cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2026)" : 23 Documents clear
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA MATERI PERBANDINGAN Kardo, Benisius; Gracia Manoe Gawa, Maria
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.7985

Abstract

This study aims to analyze students' errors in solving mathematics problems on the topic of ratios in grade VII at SMP NCIPS Kupang. The research method used is qualitative descriptive, with three students selected based on their ability levels: high, medium, and low. The research instruments included a diagnostic test with two essay questions and interviews to explore the causes of students' errors. Data analysis was conducted using the Newman Error Analysis stages, which include reading, understanding, transformation, process skills, and writing the final answer. The results show that high-ability students only made errors in the final answer writing stage, while medium-ability students often made errors in understanding the question, transformation, and calculation stages. Low-ability students encountered difficulties in almost all stages, particularly in understanding the question and transforming the problem into the correct mathematical form. The most dominant errors were found in understanding the question and transforming the problem. Factors causing these errors include a lack of understanding of the concept of ratios, misconceptions between direct and inverse ratios, and rushing through the problem-solving process. These findings are expected to provide valuable insights for teachers in designing more effective learning strategies to improve students' problem-solving skills. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika materi perbandingan pada kelas VII SMP NCIPS Kupang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek tiga siswa yang dipilih berdasarkan tingkat kemampuan: tinggi, sedang, dan rendah. Instrumen penelitian berupa tes diagnostik yang berisi dua soal uraian dan wawancara untuk menggali penyebab kesalahan. Analisis data dilakukan menggunakan tahapan Analisis Kesalahan Newman, yang meliputi tahap membaca, memahami, transformasi, keterampilan proses, dan penulisan jawaban akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi hanya mengalami kesalahan pada tahap penulisan jawaban akhir, sementara siswa dengan kemampuan sedang sering melakukan kesalahan pada tahap pemahaman soal, transformasi, dan perhitungan. Siswa berkemampuan rendah mengalami kesulitan di hampir seluruh tahap, terutama dalam memahami soal dan mengubah informasi ke bentuk matematika yang tepat. Kesalahan yang paling dominan ditemukan pada pemahaman soal dan transformasi masalah. Faktor penyebab kesalahan antara lain kurangnya pemahaman konsep perbandingan, miskonsepsi antara perbandingan senilai dan berbalik nilai, serta terburu-buru dalam menyelesaikan soal. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU INDISIPLINER SISWA KELAS X DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Azisa, Aurel Belva Idfi; Utami, Diyah Nurul; Maulana, Mumtaz Khanif; Sari, Intan Ika; Guritno, Agung
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8279

Abstract

This study aims to analyze the factors that influence the indisciplinary of 10th grade students at Suruh 1 Public High School in mathematics learning. Disciplinary problems such as lack of focus, joking around, tardiness, not doing assignments, and playing with gadgets indicate an interaction between internal and external factors that shape student behavior during the learning process. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews and classroom observations. The research informants involved four students, a mathematics teacher, and a guidance counselor as the main informants. The results show that internal factors such as low motivation, interest in learning, self-regulation, and anxiety about mathematics contribute significantly to the emergence of indisciplinary. External factors, including peer influence, classroom management, teaching style, and lack of parental supervision, also reinforce this behavior. The findings also show that the combination of students' psychological conditions and the quality of the learning environment is the main trigger for disruptive behavior in learning. This study concludes that improving discipline requires attractive learning strategies, firm and consistent classroom management, and continuous collaboration between teachers, parents, and schools. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku indisipliner siswa kelas X SMA Negeri 1 Suruh dalam pembelajaran matematika. Fenomena indisipliner seperti kurang fokus, bercanda, keterlambatan, tidak mengerjakan tugas, dan bermain gawai menunjukkan adanya interaksi antara faktor internal dan eksternal yang membentuk perilaku siswa selama proses belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi kelas. Informan penelitian melibatkan empat siswa, seorang guru matematika, dan seorang guru BK sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal seperti rendahnya motivasi, minat belajar, regulasi diri, dan kecemasan terhadap matematika berkontribusi besar terhadap munculnya perilaku indisipliner. Faktor eksternal yang mencakup pengaruh teman sebaya, manajemen kelas, gaya mengajar guru, serta kurangnya pengawasan orang tua turut memperkuat terjadinya perilaku tersebut. Temuan juga menunjukkan bahwa kombinasi antara kondisi psikologis siswa dan kualitas lingkungan belajar menjadi pemicu utama munculnya perilaku mengganggu dalam pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kedisiplinan membutuhkan strategi pembelajaran yang menarik, manajemen kelas yang tegas dan konsisten, serta kolaborasi antara guru, orang tua, dan sekolah secara berkelanjutan.
FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN ISLAM DALAM KAJIAN ONTOLOGI DAN METAFISIKA Arafah, Tiara Pelangi; Khobir, Abdul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8287

Abstract

Islamic education plays a strategic role in character formation, but the dominance of the modern education system, which tends to be materialistic, often neglects the spiritual dimension of students. This study aims to reconstruct the philosophical foundation of Islamic education through an in-depth study of ontology and metaphysics, and analyze its implications for curriculum development and learning methodology in the contemporary era. By applying a library research method based on a qualitative-descriptive approach, this research critically examines authoritative literature from classical thinkers such as Al-Farabi, Ibn Sina, and Al-Ghazali to the views of contemporary scholars. The research findings reveal that ontologically, Islamic education views humans as multidimensional beings with rational and spiritual potential to achieve the status of insan kamil. Meanwhile, the metaphysical perspective emphasizes that the reality of education is not limited to empirical aspects, but is integrated with transcendental values ??where revelation and intuition become valid sources of knowledge alongside reason. It is concluded that the integration of ontology and metaphysics is an absolute foundation for building a holistic educational paradigm, which is able to balance intellectual intelligence with spiritual maturity in order to produce a generation that is adaptive but still based on divine values. ABSTRAK Pendidikan Islam memegang peran strategis dalam pembentukan karakter, namun dominasi sistem pendidikan modern yang cenderung materialistik sering kali mengabaikan dimensi spiritualitas peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi landasan filosofis pendidikan Islam melalui kajian mendalam mengenai ontologi dan metafisika, serta menganalisis implikasinya terhadap pengembangan kurikulum dan metodologi pembelajaran di era kontemporer. Dengan menerapkan metode studi kepustakaan (library research) berbasis pendekatan kualitatif-deskriptif, riset ini menelaah secara kritis literatur otoritatif dari pemikir klasik seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali hingga pandangan sarjana kontemporer. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa secara ontologis, pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk multidimensi yang memiliki potensi rasional dan spiritual untuk mencapai derajat insan kamil. Sementara itu, perspektif metafisika menegaskan bahwa realitas pendidikan tidak terbatas pada aspek empiris, melainkan terintegrasi dengan nilai-nilai transendental di mana wahyu dan intuisi menjadi sumber pengetahuan yang valid bersanding dengan akal. Disimpulkan bahwa integrasi ontologi dan metafisika merupakan fondasi mutlak untuk membangun paradigma pendidikan yang holistik, yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kematangan spiritual guna mencetak generasi yang adaptif namun tetap berlandaskan nilai ketuhanan.    
KONSEP LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PRESPEKTIF AL QUR’AN Marliana, Fenia; Ramadhan, Ghifar; Kurahman, Opik Taupik; Jannah, Sabrina Izzatul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8399

Abstract

Education plays a vital role in shaping human personality, but discourse on the educational environment is often trapped in merely sociological-institutional aspects without delving into the theological normative foundations derived from the Qur'an. This research focuses on examining and reconstructing the concept of the Islamic educational environment from the perspective of the Qur'an in order to find a comprehensive philosophical foundation. The method applied is qualitative through library research with a thematic interpretation approach (maudhu'i) of verses relevant to the educational ecosystem, which are then analyzed descriptively-analystically. The research findings show that the Qur'an places the environment as a determinant factor in character formation, which is integrated into three main domains: the family as the foundation for instilling monotheism and compassion, schools as a means of intellectual and moral development, and society as a vehicle for actualizing socio-religious values. These three environments must synergize within the framework of monotheism and exemplary behavior (uswah hasanah) as exemplified by the Prophet Muhammad. It is concluded that the success of Islamic education is highly dependent on the creation of a conducive environment based on divine values, so that it can produce perfect human beings who have spiritual, moral and intellectual balance. ABSTRAK Pendidikan memegang peranan vital dalam pembentukan kepribadian manusia, namun diskursus mengenai lingkungan pendidikan sering kali terjebak pada aspek sosiologis-institusional semata tanpa menggali landasan normatif teologis yang bersumber dari Al-Qur’an. Penelitian ini berfokus untuk mengkaji dan merekonstruksi konsep lingkungan pendidikan Islam dalam perspektif Al-Qur’an guna menemukan landasan filosofis yang komprehensif. Metode yang diterapkan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i) terhadap ayat-ayat yang relevan dengan ekosistem pendidikan, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan lingkungan sebagai faktor determinan dalam pembentukan karakter, yang terintegrasi dalam tiga ranah utama: keluarga sebagai fondasi penanaman tauhid dan kasih sayang, sekolah sebagai sarana pengembangan intelektual dan akhlak, serta masyarakat sebagai wahana aktualisasi nilai sosial-religius. Ketiga lingkungan ini harus bersinergi dalam kerangka ketauhidan dan keteladanan (uswah hasanah) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat bergantung pada terciptanya lingkungan kondusif yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiah, sehingga mampu mencetak insan kamil yang memiliki keseimbangan spiritual, moral, dan intelektual.  
ETIKA BERMEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’ANUL MAJID AN-NUR DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Anam, Mohamad Khoerul; Sya’roni, Enjang Burhanudin Yusuf
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8403

Abstract

ABSTRACT The rapid development of social media has transformed patterns of religious and social communication within Muslim society. On the one hand, digital media facilitates the dissemination of information and da’wah; on the other hand, it generates serious ethical challenges such as hoaxes, hate speech, slander, and violations of personal dignity that threaten social harmony. This condition necessitates the formulation of a solid digital ethics framework rooted in Qur’anic values. This study aims to analyze the concept of social media ethics in Tafsir al-Qur’anul Majid an-N?r by Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy and to examine its relevance for strengthening Islamic digital literacy within Islamic Religious Education. The study employs a qualitative approach using library research. The research stages include the selection of Qur’anic verses related to communication ethics, data collection from tafsir texts and scholarly literature, content analysis, and contextual interpretation of the findings in relation to contemporary digital ethical issues. The results indicate that Hasbi ash-Shiddieqy formulates three core principles of Qur’anic ethics: responsibility for every utterance (mas’?liyyah al-qawl), the obligation to verify information (tabayyun), and the preservation of human dignity (?if? al-‘ir?). These principles are highly relevant in addressing digital ethical problems such as misinformation, disinformation, and verbal violence on social media platforms. This study concludes that Tafsir an-N?r can serve as an applicable normative-pedagogical framework to strengthen Islamic digital literacy and to foster the development of students’ digital character that is ethical, critical, and responsible through Islamic Religious Education. ABSTRAK Perkembangan pesat media sosial telah mengubah pola komunikasi keagamaan dan sosial masyarakat Muslim. Di satu sisi, media digital memfasilitasi penyebaran informasi dan dakwah, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan etika, seperti hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan pelanggaran kehormatan yang mengancam tatanan sosial. Kondisi ini menuntut perumusan kerangka etika digital yang kokoh dan berakar pada nilai-nilai Qur’ani. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep etika bermedia sosial dalam Tafsir al-Qur’anul Majid an-N?r karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy serta menjelaskan relevansinya bagi penguatan literasi digital Islami dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Tahapan penelitian meliputi pemilihan ayat-ayat etika komunikasi, pengumpulan data dari teks tafsir dan literatur ilmiah, analisis isi (content analysis), serta penafsiran temuan secara kontekstual dengan problem etika digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasbi ash-Shiddieqy merumuskan tiga prinsip utama etika Qur’ani, yaitu tanggung jawab atas setiap ucapan (mas’?liyyah al-qawl), kewajiban memverifikasi informasi (tabayyun), dan penjagaan kehormatan manusia (?if? al-‘ir?). Ketiga prinsip tersebut memiliki relevansi kuat dalam merespons persoalan etika digital, seperti misinformasi, disinformasi, dan kekerasan verbal di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir an-N?r dapat dijadikan kerangka normatif-pedagogis yang aplikatif untuk memperkuat literasi digital Islami dan membentuk karakter digital peserta didik yang berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
RELASI ONTOLOGIS BAHASA DAN SAINS: QUO VADIS FILSAFAT ILMU DI ERA DISRUPSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE Hertanto, Yudhi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8416

Abstract

This study aims to reconstruct the dialectical relationship between language and science in the midst of digital technological disruption, particularly the rapid development of Generative Artificial Intelligence (AI). In science, language functions not only as a means of communication but also as an ontological foundation that shapes the reality and validity of scientific knowledge. This research employs a qualitative approach through library research and philosophical hermeneutic analysis of literature in the philosophy of science, philosophy of language, and contemporary studies on AI. The analysis focuses on the role of terminology in the construction of knowledge, the demarcation between natural sciences (Naturwissenschaften) and social sciences and humanities (Geisteswissenschaften), and the future direction of the philosophy of science in responding to epistemic challenges in the AI era. The findings indicate that the stability of scientific terminology is experiencing a crisis due to AI hallucinations and paper mill practices that produce fake scientific works. At the same time, there is a shift in language games from descriptive to performative functions, as reflected in the use of the term “Global Boiling.” This study concludes that an adaptive epistemology is necessary to safeguard the integrity and validity of scientific knowledge in the algorithmic era. ABSTRAK Kajian ini bertujuan merekonstruksi relasi dialektis antara bahasa dan ilmu pengetahuan di tengah disrupsi teknologi digital, khususnya perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI). Bahasa dalam sains tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai fondasi ontologis yang membentuk realitas dan validitas pengetahuan ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis hermeneutika filosofis terhadap literatur filsafat ilmu, filsafat bahasa, serta kajian mutakhir tentang AI. Fokus kajian meliputi peran terminologi dalam konstruksi pengetahuan, demarkasi antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial-humaniora (Geisteswissenschaften), serta arah masa depan filsafat ilmu dalam merespons tantangan epistemik era AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas terminologi ilmiah mengalami krisis akibat fenomena halusinasi AI dan praktik paper mills yang memproduksi karya ilmiah palsu. Di sisi lain, terjadi pergeseran permainan bahasa dari fungsi deskriptif ke performatif, sebagaimana tercermin dalam istilah “Global Boiling”. Penelitian ini menyimpulkan perlunya epistemologi adaptif guna menjaga integritas dan validitas ilmu pengetahuan di era algoritmik.
SYNTAX ANALYSIS OF ENGLISH NOMINAL PHRASE STRUCTURE AND ITS IMPLICATIONS FOR GRAMMAR LEARNING: EFL LEARNERS Siregar, Imelda Kurniati; Surbakti, Reinasya Br; Adelia, Tiara; Ismahani, Siti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8474

Abstract

This study aims to analyze the structure of English noun phrases and examine their implications for grammar learning for learners of English as a Foreign Language (EFL). The study employs a qualitative approach using a literature study method by reviewing and analyzing books and journal articles that discuss noun phrase structures from a syntactic perspective and common errors made by EFL learners. The analysis focuses on the constituent elements of noun phrases, including the head noun, determiners, pre-modifiers, and post-modifiers. The findings show that EFL learners still experience significant difficulties in constructing correct noun phrases, particularly in the use of determiners, adjective order, and post-modifying structures such as prepositional phrases and relative clauses. The errors identified generally include omission, addition, misformation, and misordering, which are influenced by the complexity of noun phrase structures and interference from the learners’ first language. These errors affect clarity of meaning, grammatical accuracy, and the quality of learners’ academic writing. Therefore, a solid understanding of noun phrase structure is essential to improve learners’ syntactic competence and academic writing ability. This study is expected to contribute to the development of more effective and structure-based grammar teaching strategies for EFL learners. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur frasa nomina dalam bahasa Inggris serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran tata bahasa bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui penelaahan dan analisis buku serta artikel jurnal yang membahas struktur frasa nomina dari perspektif sintaksis dan kesalahan yang umum dilakukan oleh pembelajar EFL. Analisis difokuskan pada unsur-unsur pembentuk frasa nomina yang meliputi unsur inti (head noun), penentu (determiner), pre-modifier, dan post-modifier. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajar EFL masih mengalami kesulitan yang signifikan dalam membentuk frasa nomina yang benar, khususnya dalam penggunaan determiner, urutan adjektiva, serta struktur post-modifier seperti frasa preposisional dan klausa relatif. Kesalahan yang ditemukan umumnya berupa omission, addition, misformation, dan misordering yang dipengaruhi oleh kompleksitas struktur frasa nomina serta interferensi bahasa pertama pembelajar. Kesalahan-kesalahan tersebut berdampak pada kejelasan makna, ketepatan gramatikal, dan kualitas penulisan akademik pembelajar. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat terhadap struktur frasa nomina sangat penting untuk meningkatkan kompetensi sintaksis dan kemampuan menulis akademik pembelajar EFL. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran tata bahasa yang lebih efektif dan berbasis struktur.
INTEGRASI EVALUASI PSIKOLOGIS DAN RANAH SPIRITUAL DALAM PEMBELAJARAN PAI: DIAGNOSIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN KARAKTER HOLISTIK PESERTA DIDIK Maesaroh, Ema; Robi’ah, Siti; Risnawati, Risna; Tarsono, Tarsono
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8489

Abstract

This study explores the integration of psychological diagnostic evaluation and spiritual domains within Islamic Religious Education (PAI) as a foundation for developing students’ holistic character. The research aims to analyze the conceptual meaning and functions of evaluation from the perspective of educational psychology, describe the integration of affective–spiritual assessment in PAI, and identify the application of key evaluation principles, including objectivity, validity, and reliability. This study employs a qualitative literature review design through descriptive–analytical content analysis. Data were obtained from primary documents and secondary sources such as academic books and accredited journals published between 2020–2025. The findings reveal that psychological diagnostic evaluation plays a crucial role in identifying students’ potential, learning barriers, and specific psychological needs. Meanwhile, the spiritual domain—positioned as the highest level of the affective taxonomy—supports the formation of moral consciousness, emotional regulation, and sense of purpose. The study also highlights methodological challenges in assessing non-cognitive domains and emphasizes the use of multiple techniques, such as observation, attitude scales, and reflective journals, to strengthen evaluation validity and objectivity. Overall, the integration of psychological and spiritual evaluation is essential for designing adaptive PAI learning that supports comprehensive character development. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji integrasi evaluasi psikologis yang bersifat diagnostik dengan penilaian ranah spiritual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai dasar pengembangan karakter holistik peserta didik. Tujuan penelitian adalah menganalisis makna dan fungsi evaluasi dari perspektif psikologi pendidikan, menggambarkan integrasi penilaian afektif–spiritual dalam pembelajaran PAI, serta menjelaskan penerapan prinsip objektivitas, validitas, dan reliabilitas dalam evaluasi non-kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi literatur melalui analisis isi deskriptif-analitis. Data diperoleh dari dokumen primer dan literatur sekunder berupa buku akademik dan jurnal terakreditasi yang terbit pada rentang 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi diagnostik psikologis berperan penting dalam mengidentifikasi potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar individu. Sementara itu, ranah spiritual—sebagai tingkat tertinggi ranah afektif—berkontribusi pada pembentukan kesadaran moral, pengelolaan emosi, serta pengembangan tujuan hidup yang bermakna. Penelitian ini juga menemukan bahwa penilaian ranah afektif dan spiritual memiliki tantangan metodologis, sehingga diperlukan teknik non-tes yang beragam, seperti observasi, skala sikap, dan jurnal refleksi, untuk meningkatkan akurasi dan objektivitas. Secara keseluruhan, integrasi evaluasi psikologis dan spiritual menjadi kunci dalam merancang pembelajaran PAI yang adaptif dan berorientasi pada pembentukan karakter secara komprehensif.  
SOCIOLINGUISTIC STUDY NARRATIVE STRUCTURE AND LANGUAGE FUNCTION IN CATCH ME IF YOU CAN Darmawan, Muhammad Rahman; Ikhsandi, Muhammad Rafi; Rosalinah, Yanti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8504

Abstract

ABSTRACT Language plays a central role in shaping and legitimizing professional identity across various social interactional contexts. This study aims to examine how the character Frank Abagnale Jr. constructs and sustains multiple professional identities through language use in the film Catch Me If You Can (2002). The analysis focuses on patterns of linguistic variation that emerge when the main character impersonates a pilot, a doctor, and a lawyer, with particular attention to register management, speech style adaptation, and language functions within institutional settings. This research adopts a descriptive qualitative approach by analyzing selected dialogues transcribed from key scenes in the film. The analysis involves identifying lexical choices, levels of formality, interactional patterns, and communicative purposes that reflect the professional demands of each assumed role. The findings indicate that language use aligned with professional norms and expectations through the deployment of technical terminology, formal registers, and authoritative speech styles plays a crucial role in shaping perceptions of competence and gaining social recognition. These findings underscore that language functions as a primary performative resource in the construction of professional identity, in which membership and legitimacy within professional communities are interactionally achieved rather than solely determined by formal qualifications. ABSTRAK Bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk serta melegitimasi identitas profesional dalam berbagai situasi interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tokoh Frank Abagnale Jr. membangun dan mempertahankan beragam identitas profesional melalui penggunaan bahasa dalam film Catch Me If You Can (2002). Kajian difokuskan pada praktik variasi bahasa yang muncul ketika tokoh utama menyamar sebagai pilot, dokter, dan pengacara, dengan menyoroti pengelolaan register, penyesuaian gaya tutur, serta fungsi bahasa dalam konteks institusional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis dialog-dialog terpilih yang ditranskripsikan dari adegan penting dalam film. Analisis dilakukan melalui identifikasi pilihan leksikal, tingkat formalitas, pola interaksi, dan tujuan komunikatif yang mencerminkan tuntutan profesional masing-masing peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang selaras dengan norma dan ekspektasi profesi tertentu melalui pemanfaatan istilah teknis, register formal, dan gaya tutur berotoritas berperan penting dalam membangun persepsi kompetensi dan memperoleh pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa berfungsi sebagai perangkat performatif utama dalam konstruksi identitas profesional, di mana keanggotaan dan legitimasi dalam komunitas profesional dibentuk secara interaksional, bukan semata-mata ditentukan oleh kualifikasi formal.
PARADIGMA PENDIDIKAN AKADEMIK-SENTRIS DAN DEGRADASI EMPATI PESERTA DIDIK: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Muzari, Ahmad; Iswatiningsih, Daroe
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8512

Abstract

The contemporary academic-centric educational paradigm, with its overemphasis on academic achievement and high-stakes assessments, has raised concerns about its impact on students' holistic development, particularly on socio-emotional dimensions such as empathy. This study aims to systematically examine the construction of this paradigm in the literature, analyze its influence on the degradation of students' empathy, and formulate effective counter-strategies. Using a Systematic Literature Review (SLR) of 44 relevant journal articles from the last decade, the study found that a dominant academic orientation creates a competitive climate and significant psychological stress, which in turn erodes empathy through academic stress, social comparison, and weakened cooperative relationships. The findings also highlight that the integration of Social Emotional Learning (SEL), the management of a cooperative classroom climate, and the reduction of academic stress are key strategies for restoring the balance between academic achievement and character development. It concludes that a shift towards a more humanistic and balanced approach to education is crucial to prevent the marginalization of empathy in the education system. ABSTRAK Paradigma pendidikan kontemporer yang cenderung akademik-sentris, dengan penekanan berlebihan pada capaian akademik dan asesmen berisiko tinggi, telah memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perkembangan holistik siswa, khususnya pada dimensi sosial-emosional seperti empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis konstruksi paradigma tersebut dalam literatur, menganalisis pengaruhnya terhadap degradasi empati peserta didik, serta merumuskan strategi penyeimbang yang efektif. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap 44 artikel jurnal relevan dari dekade terakhir, studi ini menemukan bahwa orientasi akademik yang dominan menciptakan iklim kompetitif dan tekanan psikologis yang signifikan, yang pada gilirannya mengikis empati melalui stres akademik, perbandingan sosial, dan melemahnya relasi kooperatif. Temuan juga menyoroti bahwa integrasi Social Emotional Learning (SEL), pengelolaan iklim kelas yang kooperatif, dan reduksi tekanan akademik merupakan strategi kunci untuk memulihkan keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter . Disimpulkan bahwa pergeseran menuju pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan seimbang sangat krusial untuk mencegah marginalisasi aspek empati dalam sistem pendidikan.    

Page 1 of 3 | Total Record : 23