cover
Contact Name
Harya Gusdevi
Contact Email
p3m@utb-univ.ac.id
Phone
+6282118357887
Journal Mail Official
p3m@utb-univ.ac.id
Editorial Address
https://sistemik.utb-univ.ac.id/index.php/sistemik/EditorialBoard
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik
ISSN : 23373636     EISSN : 25276425     DOI : https://doi.org/10.53580
Core Subject : Engineering,
SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Teknologi Bandung. Jurnal Sistemik terbit dalam jangka waktu satu tahun sebanyak dua kali yaitu pada bulan Juni dan Desember. Cakupan ilmu yang dibahas dalam Jurnal Sistemik meliputi : 1. Manajemen Industri 2. Modeling & Simulation 3. Sistem Manufaktur 4. Ergonomi 5. Riset Operasi Jurnal Sistemik merupakan jurnal dengan open access atau akses terbuka yang memungkinkan pembaca dapat dengan bebas membaca dan mengakses jurnal ini tanpa dipungut biaya.
Articles 105 Documents
EVALUASI PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN METODE MIN MAX STOCK DAN ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) PADA PT XYZ Jaka Suryahusada; Tini Setiawati; Tombak Gapura Bhagya
SISTEMIK (Jurnal Nasional Ilmu Teknik) Vol 14 No 1 (2026): SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik
Publisher : Universitas Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53580/sistemik.v14i1.203

Abstract

PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang alat kesehatan, khususnya produk IVD rapid test. Meningkatnya permintaan alat kesehatan di dalam negeri menyebabkan kebutuhan bahan baku menjadi fluktuatif, sehingga menimbulkan kondisi kelebihan maupun kekurangan persediaan di gudang. Hal ini menjadi tantangan dalam pengendalian persediaan bahan baku, terutama dalam menentukan tingkat ketersediaan yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat buffer stock yang optimal dengan menggunakan metode Min Max Stock dan Economic Order Quantity (EOQ) guna meningkatkan efektivitas operasional serta efisiensi biaya. Penelitian ini menggunakan data historis persediaan, penerimaan, dan permintaan bahan baku pada periode Juli 2024 hingga Juni 2025. Data tersebut dianalisis untuk menentukan safety stock, reorder point, persediaan minimum dan maksimum, serta jumlah pemesanan yang optimal. Hasil dari kedua metode kemudian dibandingkan dengan kebijakan persediaan yang saat ini diterapkan oleh perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya persediaan dengan kebijakan perusahaan saat ini sebesar Rp 11.500.329 per tahun. Dengan metode Min Max Stock, biaya tersebut dapat ditekan menjadi Rp 8.925.387 per tahun dengan efisiensi sekitar 22% serta frekuensi pemesanan yang relatif rendah. Sementara itu, metode EOQ menghasilkan total biaya terendah sebesar Rp 1.878.727 per tahun dengan efisiensi sekitar 84%, namun dengan frekuensi pemesanan yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, kedua metode memberikan pengendalian persediaan yang lebih optimal dibandingkan kebijakan perusahaan saat ini. Metode Min Max Stock memberikan kestabilan persediaan, sedangkan metode Economic Order Quantity (EOQ) menawarkan potensi penghematan biaya yang lebih besar. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perbaikan kebijakan pengendalian persediaan bahan baku guna mencapai efisiensi dan efektivitas operasional yang lebih baik pada perusahaan.
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK CELANA CARGO DENGAN MENGGUNAKAN METODE PLAN, DO, CHECK, ACTION DI PT. TAHTTADU SOKO INDO Fitri Desriani; Tini Setiawati; Multi Nadeak
SISTEMIK (Jurnal Nasional Ilmu Teknik) Vol 13 No 2 (2025): SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik
Publisher : Universitas Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53580/sistemik.v13i2.181

Abstract

PT. Tahttadu Soko Indo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri garmen dengan fokus produksi celana dan menetapkan standar batas toleransi cacat produk maksimal sebesar 3%. Namun demikian, pada periode Juli hingga Desember 2024, tingkat kecacatan produk yang dihasilkan masih berada di atas standar yang telah ditetapkan, yaitu berkisar antara 3% hingga 5,3% dari total produksi sebanyak 54.603 pcs. Berdasarkan data inspeksi kualitas, jenis kecacatan yang paling dominan adalah cacat bahan dengan persentase sebesar 62,7% dan cacat jahitan sebesar 37,1%, sementara cacat pola dan aksesoris memiliki persentase yang relatif kecil. Persentase kecacatan tertinggi terjadi pada bulan Juli 2024, yaitu sebesar 5,3%, yang disebabkan oleh kualitas bahan baku yang tidak memenuhi standar serta keterampilan operator yang masih belum optimal. Meskipun terjadi penurunan tingkat kecacatan pada bulan September hingga mencapai 3%, fluktuasi tetap terjadi hingga bulan Desember 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kecacatan produk serta merumuskan usulan perbaikan kualitas yang sistematis dan berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam analisis adalah PDCA (Plan, Do, Check, Act) dan 5W+1H untuk mengidentifikasi penyebab kecacatan dari aspek manusia, metode kerja, mesin, material, dan lingkungan. Hasil analisis menghasilkan usulan perbaikan berupa peningkatan kompetensi tenaga kerja, standarisasi prosedur kerja, perawatan mesin secara berkala, seleksi bahan baku yang lebih ketat, serta perbaikan kondisi lingkungan kerja. Penerapan usulan tersebut diharapkan mampu menurunkan persentase kecacatan hingga berada di bawah batas toleransi serta mendukung peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan.
PEMILIHAN SUPPLIER PADA UMKM PENGRAJIN BONEKA R2N COLLECTION MENGGUNAKAN METODE AHP DAN TOPSIS Dzikri Ryadna; Tini Setiawati; Dewi Mulyasari
SISTEMIK (Jurnal Nasional Ilmu Teknik) Vol 13 No 2 (2025): SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik
Publisher : Universitas Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53580/sistemik.v13i2.182

Abstract

R2N Collection merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang industri kerajinan dalam sektor ekonomi kreatif, khususnya pada produksi boneka. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang dihadapi perusahaan, antara lain kekurangan bahan baku dari pemasok akibat keterbatasan ketersediaan dan persaingan pasar dengan produsen lain, fluktuasi harga, keterbatasan modal, keterlambatan produksi dan pengiriman, belum adanya kriteria yang tepat dalam pemilihan pemasok bahan baku dan pemasok tetap, serta pengabaian kriteria pemilihan pemasok oleh pemilik usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kriteria terpilih dengan mempertimbangkan bobot masing-masing kriteria dalam proses pengambilan keputusan pemilihan pemasok bahan baku serta menentukan pemasok terbaik dan paling tepat berdasarkan urutan prioritas sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan melibatkan satu pengambil keputusan utama, yaitu pemilik usaha. Metode yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot kriteria dan subkriteria, serta Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk menentukan peringkat pemasok terbaik. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh kriteria, yaitu harga, kualitas, pengiriman, pelayanan, kuantitas, fleksibilitas, dan tanggap, dengan total lima belas subkriteria terkait. Kriteria prioritas secara berurutan adalah kuantitas (0,2877), pengiriman (0,1725), fleksibilitas dan tanggap (0,1674), kualitas (0,0992), pelayanan (0,0643), dan harga (0,0415). Peringkat pemasok berdasarkan nilai preferensi menunjukkan bahwa Supplier D (0,6944) menempati peringkat pertama, diikuti oleh Supplier C (0,5488), Supplier B (0,4825), dan Supplier A (0,3966). Penelitian ini memberikan kontribusi melalui integrasi metode AHP dan TOPSIS pada UMKM industri kerajinan yang sebelumnya belum memiliki sistem pengambilan keputusan pemilihan pemasok secara terstruktur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kuantitas merupakan kriteria prioritas utama dalam sektor ini. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan satu responden sehingga potensi subjektivitas masih relatif tinggi. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih dari satu pengambil keputusan serta mengembangkan pendekatan berbasis fuzzy dan metode lainnya guna meningkatkan akurasi dalam menangkap ketidakpastian penilaian.
ANALISIS PERAWATAN MESIN STAMPING 800 TON MELALUI METODE RCM DAN FMEA UNTUK MENGURANGI DOWNTIME PT. YOROZU AUTOMOTIVE INDONESIA Salsabila Rosmalia Dewi; Mochamad Saidiman; Rimba Krisnha Sukma Dewi
SISTEMIK (Jurnal Nasional Ilmu Teknik) Vol 13 No 2 (2025): SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik
Publisher : Universitas Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53580/sistemik.v13i2.188

Abstract

Downtime mesin yang tinggi pada proses produksi menjadi salah satu kendala utama dalam pencapaian target produksi di PT. Yorozu Automotive Indonesia. Salah satu mesin yang paling sering mengalami gangguan adalah mesin stamping 800T yang berperan penting sebagai mesin awal dalam proses produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen kritis penyebab downtime serta merumuskan strategi perawatan yang optimal dengan menerapkan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Data yang dianalisis berupa Time Between Failure (TBF) dan Time To Repair (TTR) selama periode November 2023 – Oktober 2024 dengan distribusi kerusakan diuji menggunakan distribusi Weibull, Lognormal, Normal, dan Eksponensial. Perhitungan keandalan dilakukan dengan menentukan nilai Mean Time Between Failure (MTBF) dan Mean Time To Repair (MTTR). Berdasarkan analisis FMEA, komponen dies memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi yaitu 720, sehingga memerlukan prioritas perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen dies memiliki nilai MTBF sebesar 199.7 jam dengan MTTR 0.8 jam, feeder roll memiliki nilai MTBF sebesar 109.72 jam dengan MTTR 0.3 jam, sedangkan shutter memiliki nilai MTBF sebesar 171.72 jam dengan MTTR 0.3 jam. Nilai MTBF terkecil terdapat pada feeder roll, yang berarti komponen ini memiliki umur kehandalan yang lebih rendah dan membutuhkan perhatian pemeliharaan lebih intensif. Penerapan metode RCM dan FMEA dapat digunakan untuk menyusun strategi perawatan yang lebih efektif, antara lain time directed maintenance dan condition directed maintenance pada dies, condition directed maintenance pada feeder roll, serta condition directed maintenance  dan run to failure dengan inspeksi rutin pada shutter.
PENDEKATAN TEKNIK INDUSTRI DALAM BUDIDAYA TANAMAN ANTI OKSIDAN Ai Nurhayati
SISTEMIK (Jurnal Nasional Ilmu Teknik) Vol 14 No 1 (2026): SISTEMIK : Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik
Publisher : Universitas Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53580/sistemik.v14i1.208

Abstract

Tanaman yang mengandung senyawa antioksidan seperti rosela, pegagan, dan kemangi memiliki nilai ekonomis tinggi serta manfaat kesehatan yang luas, terutama di bidang pangan fungsional, farmasi, dan kosmetik. Namun, proses budidaya tanaman ini masih menghadapi tantangan terkait efisiensi dan keberlanjutan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemanfaatan sains dan teknologi, khususnya dari perspektif teknik industri, dapat meningkatkan efisiensi dan mutu dalam sistem budidaya tanaman antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan teknologi seperti Internet of Things (IoT), manajemen rantai pasok, dan metode lean dalam sistem produksi pertanian tanaman antioksidan. Metode penelitian dilakukan melalui studi literatur dan analisis sistem produksi berbasis teknologi. Studi kasus digunakan untuk menelaah implementasi sensor IoT dalam pemantauan lingkungan budidaya, penerapan prinsip lean agriculture, serta penerapan sistem manajemen mutu dan simulasi proses budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sensor suhu, kelembapan tanah, dan intensitas cahaya dengan sistem irigasi otomatis dapat menghemat air dan menjaga kualitas tanaman. Penerapan lean agriculture melalui eliminasi pemborosan dan visual management mampu meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, penggunaan sistem manajemen mutu dan traceability, seperti QR code dan ERP, mendukung jaminan mutu produk serta transparansi rantai pasok. Simulasi menggunakan perangkat lunak industri seperti FlexSim membantu mengidentifikasi bottleneck dan mengoptimalkan tata letak lahan. Kesimpulannya, pendekatan teknik industri dalam budidaya tanaman antioksidan secara signifikan dapat meningkatkan efisiensi, mutu, dan keberlanjutan produksi. Integrasi sains dan teknologi menjadi kunci dalam menciptakan sistem pertanian yang modern dan kompetitif. Kolaborasi lintas disiplin antara teknik industri, pertanian, dan teknologi informasi sangat diperlukan untuk penerapan sistem ini secara efektif di lapangan.

Page 11 of 11 | Total Record : 105