cover
Contact Name
Rezky Yunita
Contact Email
rezky.yunita@bmkg.go.id
Phone
+6282125693687
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 17 No. 1 (2016)" : 9 Documents clear
POLA SPASIAL DAN TEMPORAL PREDIKSI HUJAN INDONESIA BARAT MENGGUNAKAN WRF-EMS Sri Muslimah; Rahmat Hidayat; Wido Hanggoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.371

Abstract

Model numerik Weather Research and Forecasting Environmental Modelling System (WRF-EMS) digunakan pada studi ini dengan tujuan untuk mengkaji hasil keluaran prediksi hujan model WRF-EMS 1 dan 2 hari ke depan di 6 stasiun pengamatan cuaca terhadap data sinoptik dan TRMM, 8 initial and boundary conditions, serta mengkaji hasil keluaran prediksi hujan secara spasial model WRF-EMS. Konfigurasi skema standar dari model WRF-EMS dipertahankan dan hanya mengubah skema kumulus saja, yaitu menggunakan skema kumulus Betts-Miller-Janjic. Akurasi model ditunjukkan oleh rentang nilai threat score (TS) hasil prediksi hujan 1 dan 2 hari kedepan. Hasil prediksi hujan menunjukkan bahwa model WRF-EMS cukup baik untuk mensimulasikan kejadian tidak-hujan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Nilai TS di stasiun pengamatan cuaca Citeko dari model dengan resolusi horizontal 27 km untuk prediksi 1 dan 2 hari kedepan masing-masing berkisar antara 0 – 0.33 dan 0 – 0.30 sedangkan nilai TS dari model dengan resolusi horizontal 3 km untuk prediksi hujan 1 dan 2 hari kedepan masing-masing berkisar antara 0,17 – 0,75 dan 0.38 – 0.63. Peningkatan resolusi horizontal dari 27 km menjadi 3 km dapat meningkatkan nilai TS. Hal ini mengindikasikan bahwa model dengan resolusi horizontal 3 km lebih akurat untuk memprediksi hujan dibandingkan dengan model resolusi horizontal 27 km. Model WRF-EMS menghasilkan prediksi hujan yang over estimated secara spasial dan model ini lebih sensitif memprediksi hujan di Stasiun Citeko. WRF-EMS numerical models use to examine the output prediction of rain on 1 or two days ahead   using the WRF-EMS model at 6 weather observations stations and the TRMM data, 8 initials and boundary conditions, and to examine the output prediction of rain spatially using the WRF-EMS. In this study, the configuration of the standard scheme using the WRF-EMS model is maintained; however, the cumulus scheme is the Betts-Miller-Janjic cumulus scheme. The accuracy shown by threat values score (TS) of rain predicted on the 1 and 2 days later. The result shows that the model predictions of rain using WRF-EMS is good enough to simulate a no-rain events on the island of Sumatra and Kalimantan. The TS value at Citeko, horizontal resolution of 27 km, for the prediction of 1 and 2 days in advance of each ranged from 0 – 0.33, and 0 – 0.30, while the TS value of the model with a horizontal resolution of 3 km for rainfall predictions 1 and 2 days in advance each ranged from 0.17 to 0.75 and 0.38 - 0.63. The increased of horizontal resolution from 27 km to 3 km can also increase the value of TS. This indicates that the model with a horizontal resolution of 3 km is more accurate for predicting rain compared to the model horizontal resolution of 27 km. The rainfall prediction was spatially over estimated when using the WRF-EMS Model, and this model is more sensitive in predicting rain at Citeko Station.
SUMBER TSUNAMI GEMPA BUMI IQUIQUE, CHILI 2014 MENGGUNAKAN METODE BACK PROPAGATION TSUNAMI TRAVEL TIME (TTT) Dwi Hartanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.372

Abstract

Peringatan dini berupa estimasi waktu tiba gelombang tsunami bisa berguna untuk daerah yang terancam. Dengan mengetahui waktu tiba gelombang tsunami, negara-negara yang menerima peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau dari Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) dapat mempersiapkan diri dari ancaman tsunami. Waktu tiba gelombang tsunami yang tercatat oleh Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART) dan tide gauge dapat digunakan untuk mengetahui luasan area gempa bumi, menggunakan metode Waktu Penjalaran Gelombang Tsunami Balik (Back Propagation Tsunami Travel Time (TTT)). Di dalam penelitian ini menggunakan 3 data DART dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan 4 data tide gauge dari Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC) untuk gempa bumi Iquique, Chili 2014. Sumber tsunami menggunakan metode penjalaran gelombang tsunami balik untuk gempa bumi Iquique 2014 menghasilkan luas area dengan panjang sekitar 150 km, dan lebar 60 km. Luas area ini dapat menghasilkan gempa bumi dengan magnitude 8.0. Tsunami arrival time is very useful for tsunami early warning in certain areas. Countries that received tsunami early warning from Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) or from Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) in form of tsunami arrival time can be prepared for the incoming tsunami.  Tsunami wave arrival time recorded by a deep-ocean assessment and reporting of tsunami ( DART ) and tide gauges could be used to determine the extent of the earthquake area using the method of Back Propagation Tsunami Travel Time ( TTT ) . In this study, we used 3 DART Data from the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA ) and 4 Data tide gauge of the Intergovernmental Oceanographic Commission ( IOC ) for the earthquake Iquique, Chile, 2014. Tsunami source area by back propagation method of The 2014 Iquique, Chile, Earthquake is approximately 150 km long and 60 km width. This source area can produce earthquake with magnitude of 8.0.
TOMOGRAFI GEOLISTRIK UNTUK IDENTIFIKASI LITOLOGI PADA LOKASI RENCANA BENDUNG DAN TEROWONGAN DI SULAWESI UTARA Boko Nurdiyanto; Imam Suyanto; Bambang Sunardi; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.373

Abstract

Pengukuran geolistrik telah dilakukan untuk mengidentifikasi litologi dan akuifer berdasarkan resistivitas batuan pada lokasi rencana pembangunan bendung dan terowongan di daerah Sulawesi Utara. Survei tiga lintasan menggunakan konfigurasi dipole-dipole dengan 32 elektroda (a = 5,5 m) dan kabel ekstensi 9 elektroda (a = 20 m). Analisa tomografi resistivitas menunjukan daerah survei tersusun oleh tanah berupa lempung pasiran (resistivitas rendah di permukaaan), breksi Tondano (30 –1000 Ωm), lapukan tufa Tondano (30 – 80 Ωm) dan tufa Tondano (< 30 Ωm). Di area bendung pada bagian tepi sungai terdapat tanahtipis, breksi Tondano danlapisan tufa Tondano. Lapisan Tondano daerah terowongan telah mengalami pelapukan menjadi lempung pasiran dengan ketebalan hingga 15 m, sedangkan lapisan dibawahnya berupa breksi tondano yang telah lapuk menjadi pasir kelempungan dengan fragmen kerikil (40 – 125 Ωm) hingga bongkah (200 – 2000 Ωm) dengan ketebalan 10 – 35 meter. Pada kedalaman 50 m ditemukan intrusi andesit, kekar-kekar pada andesit diisi oleh air. Terdapat setidaknya ada lima akuifer dengan kedalaman sekitar 50 meter diantara lokasi rencana surgetank sampai powerhouse. Geoelectric measurements have been conducted to identify the lithology and aquifers based on rock resistivity at a dam and tunnel site plan in North Celebes using three-lines survey with 32 electrodes (a= 5,5 m) dipole-dipole configuration and 9 electrode extension cables (a=20 m). Based on electrical resistivity tomography (ERT), it can be interpreted that the survey area is composed of soil in the form of sandy clay (low resistivity), breccia Tondano (30-1000 Ωm), weathered of Tondano tuff (30-80 Ωm) and tondano tuff(<30 Ωm). In the area of the dam, there are thin soil, a layer of tuff and breccia tondano on the river banks. Tondano layer in the tunnel area has experienced weathering into sandy clay with a thickness of up to 15 m, while layers below it has took the form of breccia, which has weathered into sandy loam with fragments of gravel (40-125 Ωm) to boulder (200-2000 Ωm) with a thickness of 10 - 35 meters. Andesite intrusion was found at a depth of 50 m, with cracks on andesite filled by water. There are at least five of the aquifers at a depth of about 50 meters between the location of surgetank to the powerhouse plan.
PENGUKURAN VS30 MENGGUNAKAN METODE MASW UNTUK WILAYAH YOGYAKARTA Muzli Muzli; R. Pandhu Mahesworo; R. Madijono; Siswoyo Siswoyo; K.R. Dewi; Budiarta Budiarta; O. Sativa; B. Sulistyo; R. Swastikarani; N. Oktavia; Moehajirin Moehajirin; N. Efendi; T.A. Wijaya; B. Subadyo; Mujianto Mujianto; Suwarto Suwarto; S. Pramono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.374

Abstract

Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang aktif gempabumi di Indonesia. Sumber gempabumi dapat berasal dari patahan lokal Opak di bagian timur ataupun zona subduksi pada bagian selatan Yogyakarta. Pembuatan peta mikrozonasi gempa sangat dibutuhkan untuk pertimbangan pembangunan infrastruktur atau bangunan yang tahan terhadap gempabumi. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak resiko yang mungkin ditimbulkan. Pada pertengahan tahun 2014 telah dilakukan pengukuran kecepatan gelombang geser (Vs30) di wilayah Yogyakarta khususnya wilayah Kabupaten Bantul dan Sleman. Pengukuran dilakukan terhadap 55 titik yang menyebar pada dua wilayah Kabupaten tersebut dengan jarak antar titik sekitar 1 sampai 5 km. Vs30 merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam peta mikrozonasi. Pengukuran Vs30 dengan metode Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) menggunakan 24 geofon komponen vertikal dengan frekuensi 4.5 Hz. Nilai Vs30 memberikan informasi klasifikasi tanah permukaan sampai pada kedalaman 30 meter. Hasil interpretasi nilai Vs30 menunjukkan bahwa pusat kota yaitu Kotamadya Yogyakarta memiliki resiko amplifikasi gelombang yang relatif besar dengan nilai Vs30 berkisar antara 115-175 m/s. Pembangunan di wilayah ini sangat disarankan untuk memperhatikan aturan yang memenuhi standard sesuai rujukan SNI 1726-2012. Pada sisi lain, wilayah yang memiliki tanah permukaan klasifikasi padat dengan nilai rata-rata Vs30 antara 350-480 m/s adalah Kecamatan Kretek, Sanden, Pandak dan Bambanglipuro. Wilayah ini memiliki potensi untuk pelemahan atau atenuasi gelombang sehingga resiko kerusakan akibat gempabumi relatif lebih kecil. Yogyakarta region is one of a seismically active region in Indonesia. Earthquake source can be generated from a local fault Opak in the eastern or subduction zone in the southern part of Yogyakarta. Map of seismic microzonation is needed for infrastructure development considerations or buildings resistant to earthquakes. The use of this map is expected to reduce the impact of risks that may be posed. In mid-2014 measurements of shear wave velocity (Vs30) in Yogyakarta has been carried out, especially in the districts of Bantul and Sleman. Measurements were made on the 55 points spread in the two districts with the distance between the points is 1 to 5 km apart. Vs30 is one of the parameters used in the microzonation maps. Vs30 measurements using Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) method. It is acquired using 24 geophones of the vertical component with the frequency of 4.5 Hz. The values provide information of the classification of the soil surface to a depth of 30 meters. Results and interpretation of Vs30 value indicates that the city center of Yogyakarta has intermediate risk with relatively large possibility of seismic wave amplification with the values of Vs30 ranging between 115-175 m/s. The Building Construction in this region are strongly recommended to follow the regulation or building code of SNI 1726-2012. Whereas the region which has a solid surface soil classification with the average Vs30 values between 350-480 m/s is the districts of Kretek, Sanden, Pandak and Bambanglipuro. This region could potentially attenuate the seismic wave, hence they have relatively low risk for the damages due to strong earthquakes.
PEAK GROUND ACCELERATION AT SURFACE AND SPECTRAL ACCELERATION FOR MAKASSAR CITY BASED ON A PROBABILISTIC APPROACH Bambang Sunardi; Jimmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.380

Abstract

The December 12, 2010 earthquakes (M 5.9) has drawn attention on the importance of knowledge of peak ground acceleration at surface (PGAM) and spectral acceleration for Makassar City. The PGAM and spectral acceleration play an important role in seismic design regulations. The purpose of this paper is to present the PGAM and spectral acceleration for Makassar City based on a probabilistic approach. The analysis involved determination of peak ground acceleration at bedrock using Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), the average shear wave velocity at 30 m depth (Vs30), and site classification. Results of the analysis showed that the values of PGAM for Makassar City were varied from 0.177 – 0.21 g. Meanwhile, the spectral acceleration values at T = 0.2 and T = 1 second were varied from 0.459 – 0.541 g and 0.277 – 0.369 g respectively. From these results, the values of PGAM and spectral acceleration are relatively higher at Tamalanrea and Biringkanaya districts and relatively lower at Tamalate district in comparison to other districts in Makassar City. This condition is associated with the location of those areas which are relatively closer to the  earthquake source (Walanae fault), and is geologically dominated by stiff soil (SD).Gempa 12 Desember 2010 (M5.9) menarik perhatian kita akan pentingnya pengetahuan tentang percepatan tanah maksimum di permukaan (PGAM) dan spektra percepatan untuk Kota Makassar. PGAM dan spektra percepatan memegang peranan penting dalam peraturan desain gempa. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan PGAM dan percepatan spektra untuk Kota Makassar berdasarkan pendekatan probabilistik. Analisis yang dilakukan meliputi penentuan percepatan tanah maksimum di batuan dasar menggunakan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), rata-rata kecepatan gelombang geser pada kedalaman 30 m (Vs30), dan klasifikasi site. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai PGAM untuk Kota Makassar bervariasi dari 0.177 – 0.21 g. Sementaraitu, nilai spektra percepatan pada T=0.2 dan T=1 detik berturut-turut bervariasi dari 0.459 – 0.541 g dan 0.277 – 0.369 g. Nilai PGAM dan spektra percepatan relatif lebih tinggi di Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya serta relatif lebih rendah di Kecamatan Tamalate dibandingkan dengan Kecamatan lainnya di Kota Makassar. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang relatif lebih dekat dengan sumber gempa (patahan Walanae), dan secara geologi di dominasi oleh jenis tanah sedang (SD).
APLIKASI METODE ENSEMBLE MEAN UNTUK MENINGKATKAN RELIABILITAS PREDIKSI HyBMG Kurnia Endah Komalasari; Yuaning Fajariana; Tri Astuti Nuraini; Rian Anggraeni
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.381

Abstract

Tingginya variasi curah hujan di Indonesia mengakibatkan sulit untuk menentukan model prakiraan iklim yang memiliki validitas dan reliabilitas terbaik. Penelitian ini dilakukan untuk  mendapatkan model prakiraan iklim dengan akurasi yang lebih baik dengan menggunakan metode ensemble mean. Metode ensemble mean menggabungkan hasil prediksi dari empat model prakiraan iklim berbasis statistik yang terintegrasi ke dalam software HyBMG, yaitu ARIMA, ANFIS, Wavelet ANFIS, dan Wavelet ARIMA.  Berdasarkan hasil uji coba terhadap data curah hujan dari tahun 2003-2012, ensemble mean dapat meningkatkan performa dari hasil prakiraan iklim dengan single method; hasil prakiraan iklim untuk metode ARIMA dapat meningkat hingga 44.4%, ANFIS 43.4%, Wavelet ARIMA 55.6%, dan Wavelet ANFIS hingga 58.6%. The high rainfall variability in Indonesia makes it difficult to determine the climate forecast models that have the best reliability and validity. This study was conducted to obtain climate forecasting model with better accuracy using the ensemble mean. This method combines prediction results from four statistical climate models integrated within the HyBMG software, i.e. ARIMA, ANFIS, ANFIS Wavelet and Wavelet ARIMA. Based on test results of the 2003-2012 rainfall data, the ensemble mean method is proven to improve the performance of climate forecasts results with only one single method; for ARIMA the improvement is up to 44.4%, ANFIS 43.4%, ARIMA Wavelet 55.6%, and Wavelet ANFIS 58.6%.
HUBUNGAN ANTARA KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA (CO) DAN SUHU UDARA TERHADAP INTERVENSI ANTHROPOGENIK (STUDI KASUS NYEPI TAHUN 2015 DI PROVINSI BALI) Kharisma Aprilina; Imelda Umiyatul Badriah; Edvin Aldrian
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.397

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hubungan antara konsentrasi karbon monoksida (CO) dan suhu udara pada saat Perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2015 di Provinsi Bali (tanpa intervensi anthropogenik) dan pada hari-hari biasa di luar Hari Raya Nyepi (dengan intervensi anthropogenik). Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran konsentrasi CO dan suhu udara di tiga titik pengukuran yaitu Denpasar, Singaraja, dan Bedugul antara tanggal 17-25 Maret 2015, dimana hari Raya Nyepi dirayakan pada tanggal 21 Maret 2015. Pengukuran gas CO dilakukan dengan menggunakan alat pengukur konsentrasi polutan yang dinamakan Multi Gas Sensync dan pengukuran suhu udara dilakukan dengan menggunakan alat Portable Weather Station (PWS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi CO dan suhu diDenpasar, Bedugul dan Singaraja pada saat hari Raya Nyepi menunjukkan adanya hubungan linier yang positifyang berarti antara konsentrasi CO dan suhu udara terjadi pengaruh yang saling menguatkan yaitu apabila terjadi peningkatansuhu udaramaka konsentrasi CO juga akan meningkat dan sebaliknya, sedangkan pada hari-hari di luar hari raya Nyepi hubungan antara keduanya terlihat tidak konsisten yang diduga karena adanya pengaruh dari faktor lain terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia (faktor anthropogenik). This study was conducted to determine the differences of carbon monoxide (CO) concentration and air temperature relation during the celebration of Nyepi Day 2015 (without anthropogenic intervention) in Bali Province and the days outside Nyepi Day (with anthropogenic intervention). The study was conducted by measuring the CO concentration and air temperature at the three measuring points those were Denpasar, Singaraja, and Bedugul, from 17 to 25 March 2015 which Nyepi Day was celebrated on March 21, 2015.CO measurement was performed using pollutant concentration measuring tool called Multi Gas Sensync and air temperature measurement was performed using Portable Weather Station (PWS). The results showed that the relation between CO concentration and air temperature in Denpasar, Bedugul, and Singaraja during Nyepi Daygenerally showed a positive linear relation which means that CO concentration and air temperature influences each other: whenever there was an increase in air temperature then CO concentration will also increase and vice versa, whereas in the days outside Nyepi Day, relation between the two looks inconsistent due to the influence of other factors mainly caused by human activity (anthropogenic factors).
KAJIAN KERENTANAN TANAH BERDASARKAN ANALISIS HVSR DI DAERAH SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO DAN SEKITARNYA, JAWA TIMUR, INDONESIA Karyono Karyono; Ildrem Syafri; Abdurrokhim Abdurrokhim; Masturyono Masturyono; Supriyanto Rohadi; Januar Arifin; Ajat Sudrajat; Adriano Mazzini; Soffian Hadi; Agustya Agustya
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.398

Abstract

Aluvium merupakan fitur geologi yang memiliki sifat rentan terhadap pengaruh gempabumi. Daerah Porong dan sekitarnya tempat semburan Lumpur Sidoarjo (Lusi) terjadi merupakan daerah dataran yang ditutupi oleh endapan aluvium Delta Brantas, sehingga daerah ini merupakan zona lemah yang rentan terhadap pengaruh gempabumi. Hal ini diperkuat dengan adanya sesar Watukosek di daerah tersebut. Dengan tujuan untuk membuktikan hal tersebut maka dilakukan observasi seismik dengan cara memasang 71 stasiun pengamat gempabumi temporal yang tersebar di daerah Sidoarjo dan sekitarnya. Hasil analisis Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) terhadap data seismik diperoleh sebaran frekuensi natural bawah permukaan lebih rendah di daerah Lusi yaitu 0,4Hz. Hasil analisis juga mengungkap bahwa di daerah tersebut mempunyai amplifikasi tanah sebesar 5,2 dan tingkat kerentanan tanah sebesar 56, lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di sekitarnya. Karena letaknya di zona lemah, maka berimplikasi bahwa Lusi menjadi sensitif terhadap gangguan luar misalnya dampak kejadian gempabumi menjadi lebih besar pada daerah ini. Alluvium is a geological feature characterized by high risk vulnerability influenced by the earthquakes. Porong and surrounding areas where the eruption of Lumpur Sidoarjo’s (Lusi) occurred are areas covered by alluvium sediment of Brantas Delta, as consequences this area is a weak zone characterized by high risk vulnerability as well. This is also supported by the present of Watukosek fault system in this area. To proved, we deployed 71 temporary seismic stations distributed in and around Sidoarjo area. The Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) analysis revealed that the natural frequency in Lusi area is about 0.4Hz, this is lower than other part areas. The analysis also revealed that this area has soil amplification about 5.2 and soil vulnerability index about 56, these are higher compared with other part areas. These results support that this area is a weak zone. Because of its location in a weak zone, this implies that Lusi became sensitive to external perturbation for example the earthquake events would have greater impact to this area.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.400

Abstract

Sampul, sertifikat, daftar isi Jurnal MG Volume 17 Nomor 1 Tahun 2016

Page 1 of 1 | Total Record : 9