cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Qolamuna : Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam
ISSN : -     EISSN : 30628377     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
This journal aims to disseminate research results from academics, researchers, and practitioners in the field of Islamic Studies, both in theory and practice. Specifically, this journal invites papers discussing topics such as Islamic Education, Islamic thought, learning in Islamic education, students in Islamic education, Islamic education methods, Islamic teacher education, and Islamic education policies. This journal is published online four times a year, namely in January, April, July, and October.
Articles 80 Documents
Dakwah sebagai Instrumen Pembinaan Akhlak di Masyarakat Multikultural Lailatul Mukarromah; Ahmad Ma’ruf; Askhabul Kirom; Wiwin Fachrudin Yusuf
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/zpddd534

Abstract

Penelitian ini membahas dakwah sebagai instrumen pembinaan akhlak di masyarakat multikultural, dengan fokus pada peran dakwah dalam membentuk karakter dan moralitas umat di tengah keragaman budaya, etnis, dan agama. Dakwah dalam perspektif Islam tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana transformasi sosial dan moral yang menanamkan nilai-nilai universal seperti kejujuran, toleransi, keadilan, dan kasih sayang. Berdasarkan kajian literatur dan analisis normatif terhadap sumber-sumber Islam terutama Al-Qur’an, hadis, dan pemikiran ulama — penelitian ini menunjukkan bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana tercermin dalam sabdanya “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” menegaskan bahwa inti dakwah adalah penyempurnaan akhlak manusia. Dalam konteks masyarakat multikultural, dakwah perlu dilakukan secara inklusif, dialogis, dan kontekstual, dengan menyesuaikan metode dan pendekatan terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat. Dakwah yang berorientasi pada pembinaan akhlak mampu menjadi media integrasi sosial dan memperkuat harmoni antarumat, sekaligus membangun kesadaran moral kolektif untuk hidup damai dalam perbedaan. Hasil penelitian menegaskan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari peningkatan pengetahuan keagamaan, tetapi juga dari perubahan perilaku dan karakter sosial masyarakat yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Abstract This study examines da'wah as an instrument for moral development in a multicultural society, focusing on its role in shaping the character and morality of the community amidst cultural, ethnic, and religious diversity. Da'wah, from an Islamic perspective, functions not only as a means of conveying religious messages but also as a means of social and moral transformation that instills universal values ​​such as honesty, tolerance, justice, and compassion. Based on a literature review and normative analysis of Islamic sources—particularly the Quran, hadith, and the thoughts of Islamic scholars—this study demonstrates that the prophetic mission of the Prophet Muhammad (peace be upon him), as reflected in his statement, "Indeed, I have been sent only to perfect noble morals," affirms that the essence of da'wah is the perfection of human morality. In the context of a multicultural society, da'wah needs to be carried out inclusively, dialogically, and contextually, adapting methods and approaches to the socio-cultural conditions of the community. Da'wah oriented toward moral development can serve as a medium for social integration and strengthen harmony among believers, while simultaneously building collective moral awareness for living peacefully amidst differences. The research findings confirm that the success of da'wah is measured not only by increasing religious knowledge, but also by changes in the behavior and social character of the community, reflecting Islamic values ​​that are a blessing for all the worlds.
Strategi Komunikasi Orang Tua dan Guru Dalam Membentuk Karakter Religius pada Siswa SDN 10 Mentok Septi Dewi Anggraini
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/mstd1910

Abstract

The implications of effective communication strategies between teachers and parents have a positive impact on the formation of students' religious character within the school and family environment. Synergy between the two facilitates monitoring of students' behavior and academic development and strengthens the internalization of religious values. This study recommends increased communication collaboration between teachers and parents as a key to successfully developing students' religious character. This study aims to examine the communication strategies used by teachers and parents in developing religious character in students at Mentok 10 Public Elementary School. Religious character is an important foundation for creating a generation with noble morals and strong faith. This study used a qualitative approach with a case study method and was conducted at Mentok 10 Public Elementary School from July to August 2025. Data were obtained through observation, in-depth interviews, and documentation with informants including religious teachers, students, and parents. The results indicate that communication strategies between teachers and parents are implemented both directly and indirectly. Direct communication includes parent visits to the school, the formation of a school committee, parent-student associations, and report card collection. Indirect communication is conducted through digital media such as WhatsApp groups for information exchange and monitoring of students' religious character development. The religious character of students at SD Negeri 10 Mentok is reflected in their daily prayer habits, disciplined recitation of the Quran, congregational prayer, honesty, sincerity, self-confidence, creativity, responsibility, love of knowledge, discipline, obedience to rules, tolerance, and respect for others. Abstrak Implikasi strategi komunikasi yang efektif antara guru dan orang tua berdampak positif pada pembentukan karakter religius siswa di lingkungan sekolah dan keluarga. Sinergi antara keduanya mempermudah pengawasan perilaku dan perkembangan akademik siswa serta memperkuat internalisasi nilai-nilai agama. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kerja sama komunikasi antara guru dan orang tua sebagai kunci keberhasilan pembentukan karakter religius siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi komunikasi yang digunakan oleh guru dan orang tua dalam membentuk karakter religius pada siswa Sekolah Dasar Negeri 10 Mentok. Karakter religius merupakan fondasi penting dalam menciptakan generasi yang berakhlak mulia dan memiliki keimanan yang kuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan di SD Negeri 10 Mentok selama bulan Juli hingga Agustus 2025. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan informan berupa guru agama, siswa, dan orang tua siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi antara guru dan orang tua dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Komunikasi langsung mencakup kunjungan orang tua ke sekolah, pembentukan komite sekolah, paguyuban orang tua siswa, dan pengambilan raport. Komunikasi tidak langsung dilakukan melalui media digital seperti grup WhatsApp untuk pertukaran informasi dan pengawasan perkembangan karakter religius siswa. Karakter religius siswa di SD Negeri 10 Mentok tercermin dalam kebiasaan doa sehari-hari, disiplin mengaji, pelaksanaan sholat berjamaah, sikap jujur, ikhlas, percaya diri, kreatif, bertanggung jawab, cinta ilmu, disiplin, taat peraturan, toleransi, dan penghormatan terhadap orang lain.
Budaya Patriarki Kepemimpinan Perempuan dalam Sistem Politik di Indonesia Perspektif Maqashid Syariah Meilani Putri Basri; A. St. Aqilah Nur Asizah; Kurniati
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/559p6943

Abstract

This research employs a qualitative, descriptive-analytical method focused on in-depth explanations of phenomena through the examination of texts, concepts, and social realities. The approaches employed are normative-theological and sociological, combined within a library research framework. The normative-theological approach is evident through the analysis of secondary data in the form of authoritative Islamic sources, such as verses of the Quran, the Prophet's hadith, and interpretations by classical and contemporary scholars discussing the principles of justice, welfare, equality, and the position of women in Islam. The research also explores the thoughts of scholars and relevant religious literature to explore the theological foundations of women's leadership from the perspective of Maqasid Sharia. Furthermore, the use of a sociological approach provides space to understand how these religious values ​​interact with social and cultural realities that shape the construction of women's roles, particularly in the context of Indonesian political life, which is still strongly entrenched in patriarchal culture. This research also utilizes national legal regulations, such as the 1945 Constitution and Law Number 39 of 1999 concerning Human Rights, as a basis for assessing the extent to which the principles of equality and non-discrimination are accommodated in the Indonesian political and legal system. In addition to examining normative texts, this research enriches the analysis by examining relevant empirical data, including various previous studies, scientific articles, policy reports, and academic studies that have discussed women's involvement in political leadership. By combining normative and empirical dimensions, this research not only uncovers a theoretical framework regarding the position of women in Islam but also explores the social realities that influence the application of these values ​​in modern political life.  Abstrak Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis yang berfokus pada penjelasan mendalam terhadap fenomena melalui penelaahan teks, konsep, dan realitas sosial. Pendekatan yang digunakan adalah normatif-teologis dan sosiologis, yang dikombinasikan dalam kerangka studi pustaka (library research). Pendekatan normatif-teologis tampak melalui analisis terhadap data sekunder berupa sumber-sumber keislaman otoritatif, seperti ayat-ayat Al-Qur’an, hadits Nabi, serta tafsir ulama klasik maupun kontemporer yang membahas prinsip-prinsip keadilan, kemaslahatan, kesetaraan, dan kedudukan perempuan dalam Islam. Penelitian juga menelusuri pemikiran ulama dan literatur keagamaan yang relevan untuk menggali landasan teologis mengenai kepemimpinan perempuan dalam perspektif Maqashid Syariah. Di sisi lain, penggunaan pendekatan sosiologis memberi ruang untuk memahami bagaimana nilai-nilai keagamaan tersebut berinteraksi dengan realitas sosial dan budaya yang membentuk konstruksi peran perempuan, khususnya dalam konteks kehidupan politik Indonesia yang masih kental dengan budaya patriarki. Penelitian ini juga memanfaatkan regulasi hukum nasional seperti Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagai pijakan untuk menilai sejauh mana prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi diakomodasi dalam sistem politik dan hukum di Indonesia. Selain menelaah teks-teks normatif, penelitian ini memperkaya analisis dengan mengkaji data empiris yang relevan, termasuk berbagai penelitian terdahulu, artikel ilmiah, laporan kebijakan, serta studi-studi akademik yang telah membahas keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan politik. Dengan menggabungkan dimensi normatif dan empiris, penelitian ini tidak hanya mengungkap kerangka teoretis mengenai posisi perempuan dalam Islam, tetapi juga menelusuri realitas sosial yang mempengaruhi penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan politik modern.
PERMASALAHAN GENDER DALAM KONSEP NUSYUZ Tenri Nayyara Nurnaina; Syahrur Rahmat; Tri Layla Salehah; Kurniati
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/b8ajs385

Abstract

Gender issues in the context of the concept of nusyuz are often linked to the issue of domestic violence (DV) occurring in society. Nusyuz, which literally means disobedience or non-compliance, is often misunderstood as merely a wife's disobedience, which is then used by some husbands to justify physical or psychological violence. However, the concept of nusyuz can actually refer to disobedience or defiance by both the wife and husband in fulfilling marital commitments, therefore this concept needs to be reinterpreted fairly from a gender perspective. In the context of domestic violence, justifying violence using nusyuz contradicts the principles of justice in Islam and the national legal framework, particularly Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence, which states that there is no justification for domestic violence. This study highlights how patriarchal culture and gender-biased textual interpretations reinforce otherwise unlawful violent practices, and how nusyuz is often misinterpreted as granting husbands the right to beat their wives. This research encourages readers to understand nusyuz not merely as a symbol of a wife's disobedience, but as a form of protest against injustice and arbitrariness in the household, as well as the importance of peaceful, non-violent resolution. Efforts to eliminate patriarchal hegemony and promote gender equality are key to addressing the problem of domestic violence, which is often associated with the concept of nusyuz. Abstrak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di masyarakat. Nusyuz, yang secara harfiah berarti pembangkangan atau ketidakpatuhan, sering disalahpahami sebagai pembangkangan istri semata yang kemudian dijadikan pembenaran oleh sebagian suami untuk melakukan kekerasan fisik atau psikologis. Namun, konsep nusyuz sebenarnya dapat merujuk pada ketidakpatuhan atau pembangkangan baik dari istri maupun suami dalam memenuhi komitmen perkawinan, sehingga konsep ini perlu direinterpretasi secara adil dari perspektif gender. Dalam konteks KDRT, justifikasi kekerasan dengan alasan nusyuz bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam dan juga dengan kerangka hukum nasional, khususnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, yang menyatakan bahwa tidak ada alasan pembenaran untuk kekerasan dalam rumah tangga. Studi ini menyoroti bagaimana budaya patriarkis dan tafsir tekstual yang bias gender memperkuat praktik kekerasan yang seharusnya tidak terjadi, serta bagaimana nusyuz seringkali keliru dimaknai sebagai memberikan hak suami untuk memukul istri. Penelitian ini mengajak pembaca untuk memahami nusyuz bukan sebagai simbol ketidakpatuhan istri semata, melainkan sebagai bentuk protes atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dalam rumah tangga, serta pentingnya penyelesaian yang damai tanpa kekerasan. Upaya penghapusan kultur hegemoni patriarkis dan kesetaraan gender menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah kekerasan dalam rumah tangga yang kerap terkait dengan konsep nusyuz.
Internalisasi Puasa Ramadhan terhadap Karakter Generasi Muda Digital Nahruddin; Zahwa Aulia; Kurniati
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/r63xw282

Abstract

This study aims to examine how the process of internalizing Ramadan fasting in the digital era can shape the character of the younger generation living in a rapidly changing technological culture fraught with moral challenges. The focus of the study is on the weakening of spiritual sensitivity, lack of self-control, and the emergence of various unethical behaviors in the digital space. Using a qualitative-descriptive approach, this study describes how Ramadan worship practices, the use of religiously nuanced digital media, and the inculcation of spiritual values ​​are applied by the younger generation in their daily lives. The results show that the internalization of Ramadan fasting is evident in the younger generation's ability to limit excessive device use, increased self-awareness through worship-supporting applications, and improved attitudes when interacting online. Internalization strategies are implemented through the production of content that promotes goodness, the reinforcement of religious habits through technology, and involvement in digital social activities. The values ​​of discipline, empathy, patience, and responsibility have been shown to have a significant influence on the development of religious character and the adaptability of the younger generation. This study concludes that internalizing Ramadan fasting in the digital era helps maintain spiritual depth while shaping a more mature character in the face of technological developments. Abstrak Penelitian ini bertujuan menelaah bagaimana proses internalisasi puasa Ramadhan di era digital mampu membentuk karakter generasi muda yang hidup dalam budaya teknologi yang cepat berubah dan sarat tantangan moral. Fokus penelitian berangkat dari melemahnya sensitivitas spiritual, kurangnya pengendalian diri, serta munculnya berbagai perilaku tidak etis di ruang digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini menggambarkan bagaimana praktik ibadah Ramadhan, pemanfaatan media digital bernuansa religius, serta pembiasaan nilai-nilai spiritual diterapkan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi puasa Ramadhan terlihat melalui kemampuan generasi muda membatasi penggunaan gawai secara berlebihan, meningkatnya kesadaran diri melalui aplikasi pendukung ibadah, serta semakin baiknya sikap saat berinteraksi di dunia maya. Strategi internalisasi dilakukan melalui produksi konten yang mendorong kebaikan, penguatan kebiasaan religius berbantuan teknologi, dan keterlibatan dalam aktivitas sosial digital. Nilai disiplin, empati, kesabaran, dan tanggung jawab terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan karakter religius dan kemampuan beradaptasi generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi puasa Ramadhan di era digital membantu menjaga kedalaman spiritual sekaligus membentuk karakter yang lebih matang dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Kepemimpinan Perempuan: Analisis Filsafat Tentang Kesetaraan Gender Dan Tantangan Patriarki Anniza Abdi; Khaerunnisa Sukri; Misbahul Khair; Kurniati
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/mf5y2d74

Abstract

Kepemimpinan perempuan dalam perspektif filsafat dikaji melalui dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis untuk memahami hakikat, mekanisme, serta peranannya dalam menghadapi budaya patriarki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menelaah gagasan-gagasan filosofis tentang kesetaraan dan keadilan gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa kapasitas, integritas, dan tanggung jawab moral merupakan dasar utama dalam menilai kepemimpinan, bukan jenis kelamin. Hambatan terhadap kepemimpinan perempuan sering kali muncul dari penafsiran patriarkis, diskriminasi sosial, dan stereotip gender yang mengakar dalam struktur masyarakat. Melalui filsafat, bias-bias tersebut dapat dikritisi dan diurai untuk membangun paradigma kepemimpinan yang menegakkan nilai kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Kajian ini menegaskan pentingnya model kepemimpinan perempuan yang inklusif dan transformatif, berorientasi pada kemaslahatan bersama, serta mampu menegaskan peran perempuan sebagai subjek aktif dalam ruang publik dan pengambil kebijakan. Abstract: Women's leadership in philosophical perspective is examined through ontological, epistemological, and axiological dimensions to understand its essence, mechanisms, and role in confronting patriarchal culture. This study employs a qualitative approach based on library research by analyzing philosophical concepts of equality and gender justice. The findings reveal that leadership is not determined by gender, but by individual capacity, integrity, and moral responsibility. The main obstacles to women’s leadership arise from patriarchal interpretations, social discrimination, and gender stereotypes embedded in society. Philosophy provides a critical framework to deconstruct these biases and to build a paradigm of leadership grounded in equality, justice, and humanity. This study emphasizes the importance of an inclusive and transformative model of women’s leadership that is oriented toward the common good and strengthens the position of women as active subjects in public spaces and decision-making processes.
Peran Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi Pendidikan Bagi Mahasiswa Di Era Digital Ere Mardella Arbiani; Abel Juraidah; Almaidah
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/2rcwd750

Abstract

This paper discusses the role of social media as a means of educational communication for students, particularly in relation to its impact on academic achievement. In the digital era, social media not only serves as a space for personal interaction but also has the potential to support academic activities through the dissemination of information, online discussions, and collaboration between students. However, the use of social media does not always have a positive impact. Based on the author's opinion, a real contribution to improving academic achievement only occurs when students consciously use social media for educational purposes, for example, by sharing course materials, discussing assignments, forming virtual study groups, or providing feedback among themselves. Conversely, non-academic communication activities, such as casual conversations or personal posts, do not significantly impact academic performance. This confirms that learning success is not determined by the intensity of social media use, but rather by the orientation, strategy, and quality of its use. Thus, social media has great potential as a means of educational communication, but its effectiveness depends on students' ability to direct its use toward activities that support the learning process. This conceptual thinking is expected to form the basis for further empirical research and serve as a reference for educational institutions in designing strategies to optimize social media as a support for student learning. Abstrak Tulisan ini membahas peran media sosial sebagai sarana komunikasi pendidikan bagi mahasiswa, khususnya dalam kaitannya dengan pengaruh terhadap prestasi akademik. Di era digital, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai ruang interaksi personal, tetapi juga memiliki potensi mendukung kegiatan akademik melalui penyebaran informasi, diskusi daring, serta kolaborasi antar mahasiswa. Meski demikian, pemanfaatan media sosial tidak selalu memberikan dampak positif. Berdasarkan pemikiran penulis, kontribusi nyata terhadap peningkatan prestasi akademik hanya muncul ketika mahasiswa menggunakan media sosial secara sadar untuk tujuan pendidikan, misalnya berbagi materi kuliah, berdiskusi mengenai tugas, membentuk kelompok belajar virtual, atau memberikan umpan balik antar sesama. Sebaliknya, aktivitas komunikasi yang bersifat non-akademik, seperti percakapan ringan atau unggahan pribadi, tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja akademik. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan belajar tidak ditentukan oleh intensitas penggunaan media sosial, melainkan oleh orientasi, strategi, dan kualitas pemanfaatannya. Dengan demikian, media sosial memiliki potensi besar sebagai sarana komunikasi pendidikan, namun efektivitasnya bergantung pada kemampuan mahasiswa mengarahkan penggunaannya ke aktivitas yang mendukung proses belajar. Pemikiran konseptual ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penelitian empiris selanjutnya serta menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan dalam merancang strategi optimalisasi media sosial sebagai pendukung pembelajaran mahasiswa.
Membangun Keteguhan Iman di Tengah Badai dengan Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah di Makkah Nadhira Zahra Ikrima; Nada Nofrianti; Ridwal Trisoni; Muhamad Yahya
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/9vf3rw27

Abstract

The background of this study stems from the condition of contemporary Muslim society, which faces a spiritual crisis, moral decay, and the dominance of materialism that weakens the foundations of faith. This research positions itself within the field of Islamic da'wah history and spirituality studies, focusing on two main aspects: the characteristics of Meccan society at the beginning of Islam’s spread and the substance and strategies of the Prophet Muhammad’s da'wah during that period. In this article, the discussion is conducted using a qualitative-descriptive approach with an analysis of classical sources such as the Sīrah Nabawiyyah, hadith, and Makkiyah Qur’anic verses. Meccan society is portrayed as a community with strong social structures but overshadowed by polytheism, social inequality, and tribal fanaticism that rejected the values of monotheism (tawḥīd). In this context, the Prophet implemented a gradual da'wah strategy focusing on the development of faith (ʿaqīdah), the cultivation of patience (ṣabr), and the formation of noble morality through personal example. The findings of the study indicate that the essence of the Prophet’s da'wah in Mecca was not merely about conveying theological teachings but also about shaping the spiritual and social character of the believing community. From this struggle, it can be concluded that steadfastness in faith grows through a deep understanding of tawḥīd, patience in facing trials, and commitment to divine values that serve as the foundation of Islamic civilization amid the storms of life. Abstrak Latar belakang permasalahan berakar pada kondisi umat Islam masa kini yang dihadapkan pada krisis spiritual, dekadensi moral, dan dominasi materialisme yang melemahkan fondasi keimanan. Penelitian ini menempatkan diri dalam ranah kajian sejarah dakwah dan spiritualitas Islam, dengan fokus pada dua aspek utama: karakteristik masyarakat Makkah pada awal penyebaran Islam serta substansi dan strategi dakwah Rasulullah pada periode tersebut. Dalam artikel ini, pembahasan dilakukan melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis terhadap sumber-sumber klasik seperti Sirah Nabawiyyah, hadis, dan ayat-ayat Makkiyah. Masyarakat Makkah digambarkan sebagai komunitas yang memiliki tatanan sosial kuat namun diliputi kemusyrikan, kesenjangan sosial, dan fanatisme kabilah yang menolak nilai tauhid. Dalam konteks ini, Rasulullah menerapkan strategi dakwah bertahap yang berfokus pada pembinaan akidah, penanaman nilai-nilai kesabaran, dan pembentukan moralitas luhur melalui keteladanan pribadi. Hasil kajian menunjukkan bahwa substansi dakwah Nabi di Makkah bukan hanya tentang penyampaian ajaran teologis, tetapi juga pembentukan karakter spiritual dan sosial umat yang beriman. Dari perjuangan tersebut dapat disimpulkan bahwa keteguhan iman tumbuh melalui pemahaman mendalam terhadap tauhid, kesabaran menghadapi ujian, serta komitmen terhadap nilai-nilai ilahi yang menjadi fondasi peradaban Islam di tengah badai tantangan kehidupan
Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosional Terhadap Komunikasi Intrapersonal Islami Siswa Kelas IX MTS Al-Mustofawiyah Najma Fauziyatul Mustaghfiroh; Nurul Farihatun Nisa
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/bx50jr52

Abstract

This study aims to determine the level of emotional intelligence and Islamic intrapersonal communication among ninth-grade students of MTs Al-Mustofawiyah, as well as to analyze the relationship between these two variables. The study employs a quantitative approach with a correlational research design. Data were collected through questionnaires, and observations to obtain a comprehensive picture of students’ emotional intelligence and Islamic intrapersonal communication practices. The data were then analyzed using descriptive quantitative techniques by calculating the minimum and maximum scores and mean values to identify the levels of both variables, and inferential analysis was conducted using Pearson correlation to examine the relationship between emotional intelligence and Islamic intrapersonal communication. The results indicate that students’ emotional intelligence has a mean score of 37.51, while Islamic intrapersonal communication has a mean score of 38.03, both of which fall within the moderate category. Meanwhile, the Pearson correlation analysis shows a correlation coefficient of r = 0.304 with a significance value of p = 0.076, indicating a positive relationship with a low level of correlation that is not statistically significant. These findings suggest that the development of Islamic intrapersonal communication does not entirely depend on emotional intelligence but is also influenced by other factors such as spiritual habituation, religious experiences, and a supportive educational environment. Therefore, this study provides additional insight into the role of emotional intelligence in the development of Islamic inner communication within the madrasah context. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional dan komunikasi intrapersonal Islami siswa kelas IX MTs Al-Mustofawiyah, serta menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan melalui angket,  dan observasi untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai kecerdasan emosional dan praktik komunikasi intrapersonal Islami siswa, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung skor minimum, maksimum, dan nilai rata-rata untuk mengetahui tingkat kedua variabel, serta dianalisis secara inferensial menggunakan korelasi Pearson untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional dan komunikasi intrapersonal Islami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional siswa memiliki nilai rata-rata sebesar 37,51 dan komunikasi intrapersonal Islami sebesar 38,03 yang keduanya berada pada kategori sedang, sedangkan hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi sebesar r = 0,304 dengan nilai signifikansi p = 0,076 yang mengindikasikan adanya hubungan positif dengan tingkat hubungan rendah dan tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan komunikasi intrapersonal Islami tidak sepenuhnya bergantung pada kecerdasan emosional, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti pembiasaan spiritual, pengalaman religius, dan lingkungan pendidikan yang mendukung, sehingga penelitian ini memberikan wawasan tambahan mengenai peran kecerdasan emosional dalam pengembangan komunikasi batin Islami di lingkungan madrasah.
Kontribusi Pesantren Terhadap Penguatan Dakwah Moderat Di Indonesia Syarif Syammari. M; Yendri M. Fadly; Ridwal Trisoni; Muhamad Yahya
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 4 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/90sjmt80

Abstract

As the oldest Islamic educational institutions in the archipelago, Islamic boarding schools (pesantren) have a significant influence in shaping the religious practices of Indonesian society. They serve not only as centers for the teaching of Islamic knowledge but also as agents of ongoing moral, social, and cultural development. This article aims to analyze the role of pesantren in strengthening moderate da'wah practices in Indonesia through the educational process, the formation of the students' personalities, and community empowerment activities oriented toward the values ​​of welfare. This research uses a qualitative method with a literature review approach, drawing on various academic sources, pesantren institutional documents, and relevant previous research findings. This approach was chosen to gain a comprehensive understanding of pesantren's contribution to strengthening moderate da'wah, both theoretically and practically. Data were analyzed descriptively and analytically to uncover the patterns, strategies, and values ​​developed by pesantren in the context of Islamic da'wah in Indonesia. The study's findings indicate that pesantren function as centers for the dissemination of wasathiyah Islamic values, which emphasize tolerance, balance, inclusiveness, and openness to differences. The role of the kiai (Islamic scholars) as central figures and the santri (students) as agents of da'wah (Islamic outreach) are key to instilling these values ​​through the teaching of Islamic texts, exemplary morals, da'wah activities, and community programs. Furthermore, the ability of Islamic boarding schools (pesantren) to adapt to developments in information technology, such as the use of digital media and social platforms, has helped expand the reach of moderate da'wah amidst the challenges of globalization. Thus, Islamic boarding schools have proven to contribute significantly to supporting the strengthening of moderate da'wah and maintaining interfaith harmony in Indonesia. Abstrak Sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara, pesantren memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Keberadaan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengajaran ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga sebagai agen pembinaan moral, sosial, dan budaya yang berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran pesantren dalam memperkokoh praktik dakwah moderat di Indonesia melalui proses pendidikan, pembentukan kepribadian santri, serta kegiatan pemberdayaan umat yang berorientasi pada nilai-nilai kemaslahatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan telaah pustaka terhadap berbagai sumber akademik, dokumen kelembagaan pesantren, serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai kontribusi pesantren dalam penguatan dakwah moderat, baik dari aspek teoretis maupun praktis. Data dianalisis secara deskriptif-analitis guna mengungkap pola, strategi, dan nilai-nilai yang dikembangkan pesantren dalam konteks dakwah Islam di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pesantren berfungsi sebagai pusat penyebaran nilai-nilai Islam wasathiyah yang menekankan sikap toleran, seimbang, inklusif, dan terbuka terhadap perbedaan. Peran kiai sebagai figur sentral dan santri sebagai agen dakwah menjadi kunci utama dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pengajaran kitab keislaman, keteladanan akhlak, aktivitas dakwah, serta program-program kemasyarakatan. Selain itu, kemampuan pesantren dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi, seperti pemanfaatan media digital dan platform sosial, turut memperluas jangkauan dakwah moderat di tengah tantangan globalisasi. Dengan demikian, pesantren terbukti berkontribusi nyata dalam mendukung penguatan dakwah moderat serta menjaga kerukunan dan harmoni umat beragama di Indonesia