Contemporary Quran
The Contemporary Quran is a twice-a-year, trilingual, peer-reviewed journal that aims to encourage and promote contemporary Quranic studies from a wide range of scholarly perspectives, reflecting the diversity of approaches characteristic of this field of scholarship. The Contemporary Quran publishes articles both in Bahasa, English and Arabic, to encourage the bridging of the gap between the two traditions of Muslim and Western scholarship. The Contemporary Quran is principally dedicated to the publication of original papers, with a research section including of new concept and works on the Quran in the various languages of the Muslim world, as well as the output of the western academic presses.
Articles
48 Documents
Masuklah dalam Islam Secara Kāffah: Analisis atas Tafsir Q 2: 208 dalam Ceramah Ustadz Adi Hidayat di Youtube
Nurun Nisaa Baihaqi
Contemporary Quran Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.2021.0101-01
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan kecenderungan penafsiran atas makna Islam kaffah yang dilakukan oleh Adi Hidayat di media Youtube. Makna Islam kaffah yang dipahami oleh banyak kalangan berpotensi menimbulkan perdebatan dan keraguan atas makna yang sebenarnya atas seruan berislam secara totalitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisa menggunakan content analysis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran al-Qur’an diperlukan munāsabah dengan rumus 2S 1L (siyāq, sibāq dan lihāq). Dalam aspek penafsiran tentang Islam kāffah dalam Q 2: 208 dipahami melalui siyāq-nya. Dengan metode ini, kāffah dalam al-Qur’an memiliki tiga term yang berbeda; al-Islām, al-Silm dan al-Salām. Al-Islām bermakna frame dan tatanannya, al-silm bermakna tuntunannya dan al-salām sebagai hasilnya. Adi Hidayat memaknai kāffah dalam konsep menyeluruh yang sesuai dengan batas maksimal kemampuan manusia. Jadi, untuk mencapai Islam kāffah, sesorang harus masuk ke dalam Islam sebagai al-dīn, kemudian beriman dan siap mengamalkan tuntunan (al-silm) secara kāffah, sehingga akan mendapatkan hasil berupa salām. Konsep ini berlaku dalam ranah kehidupan individu dan sosial kemasyarakatan.
Communicative Translation dalam Tafsīr al-Mu’īn karya MUI Sulawesi Selatan: Analisis Makna Iyyāka di Q 1: 5
Ahmad Ramzy Amiruddin
Contemporary Quran Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.2021.0101-03
Artikel ini membahas tentang penggunaan kata ikomi sebagai terjemah iyyāka pada Q1: 5 dalam Tafsīr al-Mu’īn karya MUI Sulawesi Selatan. Dalam masyarakat Bugis, penggunaan kata ikomi memiliki hirarkis kasar, sehingga penggunaannya tidak tepat jika ditujukan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati. Sebagai gantinya, terdapat kata idi’mi yang lebih sopan dan sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara. Akan tetapi, kata ikomi yang dinilai kasar, justru digunakan sebagai terjemah iyyāka yang ditujukan kepada Tuhan (Allah), sehingga penggunaannya dinilai tidak sepadan. Untuk membuktikan hal tersebut, akan digunakan teori communicative translation milik Peter Newmark sebagai analisis ekuivalensinya. Adapun hasil yang ditemukan bahwasanya penggunaan kata ikomi sebagai terjemah iyyāka merupakan bentuk penegasan yang disesuaikan dengan konteks gramatikal yang dimaksudkan dalam Q1:5 dan konteks penafsirannya pada Tafsīr al-Mu’īn karya MUI Sulawesi Selatan. Dengan teori communicative translation yang berfokus pada kesepadanan efek yang diberikan oleh kedua bahasa, dapat dikatakan bahwa kedua kata tersebut menunjukkan adanya ekuivalen, karena keduanya memberikan efek atau kesan yang sama, yaitu penegasan.
Ekspansi Israel Atas Yerussalem dalam al-Qur’an: Tinjauan atas penafsiran Q 5: 20-26 dalam Tafsīr al-Sha‘rāwī
Satria Tenun Syahputra
Contemporary Quran Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.2021.0101-02
Artikel bertujuan untuk menemukan konsepsi al-Sha’rāwī tentang ekspansi Israel atas Yerussalem dalam penafsirannya terhadap Q 5: 20-26. Konflik yang berlangsung antara Israel dan Palestina merupakan konflik yang rumit yang argumentasinya mengarah pada persoalan keagamaan. Persoalan ini membutuhkan analisa ilmiah untuk membantah tindakan tidak humanis tersebut, dengan menggunakan penelitian kualitatif (library Research) dengan metode pendekatan analisis kritis-historis, yang terfokus kepada kitab Tafsīr al-Sha’rāwī. Tafsir ini merupakan salah satu tafsir yang mengedepankan aspek bahasa dan kemukjizatan al-Quran dengan mengaktualisasikan penafsirannya dengan kondisi terkini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa klaim historis yang dilakukan Israel untuk mendirikan negara di tanah Palestina merupakan klaim yang tidak berdasar. Al-Qur’an memberikan dasar atas argumentasi tersebut yang dijelaskan dan diungkapkan oleh al-Sha’rāwī. Ketetapan Allah untuk memberikan tanah suci Yerussalem kepada umat Yahudi, dalam al-Qur’an merupakan irādah Tashrī’īyah, bukan irādah kawniyah. Dengan konsep tersebut, untuk menyelesaikan konflik yang terjadi diperlukan kriteria-kriteria khusus yang bergantung pada keinginan dan kemampuan umat Islam agar mendapatkan wa’du al-akhirah yang merupakan bentuk qadiyah Quraniyah yang belum terbukti secara empiris keseluruhannya.
Urgensi Ma’na-Cum-Maghza di Era Kontemporer: Studi Penafsiran Sahiron Syamsuddin atas Q 5: 51
Umi Wasilatul Firdausiyah
Contemporary Quran Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.2021.0101-04
Artikel ini membahas tentang urgensi pendekatan ma’na-cum-maghza di era kontemporer yang digagas oleh Sahiron yang diimplementasikan pada Q 5: 51. Kehadiran pendekatan ini sebagai alternatif baru dalam penafsiran kontekstual mengalami perdebatan tentang keabsahannya. Untuk melakukan pengujian terhadap kontribusi pedekatan ini dalam penyelesaian problem aktual yang menjadi dasar dari keberadaan tafsir kontektual, maka penelitian ini menggunakan metode content analysis dengan jenis penelitian studi pustaka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat tiga sumbangsih yang diberikan oleh pendekatan ma’na-cum-maghza. Pertama, dalam wilayah metodis, penelitian ini memberikan penyempurnaan terhadap konsep tafsir kontekstual sebelumnya dengan memberikan makna kontekstual terhadap setiap jenis ayat, tanpa membatasi pada ayat hukum saja. Kedua, dalam wilayah fungsi interpretasi, pendekatan ini memberikan kontribusi langsung atas petunjuk al-Qur’an sebagai landasan dalam mengatasi problematika aktual yang dihadapi masyarakat muslim, khusunya di Indonesia. Ketiga, dalam wilayah pengembangan kajian al-Qur’an, pendekatan ini memberikan alternatif metode baru dalam memahami ayat secara aktual yang dihasilkan dari kekurangan dari metode sebelumnya, sehingga dinamika dalam kajian al-Qur’an terus berkembang. Keberadaan pendekatan ma’na-cum-maghza dengan demikian menjadi pelengkap dan penyempurna metode penafsiran kontekstual yang memiliki sumbangsih besar dalam memahami al-Qur’an yang relevan dengan perkembangan dan problematika masyarakat kontemporer.
Konsep Toleransi dalam Keberagaman: Analisis atas Penafsiran Q 49: 13 dalam al-Qur’an dan Tafsir Kemenag versi Website
Sofia Aulia Zakiyatun Nisa
Contemporary Quran Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.2021.0101-05
Artikel ini berupaya menemukan konsistensi narasi toleransi yang digaungkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dalam al-Qur’an dan Tafsir Kemenag versi website melalui penafsiran atas Q 49: 13. Keragaman yang dimiliki masyarakat Indonesia dan tantangan globalisasi menjadikan isu ini penting untuk dikaji. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis data menggunakan content analysis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa toleransi Kemenag memiliki tiga prinsip; Pertama, saling mengenal satu sama lain meski berbeda ras, suku, budaya, dan agama. Kedua, tolong-menolong dalam kebajikan atas perbedaan yang ada. Ketiga, kerjasama untuk bersama-sama membangun kemajuan kelompok, bangsa, dan negara. Untuk membawa pesan toleransi dalam keberagaman Indonesia pada era modern, Al-Qur’an dan Tafsirnya versi website memiliki relasi terhadap peningkatan wacana toleransi secara kelembagaan. Konsep ini menjadi dasar bagi seluruh lembaga dibawah Kemenag di seluruh Indonesia untuk mengusung semangat yang sama dalam menyebarluaskan wacana dan tindakan yang bernuansa toleran. Konsistensi yang dilakukan merupakan bagian dari keseriusan Kemenag dalam menjaga keutuhan bangsa yang beragam. Hal ini merupakan implementasi dari kewajibannya sebagai lembaga negara yang bertanggung jawab dalam mengkonsep dan menyebarkan sikap toleran dalam keberagaman.
Fleksibilitas Ungkapan Salam dalam Q 24: 27 dan Relevansinya terhadap Konteks Keindonesiaan
Azhar, SM Fahmi;
Hakim, Lukman
Contemporary Quran Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.v1i2.2973
Identitas salam dalam al-Qur’an yang hadir dalam bentuk umum dimaknai secara tunggal dengan ucapan al-salam ‘alaykum. Redaksi ini menjadi kata utama dalam setiap sapaan di masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Padahal, keumuman redaksi dapat bermakna keumuman cara tanpa identifikasi atas satu cara. Dalam konteks ini, tulisan ini bertujuan untuk menemukan signifikansi utama makna salam dengan berdasarkan pada Q 24: 27. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan ma’nā-cum-maghzā. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salam dalam al-Qur’an disebut secara umum tanpa redaksi penyebutan secara spesifik. Hal ini menunjukkan pesan utama makna salam terletak pada aspek penghormatan dan saling mendoakan yang tidak ditentukan bentuk redaksi spesifik. Keumuman redaksi yang digunakan dalam al-Qur’an berkaitan dengan penggunaan kata salam yang telah dikenal sebelumnya di komunitas masyarakat Arab dengan bentuk yang bervariasi, sehingga penyebutan salam dengan redaksi apapun diperbolehkan dengan tujuan yang sesuai dengan pesan utama ayat. Fleksibilitas ungkapan dan universalitas makna berdampak pada peningkatan sikap toleransi dalam negara yang plural, seperti Indonesia.
Justifikasi Aliran dan Paham Ahmadiyah dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah: Menilik Argumentasi QS. Al Ahzab (33): 40, QS. Al-An’am (6):153 dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Siti Khodijah Nurul Aula
Contemporary Quran Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.v1i1.3805
Artikel ini bertujuan memaparkan beberapa argumentasi Majlis Ulama Indonesia (MUI) terhadap penolakan keberadaan kelompok minoritas muslim Ahmadiyah dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Indonesia. Sebagai kelompok minoritas muslim, keberadaan Ahmadiyah dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah seringkali mendapatkan penolakan khususnya pasca keluarnya fatwa MUI Nomor: MUI 11/MUNAS VII/MUI/15/2005 dan Nomor: 04 Tahun 2007. Penolakan terhadap kelompok minoritas berbentuk dua penolakan secara ide-gagasan dan penolakan terafiliasi dalam tindakan kekerasan. Salah satu dalil utama yang digunakan dalam menolak aliran dan paham dari Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dalam QS. Al Ahzab (33): 40 dan QS. Al-An’am (6):153, yang juga menjadi salah satu landasan penolakan terhadap kelompok muslim Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dianggap meyakini adanya Nabi setelah Nabi Muhammad. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konflik intrareligious dari Raimundo Panikar, dengan indikator utama meliputi: self criticism, menjauhkan truth claim, dan agape. Hasil dari penelitian ini yaitu: Pertama, menggambarkan bahwa QS. Al Ahzab (33): 40 dan QS. Al-An’am (6):153 menjadi landasan utama dalam menolak keberadaan Ahmadiyah dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Indonesia, walaupun terdapat ayat dan hadis lain sebagai landasan naqli dalam memberikan fatwa “sesat dan kafir” kepada kelompok tersebut. Kedua, Keberadaan fatwa belum mempertimbangkan semangat dari intrareligious, berbagai dampak kehadiran fatwa belum mendapatkan perhatian dari MUI. Sehingga yang terjadi adalah berbagai bentuk persekusi dan diskriminasi, realitas yang jauh dari tujuan nash Al-Qur’an yang mengedepankan prinsip perdamaian dan kesatuan.
The Linguistic Relativity Hypothesis of the Holy Quran
Varzandeh, Mohsen
Contemporary Quran Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.v2i1.2822
Given the interaction between language and thought, this novel work proposes a linguistic relativity hypothesis of the Holy Qur’an. Supported with evidence from thorough investigation of Sapir-Whorf’s Linguistic Relativity Hypothesis, and linguistic characteristics unique to this divine book ranging from surface structure to deep structure, especially its semantic layers, the proposed hypothesis states that the linguistic structure of the Holy Quran influences and shapes the reader's thought. In the meantime, convergent thinking and divergent thinking emerge as two directions of thought, respectively. The language of the Holy Qur’an influences, shapes and directs one’s thought about himself/herself and the universe.
Teologi Kesehatan dalam Upaya Mitigasi COVID-19 Perspektif al-Qur’an
Sulthan, Sulthan;
Awwabin, Muhammad Rosyid;
Fauzan, Imam
Contemporary Quran Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.v1i2.3069
Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas izin dan kehendak Allah SWT, Termasuk adanya Virus Covid 19. Covid 19 adalah ciptaan Allah SWT, ia bisa menjangkiti seseorang juga atas izin dan kehendak-Nya. Kendati demikian, Allah juga memberikan solusi untuk menghadapi Virus Covid 19 yang telah tercantum di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Penelitian ini bersifat studi kepustakaan (library research). Adapun analisis yang digunakan adalah analisis interpretatif yang mencoba mengkontekstualisasikan fenomena pandemi di masa lalu dengan pandemi Covid 19 saat ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam agama Islam penyakit juga diistilahkan dengan musibah, fitnah, bala dan adzab. Termasuk juga penyakit Covid 19 yang disebabkan virus Covid 19 meskipun disebabkan hasil perbuatan manusia itu sendiri (bima kasabat aidin naas). Covid 19 juga bisa disebut dengan waba atau thaun. Terdapat beberapa upaya preventif perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam mencegah atau menghadapi Covid 19, antara lain; Pertama, senantiasa meminta perlindungan Allah setiap saat. Kedua, berikhtiyar semaksimal mungkin. Ketiga, bertawakkal kepada Allah. Keempat, berprasangka baik kepada Allah.
Penafsiran Kitābun Marqūm dalam Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma
Ulfah, Mailani
Contemporary Quran Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga Islamic State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/cq.v1i2.5658
Manusia merupakan makhluk yang memiliki ragam potensi dibandingkan dengan lainnya diantaranya akal. Sehingga al-Qur’an menegaskan tentang penciptaan manusia yang memiliki keistimewaan serta dinobatkan sebagai khalīfah fī al-ardh demikian ini terjadi karena selain diciptakan dengan fisik yang sempurna, ia juga dibekali akal untuk berfikir, fitrah untuk beribadah serta nafsu keinginan. Dengan akal, manusia dapat membedakan sesuatu yang baik buruk sebab manusia mampu memfungsikan akalnya dengan baik untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain. Ada banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang potensi akal. Ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang potensi akal dapat-ditemukan dalam istilah tafakkur, tadabbur dan tabashur. Tafsir Ilmiah Salman menafsirkan QS. Al-Muthaffifīn [83]:9 dan 20 dengan penyajian yang berbeda dengan penafsiran sebelumnya yakni dengan menghubungkan makna al-Qur’an dengan pengetahuan sains. Hal tersebut merupakan bukti perkembangan dalam bidang kajian tafsir yang bernuansa sains di Indonesia. Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana penafsiran kitābun marqūm dalam Tafsir Ilmiah Salman yang dihubungkan pada otak manusia yang berfungsi sebagai pusat rekaman informasi. Adapun jenis penelitian yang akan digunakan adalah (library research) atau studi kepustakaan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah penafsiran penggalan ayat kitābun marqūm dimaknai secara harfiah yang merujuk kepada tiga mufasir kontemporer sehingga memunculkan sebuah penafsiran bernuansa sains. Kedua, makna kitābun marqūm diasosiasikan kepada bagian otak yang disebut sebagai neokorteks yang berfungsi sebagai pusat record atau penyimpanan memori secara permanen.