cover
Contact Name
Ahmad Shafwan S. Pulungan
Contact Email
pulungan.shafwan@gmail.com
Phone
+6281370329288
Journal Mail Official
biosains@unimed.ac.id
Editorial Address
Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan Jl. Willem Iskandar Psr V Medan Estate, Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences)
ISSN : 24431230     EISSN : 24606804     DOI : https://doi.org/10.24114/jbio.v6i1
Jurnal Biosains (JBIO) features works of exceptional significance, originality, and relevance in all areas of biological science, from molecules to ecosystems, (ie genetic, microbiology, ecology, biosystematic, biostatistic) including works at the interface of other disciplines, such as chemistry, medicine,physic and mathematics. We also welcome data-driven meta-research articles that evaluate and aim to improve the standards of research in the life sciences and beyond. Our audience is the international scientific community as well as educators, policy makers, patient advocacy groups, and interested members of the public around the world.
Articles 263 Documents
PENGARUH FREKUENSI PENGGANTIAN SEKAM DENGAN KEHADIRAN EKTOPARASIT PADA MENCIT (Mus musculus) Armansyah Maulana Harahap; Endang Sulistyarini Gultom; Ahmad Shafwan S. Pulungan
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v3i3.9386

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi penggantian sekam terhadap kehadiran ektoparasit pada mencit yang dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Negeri Medan. Metode yang digunakan dengan memakai mencit dengan frekuensi penggantian sekam sekali dua minggu dengan 3 kali pengulangan dan menggunakan mencit peliharaan dengan frekuensi penggantian sekam sekali dua hari sebagai pembanding kehadiran ektoparasit pada mencit. Badan Mencit di usap dengan kapas yang sudah ditetesi alkohol dan disisir ke atas alkohol 70% sebagai koleksi ektoparasit kemudian di preservasi untuk di identifikasi. Hasil yang diperoleh terdapat ektoparasit jenis tungau dan pinjal untuk jenis tungau berasal dari anggota Laelapidae dan Xenopsylla cheopis pada mencit dengan frekuensi penggantian sekam sekali dua minggu, untuk itu dapat diperoleh kesimpulan bahwa kehadiran ektoparasit berpengaruh dengan frekuensi penggantian sekam. Kata kunci: Mencit, Ektoparasit, Sekam
IKAN BATAK (Neolissochillus sumatranus) SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN CADMIUM (Cd) DI PERAIRAN SUNGAI ASAHAN SUMATERA UTARA Rina Marintan Sitorus; Ternala Alexander Barus; Syafruddin Ilyas
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 2 (2013): Bio
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i2.12735

Abstract

Penelitian ikan batak (Neolissochillus sumatranus) sebagai bioindikator pencemaran logam berat Pb dan Cd di sungai Asahan. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan  Januari 2013 di 5 stasiun pengamatan. Sampel yang diambil adalah ikan dan air. Parameter yang diamati adalah logam berat (Pb dan Cd), kualitas air (temperatur, arus, kecerahan dan intensitas cahaya) dan unsur hara (nitrat dan posfat). Kandungan logam berat Pb  di air (<0,01 mg/L) dan pada ikan (<0,054 mg/L)  masih di diluar batas baca untuk deteksi limit. Kandungan Cd di air berkisar antara 0,002-0,007 mg/L, nilai ini masih dibawah baku mutu air golongan I (Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001), dan di air nilai Cd diluar batas baca untuk deteksi limit yaitu <0,003 mg/L. Konsentrasi logam (Pb dan Cd) di air dan ikan masih memenuhi standar baku mutu. Klasifikasi mutu air kelas IIL dengan metode storet disimpulkan bahwa setiap stasiun tergolong kualitas air kelas A kategori perairan baik sekali.  
Pengaruh Media Starter Dari Daging Nanas, Bonggol Nanas Dan Kulit Nanas Terhadap Kualitas Nata De Coco Duma Duma; Tri Harsono
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v2i1.4024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Pengaruh Media Starter Dari Daging Nanas, Bonggol Nanas dan Kulit Nanas Terhadap Kualitas Nata De Coco. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 faktor, 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah ketebalan nata de coco, berat nata de coco dan uji organoleptik nya terhadap tektur dan warna nata de coco. Data yang diperoleh diolah menggunakan Rancangan Analisis Ragam (ANAVA) pada taraf 1% dan 5%, berpengaruh nyata atau tidak berpengaruh nyata. Hasil Penelitian menunjukkan bahwarata-rata ketebalan nata de coco dari media starter daging nanas sebesar 1,36 cm, bonggol nanas sebesar 1,5 cm, dan pada media starter dari kulit nanas sebesar 1,4 cm. Hasil rata-rata dari Berat nata de coco dari media starter daging nanas diperoleh 1.226gram, pada bonggol nanas diperoleh 1,350 gram, dan pada media starter dari kulit nanas diperoleh 1.325 gram.   Kata kunci : Tanaman nanas, nata de coco, media starter
PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM BIOREMEDIASI SENYAWA PENCEMAR Ahmad Shafwan S. Pulungan
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i1.5228

Abstract

Bioremediation is a process that involves living creatures in the remediation or degradation of pollutant compounds. The ability of living creatures is demonstrated by the activity of plants and microorganisms. Microorganisms have potential as bioremediation agents. The ability of bioremediation by microorganisms turned out to be done enzymatically involving enzyme activities of some types of microorganisms that work together to overhaul chains pollutant substances into compounds that are better for the environment. These enzymes, among others, oksireduktase, oxygenation, lipase and cellulase. Bioremediation process requires a long time, due to the need for the process of adaptation in a given environment.   Key words. Bioremediation, Microorganisms, Enzyme, Degradation
HUBUNGAN MONITORING PARENTAL DAN KEBIASAAN PEER GROUP DENGAN PERILAKU MEROKOK REMAJA SLTP DI KOTA MATARAM Mukminah Mukminah
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v3i3.8150

Abstract

The purpose of this study was to determine the relationship between peer and parental control factors and smoking behaviour of adolecents among junior high school students in Mataram. Observational study was used to collect data from 108 students aged 12 to 17 on their own smoking status and parental controls. The result showed secondary students who smoke are subjected to peer group pressures and they have fewer parental controls with regard to smoking. More pressures on smoking within the peer groups were associated with a greater likelihood of smoking behaviour (p>0.05; p=0.642). However, parental controls on smoking have also been found to have influence to decreasing the likelihood of smoking behaviour among 7th and 8th students (p>0.05; p=0.440).  In general, peers has stronger effects on initiation of adolecents smoking behavior than parental control influences. This findings suggest that more extensive controls on smoking at home may reduce adolecents smoking behaviour. Thus, smoking prevention for adolecents might be focused on social context such as, resisting to peer pressure and enhacing parental communication. Keywords: adolescent; smoking behavior; parental control; peer 
ANALISIS ASAM AMINO NON ESENSIAL PADA KERANG BULU (Anadara antiquata) DI PERAIRAN PANTAI TIMUR SUMATERA UTARA putri ayu aprillia; Mufti Sudibyo
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v5i1.12166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam amino non esensial pada kerang bulu (Anadara antiquata) pada umur dan lokasi yang berbeda, kondisi subtrat dan faktor fisika kimia perairan di pantai Timur Sumatera Utara. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2018. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode survey eksploratif.. Penentuan tempat pengambilan dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan fisika-kimia perairan di kedua lokasi, di Sialang Buah suhu 32,40C, salinitas 24,3‰, pH 8, kecerahan 20,9 cm, kedalaman 122,6 cm dan sedangkan di Tanjung Balai suhu 29,60C, salinitas 25,4 2‰, pH 7,4, kecerahan 33,9 cm, kedalaman 208,4 cm. Terdapat perbedaan subtrat di kedua lokasi, subtrat Sialang Buah liat berpasir dan subtract Tanjung Balai liat. Hasil nilai asam amino non esensial pada kerang bulu (Anadara antiquata) nilai yang paling tinggi terdapat pada asam glutamat pada lokasi Tanjung Balai, pada garis pertumbuhan nilai pada kelas 30-33 pada kerang bulu (Anadara antiquata) 72056.42%, pada garis pertumbuhan 34-36 pada kerang bulu (Anadara antiquata) 63538.76%, dan kelas 37-39 pada kerang bulu (Anadara antiquata) 68605.10%. Dan nilai yang terendah terdapat pada Histidin pada lokasi Tanjung Balai.
Seleksi dan Karakterisasi Bakteri Endofit dari Tumbuhan Raru (Cotilelobium melanoxylon) Pendegradasi Selulosa Sirma Lubis; Riwayati Riwayati; Idramsa Idramsa
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v1i3.2929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengisolasi isolat bakteri endofit pada kulit batang tumbuhan raru (Cotilelobium melanoxylon) yang mampu mendegrasi selulosa, dan mengkarakterisasikan bakteri tersebut berdasarkan karakter morfologi, Fisiologi dan biokimianya. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan selama tiga bulan yaitu mulai bulan Mei sampai Juli 2015. Sampel isolat bakteri endofit pada kulit batang tumbuhan Raru (Cotilelobium melanoxylon) merupakan koleksi dari laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan. Isolat bakteri pendegradasi selulosa dilakukan secara analisis kuantitatif dengan melihat zona bening pada media CMC agar  yang telah diinokulasikan bakteri endofit setelah diinkubasi selama 10 hari pada suhu 30oC. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 24 isolat diperoleh 1 isolat yang mampu untuk mendegradasi selulosa yaitu ER 11. Memiliki koloni bulat dengan tepi koloni rata, warna koloni putih kekuningan dengan permukaan licin dan elevasi rata, bakteri tersebut termasuk bakteri Gram positif. Suhu optimum untuk pertumbuhan isolat ER 11 adalah 35oC. Dan pH optimum untuk pertumbuhan isolat bakteri ER 11 adalah 6.5 sampai 7.2   Kata Kunci : Bakteri, Endofit, CMC, Raru, Pendegradasi Selulosa
ANALISIS VARIASI MORFOLOGI DAN HABITAT EDELWEIS (Anaphalis spp.) DI KAWASAN SEKITAR DANAU TOBA Syahmi Edi; Harry Prakasa; Yusran Efendi Ritonga
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v6i1.14957

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfologi edelweis (Anaphalis spp.) dan mengetahui faktor fisika-kimia lingkungan di Kawasan Sekitar Danau Toba. Penelitian telah dilaksanakan di daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1000-2000 mdpl. (Meter di atas permukaan laut) yaitu Gunung Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir, Bukit Sipiso-piso (Kabupaten Karo), Taman Eden, (Kabupaten Toba Samosir). Metode yang di lakukan adalah dengan metode explorasi. Sampel yang di amati karakter morfologi dan juga mencari faktor fisika-kimia lingkungan berupa pH tanah, kelembapan udara, suhu udara, ketinggian, suhu tanah dan struktur tanah. Jenis edelweis yang di peroleh dari ke 3 lokasi penelitian hanya 1 jenis yaitu (Anaphalis longofilia) (Blume) Blume ex DC. Berdasarkan cluster analysis atau Analisis Gerombol menggunakan software NTSYS, Edelweis (Anaphalis) di 3 lokasi penelitian (Gunung Pusuk Buhit, Bukit Sipiso-piso, Taman Eden) terbagi menjadi 3 kelompok dan memiliki variasi morfologi yang rendah dengan memiliki nilai kesamaan morfologi 0,80 (80%). Seluruh sampel memiliki nilai similaritas di atas 60%, hal ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut di kategorikan masih dalam 1 spesies. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia lingkungan di 3 lokasi penelitian, diperoleh ph tanah 6-8, kelembapan udara 70-76%, suhu udara 26-310C. Edelweis (Anaphalis) ditemukan di ketinggian antara 1234-1889 mdpl. dengan tekstur tanah lempung berpasir.
Identifikasi Jenis-Jenis Lichenes Sebagai Indikator Pencemaran Udara Asap Kendaraan Bermotor Di Hutan Lindung Aek Nauli-Parapat Kab. Simalungun Muhammad Faisal
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v2i1.5208

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencemaran udara terhadap keanekaragaman lichenes yang ada di Hutan Penelitian Aek-Nauli Parapat Kabupaten Simalungun  berdasarkan titik pengamatan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2007-Februari 2008. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan  jenis lichenes yang terdapat di hutan penelitian Aek Nauli Parapat Kabupaten Simalungun sedangkan sampel dari penelitian ini adalah keseluruhan jenis lichenes yang  berhasil ditemui di masing-masing kuadrat yang sudah ditentukan pada jarak 30 meter kiri dan kanan sepanjang 1 Km Jalan Lintas Medan-Parapat. Hasil penelitian didapati 13 spesies lichenes dengan jumlah individu yang beragam dan menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pencemaran udara dengan jumlah individu lichenes yang berhasil diidentifikasi. Parmelia caperata sebanyak 685 individu merupakan spesies yang paling banyak dijumpai sedangkan Usnea dasypoga sebanyak 124 individu merupakan spesies yang paling sedikit terdapat di area penelitian. Uji kandungan Pb dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) menunjukkan perbedaan yang  nyata di tiap jarak pengambilan sampel yaitu berkisar antara 0,7-6,5 ppm.   Kata kunci: Lichenes, Pencemaran Udara, Pb
PENGARUH EKSTRAK DAUN BUASBUAS (Premna pubescens Blume) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO Gita Widiyastuti; Martina Restuati
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v3i1.7374

Abstract

Buasbuas (Premna pubescens Blume) merupakan salah satu tumbuhan obat di Indonesia. Tumbuhan ini diketahui mengandung flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri. Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan keracunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun buasbuas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan untuk mendapatkan data konsentrasi eksrak daun buasbuas yeng menghasilkan zona hambat terbesar. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Medan dengan menggunakan metode sumuran. Daun buasbuas yang telah menjadi ekstrak etanol, diencerkan menggunakan aquadest dengan konsentrasi 0%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% dan diteteskan ke dalam media MSA (Mannitol Salt Agar) yang telah diinokulasi bakteri serta diberi lubang sumuran. Setelah itu diinkubasi selama 1  24 jam dengan suhu 370C.  Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun buasbuas dengan konsentrasi yang berbeda-beda dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, kemudian data dianalisis menggunakan Analisis Varians Non Faktorial (ANAVA) menunjukkan bahwa nilai Fhitung  (337,54)  Ftabel 0,05 (2,77), maupun Ftabel 0,01 (4,25). Dengan konsentrasi maksimum ekstrak yang lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah 90% dengan rata-rata zona hambat 11 mm. Kata kunci: Premna pubescens Blume, Staphylococcus aureus, Zona Hambat, Sumuran

Page 5 of 27 | Total Record : 263


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 10 No. 3 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 10 No. 2 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 10, No 2 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 10, No 1 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 10 No. 1 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 9, No 3 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol. 9 No. 3 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 2 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 1 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 8, No 3 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 8, No 2 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 8, No 1 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 3 (2021): Jurnal Biosains Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains Vol 6, No 3 (2020): Jurnal Biosains Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Biosains Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Biosains Vol 5, No 3 (2019): Jurnal Biosains Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Biosains Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Biosains Vol 4, No 3 (2018): Jurnal Biosains Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Biosains Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Biosains Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Biosains Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Biosains Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Biosains Vol 2, No 3 (2016): Jurnal Biosains Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Biosains Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Biosains Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 2 (2013): Bio Hasil Review Fauziyah Harahap More Issue