cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta" : 10 Documents clear
Naskah-naskah Moloku Kie Raha: Suatu Tinjauan Umum Pudjiastuti, Titik
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.54

Abstract

Moloku Kie Raha is a term used for referring the four local authorities in Maluku that known as Kolano: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. As a key region in the shipping lanes during the "Silk Road" era, the presence of immigrants (Javanese, Chinese, Arab, and European) in the 14-17 centuries who brought their cultures and languages and interacted with local culture had established the local written culture. The scribe of the the Ternate sultanate said that since the past the palace also served as the scriptorium, which is where the hikayat, treaty, political documents, genealogy, and folklore which are associated with the sultanate, was written. This article is the result of codicological research that examines the physical manuscript as a focus. This research has inventoried the existence of 67 manuscripts of 12 owners that have been successfully recorded and digitized. When reading the content, the manuscripts were written about Islamic doctrines, king's letter, sufism order, hikayat, genealogy, history, laws of inheritance, horoscope, and levo-levo (amulet) while they are written in the Arabic and Jawi scripts in Arabic and Malay languages. === Moloku Kie Raha adalah istilah untuk menyebut empat penguasa daerah di Maluku yang disebut kolano: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Sebagai sebuah titik penting dalam jalur pelayaran pada zaman ‘jalur sutra’, kehadiran orang asing (Jawa, Cina, Arab, dan Eropa) pada abad ke-14-17 yang membawa budaya dan bahasanya serta berinteraksi dengan budaya lokal telah membentuk budaya tulis setempat. Juru tulis kesultanan Ternate menyebutkan, bahwa sejak masa lalu istana juga berfungsi sebagai skriptorium, yakni tempat hikayat, perjanjian, dokumen politik, silsilah dan cerita rakyat yang berhubungan dengan kesultanan ditulis. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bersifat kodikologis dengan obyek kajian pada fisik naskahnya. Penelitian ini berhasil menelusuri keberadaan 67 naskah kuno dari 12 orang pemilik naskah yang berhasil didata dan didigitalkan. Ditilik dari isinya, naskah-naskah itu berisi tentang ajaran Islam, surat raja, tarekat, hikayat, silsilah, sejarah, hukum waris, primbon, dan levo-levo (ajimat) sedangkan teksnya ditulis dengan aksara Arab dan Jawi dalam bahasa Arab dan Melayu.
Produksi Naskah dan Mistisisme Aksara dalam Bhīma Svarga Gunawan, Aditia
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.55

Abstract

As in other parts of Asia, the figure of Bhīma also been cult in Java. The popularity of this figure has been recorded in the spread of archaeological heritages such as inscriptions, statues, and reliefs, as well as textual legacies by Bhīma as the main character. The text that is discussed in this article, Bhīma Svarga, is one version of which 'might' contain the oldest text. This text was written in the 16th century and has never been satisfactorily studied. This text contains a dialogue between Bhaṭāra Guru and Bhīma who wants to save his father, Pāndu, from hell. All of Bhaṭāra Guru’s questions can be answered perfectly. The Bhīma’s answers is the core of the text, the doctrines of Śivaisme with many aspects of cosmological and philosophical. This article introduces the manuscript sources containing the text of Bhīma Svarga from the scriptorium of West Java that has been ignored in terms of Bhīma Svarga’s manuscript tradition in Bali. Additionally, this article also provides an overview of the production of manuscripts and meanings of the scripts at the time the text was written. === Seperti di belahan Asia yang lain, tokoh Bhīma pernah dikultuskan di Jawa. Popularitas tokoh ini terekam dalam sebaran peninggalan arkeologis seperti prasasti, arca, dan relief, maupun peninggalan teks-teks dengan Bhīma sebagai tokoh utama. Teks yang didiskusikan dalam artikel ini, Bhīma Svarga, merupakan salah satu versi yang ‘mungkin’ mengandung teks tertua. Teks ini ditulis pada abad ke-16 dan belum pernah diteliti secara memuaskan. Teks ini berisi dialog antara Bhaṭāra Guru dan Bhīma yang hendak menyelamatkan ayahnya, Pāndu, dari neraka. Semua pertanyaan dari Bhaṭāra Guru bisa dijawab dengan sempurna. Jawaban-jawaban Bhīma inilah yang menjadi inti dari teks, yaitu doktrin-doktrin Śivaisme serta aspek kosmologis dan filosofisnya yang kaya. Artikel ini memperkenalkan sumber-sumber naskah yang berisi teks Bhīma Svarga dari skriptorium Jawa Barat yang selama ini diabaikan dalam kaitannya dengan Bhīma Svarga dari tradisi pernaskahan Bali. Selain itu, artikel ini juga memberikan gambaran mengenai produksi naskah dan pemaknaan terhadap aksara pada masa teks tersebut ditulis.
Samadhining Anglayarakěn Anak Mitra: Antara Lautan dan Pegunungan Kurniawan, Abimardha
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.56

Abstract

This article describes a manuscript entitled Samadhining Anglayarakěn Anak Mitra (SAAM) that became a part of a compendium manuscript of National Library of Indonesia’s collection with call number L 109 peti 9. This Buda’s manuscript has been included as a part of a Merapi-Merbabu collection. This text also includes some text which came from two traditions that ever had a great influence in Java: Islamic and pre-Islamic traditions. SAAM is a unique text because it was written in the community who live far away from the sea even agrarian, but this text presents an overview about some religious activities related to maritime world. This indicates that the maritime life has affected the structure of their experiences. This article is a preliminary study using philology, codicology, and the interpretation of textual and cultural codes. Through that various approaches, this article explains several things, namely (1) the origin of the text and its materials; (2) the relationship between mountains and maritime religious communities; and (3) the understanding of the text producers community on the maritime world. === Artikel ini membahas naskah Samadhining Anglayarakěn Anak Mitra (SAAM) yang termuat dalam naskah compendium koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor koleksi L 109 peti 9. Naskah beraksara Buda tersebut termasuk dalam koleksi Merapi-Merbabu. Naskah ini juga memuat beberapa teks yang berasal dari dua tradisi yang memiliki pengaruh besar di Jawa: tradisi Islam dan pra-Islam. Teks SAAM cukup unik karena berada dalam lingkup komunitas yang tinggal jauh dari laut dan bercorak agraris, namun menyajikan gambaran aktivitas religus yang berkaitan dengan dunia perarian (bahari). Ini berarti bahwa kehidupan bahari telah masuk ke dalam struktur pengalaman mereka. Artikel ini merupakan kajian pendahuluan yang menggunakan pendekatan filologi, kodikologi, disertai upaya interpretasi kode-kode tekstual dan kultural. Melalui berbagai pendekatan itu, artikel ini menjelaskan beberapa hal, yaitu (1) seluk-beluk teks serta objek material yang memuatnya; (2) hubungan antara komunitas religius di pegunungan dengan dunia bahari; serta (3) pandangan komunitas produsen teks terhadap dunia bahari.
Surat-surat Tengku Pangeran Siak: Sebuah Reportase Perjalanan untuk Raffles Hazmirullah, Hazmirullah; Ma’mun, Titin Nurhayati; Darsa, Undang A.
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.57

Abstract

Tengku Pangeran Siak was one of the important figures in the plan of the British occupation of the Java. He was a messenger, even considered as the best assistant, of Thomas Stamford Raffles. In addition to its role in delivering some letters of diplomacy, he also was assigned to persuade some Malay authorities into agreeing British plan to occupy the land of Java. He sailed from Malacca to Java in the last week of December 1810 and then returned in early May 1811. During his trip to Java, he sent five letters to Raffles. This article presents a discussion of the letters of Tengku Pangeran Siak using journalism perspective. The text in the letters were considered to conform to the principles of journalism, such as factual, comprehensive and proportional. The factuality of that reportages was obtained after they were discussed with other various manuscripts and historical archives. Thus, the information in the text of Tengku Pangeran Siak letters had a high level of accuracy. === Tengku Pangeran Siak adalah salah satu sosok penting dalam rencana pendudukan Inggris terhadap pulau Jawa. Ia merupakan salah seorang utusan, bahkan didapuk sebagai best assistant, Thomas Stamford Raffles. Selain berperan mengantarkan surat diplomasi, ia juga ditugaskan untuk “merayu” para penguasa sejumlah negeri di tanah Melayu agar menyetujui langkah Inggris untuk menduduki Jawa. Ia berlayar dari Malaka menuju Jawa pada pekan terakhir Desember 1810 dan baru kembali awal Mei 1811. Sepanjang pelayaran ke Jawa, ia mengirimkan lima pucuk surat kepada Raffles. Artikel ini menyajikan pembahasan teks surat-surat Tengku Pangeran Siak dalam perspektif jurnalisme. Teks di dalam surat-surat itu telah memenuhi prinsip-prinsip yang dianut oleh jurnalisme, di antaranya faktual, komprehensif, dan proporsional. Kefaktualan “reportase” itu diperoleh setelah teks surat-surat tersebut “didialogkan” dengan berbagai naskah lain dan arsip sejarah. Dengan demikian, informasi di dalam teks surat-surat Tengku Pangeran Siak memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
Berkaca di Cermin yang Retak: Tipe Kepemimpinan Jawa dan Melayu Menurut Babad dan Hikayat Sudibyo, Sudibyo
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.58

Abstract

This article reviews the types of leadership that were written in babad and hikayat in Java and Malay. The Author used three classical works as the primary sources, namely Babad Tanah Jawi, Hikayat Raja-raja Pasai, and Hikayat Hang Tuah. Although there is a very fundamental difference between the power system in Java and Malay but, in the context of leadership, there are similarities. Babad and hikayat gave an image that an authority was a charismatic figure. Other images are to have supernatural power, mystical power, and religious power. These forces inherent genealogically so that authorities in the past and their descendants cult because they seem to be presented as a Messiah. This unquestionable leadership had potentially caused an unfair power-sharing. Based on these three works, the Author gives a reflection of the ideal leadership model that is feasible in the present, namely the anti-hero leaders who are honest, courteous, and fair, instead of the Messiah which is expected to bring the impact of the changes quickly. === Artikel ini mengulas tipe-tipe kepemimpinan yang pernah dituliskan dalam babad dan hikayat di Jawa dan Melayu. Penulis menggunakan tiga karya klasik sebagai sumber rujukan utama, yaitu Babad Tanah Jawi, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat Hang Tuah. Meskipun terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara sistem kekuasaan di Jawa dan Melayu namun, dalam konteks kepemimpinan, keduanya memiliki kemiripan. Babad maupun hikayat telah memberikan citra kepada penguasa sebagai sosok yang kharismatik. Citra lain adalah memiliki kesaktian, kekuatan mistik, dan kekuatan religius. Kekuatan-kekuatan tersebut melekat secara genealogis sehingga penguasa di masa lalu dan para keturunannya dikultuskan karena seolah-olah hadir sebagai juru selamat. Tampuk kepemimpinan penguasa yang tidak dapat diganggu-gugat ini berpotensi menimbulkan pembagian kekuasaan yang tidak adil. Berdasarkan ketiga karya tersebut, Penulis kemudian memberikan refleksi terhadap model kepemimpinan ideal yang layak diterapkan di masa kini, yaitu pemimpin antihero yang jujur, santun, dan adil, bukan Ratu Adil yang diharapkan akan membawa dampak perubahan secara cepat.
Manual Kepemimpinan dalam Naskah Sirāj al-Mulūk dan Serat Wulang Dalem: Perspektif al-Ṭurṭūshī dan Pakubuwono IX * Yahya, Ismail
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.59

Abstract

Genre ”Mirror for Princes” -with its various terms- enlivened the Islamic literature, not only develop in Islamic centers in the Middle East, but also in other regions of the Islamic world, including Indonesia, more specifically Surakarta. One of the masterpieces of such a genre was Sirāj al-Mulūk by al-Ṭurṭūshī. The purposes of this study are to understand the background of the emergence of Sirāj al-Mulūk, to describe al-Ṭurṭūshī’s thoughts relating to leadership ethics, and try to relate it to Wulang Dalem, a work attributed to the Surakarta king of Pakubuwono IX. The findings of this study are: 1) socio-political contexts in the form of rebellion, disharmonious relationships between the government administration that occurred at the time of al-Ṭurṭūshī became the reason composing Sirāj al-Mulūk, 2) al-Ṭurṭūshī showed how politics and morality in Islam can not be separated, both are an integral and complementary, 3) this preliminary study found no direct link between the work of al-Ṭurṭūshī and PB IX, although found little common ground. === Genre ”Mirror for Princes” -dengan beragam istilah lainnya-menghiasi literatur-literatur Keislaman, tidak saja berkembang di pusat-pusat Islam di Timur Tengah, namun juga hingga ke kawasan lain dunia Islam, termasuk Nusantara, lebih spesifik lagi Surakarta. Salah satu karya dari genre tersebut adalah Sirāj al-Mulūk karya al-Ṭurṭūshī. Tujuan penelitian ini untuk memahami latar belakang kemunculan Sirāj al-Mulūk, mendeskripsikan pemikiran al-Ṭurṭūshī terkait etika kepemimpinan atau pemerintahan, dan mencoba menghubungkannya dengan karya raja Surakarta Pakubuwono IX, Wulang Dalem. Adapun yang menjadi temuan penelitian ini: 1) konteks sosial-politik berupa pemberotakan, ketidakharmonisan hubungan antar penyelenggara pemerintahan yang terjadi pada masa al-Ṭurṭūshī menjadi alasan menulis Sirāj al-Mulūk, 2) Pemikiran al-Ṭurṭūshī di dalam Sirāj al-Mulūk menunjukkan bagaimana politik dan moral di dalam Islam tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi, 3) dalam studi awal ini tidak ditemukan kaitan langsung antara karya al-Ṭurṭūshī dengan PB IX, walaupun ditemukan sedikit kesamaan gagasan.
Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal: Dalam Naskah Syattariyah wa Muhammadiyah di Cirebon * eL-Mawa, Mahrus
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.61

Abstract

One of the characteristics of Syattariyah in Cirebon is the existence of a particular tarekat called “Syattariyah Muhammadiyah”. It results from the development of Syattariyah teachings in Indonesia in the 19th century, especially in the palace of Cirebon Sultanate.Through the text of “Syatariyah wa Muhammadiyah” (abbreviated SWM) which was written in pegon writing system in Javanese,Cirebonese dialect, its genealogy and teaching can be understood and then elaborated. One of the symbolisms reflecting the teaching of this tarekat is iwak telu sirah sanunggal. It is an illustration of three fish with single head. The head is at center and the three fish created a diamond look-alike logo, like in ‘Mitsubishi’ brand. The genealogy of teachers and students of Syattariyah Muhammadiyah in SWM is different from the genealogy of Syattariyah famously known in Java. Whilst in Java, this tarekat is taught through Abdul Muhyi Pamijahan, a student of Abdurrauf as-Singkili, in SWM it is through Abdullah bin Abdul Qahhar. === Salah satu corak tarekat Syatariyah di Cirebon adalah “Syatariyah Muhammadiyah”. Corak tarekat Syatariyah itu merupakan salah satu pengembangan ajaran tarekat Syatariyah di Nusantara pada abad ke-19, terutama di lingkungan keraton Cirebon. Melalui naskah “Syatariyah wa Muhammadiyah” (SWM) di Cirebon, tarekat Syatariyah Muhammadiyah dapat dijelaskan silsilah dan ajaran-ajarannya. Naskah SWM berbahasa Jawa dialek Cirebon dalam aksara pegon. Di antara ajaran tarekat Syatariyah Muhammadiyah itu adalah suluk iwak telu sirah sanunggal (tiga ikan satu kepala). Sebuah ajaran suluk Syatariyah dari ilustrasi ikan dengan satu kepala dan tiga tubuh. Satu kepala berada di tengah dan tiga ikan itu membentuk seperti simbol tiga berlian dalam Mitsubishi. Silsilah guru dan murid dalam tarekat Syatariyah Muhammadiyah yang tertulis dalam teks SWM terdapat perbedaan dengan silsilah tarekat Syatariyah di Jawa yang dikenal selama ini. Silsilah itu melalui tokoh Abdullah bin Abdul Qahhar, berbeda dengan silsilah yang beredar selama ini, yaitu Abdul Muhyi Pamijahan murid dari Abdurrauf as-Singkili.
Catatan Sebuah Peristiwa pada Masa Amangkurat I Dari Naskah Merapi-Merbabu * Kriswanto, Agung
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.62

Abstract

Mount Merbabu formerly known as Damalung or Pamrihan was the center for the study of literatures and Hindu-Buddhist, the venue for the tradition of writing and copying manuscripts that are now known as Merapi-Merbabu manuscripts. People living in the area seemingly is not closed to outside information, for example from the area of the palace. This had been indicated by the several manuscripts that recorded the events that had taken place in the palace of Mataram, especially during Amangkurat I. One of them was Gita Sinangsaya. The recording of events was not appeared in the text, but it was contained in the colophon of Gita Sinangsaya. Although it was only a short note, but this information is very important because it was written when the events happened, and especially because this recording events was not mentioned by babad of Javanese literature. This article analyzes the historical aspect on a recording events in Gita Sinangsaya that happened in the 1670s based on other information in babad and the Dutch records. === Gunung Merbabu yang dahulu dikenal dengan nama Damalung atau Pamrihan merupakan pusat studi sastra dan agama Hindu-Budha, tempat berlangsungnya tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah yang sekarang dikenal dengan naskah Merapi-Merbabu. Komunitas yang tinggal di wilayah tersebut rupanya tidak menutup diri terhadap informasi dari luar, misalnya dari wilayah keraton. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa naskah yang merekam peristiwa yang terjadi di keraton Mataram, khususnya pada masa Amangkurat I. Salah satunya berjudul Gita Sinangsaya. Rekaman peristiwa tidak terdapat dalam teks, melainkan dalamkolofon teks Gita Sinangsaya. Meskipun hanya merupakan catatan kecil, tetapi informasi ini sangat berarti karena ditulis bersamaan dengan peristiwa terjadi dan terutama karena catatan peristiwa ini tidak banyak disebutkan dalam teks-teks babad di lingkungan sastra Jawa. Artikel ini menganalisa kesejarahan sebuah laporan peristiwa dalam naskah Gita Sinangsaya yang terjadi pada sekitar tahun 1670 M berdasarkan informasi lain dalam babad dan catatan Belanda.
Orang Laut, Bajak Laut, dan Raja Laut: Dinamika Kehidupan dan Kekuasaan dalam Naskah Kontrak Sultan-sultan Palembang Abad 18-19 Rochmiatun, Endang
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.63

Abstract

Sriwijaya Kingdom and Palembang Sultanate were the maritime empires that could not be separated from an understanding of the sea. The role of sea as a liaison with other regions also made their knowledges opened, because any information and knowledge from the outside world or otherwise entered through the sea. The Manuscript Kontrak Sultan-Sultan Palembang of 18-19 centuries reveal the dynamics of the life and power of the sea. "Pirate" is one side of the power at sea which are often referred in the text. Behind the pirates actually contained another role in the dynamics of sea life, which is "the people of sea" and "the king of the sea". This study examines the dynamics of life and power of the Palembang Sultanate in 18-19 century as a maritime empire. Role, position, even the existence of conflict and domination helped to reinforce the relationship between the three entities of the sea community. In addition, this study also examined the agreements, conventions, and rules regulating those involved in aquatic life in the Palembang Sultanate. === Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang adalah kerajaan maritim yang tak lepas dari pemahaman terhadap laut. Laut sebagai penghubung dengan wilayah lain juga telah membuka cakrawala pemikiran mereka, sebab informasi dan ilmu pengetahuan dari dunia luar atau sebaliknya masuk melalui laut. Naskah Kontrak Sultan-Sultan Palembang dari abad 18-19 mengungkap adanya dinamika kehidupan dan kekuasaan di laut. “Bajak laut” merupakan salah satu sisi kekuasaan di laut yang banyak disebut dalam naskah tersebut. Dibalik adanya bajak laut sebenarnya terdapat peran dalam dinamika kehidupan lainnya di laut yakni adanya “orang laut” dan “raja laut”. Kajian ini mengupas dinamika kehidupan dan kekuasaan Kesultanan Palembang pada abad 18-19 sebagai kerajaan maritim. Peran, kedudukan, bahkan adanya konflik dan dominasi ikut mewarnai hubungan antara ketiga entitas komunitas laut tersebut. Selain itu, kajian ini juga akan menelaah adanya kesepakatan-kesepakatan, dan konvensi aturan main (hukum) dalam mengatur mereka yang terlibat dalam kehidupan di perairan dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang.
Menyingkap Kekayaan Naskah Indramayu Meij, Dick van der
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.64

Abstract

Katalog Naskah Indramayu

Page 1 of 1 | Total Record : 10