cover
Contact Name
Ihwan Amalih
Contact Email
elwaroqoh1234@gmail.com
Phone
+6281999286606
Journal Mail Official
elwaroqoh1234@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Kampus Pusat Universitas Al-Amien Prenduan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Jawa Timur Kode Pos 69465 email : elwaroqoh1234@gmail.com
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat
ISSN : 25804014     EISSN : 25804022     DOI : 10.28944/el-waroqoh
El Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat is a peer reviewed journal which is highly dedicated as public space to deeply explore and widely socialize various creative and brilliance academic ideas, concepts, and research findings from the researchers, academicians, and practitioners who are concerning to develop and promote the religious thoughts, and philosophies. Nevertheless, the ideas which are promoting by this journal not just limited to the concept per se, but also expected to the contextualization into the daily religious life, such as, inter-religious dialogue, Islamic movement, living Quran, living Hadith, and other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2023)" : 8 Documents clear
Konsep manusia sempurna Mulla sadra dan fridriech william Nietzche Ahmad Firdaus Tsani; Encung Encung
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1587

Abstract

ABSTRAKGagasan manusia sempurna sudah menjadi sebuah perdebatan di awal perkembangan zaman dalam hal ini ketika dalam sebuah zaman yang penuh dengan tatanan dan bentuk perbedaan pemikiran islampun mulai memasuki ranah dan sejak saat itulah, orang orang di dalam nya terbelah menjadi beberapa bagian, dimulai dari pemahaman manusia sempurna sebagai sosok mandiri tanpa ada orang lain yang membantu, selanjutnya manusia sempurna sebagai sosok yang mempunyai kedudukan di atas ketika mampu mencapai proses pembersihan yang berkaitan dengan pemahan yang di gaungkan oleh pemikiran kaum sufisme. Dan pada zamanya ibnu arabi sebagai juru kunci. dan selanjutnya sudut pandang dalam memamahi sesuatu sebagai puncak pada proses berfikir manusia. Dan hal itu di dapatkan melalui pertimbangan yang di ambil dari pemikiran yang aktif itu sendiri. (al-‘aqlal-fa‘al). Kelompok ini telah di akhiri oleh para tokoh filsuf muslim, Mulla Sadra merupakan seorang pemikir muslim dimana telah memecahkan masalah klasik yang terdapat pada filsafat islam. Dan beliau juga mempertemukan kedua filsafat terkemuka di antaranya filsafat islam dengan filsafat agama yang menggabungkan keduanya sebagai pemikiran yang indah dan mudah untuk di mengerti.Dengan menggagas teori-teori baru mengenai wujud, geraksubstansial, kesatuan aqil dan ma‘qul, serta beberapa teori lain yang membuatnya menjadi salah satu pemikir Muslim paling orijinal pada periodepasca Ibnu Rusyddan terpengaruh oleh pemikiran tasawuf, Mulla Sadra juga berkecimpung dalam debat pemikiran mengenai manusia sempurna Dalam pandangannya, manusia sempurna adalah adalah perpaduan kreatif antara pamahaman dari dua kelompok terakhir di atas, yakni sebagai sebuah maqam puncak dari penyucian diri manusia melalui riyadah (tempa batin) dan sekaligus sebagai hasil tertinggi dari proses pemurnian intelek manusia sehingga ia bisa mencapai tahap Intelek Aktif. Kedudukan manusia sempurna bisa dialami oleh manusia karena pada dasarnya secara eksistensial manusia merindukan sebuah kesempurnaan, dan halitu mungkin terjadi karena jiwa manusia memiliki potensi-potensi yang jika kesemuanya teraktualisasi maka itulah wujud manusia sempurna Sedangkan Nietzsche dengan kuat mengeksplorasi wacana tentang eksistensialisme. (kebebasan, kematian, ketakutan, kekhawatiran, penderitaan, manusia) mimpi, kondisi duniawi (jarak dan waktu/historis). Doktrin Nietzsche berasal dari pemahaman yang konkrit tentang manusia dan kehidupannya. Ajaran utama Nietzsche adalah kemauan kekuasaan yang dapat dicapai dalam gagasan manusia sempurna yang ideal atau Ubermensch. Dia menegaskan bahwa keberadaan manusia adalah kehendaknya (human willwant) yang melampaui perbandingan. Nietzsche merupakan sosok yang sangat di segani pada masanya pemikiran pemikiran yang begitu rasionalis dan sudut pandang pada manusia yang menjadikan luar biasa menjadikan nya sebagai tiga inti dasar dalam sebuah kehidupan  berani menajalani hidup, mencerdaskan akal , dan terhir mampu menjadikan kebanggaan bagi diri sendiri, bisa dan tidak bisanya kita, mampu dan tidk cerdasnya nya semua akan menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita, dalam artikel lain Nietzsche menyuarakan dengan adanya keterpurukan seseorang melalui penderitaan manusia akan lebih kuat dan hebat terhadap apa yang ia jalankan, mengapa karena pemikiran seseorang akan mampu dan tumbuh berfikir karena adanya suatu konflik atau masalah dan akan mencari solusi terbaik dari dalam dirinya, disitulah muncul potensi dalam diri  manusia yang perlu di kuatkan. Manusia memiliki kekuatan supranatural dari dalam dirinya untuk mencapai sesuatu yang membuat manusia tersebut menjadi manusia yang teratas dan menjadikan dirinya sempurna.  
ANALISIS SEMANTIK KATA ‘ABID DAN ‘IBAD DALAM AL-QUR’AN Uhlusul Qomariyah; Moh. Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1542

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana analisis kajian semantik atas makna kata ‘Abid dan ‘Ibad di dalam Al-Qur’an, serta perbedaan dari kedua kata tersebut. Secara spesifik penelitian ini akan mengungkap pandangan dunia Al-Qur’an terhadap kosa kata atau istilah-istilah kunci di dalamnya sehingga dapat memunculkan pesan-pesan yang dinamik dari kosa kata Al-Qur’an dan bisa diambil manfaatnya untuk dijadikan tambahan perluasan ilmu pengetahuan.". Adapun pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif dengan jenis kepustakaan (library research) dan metode yang digunakan adalah deskriptif-analitif dengan Analisis teori semantik yaitu mencari istilah kunci dalam Al-Qur’an, mengetahui makna dasar, makna relasional, historitas kata dan kemudian di akhiri dengan berusaha menyingkap pandangan dunia Al-Qur’an(Weltanschauung). Adapun hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kata ‘Abid dan ‘Ibad memiliki makna dasar Hamba, Budak, Manusia, Hamba Sahaya,Orang,  dan makna relasional yaitu bermakna Hamba, Budak, Ibadah, Penyembah, Taat, Tobat, Aniaya, Al-Riqab, Al-Nas, Al-Amat, Al-Fata, Malakat dengan menghasilkan Weltanschauung bahwa kata ‘Abid dan ‘Ibad berasal dari akar kata yang sama yaitu “‘abdun”, kata ‘Abid dan ‘Ibad di dalam Al-Qur’an sekilas diterjemahkan dengan kata  yang sama yaitu “hamba-hamba” akan tetapi pemaknaan dan penggunaannya berbeda, di mana kata ‘Abid memiliki konotasi negatif yaitu menyifati orang-orang kafir yang bermaksiat kepada Allah dan bergelimang dosa sehingga mendapatkan siksaan dari Allah. Sedangakan kata ‘Ibad memiliki konotasi positif yaitu menyifati hamba-hamba yang senantiasa taat dan beribadah kepada Allah atau kalaupun berdosa mereka menyadari akan kesalahannya dan bertobat sehingga mendapatkan balasan kenikmatan dari Allah swt. 
RUMAH MODERASI BERAGAMA SEBAGAI IMPLEMENTASI ISLAM WASHATIYAH DI ERA SOCIETY 5.0 (ANALISIS Q.S.AL BAQARAH/2: 143) Azyana Alda Sirait; Sindi Pramita; Mohammad Al Farabi; Asnil Aidah Ritonga
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1538

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep Islam wasathiyyah prespektif Q.S Al-Baqarah/2:143, karakteristik Islam wasathiyyah, untuk mengetahui rumah moderasi beragama di era society 5.0. Metode yang digunakan adalah libray research. Hasil penelitian, bahwa wasatiyah adalah umat pertengahan. Sifat pertengahan tersebut membuat pelakunya seimbang, tidak memihak ke kanan (kaum yang cenderung mementingkan kepentingan dunia) dan ke kiri (kaum yang mementingkan kepentingan akhirat). Untuk mensyiarkan konsep di atas sangat efektif dengan rumah moderasi beragama dalam lingkup digital. Tahapannya yaitu: persiapan, dengan perekrutan para cendikiawan muslim, pembuatan library digital moderasi beragama, perekrutan da’i atau ustadz untuk mensyi’ar kan dakwah rumah moderasi beragama sebagai implementasi Islam, perekrutan tim publikasi dan duta moderasi beragama. Pelaksanaan yaitu internalisasi kepada peserta didik dan kaum milineal. Kaum milineal diharapkan mampu mempengaruhi masyarakat untuk mencontoh konsep Islam wasathiyah dalam hal menegakkan moderasi beragama. 
FILSAFAT AKHLAK DALAM PEMIKIRAN ETIKA KONTEMPORER Widyawati Widyawati
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1512

Abstract

Filsafat akhlak merupakan suatu perspektif pemahaman terhadap akhlak yang terbangun atas perspektif filosofis yang diwarnai dengan corak berpikir yang sistematis, logis, radikal, dan semacamnya sebagai karakteristik filsafat sebagai wadah dalam berpikir. Pendidikan akan nilai-nilai akhlak yang dalam lokus taksonomi sangat dibutuhkan dan mendasar dalam pembangunan suatu bangsa. Dari hasil survey tersebut, ditemukan bahwa 41 % di antara responden pernah mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk atau di bawah pengaruh narkotika, 33 % di antara responden pernah menipu orang terdekat mengenai sesuatu yang dianggap penting menurut kepentingan pribadi,  38 % di antara responden pernah melakukan penipuan dalam hal pembayaran pajak, 45 % di antara responden pernah melakukan perselingkuhan terhadap pasangan yang sah. Beberapa fenomena sosial yang mengkhawatirkan pada saat sekarang ini yang menuntut hadirnya pendidikan akhlak sebagai penawarnya.
KAJIAN KOMPARATIF ATAS LARANGAN PRAKTEK EUTHANASIA: PERSPEKTIF ETIKA KEDOKTERAN DAN ETIKA ISLAM Nur Alamsyah; Ismail Ismail
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1358

Abstract

Analisis penelitian ini mengkaji dan menjelaskan larangan praktik euthanasia berdasarkan etika kedokteran dan etika islam. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan ( studi kepustakaan ) yang sumber datanya diperoleh dari bahan dokumen dan bahan pustaka dengan cara normatif yakni mengkaji praktik praktik euthanasia dari sudut pandang etika kedokteran dan etika islam. Teknik pengumpulan data mengacu pada sumber kepustakaan yang tujuannya adalah untuk menemukan dokumen atau informasi yang diperoleh dari buku-buku literatur dan jurnal ilmiah sebagai bahan referensi terkait dengan penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa euthanasia adalah tindakan yang bertentangan dengan etika kedokter dan etika islam karena termasuk menghilangkan nyawa orang lain. Berdasarkan kode etik kedokteran yang menjadikan sumpah hipocrates sebagai landasan dilarangnya euthanasia, dalam hal ini seseorang dokter harus selalu mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk hidup insani dan apabila ditinjau dari sudut pandang ajaran Islam tindakan menghilangkan nyawa orang lain dilarang dengan alasan apapun. Di sini hukum Islam berperan penting dalam menentukan apa yang halal dan haram dalam kaitannya dengan euthanasia. Ketika masyarakat terdampak oleh keadaan yang sangat mendesak, karena dipengaruhi oleh tuntutan jaman atau perkembangan teknologi, ketika masyarakat hanya bertindak semaunya saja, selama mereka berpikir sebagai keputusan yang rasional, tanpa melihat apakah tindakannya tepat atau tidak. benar atau tidak menurut hukum, agama atau etika.
PEMIMPIN IDEAL DALAM AL-QUR’AN (Studi Komparatif Penafsiran Quraish Shihab dan Hamka Kajian QS. Al-Baqarah Ayat 30 dan QS. Shad Ayat 26) syahrulloh muin; Moh Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1535

Abstract

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang penuh dengan kesempurnaan. Kesempurnaan manusia karena amanah yang diberikan oleh Allah yang menjadikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Menjadi pemimpin ideal tentu manusia harus bertanggungjawab mengatur, mengolah, memelihara dan memakmurkan bumi. Di era sekarang banyak pemimpin yang menjadikan Islam sebagai aspek yang penting, akan tetapi sikap Islami belum Tampak dalam diri pemimpin. Al-Quran sendiri merupakan teks yang valid untuk mengetahui hakikat seorang pemimpin secara baik dan utuh, yang menuntun manusia untuk melakukan tugas dan tanggungjawab dalam kepemimpinan. Artikel ini menggunakan pendekatan library research (penelitian kepustakaan), serta penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhu’i yaitu mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu dan membahas topik tertentu dengan menonjolkan tema atau topik pembahasan. Adapun rumusan masalah dalam artikel ini adalah bagaimana pemimpin ideal dalam Al Qur’an menurut M Quraish Shihab dan Hamka dan bagaimana letak persamaan dan perbedaan pemimpin ideal dalam Al Qur’an menurut M Quraish Shihab dan Hamka. Adapun hasil penelitian dalam artikel ini bahwasanya M Quraish Shihab dan Hamka telah menafsirkan tentang pemimpin ideal dalam Al-Qur’an yaitu ada beberapa konsep dan ciri khas yang harus dimiliki pemimpin yang ideal di antaranya, Pertama, orang yang berilmu. Kedua, orang yang selalu berjuang. Ketiga, orang yang selalu berkorban. Keempat, Seorang khalifah berpotensi bahkan secara aktual dapat menjauhkan hawa nafsu dalam melakukan kepemimpinan. Kelima, orang yang totalitas. Sedangkan perbedaannya tentang pengertian pemimpin ideal, menurut Quraish Shihab para pemimpin di bumi ini sebagai pengganti Allah dalam menegakkan kehendak-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Adapun menurut Hamka pemimpin ideal di artikan sebagai menggantikan Allah, dengan pemahaman bahwa sebagai pengganti Allah bukanlah berarti ia berkuasa pula sebagai Allah dan sama kedudukannya dengan Allah, bukan bermaksud demikian, melainkan manusia diangkat oleh Allah menjadi Khalifah-Nya dengan perintah-perintah tertentu.
ANALISIS WACANA TEUN A. VAN DIJK TERHADAP BUKU QURANREVIEW “YOU ARE LOVED” Yubas Muhammad Ilham; Mohammad Abdul Kholiq Hasan
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1314

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis buku quranreview “you are loved”. Guna menjawab analisis terhadap buku ini, penulis memilih metode kepustakaan yang dimana sumber primernya adalah buku quranreview ‘’You Are Loved’’ sedangkan sumber sekunder nya pada buku, jurnal, artikel yang sesuai dengan kajian ini. Analisis dengan teori Analisis Wacana Teun A. Van Dijk. Teori ini merupakan teori yang tidak sekedar melihat wacana pada aspek teks semata, tetapi juga meliputi latar belakang dari pembuatan wacana tersebut Hasil kajian inimenunjukkan bahwa penafsiran dalam bukuquranreview “you are loved” hanya memuat kata kata pilihan dalam al-qur’an, seperti khair, aulia, nissa dan rahma. Secara kognisis sosial ditemukan bahwa yang mempengaruhi faktor sosial seperti referensi yang digunakan quranreview seperti tafsir Tafsir al-Wajiz, Imam Al-Qurtubhi, Imam Ath Thabrani, Kitab Az zuhd akarya Imam Ahmad, Ibnu Katsir, Lisanul Arab karyaIbnu Mandzu. Secara analisis konteks sosial, penafsiran dari buku quranreview ini dapat dikatakan relevan dengan isu-isu yang ada di masyarakat Indonesia.
KISAH ASHABUL KAHFI DALAM QS. AL-KAHFI (18): 13-26 (Analisis Maqasid Al-Qur’an Thahir Ibn Asyur) Saadatus Salamah; Abdul Kirom
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1560

Abstract

Kisah pemuda mukmin Ashabul Kahfi yang dituangkan atau dituturkan di dalam Al-Qur’an merupakan salah satu contoh sebuah kisah yang sempurna, dengan segala kejelasan yang luar biasa dan merupakan sebuah upaya menuju pemurnian. Kisah Ashabul Kahfi ini merupakan tema tematik yang memiliki tujuan-tujuan Al-Qur’an yang disebut dengan Maqasid Al-Qur’an. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan mengenai maqasid Al-Qur’an Tahir Ibn 'Ashur dan pendekatan tafsir maqasidi kisah Ashabul Kahfi dalam mempertahankan akidah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir maqasid. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa kisah Ashabul Kahfi QS Al-Kahfi bertumpu pada makna dan tujuan, pertama Akidah (menjaga keimanan. Kedua, Kekuasaan Allah Swt. Ketiga, Rencana dan keinginan Allah Swt: dalam kisah mengandung maksud bahwa kehidupan kita selalu dalam rencana Allah Keempat, Keberanian dan keteguhan: kelompok pemuda ini menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan keimanan mereka, meskipun dihadapkan pada penganiayaan dan kesulitan hidup, kelima, Teguran peringatan sekaligus kabar gembira: teguran peringatan bagi kaum mereka yakni musyrik (menyembah selain Allah) tidak akan mendapatkan pertolongan dan petujuk dari sang maha pemberi petujuk (Allah).

Page 1 of 1 | Total Record : 8