cover
Contact Name
Monica Lintang
Contact Email
monic5304@students.unnes.ac.id
Phone
+628128154253
Journal Mail Official
monic5304@students.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang City, Central Java 50229
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Pengabdian Seni
ISSN : 27744787     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pengabdian Seni is a journal published by Institute of Research and Community Service, Indonesia Institute of the Art Yogyakarta. Published for the first time in 2020, Jurnal Pengabdian Seni is a journal of community service activities that have never been published both in the form of online and print articles. Jurnal Pengabdian Seni has online and print versions. The publication schedule is twice a year in May and November.
Articles 96 Documents
Peningkatan Kompetensi Guru dan Siswa Hanacaraka Edukids Montessori School Pada Masa Pandemi Covid 19
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i1.7009

Abstract

Pendidikan anak usia dini dalam hal ini yang disebut dengan sekolah bermain, atau biasa dikenal dengan sebutan playgroup di Indonesia memerlukan perhatian khusus pada masa pandemi Covid-19. Di masa pandemi ini banyak anak yang kurang bergerak, sering bermain gawai karena kehilangan teman bermain dan kesempatan untuk bermain di luar. Padahal, di masa Covid-19 ini anak harus tetap mendapatkan haknya untuk bermain sehingga orang tua dan guru harus kreatif dan memperbanyak wawasan agar anak tidak bosan dan stres. Seiiring dengan dimulainya kembali pendidikan tatap muka pada awal tahun 2021, Hanacaraka Edukids Montessori School mulai bersiap kembali memberikan pelayanan pendidikan kepada siswanya, Dalam mempersiapkan lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat di sekolah tentunya protocol kesehatan sudah harus diterapkan, disamping itu perlu adanya aktifitas yang dapat merangsang anak dan guru untuk memulai kembali meningkatkan kompetensi khususnya dalam dunia seni dan kerajinan dengan melakukan kegiatan bersama-sama dapat menumbuhkan aspek psikososial yang selama ini tidak terpenuhi selama pandemi. Beberapa kegiatan art and craft yang di tawarkan pada kegiatan penyuluhan seni ini diantaranya kegitan menghias pot serta menanam pohon dan kegiatan membuat mural bersama guru dan siswa.
Peningkatan Nilai Produk Limbah Kayu sebagai Elemen Dekoratif Interior untuk UMKM Furnitur di Desa Wisata Giriasih, Gunung Kidul Febriyantoko, Danang
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12550

Abstract

Desa Wisata Giriasih, dengan statusnya sebagai desa wisata di wilayah Kapanewon Gunungkidul, memilikipotensi besar dalam aspek sumber daya alam dan budaya serta keberadaan UMKM yang mendukungperekonomian masyarakat. Salah satu UMKM yang berkembang cukup pesat dan dapat stabil memenuhipesanan pasar adalah industri mebel dan furnitur. Industri mebel dan furnitur di Desa Giriasih menghadapipermasalahan banyaknya limbah kayu sisa produksi yang belum termanfaatkan. Limbah-limbah kayu sisaproduksi mebel sementara hanya digunakan sebagai kayu bakar, padahal limbah ini mempunyai nilaiekonomis apabila dapat diolah kembali dengan kreativitas yang lebih baik. Program penyuluhan seni iniberupaya menjawab permasalahan tersebut dengan mendesain aksesori interior berbahan limbah sisaproduksi dari UMKM di Desa Wisata Giriasih. Metode yang digunakan dalam program penyuluhan iniadalah melalui workshop yang dilalui melalui tahapan explosing, redefining, managing, prototyping, dantrandspoting. Sasaran dari program ini adalah para perajin kayu berbasis UMKM dan masyarakat umum diDesa Wisata Giriasih. Luaran dari program penyuluhan ini berupa dua buah desain produk asesoris interiorberbahan limbah kayu berupa desain produk mebel penyimpanan dan meja gambar portable. Dari hasilproduk olahan limbah tersebut kemudian dipromosikan di gerai unggulan produk ekspor dan kerajinankreatif di Kota Yogyakarta dengan harapan dapat berdampak positif terhadap pelaku UMKM di Desa WisataGiriasih. Giriasih tourism village, a tourism village in Gunungkidul, has great potentials in terms of natural resources,cultures, and MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises). One of the MSMEs which quite rapidly andstably meet the market demands is the furniture industry. The furniture industry in Giriasih village is facinga problem since a lot of wood waste has not been wisely utilized. So far, wood waste from furniture production isonly used as firewood even though the wastes have high value and potentially worthy to reprocess. By conductingthis activity, the authors attempt to tackle this problem by designing interior accessories made from woodproduction waste. The authors conducted workshop as a method that went through several stages: exploring,redefining, managing, prototyping, and trendspotting. The target of this program is MSME-based woodcraftsmen and the society. The output of this program is 2 interior accessory product designs made from woodwaste in the form of storage furniture product designs and portable drawing tables. The results of the processedwaste products were then promoted at leading export product and creative craft outlets in Yogyakarta.Keywords: waste, wood, decorative, interior, Giriasih Tourism Village
Pembinaan Kriya, Fotografi, Videografi, dan Karawitan di Desa Sendangsari, Pengasih, Kabupaten Kulon Progo
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i2.5921

Abstract

Pembinaan Kriya, Fotografi, Videografi, dan Karawitan di Desa Sendangsari, Pengasih, Kabupaten Kulonprogo merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pembinaan Wilayah Seni (P3Wilsen) ISI Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan dosen dan juga mahasiswa ISI Yogyakarta yang diterjunkan langsung di tengah masyarakat untuk melakukan pengembangan dan pembinaan seni yang ada dan dibutuhkan oleh masyarakat, komunitas, dan UKM. Beberapa pendekatan yang dilakukan untuk program ini adalah community development, yaitu pendekatan  yang berorientasi pada upaya-upaya  pengembangan pemberdayaan masyarakat dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek dan sekaligus objek  pembangunan dan melibatkan mereka secara langsung dalam berbagai  kegiatan  pengabdian masyarakat  sebagai upaya meningkatkan  peran serta mereka  dalam pembangunan  demi kepentingan mereka sendiri. Partisipatif, yaitu pendekatan yang berorientasi kepada upaya peningkatan peran  serta masyarakat  secara langsung  dalam berbagai proses dan pelaksanaan  pengabdian. Dengan partisipasi dan keterlibatan masyarakat secara langsung, dampak dan manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat langsung terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan Desain Ergonomis pada UMKM Emping Melinjo di Desa Wisata Giriasih, Kabupaten Gunung Kidul
Jurnal Pengabdian Seni Vol 4, No 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v4i2.9604

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan tindak lanjut dari mata kuliah Ergonomi Desain  berbasis kuliah lapangan yang bertujuan menerapkan keilmuan ergonomi dalam kehidupan masyarakat desa, dengan mengangkat studi kasus pada industri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa wisata Giriasih, Kabupaten Gunung Kidul. Program ini bertujuan memberikan usulan desain yang lebih ergonomis bagi perajin emping melinjo. Industri emping melinjo dengan skala rumahan ini menjadi salah satu potensi yang dimiliki oleh Desa Wisata Giriasih yang perlu untuk dikembangkan karena menjadi salah satu komoditas pertanian dan perdagangan yang diunggulkan. Dengan pendekatan ergonomi dihasilkan beberapa usulan desain yang berupaya meningkatkan produktivitas kerja perajin emping melinjo. Desain yang dihasilkan merupakan hasil analisis permasalahan ergonomis terkait dengan zona kerja dan alat bantu kerja yang lebih efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien. This community service program is a follow-up of Field Lecture-based Ergonomics course which aims to apply ergonomics theory in rural community practice by conducting a case study on Micro, Small and Medium Enterprises in Giriasih Tourism Village, Gunung Kidul Regency. The objective of this program is to propose ergonomic design for emping (an Indonesian chips made of Gnetum gnemon) producers. The home-scale emping industry is one of the potentials owned by Giriasih tourism village which is highly essential to be developed because it is one of the superior agricultural and trade commodities. Implementing the ergonomics approach, the authors provide several ergonomics design to increase the work productivity of emping producers. The designs were generated according to the analysis of ergonomic problems related to work zones and work aids that are more effective, comfortable, safe, healthy and efficient.
Kaderisasi dan Peningkatan Kemampuan Pelatih Karawitan di Kelompok Seni Ngudi Laras, Watu Lumbung, Kadiluwih Salam, Magelang
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i1.5732

Abstract

Seni budaya Indonesia yang beragam dalam perkembangannya membutuhkan penguatan, pengembangan, dan inovasi agar tetap diterima dan berkembang kepada generasi penerus bangsa. Pelestarian budaya diupayakan melalui berbagai kegiatan, salah satunya adalah penyuluhan seni karena dalam penyuluhan terdapat proses yang melibatkan langsung antara pemangku kepentingan, akademisi, dan masyarakat secara langsung. Karawitan menjadi salah satu kesenian yang  tumbuh dan berkembang dalam tradisi yang khas dan menarik. Tujuan dari penyuluhan seni di bidang karawitan dengan objek kelompok seni Ngudi Laras melalui kaderisasi pelatih, peningkatan kemampuan pelatih, pendampingan dan pelatihan kerawitan, serta publikasi kegiatan sanggar. Metode penyuluhan seni ini menggunakan metode penyuluhan langsung (direct communications), yang digunakan pada waktu berhadapan muka ke muka dengan sasarannya dan berdialog dengan pelatih dan anggotanya. Metode yang langsung ini dianggap lebih efektif, meyakinkan, dan mengakrabkan hubungan antara penyuluh dan sasaran. Penyuluhan seni dengan tajuk “Kaderisasi dan Peningkatan Kemampuan Pelatih Karawitan di Kelompok Seni Ngudi Laras, Watu Lumbung, Kadiluwih, Salam, Magelang”  memberikan penerangan atau informasi agar hal-hal yang tadinya belum diketahui ataupun dipecahkan kaitannya dengan problematika di dalamnya agar segera menemukan jalan keluar yang terbaik sehingga kesinambungan aktivitas sanggar tersebut bisa berjalan secara terus-menerus dan mengalami peningkatan yang signifikan.
Pelatihan Teknis Fotografi dan Pembuatan Poster untuk Meningkatkan Kualitas Informasi Penelitian Situs Liyangan di Pojok Rumah Peradaban
Jurnal Pengabdian Seni Vol 4, No 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v4i1.9170

Abstract

Situs Liyangan merupakan situs yang meliputi area pemujaan, hunian, dan pertanian yang memiliki potensi sejarah dan budaya terkait peradaban manusia. Penelitian intensif yang dilakukan terhadap situs ini sejak tahun 2009 menunjukkan bahwa pada masa kuno, situs ini diperkirakan berada pada rentang abad VI hingga masa kejayaan Mataram Kuno, abad X M. Oleh karenanya, informasi-informasi mengenai hasil penelitian situs ini harus dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui poster. Poster merupakan media penyampai informasi yang dianggap efektif untuk digunakan pada suatu kondisi yang sasaran penerima informasi tersebut adalah orang-orang yang dinamis atau selalu bergerak. Poster harus memiliki kekuatan visual agar mampu menarik perhatian orang untuk melihat dan mengamati isi informasinya. Balai Arkeologi Provinsi D.I. Yogyakarta bekerja sama dengan FSMR, ISI Yogyakarta melaksanakan lokakarya fotografi dan pembuatan poster selama 8 hari kepada 32 peserta yang merupakan siswa dan siswi SMA/SMK/MA di Kabupaten Temanggung dan 8 peserta yang merupakan warga Dusun Liyangan. Metode pelatihan berupa presentasi penyampaian materi, praktik, konsultasi, dan pendampingan langsung. Hasil lokakarya ini adalah terciptanya 10 poster mengenai berbagai aspek tentang Situs Liyangan dari aspek pertanian kuno dan modern, aspek kebencanaan, aspek sejarah, aspek pengelolaan air, hingga aspek potensi wisata. Poster yang dihasilkan peserta lokakarya dipasang di Pojok Rumah Peradaban Situs Liyangan menggantikan poster lama yang diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif mengenai hasil-hasil penelitian terbaru tentang Situs Liyangan. The Liyangan site is a site that includes areas of worship, housing and agriculture that have historical and cultural potential related to human civilization. Intensive research conducted on this site since 2009 shows that in ancient times, this site was estimated to be in the range of the VI century to the heyday of the Ancient Mataram, X century AD. society in various ways, one of which is through posters. Posters are a medium for conveying information that is considered effective for use in conditions where the target recipients of the information are dynamic thing or always on the move such as people. Posters must have visual strength to be able to attract people's attention to see and observe the information content.  D. I. Yogyakarta Provincial Archaeological Center in collaboration with FSMR, ISI Yogyakarta conducted an eight-day photography and poster-making workshop for 32 participants who were high school students in Temanggung Regency and eight participants who were residents of Liyangan Hamlet. The training method was in the form of material delivery presentations, practice, consultation, and direct assistance. The result of this lokakarya is the creation of 10 posters regarding various aspects of the Liyangan Site, starting from ancient and modern agricultural aspects, disaster aspects, historical aspects, water management aspects, to tourism potential aspects. The poster produced by the workshop participants was installed in the Corner of the Liyangan Site Civilization House to replace the old poster which is expected to provide more comprehensive information regarding the results of the latest research on the Liyangan Site.
Penyuluhan Seni Gamelan Dukuh Kadireso
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4704

Abstract

Berawal dari pelaksanaan KKN, penulis menjumpai dan merintis terbentuknya kelompok gamelan di Dukuh Kadireso. Pada pengabdian ini, penulis berfokus pada kurangnya apresiasi pada warisan budaya dan kembali melakukan penyuluhan dengan metode pembelajaran langsung: teknik tiap ricikan, membaca notasi, dan praktik bersama. Materi yang diberikan diharapkan dapat membantu konsistensi kelompok gamelan ini untuk dapat beraktivitas secara mandiri. Hasil dari pengabdian ini adalah tercapainya penguasaan materi pada Gangsaran dan Lancaran "Ayo Kanca Nabuh Gamelan" serta terbentuknya komunitas diskusi kesenian di Karang Taruna Dukuh Kadireso.The writer is exposed to the community of Kadireso village started from an undergraduate field program, in which the writer met and started a gamelan (traditional Javanese music instrument) group. In this opportunity, the writer focuses in the community’s lack of appreciation for the cultural heritage and reintroduces the gamelan workshop through an intensive teaching sessions: technique in each ricikan (stanza), reading music notes, and communal practices. The material given are hoped to be able to lead them into consistency and to engage in the activity independently. Results of this workshop shows that the group is now able to master the beginner drill of Gangsaran and Lancaran: “Ayo KancaNabuh Gamelan” and is able to solidify the arts discussion community in Kadireso village youth community.
Analisis Strategi Pengembangan Kain Tenun Ikat Sumba oleh Pelaku Kriya dan Komunitas
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i1.5233

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi para perajin dan peran komunitas kain tenun daerah dalam upaya mengembangkan tenun ikat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Perajin adalah sama dengan kriya, kriya sama dengan salah satu subsektor dari 17 ekonomi kreatif. Metode penelitian yang digunakan adalah melalui kuesioner terhadap perajin kain tenun serta pengamatan dari studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan para perajin untuk mengembangkan tenun ikat Sumba dimulai dengan pembekalan keterampilan menjahit menjadi pakaian, peningkatan organisasi pengelolaan, sampai dengan upaya pemasarannya, yang dinilai dapat meningkatkan hasil yang lebih baik serta penggunaan SWOT pada kain tenun Sumba. Untuk menjalankan strateginya dengan baik, para perajin juga harus mendapatkan dukungan dan pembinaan. Melalui komunitas kain tenun, dukungan dan pembinaan dilakukan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan; pemberian bantuan alat produksi; pemberian pinjaman modal; keikutsertaan dalam pameran; perlindungan hak paten; dan peningkatan kecintaan masyarakat terhadap hasil kerajinan dari daerahnya. Hambatan dan tantangan dalam pengembangan tenun ikat yang dihadapi para perajin adalah keterbatasan modal, kesulitan memperoleh bahan baku, dan kesulitan dalam pemasaran.
Penyuluhan Seni Pengembangan Motif dan Warna pada Kelompok Perajin Batik Ibu-Ibu PKK Desa Surojoyo Sukanadi, I Made; Angel, Birgitta
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12519

Abstract

Desa Surojoyo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Candimulyo, KabupatenMagelang yang terkenal luas sebagai surganya durian. Desa Surojoyo tergabung dalam lembaga desatermasuk Pemberdayaan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kegiatan PKK yang dilakukanberupa produksi batik. Namun, teknik dan motif yang dihasilkan relatif harus dikembangkan danditingkatkan kualitasnya. Perlu adanya pengembangan motif yang menjadi ikon berkarakter khasDesa Surojoyo. Produk batik yang dikerjakan oleh ibu-ibu PKK hanya terbatas pada material utamakain mori dengan pewarnaan naptol. Selama ini belum ada pembaharuan teknik pewarnaan sehinggaperlu dikenalkan jenis pewarna lainnya seperti remasol. Penyuluhan ini bertujuan untukmeningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok perajin batik ibu-ibu PKK DesaSurojoyo sehingga mampu memproduksi kerajinan yang bervariasi. Selain itu, penyuluhan ini jugauntuk meningkatkan keterampilan dalam membuat desain produk serta bentuk motif yang khasSurojoyo. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini adalah denganmemberikan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Melalui kegiatan penyuluhan seni yangtelah dilakukan, para peserta mampu mengerjakan beberapa produk batik dan mampu memodifikasibatik menjadi souvenir. Berdasarkan hasil penyuluhan seni ini dipandang perlu perhatian dari instansiterkait untuk dilaksanakan lagi program lanjutan yang lebih intensif dan berkesinambungan. Surojoyo Village, located in Candimulyo District, Magelang Regency, is widely known as a durianparadise. The village is part of the Village Development Institution, including the Family WelfareEducation Empowerment (PKK). One of PKK's activities is batik production. However, the techniquesand motifs applied need to be developed and improved. There is a need to develop motifs that become theicons and characteristic of Surojoyo Village.The batik products made by PKK members are currentlylimited to using plain cotton as the main material and naphthol dyes. So far, there has been noinnovation in dyeing techniques. Therefore, it is highly essential to introduce other types of dyes such asremasol. This training activity e aims to improve the knowledge and skills of batik creators in order toproduce various handicraft products. It also aims to improve their skills in designing products andcreating distinctive Surojoyo motifs. The methods applied by the authors during conducting the trainingwere providing counseling, training, and mentoring. The results indicate that the participants are ableto make several batik products and modify batik into souvenirs. Based on the results, it is considerednecessary for relevant agencies to carry out a more intensive and sustainable follow-up program.
Karawitan di Wilayah Terban, Gondokusuman, Yogyakarta
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i2.5927

Abstract

Kelurahan Terban, Gondokusuman, Yogyakarta selain mempertahankan upacara adat, juga konsisten untuk melestarikan kesenian tradisi Jawa, antara lain seni karawitan,  seni tari, wayang kulit, dan teater/wayang wong. Belajar karawitan tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui proses yang panjang untuk bisa memahami, menguasai teknik, menghayati, kemudian merasakan. Hal ini yang belum dimiliki oleh ibu-ibu grup karawitan “Purba Laras”. Oleh karena itu, ibu-ibu masih berkeinginan untuk memperdalam baik teknik menabuh maupun unggah-ungguh dalam menabuh gamelan. Untuk memperdalam penguasaan teknik menabuh gamelan dan unggah-ungguh dalam penyajian karawitan tersebut, dengan disertai semangat yang tinggi, grup “Purba Laras” bekerja sama dengan LPM Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah ceramah dan demonstrasi. Setelah mengikuti penyuluhan ibu-ibu mengerti unggah-ungguh, etika menabuh, juga konsep-konsep teknik tabuhan gaya Yogyakarta sehingga ikut serta memeriahkan upacara adat Rejeban dan Festival Karawitan.

Page 5 of 10 | Total Record : 96