cover
Contact Name
Arif Abadi
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
+6287723481132
Journal Mail Official
redaksi.panggung@gmail.com
Editorial Address
Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Panggung is a peer-reviewed journal focuses art studies and their cultural contexts with various perspectives such as anthropology, sociology, education, religion, philosophy, technology, and others. Panggung invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas related to arts and culture with interdisciplinary approaches.
Articles 474 Documents
Kesenian Indang: Kontinuitas dan Perubahan Nurmalena -; Sri Rustiyanti
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.122

Abstract

ABSTRACT The art of indang, living in the community of Padang Pariaman, is a form of arts and cultural stu- dies related to the phenomenon of continuity and change. The art of indang in the Pariaman commu- nity is still not only continuing, but also changing according to the era. The research uses qualitative method base on ethnograph approach. The result of the research aim to explain the continuity of indang which lies on the form of presentation, time and venue. The continuity is supported by internal factors, namely inheritance and cultural preservation, and external factors such as politics of identity. On the other hand, the factor of change is caused by internal factors, namely market preference, economics, educational factor, and external factor which is caused by media technology factor. Keywords: indang, continuitas, change, Sintuak Pariaman    ABSTRAK Kesenian indang yang hidup di tengah masyarakat Padang Pariaman, merupakan  kajian seni dan budaya yang berkaitan dengan fenomena kontinuitas dan perubahan. Kesenian in- dang pada masyarakat Pariaman di samping berlanjut, ia juga berubah sesuai tuntutan zaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian untuk menjelaskan kontinuitas kesenian indang yang terdapat pada bentuk penyajian, waktu pertunjukan, dan tempat pertunjukan. Kontinuitas tersebut ditunjang oleh faktor internal se- perti, pewarisan dan pelestarian budaya, dan faktor eksternal seperti politik identitas. Sedang- kan faktor perubahan disebabkan oleh karena faktor internal seperti, selera pasar, ekonomi, faktor pendidikan, dan faktor eksternal disebabkan oleh faktor teknologi media
Musik Tiup dan Upacara Adat: Kasus Pengayaan Identitas Kebudayaan Musikal pada Masyarakat Batak Toba di Kota Medan Mauly Purba
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.123

Abstract

ABSTRACT Up to the 1990’s the use of the gondang sabangunan, the traditional ceremonial music ensamble of the Batak Toba people,  still played an important role in the practice of their adat (customary law) ceremonies—such as wedding and funeral ceremonies. In present time, however, the so-called musik tiup, a combination of Western brass instruments and Batak Toba traditional musical instruments, tends  to take place of the role of the gondang sabangunan in the adat ceremonies; its use is in fact countinuous. This paper aims to investigate whether or not it is a kind of  social process of  forming a new musical culture identity of the Batak Toba people in Medan. Ethnomusicological and ethno- historical approaches are used in investigating this particular social phenomenon. This research uses decriptive method and the result shows that, on one hand, the people intend to look after their ances- tors’ traditions through the practice of adat ceremonies where they use musik tiup, yet at the same time, they not only perform traditional gondang repertoires (gondang compositions) but also employ certain instruments of the gondang sabangunan ensamble. On the other hand, through the use of musik tiup the people mean to construct and  enrich their musical culture identity. Keywords: Batak Toba, musik tiup, Gondang Sabangunan, identity, adat    ABSTRAK Hingga  dekade  1990an  penggunaan  gondang  sabangunan,  ensambel  musik  seremo- nial masyarakat Batak Toba Toba di kota Medan, masih memainkan peran yang penting di dalam upacara-upacara adat, antara lain upacara perkawinan dan kematian. Namun, dewasa ini ensambel yang dikenal sebagai musik tiup, yang merupakan kombinasi alat musik tiup logam (dari kebudayaan Barat) dengan alat musik dari kebudayaan Batak Toba, kelihatannya menggantikan posisi ensambel gondang sabangunan di dalam upacara-upa- cara adat; kondisi ini berkesinambungan. Apakah ini suatu dinamika proses sosial dalam rangka pembentukan identitas kebudayaan musikal yang baru bagi masyarakat Batak Toba di kota Medan? Pendekatan etnomusikologi dan etnohistori diaplikasikan dalam hal me- mahami dan menganalisa masalah ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan hasilnya menunjukkan bahwa di satu sisi, masyarakat berusaha menjaga kesinambungan tradisi musik leluhur mereka melalui pelaksanaan upacara adat walaupun dengan format ensambel yang berbeda (musik tiup), tetapi tetap memberi ruang kepada elemen musik dan ekstra musikal tradisi gondang Batak Toba, khususnya instrumen dan melodi gondang. Di sisi yang lain, melalui musik tiup masyarakat memberikan kontribusi pada pengayaan identitas kebudayaan musikalnya. Kata kunci: Batak Toba, musik tiup, Gondang Sabangunan, identitas, adat
Komunikasi Visual pada Acuk Kuda Renggong Supriatna -
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.124

Abstract

ABSTRACT Kuda Renggong is a distinctive traditional performing art in Sumedang regency, which uses the horse as the main medium of expression. The most prominent element of Kuda Renggong is its visual element. That is form of a horse costume. This research method uses a ethnosemiotic approach, with re- sult of an interpretative meanings. Horse costumes are not only aesthetic function, but also as a shaper of performance narration, through in the form of signs, ornaments, colors and icons. The context of visual communication elements had become part of the message conveyed in the show. Keywords: Kuda Renggong, visual communication, costume, Sumedang    ABSTRAK Kuda Renggong adalah kesenian tradisional khas Kabupaten Sumedang, yang mengguna- kan kuda sebagai media ekspresi utamanya. Kekhasan pertunjukan Kuda Renggong adalah pada tata visual, yakni berupa acuk pada kuda.  Metode penelitian ini menggunakan pendekatan etnosemiotik, dengan hasil berupa makna-makna interpretatif. Acuk kuda tidak saja berfungsi estetis, tetapi juga menjadi bagian dari narasi pertunjukan, melalui tanda-tanda yang melekat pada bentuk, ornamen, warna dan ikon di dalamnya. Dalam kontek komunikasi elemen visual tersebut menjadi bagian dari pesan yang disampaikan dalam pertunjukan. Kata kunci: Kuda Renggong, komunikasi visual, acuk, Sumedang 
Kreativitas Desain Kuliner dan Sistem Inovasi Lokal Yasraf Amir Pialang; Rully Darmawan
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.125

Abstract

ABSTRACT The development of creativity in a particular social group, class or community is higly deter- mined by certain capitals invested in the field of creativity: economic, cultural, symbolic and social. This research is an attempt to understand creativity as a part of particular socio-cultural setting, namely a ‘field of creativity’. By employing an ethnographic method, this research is an attempt to analyse the relationship between creative ideas and socio-cultural context in which the ideas are pro- duced. Through an intensive field research in local creative communities, this research concludes that creative ideas are higly determined by the comprehensiveness of creative fields: expression, produc- tion, dissemination and aprreciation. From these creative fields, three models of system of innovation can be proposed: an open system, liminal system and closed system. Keywords: creative idea,  field, innovation, capital    ABSTRAK Pengembangan kreativitas pada sebuah kelompok, kelas sosial atau komunitas sangat ditentukan oleh modal yang diinvestasikan dalam ranah kreativitas: ekonomi, budaya, sim- bolik dan sosial. Penelitian ini adalah upaya untuk memahami kreativitas sebagai bagian dari ranah khusus sosial-budaya, yaitu ‘ranah kreativitas’. Dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini adalah upaya untuk menganalisis relasi antara ide-ide kreatif dan konteks sosial-budaya di mana ide-ide itu diproduksi. Melalui penelitian lapangan yang intensif terhadap komunitas kreatif lokal, penelitian ini menyimpulkan, bahwa produksi ide-ide kreatif sangat ditentukan oleh kelengkapan sub-sub ranah yang membangun ranah kreatif: ekspresi, produksi, diseminasi dan apresiasi. Berdasarkan ranah-ranah kreatif ini, tiga model sistem inovasi dapat diajukan: sistem terbuka, sistem liminal dan sistem tertu- tup. Kata kunci: ide kreatif, ranah, inovasi, modal
Intensitas Budaya dalam Dunia Kepenarian I Nyoman Chaya
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.126

Abstract

ABSTRACT This research aims to reveal a meaning that is built up in a phenomenon when someone is in- volved in the adventure of him/herself in the world of dance. The problem concerns on the processes of human life transformation  in a variety of activities that he has experienced along his journey in having a profession as a dance artist (dancer). This question is to know about what extent the con- sistency of being a dancer can contribute to a culture of life and the values of life which inherently exist in a person’s life in order to build awareness of his identity as a dancer. To solve this problem, the theory of cultural ideology approach is applied. Data analysis was performed with the dynamics in the life of a dancer which is generally supported by the author’s personal experience in dancing activity. Through a study of dancing activity and awareness of the dynamics of life experienced, understood, and internalized by a dancer then revealed an intensity of meaning that indicate the emergence of culture. The intensity of the culture was hammered into a potential or force inherent in the human person (the dancer). This gives meaning to the presence of cultural life values that can be identified as human existence itself. Keywords: intensity of culture, the world of dance, self-existence    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemaknaan budaya yang terbangun dalam suatu fenomena ketika seseorang larut dalam petualangan dirinya dalam dunia kepenarian. Permasalahannya menyangkut proses kehidupan manusia yang menjelma ke dalam ber- bagai aktivitas yang dilampauinya sepanjang ia menekuni profesinya sebagai seniman tari (penari). Hal yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana konsistensi petualangan dunia kepenarian tersebut dapat memberikan kontribusi bagi nilai-nilai kehidupan membudaya, khususnya nilai-nilai yang melekat pada kehidupan pribadi manusia dalam rangka mem- bangun kesadaran atas jati dirinya sebagai seorang penari. Untuk memecahkan permasa- lahan tersebut digunakan pendekatan budaya dengan mengaplikasikan teori ideologi de- ngan perolehan data yang kemudian dicermati melalui analisis terhadap proses kehidupan penari pada umumnya serta didukung dengan pengalaman pribadi penulis yang sampai saat ini aktif berkecimpung selaku penari.  Melalui suatu kajian  terhadap aktivitas dalam kepenarian serta kesadaran terhadap dinamika kehidupan yang dialami, dipahami, dan dihayati oleh seorang penari maka terungkap suatu pemaknaan yang mengindikasikan munculnya intensitas budaya. Intensitas budaya tersebut terpatri menjadi sebuah potensi atau kekuatan yang melekat pada pribadi manusia (penari). Hal ini memberikan arti pada kehadiran suatu nilai yang dapat diidentifikasi sebagai eksistensi diri manusia. Kata kunci: intensitas budaya, dunia kepenarian, eksistensi diri
Kajian Budaya Fotografi Potrait dalam Wacana Personalitas Andang Iskandar; Cece Sobarna; Deddy Mulyana; Yuyu Yohana Risagarniwa
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.127

Abstract

ABSTRACT Portrait Photography is a representation of similarity in the form of two-dimensional human fi- gure. Portrait photography gives a personal good indication of the owner’s portrait, portrait subjects and photographers. Personality photographic work representing one’s personal character. This study aims to explain the problems of cultural studies in the discourse on photography portrait personality. This research method using literature review of the literature both books, journal articles and research reports, especially portrait photography in cultural studies. The study provides an overview of cul- tural studies on four issues for portrait photography: first, photography as a representation. Portrait is where negotiations between the photographer with the subject of self-representation (model). Se- cond, diaspora photographers. Photographers Indonesian Chinese (Peranakan) as cultural brokers in the post-colonial period. The difference between the Peranakan culture and totok also distinguished in the profession of social groups in studio photography. Third, the identity of the portrait. Family’s photo album as a way structured ourselves, and cultural identities through ritual memory. Fourth, photography as a medium of cultural domination. Photography is a meaning synthesis of subject and object photos. Keywords: cultural studies, portrait photography, personality, discourse  ABSTRAK Fotografi potrait merupakan representasi kemiripan figur manusia dalam bentuk dwimatra. Fotografi potrait memberikan indikasi personal baik pada pemilik potrait, sub- jek potrait maupun fotografer. Personalitas karya fotografi yang mewakili pribadi bahkan karakter seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan permasalahan kajian buda- ya pada fotografi potrait dalam wacana personalitas. Metode penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dari berbagai literatur baik buku, artikel jurnal dan laporan pene- litian fotografi khususnya potrait dalam kajian budaya. Hasil penelitian ini memberikan gambaran empat permasalahan kajian budaya pada fotografi potrait yaitu pertama, foto- grafi sebagai representasi. Potrait merupakan tempat negosiasi antara fotografer dengan representasi-diri subjek (model). Kedua, diaspora fotografer. Fotografer China Indonesia (peranakan) sebagai broker budaya di masa poskolonial. Perbedaan budaya antara per- anakan dan totok dibedakan juga dalam kelompok sosial profesi dalam studio fotografi. Ketiga, identitas dalam potrait. Album foto keluarga sebagai sebuah cara untuk menstruk- turisasi diri, identitas dan budaya melalui ritual ingatan. Keempat, fotografi sebagai me- dia dominasi budaya. Fotografi adalah sintesis pemaknaan dua subjek yang-memotret dan yang-memandang. Kata kunci: kajian budaya, fotografi potrait, personalitas, wacana
Perubahan Fungsi Ketuk Tilu Di Priangan (1900-2000-an) Een Herdiani
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.128

Abstract

ABSTRACT Ketuk tilu is one of traditional arts which lives and thrives in Priangan community. At the beginning of its creation, Ketuk tilu was allegedly an art having ritual functions to express gratitude as well as to beg for safety and prosperity of mankind. The history methode used to explain that matter. This research describes changes in the social life of Priangan society, especially after the entry of Islamic influence that was then followed with the influence of the West, the function of Ketuk tilu has changed from ritual into entertainment. After the independence of Indonesia, the creativity of community and the needs of aesthetic values began to grow and thrive in Priangan society, thus the function of Ketuk tilu has also changed into performing arts. Keywords: changes, function, Ketuk tilu, priangan    ABSTRAK Ketuk tilu merupakan salah satu  kesenian tradisional  yang hidup dan berkembang pada masyarakat Priangan. Pada awal kelahirannya, Ketuk tilu  diduga kuat sebagai kesenian yang berfungsi ritual untuk mengungkapkan syukur maupun memohon keselamatan dan kese- jahteraan umat manusia. Metode yang digunakan untuk mengungkap permasalahan tersebut adalah metode sejarah. Penelitian ini menjelaskan perubahan kehidupan sosial masyarakat Pri- angan, terutama setelah masuknya pengaruh Islam yang kemudian disusul masuknya penga- ruh Barat, fungsi Ketuk tilu mengalami perubahan dari fungsi ritual, ke fungsi hiburan. Setelah Indonesia merdeka, kreativitas masyarakat dan kebutuhan nilai-nilai  estetika mulai tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Priangan, maka Ketuk tilu pun berubah fungsi menjadi seni pertunjukan. Kata kunci: perubahan, fungsi, Ketuk tilu, prianganABSTRACT Ketuk tilu is one of traditional arts which lives and thrives in Priangan community. At the beginning of its creation, Ketuk tilu was allegedly an art having ritual functions to express gratitude as well as to beg for safety and prosperity of mankind. The history methode used to explain that matter. This research describes changes in the social life of Priangan society, especially after the entry of Islamic influence that was then followed with the influence of the West, the function of Ketuk tilu has changed from ritual into entertainment. After the independence of Indonesia, the creativity of community and the needs of aesthetic values began to grow and thrive in Priangan society, thus the function of Ketuk tilu has also changed into performing arts. Keywords: changes, function, Ketuk tilu, priangan    ABSTRAK Ketuk tilu merupakan salah satu  kesenian tradisional  yang hidup dan berkembang pada masyarakat Priangan. Pada awal kelahirannya, Ketuk tilu  diduga kuat sebagai kesenian yang berfungsi ritual untuk mengungkapkan syukur maupun memohon keselamatan dan kese- jahteraan umat manusia. Metode yang digunakan untuk mengungkap permasalahan tersebut adalah metode sejarah. Penelitian ini menjelaskan perubahan kehidupan sosial masyarakat Pri- angan, terutama setelah masuknya pengaruh Islam yang kemudian disusul masuknya penga- ruh Barat, fungsi Ketuk tilu mengalami perubahan dari fungsi ritual, ke fungsi hiburan. Setelah Indonesia merdeka, kreativitas masyarakat dan kebutuhan nilai-nilai  estetika mulai tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Priangan, maka Ketuk tilu pun berubah fungsi menjadi seni pertunjukan. Kata kunci: perubahan, fungsi, Ketuk tilu, priangan
Peran Budaya ‘Mikanyaah Munding’ Dalam Konservasi Seni Tradisi Sunda Gugun Gunardi
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.129

Abstract

ABSTRACT This writing was an excerpt taken from the research: Conservation of ‘Mikanyaah Munding’ Lo- cal Culture as Basis of Kerbau Village Breeding. On the research, there is a part about cultural role of‘Mikanyaah Munding’ in Sundanese Traditional Arts, which is a knowledge gained from abstraction of active-adaptation experience of unique social life. In Mikanyaah Munding culture, beside it pre-serve the culture of traditional buffalo husbandry, it also pre-serve the traditional ceremonies of calves birth, character educations, and the most interesting part is the preservation of other tradidional culture ele- ments which accompanies the Mikanyaah Munding culture itself.In order to keep so many traditional arts with educational values for its society, it needs an effort to invetory, document, revitalize, develop, and implement the local wisdom. Through the effort, conser- vation of Sundanese traditional arts in Desa Cikeusal Village of Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, can be achieved.The research method used was a qualitative method, with the research model used in this study was a ethnographic research model, namely to describe culture as it is. This model in this research attempts to study the cultural event, which presents a view of life the subject as an object of study. Keywords: culture, mikanyaah munding, conservation, art, tradition  ABSTRAK Tulisan ini ditukil dari salah satu bagian penelitian yang berjudul: Konservasi Budaya Lokal “Mikanyaah Munding” sebagai Landasan Village Breeding Center Kerbau. Di dalam penelitian tersebut juga ternyata terdapat: Peran Budaya “Mikanyaah Munding” Dalam Konservasi Seni Tradisi Sunda, yang merupakan pengetahuan yang diperoleh dari abstraksi pengalaman adap- tasi aktif terhadap kehidupan sosial yang khas. Di dalam budaya “Mikanyaah Munding” selain terdapat pemertahanan adat istiadat memelihara kerbau secara tradisi, upacara adat kelahiran anak kerbau, pendidikan karakter, yang lebih menarik adanya pemertahanan berbagai seni tradisi yang mengiringi tradisi budaya “Mikanyaah Munding”.Demi terjaganya berbagai seni tradisi yang bernilai pendidikan karakter bagi masyarakat pengembangnya, perlu adanya upaya untuk menginventarisasi, mendokumentasi, merevital- isasi, membina, dan selanjutnya melaksanakan pengetahuan kearifan lokal tersebut. Melalui, hal tersebut juga dapat diwujudkan bentuk konservasi seni tradisi Sunda di Desa Cikeusal Ke- camatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model etnografi, yakni penelitian untuk mendeskripsi- kan kebudayaan sebagaimana adanya. Model sebagai hasil penelitian ini berupaya mempela- jari peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subjek sebagai objek studi. Kata kunci: Budaya, Mikanyaah Munding, Konservasi, Seni, Tradisi
Empat Koreografer Tari Kontemporer Indonesia Periode 1990-2008 Eko Supriyanto; Timbul Haryono; R.M. Sudarsono -; Sal Murgiyanto
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.130

Abstract

ABSTRACT This research will elaborate four Indonesian contemporary choreographers, which lead to open the significant of embodiment process on Indonesian dancers. With a focus on four choreographers, Mar- tinus Miroto, Mugiyono Kasido, Hartati, and Jecko Siompo. A case study of body of those four choreo- graphers has reached its “institutional” level, so choosing those four characters, as a representation of Indonesian dancer is the right thing to do. With the complexity discipline and body work training, the four dancers and choreographer strengthening on how procession to achieve and advancing body work is located in some important process: exercise, training, and performance. This is different from the pro- cess of body works quality and the achievement of most dancers and choreographer outside of Indonesia. Usually the dancers outside of Indonesia only stress on two things: Training and performance. The four dancers in the work have had a typical body works each of them, but it is undeniable that there is a role in the respective Sardono as the maestro. Sardono’s strong influence thus again took place in forming a model to the body or body-dance attitude of dancers who then the outcome was, in fact, different from Sardono’s works. Keywords: contemporary, embodied, training, rehearsal, performance  ABSTRAK Penelitian ini membahas empat koreografer, dalam membuka wacana proses ketubuhan penari di Indonesia. Empat koreografer tersebut, Martinus Miroto, Mugiyono Kasido, Hartati, dan Jecko Siompo, memperlihatkan betapa kompleksitas proses ketubuhan mereka berbeda dengan penari dan koreografer pada umumnya, terutama dari luar Indonesia. Mereka mem- berikan pengalaman yang detail tentang pendisiplinan tubuh mereka untuk mencapai sebuah capaian dan keunggulan. Dengan kompleksitas disiplin dan training ketubuhan, keempat penari dan koreografer ini menggukuhkan betapa proses pencapaian dan kemuktahiran tubuh terletak pada beberapa proses penting: Training, Latihan, dan Pementasan. Jika ditilik secara ke- seluruhan, keempat penari ini mempunyai pengalaman belajar, atau setidaknya pernah men- galami proses menari bersama Sardono W. Kusumo. Ketubuhan yang yang dieksplorasi adalah ciri khas dari Sardono yang dikenal dengan laku dalam bahasa Jawa. Walaupun belajar dari Sar- dono, keempat koreografer tersebut mengembangkan tarian yang berbeda dengan Sardono. Kata kunci: kontemporer, ketubuhan, training, latihan, pementasan
Potensi Kerajinan Keramik Dalam Seni Tradisi Pertunjukan Indonesia Deni Yana
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.131

Abstract

ABSTRACT This research aims to preserve, develop and revitalize cultural traditions, especially the tradition of ceramic making, which is closely associated with performing tradition arts development in Indonesia. It specific target is on the increase of value-added products as well as the society’s interest and apprecia- tion through the study of the potential and constraints faced by the centers of ceramic crafts in Indone- sia. It then looks for some solutions to overcome the constraints and optimize the potential possessed by the centers of ceramic crafts in Indonesia. This study uses the triple helix model involving government, industry and universities by using guidance elements for the development of handicraft products. It employs participatory method that is dialogical, informal and gives emphasis to ceramic artisans’ full involvement based on artisans’ experience or reality through several phases: identification, analysis, development, implementation, and test of the model resulting in a new local culture-based development. The result of the study shows that with appropriate methods and good cooperation of all stakeholders, the local tradition potential of ceramic crafts can be a basis for the development of new products with new forms and functions. Keywords: crafts, ceramics, Indonesia, Triple helix, participatory  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan   serta merevitalisasi budaya tradisi khususnya tradisi pembuatan keramik   yang sangat erat kaitannya dengan perkembangan seni tradisi pertunjukan di Indonesia dengan target khusus pada peningkatan nilai tambah produk, minat dan apresiasi masyarakat melalui kajian terhadap potensi dan ken- dala yang dihadapi sentra-sentra kerajinan keramik di Indonesia. Kemudian mencari solusi un- tuk memecahkan kendala-kendala yang dihadapi serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan model triple helix yang melibatkan pihak pemerintah, industri dan perguruan tinggi dengan menggunakan unsur-unsur pemandu untuk pengembangan produk kerajinan. Metode yang digunakan yaitu partisipatori yang lebih menekankan keterlibatan perajin keramik secara penuh dengan berbasis pada realitas atau pengalaman perajin, bersi- fat dilogis dan tidak menggurui melalui tahapan : identifikasi, analisa, pengembangan model, penerapan model dan uji coba model. Sehingga dihasilkan pengembangan baru berbasis bu- daya lokal. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dengan metode yang tepat dan kerjasama yang baik berbagai pihak terkait potensi lokal tradisi pembuatan kerajinan keramik dapat men- jadi dasar pengembangan produk baru dengan bentuk dan fungsi yang baru pula. Kata kunci: kerajinan, keramik, Indonesia, Triple helix, partisipatori

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32 No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28 No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27 No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Con Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26 No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26 No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25 No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25 No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24 No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23 No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23 No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajara Vol 22 No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22 No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22 No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22 No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21 No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21 No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21 No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18 No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15 No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1 No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional J More Issue