cover
Contact Name
Muslim Nugraha
Contact Email
muslimnugraha@fh.unsri.ac.id
Phone
+6281278089359
Journal Mail Official
sjpl@fh.unsri.ac.id
Editorial Address
Jl. Srijaya Negara, Bukit Besar, Kec. Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Sriwijaya Journal of Private Law
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 30632544     EISSN : 30632536     DOI : -
Core Subject : Social,
Sriwijaya Jounal of Private Law (SJPL) is a journal in the field of law that publishes articles with the theme of Private Law including Commercial Law, Person dan Family Law, Marriage Law, Inheritance Law, Property Law, Obligations Law, Proof and Expiration Law, Company Law, Industrial Relations Law, Bankruptcy and Suspension of Payment Law, Investment Law, Banking Law, Financial Institutions Law, Warranty Law, Negotiable Instruments Law, Insurance Law, Consumer Protection Law, Intellectual Property Law, Antitrust Law, Capital Market Law, Cooperative Law, Transportation Law, Health Law, Customary Law, Islamic Economy Law, Islamic Family Law, International Private Law, International Commercial Law, Private Dispute Resolution Law, Trade Dispute Resolution Law, Industrial Relations Dispute Resolution Law and various other aspects related to Private Law.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 28 Documents
AKIBAT HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15/PUU-XII/2014 MENGENAI PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Al Akbar, Alifyah Candra; Arsyi Mawarid, Muhammad Luthfan
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.1 : April 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i1.4809

Abstract

Arbitration is one of Alternative Dispute Resolution. Arbitration itself serves as a dispute resolution method, particularly for business actors within the corporate sphere. Not infrequently, the efforts to resolve such disputes lead to results that are not accepted by the petitioners, which then triggers follow-up actions. These actions culminate in a mechanism known as the annulment of the arbitration award. This thesis analyzes the legal consequences of the Constitutional Court Decision Number 15/PUU-XII/2014 on Article 70 of Law Number 30 of 1999, as well as the legal considerations of the Constitutional Court judges in Decision Number 15/PUU-XII/2014 concerning Article 70 of Law Number 30 of 1999. The research method used in this study is normative legal research, employing both legislative and case approaches. The result of this research shows that the legal consequence of the Constitutional Court Decision Number 15/PUU-XII/2014 on Article 70 of Law Number 30 of 1999 is the increased discretion of judges in deciding on the annulment of arbitration awards in court. Furthermore, the Constitutional Court judges in the ruling of MK Decision Number 15/PUU-XII/2014 declared that Article 70 is in conflict with the 1945 Constitution and has no binding legal force.
ASAS ITIKAD BAIK DALAM MEMORANDUM OF UNDERSTANDING: TINJAUAN TERHADAP HUKUM PERJANJIAN DI INDONESIA Prima, Muzdalifah Karsa; Sulistyaningrum, Helena Primadianti
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.1 : April 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i1.4814

Abstract

This research aims to provide in-depth insight into the role of the principle of good faith in Memorandums of Understanding (MoU) in Indonesia and how this principle supports fair and sustainable relations between the parties. The principle of good faith is the legal principle that underlies the formation, implementation and cancellation of agreements, including MoUs. In the context of the MoU, the principle of good faith provides an ethical and legal basis that must be adhered to by the parties involved. This research explains how the principle of good faith influences the process of forming an MoU by emphasizing the importance of transparency, good intentions and mutual understanding between the parties. Apart from that, the principle of good faith also plays an important role in ensuring parties comply with their commitments in accordance with the objectives of the agreement. Within the framework of contract law in Indonesia, this study explains the relevance of the principle of good faith to applicable regulations. Thus, this journal provides an understanding of contract law in Indonesia and the principles underlying it.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KASUS CERAI GUGAT DI INDONESIA Angeli Hawa Rani; Frengky Fernando; Mochamad Bachrudin; Yevvi Nevelya Herwin
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.2 : Oktober 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i2.3369

Abstract

Beberapa tahun belakangan ini perceraian menjadi istilah yang sangat populer di telinga masyarakat, hal ini karena angka perceraian semakin hari terusbertambah. Tidak kurang dari lima orang setiap harinya berubah statusnyamenjadi janda/duda. Rata-rata perceraian didominasi oleh cerai gugat. Hal ini menarik perhatian untuk diteliti. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data berdasarkan studi literatur dan wawancara mendalam pada istri yang melakukan gugat cerai. Hasil studi literatur tentang perceraian di Indonesia terlihat bahwa penyebab perceraian antara lain faktor ekonomi, faktor komunikasi yang buruk, faktor adanya orang ketiga atau perselingkuhan,  serta faktor sosial dan budaya. Dari hasil wawancara menunjukan bahwa pentingnya pendidikan pra-nikah, bukan hanya sebatas formalitas proses untuk melaksanakan pernikahan serta rata-rata pasangan yang sudah bercerai mengakui bahwa minimnya kesadaran terhadap makna pernikahan.Kata Kunci : Perceraian, cerai-gugat, fenomena, refleksi In recent years, divorce has become a very popular term in the public's ears, this is because the divorce rate continues to increase day by day. No less than five people every day change their status to become widows/widowers. On average, divorce is dominated by contested divorce. This is interesting to research. The research method uses descriptive qualitative. Data collection techniques are based on literature studies and in-depth interviews with wives who are suing for divorce. The results of a literature study on divorce in Indonesia show that the causes of divorce include economic factors, poor communication factors, the presence of a third person or infidelity, as well as social and cultural factors. The results of the interviews show that the importance of pre-marital education is not just limited to the formality of the process of carrying out a marriage and the average divorced couple admits that there is a lack of awareness of the meaning of marriage.Keywords : Divorce, divorce, phenomenon, reflection
PEMBATALAN EKSEKUSI OBJEK HAK TANGGUNGAN ATAS PERLAWANAN PIHAK KETIGA TEREKSEKUSI (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 22/PDT.BTH/2023/PN TLK) Irena Keisha Anakampun; Annisa Faiz Hayyunida; Lidya Zahrania Badahda; Ika Agustin Kurniawati; Khansa Khairunnisa
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.2 : Oktober 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i2.4871

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika hukum dalam pelaksanaan eksekusi Hak Tanggungan atas tanah di Indonesia, dengan fokus pada pembatalan lelang sebagaimana diputuskan dalam Putusan Nomor 22/Pdt.Bth/2023/PN Teluk Kuantan. Kasus ini berakar pada sengketa kepemilikan tanah di Desa Beringin Jaya, di mana pihak ketiga, Jamaluddin, mengajukan perlawanan atas lelang tanah yang dijadikan agunan oleh Wawan Pujianto selaku pemilik sertifikat dan pemberi Hak Tanggungan. Meskipun sertifikat tanah dan Hak Tanggungan memberikan kepastian hukum formal serta hak eksekusi langsung bagi kreditur, pengadilan membatalkan lelang setelah mempertimbangkan bukti penguasaan fisik dan itikad baik Jamaluddin yang lebih dahulu menguasai tanah tersebut. Putusan ini menyoroti ketegangan antara kepastian hukum formal bagi kreditur dan perlindungan hak pihak ketiga beritikad baik yang belum terdaftar secara resmi. Pembatalan Hak Tanggungan dan lelang menyebabkan kreditur kehilangan status preferen dan tanah dikembalikan kepada pemilik semula. Penelitian ini menekankan pentingnya verifikasi dan kehati-hatian kreditur serta mengungkap tantangan integrasi antara pendaftaran tanah formal dengan penguasaan fisik di Indonesia. Dengan pendekatan yuridis normatif dan studi kasus, penelitian ini bertujuan memberikan solusi rekonsiliatif bagi kepentingan kreditur, debitur, dan pihak ketiga dalam sistem hukum jaminan yang adil dan memberikan kepastian hukum.
PERAN HAKIM DALAM MENJAMIN KESEIMBANGAN HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM PROSES PERSIDANGAN PERDATA Sherenika Putri
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.2 : Oktober 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i2.5255

Abstract

Hakim, sebagai pejabat peradilan, berwenang mengadili perkara dengan penuh independensi sesuai dengan asas-asas kekuasaan kehakiman. Dalam hukum acara perdata, hakim diatur untuk bertindak pasif maupun aktif sesuai dengan asas-asas hukum yang berlaku, dengan tanggung jawab untuk menjaga objektivitas dan keadilan. Selain itu, hakim memainkan peran krusial dalam upaya perdamaian dan mediasi, yang memungkinkan penyelesaian sengketa yang saling menguntungkan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis landasan hukum kekuasaan kehakiman dan independensi peradilan, asas-asas hakim pasif dan aktif, serta peran hakim dalam mediasi dan perdamaian perdata. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui tinjauan pustaka peraturan perundang-undangan, literatur hukum, dan dokumen Mahkamah Agung. Hasil analisis menunjukkan bahwa hakim dituntut untuk bertindak netral, menerima setiap perkara, memfasilitasi perdamaian, dan menegakkan asas keadilan secara imparsial, seraya menyesuaikan perannya dengan konteks perkara yang sedang dihadapi. Peran aktif hakim dalam memandu proses pembuktian dan mediasi bukanlah pelanggaran asas pasif, melainkan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian hukum dan keadilan materiil. Pasal ini menekankan pentingnya penerapan asas hukum yang fleksibel, objektif, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan agar proses peradilan perdata mencerminkan asas keadilan dan manfaat bagi masyarakat.
CYBERTURFING AND GLOBAL LEGAL FRAMEWORKS: COMPARATIVE ANALYSIS OF REGULATORY RESPONSES P.C.Abirami Chandrasekeran; Dr.Ishita chatterjee
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.2 : Oktober 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i2.5113

Abstract

Cyberturfing, a form of deceptive practice that involves the manipulation of public perception by means of systematic disinformation campaigns, has become an international problem. It compromises democratic institutions, distorts market competition, and undermines public trust in digital communication. This study offers an integrated analysis of cyberturfing by discussing its development, central methodologies, and socio-political implications. Utilizing a comparative law perspective, it examines how various jurisdictions across the globe, such as the United States, European Union, and some Asian jurisdictions, have enacted, regulated, or reacted to cyberturfing by way of judicial precedent. It places special emphasis on the enforcement challenge, limits of jurisdiction, and technology's twofold enabling/frustration effect. Additionally, it reflects on how consumer rights, freedom of expression, and cybercrime legislation play roles in crafting regulatory interventions. On that basis, the paper makes recommendations for a harmonious international order where the effectiveness of regulation is matched with safeguarding digital rights. The study adds to existing literature on digital governance and provides policy directions to regulators, legal academics, and tech interests interested in mitigating the ubiquitous scope of cyberturfing.
PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH BANK DIGITAL TERHADAP BUNGA YANG MELEBIHI TINGKAT PENJAMINAN LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN Yunita Yunita; Ika Dewi Sartika Saimima; Diantara Purnama; Annisa Tassia Hutagalung
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.2 : Oktober 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i2.5118

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah fenomena kemunculan bank digital yang menawarkan bunga simpanan melebihi tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan sehingga perlu dianalisis bagaimana perkembangan dan penyelenggaraan bank digital serta bagaimana perlindungan hukum atas simpanan nasabah tersebut apabila bank digital mengalami likuidasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan bank digital di Indonesia diatur melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum. Perlindungan hukum terhadap nasabah dilakukan secara preventif, yakni melalui edukasi, keterbukaan, perlakuan adil, dan perlindungan terhadap privasi dan data konsumen, serta perlindungan secara represif dilakukan melalui penanganan atas pengaduan, penyelesaian sengketa, dan penegakan kepatuhan berbasis tanggung jawab. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, pendekatan ini dijadikan kerangka hukum untuk menjamin hak nasabah bank digital, sekaligus memperkuat stabilitas dan akuntabilitas sistem keuangan nasional.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU USAHA ATAS WANPRESTASI YANG MERUGIKAN KONSUMEN DALAM E-COMMERCE Yanuar Syam Putra; Febrimarani Malinda; Sundari
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 3, No.1 : April 2026
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v3i1.6133

Abstract

Kemajuan teknologi telah mengembangkan e-commerce di Indonesia, sehingga mengkaitkan kompleksitas hubungan hukum antara pelaku usaha dengan konsumen, terutama hal wanprestasi yang merugikan konsumen. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk pertanggungjawaban pidana pelaku usaha atas wanprestasi dalam transaksi e-commerce serta kendala penegakannya berdasarkan hukum positif Indonesia. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Data juga diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, KUHP, UU ITE, dan Peraturan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanprestasi dalam e-commerce pada dasarnya merupakan ranah perdata. Namun, apabila wanprestasi tersebut disertai unsur penipuan, pengelabuan, atau pelanggaran standar mutu dan keamanan barang/ jasa, maka pelaku usaha dapat dikenai pertanggungjawaban pidana. Dasar hukumnya terdapat pada Pasal 28 dan Pasal 45A UU ITE tentang penyebaran informasi menyesatkan, serta Pasal 62 UU Perlindungan Konsumen tentang pelanggaran ketentuan pidana. Pertanggungjawaban pidana bersifat personal, sehingga direksi atau pengurus badan usaha yang memiliki mens rea dan actus reus dapat dipidana. Kendala utama penegakan hukum meliputi kesulitan pembuktian unsur niat jahat, yurisdiksi lintas wilayah, dan rendahnya kesadaran hukum konsumen. Dengan demikian, diperlukan penguatan regulasi yang responsif terhadap dinamika e-commerce, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, serta edukasi konsumen untuk menekan praktik wanprestasi yang berimplikasi pidana. Kata Kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Pelaku Usaha, Wanprestasi, Konsumen, e-commerce.

Page 3 of 3 | Total Record : 28