cover
Contact Name
Hadrianus Tedjoworo
Contact Email
htedjo@unpar.ac.id
Phone
+6222420476
Journal Mail Official
melintas@unpar.ac.id
Editorial Address
Department of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Jl. Nias 2, Bandung 40117, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
ISSN : 08520089     EISSN : 24068098     DOI : https://doi.org/10.26593
The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, philosophy of culture and anthropology, phenomenological philosophy, epistemology, ethics, business ethics, philosophy of religion, religious studies, theology, dogmatic theology, systematic theology, theology of sacrament, moral theology, biblical theology, and pastoral theology.
Articles 781 Documents
THE UNION OF MIND AND BODY IN THE CARTESIAN DUALISM Riyanto, Armada
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.958.39-55

Abstract

Dalam disiplin ilmu filsafat sejak Yunani Awali, manusiadimengerti sebagai terdiri dari badan dan jiwa. BagiSokrates manusia adalah jiwa-nya. Sebab, badan tidakmenampilkan kodrat kemanusiawian yang sesungguhnya.Plato melanjutkan Sokrates dengan “menyangkal”kepentingan keberadaan badan. Problem filosofis klasikitu berlanjut pada pemikiran René Descartes yangmenyatakan bahwa badan adalah res extensa (itu yangmemiliki keluasan), sementara jiwa res cogitans (itu yangberpikir). Karena itu, dalam Descartes istilah yang lebihtepat untuk jiwa adalah “mind” daripada “soul”. Tetapisoal paling krusial dari definisi ini ialah bagaimanamungkin yang material bersatu sedemikian rupa denganres cogitans sehingga menyusun sebuah kesatuan tunggaleksistensi manusia yang begitu memesona? Pertanyaaninilah yang menjadi status questionis dari artikel ini.
RICHARD RORTY DAN RUANG PUBLIK PARA “PENYAIR”? : SEBUAH TEMATISASI KONSEP RUANG PUBLIK DI DALAM FILSAFAT POLITIK RICHARD RORTY Antonius A.W., Reza
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.959.57-81

Abstract

How are we to define the concept of public sphere in contemporary society? How can we understand the drive that mobilizes it? And, how can we distinguish public life from the private ? This article follows Richard Roty's point of view in answering the questions. According to him, philosophers andsocial scientists have lost their monopoly in the process of defining public life. Their positions are replaced by poet, novelist, or journalist. The concept of public sphere is also changing, from 'rational' to 'poetic' public sphere. In the latter, public life is moved by contingency. The nature of humans and society is deprived from its metaphysical foundation. Rorty's ideas in this respect  may help identify what actually is happening in contemporary society.
Apa yang Salah dengan Demokrasi? Wijaya, Irianto
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.960.83-98

Abstract

The value of every social ideal, including democracy, is always determined by two criteria, coherence and applicability. The power of democracy to fulfill these criteria  depends on its ability to solve two kinds of social problems, the normative and the factual problems. Scepticism toward democracy usually concerns its ability to handle the latter, in which there is an old Platonian challenge that it must deal with. Democracy would be able to answer the challenge satisfactorily as long as we recognize the distinction between procedural and substantive rationality.
PENGERTIAN RELATIF DALAM MEMBAHAS GEJALA ALAM Brotosiswojo, Benny Suprapto
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.961.99-114

Abstract

Konsep relativitas hasil studi manusia tentang realita alam secara perlahan-lahan menyadarkan kita betapa sempitnya cakrawala pandangankita tentang alam dan betapa miskinnya perbendaraan kata yang kita milikisebagai alat komunikasi selama ini.
Chronicles - April 2008 Tedjoworo, Hadrianus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.962.133-162

Abstract

'Chronicles' is a journal column of "MELINTAS" which contains information about the various events, congresses, conferences, symposia, necrologies, publications, and periodicals in the fields of philosophy and theology.
PAUL RICOEUR AND THE TRANSLATION-INTERPRETATION OF CULTURES Garcia, Leovino Ma.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v23i3.963.325-345

Abstract

Dengan mengelola gagasan Ricoeur tentang ‘Hermeneutics of Self ‘ artikel ini membahas kesadaran tentang pluralitas budaya dan bahasa yang makin nyata. Dalam situasi itu komunikasi makna menuntut ‘penerjemahan’ serentak kewajiban ‘berdukacita’. Dalam kerangka itu identitas bukan lagi soal ‘batas’ melainkan soal interaksi. Identitas mesti dilihat sebagai sesuatu yang tak pernah final, ber-evolusi dalam saling penerjemahan antar bahasa dan budaya. Penerjemahan adalah pertaruhan yang diwarnai ‘dukacita’ sebab penerjemahan identitas kita oleh pihak lain (eksternal) maupun oleh diri sendiri (internal) selalu hanya sampai pada ‘ekuivalensi tanpa adekuasi’, dan kesenjangan itu tak kan pernah teratasi.
OF BORDERS, DEATH, AND FOOTPRINTS Mohamad, Goenawan
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v23i3.966.347-367

Abstract

Artikel ini memperbincangkan ambiguitas dan instabilitas makna 'batas' dan 'identitas'. Batas, yang awalnya adalah metafora dari paradigma ruang dalam rangka menetapkan dan mengatur perbedaan, akhirnya cenderung menjadicerita pembekuan dan pemisahan. Melalui telaah atas beberapa novel dan pemikiran filsafat mutakhir, dibahaslah batas dan identitas sebagai permanensi mental yang justru menimbulkan alienasi, juga sebagai kerinduan yang tak pernah terpenuhi dan sebagai pergumulan hegemoni. Lantas pada penghujung artikel ini identitas dilihat bukan sebagai garis pembatas akhir, melainkan sebagai garis depan yang senantiasa terbuka pada kemungkinan baru.
CULTURAL PLURALISM AND CULTURAL DIALOGUE Aguas, Jove Jim S.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v23i3.967.369-383

Abstract

Dasar keyakinan atas pluralisme kebudayaan adalah kebebasan individual dan kolektif untuk memilih hal yang berbeda. Namun ketidaksamaan berlebihan dan kontrol terlalu besar dari pihak yang lebih berkuasa tidakmemungkinkan interaksi yang sehat. Dalam kondisi macam itu konsep 'peradaban' hanyalah pembenaran-diri kolonialisme, imperialisme dan akulturasi koersif. Dan peradaban akan menjadi beban. Artikel ini  menekankan interaksi kultural global yang saling memperkaya dan saling menghaluskan. Kebudayaan adalah sebuah dialog yang lantas menuntut standard kehalusan atau standard peradaban yang juga berragam. Bila peradaban dilihat sebagai berbagai pola ungkap yang berbeda, maka iabukanlah beban melainkan peluang.
THEGOODSELF : TOWARDS THE ETHICS OF AUTHENTICITY AND SOLIDARITY IN THE PERSPECTIVE OF CHARLES TAYLOR Subianto Bunyamin, Antonius
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v23i3.969.385-409

Abstract

Ada jurang antara aktivitas moral dengan identitas personal yang menjadi sumber inotentisitas. Salah satu akarnya adalah etika prosedural yang  berpusat pada “apa yang harus dilakukan.” Charles Taylor mengatasinyamelalui etika substantif yang berdasar pada konsep fundamental tentang “yang baik” (the good). Iamenjelaskan dimensi ontologis dari moralitas dan identitas serta menawarkan etika otentisitas, di mana identitas yang benardan aktivitas yang baik berkaitan secara ontologis. Inilah konsep etis tentang “the good self ”.
THE IDEA OF HUMAN DESTINY IN AFRICA : THE IGBO EXPERIENCE Ogbujah, C. N.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v23i3.970.411-435

Abstract

Penelitian filsosofis terhadap kepercayaan suku Igbo kerap tergoda menjadi sistematisasi menurut standard penalaran logis atau hanya menerangi keunikankeunikannya yang berbeda dari sistem kepercayaan lain. Kedua-duanya luput menangkap kompleksitas dan kedalaman kandungan pengalaman konkrit suku Ibo. Artikel ini mencoba merumuskan kompleksitas itu dalam membahas khususnya kepercayaan Ibo tentang takdir dan kelahiran kembali. Dibahas disini ihwal tubuh material yang melampaui kematian, kaitannya dengan konsep Igbo tentang kemanusiaan yang integral dan identitas personalnya.