cover
Contact Name
Trisnawati Hutagalung
Contact Email
trisnawati.hutagalung@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
trisnawati.hutagalung@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Asas: Jurnal Sastra
ISSN : 23015896     EISSN : 2580894X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Asas:Jurnal Sastra merupakan jurnal yang menerbitkan artikel mengenai pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia. Jurnal ini juga dihadirkan untuk mendukung pengembangan akademika di Jurusan Bahasa, sastra Indonesia. Jurnal ini terbit sebanyak empat kali dalam setahun pada bulan April, Juni, September dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 365 Documents
Ketidaksantunan Berbahasa dalam Komunikasi Digital: Studi Komentar Youtube pada akun Mr. SARIFIN tentang Program Makan Bergizi Gratis Nursuci Wulandari; Mutiara Nur Ardlilila; Fadia Triana; Ria Putri Anjar Sari; Nur Lailiyah
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/7hxfyd28

Abstract

Perkembangan media sosial sebagai sarana komunikasi digital memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara bebas, tetapi juga memunculkan berbagai bentuk ketidaksantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam kolom komentar YouTube akun Mr. SARIFIN mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdasarkan teori prinsip kesantunan Geoffrey Leech. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa komentar warganet yang mengandung unsur ketidaksantunan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, membaca, mencatat, dan mengklasifikasikan komentar sesuai dengan enam maksim kesantunan Leech, yaitu maksim kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, kesepakatan, dan kesimpatian. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 30 data pelanggaran prinsip kesantunan yang terdiri atas 5 pelanggaran maksim kebijaksanaan, 2 maksim kedermawanan, 8 maksim penghargaan, 3 maksim kesederhanaan, 9 maksim kesepakatan, dan 3 maksim kesimpatian. Pelanggaran yang paling dominan ditemukan pada maksim kesepakatan dan maksim penghargaan, yang ditandai dengan penggunaan kritik langsung, sindiran, ejekan, pertanyaan retoris, serta penilaian negatif terhadap program MBG. Temuan ini menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi di media sosial sering kali tidak diimbangi dengan penerapan prinsip kesantunan berbahasa. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran pengguna media sosial agar kritik dan pendapat dapat disampaikan secara etis, santun, dan konstruktif.
Makna Gramatikal dalam Cerpen Keluarga Kudus Karya Sunlie Thomas Alexander Enjal Rohmawati; Lutfhi Alfhina Agustina; Dedi Febriyanto; Ni Komang Ambarawati; Ismawati; Anik Wahyuningsih
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/d9ka5r32

Abstract

Penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan makna gramatikal yang terdapat dalam cerpen Keluarga Kudus karya Sunlie Thomas Alexander. Kajian ini penting dilakukan untuk mengungkap bagaimana struktur bahasa digunakan sebagai saranan estetis dalam membangun cerita sastra. Penelitian dilakukan dengan menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif. Data bersumber dari cerpen tersebut yang diakses melalui Kompas atau Ruang Sastra. Pengumpulan data digunakan Teknik simak-catat, yaitu membaca, mengamati, kemudian mencatat hasil penelitian dengan mengelompokkan berdasarkan makna gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan kompossisi. Penelitian menunjukkan hasil bahwa dalam cerpen Keluarga Kudus ditemukan 293 data makna gramatikal. Terdapat 174 data makna afiksasi, 32 data reduplikasi, dan 87 data komposisi. Afiksasi merupakan bentuk yang paling dominan. Ketiga bentuk tersebut tidak hanya membentuk makna kebahasaan, tetapi juga mendukung penggambaran tokoh, konflik, latar sosial, dan nilai-nilai keagamaan dalam cerita. Penguasaan bentuk gramatikal oleh pengarang sangat penting dalam memperkuat penyampaian pesan sebuah karya sastra. Penelitian ini diharapkan dapat berfaedah dan memperkaya kajian semantik, khususnya makna gramatikal pada karya sastra, serta dapat menjadi referensi bagi penelitian dan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Kolom Komentar Tiktok Terkait Kebijakan Listrik Oleh Prabowo Subianto: Tiktok Sebagai Arena Kritik Politik Fika Nuraini; Wahyu Resty Novi Yanti Novi Yanti; Aulya Nur Al Faresa Al Faresa; Damas Airlangga Malindo Malindo; Nur Lailiyah Lailiyah
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/t8v6pe91

Abstract

Media sosial terutama Tiktok menjadi ruang publik yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, penyampaian kritik tersebut sering kali mengabaikan prinsip kesantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahsa dalam komentar TikTok terkait kebijakan listrik oleh Prabowo Subianto serta mengidentifiksi Maksim kesantunan yang paling dominan dilanggar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kajian pragmatik berdasarkan teori prinsip kesantunan Geoffrey Leech. Data berupa komentar warganet pada akun TikTok Warta Banjar yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak, catat, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 26 data pelanggaran prinsip kesantunan yang terdiri atas pelanggaran maksim kebijaksanaan (6 data), maksim kedermawanan (4 data), maksim kesimpatian (5 data), maksim kesepakatan (3 data), maksim pujian (5 data), dan maksim kerendahan hati (3 data). Pelanggaran maksim kebijaksanaan menjadi bentuk yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa TikTok berfungsi sebagai arena kritik politik, tetapi ekspresi kritik cenderung disampaikan secara emosional dan kurang memperhatikan kesantunan berbahasa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kajian pragmatik serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkomunikasi secara santun di media sosial.
Fenomena Ketidaksantunan Berbahasa Netizen pada Platform TikTok: Studi Kasus Akun “Tongseng Kambing Bu Soleh” Silvia Dwi -Maharani; Eka Damayanti; Bagus Rizkyawan Abimanyu; Marcelinda Tinggi Nalu; Nur Lailiyah
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/x4h37g09

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telahmenciptakan ruang komunikasi digital yang memungkinkanpengguna menyampaikan pendapat secara bebas. Namun, kebebasan tersebut juga memunculkan fenomenaketidaksantunan berbahasa dalam kolom komentar. Penelitianini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk ketidaksantunanberbahasa netizen pada kolom komentar akun TikTok TongsengKambing Bu Soleh berdasarkan Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech serta menjelaskan pengaruh konteks ekstralinguistikdalam perspektif Cyberpragmatics terhadap pemaknaanketidaksantunan tersebut. Penelitian ini menggunakan metodepragmatik dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa 30 komentar netizen yang mengandungpelanggaran maksim kesantunan, dikumpulkan melalui tekniksimak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajiandata, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa ditemukan pelanggaran terhadap enam maksimkesantunan, yaitu maksim kebijaksanaan sebanyak 5 data, maksim kedermawanan 1 data, maksim penghargaan 16 data, maksim kerendahan hati 1 data, maksim kesepakatan 4 data, dan maksim simpati 3 data. Pelanggaran maksim penghargaanmerupakan bentuk yang paling dominan, ditandai denganbanyaknya komentar berupa celaan, ejekan, sindiran, penghinaan, dan penilaian negatif terhadap makanan maupunpenjual. Selain itu, konteks ekstralinguistik dalam perspektifCyberpragmatics menunjukkan bahwa karakteristik media TikTok yang terbuka, interaktif, cepat, dan memungkinkananonimitas pengguna mendorong munculnya ketidaksantunanberbahasa. Penggunaan unsur digital seperti emoji, hurufkapital, pengulangan huruf, ironi, hiperbola, dan sarkasmeturut memperkuat makna ketidaksantunan dalam komunikasidigital. Dengan demikian, ketidaksantunan berbahasa di media sosial dipengaruhi tidak hanya oleh bentuk linguistik, tetapijuga oleh konteks komunikasi digital yang melatarbelakanginya.
Pemakaian Kosakata Serapan dari Bahasa Mandarin dan Dialek Tionghoa dalam Pembelajaran BIPA Tiarma Nova Intan Malasari; Rachel Yoan Katherin Putri br Siahaan; David Parulian Limbong
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tev5s190

Abstract

Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sering kali menghadapkan pembelajar pada kekayaan unsur serapan dalam bahasa Indonesia, khususnya yang berasal dari bahasa Mandarin dan dialek Tionghoa (seperti Hokkien, Hakka, dan Kantonis). Artikel penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemakaian kosakata serapan tersebut dalam materi dan proses pembelajaran BIPA, serta mengidentifikasi tantangan dan strategi pengajarannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis teks dan lembar observasi pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosakata serapan dialek Tionghoa (seperti kosa kata kuliner dan sosial-budaya) serta bahasa Mandarin modern memegang peranan penting dalam membangun pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding) bagi pembelajar BIPA, terutama yang berasal dari kawasan Asia Timur.

Filter by Year

2012 2026