya dengan penurunan kondisi fisik yang berpengaruh terhadap gait ability. Risiko jatuh pada lansia dapat diturunkan dengan peningkatan gait ability. Tujuan; Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas ACBT terhadap peningkatan gait ability lansia. Metode; Studi yang dipilih adalah Randomized Controlled Trial (RCT) double blinding.Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive simple sampling. Jumlah sampel yang terpilih sebanyak 16 lansia dengan usia minimal 60 tahun, kemudian dibagi secara acak ke dalam kelompok kontrol dan intervensi. Sebelum dan setelah penelitian dilakukan tes Time Up and Go (TUG) untuk mengevaluasi gait ability. Kedua kelompok mendapat baseline treatment senam lansia dan edukasi pencegahan risiko jatuh seminggu sekali. Pada kelompok intervensi diberikan latihan tambahan berupa ACBT seminggu dua kali selama empat minggu. Hasil; Latihan ACBT berpengaruh signifikan terhadap peningkatan gait ability lansia. Sesuai dengan uji pengaruh paired t-test yang menunjukkan p-value pada kelompok intervensi 0,004 (p 0,05) dan t-hitung lebih besar t-tabel (4,209 lebih besar 2,364) yang artinya data berpengaruh secara signifikan. Selain itu, independent t-test menunjukkan hasil p-value 0,008 (p kurang dari 0,05), artinya ada perbedaan pengaruh antara kelompok intervensi dan kontrol. Simpulan; Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ACBT secara statistik berpengaruh signifikan terhadap peningkatan gait ability lansia.
Hubungan Cerebral Palsy Spastik Dengan Flexion Posture Khadijah, Siti; Naufal, Adnan Faris
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4960

Abstract

Latar Belakang; Reflek primitif berpengaruh terhadap voluntary movement dan postural. Tipe postural pada anak CP dibagi menjadi 2 yaitu tipe fleksi (flexion posture) dan ekstensi (extension posture). Adanya hipereksitasi saraf pada bagian kelompok otot fleksor menyebabkan postur CP spastik ke arah fleksi (flexion posture). Tujuan Penelitian; Untuk mengetahui hubungan CP spastik dengan flexion posture. Metode Penelitian; Penelitian ini menggunakan cross-sectional study yang dilakukan satu kali pada satu waktu dan tidak ada follow up. Subjek penelitian sebanyak 26 anak CP yang dilaksanakan di PNTC Tohudan, YPAC Surakarta, dan Klinik Intan Fisioterapi Anak Ngemplak. Hasil Penelitian; Hasil dari penelitian ini setelah diuji statistika diperoleh adanya hubungan CP spastik dengan flexion posture dengan nilai p=0.005 (p kurang dari 0.05).
Kombinasi Plyometric Training Dengan Mobilization With Movement Lebih Baik Dibanding Kombinasi Plyometric Training Dengan Strain Counter Strain Dalam Meningkatkan Keseimbangan Dan Range Of Motion Ankle Joint Pada Kasus Chronic Ankle Instability Di Klinik Barito Farma Hamzah, Arfian; Fauziah, Enny; Sa’diah, Mar’atus
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4963

Abstract

Pendahuluan; Chronic Ankle Instability (CAI) merupakan suatu kondisi dimana terjadi ketidakstabilan pergelangan kaki lateral serta gejala sisa seperti nyeri dan keterbatasan luas gerak sendi setelah cedera berulang pada ligament pergelangan kaki lateral. Tujuan; Untuk membandingkan kombinasi plyometric training dengan Mobilization with Movement (MWM) dan kombinasi plyometric training dengan Strain Counter Strain (SCS) terhadap peningkatan keseimbangan, Range of Motion (ROM), dan fungsional ankle pada kasus CAI. Metode; Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan penelitian pre-test and post-test group design. Sampel berjumlah 22 orang yang terdiri dari 11 orang di setiap kelompok. Kelompok 1 diberikan plyometric training dan MWM dan kelompok 2 diberikan plyometric training dan SCS. Latihan diberikan 3x seminggu selama 6 minggu. Teknik pengambilan sampel dengan random sampling. Keseimbangan diukur dengan Star Excursion Balance Test (SEBT), ROM diukur dengan Dorsiflexion Range of Motion (DFROM), fungsional ankle diukur dengan Foot and Ankle Ability Measure (FAAM). Hasil; Uji Paired sample t-test pada kedua kelompok didapatkan hasil signifikan untuk SEBT, DFROM, FAAM (p=0,001). Hasil sama pada uji Independent sample t-test nilai SEBT dan DFROM (p=0,001), namun nilai FAAM (p lebih dari 0,05). Simpulan; Kombinasi plyometric training dengan MWM dan kombinasi plyometric training dengan SCS sama-sama meningkatkan keseimbangan, ROM, dan fungsional ankle. Namun, untuk meningkatkan keseimbangan dan ROM kombinasi plyometric training dengan MWM lebih baik.
Pelatihan Rhythmic Auditory Stimulation (RAS) dan Visual Cue Training (VCT) Memperbaiki Kemampuan Berjalan Pasien Stroke Maratis, Jerry; Fatria, Ilham; Meidian, Abdul Chalik; Abdurrasyid, Abdurrasyid; Syah, La Ode Muhammad Gustrin
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4966

Abstract

Tujuan; Mempelajari pengaruh pelatihan rhythmic auditory stimulation (RAS) terhadap visual cue training (VCT) untuk memperbaiki kemampuan berjalan pasien stroke. Metode; Penelitian bersifat quasi experimental yang melibatkan 20 sampel dengan pembagian 10 sampel kontrol hanya VCT dan 10 sampel perlakuan RAS dan VCT, kemampuan berjalan diukur menggunakan dynamic gait index (DGI). Hasil; Pada kelompok kontrol di uji dengan paired sample test didapatkan nilai sebelum 14,80 kurang lebih 1,61 dan sesudah 15,10 kurang lebih 1,28, p=0,193 (p lebih besar 0,05) artinya tidak ditemui perubahan kemampuan berjalan pasien stroke. Pada kelompok perlakuan diuji dengan wilcoxon sign rank test didapatkan nilai sebelum 12,90 kurang lebih 2,42 dan sesudah 14,10 kurang lebih 1,66, p=0,016 (p kurang dari 0,05) artinya terdapat perubahan kemampuan berjalan pasien stroke. Pengaruh antara kedua kelompok diuji dengan mann whitney u test didapatkan nilai p=0,030 (p kurang dari 0,05) artinya ada perbedaan kemampuan berjalan. Kesimpulan; Pelatihan rhythmic auditory stimulation dan visual cue training berpengaruh signifikan terhadap perbaikan kemampuan berjalan pasien stroke.
Efektivitas Ultrasound The rapy Dan Auto Stretching Dengan Penambahan Neuromuscular Taping Terhadap Penurunan Nyeri Dan Peningkatan Luas Gerak Sendi Proximal Interphalangeal Pada Pasien Trigger Finger Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Juliastuti, Juliastuti; Alma, Aisyah Dwi Ayu; Sarina, Sarina
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4972

Abstract

Trigger finger adalah kondisi yang menyerang tendon-tendon pada jari atau ibu jari, sehingga membatasi gerakan pada jari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa signifikan efek penerapan modalitas fisioterapi berupa Ultrasound dan Auto Stretching dengan penambahan Neuromuscular Taping pada pasien trigger finger di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Single-Case dengan desain A-B-A dengan ketentuan A1 adalah kondisi baseline awal sebelum diberi perlakuan, B adalah kondisi pemberian treatment, A2 adalah kondisi baseline pengulangan atau follow up setelah pemberian intervensi. Intervensi yang digunakan berupa modalitas Ultrasound therapy dan Auto Stretching dengan penambahan Neuromuscular Taping selama 1 minggu. Populasi penelitian ini adalah pasien poliklinik fisioterapi Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dengan diagnosa Trigger Finger. Pengambilan sampel dilakukan secara matching alocation karena pemilihan sampel dilakukan atas pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria yang ditetapkan berdasarkan variabel yang diteliti. Pada penelitian ini seluruh populasi menjadi sampel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif yang sederhana dengan menggunakan grafik garis sebagai suatu gambaran dari pelaksanaan dan hasil eksperimen. Hasil penelitian didapatkan penurunan derajad nyeri gerak dengan Visual Analoque Scale (VAS) terhadap 5 (lima) subjek, pada baseline awal (intervensi Ultrasound therapy) rata-rata nilai VAS 6,46, pada fase treatment (penambahan NMT) rata-rata nilai VAS 5,07 dan pada fase baseline 2 atau fase follow up rata-rata nilai VAS 4,49, terdapat peningkatan LGS proximal interphalangeal, pada baseline awal (intervensi Ultrasound therapy) rata-rata nilai LGS proximal interphalangeal 25 derajat, pada fase treatment (penambahan NMT) rata-rata nilai LGS 29.1 derajat dan pada fase baseline 2 atau fase follow up rata-rata nilai LGS 31.9 derajat. Simpulan penelitian ini adanya perubahan nyeri dan lingkup gerak sendi pada baseline 1, treatment, dan baseline 2.
Program Fisioterapi Komprehensif Pada Penyakit Paru Obstuksi Kronis (PPOK) Eksaserbasi Akut Bintari, Rizky Putri; Rahman, Farid
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4976

Abstract

PPOK merupakan penyakit umum yang dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara yang disebabkan oleh saluran napas dan / atau kelainan alveolar yang biasanya disebabkan oleh paparan yang signifikan terhadap partikel atau gas berbahaya yang menyebabkan berbagai gangguan diantaranya sesak napas, perubahan pola pernapasan, spasme otot, dan penurunan ekspansi thoraks. Untuk mengetahui pelaksanaan fisioterapi dalam mengurangi derajat sesak napas, normalisasi pola pernapasan, rileksasi otot, dan meningkatkan ekspansi thoraks dengan modalitas infra red, sustained maximal inspiration, chest physiotherapy, dan latihan batuk efektif. Setelah dilakukan terapi selama tiga kali diperoleh hasil penilai derajat sesak napas T0; 6 menjadi T3; 4, penurunan nyeri pada nyeri tekan T0; 4 menjadi T3; 2, nyeri gerak T0; 2 menjadi T3; 1, perubahan pola pernapasan T0; prolonged expiration menjadi T3; prolonged expiration, peningkatan ekspansi thoraks pada ICS T0; 1 cm menjadi T3; 1,5 cm, pada processus xiphoideus T0; 1 cm menjadi T3: 1,5 cm dan peningkatan aktivitas T0; 70 menjadi T3; 80. Infra red, sustained maximal inspiration, chest physiotherapy, dan latihan batuk efektif dapat mengatasi gangguan yang ada pada kasus penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi akut.

Page 1 of 1 | Total Record : 8