cover
Contact Name
-
Contact Email
ijphn@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ijphn@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunungpati, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition
ISSN : 27984265     EISSN : 27769968     DOI : https://doi.org/10.15294/ijphn
Core Subject : Health,
IJPHN published 3 numbers in 1 volume. Published in March, July and November. IJPHN is published by the Center for Public Health Nutrition Studies, Universitas Negeri Semarang in collaboration with the Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Pusat.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025)" : 20 Documents clear
Evaluasi Pelaksanaan dan Pengelolaan Kebijakan Pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat Baransano, Karolina; Windiyaningsih, Cicilia; Ulfa, Laila
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.34428

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan Papua Barat termasuk di antara provinsi dengan angka notifikasi kasus tertinggi. Di Kabupaten Manokwari, tercatat 927 kasus TB paru dengan tingkat kematian 3% pada tahun 2023. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan pengendalian TB di Manokwari berdasarkan kerangka implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif yang dilaksanakan pada April–Juni 2025 melalui diskusi kelompok terarah (FGD) dengan 26 partisipan dan wawancara mendalam (IDI) dengan 3 partisipan, terdiri atas tenaga kesehatan, pasien TB, pendamping pengobatan, tokoh masyarakat, LSM, dan pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten. Data dianalisis secara tematik menggunakan pendekatan Braun dan Clarke, mengacu pada kerangka Policy Implementation Process dan model Input–Process–Output–Outcome, dengan triangulasi sumber dan metode untuk validitas. Hasil: Program TB masih bergantung pada regulasi nasional tanpa adaptasi lokal yang kuat, menghadapi keterbatasan sumber daya, infrastruktur, dan koordinasi lintas sektor yang belum optimal. Kesimpulan: Diperlukan penyusunan regulasi daerah, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan penguatan koordinasi lintas sektor sebagai prioritas jangka pendek, serta integrasi program TB ke dalam rencana pembangunan kesehatan daerah untuk menjamin keberlanjutan program.
Riwayat Pemberian ASI Eksklusif, MPASI, Riwayat BBLR, dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Stunting di Puskesmas Bandarharjo Afifah, Ade Oktava
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.34442

Abstract

Latar Belakang: Masalah stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Kasus stunting di Puskesmas Bandarharjo diketahui sebanyak 178 anak tahun 2024 dan meningkat menjadi 245 anak pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kasus balita stunting. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif, MPASI, riwayat BBLR, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain case control yang bersifat retrospektif. Besar sampel yang digunakan sebesar 44 balita dengan rasio 1:1. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh dengan wawancara, pengisian kuesioner, dan pengukuran antropometri. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square (α=0,05) dan multivariat menggunakan uji Regresi Logistik. Hasil: Analisis bivariat menunjukan riwayat pemberian ASI eksklusif (p-value=0,445>0,05), riwayat usia pemberian MPASI (p-value=0,650>0,05), tekstur pemberian MPASI (p-value=0,243>0,05), frekuensi pemberian MPASI (p-value=0,029<0,05), porsi pemberian MPASI (p-value=<0,001<0,05), riwayat BBLR (p-value=0,031<0,05), dan sanitasi lingkungan (p-value=0,001<0,05). Analisis Multivariat menunjukan hasil riwayat BBLR (p-value=0,001; OR= 46,920; 95% CI= 4,477 – 491,807). Kesimpulan: tidak ada hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif, riwayat usia pemberian MPASI, riwayat tekstur pemberian MPASI dengan kejadian stunting. Ada hubungan antara riwayat frekuensi pemberian MPASI, riwayat porsi pemberian MPASI, riwayat BBLR dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting. Riwayat BBLR merupakan variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting
Karakteristik Sensoris dan Deskriptif Produk Yogurt Berbasis Apel Malang dan Pisang Bantan Sebagai Modulator Disbiosis Usus pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Rozi, Fahrul; Majiding , Chaidir Masyhuri
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.35712

Abstract

Latar Belakang: Penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan masalah kesehatan global yang berkaitan erat dengan gangguan sumbu usus–ginjal dan kondisi disbiosis usus. Modifikasi mikrobiota melalui pangan fermentasi seperti yogurt menjadi pendekatan gizi potensial untuk memperlambat progresivitas CKD. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik sensoris dan deskriptif yogurt sinbiotik berbasis Apel Malang (Malus sylvestris) dan Pisang Bantan (Musa acuminata C.) sebagai kandidat modulator disbiosis usus pada pasien CKD. Metode: Penelitian menggunakan desain eksperimental deskriptif dengan lima formula (F1–F5) yang berbeda pada komposisi susu full cream dan skim, kadar gula, serta jumlah starter (3%–5%). Proses fermentasi dilakukan pada suhu 37°C selama 18–24 jam. Uji organoleptik dilakukan oleh 50 panelis tidak terlatih menggunakan skala hedonik lima poin untuk menilai warna, aroma, kekentalan, rasa, mouthfeel, aftertaste, dan penerimaan keseluruhan, sedangkan uji deskriptif menggunakan skala intensitas 1–10 untuk mengidentifikasi profil sensori. Hasil: Formula F5 (perbandingan susu full cream dan skim 1:1 dengan starter 5%) memperoleh skor tertinggi (p<0,05) pada atribut rasa (5,75), kekentalan (5,67), dan penerimaan keseluruhan (5,69) dengan profil sensori paling seimbang antara aroma buah, rasa manis, dan tekstur. Kesimpulan: Penambahan Apel Malang dan Pisang Bantan meningkatkan mutu sensori yogurt serta berpotensi menjadi produk sinbiotik lokal untuk modulasi mikrobiota pada pasien CKD.
Formulasi Mie Kering dari Ubi Jalar Kuning (Ipomoea batatas) dan Tepung Ikan Gabus (Channa striata) untuk Ibu Hamil Kurang Energi Kronis Majiding, Chaidir Masyhuri; Rozi, Fahrul
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.35792

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan mie kering berbahan ubi jalar kuning (Ipomoea batatas) dan tepung ikan gabus (Channa striata) sebagai alternatif pangan fungsional untuk ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Metode: metode eksperimental dengan rancangan deskriptif-kuantitatif yang dilakukan di Laboratorium Gizi dan Kulinari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman pada Maret 2025. Hasil: Empat formula diuji dengan variabel bebas berupa proporsi ubi jalar dan tepung ikan gabus, serta variabel terikat berupa mutu organoleptik, fisik, dan kimia. Penilaian organoleptik dilakukan oleh 42 panelis menggunakan uji hedonik 7 skala; data dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil menunjukkan Formula 4 (F4) memiliki skor warna tertinggi (5,33 ± 0,81), daya serap air 55,43 ± 0,66%, cooking loss 10,51 ± 0,41%, dan kadar protein 23,8%. Substitusi bahan meningkatkan nilai gizi mie tanpa menurunkan penerimaan panelis secara signifikan. Kesimpulan: formulasi mie kering ubi jalar kuning dan tepung ikan gabus menghasilkan produk bergizi tinggi, berwarna menarik, dan berpotensi mendukung pemenuhan kebutuhan energi serta protein ibu hamil KEK. Saran kedepannya diperlukan pengujian lebih lanjut mengenai efek pada ibu hamil KEK
Pengetahuan Gizi Ibu Hamil KEK Sebelum dan Sesudah Edukasidi Kecematan Pamboang Sahrir, Nur Zakiah; Annisa , Nurul; Aryanti , Novi; Supyati
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.35793

Abstract

Latar belakang : Ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK) masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi KEK pada ibu hamil sebesar 17,3%, dan meskipun menurun menjadi 16,9% pada tahun 2023, angka tersebut masih di atas target nasional 10% pada tahun 2024. Kondisi KEK berisiko menimbulkan komplikasi seperti perdarahan, preeklamsia, persalinan prematur, serta berat badan lahir rendah pada bayi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi seimbang terhadap peningkatan pengetahuan gizi ibu hamil dengan KEK di Desa Bonde Utara, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene. Metode : Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel diberi pretest kemudian diberikan edukasi gizi berupa penyuluhan dan sesi tanya jawab pada ibu hamil selanjutnya di beri posttest. Sampel terdiri atas 12 ibu hamil KEK yang dipilih secara purposif. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan gizi kehamilan yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi edukasi gizi seimbang. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test untuk mengetahui perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hasil : Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan sebelum edukasi sebesar 86,25 dan setelah edukasi sebesar 85,83 dengan nilai p = 0,7751 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan gizi ibu hamil sebelum dan sesudah edukasi. Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa edukasi gizi seimbang yang dilakukan satu kali belum mampu meningkatkan pengetahuan ibu hamil KEK secara signifikan. Diperlukan pendekatan edukasi yang lebih interaktif, penggunaan media audiovisual, serta pelaksanaan edukasi secara berulang dan berkelanjutan agar dapat memberikan dampak yang lebih optimal terhadap peningkatan pengetahuan gizi ibu hamil.
Efektivitas Video Animasi terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Remaja Mengenai Minuman Berpemanis di Kecamatan Pauh Kota Padang Aorama, Aulia; Nur, Nadia Chalida
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.35876

Abstract

Latar belakang: Konsumsi minuman manis yang berlebihan telah terbukti berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, penerapan edukasi gizi telah diidentifikasi sebagai langkah pencegahan yang krusial. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh video animasi sebagai media edukasi gizi tentang minuman berpemanis terhadap pengetahuan dan sikap pada remaja sekolah menengah atas di Kecamatan Pauh. Metode: Jenis penelitian ini adalah Quasy Experiment dengan desain two group pre-test post-test. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 9 Padang dan SMAN 15 Padang. Sampel dipilih secara acak dengan jumlah 31 siswa pada masing-masing kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan edukasi gizi menggunakan media video animasi, sedangkan kelompok intervensi tanpa adanya pemberian media.  Analisis data untuk uji perbedaan perlakukan dengan Paired T Test, dan uji efektivitas dengan N-gain. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan, sikap, dan video animasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan skor pengetahuan dan sikap pada kelompok intervensi sebelum dan setelah perlakuan (p-value = 0,0001). Terdapat perubahan pengetahuan dan sikap pada kelompok intervensi, dengan persentase n-gain pengetahuan sebesar 76% (efektif) dan 60% (cukup efektif) untuk sikap. Kesimpulan: Media video animasi tentang minuman berpemanis efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap pada remaja. Diharapkan sekolah berperan aktif dalam memberikan edukasi gizi dengan memanfaatkan media yang menarik
Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Teluk Bintuni Simatupang, Haposan; Damanik, Brema JK; Hidayanti, Maria Ulfa Nur
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.36663

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan beban tinggi di Indonesia. Selain dipengaruhi faktor lingkungan dan sosial ekonomi, perilaku individu turut berperan dalam penularan dan perkembangan TB. Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis prediktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian TB paru di Kabupaten Teluk Bintuni. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan 210 responden yang dipilih melalui random sampling dari 16 puskesmas pada Maret–April 2025. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner. Analisis meliputi uji Chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk menentukan prediktor dominan pada tingkat signifikansi 95%. Hasil: Prevalensi TB paru adalah 43,8%. Perilaku responden meliputi riwayat kontak serumah (39,5%), kontak sosial (28,1%), kebiasaan mengunyah pinang (62,9%), tidur tidak teratur (35,2%), meludah sembarangan (63,8%), dan tidak membuka jendela secara rutin (69%). Kontak sosial (p=0,015) dan mengunyah pinang (p=0,049) berhubungan signifikan dengan kejadian TB paru. Analisis multivariat menunjukkan kontak sosial sebagai prediktor paling dominan (p=0,019; OR=0,454; 95% CI: 0,235–0,878). Kesimpulan: Kontak sosial dan kebiasaan mengunyah pinang merupakan prediktor perilaku signifikan terhadap kejadian TB paru, dengan kontak sosial sebagai faktor paling dominan. Intervensi pencegahan perlu difokuskan pada edukasi perubahan perilaku, pengurangan kebiasaan berisiko, serta penguatan deteksi dini melalui surveilans pada kelompok dengan interaksi sosial tinggi.
Nutrition Profile, Body Composition, Somatotype of Adolescent Football Athlete and It’s Correlation with Performance Solichah, Kurnia Mara'atus; Putriana, Dittasari
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.36707

Abstract

Background: Performance in athletes is influenced by multiple factors, including the athlete's physical profile, technique, and tactics related to the sport being played. Objective :  The objective of this research is to analyze the nutrition profile, body composition, and somatotype of adolescent football athletes and determine their correlation with athletes' performance. Methods: This study uses a quantitative descriptive technique with a measurement survey method. The study took place in June-August 2023, with 35 adolescent football athletes involved as respondents. The data obtained are presented in the form of a frequency distribution for each indicator. Statistical analysis with SPSS was conducted for correlation analysis. Results: Based on the results of the study, it is known that 86.11% of athletes have good nutritional status, and 13.89% of athletes have excess nutritional status. The results of measuring the percentage of body fat showed 77.78% in the normal category, 19.44% in the high category, and 2.78% in the low category. The dominant somatotype categories in athletes are endomorph and ectomorph. Statistical analysis shows that performance has significantly correlated with supraspinal skinfold (p=0.020), femur (p=0.027), and ectomorph (p=0.021). Conclusion: It can be concluded that for adolescent football athletes, body linearity and supraspinal fat folds are a significant influence on performance.    
Pengaruh Media Permainan Ular Tangga terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Mata pada Siswa Sekolah Dasar Rochmayani, Dewi Sari; Cahyaningsih , Oktaviani
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.38831

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar di Kota Semarang masih cukup tinggi. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan mata diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi menggunakan media permainan ular tangga kesehatan mata dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Metode: Penelitian quasi-eksperimen dengan desain pretest–posttest control group dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri Krapyak, Kota Semarang. Sebanyak 61 siswa dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=30) dan kelompok kontrol (n=31). Kelompok eksperimen menerima edukasi menggunakan media permainan ular tangga, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi kesehatan sesuai kurikulum sekolah. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, uji Mann–Whitney, dan persentase N-gain. Hasil: Tidak terdapat perbedaan pengetahuan kesehatan mata antara kelompok eksperimen dan kontrol sebelum intervensi (p>0,05). Setelah intervensi, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kelompok eksperimen (p<0,01), sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna (p>0,05). Pengetahuan kesehatan mata pascaintervensi pada kelompok eksperimen secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,01) dengan nilai N-gain sebesar 80,64%. Simpulan: Edukasi menggunakan media permainan ular tangga efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan mata pada siswa sekolah dasar.
Kejadian Gizi Lebih dan Obesitas pada Remaja: Systematic Literature Review Terkait Faktor Risiko Saputri, Ika Parsi Saputri; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.39088

Abstract

Latar Belakang: Permasalahan gizi yang sering terjadi pada remaja yaitu kejadian gizi lebih dan obesitas. Tingginya risiko terjadinya obesitas di masa dewasa dan risiko mengalami gangguan kesehatan akibat gizi lebih dan/atau obesitas menjadikan studi untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian gizi lebih dan obesitas perlu dilakukan. Tujuan :  Penelitian ini disusun untuk menyajikan informasi terkini terkait faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih dan obesitas pada remaja. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dengan pendekatan systematic literature review menggunakan panduan PRISMA untuk identifikasi artikel dan PEO+S framework untuk menentukan kriteria inklusi dan eksklusi. Sumber literatur dari database Pubmed, ProQuest, dan Portal Garuda, diterbitkan pada rentang 5 tahun terakhir, berbahasa Indonesia atau Inggris, artikel dapat diakses secara bebas, kata kunci “gizi lebih”, “obesitas”, “remaja”, “faktor risiko” (“overweight”, “obesity”, “adolescents”,”risk factors”) dengan operator boolean “DAN (AND)”. Hasil: sejumlah 18 artikel diidentifikasi dan dianalisis. Faktor gaya hidup/ kebiasaan seperti kebiasaan konsumsi junk food (n=5), kebiasaan makan yang buruk  (n=7), asupan zat gizi tidak sesuai anjuran (n=3), kebiasaan/ gaya hidup sedentary (n=10), aktivitas fisik/ olahraga kurang (n=5), kebiasaan tidur yang buruk (n=4); faktor sosio-ekonomi misal pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua, dan kepemilikan aset (barang elektronik) (masing-masing n=2) dan pendidikan orang tua  (n=3) ; faktor sosio-demografi seperti usia (n=4), jenis kelamin (n=2), pendidikan remaja (n=3), lokasi tempat tinggal (n=2); faktor genetik yaitu riwayat obesitas keluarga (n=4); serta faktor biologis pubertas (n=2) berkaitan dengan kejadian gizi lebih dan obesitas pada remaja. Kesimpulan: Faktor risiko kejadian gizi lebih dan obesitas remaja yaitu faktor gaya hidup/ kebiasaan, faktor sosio-ekonomi, faktor sosio-demografi, faktor genetik, dan faktor biologis.

Page 2 of 2 | Total Record : 20