cover
Contact Name
Dian Purworini
Contact Email
komuniti@ums.ac.id
Phone
+6285647450973
Journal Mail Official
komuniti@ums.ac.id
Editorial Address
Program Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani, Pabelan, Kartasura Surakarta 57162 Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi
ISSN : 2087085X     EISSN : 25495623     DOI : https://www.doi.org/10.23917/
Core Subject : Social,
The scope of the journal encompasses a wide range of communication contexts, including but not limited to: •⁠ ⁠Mass communication •⁠ ⁠New media •⁠ ⁠Interpersonal and group communication •⁠ ⁠Organizational communication •⁠ ⁠Corporate communication •⁠ ⁠Intercultural communication •⁠ ⁠Marketing communication •⁠ ⁠Crisis communication •⁠ ⁠Health communication •⁠ ⁠Political communication •⁠ ⁠Social Informatics
Articles 38 Documents
Menafsirkan Trash-Talk: Interaksionisme Simbolik dan Komunikasi Kelompok dalam Game Valorant Oktanugroho, Dimas Rizky; Okta Wibowo, Tangguh
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.8625

Abstract

Perilaku interaksi komunikasi yang buruk atau trash-talk merupakan fenomena yang sering ditemukan dalam bermain game online, termasuk permainan Valorant. Valorant merupakan permainan yang intens dan kompetitif sehingga dapat mempengaruhi pemain untuk menggunakan trash-talk sebagai cara untuk mengungkapkan ekspresi diri atau frustrasi mereka. Trash-talk merupakan bentuk perilaku interaksi komunikasi verbal antar pemain yang dapat bersifat menghina dan merendahkan dengan menggunakan kata-kata kasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan pemaknaan mengenai perilaku interaksi komunikasi trash-talk dalam Valorant. Penelitian ini ditulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada empat informan yang tergabung dalam tim informal Gabut Ria Esport. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis menggunakan teori Interaksionisme Simbolik dan konsep Komunikasi Kelompok, penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku interaksi komunikasi trash-talk dalam kelompok bermain Valorant dipengaruhi oleh konsep diri dan respons dari pemain lain. Pemaknaan trash-talk melibatkan proses interaksi sosial dan budaya. Tahapan persiapan, pengalaman, dan refleksi dalam interaksi sosial mempengaruhi bagaimana individu memaknai dan merespons perilaku tersebut. Selain itu, ikatan sosial dalam kelompok bermain Valorant memainkan peran penting dalam memfasilitasi penggunaan trash-talk sebagai bentuk komunikasi yang diterima dan dianggap sebagai bagian dari permainan. Poor communication interaction behavior, or trash-talking, is a phenomenon frequently found in online gaming, including in the game Valorant. Valorant is an intense and competitive game that can influence players to use trash-talk as a way to express themselves or vent their frustration. Trash-talking is a form of verbal communication interaction between players, often involving insults or degrading language. The purpose of this study is to understand the meaning behind trash-talking communication behavior in Valorant. This research is written using a qualitative descriptive approach with a case study method. The data collection was carried out through in-depth interviews with four informants who are members of the informal team Gabut Ria Esport. Based on the interviews and analysis using Symbolic Interactionism theory and Group Communication concepts, this research shows that trash-talking behavior in Valorant player groups is influenced by self-concept and responses from other players. The meaning of trash-talking involves a process of social and cultural interaction. The stages of preparation, experience, and reflection in social interactions affect how individuals interpret and respond to such behavior. Additionally, social bonds within Valorant player groups play a significant role in facilitating the use of trash-talk as an accepted form of communication, which is considered part of the game.
Ibu Tunggal dan Ruang Media Sosial Analisis Kualitatif Pesan Dukungan Sosial dalam Akun Instagram @singlemomsindonesia Fadhila, Izzah Nur; Wisnu Martha Adiputra
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.10443

Abstract

Fenomena meningkatnya penggunaan media sosial sebagai ruang interaksi telah melahirkan bentuk-bentuk baru dukungan sosial, termasuk bagi kelompok rentan seperti ibu tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pesan dukungan sosial dikonstruksikan dalam konten akun Instagram @singlemomsindonesia serta menafsirkan makna dan signifikansinya dalam konteks masyarakat jaringan dengan teori dukungan sosial dan teori masyarakat jaringan. Dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif terhadap 23 unggahan selama periode Agustus hingga Desember 2024, penelitian ini mengkaji tiga aspek utama, jenis pesan, tema, dan cara penyampaian pesan dukungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dukungan sosial yang paling dominan adalah dukungan emosional, disusul dukungan informasional, apresiatif, dan instrumental. Gaya penyampaian yang digunakan umumnya inspiratif dan komunikatif, didukung oleh elemen visual yang memperkuat nuansa afektif dan kohesi komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial tidak sekadar menjadi ruang berbagi, tetapi juga berfungsi sebagai medium pemberdayaan dan artikulasi solidaritas digital. Dalam konteks masyarakat jaringan, pesan dukungan sosial dalam komunitas digital merepresentasikan strategi komunikasi afektif yang dinamis, namun tetap menyisakan tantangan etis seperti kedangkalan relasi, keterbatasan akses, dan potensi komersialisasi solidaritas. Social media has created new spaces for vulnerable groups, including single mothers, to access social support. This study examines the characteristics of social support messages on the Instagram account @singlemomsindonesia, focusing on types, themes, delivery styles, and meanings within the network society. Using qualitative content analysis on 23 posts (August–December 2024), findings show emotional support as dominant, followed by informational, appreciative, and instrumental support. Key themes include motivation, education, and appreciation, delivered through inspirational, formal, and casual styles. Visual elements strengthen emotional connection and symbolic meaning. The study highlights social media as a space for representation and empowerment, despite its limitations in providing structural support.
Aktivitas Nasionalisme Digital: Studi Netnografi Fandom K-Pop di Indonesia Witarti, Denik Iswardani; Putri, Safitri Resita; Ariyani, Pipin Farida
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.13303

Abstract

Di Indonesia, fandom K-pop telah menunjukkan keterlibatan nyata dalam berbagai isu publik seperti dalam penolakan RUU Cipta Kerja, kampanye #TolakPPN12Persen, gerakan #IndonesiaGelap dan #PeringatanDarurat. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana aktivitas digital fandom K-pop berkontribusi dalam membentuk narasi nasionalisme digital di media sosial. Aktivitas digital fandom K-pop dikaji dalam kerangka budaya partisipatif (participatory culture). Fandom K-Pop dipandang bukan hanya sekadar komunitas hiburan melainkan sebagai sebagai aktor sosial  yang aktif berpartisipasi dalam membincangkan demokrasi di ruang digital. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana aktivitas digital fandom K-pop berkontribusi dalam membentuk narasi nasionalisme digital di media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan mix methods dengan paradigma pragmatis. Netnografi dilakukan melalui observasi komunitas daring, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan anggota fandom yang aktif pada kampanye digital bertema kebangsaan. Data kuantitatif diperoleh dari kuesioner daring yang diolah menggunakan teknik text mining dan model klasterisasi teks.  Hasil analisis data ditemukan tiga klaster utama dengan kata-kata dominan seperti retweet, suara, bangga, budaya, donasi, dan konser. Kata-kata tersebut merefleksikan dimensi afiliasi, ekspresi, pemecahan masalah kolektif, dan sirkulasi yang muncul dalam partisipasi digital fandom. Temuan penelitian menegaskan bahwa fandom K-pop di Indonesia berperan sebagai agen partisipatif yang memanfaatkan ruang digital untuk menyuarakan kepedulian sosial, solidaritas nasional, serta kebanggaan budaya Indonesia, sehingga membentuk narasi nasionalisme digital yang inklusif, kolaboratif, dan relevan dengan konteks masyarakat masa kini. In Indonesia, the K-pop fandom has demonstrated tangible involvement in various public issues, ranging from the rejection of the RUU Omnibus Law Cipta Kerja and the #TolakPPN12Persen campaign, to the #IndonesiaGelap (Indonesia is Dark) and #PeringatanDarurat movements. This digital activism illustrates that the K-pop fandom is no longer merely an entertainment community, but a new social actor that also influences democracy in the digital space. This research aims to explain how the digital activity of the K-pop fandom contributes to shaping the narrative of digital nationalism on social media. The research method uses a mixed-methods approach with a pragmatic paradigm. Qualitatively, the study utilizes netnography through online community observation, in-depth interviews, and focus group discussions (FGD) with fandom members who are active in digital campaigns with national themes. Quantitatively, data from online questionnaires are analyzed using text mining techniques and a text clustering model. The initial analysis found three main clusters with dominant words such as retweet, suara, bangga, budaya, donasi, and konser. These words reflect the dimensions of affiliation, expression, collective problem-solving, and circulation that emerge in the fandom's digital participation. The study shows that K-pop fandoms in Indonesia function as participatory agents who utilize digital spaces to express social concern, foster national solidarity, and showcase pride in Indonesian culture, thereby shaping a digital nationalism narrative that is inclusive, collaborative, and relevant to contemporary society.
Negosiasi Identitas Fans Tere Liye dalam #Booktok Indonesia Simorangkir, Kartika; Malika, Najma
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.14447

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan karya sastra, salah satunya melalui #BookTokIndonesia di TikTok. Penelitian ini menganalisis bagaimana fans Tere Liye menegosiasikan identitas mereka dalam merespons video "Tere Liye dan Problem" di platform TikTok. Dengan menggunakan kerangka teori participatory culture dari Jenkins dan konsep identity work, penelitian ini menunjukkan bahwa ruang komentar digital bukan sekadar arena interaksi spontan, tetapi merupakan ruang diskursif tempat penggemar aktif membentuk wacana publik. Metode penelitian kualitatif dengan analisis tematik digunakan untuk menganalisis 225 komentar relevan dari total 1.508 komentar pada video TikTok yang membahas kontroversi Tere Liye. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama dalam negosiasi identitas fans: (1) pembelaan terhadap penulis, (2) pemisahan karya dan penulis, dan (3) penyusunan ulang narasi. Ketiga strategi ini mencerminkan empat bentuk partisipasi dalam participatory culture: affiliations, expressions, collaborative problem-solving, dan circulations. Temuan menunjukkan bahwa fans Tere Liye tidak hanya berperan sebagai konsumen pasif, tetapi sebagai "prosumer" yang aktif memproduksi makna, mempertahankan identitas kolektif, dan membentuk diskursus literasi digital. Proses negosiasi identitas ini merupakan bentuk identity work yang bertujuan melindungi identitas komunal dari stigma eksternal sambil mempertahankan legitimasi sebagai anggota komunitas literasi. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman fan studies dan participatory culture dalam konteks literasi digital Indonesia, menunjukkan bahwa BookTok merupakan arena sosial-budaya di mana identitas dinegosiasikan dan makna diproduksi. The development of social media has transformed how society interacts with literary works, particularly through the #BookTokIndonesia on TikTok. This research analyzes how Tere Liye's fans negotiate their identities in responding to the video "Tere Liye dan Problem" on the BookTok platform. Using Jenkins' participatory culture framework and the concept of identity work, this study demonstrates that digital comment sections are not merely spontaneous interaction spaces, but discursive arenas where fans actively shape public discourse. A qualitative research method with thematic analysis was employed to analyze 225 relevant comments from a total of 1,547 comments on a TikTok video discussing the Tere Liye controversy. The research findings identify three main themes in fans' identity negotiation: (1) defense of the author, (2) separation of work and author, and (3) narrative reconstruction. These three strategies reflect four forms of participation in participatory culture: affiliations, expressions, collaborative problem-solving, and circulations. The findings reveal that Tere Liye's fans function not merely as passive consumers, but as "prosumers" who actively produce meaning, maintain collective identity, and shape digital literacy discourse. This identity negotiation process represents a form of identity work aimed at protecting communal identity from external stigma while maintaining legitimacy as members of the literacy community. This research contributes to understanding fan studies and participatory culture in the Indonesian digital literacy context, demonstrating that BookTok serves as a socio-cultural arena where identities are negotiated and meanings are produced.
Student’s Perspectives on AI and Critical Thinking in Academic Writing Luthuli , Mmeli Advocate; Naidoo, Gedala Mulliah
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.15435

Abstract

AI telah menjadi hal yang umum di sektor pendidikan, dan pesatnya masuknya alat-alat AI membuat mahasiswa dan dosen kewalahan. Penggunaan alat AI yang akurat menawarkan peluang untuk memajukan pembelajaran mahasiswa; namun, penggunaan yang salah menimbulkan risiko, yang memungkinkan mahasiswa untuk mengabaikan praktik penelitian mendasar dan berpikir kritis demi membiarkan AI menghasilkan tugas atau makalah penelitian mereka. Kecurangan akademik dan plagiarisme telah menjadi masalah utama dalam pendidikan tinggi. Studi ini menyelidiki mengapa mahasiswa menggunakan AI dan bagaimana hal itu membentuk keterampilan berpikir kritis dan penulisan akademik mahasiswa. Berdasarkan teori penggunaan dan kepuasan (UGT) dan teori pembingkaian (FT), penelitian ini mengeksplorasi motivasi mahasiswa untuk menggunakan AI dalam pekerjaan akademik mereka. Pendekatan penelitian kuantitatif digunakan, dengan menggunakan Google Forms untuk pengumpulan dan analisis data. Temuan menunjukkan bagaimana mahasiswa menggunakan alat AI untuk meningkatkan penulisan akademik dan berpikir kritis mereka. Membangun lingkungan penelitian dan pembelajaran yang berkelanjutan membutuhkan kepatuhan terhadap pedoman etika yang mengatur penggunaan alat AI dalam penulisan akademik. Universitas perlu mengembangkan kebijakan yang jelas untuk mempermudah mahasiswa menggunakan perangkat AI secara etis, yang akan membantu mereka berpikir lebih kritis. AI has become ubiquitous in the educational sector, and the rapid influx of AI tools overwhelms both students and lecturers. The accurate use of AI tools offers opportunities to advance student learning; however, the incorrect use poses risks, which enable students to bypass fundamental research practices and critical thinking in favour of allowing AI to generate their assignments or research papers. Academic dishonesty and plagiarism have become major concerns. This study investigates how the use of AI is shaping students' critical thinking skills and academic writing. Moreover, focusing on the effectiveness of AI detection and prevention of plagiarism. Grounded in the Uses and Gratifications and Framing theories, the research explores students’ motivations for using AI in their academic work. A quantitative and qualitative research approach is employed, using Google Forms for data collection and analysis. The findings provided how students use AI tools to improve their academic writing and critical thinking. Building a sustainable research and learning environment and adhering to ethical future governing the use of AI tools in academic writing. The university must ensure a clear policy is developed to facilitate the correct use of AI tools to enhance critical thinking among students, and the digital development for both students and academics is essential.  
Representasi Figur Suami Ideal di TikTok: Kasus Na Daehoon Wahyuniar, Maulia; Lukman Hakim
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.15762

Abstract

TikTok telah menjadi ruang strategis dalam pembentukan dan negosiasi makna sosial terkait peran gender dan relasi domestik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana publik melakukan penafsiran ulang terhadap representasi figur “suami ideal” dalam kasus kontroversi viral yang melibatkan Na Daehoon di TikTok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi kualitatif. Data penelitian meliputi dua video dari akun @NaDaehoon, satu video reaksi netizen, serta komentar publik yang dipilih secara purposif pada periode Juli–November 2025. Analisis didasarkan pada teori representasi Stuart Hall dan konsep caring masculinity untuk menelaah proses produksi dan negosiasi makna di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legitimasi figur “suami ideal” dibangun melalui tiga mekanisme utama: keterlibatan visual dalam pengasuhan domestik, pembingkaian naratif tentang kehadiran emosional dan konsistensi peran ayah, serta praktik negotiated reading audiens berbasis pengalaman domestik personal. Di tengah kontroversi, publik berperan aktif dalam melakukan representasi kolektif yang mempertahankan citra maskulinitas afektif dengan memprioritaskan tanggung jawab pengasuhan dibandingkan isu moral personal. Temuan ini menegaskan bahwa audiens tidak bersifat pasif, melainkan berfungsi sebagai agen kunci dalam stabilisasi makna maskulinitas di budaya partisipatif digital. TikTok has emerged as a significant platform for constructing and negotiating social meanings related to gender roles and domestic relations. This study aims to examine how audiences engage in reframing the representation of the “ideal husband” figure in a viral controversy involving Na Daehoon on TikTok. Employing a qualitative descriptive approach, this research utilizes qualitative content analysis. The data consist of two videos from the @NaDaehoon account, one netizen reaction video, and purposively selected public comments collected between July and November 2025. The analysis is grounded in Stuart Hall’s theory of representation and the concept of caring masculinity to explore meaning production and negotiation in digital spaces. The findings reveal that the legitimacy of the “ideal husband” figure is constructed through three dominant mechanisms: visual representations of domestic caregiving, narrative framing emphasizing emotional presence and consistency in fatherhood roles, and audience negotiated readings rooted in personal domestic experiences. Amid controversy, audiences actively participate in a process of collective reframing that sustains affective masculinity by prioritizing caregiving responsibility over personal moral allegations. These findings highlight the active role of audiences as key agents in stabilizing and negotiating masculine ideals within participatory digital culture.
Representasi Perempuan Sebagai Subjek Aktif dalam Wacana Keintiman Seksual Sari, Ratna Permata
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.16077

Abstract

Lanskap media dan budaya masih didominasi oleh sistem patriarki yang mereproduksi hegemoni yang menempatkan perempuan sebagai objek pasif, sementara otoritas atas tubuh dan hasrat mereka sendiri termarjinalkan. Podcast In Her View dari Pancatera hadir sebagai ruang tandingan terhadap wacana dominan tersebut. Dibawakan oleh lima orang perempuan, podcast ini secara eksplisit menjadikan perempuan sebagai subjek aktif sekaligus pemegang otoritas dalam hal ini dalam membahas keintiman seksual. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis bagaimana podcast ‘In Her View’ merepresentasikan perempuan sebagai subjek aktif dalam wacana keintiman seksual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis wacana multimodal dari Kress dan van Leeuwen. Unit analisis riset ini adalah video episode ‘Love & sex’. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa podcast ‘In Her View’ berfungsi sebagai alat kontra-hegemonik yang secara aktif merebut otoritas wacana keintiman seksual perempuan. Pertama,podcast ini merepresentasikan perempuan sebagai subjek aktif dan berdaulat melalui klaim linguistik yang menolak posisi pasif dan membangun makna keintiman yang kolaboratif. Kedua, penggunaan modalitas afektif dalam mengungkap preferensi bukan sekadar selera, tetapi tindakan legitimasi yang menegaskan wewenang perempuan untuk mendefinisikan hasratnya yang dinamis dan kompleks. Ketiga, konstruksi erotisme yang dibangun menunjukkan pemetaan ulang hasrat yang berpusat pada subjektivitas, sensorialitas, dan kekuatan intelektual perempuan, jauh dari standar patriarkal yang terfokus pada fisik. Adanya diskusi terbuka tentang komunikasi kebutuhan seksual memperlihatkan upaya strategis perempuan untuk mengontrol proses penandaan di ranjang.  Hal ini membentuk sebuah "peta hasrat alternatif" yang menegaskan otonomi, refleksivitas, dan pluralitas perempuan sebagai produsen makna atas pengalaman intim mereka sendiri. The media and cultural landscape remain dominated by a patriarchal system that reproduces a hegemony positioning women as passive objects, while marginalizing their authority over their own bodies and desires. The podcast “In Her View “ from Pancatera emerges as a counter-space to this dominant discourse. Hosted by five women, the podcast explicitly positions women as both active subjects and authoritative agents in discussing sexual intimacy. This research focuses on analyzing how the podcast In Her View represents women as active subjects in the discourse of sexual intimacy. The study uses the multimodal discourse analysis method by Kress and van Leeuwen, with the Love & Sex video episode as the unit of analysis. The findings show that In Her View functions as a counter-hegemonic tool that actively reclaims authority over the discourse of women's sexual intimacy. First, the podcast represents women as active and sovereign subjects through linguistic claims that reject a passive position and construct a collaborative meaning of intimacy. Second, the use of affective modality in expressing preferences is not merely a matter of taste but an act of legitimization, asserting women's authority to define their dynamic and complex desires. Third, the constructed eroticism demonstrates a remapping of desire centered on women's subjectivity, sensoriality, and intellectual strength, moving beyond patriarchal standards focused solely on physicality. Open discussions about communicating sexual needs illustrate women's strategic efforts to control the process of signification in intimate contexts. This forms an "alternative cartography of desire" that affirms women's autonomy, reflexivity, and plurality as producers of meaning over their own intimate experiences.
Negosiasi Identitas Kedaerahan dalam Podcast Sebagai Praktik Komunikasi Antarbudaya Qur'ani, Aqila; Ridho, Subkhi
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.16408

Abstract

Keberagaman budaya di Indonesia membentuk dinamika komunikasi antarbudaya yang semakin kompleks, terutama dalam ruang media baru seperti podcast. Dominasi kedaerahan Indonesia barat, puluhan tahun muncul dalam berbagai program media konvensional; radio, koran, televisi, bahkan di media baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik negosiasi identitas kedaerahan dalam media baru, yaitu podcast Titik Kumpul, dengan fokus pada penyesuaian logat dan gaya komunikasi yang dilakukan oleh host minoritas terhadap kelompok mayoritas. Menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi non-partisipan, dokumentasi audio-visual, dan transkripsi verbatim dua episode podcast yang dipilih secara purposif. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan tiga teori: Identity Negotiation Theory dari Stella Ting-Toomey, konsep cultural identity Stuart Hall, dan teori dramaturgi Presentation of Self Erving Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian linguistik yang dilakukan host minoritas berfungsi sebagai strategi negosiasi identitas untuk memperoleh penerimaan sosial, menjaga keharmonisan interaksi, dan meminimalisasi jarak kultural. Identitas kedaerahan tidak tampil sebagai sesuatu yang statis, melainkan bersifat cair, performatif, dan dinegosiasikan secara situasional di ruang publik digital. Penelitian ini menegaskan bahwa podcast berperan sebagai ruang kultural alternatif yang memungkinkan pertemuan, percampuran, dan representasi ulang identitas kedaerahan secara inklusif. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi antarbudaya dan media baru dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia. Cultural diversity in Indonesia shapes increasingly complex dynamics of intercultural communication, especially in new media spaces like podcasts. The dominance of Western Indonesian regions has persisted for decades across various conventional media: radio, newspaper, television, and even in new media. This study aims to analyze the practice of regional identity negotiation in new media, specifically in the podcast Titik Kumpul, focusing on the adaptation of the minority host’s accent and communication style toward the majority group. Using a qualitative approach, data were obtained through non-participant observation, audio-visual documentation, and verbatim transcription of two purposefully selected podcast episodes. The analysis integrated three theories: Stella Ting-Toomey’s Identity Negotiation Theory, Stuart Hall’s Concept of Cultural Identity, and Erving Goffman’s Dramaturgical Theory of the Presentation of Self. The research findings indicate that the linguistic adjustments made by the minority host serve as a strategy for negotiating identity to gain social acceptance, maintain interactional harmony, and minimize cultural distance. Regional identity does not appear static but rather fluid, performative, and situationally negotiated in digital public space. This research confirms that podcasts serve as an alternative cultural space that allows for inclusive encounters, mixing, and re-representation of regional identities. This finding contributes to the development of intercultural communication and new media studies in Indonesia’s multicultural society.

Page 4 of 4 | Total Record : 38