cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 47 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2026)" : 47 Documents clear
JEJAK PENDIDIKAN ISLAM NUSANTARA: TRANSFORMASI MASJID LANGGAR, DAN MEUNASAH DARI MASA KE MASA Fath, Hanif Abdul; Faridi, Faridi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8920

Abstract

ABSTRACT This study examines the history and dynamics of Islamic educational institutions in the Indonesian archipelago, specifically those based on mosques, langgar, and meunasah, as informal educational institutions that have served as the backbone of Islamic knowledge transmission. Employing a qualitative approach with a library research method, the study was conducted through several stages, including the identification and selection of relevant primary and secondary sources, thematic and chronological data classification, and critical-historical analysis of institutional development and transformation. The findings reveal the central role of these institutions in shaping Islamic civilization in the archipelago from the pre-colonial period to the contemporary era. Mosques functioned not only as places of ritual worship but also as centers of formal and informal education, intellectual discourse, and community empowerment. Langgar and meunasah, functioning at elementary and intermediate educational levels, played a crucial role in producing religious scholars and maintaining local Islamic identities. The transformation of these institutions has been influenced by social, political, and cultural dynamics, including colonialism, educational modernization, and the challenges of globalization. This study finds that traditional Islamic educational institutions have adopted strategic adaptations to maintain their relevance in the modern era without abandoning fundamental Islamic values. These findings provide important insights for the development of religious-based educational policies rooted in local wisdom. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji sejarah dan dinamika lembaga pendidikan Islam Nusantara yang berbasis masjid, langgar, dan meunasah sebagai institusi pendidikan informal yang menjadi tulang punggung penyebaran ilmu pengetahuan Islam di kepulauan Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan, penelitian ini dilakukan melalui tahapan identifikasi dan seleksi sumber primer dan sekunder yang relevan, pengelompokan data secara tematik dan kronologis, serta analisis kritis-historis terhadap perkembangan dan transformasi fungsi lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini mengungkap peran sentral ketiga lembaga tersebut dalam membentuk peradaban Islam di Nusantara dari masa pra-kolonial hingga kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pendidikan formal dan informal, diskursus intelektual, serta pemberdayaan masyarakat. Langgar dan meunasah sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah berperan krusial dalam mencetak kader ulama dan mempertahankan identitas keislaman lokal. Transformasi fungsi lembaga-lembaga ini dipengaruhi oleh dinamika sosial, politik, dan budaya, termasuk pengaruh kolonialisme, modernisasi pendidikan, dan tantangan globalisasi. Penelitian ini menemukan adanya adaptasi strategis lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional dalam menjaga relevansinya di era modern tanpa mengesampingkan nilai-nilai fundamental Islam. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan kebijakan pendidikan berbasis keagamaan yang berakar pada kearifan lokal.
TRANSFORMASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PRESPEKTIF DEMOKRASI DAN MULTIKULTURALISME DI ERA DIGITAL Merliana, Miranti; Shobahiya, Mahasri; Asy’arie, Musa
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9128

Abstract

ABSTRACT The transformation of Islamic Religious Education (PAI) has become an urgent necessity in responding to the dynamics of democracy, cultural diversity, and the challenges of the digital era, which generate new moral issues such as intolerance, hate speech, and weak ethical conduct in the use of technology. This study aims to analyze an integrative model for transforming PAI through the perspectives of democracy, multiculturalism, and digital literacy grounded in Islamic values. The research employs a qualitative approach with an in-depth literature review of classical and contemporary Islamic educational theories, concepts of democracy and multiculturalism, digital ethics literature, and the thought of Shaykh Hamza Yusuf regarding adab and modern morality. The findings indicate that integrating democratic values into PAI strengthens dialogical and participatory cultures, while Islam-based multicultural education cultivates tolerance and empathy amid diversity. Furthermore, digital literacy and digital ethics must be positioned as core components of learning to address the moral challenges of the technological era. This study proposes a four-dimensional model for the transformation of PAI spirituality, democracy, multiculturalism, and digital ethics relevant to contemporary curriculum development and educational practice. In conclusion, an integratively transformed PAI is capable of shaping learners who are morally upright, digitally literate, tolerant, and civil. ABSTRAK Transformasi Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi kebutuhan mendesak dalam merespons dinamika demokrasi, keberagaman budaya, dan tantangan era digital yang melahirkan persoalan moral baru seperti intoleransi, ujaran kebencian, serta lemahnya etika penggunaan teknologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis model transformasi PAI yang integratif melalui perspektif demokrasi, multikulturalisme, dan literasi digital berbasis nilai-nilai Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka mendalam terhadap teori pendidikan Islam klasik dan kontemporer, konsep demokrasi dan multikulturalisme, literatur etika digital, serta pemikiran Syekh Hamza Yusuf mengenai adab dan akhlak modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai demokrasi dalam PAI memperkuat budaya dialogis dan partisipatif, sementara pendidikan multikultural berbasis Islam menumbuhkan toleransi dan empati dalam keberagaman. Selain itu, literasi digital dan akhlak digital perlu dijadikan komponen utama pembelajaran untuk menghadapi tantangan moral era teknologi. Penelitian ini menghasilkan model transformasi PAI empat dimensi spiritualitas, demokrasi, multikulturalisme, dan etika digital yang relevan bagi pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran masa kini. Kesimpulannya, PAI yang ditransformasikan secara integratif mampu membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, cerdas digital, toleran, dan berkeadaban.
ANALISIS PEMAHAMAN GURU TERHADAP KONSEP DASAR PENDIDIKAN INKLUSIF Umar, Sri Yulan; Pratama, Fiola Indah Putri; Mannassai , Annissa Fahmi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9137

Abstract

The Government of Indonesia mandates that all schools must accept children with special needs within the inclusive education system. However, this obligation is not accompanied by a requirement for schools to fully understand the characteristics and needs of these children. This study aims to describe teachers’ understanding of the basic concepts of inclusive education in Early Childhood Education (ECE) schools throughout Gorontalo City. The research employed a quantitative descriptive approach, with data collected through a Likert scale (1–5) questionnaire. Data analysis was conducted using SPSS version 27. The results indicate that teachers’ understanding of the fundamental concepts of inclusive education is at a moderate level. This is reflected in teachers’ limited ability to implement learning style differentiation, inadequate school support services, and a lack of inclusive curriculum and assessment design. Therefore, it is necessary to strengthen teachers’ competencies through 1) practical training on differentiated instruction and inclusive assessment design; 2) enhance access to support services such as counseling and therapy, and 3) promote effective collaboration among teachers, specialists (therapists, psychologists, doctors), and parents. ABSTRAKPemerintah Indonesia mewajibkan semua sekolah untuk menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam sistem pendidikan inklusif. Namun, kewajiban ini tidak disertai dengan persyaratan bagi sekolah untuk sepenuhnya memahami karakteristik dan kebutuhan anak-anak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemahaman guru terhadap konsep dasar pendidikan inklusif di sekolah-sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di seluruh Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert (1–5). Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 27. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang konsep dasar pendidikan inklusif berada pada tingkat sedang. Hal ini tercermin dalam kemampuan guru yang terbatas dalam menerapkan diferensiasi gaya belajar, layanan dukungan sekolah yang tidak memadai, dan kurangnya desain kurikulum dan penilaian inklusif. Oleh karena itu, perlu memperkuat kompetensi guru melalui 1) pelatihan praktis tentang pengajaran diferensiasi dan desain penilaian inklusif; 2) meningkatkan akses ke layanan dukungan seperti konseling dan terapi, dan 3) mendorong kolaborasi efektif antara guru, spesialis (terapis, psikolog, dokter), dan orang tua.
PENGARUH KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN LURING TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA MANDARIN PADA MAHASISWA Hazimah, Malahayati; Tanzil, Abigail Theodora; Yoe, Jacqline
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9138

Abstract

Entering the post-pandemic period, the Indonesian education system has gradually shifted from online learning back to face-to-face instruction. This transition requires students to readjust to in-person learning in terms of academic readiness, time management, learning concentration, social interaction, and assessment demands. The adaptation process often presents various challenges, including decreased learning comfort, physical fatigue, difficulties in understanding instructional materials delivered directly, and increased psychological pressure in the form of academic anxiety. One of the most prominent sources of anxiety is examinations, which play a crucial role in evaluating learning outcomes and the overall quality of the teaching and learning process. This study aims to examine students’ anxiety levels during the transition of Mandarin language learning from online to offline modes, particularly in the context of face-to-face examinations, to compare students’ learning outcomes in online and offline examinations, and to analyze the effect of anxiety levels on learning outcomes. The findings reveal that anxiety has a significant effect on students’ academic performance. In addition, differences in anxiety levels and learning outcomes were identified between online and offline examinations, with the majority of students experiencing higher anxiety during offline examinations. This increase is influenced by learning environment conditions, social interaction, and time pressure during examinations. The results of this study are expected to contribute to educators’ understanding of offline Mandarin language learning dynamics, thereby enabling the development of more adaptive instructional and assessment strategies to enhance the quality of Mandarin language education in Indonesia. ABSTRAKMemasuki periode pascapandemi, sistem pendidikan di Indonesia mengalami penyesuaian kembali dari pembelajaran daring menuju pembelajaran luring secara bertahap. Perubahan ini menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran tatap muka, baik dari aspek kesiapan akademik, pengelolaan waktu, konsentrasi belajar, interaksi sosial, maupun tuntutan evaluasi pembelajaran. Proses adaptasi tersebut kerap memunculkan berbagai tantangan, seperti menurunnya kenyamanan belajar, kelelahan fisik, kesulitan memahami materi secara langsung, serta meningkatnya tekanan psikologis berupa kecemasan akademik. Salah satu sumber kecemasan yang dominan adalah ujian, sebagai bentuk evaluasi pembelajaran yang berperan penting dalam mengukur capaian dan kualitas proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi transisi pembelajaran bahasa Mandarin dari daring ke luring, khususnya pada pelaksanaan ujian luring, membandingkan hasil belajar mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin Universitas X pada ujian daring dan luring, serta menganalisis pengaruh tingkat kecemasan terhadap hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa. Selain itu, ditemukan perbedaan tingkat kecemasan dan capaian hasil belajar antara ujian daring dan luring, di mana sebagian besar mahasiswa mengalami peningkatan kecemasan saat mengikuti ujian luring. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan belajar, interaksi sosial, serta tekanan waktu selama ujian. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengajar dalam memahami dinamika pembelajaran bahasa Mandarin secara luring sehingga strategi pembelajaran dan evaluasi dapat disesuaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia.
NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AKHLAK ISLAM TERHADAP PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN KEPEMIMPINAN Akmir, Akmir; Wulandari, Cahaya; Fiqriyah, Nabila; Novitasari, Niken; Nuraisyah, Nuraisyah; Amri, Resky
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9162

Abstract

ABSTRACT This study analyzes the integration of Islamic values and Pancasila in shaping the character and leadership of the younger generation through education in Indonesia. Various studies indicate that Islam and Pancasila share conceptual alignment in aspects of leadership, social justice, deliberation, tolerance, and humanitarian ethics, which are relevant to strengthening character education. The concept of qawwam in Tafsir al Manar, which emphasizes trustworthiness, justice, moral responsibility, and deliberation, is proven to be relevant to modern educational governance, particularly in fostering educational leadership that is integrity driven and oriented toward public benefit. Meanwhile, the fourth and fifth principles of Pancasila demonstrate theological compatibility with the principles of shura and social justice in Islam, thereby reinforcing democratic practices within educational environments and participatory learning processes. In the context of the younger generation, the integration of Islamic Religious Education and Pancasila Education becomes a strategic approach to addressing the challenges of globalization, digitalization, and moral degradation. These subjects contribute to shaping students who are religious, moderate, tolerant, nationalistic, and resilient in character. Furthermore, the principles of justice and deliberation in Islam provide an ethical foundation for developing a humane and equitable school culture. The findings affirm that the synergy between Islamic values and Pancasila serves as a strategic foundation for strengthening character education and cultivating a civilized generation capable of responding to contemporary challenges. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis integrasi nilai nilai Islam dan Pancasila dalam membentuk karakter dan kepemimpinan generasi muda melalui pendidikan di Indonesia. Berbagai kajian menunjukkan bahwa Islam dan Pancasila memiliki keselarasan konseptual dalam aspek kepemimpinan, keadilan sosial, musyawarah, toleransi, dan etika kemanusiaan yang relevan bagi penguatan pendidikan karakter. Konsep qawwam dalam Tafsir al-Manar yang menekankan amanah, keadilan, tanggung jawab moral, dan musyawarah terbukti relevan bagi tata kelola pendidikan modern, khususnya dalam membangun kepemimpinan pendidikan yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan. Sementara itu, sila keempat dan kelima Pancasila memiliki kesesuaian teologis dengan prinsip syura dan keadilan sosial dalam Islam, sehingga dapat memperkuat praktik demokrasi dalam lingkungan pendidikan dan pembelajaran yang partisipatif. Dalam konteks generasi muda, integrasi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Pancasila menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan degradasi moral. Kedua mata pelajaran tersebut berperan dalam membentuk peserta didik yang religius, moderat, toleran, nasionalis, serta memiliki ketangguhan karakter. Selain itu, prinsip keadilan dan musyawarah dalam Islam memberikan dasar etis bagi pengembangan budaya sekolah yang humanis dan berkeadilan. Temuan ini menegaskan bahwa sinergi nilai Islam dan Pancasila merupakan fondasi strategis dalam memperkuat pendidikan karakter dan membangun generasi berkeadaban yang mampu menjawab tantangan zaman.
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PADA PEMBELAJARAN BACA TULIS AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN Daulay, Enris Feyrani; Syaidah, Nur; Ekawati, Erna
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9283

Abstract

The ability to read and write the Qur’an is a fundamental skill that every Muslim must master, particularly within Islamic educational environments. However, based on observations at Pondok Pesantren TPI Purbasinomba, there are still some students who have not fully acquired proficient Qur’anic literacy skills. This situation demands that teachers possess adequate pedagogical competence in planning, implementing, and evaluating instruction. In addition, the role of the madrasah principal is also crucial in providing guidance and support to foster the professional development of teachers. This study aims to explore the pedagogical competence of teachers and the efforts made to develop it in the teaching of Qur’anic reading and writing. The research employs a descriptive qualitative method through observations and interviews with teachers, the madrasah principal, and students. The findings indicate that teachers’ pedagogical competence is demonstrated through their ability to understand students’ characteristics, design systematic lesson plans, and apply methods such as talaqqi, murojaah, and tilawah tartil during instruction, along with conducting continuous assessments to evaluate student performance. Furthermore, efforts to enhance competence include equivalency programs, participation in seminars and training, involvement in teacher working groups, and other professional development activities. The madrasah principal also plays an active role by providing supervision, motivation, and implementing a system of rewards and punishments. The synergy between teachers and the madrasah principal contributes significantly to improving the quality of Qur’anic literacy instruction. ABSTRAK Baca tulis Al-Qur’an merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai oleh setiap muslim, terutama di lingkungan pendidikan Islam. Namun, berdasarkan kondisi di Pondok Pesantren TPI Purbasinomba, masih ditemukan sebagian siswa yang belum sepenuhnya menguasai kemampuan baca tulis Al-Qur’an dengan baik. Situasi ini menuntut peran guru agar memiliki kompetensi pedagogik yang memadai dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Selain itu, kepala madrasah turut berperan dalam memberikan pembinaan dan dukungan guna mendorong pengembangan profesionalisme guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi pedagogik guru serta upaya pengembangannya dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara dengan guru, kepala madrasah, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru sudah tampak melalui kemampuannya memahami karakteristik peserta didik, merancang perencanaan pembelajaran yang sistematis, menggunakan metode talaqqi, murojaah, dan tilawah tartil dalam pelaksanaan pembelajaran, serta melakukan evaluasi berkelanjutan untuk mengukur kemampuan siswa. Selain itu, upaya pengembangan kompetensi dilakukan melalui program penyetaraan, partisipasi dalam seminar dan pelatihan, keterlibatan dalam kelompok kerja guru dan program kegiatan guru. Kepala madrasah juga mendukung dengan memberikan pembinaan, motivasi, serta penerapan reward and punishment. Sinergi antara guru dan kepala madrasah berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran baca tulis Al-Qur’an.
THE SIGNIFICANCE OF TISIKKHĀ AS FOUNDATION OF BUDDHIST CHARACTER EDUCATION IN PROMOTING SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOAL 4 Medhacitto, Tri Saputra
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9584

Abstract

This research examines the significance of Tisikkhā as foundation of Buddhist character education in promoting sustainable development goal 4. Sustainable development is the global effort in creating a better world in the present and future. The United Nations has set seventeen sustainable development goals, addressing the contemporary global challenges. Among the seventeen sustainable goals, the SDG 4 is about the quality of education. Its aim is to ensure inclusive and equitable quality education and promote lifelong learning opportunities for all. This goal reflects the significance role of education in promoting sustainable development to address the global challenges. Quality of education in 21st century must adapt to the demands of globalization without neglecting the moral values. Character education is essential in addressing to the moral decline in this modern era. Character education is an approach to education that gives strong attention to the cultivation of positive character such as moral values, ethical behavior, responsibility, honesty and empathy. The character education according Buddhism is grounded in the three pillars or learning (tisikkhā), namely sīla-sikkhā (moral training), samādhi-sikkhā (mental training) and paññā-sikkhā (wisdom training). Tisikkhā is essential in shaping the generations to be compassionate, responsible and ethical individuals in society. Tisikkhā can be an effective way in addressing the current challenges to promote sustainable development goal 4. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji signifikansi Tisikkhā sebagai landasan pendidikan karakter Buddhis dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 4. Pembangunan berkelanjutan merupakan upaya global untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi masa kini dan mendatang. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan tujuh belas tujuan pembangunan berkelanjutan untuk menjawab berbagai tantangan global kontemporer. Di antara tujuan tersebut, SDG 4 berfokus pada penyediaan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Tujuan ini menegaskan peran strategis pendidikan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Kualitas pendidikan pada abad ke-21 dituntut mampu merespons arus globalisasi tanpa mengabaikan nilai-nilai moral. Fenomena kemerosotan moral di era modern menunjukkan urgensi penguatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pembentukan nilai-nilai positif seperti integritas, tanggung jawab, kejujuran, empati, dan perilaku etis. Dalam perspektif Buddhisme, pendidikan karakter berakar pada tiga pilar pelatihan (Tisikkhā), yaitu sīla-sikkhā (pelatihan moral), samādhi-sikkhā (pelatihan batin), dan paññā-sikkhā (pelatihan kebijaksanaan). Melalui integrasi ketiga aspek tersebut, Tisikkhā berperan penting dalam membentuk generasi yang berwelas asih, bertanggung jawab, dan beretika. Dengan demikian, Tisikkhā dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini sekaligus mendukung terwujudnya SDG 4.