cover
Contact Name
FRISCO TALISTI
Contact Email
friscotalisti@gmail.com
Phone
+6285819452254
Journal Mail Official
jnkphb@gmail.com
Editorial Address
STIKes Patria Husada Blitar JALAN SUDANCO SUPRIADI NO 168 KOTA BLITAR - EAST JAVA - INDONESIA
Location
Kota blitar,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
ISSN : 2355052X     EISSN : 25483811     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) published by STIKes Patria Husada Blitar. Published three times in a year, its in April, August and December. Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) only receive original manuscripts related to science development and have not been published in domestic and foreign journals. The content of the manuscripts can be in the form of research results to support the progress of science, education and nursing practice and professional midwifery.
Articles 604 Documents
Hubungan Kadar Ureum, Hemoglobin dan Lama Hemodialisa dengan Kualitas Hidup Penderita PGK Ardhiles Wahyu Kurniawan; Juliati Koesrini
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p292-299

Abstract

Penderita penyakit ginjal kronik mengalami penumpukan produk sisa dalam darah khususnya ureum yang menjadi toksin bagi tubuh. Anemia pada pasien PGK menyebabkan badan lemah dan penurunan perfusi jaringan. Terapi hemodialisa bisa menjadi stresor bagi pasien, karena terapi ini memerlukan waktu yang lama, keadaan ini berpotensi menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kadar ureum, hemoglobin dan lama hemodialisa dengan kualitas hidup penderita PGK di Ruang Hemodialisa RS dr Soepraoen. Desain penelitian ini menggunakan kolerasional dengan pendekatan cross sectional. Responden adalah penderita PGK dengan terapi hemodialisis di ruang hemodialisa RS dr Soepraoen Malang. Sampel sejumlah 92 responden yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Variabel yang diteliti adalah ureum, hemoglobin, lama hemodialisa dan kualitas hidup. Analisa data menggunakan uji korelasi somers’d gamma. Berdasarkan hasil uji korelasi somers’d gamma menunjukkan ada hubungan antara ureum dengan kualitas hidup responden dibuktikan dengan nilai p= 0,025 , r = 0,4. Ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan kualitas hidup responden dibuktikan nilai p= 0,012 , r = 0,4. Tidak ada hubungan antara lama hemodialisa dengan kualitas hidup responden dibuktikan nilai p= 0,609, r = 0,6. Hasil penelitian ini meningkatkan kemampuan berpikir kritis perawat yaitu perubahan ureum dan hemoglobin berdampak pada kualitas hidup pasien PGK. Patients with chronic kidney disease experience a buildup of waste products in the blood, especially urea which is toxic to the body. Anemia in CKD patients causes weak body and decreased tissue perfusion. Hemodialysis therapy can be a stressor for patients, because this therapy requires a long time, this situation has the potential to reduce the quality of life of patients. The purpose of this study was to determine the relationship of urea levels, hemoglobin and duration of hemodialysis with the quality of life of patients with CKD in the Hemodialysis Room of dr. Soepraoen Hospital. The design of this study uses a cross-sectional study. Respondents were CKD sufferers with hemodialysis therapy in the hemodialysis room at dr. Soepraoen Hospital, Malang. Sample were 92 respondents who met the exclusion and inclusion criteria. The variables were urea, hemoglobin, length of hemodialysis and quality of life. Data analysis uses the gamma correlation test. Based on the gamma correlation test results showed that there was a relationship between the ureum and the quality of life of the respondents as evidenced by the value of p = 0.025, r = 0.4. There was a relationship between hemoglobin levels with the quality of life of the respondents as evidenced by the value of p = 0.012, r = 0.4. There was no relationship between the length of hemodialysis with the quality of life of respondents as evidenced by the value of p = 0.609, r = 0.6. The results of this study improve the critical thinking skills of nurses, namely changes in urea and hemoglobin affect the quality of life of CKD patients. 
Efektivitas Terapi Tertawa tehadap Insomnia dan Tekanan Darah pada Lansia Desi Natalia Trijayanti Idris; Kili Astarani
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p339-347

Abstract

Menua bukanlah suatu penyakit melainkan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi stressor dari dalam maupun dari luar tubuh. Masalah-masalah yang terjadi pada lansia diantaranya mudah jatuh, mudah lelah, gangguan kardiovaskuler, nyeri atau ketidaknyamanan, gangguan eliminasi, gangguan ketajaman pengelihatan, gangguan pendengaran, gangguan tidur, mudah gatal. Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering ditemukan pada lansia yang dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Lansia yang mengalami insomnia cenderung terjadi peningkatan tekanan darah. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia dan peningkatan tekanan darah pada lansia yang dapat dilakukan oleh lansia secara mandiri ataupun berkelompok yaitu dengan non farmakologi salah satunya adalah terapi tertawa. Tujuan menganalisis pengaruh terapi tertawa  terhadap insomnia dan tekanan darah pada lansia di Panti Wredha Santo Yoseph Kediri. Desain penelitian ini mengunakan Quasi Eksperimental dengan menggunakan metode one group pre-test post-test design. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 14 lansia yang diambil secara kuota sampling dari 28 lansia yang ada. Penelitian dilaksanakan pada bulan juni-juli 2019. Pengumpulan data dengan mengukur insomnia dan tekanan darah sebelum dilakukan terapi tertawa. Analisis data mengunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi tertawa dengan insomnia berdasarkan uji wilcoxon (p=0.002), tidak ada pengaruh terapi tertawa dengan tekanan darah pada lansia berdasarkan uji wilcoxon (p=0.190). Terapi tertawa dapat digunakan sebagai penatalaksaan secara non faramkologi tindakan mandiri perawat dalam mengurangi insomnia yang terjadi pada lansia. Tekanan darah pada lansia tidak terdapat perubahan dengan terapi tertawa hal ini dapat dikarenakan perubahan fisiologi lansia salah satunya adalah fungsi kardiovaskuler. Aging is a natural process and is not a disease that can result in reduced endurance in dealing with stressors from within and from outside the body. Many problems that can occur in the elderly include fatigue, impaired balance that makes the elderly easy to fall, disorders of the cardiovascular system, pain or discomfort, disturbances in elimination of frequent urination or unable to hold urine, impaired vision, hearing, resting disorders and sleep, and itch easily. Insomnia is a sleep disorder or problem that is often found in the elderly which can reduce the quality of life of the elderly. Elderly people who experience insomnia tend to increase blood pressure. Management that can be done to overcome insomnia and increased blood pressure in the elderly is done independently or in a group that is by means of nonpharmacology for example is laughter therapy. The purpose of this study was to analyze the effect of laughter therapy on insomnia and blood pressure in the elderly at the St. Yoseph Kediri Nursing Home. The design uses Quasi Experimental with one group pre-test post-test design method. The samples of this study were 14 elderly taken by sampling quota from 28 existing elderly. The study was conducted in June until July 2019. Collection data by measuring insomnia and blood pressure (BP) before laughing therapy. Analysis data using Wilcoxon test. The results showed there was an effect of laughing therapy with insomnia based on the Wilcoxon test (p = 0.002) and there was no effect of laughing therapy with blood pressure in the elderly based on the Wilcoxon test (p = 0.190). Laughter therapy can be used as a non-faramchologic treatment of nurses' independent actions in reducing insomnia that occurs in the elderly. Blood pressure in the elderly there is no change with laughter therapy this can be due to changes in the physiology of the elderly one of which is cardiovascular function.
Pengaruh Spiritual Guided Imagery and Music terhadap Kecemasan Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi Muhammad Saleh Nuwa; Stefanus Mendes Kiik
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i1.ART.p095-106

Abstract

Latar Belakang : Kemoterapi  membuat pasien yang didiagnosa menderita kanker memiliki perasaan gelisah, cemas dan takut akan bayang-bayang kematian yang menghantui setiap saat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Spiritual Guided imagery and music (SGIM) terhadap kecemasan pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Metode : Jenis Penelitiani ini adalah  Quasi experimental dengan rancangan one group pre and post test with control group design. Penelitian  dilaksanakan diruangan kemoterapi pada 30 pasien yang mendapatkan terapi SGIM dan 30 sebagai kelompok kontrol.  Skore kecemasan  diukur sebanyak 3 kali yaitu 1 hari  dan 30 menit sebelum kemoterapi serta 1 hari setelah kemoterapi. Kecemasan diukur menggunakaan skala HARS. Data dianalsisi dengan uji GLM repeated mesure dengan bantun SPSS 21. Hasil : sebanyak   73,3 % dan  26,7 pasien memiliki kecemasan berat dan sedang  saat pre test    menjadi kecemasan  sedang (56,7%) dan kecemasan ringan   (43,3%) pada pengukuran 30 menit sebelum kemoterapi dan pada akhir pengukuran berada pada kecemasan ringan (63,4 %) dan tidak ada kecemasan (33,3 %) dan  sisanya 3,3 % masih mengalami kecemasan berat pada kelompok SGIM.  Analisis uji GLM repeated measure post hock banferoni diketahui p value = 0,001, dengan nilai r square =0,29. Hal ini menunjukan ada pengaruh SGIM terhadap penurunan kecemasan pasien kanker yang menjalani kemoterapi dengan besar sumbangan   pengaruh sebesar 29% sisanya dipengaruhi variabel yang lain. Kesimpulan : Pemberian Terapi SGIM menurunkan  kecemasan pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Rekomendasi penelitian adalah SGIM dapat diaplikasikan sebagai salah satu terapi  komplementer dalam pemberian intervensi keperawatan di rumah sakit untuk menurunkan kecemaasan  pasien terutama pada saat pertama kali melakukan kemoterapi. Background : Chemotherapy make patients who diagnosed with cancer have feelings of aneasy, anxiety and fear of the shadows of death that haunts every time. The aim of this study was to investigate the effect of Spiritual Guided imagery and music (SGIM) on the anxiety of cancer patients undergoing chemotherapy. Method : This is a Quasi experimental research study with one group pre and post test design with control group design. The study was conducted in a chemotherapy room in 30 patients who received SGIM therapy and 30 as a control group. Anxiety scores  were measured 3 times: 1 day and 30 minutes before chemotherapy and 1 day after chemotherapy. Anxiety is measured using the Hamilton Anciety Rating Scale (HARS). Data were analyzed by GLM repeated mesure  test with SPSS 21. Results : as many as 73.3% and 26.7 patients had severe and moderate anxiety during the pre test becoming moderate anxiety (56.7%) and mild anxiety (43.3%) at the measurement 30 minutes before chemotherapy and at the end of the measurement had mild anxiety (63.4%) and (33,3 %) had no anxiety, and the rest  3.3% still have experience  of severe anxiety in the SGIM group. The Analysis of  GLM repeated measure test with   post hock banferoni known p value = 0.001, with the  r sguare value = 0.29. This shows that there is an effect of SGIM on anxiety reduction of cancer patients during chemotherapy with  a contribution of 29% ,and the rest are affected by  other variables. Conclusion :  SGIM Therapy reduces anxiety of cancer patients undergoing chemotherapy. The research recommendation is that SGIM can be applied as one of the complementary therapies in providing nursing interventions in hospitals to reduce patient anxiety, especially at the  first time undergoing chemotherapy
Faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Orang Tua tentang Stunting pada Balita Anita Rahmawati; Thatit Nurmawati; Liliani Permata Sari
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p389-395

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi anak yang utama yang dapat menimbulkan dampak besar, namun masyarakat khususnya orangtua banyak yang belum memahami stunting dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dan yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap pengetahuan orang tua tentang stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan populasi yaitu orangtua yang memiliki anak balita usia 0-3 tahun di Posyandu Dusun Plosoarang, Sanankulon, Kabupaten Blitar. Sampel diambil dengan purposive sampling sebanyak 20 orang dengan kriteria inklusi orang tua yang mengantar ke posyandu dan minimal berpendidikan SMP. Pengukuran data menggunakan kuesioner meliputi data pengetahuan, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan informasi yang pernah diperoleh. Analisis bivariat menggunakan koefisien kontingensi. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda dengan nilai signifikan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan pengetahuan tentang stunting yaitu usia (p=0,017), pendidikan (p=0,043), informasi (p=0,002). Analisis uji regresi logistik menunjukkan informasi menjadi faktor yang paling dominan terhadap pengetahuan (p=0,025). Faktor yang tidak berhubungan yaitu pekerjaan (p=0,078) dan pengalaman (p=0,822). Petugas posyandu agar memberikan informasi tentang stunting saat kegiatan posyandu misalnya melalui penyuluhan atau konseling. Orang tua diharapkan agar meningkatkan pengetahuan tentang stunting dengan mencari informasi melalui berbagai media yang ada. Stunting is still a major child nutrition problem that can have a big impact. But many people especially parents do not understand about stunting correctly. The aim of this study was to analyze the factors that are related and which have the most dominant influence on parental knowledge about stunting in toddler. This study uses cross sectional design with a population that is parents who have children aged 0-3 years old at Posyandu of Plosoarang village, Sanankulon, Blitar. Sampel were taken bu purposive sampling of 20 people with the inclusion criteria of parent who took to posyandu and at least junior high school education. Data measurement using a questionnaire includes data on knowledge, age, education, employment, and information ever obtained. Bivariate analysis uses contingency coefficients. Multivariate analysis using multiple logistic regression test. The Result showed factors related to knowledge about stunting are age (p=0,017), education (p=0,043), information (p=0,002). Logistic regression analysis showed that information was the most dominant factor in knowledge (p=0,0025). Unrelated factors were work (p=0,078) and experience (p=0,822). Posyandu officers are expectedto provide information about stunting during posyandu activities and parents are expected to increase knowledge about stunting by finding information through various media.
Gestation Period and Its Bio-Psychosocial and Economic Factors Analysis on Toddler Growth and Development Nicky Danur Jayanti; Senditya Indah Mayasari
Journal of Ners and Midwifery Vol 8 No 1 (2021)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v8i1.ART.p026-032

Abstract

The growth and development of toddlers is influenced by hereditary and environmental factors. Genetic factors, biologically have strong influences on toddlers’ growth in their early years of life. While psychologically, a good interpersonal relation of pregnant women with their families will make them more ready to undergo the pregnancy and childbirth. On the other hand, socially, the level of parental education might affect the nutrition intake and parenting patterns. For the economic factor, the level of family income and their ability to provide sufficient nutrition input might affect the nutritional status during gestation. The nutrition input during pregnancy highly contributes to the fetus growth and development. A poor nutrition input during gestation might cause an Intrauterine Growth Retardation (IUGR) and growth and development disorder. This study aimed to analyze the bio-psychosocial and economic factors of gestation period on toddler growth and development. This is a correlational analytic study with 80 mothers and toddlers as the sample. The data was analysed using univariat, bivariate with Chi square and multivariate with logistic regression. The results show that the statistically significant independent variables which influence the growth and development of toddlers are the mother height (p = 0.001), LILA (p = 0.008), family income (p = 0.007), infant birth weight (p = 0.009) and family support (p = 0.013). While the statistically insignificant independent variable is the mother level of education (p = 0.086).
Hubungan Pelayanan Lansia Berbasis Kekerabatan dengan Lansia Tangguh di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang Agus Setyo; Lucia Retnowati; Nurul Hidayah
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i2.ART.p223-230

Abstract

Usia harapan hidup periode 2015-2020 menjadi 73,2 tahun sehingga mempengaruhi estimasi proporsi penduduk lansia. Jumlah Lansia Indonesia akan mencapai 28,8 juta orang atau 11,34 persen pada tahun 2020. Sebaran penduduk lansia tahun 2017 di Indonesia, pada urutan ketiga tertinggi ditempati oleh Jawa Timur yaitu 2,9 juta (12,25%) lebih dari 10% sehingga Jawa Timur bisa dikategorikan sebagai provinsi dengan penduduk tua (aging population) dengan jumlah lansia di Malang diperkirakan pada tahun 2020 sebesar 371.977 (Badan Pusat Statistik, 2015). Berdasarkan studi pendahuluan di Desa Toyomarto Pebruari 2018 diperoleh 320 lansia potensial. Sesuai hasil wawancara dengan 10 lansia potensial diperoleh data 70% masih aktif bekerja, 40% aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan 100% mandiri dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, 70% mendapat dukungan keluarga sebagian dari dimensi (fisik, emosional, lingkungan, intelektual, profesional vokasional, sosial kemasyarakatan dan spiritual. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia potensial yang tinggal di Desa Toyomarto Kecamatan Ardimulyo sejumlah 320 orang. Sedangkan sampel dalam penelitian adalah sebagian lansia yang tinggal di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang sebesar 30 responden. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi gamma diperoleh nilai p=0,000 yang menunjukkan bahwa hubungan pelayanan lansia berbasis kekerabatan dengan lansia tangguh bermakna. Dukungan keluarga dalam membina lansia belum optimal sehingga perlu mendapatkan perhatian agar kualitas dukungan menjadi baik. Perlunya peningkatan kualitas pembinaan oleh keluarga/kerabat dalam memberikan pelayanan kepada lansia dapat dilaksanakan dengan cara menjalin kerjasama lintas program maupun sektor agar terwujudnya lansia tangguh akan semakin nyata dan berlanjut hingga pemanfaatan keterlibatan lansia tangguh dalam mengisi pembangunan kesehatan khususnya kesehatan keluarga dan masyarakat. The life expectancy in 2015-2020 was 73.2 years, thus affecting the estimated proportion of the elderly population. The number of elderly in Indonesia will reach 28.8 million people or 11.34 percent by 2020. The distribution of the elderly population in 2017 in Indonesia, East Java  was the third highest by 2.9 million (12.25%), more than 10%, categorized as a province with an aging population (aging population) with the number of elderly in Malang estimated in 371,977 on 2020 (Badan Pusat Statistik, 2015). Based on preliminary studies in Toyomarto Village, February 2018, there were 320 potential elderly people. Based on the interview of 10 potential elderly, 70% were still actively working, 40% were active in community activities, 100% were independent in fulfilling their daily needs, 70% have family support in some part of dimensions (physical, emotional, environmental, intellectual, vocational professional, social and spiritual). This study aimed to analyze the correlation of kinship-based elderly service (emotional, spiritual, social, physical, environmental, intellectual, vocational professional) and resilient elderly in Toyomarto Village, Singosari District, Malang Regency. The study was a cross sectional study. The population was 320 people of all potential elderly living in Toyomarto Village, Ardimulyo Subdistrict. The sample was the majority of elderly people living in Toyomarto Village, Singosari Subdistrict, Malang Regency for 30 respondents. The sampling technique used simple random sampling. The analysis used gamma correlation test which obtained p value = 0,000 indicated that there was a correlation of elderly-based services and resilient elderly. The need to improve quality of guidance by families / relatives in providing services to elderly can be carried out by establishing cross-program and sector collaboration so that the realization of strong elderly people will become more apparent and continue to utilize involvement of strong elderly people in fulfilling health development, especially family and community health.
Faktor Risiko Kejadian Gastritis di Wilayah Kerja Puskesmas Bantilang Tahun 2019 Chrecencya Nirmalarumsari; Febriani Tandipasang
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i2.ART.p196-202

Abstract

Gastritis merupakan penyakit urutan pertama terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Bantilang di tahun 2017-2018. Faktor yang memicu terjadinya gastritis diantaranya : pola makan, sosial ekonomi, riwayat gastritis keluarga, konsumsi alkohol, stress, dan obat-obatan. Tujuan penelitian mengetahui faktor risiko antara pola makan, sosial ekonomi, stress, dan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol terhadap kejadian gastritis. Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 893 orang, menggunakan rumus slovin dan teknik porposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 163 orang. Hasil Penelitian dengan analisa chi-square (α=0,05) didapatkan pola makan (P=1,000; OR=1,006), konsumsi alkohol (P=1,000; OR=0,991), Stress (P=0,448; OR=0,986), sosial ekonomi (P=0,390; OR=1,000). Hal ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara 4 variabel independen dengan kejadian gastritis (P>0,005). Terdapat risiko untuk menderita penyakit gastritis meskipun kurang bermakna. Perlunya Pengoptimalan pelaksanaan program di Dinas terkait untuk membangun sikap masyarakat berprilaku hidup sehat melalui penyuluhan penyakit gastritis dan sosialisasi pencegahan terjadinya penyakit gastritis.  Gastritis is the number one disease in the working area of Bantilang Public Health Center in 2017-2018. Factors that trigger gastritis include : diet, socio economic, family gastritis history, alcohol consumption, stress, and drugs. The purpose of the research was to find out the risk factors between diet, socio economic, stress, and habits of consuming alcoholic beverages against gastritis. The research used analytic observational research design with cross sectional approach. The population was 893 people, taken by using the Slovin formula. Purposive sampling technique were used to obtain the sample of 163 people. Research results with chi-square analysis (α=0,05) found a diet (P=1,000; OR=1,006), alcohol consumption (P=1,000; OR=0,991), stress (P=0,448; OR=0,986), social economy (P=0,390; OR=1,000) meant there was no correlation between 4 independent variables with the incidence of gastritis (P>0,005). There was a risk of suffering from gastritis even though less significant. It is needed to optimize the implementation of the programs in the health center to build community attitudes towards healthy living through counseling for gastritis and promoting the prevention of gastritis. 
Faktor Ketidakpuasan Ibu Hamil dalam Pelayanan Asuhan Kehamilan Dwie Ayu; Sulistyaningsih Sulistyaningsih
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i1.ART.p011-023

Abstract

Pelayanan asuhan kehamilan sebagai strategi untuk menurunkan angka kematian ibu. Salah satu masalah penting yang terus dihadapi adalah kurangnya kualitas baik pelayanan antenatal sehingga mempengaruhi kepuasan klien. Kepuasan merupakan indikator mutu pelayanan. Kepuasan ibu hamil penting untuk perbaikan lebih lanjut dari kualitas perawatan antenatal terfokus dan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang beragam bagi wanita hamil. Tujuan dari systematic literature review ini adalah untuk menyimpulkan dan memeriksa literature yang berhubungan kepuasan ibu hamil terhadap kualitas pelayanan dalam asuhan kehamilan dan untuk mengetahui penyebab ketidakpuasan dalam pelayanan asuhan kehamilan. Studi apprasial menggunaan program Critical Appraisal Skills Program (CASP) dan metode sintesis menggunakan modifikasi PICO dengan sumber data didapatkan dari PubMed dan ProQuest terdapat 734 artikel yang di review. Kriteria inklusi adalah (1) Ibu hamil; (2) Pelayanan dalam Asuhan kehamilan; (3) Kepuasan ibu hamil; (4) Teks lengkap; (5) Artikel yang diterbitkan dari 2013 hingga 2018; dan (6) jurnal internasional. Terdapat 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Kepuasan ibu hamil terhadap kualitas pelayanan asuhan kehamilan di fasilitas kesehatan dipengaruhi oleh layanan klinik, aksesibilitas  klinik dan interaksi dokter. Penyebab ketidakpuasan ibu hamil dalam pelayanan asuhan kehamilan diantaranya lamanya waktu menunggu, fasilitas kesehatan dan komunikasi interpersonal. Dari hasil 4 artikel yang diulas didapatkan faktor utama yang menyebabkan ketidakpuasan dalam pelayanan asuhan kehamilan adalah lamanya waktu menunggu. Perlu pelayanan ANC dengan pendekatan HTA (health technology assasment) untuk mempercepat pelayanan administrasi dan observasi awal pada ibu hamil dengan mengintegrasikan teknologi RFID (Radio Frequency identification) dan WSN (wireless sensor network). Pregnancy care services as a strategy to reduce maternal mortality. One important problem that continues to increase is the good quality of antenatal services that affects client satisfaction. Satisfaction is an indicator of service quality. Pregnancy satisfaction is important for further improvement of the quality of focused antenatal care and to provide comprehensive health services for pregnant women. The purpose of this,  systematic literature review is to conclude and examine the literature relating to the satisfaction of pregnant women with the quality of care in care Appraisal studies using the Critical Appraisal Skills Program (CASP) and synthesis methods using PICO with data sources obtained from PubMed and ProQuest containing 734 articles as reviewed. Inclusion criteria are (1) Pregnant women; (2) Services in Pregnancy Care; (3) Satisfaction of pregnant women; (4) Full text; (5) Articles published from 2013 to 2018; and (6) international journals. There are 5 articles that meet the inclusion criteria. Satisfaction of pregnant women towards the quality of pregnancy care services in health facilities as assessed by clinical services, clinic accessibility and physician interaction. The cause of dissatisfied pregnant women in pregnant care services is waiting for the length of waiting time, health facilities and interpersonal communication. From the results of 4 articles worthy of review about the main factors that cause dissatisfaction in care services Need ANC assistance by discussing HTA (health technology assessment) to improve administrative services and early monitoring of pregnant women by integrating RFID technology (Radio Frequency Identification) and WSN (network wireless sensor).
Relationship of Nurse Caring Behaviour with Patient Satisfaction at the Emergency Department of Catholic Hospital of Budi Rahayu Blitar Suprajitno Suprajitno; Yeni Kartika Sari; Elizabeth Niken Budi Anggraeni
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i1.ART.p001-005

Abstract

One indicator of hospital services is patient satisfaction related to nurses caring behaviour. The caring behaviour of nurses who provide nursing services in the Emergency Department is expected to increase the satisfaction of nursing services. The purpose of this study was to study the relationship between nurses caring behaviour with patient satisfaction receiving nursing services at the Emergency Department of Catholic Hospital of Budi Rahayu Blitar. The research design was cross sectional. Sample sizes were 80 patients who received nursing services at the Emergency Department were selected by purposive sampling. The study variables were nurse caring behaviour and patient satisfaction. Data were collected using a questionnaire. Analysis using the Spearman rank test. The analysis results obtained p = 0.000 and r = 0.618, which means there is a strong positive relationship between nurses caring behaviour with patient satisfaction. Suggestion, nurses maintain and even increase caring behaviour, especially communication skills in the orientation phase.
Pengaruh Postnatal Massage terhadap Proses Involusi dan Laktasi Masa Nifas di Malang Jiarti Kusbandiyah; Yuniar Angelia Puspadewi
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i1.ART.p065-072

Abstract

Masa Nifas merupakan masa kritis bagi ibu pasca melahirkan. Ketidaksiapan secara fisik, psikis, mental dan spiritual dalam menghadapi masa ini akan membuat masa nifas berjalan tidak normal. Parameter kesuksesan masa nifas adalah proses involusi dan laktasi. Permasalahn involusi dilihat dari banyaknya perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri di Kabupaten Malang sebanyak 34%, sedangkan permasalahan laktasi dikaitkan dengan pemberian ASI Eksklusif di Kota Malang masih rendah sekitar 60%. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah tindakan postnatal massage. Tindakan tersebut dapat merelaksasikan ketegangan dan mengatasi keletihan pasca melahirkan yang dapat memicu subinvolusi dan kegagalan laktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh postnatal massage terhadap proses involusi dan laktasi pada masa nifas. Penelitian dilaksanakan di beberapa Bidan Praktik Mandiri (PMB) di kota dan kabupaten Malang menggunakan desain quasi experimental. Populasi adalah ibu postpartum 2 jam sampai dengan 6 hari. Sampel diambil menggunakan purposive sampling sebanyak masing-masing 21 ibu postpartum kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Data penelitian menggunakan data primer dan dianalisis secara deskriptif dan analitik.  Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan hasil p-value 0,093 untuk involusi dan 0,369 untuk laktasi. Kesimpulannya adalah tidak ada pengaruh signifikan antara postnatal massage dengan involusi dan laktasi pada masa nifas. Postnatal massage lebih berkaitan dengan efek jangka pendek dalam memberikan efek relasasi dan mengurangi keletihan pasca melahirkan. Dukungan dan motivasi dalam bentuk dukungan psikologis dan peran dalam merawat bayi sangat diperlukan oleh ibu postpartum dalam  menjaga proses involusi dan laktasi tetap lancar. Puerperium is a critical period for mother after giving birth. Physical, psychological, mental and spiritual unpreparedness in dealing with this period will make the puerperium run abnormally. The parameters of the success of the puerperium are ivolution and lactation. The problem of involution can be seen from the amount of postpartum hemorrhage caused by uterine atony in Malang as much as 34%, while the lactation problem associated with exclusive breastfeeding in malang is still around 60% low. One effort that can be done is postnatal massage. These action can relax tension and overcome postpartum fatique wich can trigger subinvolution and lactation failure. This study aims to know the effect of postnatal massage on involution and lactation during the puerperium. The study was conducted in several independent midwifery practice in the city and district of Malang using a quasi experimental design.  The population is postpartum mothers 2 hours to 6 days. Samples were taken using purposive sampling as amany as 21 postpartum mothers in the treatment group dan control group. Data analysis using the Mann-Whitney test showed p-values 0,093 for involution and 0,369 for lactation. The conclution is that there no significant effect between postnatal massage with involution and lactation in the puerperium. Postnatal massage has more to do with short-term effects  in providing a relationship effect and reducing postpartum fatique. Support and motivation in the form of psychological supports and the role in caring for infants is needed by postpartum mothers in maintaining the process of involution and lactation remain smooth.