cover
Contact Name
Purniadi Putra
Contact Email
isihumor@gmail.com
Phone
+6285252101729
Journal Mail Official
isihumor@gmail.com
Editorial Address
Dusun Turusan RT/RW 004/002 Desa Lorong Kecamatan Sambas
Location
Kab. sambas,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Published by CV putra publisher
ISSN : 29855454     EISSN : 29855454     DOI : https://doi.org/10.58540/isihumor.v2i1.494
Social Sciences: Anthropology, Asian Studies, Economics and Management, Education, Communication, Demography, Development, Gender Studies, Government & Public Policy, Human Ecology, International Relations, Media Studies, Peace and Conflict, Library Science, Political Science, Science, Technology & Society, Sociology, Ethics, Government Administration, Health, Humanities: Cultural Studies, Religion, History, Human Geography, Linguistics, Philosophy, Religion, Performing Arts (music, theater & dance).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 370 Documents
Pengaruh Fear Of Missing Out Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa di Kota Medan Malvika Tomaulla
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i2.2484

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear sederhana. Subjek penelitian berjumlah 349 mahasiswa di Kota Medan yang berusia 18–25 tahun dan aktif menggunakan media sosial. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Fear of Missing Out dan skala kesejahteraan psikologis dengan model Likert, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Fear of Missing Out dan kesejahteraan psikologis mahasiswa berada pada kategori sedang. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Fear of Missing Out berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis dengan nilai signifikansi sebesar 0,011 < 0,05. Arah pengaruh bersifat negatif, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi Fear of Missing Out, maka kesejahteraan psikologis mahasiswa cenderung semakin rendah. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,018 menunjukkan bahwa Fear of Missing Out memberikan kontribusi sebesar 1,8% terhadap kesejahteraan psikologis, sedangkan 98,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh negatif dan signifikan Fear of Missing Out terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa di Kota Medan.                        
Politik Hukum Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa (Ratio Decidendi Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU-XXII/2024) Irwan Rais; Siti Kotijah; Insan Tajali Nur
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2487

Abstract

Perubahan masa jabatan kepala desa dari 6 (enam) tahun menjadi 8 (delapan) tahun berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memicu diskursus ketatanegaraan yang krusial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis politik hukum pembentukan norma perpanjangan masa jabatan kepala desa serta implikasi hukum pertimbangan (ratio decidendi) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU-XXII/2024 terhadap tatanan demokrasi lokal. Penelitian hukum normatif (doctrinal legal research) ini menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual, dengan bahan hukum utama adalah UU No. 3 Tahun 2024 tentang Desa Khususnya Pasal 399 ayat (1) (2) dan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 92/PUU/XXII Tahun 2024 yang dianalisis secara kualitatif melalui penalaran deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik hukum perubahan masa jabatan kepala desa berkarakter elitis-konservatif sebagai akibat dari konfigurasi politik hegemonik dan transaksi politik (clientelism) menjelang agenda politik nasional, Penelitian ini dilakukan untuk menyoroti perubahan masa jabatan kepala desa yang sarat transaksi politik (klientelisme) dan minim evaluasi berbasis bukti, serta menganalisis putusan MK yang berisiko memperlemah pembatasan kekuasaan, memicu local elite capture, dan menghambat regenerasi demokrasi desa. Kontribusinya memberikan kritik teoretis terhadap praktik open legal policy yang elitis-konservatif sekaligus menjadi masukan praktis bagi pembentuk undang-undang agar merumuskan kebijakan tata kelola desa berbasis evidence-based legislation yang menjamin sirkulasi kepemimpinan yang sehat.
Hak Konstitusional Dan Pertanggungjawaban Pidana Peserta Demonstrasi Dalam Prespektif Standar HAM Internasional Nurul Fatimatus Sholihah; Wahyu Widodo; Devinna Manggarani Ramadhan; Erlangga Adi Putra
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2490

Abstract

Penelitian ini membahas hak konstitusional dan risiko pidana peserta aksi demonstrasi berdasarkan standar HAM internasional. Aksi demonstrasi merupakan salah satu wujud penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin sebagai hak konstitusional warga negara berdasarkan Pasal 28E ayat (3) UUD NRI 1945. Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan hak ini kerap berbenturan dengan penerapan hukum pidana yang berisiko mengkriminalisasi para peserta aksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan aksi demonstrasi sebagai hak konstitusional, mengevaluasi parameter pembatasan serta risiko pidana, serta merumuskan model perlindungan hukum bagi peserta aksi berdasarkan standar HAM internasional melalui International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Melalui metode penelitian hukum normatif yakni dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan dan HAM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko pidana tidak melekat secara kolektif semata-mata karena status sebagai peserta aksi, melainkan harus berbasis pertanggungjawaban individual atas perbuatan melawan hukum yang nyata. Pembatasan aksi oleh negara wajib memenuhi prinsip legalitas, tujuan yang sah serta kebutuhan dan proporsionalitas. Oleh karena itu, diperlukan model perlindungan berbasis hak yang mengintegrasikan fasilitasi preventif sebelum aksi, penanganan proporsionalitas berbasis de-eskalasi saat aksi, serta akuntabilitas penegakan hukum pasca aksi.
Ares Kedebong Sebagai Warisan Gastronomi Suku Sasak: Makna Budaya, Kearifan Lokal, dan Upaya Pelestarian Fathul Karib Maulana; Abdul Rasyad; Herman Supriadi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2497

Abstract

Ares Kedebong adalah makanan tradisional dari Suku Sasak yang tidak hanya digunakan sebagai makanan, tetapi juga mencerminkan ilmu pengetahuan lokal, kehidupan sosial, identitas budaya, serta cara masyarakat berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami arti budaya Ares Kedebong, mengenali nilai-nilai lokal yang ada dalam proses pengolahan dan konsumsinya, serta menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan untuk melestarikannya di tengah berubahnya kondisi sosial dan kemajuan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian ini dilakukan di Desa Darmasari dengan melibatkan 7 orang informan, yaitu seorang filsuf gastronomi, seorang budayawan Sasak, seorang tokoh masyarakat, seorang juru masak, dan seorang perangkat desa. Informan dipilih dengan cara purposive sampling karena mereka memiliki pengetahuan, pengalaman, dan terlibat langsung dalam keberadaan serta praktik Ares Kedebong, sehingga informasi yang mereka berikan dapat membantu memahami berbagai aspek seperti budaya, cara pengolahan, cara pelestarian, serta bagaimana tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Data didapat dengan cara wawancara, pengamatan, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan langkah-langkah menyederhanakan data, menampilkan data, dan membuat kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa makna budaya Ares Kedebong berasal dari pengalaman dan cara-cara yang digunakan masyarakat dalam memanfaatkan, menyajikan, serta mewariskan makanan tersebut. Ares Kedebong memiliki makna yang berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan sekitar, ketahanan hidup, keberlanjutan bagi generasi mendatang, serta identitas budaya dari Suku Sasak. Kearifan lokal terlihat dari cara memanfaatkan bahan alam, kerja sama bersama, serta peningkatan pengetahuan memasak yang turun temurun. Upaya melestarikan Ares Kedebong dilakukan dengan menghadirkannya dalam acara adat dan kegiatan keluarga, cara memasak langsung, partisipasi keluarga dan masyarakat, serta peran tokoh-tokoh budaya. Namun, perubahan cara makan dan semakin berkurangnya minat generasi muda menjadi hambatan dalam menjaga keberadaannya sebagai bagian dari warisan kuliner. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Ares Kedebong adalah bentuk warisan kuliner yang tidak hanya menjaga keberlanjutan kuliner tradisional, tetapi juga mempertahankan pengetahuan, kebiasaan sosial, nilai budaya, serta identitas masyarakat Suku Sasak
Contesting Exegetical Authority: Scholarly Patronage, Power, and the Saudi Salafi Critique of al-Ṣābūnī’s Ṣafwat al-Tafāsīr Abd. Malik Al Munir
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i2.2498

Abstract

This article examines the controversy over Muḥammad ʿAlī al-Ṣābūnī’s Ṣafwat al-Tafāsīr as a contest over who may speak for the Qurʾan, not simply as an inventory of doctrinal and technical errors. Using Norman Fairclough’s three-dimensional critical discourse analysis within a qualitative, library-based case study, it reads the commentary alongside its two principal critiques, Muḥammad Jamīl Zaynū’s Tanbīhāt Hāmmah and the relevant section of Bakr Abū Zayd’s al-Rudūd, and connects their wording to the conditions under which they were produced, circulated, and received in Saudi Arabia. The analysis shows that al-Ṣābūnī’s synthetic-pedagogical method of selecting, condensing, and ordering classical commentaries accounts for both the work’s wide readership and its exposure to attack. The critics recast disagreements over taʾwīl, the divine attributes, hadith documentation, variant readings, and source selection as epistemic misconduct through a lexicon of taḥrīf, jahl, khiyānah fī al-naql, and departure from manhaj al-salaf. Endorsements, specialist consultation, book-supervision approval, and catalogues of refutation gave individual judgements the weight of a collective verdict. The article argues that the polemic set two regimes of exegetical legitimacy against each other: a synthetic-pedagogical regime that accommodates diverse sources selectively and a Salafi regime of textual purification that demands strict theological boundaries and verbatim fidelity in transmission. The available evidence supports a conclusion of institutional proximity and control over circulation more firmly than a claim that the state authored or ordered the critique.
Adaptasi dan Transformasi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Popodu Sejak Krisis Moneter (1998–2023) Febriana Eka Putri Rahmat; Tonny Iskandar Mondong; Renol Hasan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2499

Abstract

Dinamika sosial ekonomi masyarakat pedesaan kerap diuji oleh guncangan nasional seperti krisis moneter 1998 dan tantangan arus modernisasi. Mengambil fokus di Desa Popodu, Bolaang Mongondow Selatan, kajian ini menelusuri riwayat perekonomian masyarakat sekaligus menganalisis proses adaptasi mereka sepanjang rentang tahun 1998 hingga 2023. Menggunakan metode penelitian sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, data historis dalam kajian ini digali dari arsip RPJMDes, Profil Desa 2023, catatan statistik BPS Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan 2022–2023, serta wawancara mendalam bersama tokoh masyarakat dan pelaku ekonomi setempat. Analisis terhadap sumber-sumber tersebut memperlihatkan pola ketahanan ekonomi berbasis lokal yang kuat, yang diindikasikan secara konkret oleh konsistensi warga mempertahankan profesi utamanya saat krisis serta tren produktivitas panen yang terus bertumbuh. Saat menghadapi lonjakan inflasi dan pelemahan rupiah pada 1998, masyarakat tidak mengubah profesi secara drastis, melainkan bertahan pada pekerjaan utama di sektor pertanian dan perikanan sambil mengoptimalkan perdagangan sebagai penyokong pendapatan alternatif. Sektor pertanian terbukti terus bertumbuh, terlihat dari peningkatan produksi padi dari 5.742,75 ton pada 2021 menjadi 8.177,58 ton pada 2022. Memasuki era modernisasi, struktur ekonomi desa semakin beragam lewat pertumbuhan UMKM dan adopsi teknologi berupa media sosial serta platform pembayaran digital, meski penggunaannya belum merata di seluruh kalangan warga. Perubahan ini juga berjalan beriringan dengan membaiknya tingkat pendidikan dasar hingga menengah serta akses ke fasilitas kesehatan dasar. Kesimpulannya, daya tahan ekonomi Desa Popodu bertumpu pada penguasaan mata pencaharian tradisional yang perlahan berintegrasi ke dalam ekosistem digital
Pengaruh Self-Esteem Terhadap Fomo Pada Remaja Perempuan Suku Nias Pengguna Media Sosial Rumondang Wilis Pintas Zai; Artiwinata Br Ginting
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2501

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-esteem terhadap Fear of Missing Out (FoMO) pada remaja perempuan suku Nias pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Populasi penelitian adalah remaja perempuan suku Nias yang berjumlah sekitar 16.355 jiwa berdasarkan data BPS tahun 2024. Sampel penelitian berjumlah 340 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria perempuan berusia 13–18 tahun, bersuku Nias, dan menggunakan media sosial. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert. Instrumen self-esteem disusun berdasarkan empat aspek Coopersmith (1967), yaitu power, significance, virtue, dan competence, sedangkan instrumen FoMO disusun berdasarkan tiga aspek Abel et al. (2016), yaitu sense of self, social interaction, dan social anxiety. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-esteem berpengaruh negatif dan signifikan terhadap FoMO, dengan nilai F sebesar 51,556 dan signifikansi p < 0,001. Koefisien regresi sebesar −0,328 menunjukkan bahwa semakin tinggi self-esteem, semakin rendah kecenderungan FoMO pada remaja perempuan suku Nias pengguna media sosial. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,132 menunjukkan bahwa self-esteem memberikan kontribusi sebesar 13,2% terhadap FoMO, sedangkan 86,8% sisanya berkaitan dengan faktor-faktor lain di luar model penelitian. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self-esteem merupakan salah satu faktor yang berperan dalam kecenderungan FoMO pada remaja perempuan suku Nias pengguna media sosial.                       
Content Analysis Of Educational Content On Sexual Harassment Prevention For Women On Tiktok: A Study Of The @Kadamsidik00 Account Muhammad Dimas Nugroho; Elfi Yanti Ritonga
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2503

Abstract

Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan masih menjadi persoalan sosial yang membutuhkan perhatian, khususnya di tengah berkembangnya penggunaan media sosial sebagai ruang penyebaran informasi. TikTok tidak hanya digunakan sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi sarana penyampaian edukasi mengenai isu sosial, termasuk edukasi pencegahan pelecehan dan pencegahan pelecehan terhadap perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi konten edukasi pencegahan pelecehan dan pencegahan pelecehan terhadap perempuan pada akun TikTok @kadamsidik00. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitis dan desain studi kasus tunggal. Data penelitian berupa konten video TikTok yang relevan dengan fokus penelitian, kemudian dianalisis melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan berdasarkan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten yang dianalisis memuat pesan edukasi mengenai pelecehan dan kekerasan, persetujuan atau consent, perlindungan perempuan, serta pencegahan pelecehan. Konten juga menunjukkan adanya upaya menolak kecenderungan menyalahkan korban (victim blaming) dengan menegaskan bahwa pakaian, kondisi, maupun perilaku perempuan tidak dapat dijadikan pembenaran terhadap tindakan pelecehan. Selain itu, pesan pencegahan disampaikan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, pemahaman mengenai hak korban, pentingnya ruang aman, serta edukasi mengenai respons terhadap pemaksaan. Dengan demikian, konten pada akun TikTok @kadamsidik00 menunjukkan bahwa isu pelecehan dapat dikemas sebagai materi edukasi yang diarahkan pada peningkatan pengetahuan, kesadaran, perlindungan, dan pencegahan pelecehan terhadap perempuan.            
An Analysis Of The Evidence For The Truth Of The Qur’an On The Jazirah Ilmu Youtube Account Rindra Hauzan Fadhali Siregar; Rubino
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2505

Abstract

This study aims to analyze the forms of evidence supporting the truth of the Qur’an presented in the content of the Jazirah Ilmu YouTube channel. This study employs a qualitative approach using content analysis of four videos discussing the truth of the Qur’an through historical, scientific, geographical, and archaeological approaches. Data were collected through documentation and video transcription and were subsequently analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the evidence supporting the truth of the Qur’an in Jazirah Ilmu’s content is constructed through two forms of truth: coherence and correspondence. Coherence is demonstrated through the consistency between Qur’anic verses and the views of experts, previous research, and scientific studies. Meanwhile, correspondence is demonstrated through empirical facts, including archaeological findings, historical evidence, geographical conditions, and scientific research findings that support the information contained in the Qur’an. The findings indicate that Jazirah Ilmu’s content positions the Qur’an as a source of knowledge whose truth is reinforced by the development of modern science and various verifiable empirical evidences.
Working In The Digital Space: An Ethnography Of The Practices Of Female Content Creators In Aek Bange Village, Asahan Regency Rian Sandi; Daud Daud
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v3i4.2350

Abstract

This study aims to determine the factors that motivate women to become content creators, describe women's practices in creating social media content, and analyze the challenges faced by women in content-creating activities in Aek Bange Village, Asahan Regency. The phenomenon of women being active as content creators on social media indicates a change in social practices in rural communities along with the development of digital technology. The method used is qualitative research with an ethnographic approach through participant observation, in-depth interviews, field notes, and documentation. The results show that there are several factors that encourage women to become content creators, namely the desire to earn additional income through Facebook Pro, the influence of the social environment, developing creativity, filling free time, expanding networks, and utilizing daily activities as social media content. The creative practice is carried out by recording daily activities, such as sewing, trading, household management, and creating entertainment content, then editing and uploading them to social media using smartphones with simple equipment. In this practice, women also build interactions with audiences through comments, the number of views, and followers as part of their digital activities. Nevertheless, female content creators face various challenges, such as limited time due to domestic roles, difficulty in acquiring content ideas, limited facilities and technical capabilities, a time-consuming monetization process, low viewership, and psychological pressure due to negative comments and comparisons with other content creators. Based on Pierre Bourdieu's Theory of Social Practice, women's creative practices as content creators are the result of an interaction between habitus, capital, and the social media arena that shapes rural women's strategies in building identity, creativity, and gaining economic opportunities in the digital era