cover
Contact Name
Amiruddin
Contact Email
journalameena@gmail.com
Phone
+6285270075934
Journal Mail Official
aij@ymal.or.id
Editorial Address
Jl. Line Pipa Desa Seuneubok, Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe, Aceh
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Ameena Journal
ISSN : -     EISSN : 29860016     DOI : -
Ameena Journal bertujuan untuk menjadi media publikasi ilmiah yang memfasilitasi pengembangan dan penyebaran penelitian di berbagai bidang ilmu keislaman, dengan fokus pada kajian interdisipliner yang relevan dan aplikatif. Jurnal ini mencakup berbagai topik seperti Pendidikan Islam, Hukum Islam, Ekonomi Islam, Dakwah Islam, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Ilmu Sosial, Filsafat Islam, Pemikiran Islam, Sejarah Islam, serta bidang-bidang lain yang berkaitan dengan ilmu keislaman, termasuk Matematika, Kebidanan, dan Kedokteran. Dengan melibatkan penulis, penyunting, dan penerbit yang mengedepankan etika akademik, Ameena Journal bertujuan untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi keagamaan Islam dunia, serta menjadi rujukan yang bermanfaat bagi akademisi, peneliti, dan praktisi di berbagai disiplin ilmu.
Articles 98 Documents
Penelantaran Orang Tua dalam Perspektif Hukum Islam Mulyani, Sri
Ameena Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v2i2.59

Abstract

Penelantaran orang tua merupakan masalah sosial yang semakin mencolok dalam konteks modern, di mana banyak orang tua lanjut usia tidak mendapatkan perhatian dan perawatan yang layak dari anak-anak mereka. Artikel ini mengeksplorasi penelantaran orang tua dari sudut pandang hukum Islam dan hukum positif di Indonesia. Penelitian ini membahas berbagai bentuk penelantaran, dampak yang ditimbulkan terhadap orang tua, dan sanksi hukum yang diterapkan baik menurut hukum Islam maupun hukum positif. Dalam hukum positif Indonesia, penelantaran orang tua dikategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga sesuai dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2004. Dari perspektif Islam, penelantaran orang tua dianggap sebagai dosa besar yang memerlukan sanksi sesuai dengan jarimah ta'zir. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai peran hukum dalam menanggulangi fenomena ini dan implikasi agama terhadap perilaku anak terhadap orang tua.
Pengaruh Religiusitas dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah STAI Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon Yunus, Muhammad
Ameena Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v2i2.60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh religiusitas dan gaya hidup terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah di STAI Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara. Dari 192 mahasiswa di Prodi Hukum Ekonomi Syariah, 127 mahasiswa dipilih sebagai sampel penelitian menggunakan teknik random stratified sampling proportional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup memiliki pengaruh positif pada perilaku konsumtif mahasiswa, artinya semakin tinggi tingkat gaya hidup, maka semakin tinggi pula perilaku konsumtif mahasiswa. Sementara itu, religiusitas ditemukan memiliki pengaruh negatif terhadap perilaku konsumtif mahasiswa, artinya semakin tinggi tingkat religiusitas mahasiswa, maka semakin rendah perilaku konsumtif mahasiswa. Penelitian ini mengemukakan bahwa religiusitas dan gaya hidup menjelaskan variasi dalam perilaku konsumtif mahasiswa sebesar 19,8%, sedangkan sisanya 80,2% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dieksplorasi dalam penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk mengelola konsumsi dengan benar, mahasiswa harus mengendalikan gaya hidup mereka dan meningkatkan tingkat religiusitas sehingga jauh dari kebiasaan konsumtif.
Wajib Infaq untuk Pembangunan Masjid Nurul Huda di Desa Suka Jadi Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah Ditinjau Mashlaẖah Jamalwi; Kamal, Mustafa; Fitra, Khairul; Amiruddin
Ameena Journal Vol. 1 No. 4 (2023): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v1i4.61

Abstract

The mandatory infaq program of one million rupiahs per household in Suka Jadi Village, Wih Pesam District, Bener Meriah Regency, aims to raise funds for rebuilding the Nurul Huda Mosque after an earthquake. The program sparked debates within the community, considering residents' financial capabilities and the purpose of the mosque construction. This study seeks to explore community practices and perceptions regarding the mandatory infaq and evaluate its benefits through the lens of the mashlahah theory. A qualitative method was applied with a case study and fieldwork approach. Data were collected through interviews and documentation, then analyzed using data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that although no sanctions are imposed on those who delay their contributions, residents still strive to donate, even over extended periods. From the mashlahah perspective, this program offers substantial benefits, particularly in terms of dharuriyyah (urgent needs). The mosque construction is deemed essential to fulfilling hifz al-din (protection of religion), supporting Islamic practices in the local community. Overall, this initiative fosters religious practice and social solidarity in Suka Jadi Village.
Pelaksanaan Pertunangan di Gampong Cot Seutui Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara: (Analisis Terhadap Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Bagian Keempat Tentang Ikhtilath) Andika, Muhammad; Mahmudi; Abdullah; Hafidhillah, Haikal
Ameena Journal Vol. 1 No. 3 (2023): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v1i3.62

Abstract

This study focuses on changes in traditional customs in Gampong Cot Seutui, Kuta Makmur District, North Aceh Regency, particularly regarding engagement practices and violations of Islamic law and Aceh Qanun Number 6 of 2014 on Ikhtilath. The research aims to describe the engagement traditions and how the community perceives shifts that could potentially lead to free interaction between men and women (ikhtilath). Using a qualitative approach with normative and phenomenological methods, data was gathered through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that engagement events are often conducted lavishly, resembling wedding ceremonies, with photo spots and ring exchange sessions. The groom-to-be places a ring on the bride-to-be’s finger, followed by photo sessions displaying the ring, giving the impression of a formalized relationship. These practices are considered to violate Islamic principles and the Qanun, as they allow for free interaction between men and women outside permissible limits. The study highlights the influence of external cultures on local traditions, emphasizing the need to preserve Islamic values in every aspect of customary practices.
Musyawarah dalam Penyelesaian Sengketa Warisan pada Masyarakat Desa Lon Asan Kecamatan Lembah Selawah Kabupaten Aceh Besar: (Analisis Terhadap Konsep Musyawarah Perspektif Al-Qur’an) Muhibussailin; Helmi; Afrizal; Lhokweng, Emier
Ameena Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v2i1.63

Abstract

Lon Asan Village, located in Lembah Selawah Sub-district, Aceh Besar Regency, frequently resolves inheritance disputes through deliberation conducted by village authorities and disputing community members. Many cases have been successfully settled through peaceful means, with mutual consent among the disputing parties. This study aims to explore the inheritance dispute resolution system based on the Qur’an. The research questions are: How is the process of deliberation carried out in resolving inheritance disputes in the community of Lon Asan Village, Lembah Selawah Sub-district, Aceh Besar Regency? And how does the process of deliberation in resolving inheritance disputes align with the Qur'anic perspective? This research is a field study with a descriptive approach. The data sources include both primary and secondary data. Data collection techniques involve observation, interviews, and documentation. The collected data are described descriptively and analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that inheritance disputes are resolved through deliberation among disputing parties by applying the principles of mutual consent and justice. From the perspective of the Qur’an, the principle of deliberation in resolving inheritance disputes aligns with several Qur’anic verses, including Surah Ash-Shura (42:38) and Surah An-Nisa’ (4:11). Therefore, the community is encouraged to maintain this system when disputes cannot be resolved directly between the involved parties.
Nikah Melalui Perjodohan dalam Perspektif Mashlaẖah di Gampong Blang Reum Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen Tunnisa, Zahara; Maisarah; Abdullah; Nurmajizah
Ameena Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v2i1.64

Abstract

Penelitian ini berfokus pada praktik perjodohan di Gampong Blang Reum, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, serta tinjauan hukum Islam terhadap praktik tersebut. Perjodohan dalam masyarakat setempat sering dilatarbelakangi oleh faktor agama, keturunan, ekonomi, dan pendidikan. Masyarakat memahami bahwa wali memiliki hak ijbār untuk memaksakan pernikahan bagi anak perempuan yang masih perawan, dengan keyakinan bahwa perjodohan dapat membawa kemaslahatan bagi rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode lapangan (field research) dengan pendekatan hukum empiris. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara deskriptif dengan langkah-langkah reduksi dan penyajian data serta penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perjodohan dipilih karena beberapa faktor: 1) Agama dianggap sebagai maṣlaḥah al-mu'tabarah karena memiliki peran penting dalam konsep pernikahan, 2) Pendidikan masuk dalam kategori maṣlaḥah al-mutaghayyirah, yang dapat berubah sesuai konteks, 3) Keturunan dinilai sebagai maṣlaḥah al-ḍarūriyah karena menjaga garis keturunan dianggap penting, 4) Ekonomi/harta calon suami termasuk dalam maṣlaḥah al-ḍarūriyah dan maṣlaḥah al-ḥājiyah, untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mendukung keberlanjutan keluarga. Secara keseluruhan, praktik perjodohan di Gampong Blang Reum dipandang memiliki kemaslahatan tersendiri dan menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan kokoh sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya setempat.
Peran Tuha Peut Gampong sebagai Mediator dalam Penyelesaian Sengketa Harta Warisan: (Studi di Gampong Neubok Badeuk Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie) Faiza, Nailul; Nazirah; Zalikha, Siti; Azzuhra, Rizki; Baitannur
Ameena Journal Vol. 1 No. 01 (2022): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the role of Tuha Peut Gampong as a mediator in resolving inheritance disputes in Gampong Neubok Badeuk, Tangse District, Pidie Regency. Tuha Peut serves as a traditional institution and a deliberative body, functioning to mediate and reconcile community conflicts, including inheritance disputes. As a mediator, Tuha Peut does not make decisions but assists disputing parties in reaching an agreement through consensus. The research employs a qualitative method with a descriptive approach to explore the role of Tuha Peut in the mediation process. Primary data were collected from Tuha Peut members, supported by observations, interviews, and relevant documents. The findings reveal that Tuha Peut plays a significant role in restoring family ties that have been strained by inheritance disputes. The mediation process emphasizes impartiality and wisdom, encouraging all heirs to voluntarily reach a mutual agreement. This approach ensures that harmony and brotherhood among the disputing parties are maintained.
Sistem Kewarisan Adat Suku Alas Perspektif Hukum Islam: (Studi Kasus di Kabupaten Aceh Tenggara) Malik, Imam; Abdullah; Annisa, Priti; Yanti, Izqi
Ameena Journal Vol. 1 No. 01 (2022): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The customary law of the Alas tribe in Southeast Aceh stipulates that male heirs hold exclusive rights to inheritance, as they are considered responsible for their extended families, while women are viewed merely as complements and excluded from inheritance. This practice contradicts the provisions of Islamic law outlined in the Qur'an. This study aims to explore the inheritance practices within the Alas community and analyze them from the perspective of Islamic law. This field research employs a descriptive approach, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the Alas community continues to adhere to the tradition in which women do not receive inheritance. This practice is justified by mutual consent reached through deliberations among the heirs. Although the tradition is preserved, it conflicts with Islamic law, which mandates a fair distribution of inheritance between men and women.
Penerapan Kafa’ah dalam Perkawinan menurut Fiqh Al- Syāfi’iyyah: (Studi Kasus di Gampong Cebrek Kec Kembang Tanjong Kab Pidie) Rahmadani, Suci; Afrizal; Ula, Multazimah; Aprilla, Maya
Ameena Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v2i2.68

Abstract

This study focuses on the application of kafa’ah (equality) in marriage in Gampong Cebrek, Kembang Tanjong District, Pidie Regency, and its evaluation according to Fiqh Al-Syāfi’iyyah. Recent trends show that society tends to prioritize social status and wealth over ensuring kafa’ah between spouses. Although some individuals understand the importance of equality, many neglect this concept due to limited religious knowledge. This research employs a qualitative method, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that kafa’ah is not fully practiced in the local community. Limited religious understanding contributes to the lack of awareness about the significance of kafa’ah in marriage. From the perspective of Fiqh Al-Syāfi’iyyah, the practice of kafa’ah in Gampong Cebrek aligns with the teachings outlined in the Fiqh Al-Syāfi’iyyah texts, although further improvements are needed in its application within the community.
Pandangan Hukum Islam Tentang Peran Istri Dalam Mencari Nafkah Umar, Fazlon
Ameena Journal Vol. 2 No. 3 (2024): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v2i3.69

Abstract

Dalam Islam, mencari nafkah adalah tanggung jawab utama seorang laki-laki untuk mendukung keluarganya, sementara perempuan umumnya dianjurkan untuk fokus mengurus rumah tangga. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin banyak perempuan yang ikut bekerja. Islam memberikan tempat istimewa bagi perempuan, memungkinkan mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan mengizinkan mereka terlibat dalam berbagai aktivitas, termasuk bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perspektif hukum Islam terhadap istri yang bekerja atau berkontribusi dalam pendapatan keluarga. Menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini dilakukan secara sistematis dengan menggunakan data lapangan. Penelitian ini bersifat empiris. Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang mendorong istri untuk bekerja: (a) penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga, (b) istri ditinggal oleh suami karena perceraian atau kematian, (c) suami enggan bekerja, (d) suami sakit dan tidak bisa bekerja, dan (e) istri memperoleh izin dari suami untuk bekerja. Dari perspektif hukum Islam, seorang istri diperbolehkan bekerja asalkan ia mendapat izin dari suaminya. Ketaatan kepada suami dipandang sebagai salah satu kebajikan tertinggi seorang perempuan. Kompilasi Hukum Islam juga menyarankan agar istri mengutamakan ketaatan kepada suami dan fokus mengurus rumah tangga. Jika seorang istri ingin bekerja, memperoleh izin dari suami akan menyelaraskan tindakannya dengan hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.

Page 6 of 10 | Total Record : 98