cover
Contact Name
Monica Lintang
Contact Email
monic5304@students.unnes.ac.id
Phone
+628128154253
Journal Mail Official
monic5304@students.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang City, Central Java 50229
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Pengabdian Seni
ISSN : 27744787     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pengabdian Seni is a journal published by Institute of Research and Community Service, Indonesia Institute of the Art Yogyakarta. Published for the first time in 2020, Jurnal Pengabdian Seni is a journal of community service activities that have never been published both in the form of online and print articles. Jurnal Pengabdian Seni has online and print versions. The publication schedule is twice a year in May and November.
Articles 96 Documents
Pengaplikasian Fotografi dan Bahasa Inggris Praktis untuk Warga “Kampung Cyber”, RT 36, Taman, Yogyakarta Ermawati, Pitri; Arsita, Adya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4710

Abstract

RT 036, Taman  merupakan sebuah kampoung yang letaknya bersebelahan dengan objek wisata Taman Sari Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Warga kampung ini banyak yang memiliki usaha dagang produk yang bersinergi dengan pariwisata lokal. Mereka menjual barang dagangan tersebut di ruang pajang rumah masing-masing atau melalui media jualan online. Penyuluhan ini bermaksud memberikan pengetahuan fotografi praktis, khususnya pemotretan foto produk tanpa perlu menggunakan piranti fotografi yang canggih dan lengkap, guna meningkatkan kualitas foto produk yang mereka jual di media jualan online. Selain itu, penyuluhan ini juga bermaksud memberikan pengetahuan bahasa Inggris praktis, khususnya yang berkenaan dengan komunikasi warga selaku tour guide dan deskripsi profil usaha serta produk jualan online yang singkat, padat, jelas, dan efektif agar calon konsumen mancanegara mendapatkan panduan informasi tentang produk yang ditawarkan. Penyuluhan dilakukan di kantor Sekretariat RT 036 Taman melalui tatap muka pada 7 April 2017 sampai dengan 6 Mei 2017, yang dimulai dengan pengantar, dilanjutkan dengan presentasi teori, pelaksanaan praktik, dan diakhiri dengan pembahasan hasil. Setelah diberi penyuluhan, peserta memahami bahwa kamera handphone memiliki kemampuan lebih yang dapat menghasilkan foto dengan kualitas lebih baik. Dipadukan dengan peralatan studio mini sederhana, foto produk mereka pun menjadi lebih layak untuk ditampilkan. Selain itu, peserta pun mulai mengerti bahwa untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris, kosa kata-lah yang memegang peranan lebih penting. Dengan demikian, peserta kemudian merasa lebih percaya diri dalam berlatih bahasa Inggris, karena bagi mereka lebih mudah untuk mempelajari dan menghafalkan kosa kata, dibandingkan harus mempelajari grammar. AbstractRT 036, Taman is a kampong located directly aside from Taman Sari Yogyakarta, an international tourist spot. The kampong residents trade in products correlates with local tourism. They sell their merchandises in their own display houses or through online shops. This workshop is meant to give a practical photography knowledge, specializing in product photo without the need to use high tech and complex photography equipment, to improve the quality of the photo products they displayed in online shops. On the other hand, this workshop also aims to give practical English education, more importantly with things related for tour guide conversation needs and to give concise yet clear and effective product description at online shops so that prospective international buyers get the neccessary information from the offered products. This workshop is done on site in RT 036 Secretary office at April 7 to May 6, 2017, that began with an introduction, theory presentation, practice, and ended with results discussion. After workshop, participants understand that phone camera is sufficient to generate a good quality photo. Combined with simple mini studio equipment, their photo product looks more professional to be presented. Not only that, participants are also able to communicate in simple English, with the vocabularies playing the biggest factor. Thus, participants are more confident in practicing their English skill as it is easier for them to memorize vocabulary than to study grammar.
Pelatihan Penggunaan Perangkat lunak CorelDRAW di MGMP Seni Budaya Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i2.8180

Abstract

Perkembangan karakter peserta didik dalam hal kemampuan dan penguasaan teknologi informasi menyebabkan munculnya kebutuhan baru yang harus dipenuhi oleh pendidik untuk menyamakan pola komunikasi dalam proses belajar mengajar. Pola komunikasi terutama pada aspek media pembelajaran yang perlu penyesuaian dalam hal konten dan cara penyampaian sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Tujuan dari pembinaan pelatihan CorelDRAW adalah mendorong para pendidik yang tergabung dalam MGMP Seni Budaya Jawa Tengah untuk menguasai teknis penggunaan perangkat lunak CorelDRAW. Luaran dari penguasaan perangkat lunak tersebut adalah pendidik mampu merancang dan memvisualkan materi-materi bahan ajar yang sebelumnya berupa verbal dan teks saja ke dalam bentuk visual sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Pembinaan dan pelatihan menggunakan metode pelatihan tatap muka secara langsung menggunakan metode gabungan, yakni ceramah, demonstrasi cara, demonstrasi hasil, dan diskusi dengan pendampingan secara instruksional dan dilengkapi dengan media tutorial dalam bentuk buku digital dan video latihan. Setelah memenuhi durasi pelatihan selama 12 pertemuan, peserta pelatihan dapat menguasai pengoperasian perangkat lunak dan mampu mengolah cipta media pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Dengan terpenuhinya materi tingkat dasar diperlukan pelatihan lanjutan sebagai pendalaman pengetahuan penggunaan dan operasional feature dan fasilitas CorelDRAW tingkat menengah.
Pelatihan Karawitan dan Tari di Sekolah Dasar Negeri Mlese, Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah Nurvijayanto, Ribeth; Apriyani, Winarsi Lies
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i2.14097

Abstract

Program pelatihan karawitan dan tari di Sekolah Dasar Negeri Mlese, Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah memberikan materi tentang teknik tabuhan, vokal, dan sikap menari dalam konteks tradisi Jawa. Proses pelatihan dilakukan selama kurang lebih satu bulan dengan menggunakan metode ceramah, demonstrasi, imitatif, dan tabuh bersama. Luaran kegiatan pelatihan ini membuat karya kolaborasi antara karawitan dan tari yang disajikan dalam pertunjukan tari Gugur Gunung. Pelatihan ini bertujuan memberikan ruang untuk mengekspresikan diri, melatih kepekaan kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui olah wiraga, wirama, dan wirasa yang bermanfaat  dalam proses belajar di sekolah. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menambah perbendaharaan materi karawitan dan tari di SDN Mlese, membangun kreativitas, kecerdasan kognitif, dan emosi, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti bagi siswa-siswi. Kegiatan pelatihan ini menjadi tawaran bagi pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat umum sebagai media untuk mengatasi permasalahan-permasalahan sosial yang muncul di masyarakat. Selain itu, pelatihan ini sebagai upaya preservasi dan transmisi budaya lintas generasi, meningkatkan minat siswa-siswi terhadap seni dan budaya khususnya karawitan dan tari tradisional Jawa. The karawitan and dance training program at  Mlese Gantiwarno State Elementary School, Klaten, Central Java provides material on instrument techniques, vocals, and Javanese dance techniques. The training process was carried out for approximately one month through lecturing, demonstration, imitative and music play together methods. The output of this training activity was a collaborative work between accompaniment and dance which was presented in the Gugur Gunung dance performance. This training aims to provide space to express oneself, train cognitive, affective and psychomotor sensitivity in the context of Javanese dance philosophy called wiraga, wirama and wirasa. The results of this community service are increasing the repertoire of musical and dance material at SDN Mlese, building creativity, cognitive and emotional intelligence, as well as instilling human values and manners in students. This training activity serves as a medium for the government, related agencies and the general public to overcome social problems that arise in society. Apart from that, this training is an effort to preserve and transmit across generations, increasing students' interest in art and culture, especially musical and traditional Javanese dance.
Pelatihan Iringan dan Teknik Garap Gejog Lesung pada Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang”
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4701

Abstract

Gejog Lesung “Kumandhang” merupakan kelompok kesenian di masyarakat padukuhan Karanganom I– Ngawis–Karangmojo–Gunungkidul, yakni merupakan masyarakat yang percaya bahwa kesenian yang dimilikinya yakni Gejog Lesung tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang mereka yang selalu difungsikan setiap upacara ulang tahun Desa maupun Rasulan. Namun, belum tersedianya instruktur profesional sesuai kompetensinya dalam kesenian Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang” sehingga gerak penyanyinya, iringan, maupun teknik garap penyajian terlihat sekedarnya sehingga perlu mendapat sentuhan akademisi untuk menggarap Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang”, agar tidak monoton dan terkesan membosankan. Penyuluhan dilakukan pada 11 Maret sampai dengan 21 Agustus 2020. Peserta penyuluhan Seni Gejoglesung “Kumandhang” berjumlah 20 (duapuluh) orang peserta. Materi penyuluhan berupa modifikasi motif pukulan dan teknik garap Gejog Lesung dengan lagu Kuwi Apa Kuwi, Suwe Ora Jamu, dan Swara Suling dengan metode ceramah, demonstrasi, dan latihan. Hasil penyuluhan adalah peserta paham bagian-bagian dalam sajian motif pukulan untuk Introduksi, Interlude dan Coda pada sebuah lagu, mengerti pentingnya aransemen dalam sebuah lagu, mengenal dinamika dan permainan tempo dalam garap pada sebuah ansambel Selain itu, pementasan jauh lebih hidup dan dinamis terutama lagu-lagu yang disajikan telah diaransemen, karena adanya tekhnik penggarapan dalam beberapa komposisi lagu sehingga tidak monoton dan membosankan. Pemahaman pentingnya manajemen terbuka dalam sebuah kelompok juga didapatkan dari penyuluhan ini. Gejog Lesung "Kumandhang" is an art group in the Karanganom I Ngawis Karangmojo Gunungkidul community, namely people who believe that the art they have, namely Gejog Lesung, has existed since the time of their ancestors, which has always been used every Village and Rasulan birthday ceremony. However, the unavailability of professional instructors according to their competence in the art of the Gejog Lesung Art Group "Kumandhang" so that the movements of the singers, accompaniments, and presentation techniques look modest, so it is necessary to get a touch from academics to work on the Gejog Lesung Art Group "Kumandhang", so as not to be monotonous and seem boring. The counseling was held on March 11 to August 21, 2020. There were 20 (twenty) participants of the "Kumandhang" Gejoglesung art extension. The counseling material was in the form of modification of the punch motif and the technique of working on Gejog Lesung with the songs Kuwi Apa Kuwi, Suwe Ora Jamu, and Swara Suling using lecture, demonstration, and exercise methods. The result of the counseling is that the participants understand the parts of the punch motive presentation for the Introductions, Interlude and Coda in a song, understood the importance of arrangements in a song, recognized the dynamics and tempo play in working on an ensemble. , the performance is much more lively and dynamic, especially the songs presented have been arranged, because of the cultivation techniques in several song compositions so that they are not monotonous and boring. An understanding of the importance of open management in a group was also obtained from this counseling.
Pelatihan Pengolahan Limbah Jerami Menjadi Kertas Seni Di Desa Sidowayah, Klaten
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i1.6042

Abstract

Desa Sidowayah merupakan desa dengan masyarakat bermata percaharian sebagai petani sehingga sangat mudah ditemukan jerami di area tersebut. Bahkan, tidak sedikit pula jerami yang pada akhirnya menjadi limbah. Pelatihan pengolahan limbah jerami menjadi barang pakai berwujud kertas seni merupakan salah satu solusi untuk menambah nilai guna limbah jerami. Kegiatan pembuatan kertas seni juga dapat menjadi altaernatif warga setempat untuk menciptakan peluang usaha yang baru dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian. Kegiatan pelatihan berlangsung selama empat hari, dengan menerapkan metode Analysis-Design-Develop- Implement-Evaluate (ADDIE), dari persiapan alat dan bahan, pemberian pengarahan dan pengetahuan tentang proses pengolahan kertas seni, praktik dengan arahan, dan praktik secara mandiri, hingga evaluasi. Peserta yang sudah mendapatkan keahlian dalam mengolah limbah jerami menjadi kertas seni diharapkan mampu mengembangkan hingga dapat membawa manfaat bagi diri sendiri dan juga masyarakat sekitar terutama Desa Sidowayah.
Pelatihan Kelompok Jathilan di Desa Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta Irawati, Eli; Astini, Ni Kadek Rai Dewi
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12670

Abstract

Pelatihan kelompok jathilan di Desa Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta merupakan upaya untukmentransfer keterampilan dalam komposisi musik dan koreografi tari kepada kelompok Jathilan yang sedangdibina. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas berbagai elemen seperti variasi musikpengiring, tata rias, pola lantai, dan kostum, dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan kreativitasseniman lokal. Kelompok jathilan yang sedang dibina antara lain Kelompok Jathilan Taruno Mudo di DesaKepuhan dan Kelompok Jathilan Sindu Kidul di Desa Sindu Kidul. Kegiatan ini mencakup pengembangangending atau lagu, pola tabuhan, pola lantai, gerak tari, tata rias, dan kostum. Pendekatan yang digunakandalam pelaksanaan kegiatan ini meliputi pendekatan personal seperti demonstrasi, ceramah, latihan, danpengembangan. Hasil dari kegiatan ini termasuk pembuatan komposisi iringan musik dan pola lantai tarian,serta penataan tari dan rias busana. Training for Jathilan groups in Argorejo Village, Sedayu Subdistrict, Bantul Regency, Yogyakarta,aims to effective;y impart music composition and dance choreography skills to this group. This activity isemphasized in improving the quality of musical accompaniment, floor patterns, make-up, and costumesin order to enhance their performances. It is also automatically in line with the improvement of productivityand creativity of local artists in the future. The targeted groups of the training were Jathilan TarunoMudo Group in Kepuhan Village and Jathilan Sindu Kidul Group in Sindu Kidul Village. Theactivities involved enhancing musical compositions, drum patterns, floor designs, dance techniques,make-up, and costumes. The authors applied personal approach methods such as demonstrations,lectures, training sessions, and skill development. The outcomes of this program are the development ofmusical compositions for accompaniment, refinement of dance floor patterns, choreography creation,and redesignation of costumes and make-up.
Pembinaan Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Desa Rambeanak
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i2.5924

Abstract

Terdapat lima kelompok di Desa Rambeanak, yaitu kelompok kesenian Satrio Gedruk Walijo, kelompok Hadroh, kelompok Srodut Sanggar Bina Muda, Alkaloid Farm, dan Karang Taruna. Sayangnya, belum ada pelatih di tiap kelompok yang mengakibatkan kurang efektifnya kegiatan yang dilaksanakan di tiap kelompok. Pembinaan seni ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah dan praktik. Kegiatan P3 Wilsen di Desa Rambeanak menghasilkan karya-karya baru baik tari, karawitan, serta batik dan kaos ciri khas Rambeanak. Diharapkan dengan karya-karya tari, karawitan, batik, dan sablon ini bisa dijadikan materi masing-masing sanggar untuk kegiatan berkesenian khususnya di daerah Kabupaten Magelang agar bisa menambah pendapatan secara ekonomi bagi masing-masing peserta kegiatan.
Wayang Beber ‘Ki Remeng Mangunjaya’ of Gelaran Village Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta
Jurnal Pengabdian Seni Vol 4, No 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v4i2.10908

Abstract

This community service is a real effort to preserve and develop Javanese cultural heritage called Wayang Beber. Wayang Beber is a kind of Javanese puppet which is less popular in society. Therefore, it ugently needs preservation and development program to keep it away from extinction. However, this intention might be obstructed by a belief strongly hold by the community that Wayang Beber is a sacred object which cannot be performed publicly. Another problem is that the stories are limited due to the limited number of existing Wayang Beber. Instead of its very long being (since 1283), the presence of Wayang Beber is barely known by people, especially the young generation as it is barely performed. This phenomenon is influenced by the custom in which only the descendants of the original owner are allowed to play it. Regarding of this issue, the authors conducted a community service program to raise awareness among Gelaran villagers that they can develop Wayang Beber existed in their village to become a ‘saleable’ cultural asset. The method applied was duplicating Wayang Beber Wonosari and designing visual communication contents to spread information to wider audiences. Wayang Beberadalah salah satu jenis wayang yang merupakan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang perlu untuk dilestarikan. Wayang Beberberbentuk gulungan kertas bergambar yang dibentangkan ke hadapan penonton ketika dipagelarkan. Pengabdian ini bertujuan untuk membuat duplikasi dua gulungan Wayang BeberWonosari lakon Jaka Tarub serta desain untuk konten media sosial sebagai sarana publikasi Wayang Beber. Metode design thinking digunakan untuk mendeskripsikan tahapan-tahapan dalam pembuatan duplikat dan desain konten media sosial yang dimulai dengan tahapan pencarian data sampai pada proses karya akhir. Pembuatan duplikat Wayang BeberWonosari lakon Jaka Tarub  yang nantinya digunakan dalam pagelaran merupakan upaya untuk mengurangi risiko kerusakan lebih parah lagi pada Wayang Beberyang asli. Di samping itu, juga sebagai lakon pendamping dari Wayang BeberRemeng Mangunjaya yang selama ini telah dipentaskan. Melalui program pengabdian kepada masyarakat berupa penciptaan duplikat Wayang BeberWonosari lakon Jaka Tarub ini, pagelaran Wayang BeberWonosari masih bisa tetap bisa dilestarikan. Selain itu, informasi yang berkaitan dengan Wayang Beberbisa disampaikan kepada masyarakat melalui konten media sosial yang telah dibuat.
Pelatihan Tari untuk Remaja Putri Reog Kaloka di Suru, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i1.5734

Abstract

Reog Kaloka merupakan sebuah kelompok seni (paguyuban) rakyat dari Suru, Kemadang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat populer dengan tari Reognya di Gunungkidul pada era 2010-2014. Setelah paguyuban ini mempelajari tari kreasi baru yang berasal dari Sleman, yakni tari Gedruk yang energik; tari Reog menjadi tersingkirkan. Hanya tinggal anak-anak kecil yang berminat menarikannya, itu pun terbatas dalam acara tertentu seperti bersih desa. Hal ini sangat disayangkan, hingga timbullah inisiasi mengadakan penyuluhan ini. Penyuluhan ini bertujuan untuk melatih teknik gerak tari gaya Yogyakarta agar para peserta menguasai gerak alusan seperti  halnya dalam tari Reog. Diharapkan, belajar tari dasar ini akan memberikan fondasi yang kuat khususnya kepada penari perempuan, mengingat Reog lebih dominan dibawakan oleh perempuan sebagaimana Reog Kaloka dulu pada masa jayanya. Penyuluhan ini dilaksanakan pada 23 Maret hingga 27 April 2021. Metode yang diterapkan meliputi pelatihan praktik tari dengan penjelasan awal yang singkat, kemudian demonstrasi, dilanjutkan dengan peserta mengikuti gerak yang dilakukan oleh pelatih secara langsung terutama gerak tangan, kepala, dan kaki secara parsial. Tahap  selanjutnya, peserta  mengikuti  gerakan  pelatih  saat menari secara keseluruhan dengan hitungan, kemudian diteruskan dengan musik tarinya. Hasil yang didapatkan adalah kemampuan anak dan remaja putri dalam menari Jawa gaya Yogyakarta meskipun belum dalam taraf sempurna; dengan pementasan tari Nawung Sekar di Pendhapa Pantai Kukup, Gunungkidul.
Upaya Peningkatan Bernyanyi Paduan Suara untuk Remaja Gereja HKBP Taman Deli dalam Kegiatan Praktik Lapang Tematik
Jurnal Pengabdian Seni Vol 4, No 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v4i1.9409

Abstract

 Dalam kegiatan Praktik Lapang Tematik (PLT),  mahasiswa  Program Studi Seni Musik  melakukan   pelatihan paduan suara  untuk  remaja  Gereja HKBP Taman Deli, Medan Labuhan. Di Gereja HKBP Taman Deli anak remaja sangat berminat belajar bernyanyi dalam bentuk paduan suara. Permasalahan yang dihadapi pihak gereja/mitra adalah  anak remaja belum mampu membaca notasi dengan baik dan bernyanyi dengan benar. Oleh karena itu, anak remaja diberi pembelajaran teori dasar  musik dan  belajar lagu  “Ku Berbahagia” dalam bentuk paduan suara. Metode yang digunakan oleh tim pelatih metode pelatihan dan pendampingan. Dalam hal belajar bernyanyi, pengajar mempraktikkan langsung lagu “Ku Berbahagia” dengan menggunakan fasilitas yang ada di lingkungan Gereja HKBP Taman Deli seperti piano dan keyboard. Hasil pengajaran teori dasar musik telah meningkatkan pengetahuan  anak  remaja membaca not angka dan not balok,  membaca ritem dan melodi  lagu “Ku Berbahagia”, dan menampilkan lagu tersebut dalam perayaan Natal Gereja HKBP Taman Deli. In this Thematic Field Practice activities, students from the Music Arts Study Program conducted choir training for youth at the HKBP Taman Deli Church, Medan Labuhan. At Taman Deli HKBP Church, teenagers are very interested in learning to sing in the form of a choir. The problem faced by the church/partners is that teenagers are not yet able to read notation and sing properly. Therefore, teenagers were given basic music theory lessons and learned the song "Ku Berbahagia" in the form of a choir. The results  of the authors’ basic music teaching theory are the increasing of young singers’ abilities in reading numbers and musical notes, the ability to read the rhythm and melody of the song "Ku Berbahagia", and the performance of the choir in HKBP Taman Deli Church Christmas celebration.

Page 8 of 10 | Total Record : 96