cover
Contact Name
Arif Abadi
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
+6287723481132
Journal Mail Official
redaksi.panggung@gmail.com
Editorial Address
Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Panggung is a peer-reviewed journal focuses art studies and their cultural contexts with various perspectives such as anthropology, sociology, education, religion, philosophy, technology, and others. Panggung invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas related to arts and culture with interdisciplinary approaches.
Articles 474 Documents
Fetisisme Ras Kaukasoid dan Ras Mongoloid Sebagai Strategi Pemasaran dalam Sinetron Indonesia Dimas Yudhistira; Aquarini Priyatna; Dade Mahzumi
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.132

Abstract

ABSTRACT Popular culture that rises with industrialization influences the production of film in Indonesia. One of genres of Indonesia’s film is soap opera. Soap opera has two sides, the first side as market com- modity and the second side as popular art, whichcategorized itself as kitsch. As producing their pro- duct, soap opera has to see trough the background of its society. This research used qualitative method. The research resultsmost of Indonesian are Malaya that have colonized by Caucasian and Mongolian before 1945 and after that. It causes effect of fantasies that create the stereotype about Caucasian and Mongolian appearances. Stereotype makes Malaya have fetishism about Caucasian and Mongolian’s appearance. Director of soap opera uses this kind of fetishism as appeal to audiences in Indonesia. Displaying the racial half-bred of body of actress and actor in soap opera is become one of marketing strategy to promote soap opera. This is why half-breed actress and actor always get the important role in Indonesian soap opera. Keywords: soap opera, kitsch, race, fetishism    ABSTRAK Budaya populer yang tumbuh seiring dengan industrialisasi memengaruhi produksi per- filman di Indonesia. Salah satu genre perfilman di Indonesia adalah sinetron. Sinetron yang di- kategorikan sebagai produk seni kitsch memiliki dua kriteria yaitu sebagai komoditi seni yang populer dan sebagai komoditi dagang yang menghasilkan keuntungan ekonomis. Sebagai se- buah produk seni kitsch yang merupakan dasar pembuatan karyanya adalah selera masyarakat kebanyakan maka sinetron harus jeli dalam melihat keadaan dan latar belakang masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menggambarkan masyara- kat Indonesia yang merupakan ras Melayu telah dijajah oleh ras Kaukasoid dan Mongoloid sebelum tahun 1945 dan setelahnya. Efek dari penjajahan ini adalah ras Melayu telah ditanami fantasi yang menjadi stereotip mengenai ras Kaukasoid dan Mongoloid yang berakhir dengan fetisisme. Fetisisme ini dijadikan sebagai strategi pemasaran oleh produser dan sutradara un- tuk menarik antusiasme calon penonton sinetron. Caranya dengan menampilkan aktor dan aktris Melayu keturunan Kaukasoid dan Mongoloid sebagai pemeran utama. Kata kunci: sinetron, seni kitsch, ras, fetisisme
Makna Simbolik Kaulinan Barudak Oray-Orayan Rosarina Giyartini
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.133

Abstract

ABSTRACT This research seeks to uncover the meaning behind the kids game Oray-orayan. The goal is that the values of local wisdom in it can be understood andapplied by a generation of people, especially people of West Java suit the demands of time so that the game can be sustainable. Assessmentmethods used for the benefit of the above hermeneutic within the framework of effective history and theory of fusion of horizons. Results ofthe study showed that the kids game Oray-orayan is symbolic form of the rite of purification throughbehavior back to theroom of origin. Thissymbolic wisdom can be brought into the present context as the source of the idea of creating art or dance lessons in primary school. Keywords: Oray-orayan, local wisdom, meaning    ABSTRAK Penelitian ini berupaya menguak makna di balik permainan anak Oray-orayan. Tujuannya agar nilai-nilai kearifan lokal di dalamnya dapat dipahami dan diaplikasikan oleh generasi bangsa khususnya masyarakat Jawa Barat sesuai tuntutan jaman sehingga permainan tersebut dapat lestari. Metode kajian yang digunakan adalah hermeneutik dalam kerangka effective his- tory dan teori fusion of horizons. Hasil telaah menunjukkan bahwa permainan Oray-orayan adalah bentuk simbolik dari ritus penyucian melalui laku kembali ke ruang asal. Kearifan simbolik ini dapat dibawa ke konteks kekinian sebagai sumber gagasan penciptaan seni atau pembelajaran seni tari di Sekolah Dasar. Kata kunci: Oray-orayan, kearifan lokal, makna 
Dinamika Pertunjukan Topeng pada Budaya Ngarot di Lelea Indramayu1 Asep Sulaeman; H. I. Syarief Hidayat; Ganjar Kurnia; Endang Caturwati
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.134

Abstract

ABSTRACT Based on research that has been done a few years ago, about the dynamics performances Ngarot ceremonial mask, which is a cultural activity or practice of traditional ceremonies for the community to reach a meeting of Indramayu transcendental. The departure of this study encourage curiosity on the phenomena that occur on the object to be studied, it can be identified several issues that will be the basis to learn more about the phenomenon that is no change in the philosophical values, function and role in culture Ngarot mask performance, which is so Problems are how to form a mask dance in Ngarot transformation from time to time? The main problem will be revealed in this study is the change seen from asfek philosophical values, functions and roles. This study used a qualitative method, because of the problems of this research is in the area of art that narrow space, simple yet complex variable at the level of content, questioned the meaning, and questioned the phenomenon. While the approach adopted is to use a multidisciplinary approach to art, culture approach, and the approach to sociology. Target outcomes to be achieved from this study resulted in deepening the concept of meaning, and or innovat- ing dance masks to the public. The resulting concept can be used as one of the guide also to be creative/work in an effort to revitalize and innovate other mask dance. Keywords: Performance Masks, Ngarot, transformation, change    ABSTRAK Berdasarkan riset yang telah dilakukan beberapa tahun yang lalu, tentang dinamika per- tunjukan Topeng dalam upacara adat Ngarot, yaitu sebuah kegiatan atau praktik kultural ten- tang upacara adat bagi masyarakat Indramayu untuk mencapai pertemuan transedental. Ke- berangkatan penelitian ini mendorong  keingintahuan atas fenomena yang terjadi pada objek yang akan diteliti, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah yang akan dijadikan dasar untuk mengetahui lebih jauh tentang fenomena tersebut yaitu ada perubahan nilai-nilai filoso- fis, fungsi dan peran pertunjukan topeng dalam budaya Ngarot, yang jadi problematikanya adalah bagaimana wujud transformasi tari topeng dalam Ngarot dari masa ke masa? Masalah utama yang akan diungkapkan dalam penelitian ini adalah perubahan dilihat dari asfek nilai- nilai filosofis, fungsi dan peran.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif,  karena ma- salah-masalah penelitian ini ada dalam wilayah ruang seni yang sempit, variabel sederhana namun rumit dalam tataran konten, mempersoalkan makna, dan mempertanyakan fenomena. Sedangkan pendekatan yang diterapkan adalah multidisiplin dengan menggunakan pendeka- tan seni, pendekatan budaya, dan pendekatan sosiologi.Target luaran yang ingin dicapai dari penelitian ini menghasilkan konsep pendalaman makna, dan atau menginovasikan tari Topeng untuk masyarakat. Konsep yang dihasilkan dapat dijadikan salah satu panduan juga untuk berkreasi/berkarya dalam upaya merevitalisasi dan menginovasi tari Topeng lainnya. Kata kunci: Pertunjukan Topeng, ngarot, transformasi, perubahan
Praktik Identitas dalam Desain Kemasan Makanan UKM Moch. Junaidi Hidayat; Faruk HT -; Lono Lastoro Simatupang; Yasraf Amir Pialang
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.135

Abstract

ABSTRACT Small-Medium Scale Business continues to make creative process especially by making serious effort to change the Small-Medium Scale Business image that during this time as the subcultural eco- nomic movement to be the great economic power. One of the efforts is through packaging design. The objective of this research is: a) to know the identity practice of Small – Medium Scale business through packaging design, b) to describe the reposition effort of Small – Medium Scale Business through packag- ing design in economic political practice of packaging design.Through cultural studies approach, this article is the result of research revealing the practice of identity made by Small-Medium Scale Business especially Small-Medium Scale Business of snack as the typical souvenir of Malang Regency, East Java, namely fruit snack. The finding shows practice of identity of Small-Medium Scale Business through packaging design, namely visualization, material up to production pattern of packaging design. Other findings of this research is the effort of Small Medium Scale Business in improving packaging image of its products as the part of reposition of Small-Me- dium Scale Business to win the market competition. In this case, it is realized as the point in economic political practice. Therefore, this research is capable of providing the result of practice of identity made by Small Medium Scale Business through packaging design by means of critical analysis of cultural studies. Keywords: design, packaging, practice of Identity    ABSTRAK UKM terus melakukan proses kreatif khususnya berupaya merubah citra UKM yang se- lama ini sebagai gerakan ekonomi subkultur menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Salah satu upaya itu dilakukan melalui desain kemasan. Penelitian ini memiliki tujuan: a) mengetahui praktek identitas UKM melalui desain kemasan, b) mendeskripsikan upaya reposisi UKM me- lalui desain kemasan dalam praktek politik ekonomi desain kemasan.Melalui pendekatan etnografi, tulisan ini merupakan hasil penelitian yang mengungkap tentang praktek identitas yang dilakukan oleh UKM khususnya UKM makanan ringan sebagai oleh-oleh khas dari Kabupaten Malang, Jawa Timur yakni keripik buah. Hasil yang sudah di dapatkan adalah praktek identitas UKM melalui desain kemasan yakni visualisasi, material, hingga pola produksi desain kemasan. Penemuan lain dari penelitian ini adalah upaya UKM guna menaikkan citra kemasan hasil produksinya sebagai bagian reposisi UKM sebagai bagian guna memenangkan persaingan pasar. Dimana hal ini disadari sebagai sebuah ujung dalam praktek politik ekonomi. Sehingga, penelitian ini mampu memberikan hasil bagaimana praktek identitas yang dilakukan UKM melalui desain kemasan dengan analisis kritis cultural studies.   Kata kunci: desain, kemasan, praktek identitas
“Arsitektur Panggung” Di Kawasan Tugu Nasional Yuke Ardhiati
PANGGUNG Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.136

Abstract

ABSTRACT The many of architecture works of Soekarno in the 1960s are express the Nation Pride by exploring the Indonesian culture as the basic design into Modern Architecture’s buildings. This paper is a narra- tive of the spatial experiences in Soekarno’s masterpiece work, Tugu National. The study is refers to a qualitative research and used a Grounded Theory of Glaser and Strauss. By using a phenomenological spatial investigation in Tugu National building area was found an architecture drama analogy by adop- ted the sequences programming space looks like a drama performing especially from above through an aerial view of the Tugu National. The monument building looks like a resembled of ‘the drama perform- ing’ shown from a balcony on the aircraft cabin. A new theory named “Architecture of Stage” include to reveal Khora, as the concept of the ‘architectural form’ by traced the Soekarno’s ideas to express the uniqueness form of the monument. He composed an ‘Architecture Drama’ analogy as his tacit know- ledge in ‘tonil drama’ during his exile at Ende and Bengkulu. He reflected the Old Javanesse culture as the basic of the Modern Architecture design as an Architecture’s Event at that time. Keywords: Architecture’s Drama, Phenomenology, tonil drama of Soekarno, spatial investigation, Tugu National Monument    ABSTRAK Beberapa karya arsitektur Soekarno seputar tahun 1960-an merupakan ekspresi Nation Pride melalui eksplorasi budaya Indonesia sebagai basis perancangan bangunan Arsitektur Modern. Tulisan merupakan narasi pengalaman spasial pada karya masterpiece Soekarno, di kawasan Tugu Nasional berdasar penelitian kualitatif yang menerapkan strategi Grounded Theory meru- juk Glaser dan Strauss. Melalui pengamatan keruangan secara fenomenologi di kawasan Tugu Nasional telah ditemukan arsitektur drama analogy melalui cara mengadopsi sekuen ruang yang menyerupai pertunjukan drama, terutama melalui pandangan udara di kabin pesawat yang mengudara di atas kawasan Tugu Nasional, bagaikan  pertunjukan drama yang disak- sikan dari sebuah balkon. Teori baru yang dinamai “Arsitektur Panggung” disertai  pengung- kapan khora, sebagai konsep bentuk/’form’ arsitektur Tugu Nasional yang ditelusur sebagai ide Soekarno. Ia telah menggubah arsitektur drama sebagai pengetahuan tacit semasa menggelar drama tonil di pembuangan Ende dan Bengkulu. Soekarno mengekspresikan budaya Jawa Kuno sebagai basis perancangan Arsitektur Modern, yang kini dinamai ‘Arsitektur-Peristiwa’. Kata kunci: “Arsitektur Panggung”, fenomenologi, drama tonil, pengalaman keruangan, Tugu Nasional
Ikonografi dan Ikonologi Lukisan Djoko Pekik: ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.137

Abstract

ABSTRACT This research talked about ‘Tuan Tanah Kawin Muda’, painted by Djoko Pekik, with art history as the basic approach and therefore using Erwin Panofsky’s iconography and iconology theory. Hi- story research method followed with field data investigation, literature data, selection and critic, ana- lysis and source interpretation purposing to get the synthesis, continue with historiography framing. The result of this research contains; Preiconography descriptions explained the early textual aspect idea, reveals communication and conflict between the two figures. Iconography analysis explained about theme and concept, it tells about the oppression through economy asset, social, and cultural. The creator thought about how to defend among the conflict. Iconology interpretation, explained the art work symbolic value. Through the psychology experience and his social also cultural background, conclude that this painting is a crystallization symbol of deprivation and defense from the suffering poor people’s right. Keywords: Social realism, social conflict, oppression symbol  ABSTRAK Penelitian ini tentang lukisan Djoko Pekik yang berjudul ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ yang dianalisis dengan pendekatan sejarah seni dan memakai teori ikonografi dan ikonolo- gi Erwin Panofsky. Metode yang dipakai adalah metode sejarah dengan langkah pencarian sumber di lapangan dan pustaka (heuristik), seleksi dan kritik, analisis dan interpretasi sumber untuk menghasilkan sintesis, dan penyusunan historiografi. Hasil penelitian ini berupa: Deskripsi pra ikonografi berisi tanggapan awal aspek tekstual, mengungkap ko- munikasi dan konflik antara dua figur. Analisis ikonografis yaitu tentang tema dan konsep penindasan kaum laki-laki pada perempuan lewat kekuasaan modal ekonomi, sosial dan kultural. Konsep dasar penciptaannya tentang konflik antara kekuasaan yang menindas dan hak yang harus dipertahankan. Interpretasi ikonologis yaitu tentang nilai simbolik yang diungkap dalam lukisan. Lewat pengalaman psikologis pelukis dengan berbagai ke- kerasan dan penderitaan, serta pandangan hidup dari latar belakang sosial dan kultural- nya, maka lukisan ini merupakan kristalisasi simbol dari perampasan dan pertahanan hak rakyat bawah yang menderita.. Kata kunci: realisme sosial, konflik sosial, simbol ketertindasan
Demonisasi Islam dalam Film ˜Tanda Tanya (?)™ Rajab Ritonga
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.139

Abstract

ABSTRACT ˜Tanda Tanya (?)™ movie has become an Indonesian cinematic work with some controversies complement with it. The controversies lie on how the movie constructed their messages related to the description of Islamic image. The Islamic image which is depicted in this movie contains several sym- bols which created a demonization on the construction of Islam and Moslem. The narrative theory that has been employed focuses on greimas actantial analysis models which emphasizes on how the narrative creates a story and how the story becomes a narrative discourse. The semiotic analysis used on this research is in term of constructivist perspective which aims at constructing the phenomena as a whole answer. The result of the research is that demonization of Islam has been constructed through the narrative sequences of ˜Tanda Tanya™. The movie depicted Islam in an image of traditional, un- civilized, terrorism, destructive, and aggressive community. This created a meaning of Islam as a negative and demonic community, religion, and value. Keywords: demonization, Islam, narrative  ABSTRAK Film ˜Tanda Tanya (?)™ merupakan sebuah karya cinema Indonesia yang mengundang banyak kontroversi. Kontroversi terletak pada bagaimana film ini mengkonstruksikan pesan-pesannya terkait penggambaran citra Islam. Citra Islam yang digambarkan dalam film ini mengandung simbol-simbol yang menciptakan sebuah demonisasi pada kon- struksi Islam dan muslim. Dalam penelitian ini teori naratif digunakan sebagai alat un- tuk memberikan gambaran tentang fenomena demonisasi. Teori naratif yang digunakan berfokus pada model analisis aktansial greimas yang menitikberatkan bagaimana naratif menciptakan sebuah cerita dan bagaimana cerita menjadi sebuah wacana naratif. Analisis semiotik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penggunaan dalam paradigma konstruktivis yang bertujuan mengkonstruksi fenomena sebagai sebuah jawaban. Temuan penelitian ini ialah demonisasi umat Islam dikonstruksikan melalui sekuen/babakan nara- tif dalam film ˜Tanda Tanya™. Film ini menggambarkan Islam dalam sebuah citra masyara- kat yang tradisional, tidak beradab, teroris, merusak, dan agresif. Ini menciptakan suatu pemaknaan Islam sebagai masyarakat, agama, dan nilai yang demonik dan negatif. Kata kunci: demonisasi, Islam, naratif
Sandiwara Sunda sebagai Bentuk Transmisi Nilai bagi Generasi Muda Retno Dwimarwati; Afri Wita
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.140

Abstract

ABSTRACT Character education is nowadays being promoted in national education system since it is consi- dered to be able to enhance the character of present and future generation. Character building cannot be separated from culture. In this case, Ringkang Gumiwang Arts House (RGAH) concerns on cha- racter education by reintroducing mother language (Sundanese) as an effort to build one’s culture. Reconstructing Sundanese play is conducted as an attempt of retaining the existence of Sundanese culture. The performance of Sundanese play grows into media of maintaining language and arts for young generation. Arts inheritance method is implemented to explore and apply the sustainment of arts in the society. Understanding of values in the performance is expected to be applied in the youth life. Therefore, the performance appreciation run by RGAH can be a model in transmitting values of a society. Plays (Sandiwara) become a good vehicle to increase appreciation among the youth. Keywords: Sundanese plays, values transmission, young generation  ABSTRAK Pendidikan karakter kini tengah digalakkan dalam sistem pendidikan nasional karena dapat meningkatkan mutu karakter generasi sekarang dan masa datang. Kita tidak mung- kin membangun karakter terlepas dari budayanya. Padepokan Seni Ringkang Gumiwang (PSRG) peduli pada pendidikan karakter dengan mengenalkan kembali bahasa ibu(Sunda) sebagai upaya membangun budaya sendiri. Rekonstruksi Sandiwara Sunda dilakukan se- bagai upaya pemertahanan eksistensi budaya Sunda. Pertunjukan sandiwara Sunda men- jadi media pemertahanan bahasa dan seni kepada generasi muda. Metode Pewarisan kese- nian digunakan untuk menggali dan mengaplikasikan keberlangsungan sebuah kesenian di masyarakat. Pemahaman nilai-nilai yang terkandung di dalam pertunjukan diharapkan dapat diaplikasi dalam kehidupan siswa (generasi muda). Oleh karena itu, apresiasi per- tunjukan yang dilakukan oleh PSRG dapat menjadi model dalam transmisi nilai pada ma- syarakat. Sandiwara menjadi wahana tepat dalam peningkatan apresiasidi kalangan ge- nerasi muda. Kata kunci: Sandiwara Sunda, transmisi nilai, generasi muda 
Popularitas Tari Piring sebagai Identitas Budaya Minangkabau Indrayuda -
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.141

Abstract

ABSTRACT This article aims to explain the existence of Tari Piring dance as a culture identity of Minang- kabau people, both the people who live in the origin area and outside the area. Tari Piring dance is a traditional cultural heritage of Minangkabau people which is used and preserved by Minangkabau people in their life so that it becomes culture identity of Minangkabau people. As the identity of Minangkabau people, Piring dance is able to express attitudes and behaviors as well as the charac- teristics of Minangkabau people. The dance can serve as a reflection of social and cultural life style of Minangkabau society. Through Tari Piring performance, the outsider can understand Minangkabau people and their culture. Tari Piring, therefore, is getting more adhere to the social life of Minang- kabau people in West Sumatra and in the regions overseas. In the spirit of togetherness, Minang- kabau society preserves the existence of Piring dance as the identity and cultural heritage up to the present time. Keywords: Piring Dance, Minangkabau culture  ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan Tari Piring sebagai identitas bu- daya masyarakat Minangkabau, baik yang berada di daerah asal maupun di daerah peran- tauan. Tari Piring merupakan warisan budaya tradisional masyarakat Minangkabau yang digunakan dan dilestarikan oleh masyarakat Minangkabau dalam kehidupannya sehingga menjadi identitas budaya Minangkabau. Sebagai jati diri masyarakat Minangkabau, Tari Piring mampu mengungkapkan sikap dan prilaku serta karakteristik orang Minangkabau. Tari Piring dapat berperan sebagai cerminan dari corak kehidupan sosial budaya masyara- kat Minangkabau. Melalui pertunjukan Tari Piring, masyarakat luar dapat memahami orang Minangkabau dan budayanya. Oleh karena itu, sampai saat ini Tari Piring semakin melekat dengan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat maupun di daerah perantauan. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat Minangkabau mampu mempertahankan keberadaan Tari Piring sebagai identitas dan warisan budayanya hingga masa kini. Kata kunci : Tari Piring, budaya Minangkabau
Koreografi Wayang Wong ‘Rahwana Wirodha’ Samsuri -
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.142

Abstract

ABSTRACT This paper is a choreographic aesthetic study which analyzes dance creation as a form of academ- ic study. The character of Rahwana Wirodha is performed in Wayang Wong choreography which is taken from a part of Ramayana story. This study aims to affirm that in creative activity, a choreogra- pher may use any materials as sources of creation, including traditional arts. The result of the study shows that the materials in tradition are not the goal, but the medium to express creative ideas. Keywords: choreography, Wayang Wong  ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian estetis koreografis yang mengupas penciptaan tari seba- gai bentuk kajian akademis. Karakter Rahwana Wirodha ditampilkan dengan koreografi Wayang Wong yang diambil dari penggalan kisah Ramayana. Kajian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa dalam aktifitas kreatif, seorang koreografer dapat menggunakan ma- teri apa pun sebagai sumber kreasi, termasuk seni tradisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa materi yang sudah ada dalam tradisi merupakan sarana untuk mengungkapkan ide kreatif, bukan merupakan tujuan. Kata kunci: koreografi, Wayang Wong  

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32 No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28 No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27 No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Con Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26 No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26 No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25 No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25 No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24 No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23 No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23 No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajara Vol 22 No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22 No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22 No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22 No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21 No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21 No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21 No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18 No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15 No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1 No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional J More Issue