cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Qolamuna : Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam
ISSN : -     EISSN : 30628377     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
This journal aims to disseminate research results from academics, researchers, and practitioners in the field of Islamic Studies, both in theory and practice. Specifically, this journal invites papers discussing topics such as Islamic Education, Islamic thought, learning in Islamic education, students in Islamic education, Islamic education methods, Islamic teacher education, and Islamic education policies. This journal is published online four times a year, namely in January, April, July, and October.
Articles 90 Documents
Bentuk Komunikasi Transendental Terhadap Implikasi Bagi Kehidupan Manusia Ach. Atikul Ansori
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/9mhq4w08

Abstract

This study aims to explain the phenomenon of tawhid as the foundation of transcendental communication from an Islamic perspective, encompassing the theological, philosophical, and epistemological dimensions of communication. This research employs a qualitative-descriptive approach using literature analysis of various classical and contemporary Islamic sources relevant to the concepts of tawhid and communication. Through this approach, the study seeks to identify the correlation between divine consciousness (tawhid) and human communication processes as spiritual activities. The findings indicate that tawhid is not merely a religious doctrine but also an epistemological paradigm that positions God as the central orientation of communication (theocentric paradigm). Within this framework, communication is understood as a process of divine awareness that connects human beings with God, the self, and others, while embodying moral and prophetic ethical values. The study further affirms that the tawhid paradigm can reconstruct modern communication theories, which tend to be anthropocentric, toward a more holistic and transcendental communication model. The main conclusion asserts that tawhid functions as a philosophical, normative, and spiritual foundation for the development of an Islamic communication paradigm oriented toward truth, balance, and moral responsibility. These findings open opportunities for further development of communication studies grounded in revelation and spirituality. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tauhid sebagai basis komunikasi transendental dalam perspektif Islam, dengan ruang lingkup yang mencakup dimensi teologis, filosofis, dan epistemologis komunikasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis literatur terhadap berbagai sumber keislaman klasik maupun kontemporer yang relevan dengan konsep tauhid dan komunikasi. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menemukan korelasi antara kesadaran ketuhanan (tauhid) dengan proses komunikasi manusia sebagai aktivitas spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar doktrin keagamaan, tetapi juga paradigma epistemologis yang menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi komunikasi (theocentric paradigm). Dalam kerangka ini, komunikasi dipahami sebagai proses kesadaran ilahiah yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, diri, dan sesama, serta mengandung nilai moral dan etika profetik. Penelitian ini juga menegaskan bahwa paradigma tauhid dapat merekonstruksi teori komunikasi modern yang cenderung antroposentris, menuju model komunikasi yang lebih holistik dan transendental. Kesimpulan utama menyatakan bahwa tauhid berperan sebagai landasan filosofis, normatif, dan spiritual bagi pembentukan paradigma komunikasi Islam yang berorientasi pada kebenaran, keseimbangan, dan tanggung jawab moral. Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut terhadap ilmu komunikasi berbasis wahyu dan spiritualitas.
Perilaku Komuniikasi Masyarakat Muslim Desa Harang Julu Kecamatan Ulu Sosa Kabupaten Padang Lawas Tentang Pemeliharaan Jenggot Muhammad Khaliq Suarya Subaryana
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/vc9xva97

Abstract

This study aims to describe and analyze the communication behavior of the Muslim community in Harang Julu Village regarding the practice of beard-keeping, which is a sunnah recommended by the Prophet Muhammad, but is often misunderstood in social contexts. This study uses a qualitative approach with descriptive methods, which seeks to understand the phenomenon in depth from the perspective of the research subjects. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, participant observation, and documentation of religious leaders, community leaders, and individuals who do or do not grow beards. The results show that public perception of beards is not only influenced by religious teachings, but also by local cultural factors, media, and personal experiences in interacting with bearded individuals. In social reality, beards are often associated with certain groups considered exclusive or radical, thus giving rise to a negative stigma. This condition creates a gap between the normative values ​​of Islamic teachings and the understanding of the general public. Furthermore, this study found a tendency for less inclusive communication behavior, such as prejudice, stereotypes, and discriminatory treatment of individuals who grow beards. Therefore, educational efforts and constructive dialogue are needed to create a more objective and proportional understanding. This research is expected to be an academic contribution in strengthening religious communication that is tolerant, inclusive, and able to bridge differences in perception within society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sekaligus menganalisis perilaku komunikasi masyarakat Muslim di Desa Harang Julu terhadap praktik pemeliharaan jenggot, yang merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad, namun kerap disalahpahami dalam konteks sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang berupaya memahami fenomena secara mendalam berdasarkan perspektif subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh masyarakat, dan individu yang memelihara maupun tidak memelihara jenggot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap jenggot tidak hanya dipengaruhi oleh ajaran agama, tetapi juga oleh faktor budaya lokal, media, serta pengalaman pribadi dalam berinteraksi dengan individu berjenggot. Dalam realitas sosial, jenggot sering diasosiasikan dengan kelompok tertentu yang dianggap eksklusif atau radikal, sehingga memunculkan stigma negatif. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara nilai normatif ajaran Islam dengan pemahaman masyarakat awam. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan adanya kecenderungan perilaku komunikasi yang kurang inklusif, seperti prasangka, stereotip, hingga perlakuan diskriminatif terhadap individu yang memelihara jenggot. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan dialog yang konstruktif agar tercipta pemahaman yang lebih objektif dan proporsional. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dalam memperkuat komunikasi keagamaan yang toleran, inklusif, serta mampu menjembatani perbedaan persepsi di tengah masyarakat.
Pemanfaatan Media Online Dalam Membangun Komunikasi Politik Di Nusa Tenggara Barat Supriadi; Supardi
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/98zajf35

Abstract

In the digital era, media has become a trusted medium for broadcasting, but it often deviates from the regulations established by the Indonesian Broadcasting Commission (KPI). However, both electronic and print media are frequently used by elites as campaign tools during presidential and general elections. These elites use the media to attract supporters or public support. They also use the media as political material, used by elites who provide cartels or opportunistically to secure seats in presidential or general elections. The development of information technology has driven transformations in various aspects of life, including the realm of political communication. Online media has now become a primary instrument for conveying political messages, both by political actors, parties, and the general public. This study aims to analyze how online media is utilized as a political communication tool, as well as its impact on public participation and opinion formation. The method used in this research is a qualitative study with a descriptive- analytical approach through a literature review and case studies on several social media platforms. The results show that online media enables two-way interaction between political actors and the public, accelerates the dissemination of information, and opens up broader spaces for participation. However, the use of online media also presents challenges, such as disinformation and opinion polarization. Therefore, digital literacy and strong political communication ethics are needed so that online media can be utilized positively in modern democracy. Abstrak Diera digital media menjadi salah satu penyiran yang cukup dipercaya oleh masyarakat, akan tetapi media sering juga keluar dari koridor atau aturan-aturan yang telah di tetapkan olek Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Namun media elektronik maupun cetak sering sekali di gunakan oleh para elit sebagi alat kampanye pada momen pilpres atau pilek. Para elit menggunakan media sebagai alat untuk menarik simpatisan atau sura masyarakat, media juga tidak mau terlepas sebagi bahan politik yang digunakan oleh orang-orang elit yang memberi kartel atau oportunistik pada saat mendapatkan korsi di pilpers atau pilek. Perkembangan teknologi informasi telah mendorong transformasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah komunikasi politik. Media online kini menjadi salah satu instrumen utama dalam menyampaikan pesan-pesan politik, baik oleh aktor politik, partai, maupun masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media online dimanfaatkan sebagai alat komunikasi politik, serta dampaknya terhadap partisipasi publik dan pembentukan opini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui telaah literatur dan studi kasus pada beberapa platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media online memungkinkan interaksi dua arah antara pelaku politik dan masyarakat, mempercepat penyebaran informasi, serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Namun, pemanfaatan media online juga menghadirkan tantangan, seperti disinformasi dan polarisasi opini. Oleh karena itu, diperlukan literasi digital dan etika komunikasi politik yang kuat agar media online dapat dimanfaatkan secara positif dalam demokrasi modern.
The Semiotics of Sacred Consumption: A Saussurean Analysis of Marjan’s Ramadan Advertising on Instagram Inosensius Enryco Mokos; Hinhin Agung Daryana; Moch. Gigin Ginanjar; Denhaz Nurul Hakim
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/3d22ex78

Abstract

This research investigates the intricate construction of visual and verbal meanings within Marjan’s Instagram advertisements during the 2024 Ramadan season and explores how these semiotic configurations stimulate consumer purchase intention. Adopting a qualitative paradigm underpinned by Ferdinand de Saussure’s structuralist semiotics, the study deconstructs the dyadic relationship between signifiers and signifieds in digital promotional content. Systematic observation of visual markers, including the brand logo, the signature red syrup bottle, young coconut motifs, Ramadan lanterns, and desert landscapes, reveals a deliberate orchestration of brand identity, sensory freshness, spiritual enlightenment, and cultural nostalgia. Concurrently, verbal signifiers such as the slogan "Breaking the Fast Becomes Sweeter" function as anchors that solidify the brand’s positioning as an indispensable cultural artifact of the holy month. The findings demonstrate that Marjan’s advertising efficacy is rooted in its ability to synthesize religious symbolism with local cultural values, thereby enhancing brand resonance and effectively catalyzing purchase intention among Indonesian Muslim consumers. This study contributes to the discourse on digital marketing communication by elucidating the role of semiotic precision in capturing the cultural zeitgeist of religious festivities.
Komunikasi Islam dan Tantangan Penyebaran Informasi di Media Digital Neng Ayu Saadah
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/4ejw7193

Abstract

The development of digital media has brought about significant changes in societal communication patterns, including the dissemination of religious information. Digital media provides extensive opportunities for Islamic communication to convey da'wah, educational, and moral values ​​to the public quickly and effectively, without the constraints of time and space. However, this development also presents various challenges, such as the spread of hoaxes, hate speech, disinformation, low digital literacy, and a decline in communication ethics in the digital space. This study aims to analyze Islamic communication and the challenges of disseminating information in digital media, as well as to examine the importance of applying Islamic communication principles in addressing the dynamics of information technology development. This study employed a qualitative method with a descriptive approach through library research. Data were obtained from various sources, such as books, scientific journals, articles, and documents relevant to Islamic communication and digital media. Data analysis techniques included data reduction, data presentation, and systematic drawing of conclusions. The results indicate that digital media plays a strategic role as a means of da'wah and the dissemination of Islamic information in a broader, interactive, and innovative way. However, the use of digital media without ethical and responsible practices can have various negative impacts on society. Therefore, Islamic communication principles such as honesty, tabayyun (religious dialogue), politeness, and social responsibility are crucial for communication activities on digital media. By implementing these values, digital media can be utilized as a means of building a knowledgeable, moral, tolerant, and harmonious society amidst increasingly rapid technological developments. Abstrak Perkembangan media digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat, termasuk dalam penyebaran informasi keagamaan. Media digital memberikan peluang yang luas bagi komunikasi Islam untuk menyampaikan nilai-nilai dakwah, pendidikan, dan moral kepada masyarakat secara cepat dan efektif tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, disinformasi, rendahnya literasi digital, serta menurunnya etika komunikasi di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi Islam dan tantangan penyebaran informasi di media digital serta mengkaji pentingnya penerapan prinsip-prinsip komunikasi Islam dalam menghadapi dinamika perkembangan teknologi informasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan dokumen yang relevan dengan komunikasi Islam dan media digital. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital memiliki peran strategis sebagai sarana dakwah dan penyebaran informasi Islam yang lebih luas, interaktif, dan inovatif. Akan tetapi, penggunaan media digital yang tidak disertai etika dan tanggung jawab dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat. Oleh karena itu, prinsip komunikasi Islam seperti kejujuran, tabayyun, kesantunan, dan tanggung jawab sosial sangat penting diterapkan dalam aktivitas komunikasi di media digital. Dengan penerapan nilai-nilai tersebut, media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, toleran, dan harmonis di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Pengaruh Kompetensi Profesional dan Komunikasi Interpersonal terhadap Komitmen Organisasi melalui Kepuasan Kerja pada KJPP di Kota Malang Sih Melyna Ayadinty
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/j0vgy557

Abstract

This study aims to analyze the influence of professional competence and interpersonal communication on organizational commitment through job satisfaction at the Public Appraisal Services Office (KJPP) in Malang City. Professional competence and interpersonal communication are important factors in improving the quality of human resources and building employee loyalty to the organization. In the context of professional service organizations, job satisfaction is a variable that can strengthen the relationship between individual abilities and employee engagement with the organization. This study used a quantitative approach with explanatory research. The population in this study was all KJPP employees in Malang City. Data collection was conducted by distributing questionnaires to respondents selected using a specific sampling technique according to the study's characteristics. The data were analyzed using path analysis to determine the direct and indirect effects between the study variables. The results showed that professional competence had a positive and significant effect on job satisfaction and organizational commitment. Interpersonal communication also had a positive and significant effect on job satisfaction and organizational commitment. Furthermore, job satisfaction was shown to have a positive effect on organizational commitment and was able to mediate the influence of professional competence and interpersonal communication on organizational commitment. These findings indicate that the higher the professional competence and quality of interpersonal communication possessed by employees, the higher the job satisfaction and organizational commitment. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi profesional dan komunikasi interpersonal terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja pada Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) di Kota Malang. Kompetensi profesional dan komunikasi interpersonal merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membangun loyalitas karyawan terhadap organisasi. Dalam konteks organisasi jasa profesional, kepuasan kerja menjadi variabel yang mampu memperkuat hubungan antara kemampuan individu dan keterikatan karyawan terhadap organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian explanatory research. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan KJPP di Kota Malang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada responden yang dipilih menggunakan teknik sampling tertentu sesuai karakteristik penelitian. Data dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasi. Komunikasi interpersonal juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja serta komitmen organisasi. Selain itu, kepuasan kerja terbukti berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi dan mampu memediasi pengaruh kompetensi profesional dan komunikasi interpersonal terhadap komitmen organisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi profesional dan kualitas komunikasi interpersonal yang dimiliki karyawan, maka semakin tinggi pula kepuasan kerja dan komitmen organisasi yang terbentuk.
Dakwah dan Transformasi Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an Sulaiman
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/4ty2bf43

Abstract

This study discusses da'wah and social transformation from a Qur'anic perspective. Da'wah is not only understood as the verbal transmission of Islamic teachings, but also as a process of social change aimed at building a society that is faithful, moral, just, and harmonious. The Qur'an provides guidance that social change must be carried out through a wise, humanistic, and exemplary approach, as reflected in the principles of da'wah bil hikmah (intelligible), mau'izhah hasanah (intelligible), and mujadalah billati hiya ahsan (intelligible). This study employed a library research method with a descriptive-qualitative approach through analysis of Qur'anic verses related to da'wah and social change, supported by various tafsir (interpretative) literature and Islamic studies. The results indicate that da'wah plays a strategic role as an instrument of social transformation in shaping individual behavior and improving social order. Social transformation, from a Quranic perspective, is not only oriented toward material change, but also toward moral, spiritual, and cultural change based on the values ​​of monotheism, justice, brotherhood, and humanity. Furthermore, the success of da'wah in realizing social transformation is greatly influenced by the exemplary conduct of the da'i, the relevance of da'wah methods to societal conditions, and the da'wah's ability to respond to the challenges of the times. Thus, da'wah, from a Quranic perspective, is a crucial tool for creating constructive and sustainable social change in modern society. Abstrak Penelitian ini membahas tentang dakwah dan transformasi sosial dalam perspektif Al-Qur’an. Dakwah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas penyampaian ajaran Islam secara verbal, tetapi juga sebagai proses perubahan sosial yang bertujuan membangun masyarakat yang beriman, berakhlak, adil, dan harmonis. Al-Qur’an memberikan pedoman bahwa perubahan sosial harus dilakukan melalui pendekatan yang bijaksana, humanis, dan penuh keteladanan sebagaimana tercermin dalam prinsip dakwah bil hikmah, mau‘izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan dakwah dan perubahan sosial, serta didukung oleh berbagai literatur tafsir dan kajian keislaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah memiliki peran strategis sebagai instrumen transformasi sosial dalam membentuk perilaku individu dan tatanan masyarakat yang lebih baik. Transformasi sosial dalam perspektif Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada perubahan material, tetapi juga perubahan moral, spiritual, dan budaya yang berlandaskan nilai-nilai tauhid, keadilan, persaudaraan, dan kemanusiaan. Selain itu, keberhasilan dakwah dalam mewujudkan transformasi sosial sangat dipengaruhi oleh keteladanan da’i, relevansi metode dakwah dengan kondisi masyarakat, serta kemampuan dakwah dalam menjawab tantangan zaman. Dengan demikian, dakwah dalam perspektif Al-Qur’an menjadi sarana penting dalam menciptakan perubahan sosial yang konstruktif dan berkelanjutan di tengah kehidupan masyarakat modern.
Komunikasi Antarbudaya dalam Masyarakat Multikultural di Era Digital Ilham Mushariawan
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ayvzp538

Abstract

Intercultural communication is the interaction process that occurs between individuals or groups with different cultural backgrounds in a multicultural society. The diversity of cultures, ethnicities, religions, languages, and customs within a society can both be a social asset and pose challenges to the communication process if not accompanied by an attitude of tolerance and mutual understanding. This study aims to analyze the role of intercultural communication in building harmonious social relations in a multicultural society and to identify factors that support and hinder intercultural communication in social life. This study used a descriptive method with a qualitative approach. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. Research informants included community leaders, religious leaders, educators, youth, and members of the general public involved in intercultural social interactions. Data analysis used the Miles and Huberman interactive analysis model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results indicate that intercultural communication plays a crucial role in creating tolerance, strengthening social integration, and fostering mutual respect among culturally diverse groups. Supporting factors for intercultural communication include openness, empathy, tolerance, and understanding of other cultural values, while inhibiting factors include language differences, stereotypes, social prejudice, and a lack of cultural understanding. Thus, intercultural communication is a crucial tool in creating a harmonious, peaceful, and respectful multicultural society amidst cultural diversity. Abstrak Komunikasi antarbudaya merupakan proses interaksi yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki latar belakang budaya berbeda dalam kehidupan masyarakat multikultural. Keberagaman budaya, suku, agama, bahasa, dan adat istiadat dalam masyarakat dapat menjadi kekayaan sosial sekaligus menimbulkan tantangan dalam proses komunikasi apabila tidak disertai sikap toleransi dan saling memahami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi antarbudaya dalam membangun hubungan sosial yang harmonis di tengah masyarakat multikultural, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat komunikasi antarbudaya dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik, pemuda, dan masyarakat umum yang terlibat dalam interaksi sosial antarbudaya. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya memiliki peranan penting dalam menciptakan toleransi, memperkuat integrasi sosial, serta membangun sikap saling menghargai antar kelompok masyarakat yang berbeda budaya. Faktor pendukung komunikasi antarbudaya meliputi sikap terbuka, empati, toleransi, dan pemahaman terhadap nilai budaya lain, sedangkan faktor penghambatnya meliputi perbedaan bahasa, stereotip, prasangka sosial, dan kurangnya pemahaman budaya. Dengan demikian, komunikasi antarbudaya menjadi sarana penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat multikultural yang harmonis, damai, dan saling menghormati di tengah keberagaman budaya.
Komunikasi Islam dalam Membangun Etika Bermedia Sosial di Era Digital Meysarah
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ajq0we92

Abstract

The development of information and communication technology in the digital era has brought about significant changes in people's interaction patterns, particularly in the use of social media. The presence of various digital platforms such as WhatsApp, Instagram, Facebook, and TikTok has made it easier to disseminate information and communicate without the constraints of time and space. However, these developments have also given rise to various ethical issues, such as the spread of hoaxes, hate speech, cyberbullying, slander, and low levels of politeness in social media communication. This study aims to analyze the role of Islamic communication in developing social media ethics in the digital era. This study used a qualitative approach with library research. Data were obtained through a review of the Quran, Hadith, books, scientific journals, and various other literature relevant to Islamic communication and social media ethics. Data analysis was conducted using descriptive qualitative techniques through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that Islamic communication encompasses ethical principles that are highly relevant to the use of social media, such as qaulan sadidan (correct speech), qaulan ma'rufa (good speech), qaulan layyina (gentle speech), and the principle of tabayyun (verification of information before disseminating it). Islamic communication values ​​can serve as moral guidelines in creating a culture of polite, wise, and responsible digital communication. Furthermore, Islamic communication also plays a role in raising public awareness to utilize social media as a means of da'wah, education, and the dissemination of good values. Thus, the application of Islamic communication in the digital era is expected to create a more harmonious, peaceful, and dignified social media space in accordance with Islamic teachings. Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah membawa perubahan besar terhadap pola interaksi masyarakat, khususnya dalam penggunaan media sosial. Kehadiran berbagai platform digital seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok memberikan kemudahan dalam penyebaran informasi dan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan berbagai persoalan etika, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, fitnah, dan rendahnya kesantunan dalam berkomunikasi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi Islam dalam membangun etika bermedia sosial di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui kajian terhadap Al-Qur’an, hadis, buku, jurnal ilmiah, dan berbagai literatur yang relevan dengan komunikasi Islam dan etika media sosial. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi Islam memiliki prinsip-prinsip etika yang sangat relevan dalam penggunaan media sosial, seperti qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut), serta prinsip tabayyun dalam memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Nilai-nilai komunikasi Islam mampu menjadi pedoman moral dalam menciptakan budaya komunikasi digital yang santun, bijak, dan bertanggung jawab. Selain itu, komunikasi Islam juga berperan dalam membangun kesadaran masyarakat agar memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan penyebaran nilai-nilai kebaikan. Dengan demikian, penerapan komunikasi Islam di era digital diharapkan dapat menciptakan ruang media sosial yang lebih harmonis, damai, dan bermartabat sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Komunikasi sebagai Sarana Membangun Kepercayaan Masyarakat Ach Rifai
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/vqw65391

Abstract

Communication is a crucial aspect of social life, playing a significant role in building harmonious relationships and fostering public trust. This study aims to analyze the role of communication as a means of building public trust in social life, organizations, and government. The research method used was a qualitative approach with a descriptive approach. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation, while data analysis employed the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that effective, open, honest, and responsible communication can increase public trust in individuals, organizations, and the government. Good communication also contributes to creating harmonious social relations, strengthening social solidarity, increasing public participation, and building a positive image of an institution. Furthermore, professional and humane communication can minimize social conflict and foster social stability in society. In the digital era, communication also faces challenges in the form of the spread of hoaxes and disinformation, which can impact public trust. Therefore, ethical, transparent, and public-interest-oriented communication is necessary to maintain public trust. Thus, communication plays a strategic role as a means of building public trust and creating a harmonious, peaceful, and cooperative social life. Abstrak Komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan sosial yang memiliki peranan besar dalam membangun hubungan harmonis dan menciptakan kepercayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi sebagai sarana membangun kepercayaan masyarakat dalam kehidupan sosial, organisasi, maupun pemerintahan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif, terbuka, jujur, dan bertanggung jawab mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap individu, organisasi, maupun pemerintah. Komunikasi yang baik juga berkontribusi dalam menciptakan hubungan sosial yang harmonis, memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta membangun citra positif suatu lembaga. Selain itu, komunikasi yang dilakukan secara profesional dan humanis dapat meminimalkan konflik sosial serta menciptakan stabilitas sosial dalam kehidupan masyarakat. Di era digital, komunikasi juga menghadapi tantangan berupa penyebaran hoaks dan disinformasi yang dapat memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang etis, transparan, dan berorientasi pada kepentingan publik agar kepercayaan masyarakat dapat terus terjaga. Dengan demikian, komunikasi memiliki peranan strategis sebagai sarana membangun kepercayaan masyarakat dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis, damai, dan penuh kerja sama.