cover
Contact Name
Ade Herman Surya Direja
Contact Email
adehermansuryadireja@gmail.com
Phone
+6282182997717
Journal Mail Official
admin@journal.mandiracendikia.com
Editorial Address
Yayasan Pendidikan Mandira Cendikia Bengkulu, Indonesia Jl. Padat Karya No 25 Kelurahan Sumur Dewa Kecamatan Selebar Kota Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
ISSN : -     EISSN : 29642434     DOI : 10.70570
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia (JIK-MC) accepts related writings: Health sciences allied such like: Midwifery, medicine, pharmacies, phisiotherapy, surgical medical nursing, Emergency nursing, Mental nursing, Maternity nursing and children, Community nursing, family and elderly Nursing management, ect. Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia (JIK-MC) also accepts all writings with various disciplines of science with the terms of the core points remaining in the path and scope of the world of Health Sciences.
Articles 990 Documents
Perilaku Etika Batuk Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Tuban Muhammad Fajar Wirra Irfani; Wahyuningsih Triana Nugrahaeni; Wahyu Tri Ningsih; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2365

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang ditimbulkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, ditularkan lewat percikan droplet ketika penderita batuk atau bersin. Sepanjang tahun 2026, tercatat 58 orang penderita TB paru menjalani perawatan di Puskesmas Tuban. Salah satu langkah pencegahan penularan yang tergolong penting adalah penerapan etika batuk, meski praktiknya di lapangan turut dipengaruhi oleh karakteristik individu penderita, mencakup latar belakang pendidikan, kelompok usia, serta jenis kelamin. Studi ini disusun guna memperoleh gambaran mengenai perilaku etika batuk pada penderita TB paru di Puskesmas Tuban ditinjau dari ketiga karakteristik tersebut. Rancangan yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Seluruh penderita TB paru di Puskesmas Tuban, yakni 58 orang, dijadikan populasi sekaligus sampel penelitian melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan memakai kuesioner checklist beranggotakan 10 butir pernyataan, meliputi kebiasaan menutup mulut, pemakaian masker, cara pembuangan dahak, hingga kebersihan tangan. Selanjutnya, data diolah secara univariat dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi maupun tabulasi silang. Temuan penelitian memperlihatkan hampir separuh responden (31,0%) menamatkan pendidikan pada jenjang SMP, mayoritas (74,1%) tergolong kelompok usia 20-59 tahun, dan sebagian besar (55,2%) berjenis kelamin perempuan. Selain itu, mayoritas penderita (74,1%) tercatat memiliki perilaku etika batuk tergolong baik. Melalui tabulasi silang terungkap bahwa hampir keseluruhan (90,9%) penderita berpendidikan SD dan seluruh (100%) penderita yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah memiliki etika batuk kurang memadai. Pada kelompok usia produktif, hampir seluruhnya (95,3%) menunjukkan perilaku baik, sementara mayoritas (71,4%) penderita lanjut usia justru berperilaku kurang baik. Adapun di antara penderita berperilaku baik, sebagian besar (75,0%) berjenis kelamin perempuan. Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan, usia, serta jenis kelamin turut membentuk perilaku etika batuk pada penderita. Rendahnya jenjang pendidikan berkaitan erat dengan minimnya pemahaman terhadap upaya pencegahan penularan TB. Sementara itu, kelompok lanjut usia membutuhkan strategi edukasi yang lebih bersifat personal, sedangkan penderita perempuan cenderung menunjukkan kepatuhan lebih tinggi dalam menjalankan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang berkesinambungan dengan pendekatan adaptif tetap diperlukan, terutama bagi penderita berpendidikan rendah dan kelompok lansia.
Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Dampak Cyberbullying Remaja Di SMP Negeri 2 Plumpang Widya Nurbani Aulia; Titik Sumiatin; Su’udi; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2366

Abstract

Cyberbullying merupakan bentuk perundungan yang dilakukan melalui media digital yang dapat memberikan dampak serius, baik secara psikologis, sosial, akademik, maupun fisik pada remaja. Kasus cyberbullying terus meningkat seiring tingginya penggunaan internet pada remaja di Indonesia. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai dampak cyberbullying menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya perilaku tersebut. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang dampak cyberbullying di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban. Metode: Desain pada penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi penelitian seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban berjumlah 247 siswa. Besar sampel sebanyak 153 responden menggunakan teknik simple random sampling dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian didapatkan hampir seluruh remaja di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 122 responden (79,7%), sebagian kecil memiliki pengetahuan cukup sebanyak 30 responden (19,6%) dan memiliki pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (0,7%). Simpulan: Remaja cenderung telah memiliki pemahaman yang baik mengenai dampak cyberbullying, namun masih terdapat sebagian kecil yang memiliki pengetahuan cukup dan kurang. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban pernah terjadi kasus perundungan yang dinilai berdampak negatif terhadap siswa dan pernah dilakukan penyuluhan mengenai bahaya perundungan. Namun, penyuluhan mengenai dampak cyberbullying belum dilakukan secara optimal, sehingga perlu adanya upaya edukasi yang berkelanjutan melalui literasi digital dan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran serta mencegah terjadinya cyberbullying dikalangan remaja.
Persepsi Akseptor Pada Pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Tuban Tri Wahyu Setiyowati; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2367

Abstract

Secara nasional program KB di Indonesia diarahkan ke metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) dibandingkan non-MKJP karena dianggap lebih efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Namun kenyataannya penggunaan MKJP masih lebih rendah dibandingkan non-MKJP. Meskipun demikian, terdapat akseptor yang telah menggunakan MKJP dengan berbagai persepsi yang dimiliki. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan penggunaan serta kepuasan akseptor terhadap MKJP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Persepsi akseptor pada pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Tuban. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor MKJP yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Tuban pada bulan Desember 2025 s/d Februari 2026 yaitu sebanyak 94 akseptor, dengan sampel sebanyak 76 akseptor yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan 24 pernyataan yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, sarana dan kemudahan akses, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor memiliki persepsi yang baik terhadap pemakaian MKJP, meskipun akseptor dengan persepsi cukup hingga kurang masih ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi akseptor memiliki peranan penting dalam mendukung penerimaan serta keberlanjutan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa persepsi akseptor pada pemakaian MKJP di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebagian besar dalam kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan konseling secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman serta persepsi positif akseptor terhadap MKJP.
Pengaruh Aplikasi Maimo-Tensi Terhadap Tingkat Pengetahuan Masyarakat Dalam Pengelolaan Hipertensi Di Wilayah Pesisir Buton Selatan Harmanto; Jamuddin; La Renda
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 8 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i8.2369

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi apabila tidak dikelola dengan baik. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, pencegahan, dan pengelolaan hipertensi dapat memengaruhi perilaku dalam pengendalian tekanan darah. Pemanfaatan media edukasi berbasis digital menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Maimo-Tensi terhadap tingkat pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan hipertensi di wilayah pesisir Buton Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan pengelolaan hipertensi sebelum dan sesudah diberikan edukasi melalui aplikasi Maimo-Tensi, kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 17 orang (56,6%), sedangkan setelah diberikan intervensi aplikasi Maimo-Tensi sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 25 orang (83,3%). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Maimo-Tensi dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan hipertensi di wilayah pesisir Buton Selatan. Aplikasi Maimo-Tensi dapat menjadi salah satu media edukasi kesehatan berbasis digital dalam mendukung upaya promotif dan preventif pengendalian hipertensi.
Gaya Hidup Penderita Diabetes Melitus. Dalam Mencegah Komplikasi Kardiovaskuler Di Puskesmas Tuban Andiva Wardani Putri Zahroh; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2370

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskuler bila tidak terkontrol. Pencegahannya dapat dilakukan melalui penerapan gaya hidup sehat seperti pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya hidup penderita diabetes melitus dalam mencegah komplikasi kardiovaskuler di Puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh peserta prolanis sebesar 65 orang, sampel penelitian sebesar 65 peserta Prolanis di Puskesmas Tuban dengan teknik total sampling. Variabel penelitian adalah gaya hidup penderita diabetes melitus dalam mencegah komplikasi kardiovaskuler. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar penderita diabetes melitus berjenis kelamin perempuan, usia 40–59 tahun, dan lama menderita 5–10 tahun. Hampir seluruhnya penderita diabetes melitus memiliki gaya hidup cukup sehat dalam pencegahan komplikasi kardiovaskuler, yang sebagian besar pada penderita berjenis kelamin laki-laki, usia 40–59 tahun, dan lama menderita 5–10 tahun, sedangkan gaya hidup tidak sehat sebagian kecil pada perempuan, usia 40–59 tahun dan lama menderita kurang dari 5 tahun. Penderita diabetes melitus berjenis kelamin perempuan lebih banyak memiliki gaya hidup tidak sehat karena perawatan diri kurang optimal, sedangkan laki-laki lebih banyak memiliki gaya hidup cukup sehat karena terdorong menjaga kondisi tubuh. Selain itu, penderita diabetes melitus dengan lama menderita 5–10 tahun cenderung memiliki gaya hidup cukup baik karena lebih berpengalaman dalam mengelola penyakit. Oleh karena itu, diperlukan edukasi melalui kunjungan rumah mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, dan manajemen stres untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler.
Pola Makan Pada Pasien Penderita Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban Awanda Dwi Aprillia; Su’udi; Titik Sumiatin; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2371

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Pola makan merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan berperan dalam perkembangan penyakit jantung koroner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan pada penderita penyakit jantung koroner di Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif, pendekatan cross-sectional Populasi penelitian adalah seluruh penderita penyakit jantung koroner yang berkunjung ke Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Sampel berjumlah 99 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang meliputi frekuensi makan, jenis makanan, konsumsi lemak, gula dan garam, konsumsi buah dan sayur, serta keteraturan makan. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi makan sebagian besar berada pada kategori cukup, jenis makanan sebagian besar berada pada kategori cukup dan kurang, konsumsi lemak, gula dan garam sebagian besar berada pada kategori cukup, konsumsi buah dan sayur berada pada kategori baik, cukup, dan kurang, serta keteraturan makan sebagian besar berada pada kategori cukup. Secara keseluruhan, pola makan pada penderita penyakit jantung koroner sebagian besar berada pada kategori cukup. Pola makan yang berada pada kategori cukup menunjukkan bahwa pasien telah menerapkan sebagian prinsip pola makan sehat, masih terdapat kebiasaan konsumsi makanan yang kurang sesuai dengan anjuran bagi penderita penyakit jantung koroner. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan makan yang telah berlangsung lama, tingkat pengetahuan, serta kemampuan pasien dalam menerapkan pola makan sehat secara konsisten. Perbaikan pola makan diperlukan terutama dalam pengendalian konsumsi lemak, gula, dan garam serta peningkatan konsumsi buah dan sayur.
Pola Makan Dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Peserta Prolanis Di Puskesmas Tuban Prasetyo Garuda Nusantara; Su’udi; Titik Sumiatin; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2374

Abstract

Diabetes Melitus jenis 2 adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan dengan tingkat prevalensi yang berkembang. Di Indonesia, sekitar 70% pasien DM Tipe tidak mampu mengontrol gula darah dengan baik. Fokus Studi ini mencakup untuk menganalisis hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien DM Tipe 2 peserta Prolanis di Puskesmas Tuban. Metode analitik korelasional dan cross-sectional digunakan dalam studi ini. Sampel dari 65 peserta prolanis dikumpulkan dengan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk aktivitas fisik, kuesioner frekuensi makan (FFQ), dan rekam medis untuk kadar gula darah. Untuk melakukan analisis, uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 digunakan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar (52,3%) peserta prolanis memiliki kebiasaan makan yang sehat, mengontrol gula darah, dan hampir setengah (47,7%) peserta prolanis memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat, dengan aktivitas ringan. Kadar gula darah dan pola makan berkorelasi, hasil menunjukkan bahwa seluruh (100%) peserta prolanis memiliki kadar gula darah normal dan menjaga pola makan yang sehat. Aktivitas fisik dan kadar gula darah berkorelasi positif. Makanan sehat dan aktivitas fisik yang lebih tinggi secara substansial berhubungan dengan terkendalinya kadar gula darah. Tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi dan program aktivitas fisik kelompok dalam Prolanis secara berkelanjutan.
Pengetahuan Tentang Dampak Merokok Terhadap Kesehatan Jantung Di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban Cicik Vidyanti; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2375

Abstract

Merokok dianggap sebagai salah satu penyebab utama penyakit jantung dan merupakan faktor risiko signifikan bagi penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Di Jawa Timur, jumlah remaja berusia lebih dari 15 tahun yang merokok masih cukup besar. Minimnya pemahaman remaja mengenai konsekuensi merokok bagi kesehatan jantung bisa berdampak pada sikap dan kesadaran mereka dalam merawat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan remaja terkait efek merokok terhadap kesehatan jantung di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh remaja kelas X Jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Taruna Jaya Prawira Tuban Tahun Ajaran 2025/2026 dengan jumlah sampel 152 remaja. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh remaja berjenis kelamin laki-laki sebanyak 138 remaja (91%), sedangkan remaja perempuan sebanyak 14 remaja (9%). Sebagian kecil (17%) remaja memiliki tingkat pengetahuan baik tentang dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Berdasarkan jenis kelamin, seluruh remaja perempuan (100%) memiliki tingkat pengetahuan baik tentang dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Pemahaman tentang efek merokok pada kesehatan jantung tidak hanya datang dari pengajaran di sekolah, tetapi juga harus diperkuat dengan pendidikan kesehatan yang berkelanjutan. Sekolah dapat meningkatkan program pendidikan kesehatan melalui penyuluhan tentang bahaya merokok terhadap kesehatan jantung dan pemasangan media edukasi kesehatan sehingga pemahaman remaja tentang efek merokok terhadap kesehatan jantung bisa bertambah.
Gambaran Kualitas Tidur Mahasiswa Bekerja Pada Program Studi S1 Keperawatan Alih Jenjang Di Universitas 'Aisyiyah Surakarta Rina Andriyani; Zulfa Mahdiatur Rasyida
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2376

Abstract

Latar belakang: Tidur merupakan sarana tubuh untuk memulihkan stamina secara optimal. Pembatasan tidur atau kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan konsekuensi kesehatan yang substansial. Kualitas tidur mahasiswa yang bekerja sangat dipengaruhi oleh beban ganda akademik dan pekerjaan, yang memicu stres dan waktu istirahat terbatas. Mahasiswa keperawatan yang bekerja seringkali harus menyeimbangkan antara tanggung jawab pekerjaan dan tugas akhir. Tujuan: Mengetahui gambaran kualitas tidur mahasiswa bekerja pada Program Studi S1 Keperawatan Alih Jenjang di Universitas 'Aisyiyah Surakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa alih jenjang yang bekerja pada Program Studi S1 Keperawatan Universitas 'Aisyiyah Surakarta sebanyak 81 orang, diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar isian demografi dan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Kualitas tidur mahasiswa bekerja sebagian besar berada pada kategori baik (50,6%). Berdasarkan tujuh komponen PSQI, kualitas tidur subjektif sebagian besar cukup baik (51,9%), latensi tidur 16-30 menit (43,2%), durasi tidur < 5 jam (32,1%), efisiensi tidur > 85% (86,4%), gangguan tidur sekali seminggu (75,4%), penggunaan obat tidur tidak pernah (93,8%), dan disfungsi siang hari 2-3 kali seminggu (56,8%). Kesimpulan: Kualitas tidur mahasiswa yang bekerja pada Program Studi S1 Keperawatan Alih Jenjang di Universitas 'Aisyiyah Surakarta sebagian besar berada pada kategori baik, meskipun komponen durasi tidur dan gangguan tidur masih menjadi domain yang perlu ditingkatkan.
Kebiasaan Minum Teh Setelah Makan Dengan Kejadian Anemia Pada Santri Putri Di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban Muchammad Nauvas Syauqi; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2377

Abstract

Anemia gizi besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang dominan di Indonesia, khususnya pada kelompok remaja putri di ekosistem pesantren yang rentan akibat berbagai determinan, termasuk perilaku asupan teh postprandial yang menginhibisi absorpsi mineral besi. Pengkajian ini berorientasi untuk menguji korelasi antara habituasi konsumsi teh pascamakan terhadap insidensi anemia pada populasi santriwati di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban. Metode observasional analitik berdesain cross-sectional diterapkan dengan menempatkan habituasi minum teh pascamakan sebagai variabel bebas dan manifestasi anemia sebagai variabel terikat. Seluruh populasi santri putri sebanyak 60 subjek dilibatkan secara utuh memanfaatkan pendekatan total sampling. Evaluasi deskriptif mengidentifikasi bahwa porsi terbesar sampel (70,0%) mencatatkan habituasi konsumsi teh pada kategori adekuat, meskipun tingkat kejadian indikasi klinis anemia mencakup proporsi mayoritas (75,0%). Analisis kontingensi memperlihatkan gejala anemia dialami oleh 83,3% responden pada kelompok kebiasaan baik dan 55,6% pada kelompok kebiasaan kurang adekuat. Komputasi biostatistik memanfaatkan uji alternatif Fisher's Exact Test menghasilkan probabilitas p = 0,048 (p < 0,05), yang mengonfirmasi keberadaan korelasi signifikan secara statistik antara habituasi asupan teh sesaat setelah makan dengan risiko presipitasi anemia. Temuan ini mempertegas bahwa perilaku konsumsi teh postprandial berkontribusi nyata terhadap risiko anemia gizi besi, yang berpotensi diperberat oleh intensitas aktivitas fisik harian. Oleh sebab itu, penguatan program promosi kesehatan melalui edukasi literasi gizi terstruktur krusial diimplementasikan demi mengoptimalkan upaya preventif di lingkungan pesantren.