cover
Contact Name
Monica Lintang
Contact Email
monic5304@students.unnes.ac.id
Phone
+628128154253
Journal Mail Official
monic5304@students.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang City, Central Java 50229
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Pengabdian Seni
ISSN : 27744787     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pengabdian Seni is a journal published by Institute of Research and Community Service, Indonesia Institute of the Art Yogyakarta. Published for the first time in 2020, Jurnal Pengabdian Seni is a journal of community service activities that have never been published both in the form of online and print articles. Jurnal Pengabdian Seni has online and print versions. The publication schedule is twice a year in May and November.
Articles 96 Documents
Kolaborasi Saung Swara dan Tim Produksi Manajemen Seni UKSW dalam Mengembangkan Ekosistem Kebudayaan Kota Salatiga Rachel Mediana Untung; Jeffri Kristianto; Sepnath Yambres Leunupun; Inggrid Anastasia Noya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.15670

Abstract

Tujuan artikel ini untuk memotret Saung Swara, kelompok pertunjukan dari Kota Salatiga yang produktif berkarya dan pendampingan dalam tim produksi. Pendampingan tim produksi dilakukan oleh tim kampus UKSW Salatiga dalam dua proyek, yaitu LitFest dan SaE Festival. Tulisan ini akan mengulas sejarah pembentukan kelompok pertunjukan Saung Swara; proses kreatif Saung Swara dalam menggagas pertunjukan dan upaya Saung Swara dalam berkontribusi dalam membangun ekosistem kebudayaan Kota Salatiga. Untuk mewujudkan tujuan pengabdian tersebut, dilakukan cara dengan observasi umum, observasi berperan serta (participant observation), studi dokumentasi, dan wawancara. Keterlibatan pengabdian kepada masyarakat dalam ranah manajemen seni adalah praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ada empat orang yang diobservasi, yaitu pimpinan dan tiga anggota Saung Swara. Hasil pendampingan manajemen seni menunjukkan bahwa Saung Swara mampu merawat kreativitas bermusik dan pertunjukan di Kota Salatiga; kreativitas Saung Swara tidak terbatas di ranah bunyi musik, namun mampu mengeksplorasi gerakan tubuh dalam media tarian kontemporer; dan Saung Swara memberi kontribusi secara aktif dalam menggagas dan menjadi motor penggerak kegiatan kebudayaan Kota Salatiga. Ketiga hasil tersebut menunjukkan bahwa Saung Swara mampu merawat ekosistem kebudayaan di Kota Salatiga secara dinamis. Pengabdian ini memberi rekomendasi agar tidak hanya kelompok independen seperti Saung Swara yang produktif memberi gagasan kreatif, namun pihak pemerintah dan swasta perlu memiliki gagasan inovatif dan dengan kolaborasi tersebut akan terbangun ekosistem kebudayaan di Kota Salatiga. The aims of the project are to document Saung Swara, a productive performance group from the city of Salatiga, and to examine the assistance provided by the production team. The production team assistance was carried out by the UKSW Salatiga campus team in two projects called LitFest and SaE Festival. This project identifies the history of Saung Swara group’s formation, creative process, and efforts in contributing to building the cultural ecosystem of Salatiga. To achieve these objectives, general observation, participant observation, documentation, and interview were conducted. This community service project involves the process of art management, particularly pre-production, production, and post-production. Four people, including the leader and three members of Saung Swara, were observed. The results indicate that Saung Swara is capable of nurturing musical creativity and performances in Salatiga. Moreover, it is not only limited to the realm of music, but is also capable of exploring body movements in the medium of contemporary dance as well as contributing to initiating and driving cultural activities in Salatiga. Thus, it can be stated that Saung Swara is able to dynamically maintain the cultural ecosystem in Salatiga. A further recommendation of the project is that an independent group such as Saung Swara should not be the only one being productive in providing inspiration.
Pengembangan Kompetensi Pengrajin Mebel melalui Pelatihan Pembuatan Interior Kayu dengan Metode Pull Down System Riza Septriani Dewi; Idan Kurnia Syah Alam
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.17667

Abstract

Artikel ini mengkaji implementasi program penyuluhan seni pengembangan mebel interior pada pengrajin "Wiguna Furniture", di Kelurahan Pendowoharjo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan pengabdian adalah memaparkan metode pull down system dalam meningkatkan kualitas dan produksi mebel yang ramah lansia. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan community-based design meliputi sosialisasi dan workshop/pelatihan. Program penyuluhan diikuti oleh 5 Pengrajin Mebel  Wiguna Furniture sebagai peserta dengan total pertemuan dan pelatihan sebanyak 12 kali dalam jangka waktu 2 bulan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa program penyuluhan berhasil membuat lemari atas dengan metode pull down system. Melalui evaluasi pada akhir pelatihan, Pengrajin Mebel  Wiguna Furniture telah berhasil membuat inovasi produksi mebel mereka seperti lemari atau rak atas.  Pengabdian ini memberikan kontribusi terhadap penguatan model pengembangan mebel lokal berbasis masyarakat yang inovatif, berkelanjutan, dan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi lokal. This article examines the implementation of an interior furniture development art education program for craftsmen at Wiguna Furniture, located in Pendowoharjo Village, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta. The program aims to introduce the pull-down system method to improve furniture quality and produce elderly-friendly designs. Implemented through a community-based design approach, the activities included socialization, workshops, and hands-on training. Five Wiguna Furniture craftsmen participated in a total of 12 sessions over two months. The results showed that the program successfully produced upper cabinets using the pull-down system method. Evaluation results indicated that the craftsmen were able to apply innovative design principles and integrate accessibility into their furniture products, particularly in upper cabinets and shelves. Overall, this community service activity strengthened an innovative, sustainable, and locally oriented model of community-based furniture development, contributing to the empowerment of local craftsmen and promoting inclusive and user-friendly furniture design.
Pelatihan Teknik Stroboskopik untuk Komunitas Fotografi Snaphot Kabupaten Bandung: Mendokumentasikan Tari Tradisi dalam Mengangkat Budaya Lokal Yosa Fiandra; Putu Raka Setya Putra; Yayat Sudaryat
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.15829

Abstract

Teknik pencahayaan stroboskopik dalam fotografi memungkinkan perekaman gerakan berulang kali dalam satu frame sehingga menampilkan ritme serta pola gerakan yang lebih dinamis. Teknik ini sangat berguna untuk mencatat gerakan tarian, terutama tarian tradisional yang memiliki banyak ekspresi, pola, dan ritme gerakan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan setiap individu dari komunitas fotografi dapat menguasai teknik stroboskopik untuk membuat dokumentasi budaya tradisional, terutama seni tari, menjadi lebih baik. Pelatihan ini akan mencakup pengenalan lengkap semua teori dasar pencahayaan strobo fotografi, praktik langsung cara memotret dengan berbagai pengaturan strobo, dan evaluasi dari setiap karya peserta. Empat puluh tiga peserta diajarkan cara menghitung frekuensi dan durasi pencahayaan serta eksposur yang dipergunakan. Selain itu, mereka belajar menyinkronkan teknologi kamera dan flash lighting dengan gerakan penari, untuk dapat menghasilkan gambar yang indah serta representasi pola gerakan yang lebih jelas. Setelah kegiatan ini selesai, para peserta akan lebih memahami dalam cara proses pemotretan dinamika gerakan tari menggunakan metode pencahayaan artificial light  karena metode ini mampu menampilkan karya foto gerakan penari secara jelas dalam 3-5 fase gerakan dalam satu frame. Indikator dari pemahaman ini adalah mampu menghasilkan gambar dengan menggunakan teknik stroboskopik yang dipresentasikan pada saat preview karya. Pelatihan ini sangat penting karena dapat meningkatkan pemahaman setiap peserta tentang fotografi gerak secara teknis fotografi dan pengaplikasian pada saat proses pemotretan. Melalui pelatihan ini peserta meningkatkan keahlian untuk menvisualkan seni tari tradisional melalui medium karya visual fotografi. Teknik fotografi stroboskopik ini dapat menampilkan bentuk visual dua dimensi yang lebih menarik dan bermanfaat untuk mendokumentasikan budaya serta menjaga dan meningkatkan citra seni budaya indonesia. The stroboscopic lighting technique in photography allows for repeated motion recording in a single frame, thus displaying rhythms and more dynamic movement patterns. This technique is highly essential for recording dance movements, especially traditional dances that have a lot of expression, patterns, and rhythms of movements. This activity aims to improve the individual skill of the photography community, particularly developing stroboscopic technique in order to be more capable of capturing dance. This training involved a complete introduction to all the basic theories of photographic strobe lighting, hands-on practice of how to shoot with various strobe settings, and evaluation of each participant's work. Forty-three participants participated in mastering how to calculate the frequency and duration of exposure and synchronize the camera with flash lighting during shooting the dancers' movements. The result indicates that the participants achieve higher understanding of the process of shooting the dynamics of dance movements using the artificial light lighting method, which is able to display the dancer's movement photos clearly in 3-5 movement phases in one frame. The indicator of this understanding is being able to produce images using stroboscopic techniques presented at the time of the preview of the work. This activity is highly essential as it can increase each participant's understanding of motion photography technically and its application during the shooting process. Through this program, participants are able to improve their skills in visualizing traditional dance through photography. This stroboscopic photography technique can display a more attractiv two-dimensional visual form, maintain, and improve the image of Indonesian cultural art.
Penguatan Kompetensi Bernyanyi melalui Pembelajaran Teknik Vokal pada Kelompok Kor PKK Kalurahan Panembahan Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta Dilla Octavia; Hana Permata Heldisari; Klementinus Jackson Raja Leta
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.17611

Abstract

Kelompok Kor PKK Kalurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta adalah komunitas ibu-ibu yang aktif dalam kegiatan seni musik khususnya bernyanyi paduan suara. Sebagian besar peserta memiliki keterampilan vokal dasar, pemahaman ritme, dan pengetahuan tentang melodi; namun, mereka menghadapi masalah dengan teknik vokal seperti pernapasan, artikulasi, resonansi, dan kontrol dinamik. Ada beberapa peserta yang terus menggantungkan suara mereka pada pita vokal atas secara berlebihan, yang mengakibatkan kelelahan vokal dan kehilangan kualitas suara di puncak nada. Kondisi ini menjadi alasan dilakukannya penyuluhan seni untuk memberikan pelatihan teknik vokal dari akademisi, yaitu dosen dan mahasiswa. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam teknik bernyanyi, yang mencakup elemen pernapasan, intonasi, artikulasi, resonansi, dan interpretasi lagu. Pelatihan partisipatif digunakan melalui praktik langsung, pendampingan intensif, dan evaluasi kinerja individu dan kelompok. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan vokal, kepercayaan diri, dan kekompakan kelompok. Dengan harmonisasi yang lebih baik, peserta dapat menampilkan lagu daerah dan nasional, termasuk tampil pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di Kemantren Kraton. Program ini selain meningkatkan kemampuan bernyanyi Kelompok Kor PKK Kalurahan Panembahan, juga meningkatkan partisipasi sosial dan kebersamaan masyarakat. The PKK Group Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta City, is a community of mothers who are active in musical arts activities, particularly in choir singing. Most participants had basic vocal skills, an understanding of rhythm, and knowledge of melody. However, they faced issues with vocal techniques such as breathing, articulation, resonance, and dynamic control. There were some participants who consistently relied excessively on their upper vocal cords, resulting in vocal fatigue and loss of voice quality at the high notes. This condition prompted the organization of art counseling sessions to provide vocal technique training led by academics, including lecturers and students. The purpose of this activity is to improve participants' singing techniques, which include elements of breathing, intonation, articulation, resonance, and song interpretation. Participatory training is used through hands-on practice, intensive mentoring, and individual and group performance evaluation. The results of the activity show a significant improvement in vocal ability, self-confidence, and group cohesion. Better harmonization makes participants perform regional and national songs very well with their prominent performance on August 17th, the Independence Day commemoration at the Kraton District. The result indicates that the program not only increases social participation and community togetherness but also improves the singing abilities of the PKK Group of Panembahan Village.
Penerapan Komik Berbahasa Jawa sebagai Media Pembelajaran Bahasa Jawa di SD Wilayah UPK Sumbang Farida Nuryantiningsih; Wiekandini Dyah Pandanwangi
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.15951

Abstract

Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa sekolah dasar dalam memahami dan menggunakan undha-usuk bahasa Jawa secara tepat melalui media komik berbahasa Jawa. Latar belakang kegiatan adalah rendahnya penguasaan tingkat tutur bahasa Jawa akibat dominasi bahasa Indonesia dan metode pengajaran yang monoton. Kegiatan dilakukan selama dua tahun: tahun pertama difokuskan pada pelatihan guru dan pengembangan komik, sedangkan tahun kedua pada implementasi di kelas dan evaluasi. Pendekatan partisipatif berbasis riset melibatkan guru dalam seluruh proses. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa media komik meningkatkan antusiasme siswa dan memudahkan pemahaman ragam krama lugu dan krama inggil. Guru juga menilai pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Komik yang telah dikembangkan dibukukan sebagai modul pembelajaran dan didistribusikan ke sekolah mitra dan disarankan agar komik bahasa Jawa dijadikan alternatif media pembelajaran bahasa daerah, dan lembaga terkait turut mendukung pelatihan serta pengembangan bahan ajar berbasis kearifan lokal. This community service aims to improve the ability of elementary school students to comprehend and speak Javanese undha-usuk appropriately through Javanese comic media. The background of the activity is the low level of Javanese language mastery due to the dominance of Indonesian and monotonous teaching methods. The activity was carried out in two years. The first year focused on teacher training and comic development and the second year was on classroom implementation and evaluation. The participatory research-based approach involved teachers in every step of the process. The results showed that comic increases student enthusiasm and provides understanding of the various krama lugu and krama inggil - the higher level of Javanese language. Teachers also considered that learning process become more effective and enjoyable. The comics that have been developed are published as learning modules and distributed to participated schools. It is recommended that Javanese comics be utilized as an alternative medium for learning regional languages, and related institutions also support the training and development of teaching materials based on local wisdom. 
Branding Kota dan Tipologi Arsitektur dalam Mengembangkan Wajah Kota Tuban Martino Dwi Nugroho; Ivada Ariyani
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.16754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan identitas arsitektur perkotaan yang mencerminkan karakter khas Kabupaten Tuban sehingga dapat mendukung peningkatan potensi destinasi pariwisata dan mendorong pembangunan ekonomi daerah. Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk menyusun panduan awal dalam penataan ruang dan tampilan kota secara arsitektural agar mampu menjaga serta memperkuat kekhasan visual dan budaya yang dimiliki Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode design thinking. Adapun hasil yang dicapai dalam penelitian adalah desain untuk penanda kota seperti bentuk gapura paduraksa dan bentar yang berciri khas Tuban, bentuk atap pendapa di kantor pemerintahan Kabupaten Tuban, penerapan batik Gedog pada fasad bangunan, landmark Kota Tuban, logo Kota Tuban sebagai penanda di Alun-Alun Kota Tuban, dan street furniture. Unsur-unsur sejarah kota Tuban menjadi pertimbangan dalam pengembangan desain, di antaranya adalah gapura makam Sunan Bonang; arsitektur tradisional Jawa, yaitu atap sirap, yang mengambil unsur dari rumah jaman Majapahit; arsitektur Klenteng, arsitektur kolonial, dan Kuda Ronggolawe. Rekomendasi dari penelitian ini adalah keberlanjutan dari desain yang akan diterapkan di seluruh wilayah Kabupaten Tuban, dari tingkat kelurahan hingga ke kabupaten/Kota. This activity aims to formulate an urban architectural identity that reflects the distinctive character of Tuban Regency in order to support the development of both potential tourism destinations and regional economy. It is also intended to compile initial guidelines in spatial planning and architectural appearance of the city to preserve and strengthen the visual and cultural uniqueness of Tuban. The authors implemented the Design Thinking method. The activity results the designs for city icons such as the shape of the Paduraksa and Bentar gates, the shape of the pendapa roof in Tuban Regency government office, the application of Gedog batik on building facades, the landmarks, the Tuban City Logo at the town square, and the street furniture. The historical elements of Tuban are incorporated in the design, including the gate of Sunan Bonang's tomb, traditional Javanese architecture, particularly shingle roofs derived from Majapahit era’s houses, Klenteng architecture, and Colonial Architecture. The recommendation from this program is the sustainability of the design that will be implemented throughout Tuban Regency, from the sub-district level to the district/city level.This study aims to formulate an urban architectural identity that reflects the distinctive character of Tuban Regency, so that it can support the increase in potential tourism destinations and encourage regional economic development. In addition, this study is also intended to compile initial guidelines in spatial planning and architectural appearance of the city in order to maintain and strengthen the visual and cultural uniqueness of Tuban Regency. The method used in this study is the Design Thinking method. The results achieved in the study are designs for city markers such as the shape of the paduraksa and bentar gates that are characteristic of Tuban, the shape of the pendapa roof in the Tuban Regency government office, the application of Gedog batik on building facades, Tuban City landmarks, the Tuban City Logo as a marker in the Tuban city square, and street furniture. The historical elements of Tuban city are considered in the development of the design, including the gate of Sunan Bonang's tomb, traditional Javanese architecture, namely shingle roofs that take elements from Majapahit era houses, Klenteng architecture, and Colonial Architecture. The recommendation from this research is the sustainability of the design that will be implemented throughout Tuban Regency, from the sub-district level to the district/city level.

Page 10 of 10 | Total Record : 96