cover
Contact Name
Ahmad Shafwan S. Pulungan
Contact Email
pulungan.shafwan@gmail.com
Phone
+6281370329288
Journal Mail Official
biosains@unimed.ac.id
Editorial Address
Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan Jl. Willem Iskandar Psr V Medan Estate, Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences)
ISSN : 24431230     EISSN : 24606804     DOI : https://doi.org/10.24114/jbio.v6i1
Jurnal Biosains (JBIO) features works of exceptional significance, originality, and relevance in all areas of biological science, from molecules to ecosystems, (ie genetic, microbiology, ecology, biosystematic, biostatistic) including works at the interface of other disciplines, such as chemistry, medicine,physic and mathematics. We also welcome data-driven meta-research articles that evaluate and aim to improve the standards of research in the life sciences and beyond. Our audience is the international scientific community as well as educators, policy makers, patient advocacy groups, and interested members of the public around the world.
Articles 263 Documents
VARIASI BENTUK DAUN LATERAL PADA MARGA SELAGINELLA DI SUMATERA UTARA Wina Dyah Puspita Sari
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 2 (2013): Bio
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i2.12731

Abstract

Selaginella merupakan marga tunggal dari suku Selaginellaceae yang terdiri dari kurang lebih 750 jenis di seluruh dunia. Informasi taksonomi mengenai keberadaan Selaginella di Sumatera Utara masih belum lengkap, sehingga diperlukan penelitian yang lebih mendalam mengenai jenis tersebut di daerah ini. Penelitian menggunakan metode taksonomi dengan 87 koleksi spesimen dari Herbarium Bogoriense. Salah satu karakter yang digunakan untuk mengidentifikasi Selaginella adalah daun lateral. Dari karakter daun lateral diperoleh beberapa variasi bentuk yang dapat digunakan untuk proses identifikasi Selaginella lebih lanjut.
The Diversity And Abundance Of Leafaud Planthopper (Auchenorrhyncha: Hemiptera) Along With Weeds In Rice Field Ecosystem In South Rantau Of Labuhan Batu Regency Nirwana Fajri Harahap
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i3.2934

Abstract

The aim of this research is to find out the diversity, abundance, and dominance of leafaud planthopper (Auchenorrhyncha: Hemiptera) along with the types of weeds grow in rice field ecosystem in South Rantau of Labuhan Batu regency. This research was conducted by using purposive random sampling by using insect net. The collection of hopper was done by swinging the insect net for 50 times that took place in north, south, middle, east and south so that the amount of the sampling was 250 swings. The result of this research showed that there were 6 types of rice pests in vegetation period until stublade field in south Rantau of Labuhan Batu regency. They were : Nilaparvata lugens, Nephotettix sp, Cofana spectra, Recilia dorsalis, Thaia sp, Cicadulina bipunctata. The highest abundance was found in Nilaparvata lugens with 407 individuals, Nephotettix sp with 32 individuals, Cofana spectra with 38 individuals, Recilia dorsalis with 26 individuals, Thaia sp with 19 individuals,  and Cicadulina bipunctata with only 1 individual, with low diversity index, it was 0,1075. While the weeds found in south Rantau of Labuhan Batu regency were 5 types, they were Cyperus iria ,Cyperus rotundus,Papalum distichum, Alternanthera philoxeroides, Cyperus pilosus. The highest density was found in Cyperus iria weed, with total 25%, whilw the lowest density was found in Papalum distichum with total only 10%. The highest presence frequency was found in Cyperus iria, Cyperus rotundus, Papalum distichum,  Alternanthera philoxeroides with total 20%, while the lowest presence frequency was found in Cyperus pilosus with total 16%. The highest dominance was found in Cyperus rotundus with total 23.34%, while the lowest dominance was found in Cyperus pilosus with total 15.83%, and the highest important value index was found in Cyperus rotundus with total 64.24%, while the lowest important value index was found in Papalum distichum with total 52.69%. Keywords : Diversity, abundance, dominance, leafaud planthopper
EFEKTIFITAS EKSTRAK KAYU SEPANG SEBAGAI PENGAWET ALAMI DAGING OLAHAN Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 6, No 3 (2020): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v6i3.19168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kualitatif mengenai efektifitas ekstrak kayu sepang sebagai pengawet alami pada daging olahan. Efektifitas pengujian ini didasarkan pada kandungan ekstrak kayu sepang seperti brazilin, flavonoid, dan tannin sebagai sumber antioksidan dan antimikroba. Pemilihan daging olahan sebagai bahan untuk diawetkan secara alami, sebab permasalahan akan mudahnya daging olahan rusak secara fisika, kimiawi, dan mikrobiologi mengakibatkan banyak produsen daging olahan merugi akibat masa simpan yang singakt. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian pengawet alami dari herbal seperti ekstrak kayu sepang ini. Metode yang digunakan yaitu metode observasi melalui pengamatan mengenai perlakuan yang diberikan dengan dua faktor perlakuan yaitu variasi pH dan waktu perendaman. Hasil yang diperoleh bahwa efektifitas perendaman optimum adalah 2 hari dengan masa simpan 4 hari pada suhu ruangan. pH larutan ekstrak dan perendaman berkisar 5-6 yang menunjukkan penurunan pH selama waktu perendaman setiap variasi.
POLA KUMAN BILASAN BRONKUS PADA TINDAKAN BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR (BSOL) DI RSUP. H. ADAM MALIK MEDAN Setiarman Setiarman
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i1.5221

Abstract

Bronkoskopi adalah suatu tindakan  invasif  semi operatif  dengan meggunakan bronkoskopi serat optik lentur untuk memeriksa, menilai dan mengobati  kelainan saluran napas.Tindakan ini tidak terlepas dari penularaninfeksi nosokomial, oportunistik. Selama priode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013. Berbagai diagnosa klinis baik penderita rawat inap maupun rawat jalan  dilakukan tindakan bronkoskopi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimanakah Pola Kuman Bilasan Bronkus Pada Tindakan Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) di RSUP.Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini menggunakan data Retrospektif dengan sekali pengamatan, data diambil dari rekam medik hasil kultur  BAL dari laboratorium RSUP. Haji Adam Malik Medan. Hasil penelitian menunjukkan 148 sampel didapat hasil kultur 148 sampel yang tumbuh mikroorganisme. Karakteristik umur hasil penelitian terbanyak antara41-60 tahun (60,8%). Karakteristik jenis kelamin terbanyak laki-laki (80,4%). Diagnosa klinis terbanyak hasil penelitian adalah Ca paru (38,5%), Pneomonia (31,1%), TB paru (13,5%). Pola mikroorganisme  adalah Burkholderia cepacia (28,9%), Acinetobacter baumannii (20,1%), Pseudomonas aeroginosa (17,4%), Klebsiella pneumonia ESBL+(9,4%). Uji sensitifitas terhadap antimikroba penelitian iniadalah Meropenem (74,3%), Levfloxacin (63,5%) Tigecycline (59,5%), Amikasin (54,7%), Piperacillin tazobactam (52,0%) dan Ceptazidine (50,7%). Kesimpulan penelitian ini variabel jenis kelamin, umur berhubungan erat dengan diagnosa klinis Ca paru. Masih ditemukan pola mikroorganisme pada diagnosa klinis  kultur BAL pada tindakan (BSOL) yang sebelum tindakan alat didesinfektan tingkat tinggi (Cidex). Disarankan agar sebelum dilakukan prosedur bronkoskopi tenaga kesehatan harus mengerti arti pentingnya kebersihan diri, tidak menutup kemungkinan terjadi kontak  infeksi silang  antara pasien dengan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, kebersihan pakaian, kebersihan penyediaan airbersih,dan lain-lain  harus mengacu  pada pedoman standard kebersihan rumah sakit agar memutus rantai penyebab infeksi opotunistik dan infeksi nosokomial.   Kata Kunci : Pengetahuan, Ca paru, Pneumonia, Tindakan BSOL
JENIS KELAMIN HIU TUPAI (Chiloscyllium hasselti) BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DAN MORFOMETRI Nurlaini Laili; Mufti Sudibyo
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v3i2.7582

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan morfologi dan morfometri Hiu Tupai (Chiloscyllium hasselti) jantan dan betina serta mengetahui  faktor yang berkontribusi terhadap panjang total tubuh Hiu Tupai Jantan dan Betina. Sampel penelitian di ambil dari Pusat Pasar Ikan di Jl. Cemara Sampali Medan. Sampel Hiu Tupai (Chiloscyllium hasselti) yang diamati diambil sebanyak 35 jantan dan 35 betina. Karakter morfologi diperoleh dengan cara mengamati seluruh bagian tubuh antara jantan dan betina. Analisis statistik untuk membedakan antara jantan dengan betina menggunakan uji t, sedangkan untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap panjang total menggunakan analisis regresi berganda metode stepwise. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara morfologi Hiu Tupai (Chiloscyllium hasselti) jantan dan betina berbeda pada bagian kepala (betina memiliki bentuk kepala dengan ujung membulat sedangkan jantan meruncing) dan organ reproduksi (jantan memiliki klasper sedangkan betina memiliki kloaka). Berdasarkan hasil uji t diketahui terdapat 12 perbedaan karakter morfometri Hiu Tupai (Chiloscyllium hasselti) jantan dan betina. Secara morfometri karakter yang paling tinggi kontribusinya terhadap panjang total tubuh jantan yaitu panjang moncong hingga sebelum sirip dorsal pertama (X2) 97,3%, panjang standard (X1) 98,3%, panjang klasper (X20) 99,1%, jarak antara sirip dorsal pertama dan kedua (X8) 99,3%, dan panjang ekor (X18) 99,5% dan panjang moncong hingga  sebelum kepala (X5) 99,6%. Sedangkan pada Hiu betina karakter morfometri yang paling tinggi kontribusinya yaitu panjang standard (X1) 95,7%, panjang mulut (X14) 97,7 %, panjang ekor  98,6 %, jarak antara sirip dorsal pertama dan kedua (X8) 98,9%, panjang sirip anal (X19) 99,1 % serta panjang sirip perut (X11) 99,6 %. Kata kunci : Morfologi, Morfometri, Chiloscyllium hasselti, Jenis Kelamin.
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS AIR DENGAN KEBIASAAN MAKANAN IKAN BATAK (Tor soro) DI PERAIRAN SUNGAI ASAHAN SUMATERA UTARA Budianto Siregar; Ternala Alexander Barus; Syafruddin Ilyas
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 2 (2013): Bio
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i2.12508

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang hubungan antara kualitas air dengan kebiasaan makanan ikan batak (Tor soro) di perairan Sungai Asahan Sumatera Utara pada bulan November 2012-Januari 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan makanan ikan batak (Tor soro), kualitas air Sungai Asahan, serta hubungan antara kualitas air dengan kebiasaan makanan ikan batak (Tor soro). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan electrofishing dan jala serta isi lambung dianalisis dengan menggunakan metode volumetrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan batak (Tor soro)  memiliki pola pertumbuhan alometrik. Makanan utama ikan batak (Tor soro) berdasarkan Index of Preponderance: Cladophora (47,01%, 62,29%, 71,11%) pada stasiun 1, 4, dan 5. Cymbella (47,57%) pada stasiun 2, Vaucheria (51,46%) pada stasiun 3. Temperatur, Intensitas cahaya, kecerahan dan pH berkorelasi kuat terhadap Cladophora. Nitrat dan posfat berkorelasi kuat terhadap Cymbella. Nitrat berkorelasi kuat terhadap Vaucheria. Kondisi Sungai Asahan secara relatif dalam keadaan baik dan mendukung pertumbuhan ikan batak (Tor soro).
Study Productivity And Decomposition Litterfall In Sibolangit Forest, Deli Serdang To Support Field Trip Plantation Ecology Tonggo Sinaga
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i3.2924

Abstract

The research was conducted in mountain rain forest of Sibolangit, Deli Serdang, Northen Sumatera. The objectives of this research are to know litter fall productivity, decomposition and litterfall nutrients. Litterfall is the fallen leaves, twigs, flowers and fruits to forest-floor, which one of the input of nutrients to anorganic sril. This input is one of the nutrients cycling to forest ecosystem and the other form atmosfer and a lot of animals. Based on available data on 20 traps, litterfall productivity 5,91 gr/m2/week or 3073,2 kg/ha/year in high topography. Litterfall productivity 4,92gr/m2/week or 2558,4 kg/ha/year in low topography. Litterfall decomposition (lossed of weight) about 25,48% in 30 days ( 1 month ) for meranti ( Shorea sp ) and leaves of Ficus sp had lossed of weight about 8,09% in 30 days ( 1 month ). Ration C/N (Carbon-Nitrogen) litterfall and soil moisture made differrent litterfall decomposition (lossed of weight)   Keywords : Productivity, Decomposition, Litterfall, Productivity.
HEPATOPROTEKTIF EKSTRAK ETANOL DAUN DAN BUAH KERSEN (Muntingia calabura L.) PADA TIKUS YANG DI INDUKSI ALKOHOL Hendro Pranoto; Meida Nugrahalia
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v6i2.17938

Abstract

Hepatoprotektif Ekstrak Etanol Daun dan Buah Kersen (Muntingia calabura L.) pada Tikus yang di induksi Alkohol Hendro Pranoto*, Meida NugrahaliaDepartement Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Medan, Indonesia*Corresponding authors: hendrop.unimed77@gmail.comABSTRAKJalur utama metabolisme etanol terjadi pada jaringan hepar sehingga kerusakan terparah akibat meminum alkohol terjadi di organ ini. Terapi pengobatan menggunakan herbal untuk hepatoprotektif merupakan fokus penelitian tanaman obat saat ini. Tanaman kersen sudah digunakan secara tradisional di berbagai negara untuk keperluan pengobatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi hepatoprotektif ekstrak etanol daun kersen (EEDK) dan ekstrak etanol buah kersen (EEBK) pada tikus putih (Rattus novergicus Sprague Dawley strain). 30 ekor tikus dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok I  (diberikan 10 mL / KgBB CMC 0.5%); kelompok II (diberikan 3 mL alkohol 30%): kelompok III (diberikan 25 mg / KgBB sylimarin and 3 mL alcohol 30%); kelompok IV (500 mg / KgBB EEDK and 3mL alkohol 30%) and kelompok V (500 mg / KgBB EEBK and 3 mL alkohol 30%) for 15 days. Parameter yang diukur meliputi indeks organ hati, histopatologi hati, total bilirubin, direct bilirubin, indirect bilirubin, SGPT, ALP, total protein and albumin. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Tukey menggunakan SPPS versi 22. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat penurunan yang signifikan pada indeks organ hati, total bilirubin, direct bilirubin, indirect bilirubin, SGPT and ALP jika dibandingkan dengan tikus yang di induksi dengan alkohol (kelompok II). Total protein dan albumin mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan kelompok II. Hasil skrining fitokimia bahwa pada daun dan buah kersen mengandung senyawa alkaloid, falvonoid, fenol dan terpenoid. Dapat disimpulkan bahwa baik EEDK dan EEBK berpotensi sebagai hepatoprotektif pada tikus yang diinduksi alkohol.. Kata Kunci: daun Kersen, buah Kersen, hepatoprotektif Hepatoprotective Ethanol Extracts of Kersen (Muntingia calabura L.) Leaves and Fruit in Alcohol-Induced Rats ABSTRACTHerbal therapy for hepatoprotective therapy currently becomes the focus of the study in medicinal plants. Kersen have been used traditionally in various countries for medicinal purposes. This study was conducted to determine the hepatoprotective potential of ethanol extract of Kersen leaves (EEKL) and ethanol extract of Kersen fruits (EEKF) in laboratory rats (Rattus novergicus Sprague Dawley strain). 30 rats were divided into 6 groups namely group I (given 10mL/KgBW CMC 0.5%); group II (given 3mL 30% alcohol); group III (given 25 mg / KgBW silymarin and 3 mL of 30% alcohol); group IV (given 500 mg/kg BW of EEKL and 3mL of 30% alcohol); and group V (given 500 mg/kg BW of EEKF and 3mL of 30% alcohol) for 15 days. The parameters measured included the index of the liver, liver histopathology, total bilirubin, direct bilirubin, indirect bilirubin, SGPT, ALP, total protein, and albumin. The obtained data were analyzed using ANOVA and Tukey test using SPSS version 22.From the results of the study, it was found that there was a significant decrease in the index of the liver, total bilirubin, direct bilirubin, indirect bilirubin, SGPT, and ALP compared to the rats induced with alcohol (group II). Total protein and albumin experienced a significant increase compared to group II. Phytochemical screening results showed that the leaves and cherries contain an alkaloid, flavonoid, phenols, and terpenoids. Thus, it can be concluded that both EEKL and EEKF have the potential to be hepatoprotective in alcohol-induced rats. Keywords: Kersen leaves, Kersen fruit, hepatoprotective 
POPULASI DAN JENIS LALAT BUAH YANG BERASSOSIASI DENGAN TANAMAN MARKISA DATARAN RENDAH ( Passiflora edulis Sims f. flavicarpa Deg) Suswati Suswati; Asmah Indrawati
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 2, No 3 (2016): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v2i3.4962

Abstract

Pengembangan markisa dataran rendah khususnya markisa kuning  ( Passiflora edulis Sims f. flavicarpa Deg) di Kecamatan Medan Tuntungan dihadapkan pada permasalahan tingginya serangan lalat buah.Tujuan penelitian adalah memperoleh informasi tentang jenis lalat buah yang berasosiasi dengan tanaman markisa dataran rendah.Penelitian dilakukan di Desa Sidomulyo dimana tanaman markisa ditanam dengan beberapa ketinggian rambatan. Pemasangan perangkap lalat buah menggunakan model perangkap Steiner ·yang sudah dimodifikasi dengan menggunakan botol air mineral bekas ukuran 1500 ml dan senyawa methyl eugenol. Ditemukan dua jenis lalat buah yaitu  Bractocera dorsalis dan B.umbrosa. B.dorsalis mendominasi jenis lalat buah pada tanaman markisa. B.umbrosa mendominasi (90.24%) jenis lalat buah yang menyerang tanaman markisa di Sidomulyo  dan  B.umbrosa sebesar 9.76%.   Kata kunci: markisa dataran rendah, perangkap, metyl eugenol, Bractocera  dorsalis, B.umbrosa
PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK DAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS HASIL TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) Difa Diniandra; Selvia Dewi Pohan
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v3i1.7370

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kombinasi dan tunggal pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik yang memberikan kuantitas dan kualitas hasil panen tanaman buncis tertinggi, penelitian dilaksanakan mulai Bulan Maret 2016 sampai Bulan Juni 2016, di Kelurahan Berngam Kecamatan Binjai Kota, Kotamadya Binjai. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih buncis tipe merambat varietas Gravo, pupuk organik kandang ayam dan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl). Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Faktorial dengan dua faktor yaitu pupuk organik kandang ayam yang terdiri dari empat taraf, yaitu K1 (0 gr/ lubang), K2 (100 gr/ lubang), K3 (200 gr/ lubang), K4 (300 gr/ lubang) dan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl) yang terdiri dari empat taraf, yaitu A1 (0 gr/ lubang), A2 (Urea 1,85 gr/ lubang, TSP 0,4 gr/ lubang, KCl 0,42 gr/ lubang), A3 (Urea 3,7 gr/ lubang, TSP 0,8 gr/ lubang, KCl 0,84 gr/ lubang), A4 (Urea 7,4 gr/ lubang, TSP 1,6 gr/ lubang, KCl 1,68 gr/ lubang). Parameter yang diamati berdasarkan kuantitas adalah bobot polong per plot (gr), jumlah polong per plot (buah), panjang polong per plot (cm), dan berdasarkan kualitas adalah warna polong per plot dan kandungan kalsium (Ca) per plot. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis varians dan jika perlakuan memberikan pengaruh nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara interaksi dan tunggal penggunaan berbagai taraf pupuk organik dan pupuk anorganik memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Interaksi antara perlakuan pupuk organik dan pupuk anorganik yang memberikan kuantitas tertinggi terhadap parameter bobot polong per plot dan jumlah polong per plot adalah perlakuan K2A3, K3A3 dan K3A4, untuk parameter panjang polong per plot adalah perlakuan K3A4. Kombinasi perlakuan pupuk organik dan pupuk anorganik yang memberikan kualitas tertinggi terhadap warna polong dan kandungan kalsium (Ca) adalah perlakuan K3A4. Kata Kunci : buncis, pupuk organik, pupuk anorganik, kuantitas, kualitas

Page 7 of 27 | Total Record : 263


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 10 No. 3 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 10, No 2 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 10 No. 2 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 10, No 1 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 10 No. 1 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 9 No. 3 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 3 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 2 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 1 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 8, No 3 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 8, No 2 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 8, No 1 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 3 (2021): Jurnal Biosains Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains Vol 6, No 3 (2020): Jurnal Biosains Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Biosains Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Biosains Vol 5, No 3 (2019): Jurnal Biosains Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Biosains Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Biosains Vol 4, No 3 (2018): Jurnal Biosains Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Biosains Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Biosains Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Biosains Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Biosains Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Biosains Vol 2, No 3 (2016): Jurnal Biosains Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Biosains Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Biosains Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 2 (2013): Bio Hasil Review Fauziyah Harahap More Issue