cover
Contact Name
Elis Suryani Nani Sumarlina
Contact Email
elis.suryani@unpad.ac.id
Phone
+6282216552522
Journal Mail Official
lintasbudayanusantara@gmail.com
Editorial Address
https://ejournal.lintasbudayanusantara.net/index.php/jkbh/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH)
ISSN : 26567156     EISSN : 2830697X     DOI : 10.61296/jkbh
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH) adalah Jurnal yang menyajikan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dan hasil kajian di bidang adat, aksara, bahasa, filologi, sejarah, sastra, tradisi, sosiohumaniora, dan budaya secara multidisiplin. Terbit 3 kali dalam setahun, setiap Februari, Juni, dan Oktober.
Articles 163 Documents
PERJANJIAN SUNDA–PORTUGIS 1522 DAN DAMPAK KEGAGALANNYA TERHADAP KERUNTUHAN KERAJAAN SUNDA Mumuh Muhsin Zakaria
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.436

Abstract

Perjanjian Sunda-Portugis tahun 1522 merupakan salah satu titik balik krusial dalam historiografi maritim Nusantara abad ke-16. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika geopolitik yang melatarbelakangi aliansi antara Kerajaan Sunda dan Portugis, serta mengidentifikasi bagaimana kegagalan implementasi perjanjian tersebut mempercepat keruntuhan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Dengan menggunakan metode sejarah kritis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, artikel ini membedah dokumen primer seperti laporan Tomé Pires (Suma Oriental) dan catatan João de Barros. Landasan teoretis yang digunakan adalah Teori Deharmonisasi Geopolitik dan Defensive Alliance Failure. Kebaruan penelitian ini terletak pada reposisi Perjanjian 1522 bukan sekadar sebagai instrumen perdagangan ekonomi, melainkan sebagai bentuk keputusasaan diplomatik (diplomatic despair) Sunda dalam menghadapi ekspansi Islamosentris Demak-Cirebon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan armada Portugis dalam membangun benteng di Sunda Kelapa memberikan kekosongan ruang strategis yang dimanfaatkan oleh Fatahillah pada tahun 1527. Kegagalan aliansi ini tidak hanya menghilangkan akses laut utama Sunda, tetapi juga memicu efek domino isolasi ekonomi-politik yang berujung pada runtuhnya ibu kota Dayeuh Pakuan oleh pasukan Banten pada tahun 1579.
PENGGUNAAN RELASI KUASA DENGAN PENDEKATAN PHOBIA KANG DEDI MULYADI DALAM KOMUNIKASI KELUARGA Agus Setiaman; Winda Amelia Putri; Azizul Rahman
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.437

Abstract

Terdapat fenomena menarik beberapa waktu ke belakang ini dimana kalua ada anak yang sulit makan, nga mau mandi, tidak pernah mau berhenti bermain dengan gadget nya maka akan di takut-takuti dengan memanggil sosok nama Kang Dedi Mulyadi. Dan tampaknya usaha untuk menghentikan bermain gadget ataupun anak yang tidak mau mandi itu pun berhasil. Permasalahan anak yang mogok makan, mogok mandi serta tidak mau berhenti meninggalkan gadget dan ditakut-takuti akan memanggil Kang Dedi Mulyadi (KDM) menarik untuk di kaji dalam perspektif komunikasi. Berdasarkan hasil telaah menggunakan metode kajian pustaka menunjukan bahwa ternyata dalam pendekatan ini terdapat relasi kuasa yang kuat dalam komunikasi keluarga dimana sosok Kang Dedi Mulyadi sebagai tokoh yang popular melalui media sosialnya dimana KDM dikenal sebagai sosok yang tegas, berwibawa dan memiliki kharisma tersendiri telah menjadi figure yang disegani terutama di mata anak-anak.
SUBSTANSI KOSMOLOGI FILOSOFIS-RELIGIUS SUNDA DALAM NASKAH SANGHYANG HAYU ABAD XVI MASEHI Undang Ahmad Darsa; Aswina Siti Maulidyawati
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.440

Abstract

Artikel ini berjudul Substansi Kosmologis Filosofis-Religius Sunda dalam Naskah Sanghyang Hayu abad XVI Masehi. Sumber data kajiannya didasarkan pada tradisi tulis Sunda Kuno yang berjudul Sanghyang Hayu. Adapun tujuannya penulisan artikel adalah menelusuri struktur-struktur yang paling mendasar secara kosmologis guna mencari makna dunia yang mendasari semua arti dunia lainnya, dan yang selalu diandaikan secara implisit. Untuk mewujudkan tujuan tersebut ditempuh melaui pendekatan filologi karena berkaitan dengan proses kajian sumber tradisi tulis dalam upaya peafsiran data yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian deskripsif kualitatif diterapkan dalam upaya memahami fakta di balik kenyataan yang dapat diamati secara langsung. Kosmologi pada hakikatnya juga dipergunakan dalam ranah ilmu-ilmu empiris guna menelaah ilmu tentang evolusi kosmis. Dalam kajian ini, penggunaan istilah kosmologi dilekatkan tambahan filosofis-religius sebagai kata penjelasan. Berdasarkan proses pembahasan dapat disimpulkan: Hasilnya diperoleh gambaran: Pertama, manusia itu pada dasarnya terikat erat pada pandangan susunan jagat semeta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan secara timbal balik antara manusia dengan dunia alam semesta melalui konsepsi tigarahasya. Manusia tidak hanya merupakan bagian dunia begitu saja. Manusia hanya menemui diri dalam korelasi dengan manusia lain dan dengan dunia pada umumnya dalam substansi bayu-sabda-hedap. Refleksi atas dirinya sendiri secara konkret dan menyeluruh mesti memiliki substansi astaguna yang merupakan pula refleksi atas dunia. Manusia dan dunia saling mengimplikasikan dan saling mengandung. Kedua, hanya manusia yang bertanya tentang substansi penciptaan dunia, artinya bahwa manusialah yang berhubungan dengan dunia secara sadar. Tanpa pengalaman sadar itu dunia hanya didekati dari luar, tanpa menyadari hubungan intim dalam substansi pratiwi, sarira, syaku, syanu, dan Hyang Manon sebagai hasil pengetahuannya berciri empiris belaka. Hanyalah refleksi atas otonomi dalam korelasi melalui substansi pancamarga, manusia memberikan pandangan hakiki mengenai dunia alam semesta.