cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta" : 9 Documents clear
Lontar Yusup Banyuwangi: Warna Lokal dan Variasi Teks dalam Manuskrip Pegon di Ujung Timur Jawa Indiarti, Wiwin; Hasibin, Nur
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.100

Abstract

Lontar Yusup Banyuwangi (LYB), copied in a Pegon script and still actively read in Banyuwangi, contains the life-story of the Prophet Yoseph from the age of twelve, when he dreamed of the sun, moon and eleven stars bowing to him, until he ascended the throne in Egypt, after his prophecy about King Pharaoh’s dream. The oldest manuscript of LYB, which is found in Kemiren - Banyuwangi and becomes Adi Purwadi’s collection, dates to 1829 in Javanese calendar, presumably derived from an Islamic source, and absorbs various local elements in its textual content. LYB, read with tunes that are intrinsically connected with stanzaic metrical patterns, consists of twelve pupuh (cantos) and four pupuh forms (Kasmaran, Durma, Pangkur, and Sinom) with a total of nearly 600 stanzas. This paper unveils local elements and text variations in LYB which include types of vocabulary usage, forms of tembang variations, and the modification of Perso-Arabic text that makes it different from commons. This shows the high power of local creativity in the writing and copying of manuscripts in the past. === Lontar Yusup Banyuwangi (LYB), disalin dalam aksara pegon dan masih aktif didendangkan di Banyuwangi, menghantarkan kisah Nabi Yusuf dari usia dua belas tahun, saat ia memimpikan matahari, bulan dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya, sampai ia naik takhta di Mesir, seusai nubuatnya tentang mimpi Raja Firaun. Naskah tertua LYB berangka tahun Jawa 1829, (koleksi Adi Purwadi dari desa Kemiren, Banyuwangi) diduga berasal dari sumber Islam, dan menyerap berbagai unsur lokal dalam kandungan tekstualnya. LYB berwujud tembang, didendangkan dengan melodi yang secara intrinsik terkait dengan bentuk-bentuk pupuh (serangkaian bait dalam satu episode cerita) - terdiri dari dua belas pupuh, berisi empat bentuk pupuh (Kasmaran, Durma, Pangkur, dan Sinom) dengan total hampir 600 bait. Tulisan ini memaparkan warna lokal dan variasi teks dalam LYB yang meliputi ragam kosakata, bentuk variasi tembang, dan modifikasi teks pegon yang berbeda bentuk penulisannya dengan teks pegon pada umumnya. Hal ini menunjukkan elan kreatifitas lokal yang tinggi dalam penulisan dan penyalinan naskah di masa lalu.
Kakawin Udayana: Kajian Hermeneutika atas Teks Kakawin Minor dalam Tradisi Bali Tedjowirawan, Anung
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.101

Abstract

Kakawin Udayana (Udayanacarita) is a kakawin minor in Balinese tradition. Kakawin Udayana tells the life story of King Udayana (Sri Manmatamurti, Sri Kamamurti), the son of Sang Sri Satasenya, the descendant of Pandu. Prabangkara's painting led Udayana fell in love and sought to fondle Dewi Anggarawati (Dewi Anggara, Sri Sudewi), the consort of Maharaja Candrasena from Yarwanti Kingdom. As a result, Maharaja Candrasena ordered Perwira Pemberani (The Brave Officers) to trick and arrest King Udayana. Finally, King Udayana sentenced to death. The primary source of this research is Kakawin Udayana. Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana and Adiparwa, the first part of Mahabharata, are also used as comparison and complementary materials. This research applies the theory of hermeneutics and comparative literary theory. The method used in this research is by way of proving the researcher’s various presumptions about the character of Udayana in Kakawin Udayana. Evidently, the choosing of Udayana’s character is to represent Udayana, the king of Bali who has overthrown Erlangga (Airlangga). Thus, there is a point of association connecting Kakawin Udayana (Balinese tradition) with SĕratDarmasarana, Sĕrat Yudayana (Javanese tradition), and Adiparwa (Indian tradition). === Kakawin Udayana (Udayanacarita) adalah kakawin minor dalam tradisi Bali. Kakawin Udayana mengisahkan kisah kehidupan Raja Udayana (Sri Manmatamurti, Sri Kamamurti), putra Sang Sri Satasenya, keturunan Pandu. Melalui lukisan Prabangkara menyebabkan Udayana jatuh cinta dan berusaha mencumbui Dewi Anggarawati (Dewi Anggara, Sri Sudewi), permaisuri Maharaja Candrasena dari Kerajaan Yarwanti. Akibatnya Maharaja Candrasena memerintahkan Perwira Pemberani untuk memperdaya serta menangkap Raja Udayana. Raja Udayana akhirnya dijatuhi hukuman mati. Bahan utama penelitian ini adalah Kakawin Udayana, dan sebagai bahan pelengkap pembanding adalah Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana maupun Adiparwa bagian pertama Mahabharata. Dalam penelitian teori yang digunakan adalah teori hermeneutika dan teori sastra bandingan. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan jalan membuktikan dugaan peneliti atas berbagai asumsi yang muncul dalam pikiran peneliti tentang tokoh Udayana dalam Kakawin Udayana. Pemilihan tokoh Udayana ini rupanya dalam rangka merepresentasikan Udayana, Raja Bali yang menurunkan Erlangga (Airlangga). Dengan demikian ada titik kaitan antara Kakawin Udayana (tradisi Bali) dengan Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana (tradisi Jawa) maupun Adiparwa (tradisi India).
Naskah Gelumpai di Uluan Palembang: Antara Ajaran Islam dan Ajaran Hindu-Budha Rochmiatun, Endang
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.102

Abstract

This article discusses the manuscripts of gelumpai (bamboo blades) which have ulu or kaganga characters which are the cultural treasures of riverbank communities in South Sumatra. One of the gelumpai manuscripts in this study is a manuscript consistingof 14 bamboo blades. This manuscript was made around the 16th-17th century AD, which was produced by the ulama of the Palembang Darussalam Sultanate using upstream and Javanese characters. The contents of this text tell about profiles, character and social values, and invitations to refer to Islam as Shari'a in life. Another "gelumpai" text is a manuscript consisting of 8 bamboo blades. This manuscript comes from the sub-ethnic Malays who occupy the Musi Rawas region today. Fill in the text of the text containing the teachings in Hinduism and Buddhism, with many mentioning the word Maharesi and pastors who recite mantras. === Tulisan ini membincangkan tentang naskah gelumpai (bilah bambu) yang beraksara ulu atau kaganga yang menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera Selatan. Salah satu naskah gelumpai dalam kajian ini adalah naskah yang terdiri dari 14 bilah-bilah bambu. Naskah ini dibuat sekitar abad ke-16-17 Masehi, yang diproduksi oleh kalangan ulama Kesultanan Palembang Darussalam dengan menggunakan aksara hulu dan bahasa Jawa. Isi dari naskah ini menceritakan tentang profil, karakter dan nilai-nilai sosial, serta ajakan agar merujuk Islam sebagai syariat dalam kehidupan. Naskah “gelumpai” lainnya yakni naskah yang terdiri dari 8 bilah bambu. Naskah ini berasal dari sub Etnis Melayu yang menempati kawasan Musi Rawas saat ini. Isi teks naskah berisikan tentang ajaran-ajaran dalam Agama Hindu dan Budha, dengan banyak menyebutkan kata Maharesi dan pendeta yang membaca mantra-mantra.
Eksistensi Manusia dalam Naskah Aulia Syeikh Abdul Qadir Jailani: Kajian Filologi dan Analisis Resepsi Kosasih, Ade; Mahdi, Setiono
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.105

Abstract

Ki Sarahmadu Brajamakutha (KSB) is a manuscript collection of Widyapustaka, the library of Pakualaman Palace, Yogyakarta. This manuscript was written in Javanese script and language in macapat metre. KSB contains didactic stories on how to rule a kingdom, depicted in stories of prophets and kings mainly from the Middle East. Those stories are embeded in three texts: Tajusalatin, Hikayat Nawawi, and a text containing teachings of Paku Alam I and Paku Alam II. The “kafir king” story of Nusirwan appears in the manuscript as part of the Tajusalatin text. Despite being specifically mentioned as “kafir” or non-believer in the text, he is portrayed as a just king. The study of respon aesthetic of Wolfgang Iser is applied to the story of King Nusirwan as to how contemporary readers can understand the repertoire, making them easier to acquire the conventions on how the story was build, so that they can easily interpret the meaning as intended by the author. === Ki Surahmadu Brajamakutha (KSB) adalah manuskrip koleksi Widyapustaka, Perpustakaan Istana Pura Pakualaman, Yogyakarta. Manuskrip ini ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa dalam tembang macapat. KSB berisi cerita didaktis tentang bagaimana aturan seorang raja, menggambarkan kisah nabi-nabi dan raja dari Timur Tengah. Cerita-cerita tersebut terdapat di dalam tiga teks: Tajusalatin, Hikayat, Nawawi, dan sebuah teks yang berisi ajaran-ajaran Paku Alam I dan Paku Alam II. Cerita “raja kafir” Nusirwan muncul di dalam sebuah manuskrip sebagai bagian teks Tajusalatin. Meskipun di dalam teks secara khusus disebutkan sebagai “kafir” atau tidak percaya, ia digambarkan sebagai raja yang adil. Studi tentang estetika respons Wolfgang Iser diterapkan pada kisah RajaNusirwan tentang bagaimana pembaca kontemporer dapat memahami repertoar, membuat mereka lebih mudah untuk memperoleh konvensi tentang bagaimana cerita itu dibangun, sehingga mereka dapat dengan mudah menafsirkan makna sebagaimana dimaksud oleh penulis.
Teks Fiqh dalam Bahasa Lokal Nusantara: Studi Penerjemahan Manuskrip Masā’il al-Ta’līm Ke dalam Pegon Abad XVII Yahya, Ismail; Hasan, Moh. Abdul Kholiq; Farkhan, Farkhan
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.106

Abstract

This research aims to reveal and explain the use of Pegon script in the translation of the manuscript of Masā'il al-Ta'līm, one of the popular books of fiqh in Javanese pesantren. This article is the result of qualitative descriptive research using philology research methods by utilizing manuscripts, books, research results, internet sites, and journals to examine matters relating to the development of Pegon characters in the 17th century AD contained in the manuscript of Masā'il al-Ta'līm. The findings of this study: 1) in terms of age, it can be proved that this manuscript was written in the 17th century based on the numbers and letters in the calendar in the manuscript which implies that the Pegon text in the text Masā'il at-Ta'līm is a form The oldest Pegon that can still be found, 2) the shape of the Pegon letter in the 17th century there is no striking difference with the writing of Pegon today even though it only looks a little different. === Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan penggunaan aksara Pegon dalam penerjemahan naskah Masā’il al-Ta’līm salah satu kitab fiqh yang populer di pesantren Jawa. Artikel ini merupakan hasil penelitian deskriptif kualitatif menggunakan metode penelitian filologi dengan memanfaatkan manuskrip, buku-buku, hasil penelitian, situs-situs internet, dan jurnal untuk menelaah hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan aksara Pegon pada abad ke-17 M yang termuat di dalam naskah Masā’il al-Ta’līm. Temuan penelitian ini: 1) dari segi usia, bisa dibuktikan bahwa naskah ini ditulis abad ke-17 M berdasarkan angka dan huruf di dalam penanggalan di dalam naskah yang berimplikasi bahwa teks Pegon di dalam naskah Masā’il at-Ta’līm ini merupakan bentuk Pegon yang paling tua yang masih bisa ditemukan, 2) bentuk huruf Pegon pada abad ke-17 tidak terdapat perbedaan yang mencolok dengan penulisan Pegon dewasa ini walaupun hanya terlihat sedikit perbedaan.
Letusan Gunung dan Persepsi Sang Pujangga: Kesaksian Teks Bima, Jawa, dan Melayu Abad ke-19 Sudibyo, Sudibyo
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.107

Abstract

This article aims to describe manuscript comparison between Syair Nabi Allah Ayub (SNAA) and Hikayat Nabi Ayub Dimurkai Allah (HNADA) based on intertextual approach. This study describes equations, differences and hypograms in the form of expansion and modification. The equation in the two texts is that the Prophet Ayub was given a trial repeatedly by Allah SWT, the Prophet Ayub left his country when he was sick, the wife of the Prophet Job made a living when the Prophet Ayub was sick, Prophet Ayub recovered thanks to the water rising from the ground. The difference in the two texts is the beginning of the story of Prophet Job, the background of the story and the end of the story. The expansion hypogram is in the form of the addition of the angel Michael's figure and the reduction of the male character to the SNAA script. The conversion in the form of SNAA text seems to be a predecessor text of HNADA because it has a more complete story, even though the year of writing was older. While the modification is a change because the Prophet Ayub received trials from God. === Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap persepsi pujangga tentang sifat destruktif gunung terutama dalam teks-teks abad ke-19, utamanya dalam Syair Kerajaan Bima (SKB), Babad Betawi (BB), Babad Diponegoro (BD), dan Syair Lampung Karam (SLK).
Komparasi Teks antara Naskah Al-Muāshirah dan Kitab Cermin Terus Riza, Yulfira; Ma’mun, Titin Nurhayati
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.109

Abstract

This paper aims to examine women and their pace in Minangkabau in the two great Minangkabau scholars’s opinion, Shekh Abdul Laṭīf Shakūr in the al Mu’ashārah and Haji Abdul Karīm Amrullāh in the Cermin Terus. Disclosure of thoughts on the two works uses hermineutic methods. Based on textual analysis of the both text, it was found that they differed in terms of technical matters such as the way to women’s dress and could have a career. Haji Abdul Karīm Amrullāh refused women to be westernized dressed and forbade women to work outside his home while Shekh Abdul Laṭīf Shakūr was more flexible in terms of Islamic dress. However, substantively such as female courtesy, women's rights and obligations in the family, both agreed to be in accordance with the Qur'an and sunnah. In essence, they want to change the mindset of Minangkabau women who are bound by adat and the matrilineal system. === Tulisan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perempuan dan kiprahnya di Minangkabau yang matrilineal menurut pendapat dua ulama besar Minangkabau yaitu Shekh Abdul Laṭīf Shakūr dalam manuskrip Perempuan dan Haji Abdul Karīm Amrullāh dalam kitab Cermin Terus. Pengungkapan pemikiran terhadap kedua karya tersebut menggunakan metode hermineutik. Berdasarkan analisis tekstual dari konsep pemikiran kedua ulama tersebut, diperoleh makna bahwa kedua ulama itu berbeda pendapat dalam hal yang bersifat teknis seperti cara berpakaian wanita dan boleh/tidaknya ia berkarir. Haji Abdul Karīm Amrullāh menolak perempuan untuk berpakaian ketat dan kebarat-baratan serta melarang perempuan bekerja di luar rumahnya sedangkan Shekh Abdul Laṭīf Shakūr lebih fleksibel dalam hal berpakaian Islami asal tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Akan tetapi, secara subtantif seperti adab perempuan, hak dan kewajiban perempuan di dalam keluarga, keduanya sepakat harus sesuai dengan Alquran dan sunnah. Intinya, keduanya ingin mengubah pola pikir perempuan Minangkabau yang terikat oleh adat dan sistem matrilineal.
Budaya Literasi Masyarakat Melayu Menerusi Kajian Manuskrip Ilmu Bedil (MS31 dan MS101) Mat, Nor Farhana binti Che; Ibrahim, Filzah binti; Baharudin, Rusmadi bin
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.110

Abstract

Masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda are Sundanese community doctrines based in Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur Sub-Distric, Kuningan Distric, West Java Province. Sundanese teachings that are used as a guide in carrying out customs and traditions are the teachings of Prince Madrais Sadewa Alibassa Kusumaningrat; in the form of speech and writing. Prince Madrais's writing, now in the category of manuscripts, the condition is worrying and has not received proper care and repair. One effort to save the content of the manuscript is the technique of digitizing the manuscript. The problems faced by the manager of Paseban Tri Panca Tunggal in the rescue of manuscripts, are now handled by the knowledge of care and the way of codification; good places and tools for storing manuscripts and the ability to maintain and digitize the manuscript. These efforts expected to provide an understanding of the characteristics, roles, functions, and meaning of the Prince Madrais Manuscript’s in the whole journey of the Nusantara written tradition; can further be utilized to serve as one of the reference sources of the nation's cultural development. === Kitab Bedil (MS31 dan MS01) membicarakan aspek penggunaan senjata api dan pembuatan peluru mempamerkan senarai kosa kata berkaitan sains dan teknologi. Ini menunjukkan bahawa budaya literasi telah menjadi tradisi dalam masyarakat Melayu sejak dahulu lagi. Kajian ini adalah untuk mengungkap budaya literasi masyarakat dalam manuskrip daripada aspek kosa kata persenjataan Melayu pada abad ke-16. Data kajian telah diambil daripada manuskrip milik Dewan Bahasa dan Pustaka sebagai sumber utama, iaitu kitab Ilmu Bedil (MS31 dan MS101). Teks asal manuskrip yang ditransliterasikan kemudiannya dilaksanakan analisis kandungan, sejumlah kosa kata baharu disenaraikan dengan menggunakan sistem Wordsmith. Hasilnya, penyelidik telah menemukan beberapa leksikal dan manual persenjataan yang boleh dikaitkan dengan budaya literasi dan kearifan Melayu tempatan. Kajian yang sedang dilaksanakan sangat signifikan dan dapat memberikan sumbangan yang sangat besar dalam pemerkayaan kosa kata Melayu klasik dan ilmu persejarahan Melayu.
Manuskrip dan Jawaban atas Tantangan di Era Milenial Maulani, Abdullah
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.111

Abstract

Naskah Nusantara antara Kekunoan dan Kekinian

Page 1 of 1 | Total Record : 9