cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Qolamuna : Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam
ISSN : -     EISSN : 30628377     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
This journal aims to disseminate research results from academics, researchers, and practitioners in the field of Islamic Studies, both in theory and practice. Specifically, this journal invites papers discussing topics such as Islamic Education, Islamic thought, learning in Islamic education, students in Islamic education, Islamic education methods, Islamic teacher education, and Islamic education policies. This journal is published online four times a year, namely in January, April, July, and October.
Articles 82 Documents
Bentuk Komunikasi Transendental Terhadap Implikasi Bagi Kehidupan Manusia Ach. Atikul Ansori
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/9mhq4w08

Abstract

This study aims to explain the phenomenon of tawhid as the foundation of transcendental communication from an Islamic perspective, encompassing the theological, philosophical, and epistemological dimensions of communication. This research employs a qualitative-descriptive approach using literature analysis of various classical and contemporary Islamic sources relevant to the concepts of tawhid and communication. Through this approach, the study seeks to identify the correlation between divine consciousness (tawhid) and human communication processes as spiritual activities. The findings indicate that tawhid is not merely a religious doctrine but also an epistemological paradigm that positions God as the central orientation of communication (theocentric paradigm). Within this framework, communication is understood as a process of divine awareness that connects human beings with God, the self, and others, while embodying moral and prophetic ethical values. The study further affirms that the tawhid paradigm can reconstruct modern communication theories, which tend to be anthropocentric, toward a more holistic and transcendental communication model. The main conclusion asserts that tawhid functions as a philosophical, normative, and spiritual foundation for the development of an Islamic communication paradigm oriented toward truth, balance, and moral responsibility. These findings open opportunities for further development of communication studies grounded in revelation and spirituality. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tauhid sebagai basis komunikasi transendental dalam perspektif Islam, dengan ruang lingkup yang mencakup dimensi teologis, filosofis, dan epistemologis komunikasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis literatur terhadap berbagai sumber keislaman klasik maupun kontemporer yang relevan dengan konsep tauhid dan komunikasi. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menemukan korelasi antara kesadaran ketuhanan (tauhid) dengan proses komunikasi manusia sebagai aktivitas spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar doktrin keagamaan, tetapi juga paradigma epistemologis yang menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi komunikasi (theocentric paradigm). Dalam kerangka ini, komunikasi dipahami sebagai proses kesadaran ilahiah yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, diri, dan sesama, serta mengandung nilai moral dan etika profetik. Penelitian ini juga menegaskan bahwa paradigma tauhid dapat merekonstruksi teori komunikasi modern yang cenderung antroposentris, menuju model komunikasi yang lebih holistik dan transendental. Kesimpulan utama menyatakan bahwa tauhid berperan sebagai landasan filosofis, normatif, dan spiritual bagi pembentukan paradigma komunikasi Islam yang berorientasi pada kebenaran, keseimbangan, dan tanggung jawab moral. Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut terhadap ilmu komunikasi berbasis wahyu dan spiritualitas.
Perilaku Komuniikasi Masyarakat Muslim Desa Harang Julu Kecamatan Ulu Sosa Kabupaten Padang Lawas Tentang Pemeliharaan Jenggot Muhammad Khaliq Suarya Subaryana
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/vc9xva97

Abstract

This study aims to describe and analyze the communication behavior of the Muslim community in Harang Julu Village regarding the practice of beard-keeping, which is a sunnah recommended by the Prophet Muhammad, but is often misunderstood in social contexts. This study uses a qualitative approach with descriptive methods, which seeks to understand the phenomenon in depth from the perspective of the research subjects. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, participant observation, and documentation of religious leaders, community leaders, and individuals who do or do not grow beards. The results show that public perception of beards is not only influenced by religious teachings, but also by local cultural factors, media, and personal experiences in interacting with bearded individuals. In social reality, beards are often associated with certain groups considered exclusive or radical, thus giving rise to a negative stigma. This condition creates a gap between the normative values ​​of Islamic teachings and the understanding of the general public. Furthermore, this study found a tendency for less inclusive communication behavior, such as prejudice, stereotypes, and discriminatory treatment of individuals who grow beards. Therefore, educational efforts and constructive dialogue are needed to create a more objective and proportional understanding. This research is expected to be an academic contribution in strengthening religious communication that is tolerant, inclusive, and able to bridge differences in perception within society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sekaligus menganalisis perilaku komunikasi masyarakat Muslim di Desa Harang Julu terhadap praktik pemeliharaan jenggot, yang merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad, namun kerap disalahpahami dalam konteks sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang berupaya memahami fenomena secara mendalam berdasarkan perspektif subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh masyarakat, dan individu yang memelihara maupun tidak memelihara jenggot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap jenggot tidak hanya dipengaruhi oleh ajaran agama, tetapi juga oleh faktor budaya lokal, media, serta pengalaman pribadi dalam berinteraksi dengan individu berjenggot. Dalam realitas sosial, jenggot sering diasosiasikan dengan kelompok tertentu yang dianggap eksklusif atau radikal, sehingga memunculkan stigma negatif. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara nilai normatif ajaran Islam dengan pemahaman masyarakat awam. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan adanya kecenderungan perilaku komunikasi yang kurang inklusif, seperti prasangka, stereotip, hingga perlakuan diskriminatif terhadap individu yang memelihara jenggot. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan dialog yang konstruktif agar tercipta pemahaman yang lebih objektif dan proporsional. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dalam memperkuat komunikasi keagamaan yang toleran, inklusif, serta mampu menjembatani perbedaan persepsi di tengah masyarakat.