cover
Contact Name
-
Contact Email
ijphn@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ijphn@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunungpati, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition
ISSN : 27984265     EISSN : 27769968     DOI : https://doi.org/10.15294/ijphn
Core Subject : Health,
IJPHN published 3 numbers in 1 volume. Published in March, July and November. IJPHN is published by the Center for Public Health Nutrition Studies, Universitas Negeri Semarang in collaboration with the Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Pusat.
Articles 77 Documents
Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Teluk Bintuni Haposan Simatupang; Brema JK Damanik; Maria Ulfa Nur Hidayanti
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.36663

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan beban tinggi di Indonesia. Selain dipengaruhi faktor lingkungan dan sosial ekonomi, perilaku individu turut berperan dalam penularan dan perkembangan TB. Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis prediktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian TB paru di Kabupaten Teluk Bintuni. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan 210 responden yang dipilih melalui random sampling dari 16 puskesmas pada Maret–April 2025. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner. Analisis meliputi uji Chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk menentukan prediktor dominan pada tingkat signifikansi 95%. Hasil: Prevalensi TB paru adalah 43,8%. Perilaku responden meliputi riwayat kontak serumah (39,5%), kontak sosial (28,1%), kebiasaan mengunyah pinang (62,9%), tidur tidak teratur (35,2%), meludah sembarangan (63,8%), dan tidak membuka jendela secara rutin (69%). Kontak sosial (p=0,015) dan mengunyah pinang (p=0,049) berhubungan signifikan dengan kejadian TB paru. Analisis multivariat menunjukkan kontak sosial sebagai prediktor paling dominan (p=0,019; OR=0,454; 95% CI: 0,235–0,878). Kesimpulan: Kontak sosial dan kebiasaan mengunyah pinang merupakan prediktor perilaku signifikan terhadap kejadian TB paru, dengan kontak sosial sebagai faktor paling dominan. Intervensi pencegahan perlu difokuskan pada edukasi perubahan perilaku, pengurangan kebiasaan berisiko, serta penguatan deteksi dini melalui surveilans pada kelompok dengan interaksi sosial tinggi.
Nutrition Profile, Body Composition, Somatotype of Adolescent Football Athlete and It’s Correlation with Performance Kurnia Mara'atus Solichah; Dittasari Putriana
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.36707

Abstract

Background: Performance in athletes is influenced by multiple factors, including the athlete's physical profile, technique, and tactics related to the sport being played. Objective :  The objective of this research is to analyze the nutrition profile, body composition, and somatotype of adolescent football athletes and determine their correlation with athletes' performance. Methods: This study uses a quantitative descriptive technique with a measurement survey method. The study took place in June-August 2023, with 35 adolescent football athletes involved as respondents. The data obtained are presented in the form of a frequency distribution for each indicator. Statistical analysis with SPSS was conducted for correlation analysis. Results: Based on the results of the study, it is known that 86.11% of athletes have good nutritional status, and 13.89% of athletes have excess nutritional status. The results of measuring the percentage of body fat showed 77.78% in the normal category, 19.44% in the high category, and 2.78% in the low category. The dominant somatotype categories in athletes are endomorph and ectomorph. Statistical analysis shows that performance has significantly correlated with supraspinal skinfold (p=0.020), femur (p=0.027), and ectomorph (p=0.021). Conclusion: It can be concluded that for adolescent football athletes, body linearity and supraspinal fat folds are a significant influence on performance.    
Pengaruh Media Permainan Ular Tangga terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Mata pada Siswa Sekolah Dasar Dewi Sari Rochmayani; Oktaviani Cahyaningsih
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.38831

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar di Kota Semarang masih cukup tinggi. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan mata diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi menggunakan media permainan ular tangga kesehatan mata dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Metode: Penelitian quasi-eksperimen dengan desain pretest–posttest control group dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri Krapyak, Kota Semarang. Sebanyak 61 siswa dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=30) dan kelompok kontrol (n=31). Kelompok eksperimen menerima edukasi menggunakan media permainan ular tangga, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi kesehatan sesuai kurikulum sekolah. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, uji Mann–Whitney, dan persentase N-gain. Hasil: Tidak terdapat perbedaan pengetahuan kesehatan mata antara kelompok eksperimen dan kontrol sebelum intervensi (p>0,05). Setelah intervensi, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kelompok eksperimen (p<0,01), sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna (p>0,05). Pengetahuan kesehatan mata pascaintervensi pada kelompok eksperimen secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,01) dengan nilai N-gain sebesar 80,64%. Simpulan: Edukasi menggunakan media permainan ular tangga efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan mata pada siswa sekolah dasar.
Kejadian Gizi Lebih dan Obesitas pada Remaja: Systematic Literature Review Terkait Faktor Risiko Ika Parsi Saputri Saputri; Eko Farida
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.39088

Abstract

Latar Belakang: Permasalahan gizi yang sering terjadi pada remaja yaitu kejadian gizi lebih dan obesitas. Tingginya risiko terjadinya obesitas di masa dewasa dan risiko mengalami gangguan kesehatan akibat gizi lebih dan/atau obesitas menjadikan studi untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian gizi lebih dan obesitas perlu dilakukan. Tujuan :  Penelitian ini disusun untuk menyajikan informasi terkini terkait faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih dan obesitas pada remaja. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dengan pendekatan systematic literature review menggunakan panduan PRISMA untuk identifikasi artikel dan PEO+S framework untuk menentukan kriteria inklusi dan eksklusi. Sumber literatur dari database Pubmed, ProQuest, dan Portal Garuda, diterbitkan pada rentang 5 tahun terakhir, berbahasa Indonesia atau Inggris, artikel dapat diakses secara bebas, kata kunci “gizi lebih”, “obesitas”, “remaja”, “faktor risiko” (“overweight”, “obesity”, “adolescents”,”risk factors”) dengan operator boolean “DAN (AND)”. Hasil: sejumlah 18 artikel diidentifikasi dan dianalisis. Faktor gaya hidup/ kebiasaan seperti kebiasaan konsumsi junk food (n=5), kebiasaan makan yang buruk  (n=7), asupan zat gizi tidak sesuai anjuran (n=3), kebiasaan/ gaya hidup sedentary (n=10), aktivitas fisik/ olahraga kurang (n=5), kebiasaan tidur yang buruk (n=4); faktor sosio-ekonomi misal pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua, dan kepemilikan aset (barang elektronik) (masing-masing n=2) dan pendidikan orang tua  (n=3) ; faktor sosio-demografi seperti usia (n=4), jenis kelamin (n=2), pendidikan remaja (n=3), lokasi tempat tinggal (n=2); faktor genetik yaitu riwayat obesitas keluarga (n=4); serta faktor biologis pubertas (n=2) berkaitan dengan kejadian gizi lebih dan obesitas pada remaja. Kesimpulan: Faktor risiko kejadian gizi lebih dan obesitas remaja yaitu faktor gaya hidup/ kebiasaan, faktor sosio-ekonomi, faktor sosio-demografi, faktor genetik, dan faktor biologis.
Pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 6 –23 Bulan Yuliya Nurul Khoiriyah; Syifa Qolbiyah Nasir
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.27510

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan permasalahan gizi yang memiliki berbagai dampak di bidang kesehatan, perkembangan anak, dan ekonomi. Angka kejadian stunting di Kudus yakni 19% dan Puskesmas Rejosari menempati urutan pertama se- kabupaten dengan kejadian stunting terbanyak sebesar 8,2%. Pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI merupakan faktor penyebab langsung kejadianstunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI dengan kejadian stunting di Puskesmas Rejosari.Metode: Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan metode penelitian observasional analitik dan rancangan cross sectional. Sampel diambil menggunakan teknik Cluster Sampling, lalu dilanjutkan dengan Purposive Sampling dengan total 106 balita usia 6 – 23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Rejosari. Instrumen penelitian berupa infantometer dan lembar kuesioner. Data diambil dengancara pengukuran antropometri dan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-square, Fisher Exact, dan uji Mantel Haenszel.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif, usia MP-ASI, bentuk MP-ASI, frekuensi MP-ASI, dan variasi MP-ASI dengan kejadian stunting.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara porsi pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting dan hubungan tersebut tetap signifikan setelah dikontrol oleh variabel kunjungan Ante Natal Care yang teridentifikasi sebagai variabel perancu. Saran untuk para ibu agar meningkatkan kesadaran untuk memperhatikan porsi pemberian MP-ASI yang sesuai untuk anak.
Inovasi Galantin Berbasis Ikan Selar dan Daun Kelor Untuk Optimasi Gizi Balita Maria Dolorosa P. Sogen; Andrea Putri Sekar Tunjung; Gregorius Tsiompah
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.37037

Abstract

Latar Belakang: Salah satu cara untuk mengatasi malnutrisi seperti stunting dan wasting pada balita adalah melakukan optimalisasi zat gizi pada menu makanan dengan jalan substitusi pangan lokal pada galantine berbahan dasar ikan selar dan daun kelor. Tujuan penelitian adalah menentukan formulasi galantin dan menganalisis zat gizi dari formulasi terpilih yang diberikan perlakuan kukus dan goreng.Metode: Penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen dengan Desain Acak Lengkap. Terdapat 4 formulasi galantine dengan bahan dasar daging ayam, ikan selar dan daun kelor yaitu F1 (375: 0), F2 (300: 300), F3 (225 : 150) dan F4(150 : 225). Daun kelor yang digunakan dalam semua formulasi adalah 10%. Parameter daya terima yang diukur adalah warna, aroma, rasa dan tekstur dengan skala pengukuran adalah (1) sangat tidak suka, (2) tidak suka, (3) agak suka, (4) suka dan (5) sangat suka dengan melibatkan 35 panelis semi terlatih. Hasil skor penilaian organoleptik oleh panelis dianalisis menggunakan Excel 2010 dan SNI 01-2346-2006. Selanjutnya formulasi terpilih hasil analisis daya terima, dianalisis kadar protein dan kalsium dengan dibagi menjadi 2 sampel. Sampel formulasi pertama dengan berat 100 gram diberikan perlakuan dikukus. Sampel kedua dengan berat 100 gram, diberikanperlakuan digoreng. Kadar protein galantin dianalisis dengan metode semimikro kjeldahl dan kadar kalsium dengan metode titrasi EDTA. independent t-test untuk analisis perbandingan kadar protein dan kalsium dengan 3x pengulangan.Hasil: hasil analisis diperoleh galantin formulasi 2 adalah paling disukai oleh panelis dari warna, aroma, rasa dan tekstur. Analisis zat gizi dari galantin kukus adalah 17,5 gram protein lebih tinggi dibanding galantin goreng dan kadar kalsium tidak berbeda nyata dengan galantin goreng. Pada balita 1-5 tahun yang mengkonsumsi 2 potong galantin setara 50 gram dapat memenuhi kebutuhan protein harian 44% - 35,2% dan kebutuhan kalsium harian 6,7% - 4,4% dari kebutuhan protein dan kalsiumberdasarkan AKG 2019
Efektivitas Pemberian Makanan Tambahan Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Ta-mansari Kota Tasikmalaya Tahun 2024 Nisatami Husnul; Yayu Sri Mulyati; Muhamad Ali Sya&#039;ban
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.37558

Abstract

Latar Belakang: Program pemberian makanan tambahan (PMT) sebagai intervensi bagi anak hingga usia enam tahun banyak diberikan di berbagai negara termasuk di Indonesia. PMT diberikan dengan memanfaatkan pangan lokal mengandung kalori, proteindan lemak yang disesuaikan dengan kategori usia balita penerima program. Tujuan penelitian yaitu menganalisis efektivitas program dengan melihat perubahan status gizi balita penerima PMT pangan lokal di wilayah Puskesmas Tamansari, Kota TasikmalayaMetode: Penelitian merupakan pengolahan data sekunder pemberian PMT Lokal di wilayah kerja Puskesemas Tamansari Kota Tasikmalaya. Intervensi diberikan mulai bulan Mei-Juli 2024 dengan subjek yaitu balita usia 6-59 tahun sebanyak 158 orang denganstatus gizi berat badan kurang, kurus, dan stunting.Hasil: Hasil uji statistic T-test dependent menunjukan adanya perbedaan yang signifikan berat badan sebelum dan setelah intervensi (p<0.005).Kesimpulan: Pemberian PMT lokal efektif meningkatkan berat badan balita.
Efektivitas Edukasi Gizi Menggunakan Media Buku Saku terhadap PeningkatanPengetahuan Gizi Atlet Voli Remaja : Studi Eksperimen Semu Gracia Dara Permata Pakpahan; Dewi Sari Rochmayani Rochmayani
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.41397

Abstract

Latar Belakang: Studi pendahuluan pada atlet voli remaja di PBV Govita Semarang menunjukkan bahwa 48% atlet memiliki tingkat pengetahuan gizi yang rendah. Melalui temuan ini diperlukan intervensi edukasi gizi sesuai kebutuhan atlet voli remaja. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi gizi dengan metode ceramah dengan media buku saku gizi terhadap pengetahuan gizi atlet voli remaja di PBV Govita. Metode Penelitian ini merupakan penelitian research and development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE. Dilanjutkan uji efektivitas menggunakan desain Quasi Experiment dengan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test, independent t-test, dan uji N-gain. Hasil: Pengembangan media buku saku gizi olahraga mendapat hasil uji validitas materi sebesar 87% dan 90% dalam kategori sangat layak, dan hasil uji validitas media sebesar 72% dan 90% dalam kategori layak dan sangat layak. Nilai n-Gain sebesar 0,64 menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan gizi pada kelompok eksperimen termasuk dalam kategori sedang hingga tinggi. Data ini menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi olahraga yang signifikan  Kesimpulan: Penerapan buku saku gizi olahraga yang digabung dengan metode ceramah terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan gizi atlet voli remaja dibandingkan metode ceramah tanpa media.
Beetroot (Beta vulgaris) as an Anti-Inflammatory Agent in Post-CholecystectomyRecovery: A Systematic Review Dicky Rizki Abadi Saputra; Nyoman Suci Widyastuti; Parish Budiono Bernardus
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.45437

Abstract

Background : Cholecystectomy, whether performed laparoscopically or via open approach, triggers a systemic inflammatory response characterized by elevated proinflammatory cytokines. Beetroot (Beta vulgaris) contains bioactive compounds including betalains, dietary nitrates, and polyphenols with demonstrated anti-inflammatory and antioxidant properties. This article evaluates the potential of beetroot as a natural anti-inflammatory agent in post-cholecystectomy recovery. Methods : A systematic literature search was conducted following PRISMA 2020 guidelines across PubMed, Google Scholar, and SciSpace databases. Inclusion criteria encompassed RCT and quasi-experimental studies investigating beetroot or its bioactive constituents in cholecystectomy, abdominal surgery, or relevant models of systemic inflammation. Studies were assessed for effects on inflammatory markers (C-reactive protein, interleukin-6, tumor necrosis factor-alpha) and clinical outcomes. Results No direct clinical trials of beetroot supplementation in cholecystectomy patients were identified. Evidence from related contexts demonstrated that beetroot juice supplementation reduced IL-6, TNF-alpha, and NF-κB in patients with type 2 diabetes. Animal models showed betalain-enriched extracts attenuated oxidative stress and inflammation in surgical wound healing and ischemia-reperfusion injury models.. Conclusion : While mechanistic and preclinical evidence supports the anti-inflammatory potential of beetroot constituents, direct clinical evidence in cholecystectomy patients is absent. Future perioperative trials are warranted to establish efficacy, optimal dosing, timing, and safety profiles.
Faktor Risiko Kejadian Underweight Pada Anak Usia 6-59 Bulan: Studi Case-Control di Puskesmas Lebdosari Hanna Damai Yolanda; Irwan Budiono
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.45671

Abstract

Belakang: Underweight pada balita usia 6–59 bulan masih menjadi masalah gizi yang signifikan karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Berbagai faktor seperti asupan zat gizi, penyakit infeksi, berat badan lahir, praktik pemberian makan, serta kondisi sosial ekonomi diduga berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian underweight pada balita usia 6–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Lebdosari Kota Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional case-control. Sampel penelitian berjumlah 96 responden yang memiliki balita usia 6–59 bulan yang dibagi menjadi kelompok kasus dan kontrol menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara dengan kuesioner terstruktur, serta data sekunder dari buku KIA. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian underweight pada balita. Hasil: Asupan energi (p=0,000), asupan protein (p=0,000), asupan lemak (p=0,000), asupan karbohidrat (p=0,000), riwayat penyakit infeksi (p=0,009), BBLR (p=0,007), riwayat ASI eksklusif (p=0,031), pendidikan ibu (p=0,049), pendapatan keluarga (p=0,042), kebiasaan makan utama (p=0,043), kebiasaan selingan (p=0,000), jumlah anggota keluarga (p=0,029), dan status sosial ekonomi (p=0,043) berhubungan signifikan dengan kejadian underweight. Analisis multivariat menunjukkan bahwa BBLR merupakan variabel bebas paling dominan (OR=11,213; 95% CI: 2,458–51,162), sedangkan penimbangan berat badan merupakan variabel perancu paling dominan (OR=12,659; 95% CI: 1,881–85,184). Kesimpulan: Kejadian underweight pada balita dipengaruhi oleh faktor asupan gizi, riwayat penyakit infeksi, berat badan lahir, praktik pemberian makan, serta kondisi sosial ekonomi keluarga. Riwayat BBLR dan penimbangan berat badan merupakan faktor paling dominan yang meningkatkan risiko underweight pada balita usia 6–59 bulan di wilayah penelitian.