cover
Contact Name
Elis Suryani Nani Sumarlina
Contact Email
elis.suryani@unpad.ac.id
Phone
+6282216552522
Journal Mail Official
lintasbudayanusantara@gmail.com
Editorial Address
https://ejournal.lintasbudayanusantara.net/index.php/jkbh/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH)
ISSN : 26567156     EISSN : 2830697X     DOI : 10.61296/jkbh
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH) adalah Jurnal yang menyajikan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dan hasil kajian di bidang adat, aksara, bahasa, filologi, sejarah, sastra, tradisi, sosiohumaniora, dan budaya secara multidisiplin. Terbit 3 kali dalam setahun, setiap Februari, Juni, dan Oktober.
Articles 163 Documents
KISAH-KISAH HISTORIS YANG BERNUANSA KONFLIK DAN HARMONIS DI NUSANTARA DALAM PERSPEKTIF FILOLOGIS Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.412

Abstract

Artikel ini membahas tentang kisah-kisah historis di Nusantara, baik yang konflik maupun yang bernuansa harmonis. Adapun sumber-sumber data kajiannya berupa tradisi tulis, khususnya khazanah naskah kuno Nusantara. Kisah yang tertuang dalam teks naskah-naskah Kuno Nusantara ini pada dasarnya merupakan sebuah karya sastra bersifat sejarah daerah-daerah yang berpusat pada kisah para tokoh penting sebagai para petinggi atau raja-raja di wilayah Nusantara. Karya tersebut dapat dipandang sebagai refleksi masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, pengamatan, pendeskripsian, dan analisis terhadap kisah para tokoh historis tersebut tak lain dari pembicaraan tentang gambaran pasang surutnya hubungan antarkerajaan di Nusantara, baik dilihat dari dalam teks naskah-naskah sumber data itu sendiri maupun dari luarnya. Pendekatan yang dilakukan terhadap hubungan naskah sumber data tadi dengan alam sekitar, pada dasarnya berupaya mengungkap naskah ini sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial, mengingat ada semacam potret sosial yang bisa ditarik dari tradisi naskah-naskah Kuno Nusantara.
PENGARUH KOMUNIKASI PELAYANAN KONSUMEN ONLINE TERHADAP MINAT BELI ULANG PADA PELANGGAN ADORABLE PROJECTS Meilin Angelia; Teddy K. Wirakusumah; Putri Trulline
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.413

Abstract

Perkembangan bisnis berbasis digital mendorong pelaku usaha untuk mengoptimalkan komunikasi pelayanan konsumen secara online sebagai strategi mempertahankan pelanggan. Komunikasi yang responsif, empati, dan informatif menjadi faktor penting dalam membangun pengalaman pelanggan yang positif serta mempengaruhi minat beli ulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi pelayanan konsumen online terhadap minat beli ulang pada pelanggan Adorable Projects. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring dan dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pelayanan konsumen online berpengaruh signifikan terhadap minat beli ulang pelanggan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas komunikasi mampu meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan. Simpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan komunikasi pelayanan konsumen online sebagai bagian dari strategi pemasaran relasional dalam konteks budaya konsumsi digital.
ADAKAH KETERKAITAN MUNCULNYA KATA MATA ‘MATA’ TERHADAP MATAPOÉ ‘MATAHARI’ BAHASA SUNDA SECARA GEOGRAFIS? Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.414

Abstract

Artikel ini berjudul “Adakah Keterkaitan Munculnya Kata Mata ‘Mata’ terhadap Kata Matapoé ‘Matahari’ Bahasa Sunda secara Geografis?” Artikel ini membahas bagaimana keterkaitan atau pengaruh munculnya kata mata terhadap munculnya kata matapoé dalam bahasa Sunda secara geografis? Penelitian ini bersifat deskriptif diakronis. Metode pengumpulan data menggunkan metode simak langsung di lapangan dengan teknik rekam dan catat dengan menggunakan instrumen penelitian berupa daftar tanya yang memuat kosakata dasar Swadesh dan kosakata budaya. Lokasi penelitian bertempat di 26 desa dan kelurahan berbahasa Sunda di perbatasan Bogor-Bekasi, Jawa Barat (2005) serta 30 desa dan kelurahan berbahasa Sunda di Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (2016). Informan sebagai sumber data masing-masing satu orang untuk setiap desa atau kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% titik-titik pengamatan di perbatasan Bogor-Bekasi, Jawa Barat memperlihatkan adanya keterkaitan antara munculnya kata mata ‘mata’ terhadap munculnya kata matapoé ‘matahari’, kemudian 67% titik-titik pengamatan di Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memperlihatkan adanya keterkaitan antara munculnya kata mata ‘mata’ terhadap munculnya kata matapoé ‘matahari’. Dengan demikian, ada kecenderungan munculnya sebuah kata karena kata lain karena secara morfologi bentuk kata yang memengaruhi, yakni mata, menjadi dasar bagi pembentukkan kata yang dipengaruhi, yakni matapoé.
“JANGAN NAKAL, NANTI DIPANGGIL KANG DEDI!”: KAJIAN KOMUNIKASI KELOMPOK ATAS FENOMENA PHOBIA KDM Agus Setiaman; Mutia Fauziah; Azizul Rahman
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.415

Abstract

Sejak menjabat menjadi gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi membuat berbagai kebijakan. Salah satu kebijakan yang paling fenomenal dan menarik banyak perhatian adalah mengirim remaja nakal ke barak militer. Berangkat dari kebijakan tersebut, muncul fenomena phobia KDM akibat penggunaan figur KDM sebagai alat ancaman dalam mendisiplinkan anak anak. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam praktik komunikasi dalam praktik komunikasi keluarga. Dalam upaya menanamkan kedisiplinan, orang tua cenderung menggunakan pendekatan instan dengan mengandalkan rasa takut. Salah satunya teguran keras kepada anak-anak. Masalah utama yang muncul adalah bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, sebagai kelompok kecil, membentuk kebiasaan komunikasi yang disfungsional. Jika hal demikian terus berlanjut, alih alih menjadi tempat yang aman dan mendukung, keluarga justru berpotensi menjadi ruang dimana otoritas orang tua ditegakkan dan menakuti, bukan mendidik. Fenomena ini mengindikasikan lemahnya pemahaman sebagian orang tua terhadap pola komunikasi yang sehat dalam kelompok. Ketidakseimbangan ralasi kuasa antara orang tua dan anak, serta minimnya edukasi mengenai metode disiplin yang konstruktif menjadi akar dari permasalahan ini. Penggunaan teknik komunikasi otoriter dalam keluarha dapat membentuk struktur kelompok yang kaku dan tidak adaptif, dimana anak hanya menjadi peneriman infirmasi tanpa kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau mengekspresikan perasaan. Selain itu, dampak lain yang mungkin dirasakan oleh anak dalam permasalah ini adalah ketakutan sesaat, gangguan tidur, serta berkembangnya citra negatif terhadap figur otoritas seperti guru atau tokoh masyarakat lainnya. Selain itu, berkaitan dengan penyebaran fenomena ini melalui media sosial, yang memperluas cakupan dan pengaruhnya secara cepat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana komunikasi kelompok melalui dunia maya bisa memperkuat makna simbolik tertentu, yang dalam hal ini memperkuat rasa takut kolektif terhadap sosok publik. Proses ini tidak hanya terjadi dalam ruang privat keluarga, tetapi juga diperkuat oleh interaksi dalam kelompok yang lebih luas, seperti komunitas media sosial dan kelompok sebaya anak.
DOMINASI STRATEGI KOMUNIKASI PASIF DALAM REDUKSI KETIDAKPASTIAN KARIR PESERTA PELATIHAN DARING INDUSTRI FMCG (FAST-MOVING CONSUMER GOODS) Rizki Ramadhan; Rd. Funny Mustikasari Elita Mustikasari Elita; Putri Trulline
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.416

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas komunikasi interpersonal dalam mereduksi ketidak-pastian karir pada peserta pelatihan organisasi Life At FMCG. Di tengah maraknya gelombang pemutusan hubungan kerja, para calon pencari kerja khususnya mahasiswa mengalami ketidakpastian kognitif dan perilaku yang tinggi. Menggunakan Uncertainty Reduction Theory (URT), penelitian ini menganalisis pengaruh strategi komunikasi interpersonal pasif, aktif, dan interaktif. Menggunakan metode kuantitatif eksplanatif dengan survei terhadap 51 peserta. Hasil penelitian menunjukkan strategi pasif menjadi prediktor dominan dan signifikan dalam menurunkan ketidakpastian. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam konteks pelatihan karir daring, validitas informasi dari materi terstruktur lebih dibutuhkan peserta.
PENINGKATAN KAPASITAS KADER KESEHATAN: PELOPOR GERAKAN GIZI SEIMBANG UNTUK KELUARGA SEHAT DI DESA CILIANG RW 5, KECAMATAN PARIGI, KABUPATEN PANGANDARAN setiawan; Irman Somantri; Donny Nurhamsyah; Siti Ulfah Rifa’atul Fitri; Zaenal Muttaqin
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.418

Abstract

Nutritional problems in Indonesia remain characterized by a high double burden of malnutrition, driven by low nutritional literacy, rising consumption of ultra-processed foods (UPFs), and the sub-optimal capacity of Posyandu (Integrated Health Post) cadres as the spearhead of public health promotion. Strengthening cadres' capacity through participatory learning approaches and the utilization of local foods serves as a crucial strategy to support stunting prevention and improve family dietary behaviors.Objective: This program aimed to enhance the capacity of health cadres as pioneers of the balanced nutrition movement through experiential learning-based training, participatory communication, family counseling, and cross-sectoral collaboration in Ciliang Village, Parigi District, Pangandaran Regency.Methods: The initiative was conducted using a community empowerment approach comprising cadre training, nutrition education via interactive media (flipcharts and food models), family counseling through home visits, and institutional strengthening integrated with the village government, Puskesmas (Community Health Center), PKK (Family Welfare Movement), the e-PPGBM system, and the Sustainable Food Reserve Garden (KRPL) program. Program evaluation involved measuring cadres' knowledge pre- and post-training, alongside observing changes in family consumption behaviors throughout the implementation.Results: The program demonstrated a significant increase in cadres' knowledge post-training ($p < 0.001$), reflecting the efficacy of field-needs-based capacity-building approaches. Interactive educational media and participatory communication enhanced the quality of nutritional counseling during Posyandu sessions and increased active engagement among mothers of under-five children in applying the "Isi Piringku" (My Plate) concept. Family counseling via home visits contributed to reduced ultra-processed food intake and increased utilization of local foods, particularly marine fish as an animal protein source. Program sustainability was further reinforced by village government policy support, Village Fund utilization, integration with e-PPGBM, and cross-sectoral collaborations to ensure sustainable stunting prevention efforts.Conclusion: Strengthening the capacity of health cadres, combined with local food-based nutrition education, participatory communication, and institutional reinforcement, effectively improves cadres' competence, enhances family consumption behaviors, and fortifies community empowerment systems at the village level. This intervention model holds strong potential for replication in regions with similar characteristics as a sustainable strategy to accelerate community nutrition improvement and stunting reduction.
TATA KELOLA KOMUNIKASI BERBASIS ADAT DALAM PENGELOLAAN TELEVISI KOMUNITAS: STUDI KASUS CIGA TV DI KASEPUHAN GELARALAM Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.421

Abstract

The rapid development of digital technologies has encouraged many Indigenous communities to adopt communication media for documenting and transmitting cultural knowledge. However, existing studies on community media have largely focused on cultural preservation and community empowerment, while paying limited attention to the communication governance mechanisms that enable Indigenous communities to retain authority over technology. This study examines indigenous communication governance in the management of CIGA TV, a community television station operated by the Kasepuhan Gelaralam Indigenous community in Indonesia. Employing a qualitative case study approach, the research draws on semi-structured interviews with Yoyo Yogaswara as the community jambatan (liaison) and a review of relevant documents and scholarly literature. The findings reveal that CIGA TV is governed by the Indigenous philosophy of kudu bisa ngigelan jaman, tapi ulah kabawa ku jaman ("adapting to the times without being carried away by them"), which guides the community in adopting while regulating communication technologies. This philosophy is institutionalized through the establishment of community television, Indigenous-based communication governance, media production practices, and the management of communication infrastructure under customary authority. The study argues that the sustainability of CIGA TV is determined not primarily by technological sophistication, but by an Indigenous communication governance system that integrates cultural values, customary institutions, and communication technologies into a coherent framework sustaining Indigenous communication systems. These findings contribute to community media scholarship by proposing indigenous communication governance as a conceptual perspective for understanding the relationship between Indigenous communities, community television, and digital technologies.
INTEGRASI KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA RUSIA SEBAGAI UPAYA MEREDUKSI HAMBATAN BUDAYA Anggraeni Purnama Dewi; Laila Nur Barkati
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.422

Abstract

Learning a foreign language is not only about mastering grammar and vocabulary, but also about gaining a deep understanding of the value systems and worldviews of the native speakers. For Russian language learners in Indonesia, particularly in higher education, fundamental differences between the communication patterns and social norms of the two nations often create cultural barriers that lead to misunderstandings and decreased motivation to learn. On the other hand, Indonesia's rich local wisdom, which emphasizes harmony and humanity, is rarely used as a means of introducing foreign cultures. This study aims to describe the cultural barriers faced by Indonesian learners, identify the intersection of Indonesian local wisdom with Russian cultural values, and design a model for integrating local wisdom into Russian language learning. Using a descriptive qualitative approach and comparative study, data were collected through classroom observations, analysis of student communication errors, and a study of the cultural literature of both nations. The results indicate that values ​​such as tepa selira (community), kerukunan (harmony), and gotong royong (mutual cooperation) have a close correlation with the concepts of sobornost' (spiritual togetherness) and sincerity in Russian culture. Integrating these values ​​as a starting point for learning has been proven to reduce cultural resistance, facilitate understanding of contextual meaning, and build awareness that differences in communication styles are not a form of impoliteness, but rather a reflection of distinct cultural identities. Keywords: local wisdom; Russian language learning; cultural barriers; cross cultural awareness; intercultural communication
FOLKLOR DAN MITOS DALAM SASTRA MODERN INDONESIA Yudi Permadi; Onny Delisma; Prima Agustina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.426

Abstract

Folklor dan Mitos dalam Sastra Modern Indonesia Oleh: R.Yudi Permadi r.permadi@unpad.ac.id Onny Delisma Prima Agustina Abstrak Folklor dan mitos merupakan warisan budaya yang terus hidup dan mengalami transformasi dalam karya sastra modern. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana unsur-unsur folklor dan mitos direpresentasikan, direkonstruksi, serta dimaknai kembali dalam sastra modern Indonesia. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sastra bandingan dan kajian budaya. Data penelitian berupa narasi, tokoh, simbol, serta peristiwa yang mengandung unsur folklor dan mitos dalam sejumlah karya sastra Indonesia modern. Analisis dilakukan melalui teknik pembacaan interpretatif untuk mengidentifikasi bentuk adaptasi, fungsi, dan makna folklor serta mitos dalam konteks sosial-budaya kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa folklor dan mitos tidak lagi hadir sebagai cerita tradisional yang bersifat statis, melainkan mengalami transformasi menjadi medium refleksi atas persoalan identitas, modernitas, spiritualitas, dan perubahan sosial. Berbagai karya sastra modern Indonesia memanfaatkan mitos lokal dan cerita rakyat sebagai strategi estetik untuk membangun konflik, karakterisasi, serta kritik terhadap realitas masyarakat. Selain berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, folklor dan mitos juga menjadi ruang negosiasi antara nilai-nilai tradisional dan tuntutan kehidupan modern. Temuan ini mengindikasikan bahwa sastra modern Indonesia berperan penting dalam menjaga keberlanjutan memori budaya sekaligus menghadirkan interpretasi baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
VERNAKULARISASI SURAH AL-FATIHAH DALAM TAFSIR RAUDHATUL IRFAN KARYA AHMAD SANUSI SUKABUMI Ade Kosasih
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.428

Abstract

Translating and interpreting the Qur’an into regional languages is a cultural process in which the authority of the Arabic text encounters the linguistic horizon of local readers. This study examines vernacularization in Surah al-Fatihah in K.H. Ahmad Sanusi’s Rawḍat al-‘Irfān fī Ma‘rifat al-Qur’ān, a Sundanese commentary written in Pegon script. Using qualitative library research, it conducts a philological-linguistic reading of the al-Fatihah text and its explanations through the lenses of lexical choice, speech levels, and the pedagogical function of tafsir. The findings show four interconnected layers. First, the Arabic Qur’anic text remains the center of scriptural authority, while Sundanese-Pegon glosses provide access to meaning. Second, Qur’anic concepts are mediated through familiar Sundanese expressions, including the pair Gusti–abdi, the verb ngurus, the phrase nikmat gede–leutik, and agama anu bener. Third, the selected register encodes the hierarchical relationship between God and human beings while retaining proximity to the pesantren community. Fourth, Sanusi’s concise notes on the basmalah and the recitation of al-Fatihah according to four Sunni legal schools transform translation into practical religious guidance. Rawḍat al-‘Irfān therefore represents not merely linguistic transfer, but a negotiated space where Qur’anic semantics, Sundanese linguistic ethics, pesantren literacy, and local religious practice converge within a living local knowledge tradition