cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Qolamuna : Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam
ISSN : -     EISSN : 30628377     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
This journal aims to disseminate research results from academics, researchers, and practitioners in the field of Islamic Studies, both in theory and practice. Specifically, this journal invites papers discussing topics such as Islamic Education, Islamic thought, learning in Islamic education, students in Islamic education, Islamic education methods, Islamic teacher education, and Islamic education policies. This journal is published online four times a year, namely in January, April, July, and October.
Articles 79 Documents
Peran Literasi Digital Dalam Mencegah Konflik Keagamaan Di Media Sosial Zainal Parhan; Ahmad Jais
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/w279bd92

Abstract

Social media has undergone a significant transformation into a new public space that facilitates social, cultural, and religious interactions in modern society. On the one hand, social media opens up significant opportunities for the dissemination of religious values, preaching, and constructive interfaith dialogue. However, on the other hand, low levels of digital literacy among the public make this digital space vulnerable to being exploited as a means of spreading hoaxes, hate speech, and religiously motivated provocation. This phenomenon has the potential to worsen interfaith relations and trigger social conflict that spills over from cyberspace into real life. Based on these conditions, this study aims to analyze the role of digital literacy in preventing religious conflict on social media. This study uses a qualitative approach with library research, through content analysis of various written sources, such as books, national scientific journals, and official documents relevant to the issue of digital literacy and interfaith harmony. This approach was chosen to gain a comprehensive understanding of the concepts, strategies, and implications of digital literacy in a socio-religious context. The research findings show that digital literacy plays a crucial role in shaping critical, ethical, and tolerant public behavior in responding to religious information on social media. Digital literacy is not only understood as technical skills in using information technology, but also encompasses critical thinking skills, ethical awareness, and social responsibility in interacting in the digital space. Thus, digital literacy serves as an effective preventive tool in countering disinformation, mitigating potential conflict, and maintaining and strengthening interfaith harmony in the digital era. Abstrak Media sosial telah mengalami transformasi signifikan menjadi ruang publik baru yang memfasilitasi interaksi sosial, kultural, dan keagamaan masyarakat modern. Di satu sisi, media sosial membuka peluang besar bagi penyebaran nilai-nilai keagamaan, dakwah, serta dialog lintas iman yang konstruktif. Namun, di sisi lain, rendahnya tingkat literasi digital di kalangan masyarakat menyebabkan ruang digital ini rentan dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi bernuansa keagamaan. Fenomena tersebut berpotensi memperkeruh hubungan antarumat beragama dan memicu konflik sosial yang meluas dari dunia maya ke kehidupan nyata. Bertolak dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran literasi digital dalam mencegah konflik keagamaan di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui analisis isi terhadap berbagai sumber tertulis, seperti buku, jurnal ilmiah nasional, serta dokumen resmi yang relevan dengan isu literasi digital dan kerukunan umat beragama. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai konsep, strategi, dan implikasi literasi digital dalam konteks sosial-keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perilaku masyarakat yang kritis, etis, dan toleran dalam menyikapi informasi keagamaan di media sosial. Literasi digital tidak hanya dipahami sebagai keterampilan teknis dalam menggunakan teknologi informasi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, kesadaran etika, serta tanggung jawab sosial dalam berinteraksi di ruang digital. Dengan demikian, literasi digital berfungsi sebagai instrumen preventif yang efektif dalam menangkal disinformasi, meredam potensi konflik, serta menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama di era digital.
Strategi Pembinaan Keagamaan Sebagai Terapi Bagi Pecandu Narkoba (Studi Kasus Di Panti Rehabilitasi Guest House Adiksi Narkoba (Ghana) Desa Jalmak Pamekasan Hamidi Thohir; Juli Amaliya Nasucha
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/5t35sn41

Abstract

The rampant drug abuse affecting all levels of society, from teenagers to the elderly, has become an increasingly concerning social issue. This phenomenon not only damages individual health but also disrupts family resilience and the broader social fabric. This situation has prompted the Pamekasan Regency Government to take strategic steps to prevent and address drug abuse. One such effort is through community education about the dangers of drugs and intensive counseling for individuals who have fallen into addiction. In this context, the Guest House Drug Addiction Rehabilitation Center (GHANA) plays a vital role in the recovery process for addicts through a religious approach. This study uses a qualitative, descriptive approach to provide an in-depth description of the implementation of religious counseling at the GHANA rehabilitation center. Based on research results and field data, it is known that the therapeutic materials implemented include prayer, dhikr (remembrance of God), and religious sermons (kultum). These three materials are central to the residents' spiritual development process. Prayer serves as a means of cultivating worship, dhikr (remembrance of God) as a means of calming the heart, and religious sermons as a means of strengthening religious understanding. The religious guidance strategies implemented also vary in method, tailored to each counselor's individual style to prevent residents from becoming bored. This variety of methods makes the guidance process more dynamic and effective. The impact of these religious guidance strategies has shown very positive results. Residents experience significant changes, particularly in their mental attitude and spiritual state. They become calmer, more peaceful, and have a greater spiritual awareness than before undergoing rehabilitation. This demonstrates the significant role of religious guidance in supporting the recovery process for drug addicts. Abstrak Maraknya penyalahgunaan narkoba yang menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan remaja hingga usia lanjut, telah menjadi persoalan sosial yang semakin memprihatinkan. Fenomena ini tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi juga mengganggu ketahanan keluarga dan tatanan sosial masyarakat secara luas. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya narkoba serta pembinaan intensif terhadap individu yang telah terjerumus sebagai pecandu. Dalam konteks inilah Panti Rehabilitasi Guest House Adiksi Narkoba (GHANA) hadir sebagai lembaga yang berperan penting dalam proses pemulihan para pecandu melalui pendekatan keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam pelaksanaan pembinaan keagamaan di panti rehabilitasi GHANA. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan data di lapangan, diketahui bahwa materi terapi yang diterapkan meliputi sholat, amalan dzikir, dan kultum. Ketiga materi ini menjadi inti dalam proses pembinaan spiritual para resident. Sholat dijadikan sebagai sarana pembiasaan ibadah, dzikir sebagai media penenang hati, dan kultum sebagai sarana penguatan pemahaman keagamaan. Strategi pembinaan keagamaan yang diterapkan juga bervariasi dari segi metode, disesuaikan dengan gaya masing-masing pembimbing agar resident tidak merasa jenuh. Variasi metode ini membuat proses pembinaan lebih dinamis dan efektif. Dampak dari strategi pembinaan agama tersebut menunjukkan hasil yang sangat positif. Para resident mengalami perubahan signifikan, terutama dalam sikap mental dan kondisi rohani. Mereka menjadi lebih tenang, tentram, dan memiliki kesadaran spiritual yang lebih baik dibandingkan sebelum menjalani rehabilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan memiliki peran besar dalam mendukung proses pemulihan pecandu narkoba.
Peran dan Pembentukan Majelis Taklim Mursyid Al Ikhwan Evi Sundari; Wanda Aulia Putri Sinaga; Afdillah Prayoga; Dani Prayogi; Hendra Kurniawan
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/kryr4426

Abstract

plays a strategic role in the religious life of the community. Its existence serves as a means to deepen religious knowledge, improve Islamic understanding, and strengthen social and spiritual bonds within the community. Through continuous recitation and guidance activities, the Majelis Taklim becomes a flexible, inclusive, and easily accessible learning space for various levels of society, both men and women, young and old. This study aims to uncover the process of establishing the Majelis Taklim and analyze its impact on improving the religious and social quality of its members. The focus of the research is directed at the Majelis Taklim Mursyid Al Ikhwan as the object of study, to obtain an in-depth picture of the institutional dynamics, program activities, and the role of the Majelis Taklim in fostering the community. This study uses a qualitative method with a descriptive approach, allowing researchers to understand the phenomenon comprehensively and contextually. Data collection was conducted through field observations to directly observe the Majelis Taklim activities, in-depth interviews with administrators and members to explore their experiences and views, and documentation as supporting data. The results show that the Majelis Taklim Mursyid Al Ikhwan plays a role as a center for religious guidance and sustainable da'wah development. In addition to holding regular religious studies, this Islamic study group is also active in external da'wah and Islamic education activities in the surrounding area. The active participation of the congregation and the commitment of the management are key factors in supporting the continuity and effectiveness of the Islamic study group in improving the religious and social well-being of the community. Abstrak Majelis taklim merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam nonformal yang memiliki peran strategis dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Keberadaannya berfungsi sebagai sarana untuk memperdalam pengetahuan agama, meningkatkan pemahaman keislaman, serta memperkuat ikatan sosial dan spiritual di tengah komunitas. Melalui kegiatan pengajian dan pembinaan yang berkesinambungan, majelis taklim menjadi ruang belajar yang fleksibel, inklusif, dan mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses pendirian majelis taklim serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan kualitas keagamaan dan sosial para anggotanya. Fokus penelitian diarahkan pada Majelis Taklim Mursyid Al Ikhwan sebagai objek kajian, guna memperoleh gambaran mendalam mengenai dinamika kelembagaan, program kegiatan, serta peran majelis taklim dalam pembinaan umat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sehingga memungkinkan peneliti memahami fenomena secara komprehensif dan kontekstual. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan untuk melihat secara langsung aktivitas majelis taklim, wawancara mendalam dengan pengurus dan anggota guna menggali pengalaman serta pandangan mereka, serta dokumentasi sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Taklim Mursyid Al Ikhwan berperan sebagai pusat pembinaan keagamaan dan pengembangan dakwah yang berkelanjutan. Selain menyelenggarakan pengajian rutin, majelis taklim ini juga aktif dalam kegiatan dakwah eksternal dan pendidikan Islam di lingkungan sekitar. Partisipasi aktif jamaah serta komitmen pengelola menjadi faktor utama yang mendukung keberlangsungan dan efektivitas majelis taklim dalam meningkatkan kualitas keagamaan dan sosial masyarakat.
Tujuan Studi Orientalisme dan Manfaatnya Kegunaan Studi Orientalisme Bagi Kaum Muslimin Nurhamida Hasibuan; Juliana Syarah Padang; Muhammad Habib Al Habsi; Sulidar
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/aesjyq47

Abstract

Orientalism is a field of study that developed within the Western academic tradition, focusing primarily on the Eastern world, including Islam, the Arabic language, and its culture. Since its inception, Orientalism has often been viewed negatively by Muslims due to its association with colonialism, political missions, and attempts at Western intellectual hegemony. Many Orientalist studies position Islam as an inferior, static, and problematic object of study, resulting in biased conclusions that contradict Muslim beliefs. This view is why Orientalism is often perceived as a threat to the authority and authenticity of the Islamic scholarly tradition. However, Orientalism cannot be viewed in a purely black-and-white manner as a wholly destructive phenomenon. Despite its accompanying ideological bias, a number of Orientalist studies have made significant contributions to the development of science, particularly in the fields of philology, textual criticism, Islamic intellectual history, and academic research methodology. Through the study of manuscripts, language, and history, Orientalists have helped open access to classical Islamic texts that have previously received little attention in modern scholarship. These contributions, although born from a Western epistemological framework, retain scientific value that can be utilized selectively. This study aims to examine the purpose of Orientalist studies and examine their utility for Muslims when approached critically and proportionately. The method used is a qualitative literature-based study, analyzing Orientalist works and the responses of Muslim scholars. The results of the study indicate that Orientalism, despite its inherent bias, can be a source of methodological enrichment for Islamic studies when deployed constructively. Therefore, Orientalism needs to be approached selectively, critically, and dialogically so that it can strengthen, rather than weaken, the Islamic intellectual tradition. Abstrak Orientalisme merupakan bidang kajian yang berkembang dalam tradisi akademik Barat dengan fokus utama pada dunia Timur, termasuk Islam, bahasa Arab, dan kebudayaannya. Sejak kemunculannya, orientalisme sering dipandang secara negatif oleh umat Islam karena keterkaitannya dengan kolonialisme, misi politik, serta upaya hegemoni intelektual Barat. Tidak sedikit studi orientalis yang memposisikan Islam sebagai objek kajian yang inferior, statis, dan problematis, sehingga melahirkan kesimpulan yang bias dan bertentangan dengan keyakinan umat Islam. Pandangan inilah yang menyebabkan orientalisme kerap dipersepsikan sebagai ancaman terhadap otoritas dan keotentikan tradisi keilmuan Islam. Namun demikian, orientalisme tidak dapat dipandang secara hitam-putih sebagai fenomena yang sepenuhnya destruktif. Di balik bias ideologis yang menyertainya, sejumlah studi orientalis memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang filologi, kritik teks, sejarah intelektual Islam, serta metodologi penelitian akademik. Melalui kajian manuskrip, bahasa, dan sejarah, para orientalis turut membuka akses terhadap naskah-naskah klasik Islam yang sebelumnya kurang mendapat perhatian dalam kajian modern. Kontribusi ini, meskipun lahir dari kerangka epistemologis Barat, tetap memiliki nilai ilmiah yang dapat dimanfaatkan secara selektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tujuan studi orientalisme sekaligus menelaah kegunaannya bagi umat Islam apabila disikapi secara kritis dan proporsional. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dengan menganalisis karya-karya orientalis serta respons sarjana Muslim. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientalisme, meskipun sarat bias, dapat menjadi sumber pengayaan metodologis bagi studi Islam apabila ditempatkan secara konstruktif. Oleh karena itu, orientalisme perlu disikapi secara selektif, kritis, dan dialogis agar dapat memperkuat, bukan melemahkan, tradisi intelektual Islam.
ORIENTALIS DAN AL-QUR’AN (Ignaz Golziher, W. Montgomery Watt, Richard Bell) Hafiz Hamdi Nasution; Muthmainnah; Sulidar
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/93888c79

Abstract

Abstrack Orientalist studies of the Qur'an are a crucial discourse in the development of Islamic studies in the West, spanning from the Middle Ages to the modern era. Orientalists such as Ignaz Goldziher, Richard Bell, and W. Montgomery Watt have viewed the Qur'an through a historical-critical approach that positions the sacred text of Islam as a product of Arab history and culture. This approach often stems from epistemological assumptions that differ from the beliefs of Muslims, particularly regarding the concepts of revelation, prophecy, and the transmission of the Qur'anic text. Consequently, many of the conclusions reached contradict mainstream Islamic theological views. This article aims to analyze these orientalist views on the Qur'an and examine the critical responses of Muslim scholars and scholars. This research employs a qualitative method with a literature review approach, examining orientalist works as well as classical and contemporary Islamic literature. The results demonstrate that orientalism has indeed made significant contributions to the development of academic methodologies, such as textual criticism and historical analysis. However, on the other hand, many orientalist studies are considered to contain epistemological bias and theological reduction, because they ignore the transcendental dimension of the Quran as divine revelation. Muslim scholars and scholars have responded to this with methodological critiques based on Islamic scholarly traditions, such as the science of tafsir (interpretation), the science of the Quran, and the science of hadith. This critique affirms the authenticity of the Quran and the consistency of the transmission of revelation from the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him) to the present day. Therefore, this study emphasizes the importance of a critical and proportionate approach to orientalism, so that Quranic studies can continue to develop academically without losing their theological and spiritual foundations. Abstrak Kajian orientalis terhadap Al-Qur’an merupakan salah satu diskursus penting dalam perkembangan studi Islam di Barat yang telah berlangsung sejak abad pertengahan hingga era modern. Para orientalis seperti Ignaz Goldziher, Richard Bell, dan W. Montgomery Watt memandang Al-Qur’an melalui pendekatan historis-kritis yang menempatkan teks suci Islam sebagai produk sejarah dan budaya Arab. Pendekatan ini sering kali berangkat dari asumsi epistemologis yang berbeda dengan keyakinan umat Islam, khususnya terkait konsep wahyu, kenabian, dan transmisi teks Al-Qur’an. Oleh karena itu, tidak sedikit kesimpulan yang dihasilkan bertentangan dengan pandangan teologis Islam arus utama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pandangan para orientalis tersebut terhadap Al-Qur’an sekaligus mengkaji respons kritis dari ulama dan cendekiawan Muslim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dengan menelaah karya-karya orientalis serta literatur keislaman klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientalisme memang memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan metodologi akademik, seperti kritik teks dan analisis historis. Namun, di sisi lain, banyak kajian orientalis dinilai mengandung bias epistemologis dan reduksi teologis, karena mengabaikan dimensi transendental Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi. Ulama dan cendekiawan Muslim merespons hal tersebut dengan kritik metodologis yang berlandaskan tradisi keilmuan Islam, seperti ilmu tafsir, ulumul Qur’an, dan ilmu hadis. Kritik ini menegaskan keotentikan Al-Qur’an serta konsistensi transmisi wahyu dari masa Nabi Muhammad SAW hingga kini. Dengan demikian, kajian ini menekankan pentingnya sikap kritis dan proporsional dalam menyikapi orientalisme, agar studi Al-Qur’an dapat terus berkembang secara akademik tanpa kehilangan landasan teologis dan spiritualnya.
Analisis Pesan Dakwah Dalam Video Pendek Di Akun Tiktok @Raehanul_Bahraen Farhandi Akbar Harahap
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/6sk9an72

Abstract

Abstract This study aims to identify and analyze the form of Islamic preaching messages contained in short video content published through the TikTok account @raehanul_bahraen. The focus of the research is directed at how Islamic messages, particularly those related to the theme of marriage, are conveyed to the public through social media which is popular and favored by the younger generation. This study uses qualitative research with a descriptive approach, because it aims to describe the phenomenon of digital preaching in depth based on data found in the field. The data collection technique used is documentation, namely by observing, recording, and reviewing the content of Islamic preaching videos uploaded to the TikTok account. The videos analyzed specifically discuss the theme of marriage and the problem of matchmaking from an Islamic perspective. Based on the results of the observation and analysis, several Islamic preaching messages were found that highlight the factors that cause women to have difficulty finding a partner, including the role of fathers who do not offer their daughters to pious men, women's attitudes of postponing marriage without Islamic reasons, and women's reluctance to open themselves or offer themselves to pious men in accordance with Islamic guidance. In addition to the message's substance, this study also found that preachers convey their preaching material using a light, popular style that is easily understood by the general public, especially social media users. This approach makes the preaching message feel relevant, non-patronizing, and close to the realities of everyday life. Based on these research results, it can be concluded that the marriage-themed preaching content on the TikTok account @raehanul_bahraen has high educational value. The broadcast not only provides an understanding of marriage as an act of worship but also contains messages about faith, sharia, morals, and social interactions that are important in social interactions and the process of choosing a life partner.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bentuk pesan dakwah yang terkandung dalam konten video pendek yang dipublikasikan melalui akun TikTok @raehanul_bahraen. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana pesan-pesan keislaman, khususnya yang berkaitan dengan tema pernikahan, disampaikan kepada khalayak melalui media sosial yang bersifat populer dan digemari oleh generasi muda. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, karena bertujuan menggambarkan fenomena dakwah digital secara mendalam berdasarkan data yang ditemukan di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, yaitu dengan mengamati, mencatat, dan mengkaji konten video dakwah yang diunggah pada akun TikTok tersebut. Video-video yang dianalisis secara khusus membahas tema pernikahan dan problematika jodoh dalam perspektif Islam. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis, ditemukan beberapa pesan dakwah yang menyoroti faktor-faktor penyebab wanita sulit mendapatkan jodoh, antara lain peran ayah yang tidak menawarkan anak gadisnya kepada laki-laki saleh, sikap wanita yang menunda pernikahan tanpa alasan syar’i, serta keengganan wanita untuk membuka diri atau menawarkan diri kepada lelaki saleh sesuai dengan tuntunan syariat. Selain substansi pesan, penelitian ini juga menemukan bahwa pendakwah menyampaikan materi dakwah dengan gaya bahasa yang ringan, populer, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas, terutama pengguna media sosial. Pendekatan ini menjadikan pesan dakwah terasa relevan, tidak menggurui, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa konten dakwah bertema pernikahan di akun TikTok @raehanul_bahraen memiliki nilai edukatif yang tinggi. Tayangan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman tentang pernikahan sebagai ibadah, tetapi juga mengandung pesan akidah, syariat, akhlak, dan muamalah yang penting dalam pergaulan serta proses pemilihan pasangan hidup.  
Kajian Orientalis Terhadap Al-Qur’an: Alih Bahasa Karakteristik Metodologis Dan Pengaruhnya Dalam Studi Islam Eira Kishi Febila Saragih; Esha Daffa Fatansyach; Reka Suri; Sulidar
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/5tb1ds30

Abstract

Orientalist studies of the Qur’an constitute an important part of the history of Islamic studies in the West. Orientalist attention has not been limited to the content of the Qur’an alone, but has also focused on issues of translation, methodological approaches, and their impact on the development of modern Islamic studies. This article aims to critically analyze orientalist studies of the Qur’an by emphasizing three main aspects: the translation of the Qur’an into Western languages, the methodological characteristics employed by Orientalists, and the influence of these studies on Islamic scholarship, both in the Western academy and in the Muslim world. This research employs a qualitative method based on library research using a descriptive-analytical approach. The findings indicate that although Orientalism has made certain academic contributions, its studies are often shaped by epistemological assumptions that differ from the Islamic scholarly tradition, thus necessitating a critical and selective stance on the part of Muslim scholars.   Abstrak Kajian orientalis terhadap Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam sejarah studi Islam di Barat. Perhatian orientalis tidak hanya tertuju pada isi Al-Qur’an, tetapi juga pada aspek alih bahasa (penerjemahan), metodologi kajian, serta dampaknya terhadap perkembangan studi Islam modern. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis kajian orientalis terhadap Al-Qur’an dengan menitikberatkan pada tiga aspek utama: penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Barat, karakteristik metodologis yang digunakan para orientalis, serta pengaruh kajian tersebut dalam studi Islam, baik di Barat maupun di dunia Muslim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun orientalisme memberikan kontribusi akademik tertentu, kajiannya kerap dipengaruhi oleh asumsi epistemologis yang berbeda dengan tradisi keilmuan Islam, sehingga menuntut sikap kritis dan selektif dari sarjana Muslim.
Perbandingan Kajian Muslim dan Orientalis Aisyah Nurul Aini; Muhammad Rajab Al Fathin Nasution; Sulidar
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/bm30dw89

Abstract

This article comprehensively examines the comparison between Muslim studies and Orientalist studies in Islamic studies, positioning them as two scholarly traditions with distinct characteristics, orientations, and academic implications. The main focus of the discussion includes the objects and perspectives of research, the methodologies and approaches used, and the impact and reactions of each tradition on the development of Islamic studies. Muslim studies depart from an internal (insider) perspective, grounded in a normative-faith foundation and utilizing the Qur'an and Sunnah as primary sources of knowledge. Within this framework, Islam is understood not only as an object of scientific study but also as a transcendent system of values ​​and guidelines for life. In contrast, Orientalist studies developed within the Western academic tradition with an external (outsider) perspective, viewing Islam as a historical, social, and cultural phenomenon. The approaches used tend to be historical-critical, philological, and socio-humanities, with an emphasis on textual analysis, historical context, and the dynamics of Muslim society. Through a descriptive-analytical and comparative approach, this article demonstrates that Orientalist studies often draw criticism, particularly regarding colonial bias, normative reduction of meaning, and a tendency toward generalization. The results of this study demonstrate that the contributions of Orientalists to the development of scientific methodology, source criticism, and the expansion of Islamic studies literature cannot be ignored. Furthermore, Muslim studies play a strategic role in strengthening religious identity, maintaining the authority of Islamic sources, and encouraging a renewal of Islamic thought that is more contextual and responsive to the challenges of the times. By critically and proportionately bringing these two traditions together, this article emphasizes the importance of open, respectful, and civilized academic dialogue to enrich the treasury of contemporary Islamic studies. Abstrak Artikel ini mengkaji secara komprehensif perbandingan antara kajian Muslim dan kajian orientalis dalam studi Islam, dengan menempatkan keduanya sebagai dua tradisi keilmuan yang memiliki karakter, orientasi, dan implikasi akademik yang berbeda. Fokus utama pembahasan meliputi objek dan perspektif penelitian, metodologi dan pendekatan yang digunakan, serta dampak dan reaksi yang ditimbulkan oleh masing-masing tradisi dalam perkembangan studi Islam. Kajian Muslim berangkat dari perspektif internal (insider), yang berpijak pada landasan normatif-keimanan dan menjadikan Al-Qur’an serta Sunnah sebagai sumber utama pengetahuan. Dalam kerangka ini, Islam dipahami tidak hanya sebagai objek kajian ilmiah, tetapi juga sebagai sistem nilai dan pedoman hidup yang bersifat transenden. Sebaliknya, kajian orientalis berkembang dalam tradisi akademik Barat dengan perspektif eksternal (outsider), yang memandang Islam sebagai fenomena sejarah, sosial, dan budaya. Pendekatan yang digunakan cenderung bersifat historis-kritis, filologis, dan sosial-humaniora, dengan penekanan pada analisis teks, konteks sejarah, serta dinamika masyarakat Muslim. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dan komparatif, artikel ini menunjukkan bahwa kajian orientalis kerap menuai kritik, terutama terkait bias kolonial, reduksi makna normatif, dan kecenderungan generalisasi. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa , kontribusi orientalis dalam pengembangan metodologi ilmiah, kritik sumber, serta perluasan literatur studi Islam tidak dapat diabaikan. Di sisi lain, kajian Muslim memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas keagamaan, menjaga otoritas sumber-sumber Islam, serta mendorong pembaruan pemikiran Islam yang lebih kontekstual dan responsif terhadap tantangan zaman. Dengan mempertemukan kedua tradisi ini secara kritis dan proporsional, artikel ini menegaskan pentingnya dialog akademik yang terbuka, saling menghargai, dan berkeadaban guna memperkaya khazanah studi Islam kontemporer
Rasionalitas Simbol Dan Komunikasi Dalam Perpektif Teori Exchange Dalam Ilmu Sosial Kontemporer Siti Ayu Nuriana; Mohammad Rofiq
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/dwfvvx25

Abstract

This study aims to analyze the rationality of symbols and communication from the perspective of Exchange Theory as a relevant theoretical framework for understanding the dynamics of social interaction in contemporary social science. Based on the assumption that social action is not solely driven by material interests, this study emphasizes the importance of the symbolic and communicative dimensions in the social exchange process. A qualitative approach was employed, employing library research on classical and contemporary works by social scientists discussing Exchange Theory, social rationality, symbols, and communication. The data obtained were analyzed using conceptual and interpretive analysis techniques to uncover the dialectical relationship between social exchange, symbolic meaning, and the communication process in social action. The results of the study indicate that Exchange Theory cannot be understood reductively as merely material exchange but also encompasses symbolic exchanges imbued with values, meaning, recognition, and social legitimacy. Rationality in this context is multidimensional, encompassing interrelated and interdependent economic, social, and symbolic aspects. These dimensions of rationality are expressed and negotiated through communication, which serves as the primary mechanism for building trust, conveying symbols, and negotiating interests and meanings in social relations. In the context of modern society and contemporary digital space, communication has become increasingly complex yet remains central to maintaining the sustainability of social relations. This study confirms that the integration of symbolic rationality and communication strengthens the relevance of Exchange Theory as an adaptive, contextual theoretical framework capable of explaining the complexity of modern social dynamics by considering cultural factors, social structures, and technological developments. Abstrak Kajian ini bertujuan untuk menganalisis rasionalitas simbol dan komunikasi dalam perspektif Teori Exchange sebagai kerangka teoretis yang relevan untuk memahami dinamika interaksi sosial dalam ilmu sosial kontemporer. Berangkat dari asumsi bahwa tindakan sosial tidak semata-mata didorong oleh kepentingan material, penelitian ini menekankan pentingnya dimensi simbolik dan komunikatif dalam proses pertukaran sosial. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode studi literatur (library research) terhadap karya-karya klasik dan kontemporer para ilmuwan sosial yang membahas Teori Exchange, rasionalitas sosial, simbol, serta komunikasi. Data yang diperoleh dianalisis melalui teknik analisis konseptual dan interpretatif guna mengungkap hubungan dialektis antara pertukaran sosial, makna simbolik, dan proses komunikasi dalam tindakan sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa Teori Exchange tidak dapat dipahami secara reduktif sebagai pertukaran material semata, melainkan juga mencakup pertukaran simbolik yang sarat dengan nilai, makna, pengakuan, dan legitimasi sosial. Rasionalitas dalam konteks ini bersifat multidimensional, meliputi aspek ekonomi, sosial, dan simbolik yang saling terkait dan saling memengaruhi. Dimensi rasionalitas tersebut diekspresikan dan dinegosiasikan melalui komunikasi, yang berfungsi sebagai mekanisme utama dalam membangun kepercayaan, menyampaikan simbol, serta menegosiasikan kepentingan dan makna dalam relasi sosial. Dalam konteks masyarakat modern dan ruang digital kontemporer, komunikasi menjadi semakin kompleks namun tetap berperan sentral dalam menjaga keberlanjutan hubungan sosial. Kajian ini menegaskan bahwa integrasi rasionalitas simbol dan komunikasi memperkuat relevansi Teori Exchange sebagai kerangka teoretis yang adaptif, kontekstual, dan mampu menjelaskan kompleksitas dinamika sosial modern dengan mempertimbangkan faktor budaya, struktur sosial, dan perkembangan teknologi.